Kamis, 17 Oktober 2024

Marthen Kogoya PJ Bupati Kinerja Terbaik Se-Papua Pengunungan Kembali Pimpin Tolikara Periode Ke Tiga

Foto Usai Evaluasi Kinerja PJ. Bupati Tolikara Marhen Kogoya, S.h., M.Ap

Pemerintah Republika Indonesia melalui kementerian dalam Negeri kembali melakukan evaluasi  kinerja  Pejabat Bupati Kabupaten Tolikara Bapak Marthen Kogoya, S. H., M. Ap yang kesekian kalinya. Hasil evaluasi pemerintah pusat  menilai  bahwa kinerja Pejabat Bupati Kabupaten Tolikara  sangat baik maka kementerian dalam negeri kembali  memutuskan Marthen Kogoya, S. H., M. Ap untuk melanjutkan  sebagai Pejabat Bupati Kabupaten Tolikara Periode  yang Ketiga. 

Hal tersebut mebuktikkan bahwa Pejabat Bupati Kabupaten Tolikara dalam hal ini Bapak Marthen Kogoya, S.H., M. Ap, telah sukses menjalankan amanah pemerintah Republik Indonesia dan  membangun Kabupaten Tolikara sesuai dengan harapan Pemerintah Pusat dan Masyarakat Tolikara. 

Keputusan tersebut tidak bisa diganggu gugat oleh siapapun karena melihat dari kenerja selama beliau pimpin  banyak perubahan yang terjadi  pada wajah Kota Karubaga sebagai Ibu kota Kabupaten Tolikara dan sekitarnya. 

Jika kita mereview  kembali kepemimpinan Bupati sebelumnya dan bandingkan dengan kepemimpinan Pejabat Bupati sekarang pasti hal-hal tertentu yang kita bisa dapat melihat, merasakan dan membandingkan yaitu ada perubahan-perubahan yang terjadi secara signifikan  dalam roda pemerintahan, pelayanan  publik kepada masyarakat dan pembangunan fisik serta non-fisik. 

Dalam perbandingan pemimpin tujuannya bukan untuk menjatuhkan pemimpin sebelumnya namun hal tersebut menjadi indikator kemajuan daerah agar kita dapat ketahui bersama. Karena ada pepatah yang mengatakan bahwa setiap masa ada pemimpinnya dan setiap pemimpin ada masanya sehingga dalam kesempatan yang beliau pimpin mengambil keputusan tepat dan sasaran pada pembangunan daerah. 

Hari ini sejarah mencatat bahwa dalam dua tahun kepemimpinan beliau telah  sukses melakukan  terobosan yang cukup dalam pembangunan Kab. Tolikara pada sektor Pendidikan, Kesehatan, Pembangunan Infrastruktur Jalan, Jembatan serta pelayanan publik kepada masyarakat Kabupaten Tolikara. 

Meskipun  penilaian dari orang lain banyak hal yang beliu belum lakukan dalam dua tahun kepemimpinan namun kita akui karena manusia  sebagai instan yang lemah pasti punya kekurangan namun perubahan suatu daerah tidak semudah membalik telapak tangan harus membutuhkan waktu dan proses yang cukup panjang  untuk perubahan suatu daerah. Tolikara sebagai salah satu kabupaten yang rawan konflik di Papua pengunungan tentu ada pertimbangan-pertimbangan sebelum membangun  pembangunan fisik, faktor lain adalah struktur tanah yang tidak kuat untuk menahan pembangunan maka perlu dipikirkan dua kali lipat,  namun hal itu bukan suatu masalah menjadi alasan untuk pemimpin dalam mengambil keputusan pada pembangunan Kabupaten Tolikara,  hal tersebut suatu tantangan yang harus dihadapi dan diterima dari kenyataan hidup. 

Kita sebagai kader Gereja Injili Di Indonesia (GIDI) selalu katakan bahwa Tolikara adalah Kota Injil dan Kita sebagai anak Injil namun untuk membuktikan perkataan kita ini melalui tindakan nyata sangat sulit, hanya orang-orang tertentu yang bisa  mebuktikkan dengan kerja nyata yaitu bagi kader GIDI yang takut Tuhan dan punya hati untuk pembangunan serta punya jiwa untuk rakyat Tolikara, salah satunya adalah Pejabat Bupati Kabupaten Tolikara Bapak Marthen Kogoya, S. H., M. Ap. saat ini pimpin. 

