Selasa, 19 Januari 2021

Dimensi Tentang Manusia













Dimensi tentang manusia selalu tidak terbatas, mengapa kemudian Manusia disebut MAKROKOSMOS, karena angan, mimpi dan apa yang ada dalam hati manusia tidak pernah dibatasi oleh apapun. 
Manusia adalah makhuk sosial dan dinamis. sudah menjadi hukumnya manusia membutuhkan manusia yang lain.
 
Dalam buku Pengelolaan Lingkungan Sosial (2005), sebagai makhluk sosial, manusia tidak pernah bisa hidup seorang diri.

Di mana pun dan bila mana pun, manusia senantiasa memerlukan kerja sama dengan orang lain.

Manusia membentuk pengelompokan sosial di antara sesama dalam upaya mempertahankan hidup dan mengembangkan kehidupan.

Dalam kehidupan bersamanya, manusia memerlukan pula adanya organisasi, yaitu jaringan interaksi sosial antar sesama untuk menjamin ketertiban sosial.

Interaksi-interaksi itulah yang kemudian melahirkan sesuatu yang dinamakan lingkungan hidup, seperti keluarga inti, keluarga luas, atau kelompok masyarakat.

Di Asmat sendiri, jumlah penduduk (manusia) adalah sekitar 144.764 jiwa (sumber: Wikipedia - 2019), dengan luas wilayah kurang lebih 31.984 km persegi, dengan kondisi alam dan budaya yang luar biasa. 
keunikan dan kekayaan alam serta budaya Asmat kemudian menjadikannya sebagai salah satu ikon PARIWISATA di  Papua secara khusus, Nasional bahkan Mancanegra. 

telah menjadi Rahasia umum bahwa Pariwisata di kabupaten Asmat kian hari kian terkenal, dengan adanya usaha dari pemerintah, Keuskupan, serta banyak pihak lain yang melihat Asmat dalam keunikan serta kekayaannya. 

sayangnya, potensi kekayaan dan keunikan alam serta budaya Asmat lebih besar daripada kenyataan Asmat sebagai ikon pariwisata saat ini. 

melihat kenyataan diatas dan atas dasar kesadaran sebagai MANUSIA yang mendiami tanah Asmat, komunitas Asmat Fotografi yang mana terhimpun atas dasar kesamaan hobi, yang kemudian menghimpun individu-individu yang memiliki ketertarikan dalam dunia fotografi yang berdiri sejak tahun 2011, melihat ini sebagai persoalan kongkrit. 

selain sebuah komunitas seni, Asmat Fotografi juga menyadari diri sebagai komunitas sosial, sebagai makrokosmos, kemudian berupaya dengan kemampuan dan keterbatasan berusaha memperkenalkan potensi Asmat di mata luar. 

Asmat Fotografi secara mandiri, melihat alam dan kehidupan sosial masyarakat Asmat sebagai sebuah keunikan, mulai dari pemukiman yang tidak berdiri langsung di tanah, bertempat di tengah-tengah hutan mangrove, belum lagi budaya yang luar biasa, danbdikenal lewat festival budaya yang diakan setiap tahun, adalah suatu daya tarik dan potensi pariwisata yang sulit ditemukan di belahan dunia manapun. 

atas dasar itu Asmat Fotografi kemudian membangun sebuah spirit untuk pariwisata, yaitu "ASMAT ADALAH RAKSASA PARIWISATA YANG SEDANG TIDUR" di selatan Papua.
spirit ini terus mebakar semangat Asmat Fotografi dalam upaya-upaya kecil untuk mempromosikan dan mengembangkan PARIWISATA ASMAT dengan karya-karyanya. 

sebagai contoh, tempat rekreasi kampung KAYE (KAMPUNG PELANGI) adalah awal Asmat Fotografi secara serius ingin nengembangkan Pariwisata Asmat, dengan harapan suatu ketika, pariwisata Asmat dapat berkembang sehingga lahir masyarakat yang mandiri serta terciptanya ekonomi kreatif di Masyarakat sebagai pelaku pariwisata. 

untuk itu, komunitas membutuhkan dukungan semangat dari seluruh masyarakat Asmat guna cita-cita tersebut. Asmat Fotografi adalah komunitas yang mandiri, yang tidak terikat dengan badan atau organisasi manapun. 

tanpa menyinggung, mengucilkan dan mendiskreditkan siapapun dan pihak manapun, mari kita sama-sama, bergandeng tangan memajukan pariwisata Asmat dengan kemampuan dan kreativitas dari posisi kita masing-masing. 
mimpi Asmat Fotografi adalah mimpi kita bersama, mari kita gapai mimpi itu, mari bangkitkan RAKSASA PARIWISATA YANG SEDANG TIDUR INI

di akhir tulisan ini,
saya mengutip bahasa mantan presiden Amerika Serikat yaitu "jangan tanyakan apa yang tanah ini berikan kepadamu, tetapi tanyakan apa yang engkau berikan untuk tanah ini"  John F Keneddy

Ja Asamanam Apcamar

hormat kami, Komunitas Asmat Fotografi

Dormom o..

