Sabtu, 24 Agustus 2019

Dari yang Terkecil Muncul Pemimpin Besar

Dari yang terkecil menjadi terbesar


Oleh: Pdt. Alokasih Gulo

Mikha 5:2-5 
(5-1) Tetapi engkau, hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, dari padamu akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala. 
(5-2) Sebab itu ia akan membiarkan mereka sampai waktu perempuan yang akan melahirkan telah melahirkan; lalu selebihnya dari saudara-saudaranya akan kembali kepada orang Israel. 
(5-3) Maka ia akan bertindak dan akan menggembalakan mereka dalam kekuatan TUHAN, dalam kemegahan nama TUHAN Allahnya; mereka akan tinggal tetap, sebab sekarang ia menjadi besar sampai ke ujung bumi, 
(5-4) dan dia menjadi damai sejahtera. Apabila Asyur masuk ke negeri kita dan apabila ia menginjak tanah kita, maka kita akan membangkitkan melawan dia tujuh gembala, bahkan delapan pemimpin manusia. 

Senin, 19 Agustus 2019

Dampak Pengusiran Mahasiwa Papua dan Aksi Rasialis di Surabaya, Tanah Papua Rusuh Hari ini

Masa aksi di Kantor Gubernur Papua

Oleh: Willem Wandik, S. Sos

Papua Sulhit News. Tiga hari yang lalu, saat momentum perayaan 17 agustus, saat penyerangan terhadap Mahasiswa Tanah Papua di Kota Surabaya terjadi, bahwa kami telah mengingatkan, peristiwa itu akan berdampak luas di Tanah Papua, sebab Mahasiwa adalah simbol kehormatan intelektual bagi masyarakat dan komunitas di Tanah Papua.. Nasi sudah menjadi bubur, aksi sentimen antara masyarakat Papua dan Masyarakat di Kota Surabaya, menghasilkan ekses sosial yang tidak pernah di duga.. kerusuhan dalam skala besar di sejumlah kota utama di Tanah Papua yang tersebar di Provinsi Papua dan Papua Barat.

Sabtu, 17 Agustus 2019

17 Agustus 2019 Bendera Bintang Kejora Berkibar di Asmat Papua

Bendera Bintang Kejora sedang Berkibar di atas Menara

Asmat Sulhit News. Detik-detik memperingati Hari Ulang Tahun Republik Indonesia yang  Ke-74, bendera bintang kejora atau bendera Bangsa Papua Barat  telah berkibar di Kota Agats Ibu kota Kabupaten Asmat,  pada  menara navigasi, Jln. Josudarso, belakang pangkalan ojek Ayam kecil,  Sabtu 17 Agustus 2019.

Senin, 12 Agustus 2019

Hukum di Pengadilan Allah


Oleh : Jazwan W. Yanengga

"Janganlah ayah dihukum mati karena anaknya, janganlah juga anak dihukum mati karena ayahnya; setiap orang harus dihukum mati karena dosanya sendiri." ( Ulangan 24:16)

Dosa turunan dari Adam dan Hawa telah di hapus oleh Tuhan Yesus ketika mati diatas  kayu salib, dikubur dan bangkit pada hari yang ketiga, melalui kebangkitan Yesus  telah mengalahkan semua kuasa maut. Namun bagaimana dengan Dosa kita pada  zaman Anugrah ini? 

Dosa turunan telah di hapus maka pada zaman anugrah ini setiap orang akan mempertangungjawabkan perbuatannya masing-masing di meja hijau  pengadilan Allah, tanpa belibatkan siapapun artinya, Dosa ayah tidak melibatkan istri, anak, saudara/I lainnya dan sebaliknya.

Ingat..!!!
Sekali lagi, hukuman Allah akan dijatuhkan sesuai dengan perbuatan Dosa kita masing-masing. 
Hukum di Dunia, meskipun salah bisa dibenarkan dengan membayar senilai uang tetapi di sorga tidak ada namanya jual-beli hukum, sudah divonis salah maka tetap akan salah benar maka tetap akan benar.

Happy Sunday

Sabtu, 10 Agustus 2019

Mahasiswa Jaman Now: Gaya Hidup Sosialita, Orang Tua Susah Di Kampung

 


Pernah mendengar gaya hidup sosialita? Apa itu gaya hidup sosialita?

Sosialita atau sosialite merupakan akronim yang diserap dari bahasa Inggris. Sosialite berasal dari dua kata yakni sosial dan elite.

Sosial dapat berarti Suka memperhatikan kepentingan umum (suka menolong, menderma, dan sebagainya), sedangkan elite dapat berarti Kelompok kecil orang-orang terpandang atau berderajat tinggi (kaum bangsawan, kaum berduit dan lain sebagainya).

Jika dilihat dari pengertian diatas, maka sosialite atau sosialita merupakan sekelompok orang yang terpandang dan memiliki derajad tinggi namun mereka memiliki jiwa sosial dengan memperhatikan kehidupan orang-orang yang kurang mampu atau miskin.

Namun seiring perubahan jaman, sosialita mengalami pergeseran makna. Sekarang ini arti kata sosialita dikaitkan dengan kehidupan mewah, glamour dan menghabis-habiskan uang.

Gaya hidup tak sesuai kemampuan kemudian mendorong mereka cenderung mengambil jalan pintas dengan menghalalkan segala cara. Mereka ingin merasakan kenyamanan yang semu.

Salah satu yang paling nampak dari gaya hidup sosialita sekarang ini adalah pada kehidupan mahasiswa di Indonesia.

Mahasiswa jauh merantau dari kampung, tinggal di kota, hidupnya berlagak orang kaya di perantauan. Sekali jalan habis ratusan ribu, sekali makan kena ratusan ribu.

Pernahkah saat kamu menghabiskan uang yang begitu banyak untuk sekedar kesenangan, biar dikatakan “gaul”, kamu pernah memikirkan keluargamu yang di kampung ?

Pernahkah kamu pikirkan berapa penghasilan orang tuamu sehari dibandingkan banyaknya pengeluaranmu sekali jalan? Pernahkah kau pikirkan apa yang mereka makan saat kamu makan di restoran mewah?

Apakah kamu malu jadi orang miskin sehingga kamu berpura pura jadi orang yang berada di perantauan ini? Bukankah kamu menyangkal orang tuamu yang hidup tak seenak hidupmu di perantauan?

Ingat tujuanmu diperantauan ini. Mengapa harus mudah terpengaruh ajakan yang membuatmu lupa siapa sebenarnya dirimu. Yang membuatmu menyangkal dirimu sendiri dan berpura pura jadi orang lain. Bukannya kita iri atau tidak bisa seperti kamu. Tetapi kami masih tau batas. 

Hiduplah sederhana tidak akan membuatmu mati.  Kejar dan capailah dulu tujuaan utamamu di perantauan. Kelak kamu sukses dan kaya, kamu bisa ajak orang tuamu merasakan kesenangan itu.

Referensi:
1. Wikipedia
2. Fanpage Facebook: Filsafat dan Refleksi