Jumat, 15 Januari 2021

MENJADI ANAK-ANAK TERANG

Foto Ilustrasi Terang (jazwanphoto)


Oleh : Pdt. Thomas Wenda, S.Th 
(π™ΆπšŽπš–πš‹πšŠπš•πšŠ π™ΉπšŽπš–πšŠπšŠπš 𝙢𝙸𝙳𝙸 π™°πš—πšžπšπšŽπš›πšŠπš‘ π™ΌπšŠπš—πšŠπšπš˜)
Yohanes 12:34 46

Percayalah kepada terang itu, selama terang itu ada padamu, supaya kamu menjadi anak anak terang.
 Yohanes 12:36

Yesus adalah terang dan Dia ingin manusia yang hidup di dalam dunia yang gelap oleh dosa memperoleh terang. Caranya cukup dengan percaya sungguh sungguh kepada Yesus selagi ada kesempatan, maka kita akan menjadi anak anak terang.

Apa ciri anak anak terang? Pertama, ia tidak senang di dalam kegelapan. Tuhan Yesus menyatakan, Aku telah datang ke dalam dunia sebagai terang, supaya setiap orang yang percaya kepada Ku, jangan tinggal di dalam kegelapan. (Yoh. 12:46). Sebagai orang percaya, kita diberi kemampuan untuk bisa menang atas kebiasaan buruk, bahkan kekuatan untuk mengalahkan setan dan dosa. Memang dunia masih penuh dosa dan tubuh jasmani kita adalah tubuh dosa, jadi kita masih mungkin jatuh ke dalam dosa. Namun, orang percaya tidak akan betah berkubang dalam dosa. Ia selalu akan merasa gelisah dan berusaha keluar dari segala dosa yang menjeratnya.

Kedua, ia menjadi terang bagi yang lain. Yesus berkata, Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. (Mat. 5:14). Orang percaya akan mengalami proses perubahan menjadi kudus oleh Roh Kudus. Pelan pelan sikap, karakter, dan emosinya akan diubahkan. Perubahannya tidak bisa disembunyikan, semua orang akan melihatnya, apalagi orang orang yang tinggal serumah. Ateng tinggal di lingkungan yang keras. Ia akrab dengan berbagai kebiasaan buruk dan berdosa, seperti perkelahian fisik. Ketika bertobat, pelan pelan ia mulai tidak suka berkelahi. Walau sesekali jatuh ke dalam perkelahian tetapi ia segera menyesalinya. Perubahan karakter Ateng dari seorang yang temperamental menjadi suka cinta damai, menjadi pembicaraan orang di sekitarnya. Hidupnya telah diubahkan oleh Kristus dan firman Nya.

Ketiga, ia akan menjadi alat kesaksian Tuhan. Yesus berkata, Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga. (Mat. 5:16). Orang percaya akan berusaha sedemikian rupa untuk menjadi kesaksian, baik lewat kehidupan pribadi maupun karyanya di dalam keluarga dan masyarakat. Juga melalui ucapannya yang menghargai, menghibur, dan menguatkan serta memberitakan kasih Kristus. Melalui kehidupannya anak terang akan bisa memuliakan Bapa di
Sorga.

Salam jadi anak terang.

Refleksi Diri:

Apakah Anda sudah menjadi anak anak terang yang membenci dosa dan mengalami perubahan karakter karena Roh Kudus?

Bagaimana Anda akan menjadi alat kesaksian Yesus di tengah lingkungan Anda?

Selamat pagi, selamat menjadi alat kesaksian Yesus !

Minggu, 10 Januari 2021

Pentingnya Menjaga Alam Tolikara

Kondisi Sampah di Kubupaga hingga andugumpaga

Pentingnya menjaga lingkungan wajib harus kita tanamkan sejak dini. Penebangan hutan secara liar/pembalakan hutan, polusi udara, dan masalah mengenai rusaknya lingkungan kita di Papua khususnya di puncak Kubu Baga hingga andugum baga, hal ini merupakan masalah yang serius di tangani oleh Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Tolikara. Bagaimana tidak, masalah ini tidak luput dari peran pemerintah dan masyarakat yang harus berdampingan menjaga lingkungan kita ini.
Lingkungan yang merupakan tempat tinggal semua makhluk hidup yang ada di muka bumi, termasuk manusia, hewan, dan tumbuhan harus kita jaga kelestariannya. Lingkungan sangat penting bagi kelangsungan hidup bagi makhluk hidup. Karena apabila lingkungan tidak ada maka manusia, hewan, dan tumbuhan tidak dapat bertahan hidup. Sebab lingkungan merupakan kandungan Ibu yang harus kita rawat dengan baik namun, sekarang lingkungan mengalami kerusakan. Itu semua akibat ulah dari manusia yang tidak bertanggung jawab. Contohnya saja seperti menebang pohon secara liar yang tidak diselingi dengan penanaman pohon kembali sehingga hutan menjadi gundul dan tanah tidak dapat menyerap air bahkan pohon tidak dapat menghirup karbondioksida diudara,  serta membuang sampah sembarangan yang berdampak buruk pada kehidupan makhluk hidup. Ulah manusia tersebut dapat berakibat fatal, mereka berani mengatasnamakan bisnis dan mengesampingkan lingkungan tanpa memikirkan anak cucu mereka kelak. Mungkin berbuat itu sangat mudah tapi kalau mengembalikannya seperti semula sangat sulit.
Oleh sebab itu, agar bencana alam tidak terulang terus-menerus, kita sebagai manusia yang hidup dimuka bumi yang telah diberikan kekayaan alam yang melimpah, seharusnya kita berterima kasih kepada Tuhan dengan cara menjaga dan melestarikan lingkungan ini. Mulai dari sekarang marilah kita membenahi lingkungan kita.
Pemerintah kabupaten Tolikara dalam hal ini Dinas Lingkungan Hidup telah  berupaya menanam papan nama untuk menjaga lingkungan di setiap mata jalan dari kota hingga ke distrik namun hingga saat ini belum ada kesadaran manusia sehingga membuang sampah dengan sembarang.
 Terutama di puncak gunung kubu Baga hingga andugum baga, kini dijuluki dengan puncak Mega Tolikara.
Dari pantauan kami selama tiga kali melalui motor kebanyakan sampah adalah sampah barang-barang kios yang sudah kadaluarsa atau masa explayernya habis, kemudian sampah rumah tangga dan besi-besi tua maupun botol-botol oli dari bengkel. Berdasarkan  pantauan kami sampah tersebut dibuang oleh para pedagang dan sopir-sopir angkutan umum maupun pribadi serta mobil-mobil dinas.
Masyarakat tidak mungkin datang dari jauh untuk membuang sampah pada tempat tersebut diatas. Oleh sebab itu setiap orang perlu punya kesadaran masing-masing untuk tidak membuang sampah dengan sembarang.  Jika kita tidak menjaga alam, maka siapa lagi yang datang untuk menjaga dan melestarikan lingkungan alam yang ada di daerah kita, tentu tidak !. Hanya kita sendiri yang harus menjaga dan melestarikan agar bisa menarik perhatian publik terutama para turis nasional maupun mancanegara.
Kita punya kekayaan alam yang begitu luar biasa, sebab alam yang kita miliki orang lain di tidak memiliki maka kita sama-sama menjaga dan melestarikan.
 Apa gunanya pendidikan dari TK sampai perguruan tinggi tetapi tidak bisa baca papan nama yang sudah tempel oleh di Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Tolikara. Tidak cukup ilmu yang diterima di bangku studi atau memang tidak tahu membaca buta huruf lalu membuang sampah dengan sembarang.
Setiap tempat pasti ada penghuninya sehingga kita saling menghormati antara satu sama lain. Puncak Kubu Baga hingga andugum baga bukan tempat kosong pasti ada penjaga alam juga sehingga kita harus menyadari untuk tidak membuang sampah dengan sembarang tempat. 
Sampah yang tidak bisa terurai kembali seperti sampah plastik, botol, kaleng, serta besi-besi tua akan merusak alam sampai bertahun-tahun. Akibat dari pada itu akan akan mengamuk. Sebab Tuhan menciptakan semesta alam untuk manusia menjaga dan memelihara, alam akan memberikan dampak baik kepada manusia dan hewan tanpa alam semua makhluk hidup tidak dapat bertahan hidup. Sehingga sebelum merusak kita perlu menjaga mulai dari sekarang supaya anak cucu kita kedepan tidak mengalami kesusahan untuk mengelola alam di lingkungan mereka masing-masing.


Oleh : Jazwan W. Yanengga
Photographer