Saya sebagai pemuda  yang peduli dengan pembangunan Kabupaten Tolikara berikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Pejabat Bupati Kabupaten Tolikara Bapak Marthen Kogoya, S. H., M. Ap. Karena telah terbukti  mewujudkan pembangunan Kabupaten Tolikara dalam 2 (Dua) Tahun kepemimpinan. 

Pada akhirnya secara pribadi menyampaikan Selamat dan Sukses atas Perpanjangan Surat Keputusan  Kementerian Dalam Negeri sebagai Pejabat Bupati Kabupaten Tolikara Periode Ke-III. 

Kiranya Tuhan Yesus yang punya segala berkat akan memberikan hikmat, akal budi serta kesehatan yang baik untuk melayani masyarakat Kabupaten Tolikara demi kemuliaan nama Tuhan Yesus. 


Minggu, 04 Februari 2024

Menjaga Hati


Bacaan: AMSAL 4:23

Bacaan Setahun: Imamat 11-13


Nas: Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari sanalah terpancar kehidupan. (Amsal 4:23)


Menjaga Hati

Sejak menempati rumah baru, kami mendapati baju seragam putih anak-anak kami kusam, tidak putih bersinar, bak mandi lebih cepat kuning dan lantai kamar mandi lekas berlumut. Belakangan baru diketahui hal tersebut disebabkan oleh kualitas air tanah yang tidak baik, berwarna, dan berbau karat. Akhirnya, kami memasang alat pengolah air. Meskipun hasilnya tidak maksimal, sedikit banyak telah mengurangi dampak air tanah yang kualitasnya buruk. Kualitas air yang buruk berdampak buruk pula bagi beberapa hal di rumah.

Hati ibarat sumber air yang harus dijaga dengan baik seperti kata firman Tuhan. Tuhan memerintahkan kita menjaga hati di atas segalanya. Hati adalah pusat kehidupan yang menentukan jalan hidup kita. Hati penuh dosa menggerakkan tubuh kepada tindakan dosa. Hati yang bersih membawa kepada kehidupan yang berharga. Kita dapat menjaga hati kita dengan cara: memenuhi pikiran kita dengan firman Tuhan, taat kepada Allah dan melawan iblis (Yak 4:7). Begitu seriusnya dampak dari hati, demikian pula kita harus menjaganya dengan serius.

Penuhilah hati kita dengan kebenaran firman Tuhan setiap hari. Penuhilah hati dengan pengaruh dari komunitas yang benar. Hati yang penuh firman Tuhan akan membawa kehidupan kita penuh dengan syukur, mengampuni, mengasihi, melayani Tuhan dan sesama dengan ketulusan. Komunitas yang benar menolong kita belajar memiliki hati yang terarah kepada kebenaran firman Tuhan.

 

Sumber : --AWS/www.renunganharian.net

 

BEGITU SERIUSNYA DAMPAK SEBUAH HATI,

SERIUS PULA KITA HARUS MENJAGANYA."

Kamis, 01 Februari 2024

Pelayanan Menyeluruh



Ilustrasi Memberi Makan



Bacaan: LUKAS 9:10-17

Bacaan Setahun: Keluaran 28-29


Nas: Tetapi, Ia berkata kepada mereka, "Kamu harus memberi mereka makan!" (Lukas 9:13)

 

Pelayanan Menyeluruh

Terkadang ada orang yang memahami bahwa pelayanan adalah hanya sesuatu yang berhubungan dengan kegiatan-kegiatan rohani di gereja maupun persekutuan. Pelayanan hanya terbatas, seperti, menjadi pembawa renungan, pemimpin pemahaman Alkitab, pemimpin pujian, pemusik ibadah, dan pendoa syafaat. Hanya itukah sebuah pelayanan?

Ketika orang banyak terus mengikuti Yesus, Dia tetap melayani mereka dengan menyampaikan berita tentang Kerajaan Allah dan menyembuhkan orang-orang yang sakit. Menjelang malam murid-murid-Nya meminta Yesus menyuruh orang banyak pergi agar dapat mencari tempat menginap dan makan. Tetapi alangkah terkejutnya para murid ketika Yesus mengatakan bahwa mereka harus memberi makan orang banyak itu. Para murid mungkin berpikir bahwa memberi makan bukanlah menjadi tanggung jawab mereka sebagai pelayan. Yesus mengajarkan kepada murid-murid-Nya suatu tanggung jawab pelayanan yang lebih luas dan menyeluruh. Sebab, ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu menjenguk Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku (Mat. 25:35-36).

Ketika melihat di sekitar kita, ada banyak sekali pelayanan yang bisa kita lakukan bagi Tuhan dengan mengasihi dan menolong sesama. Ada orang-orang yang mungkin lapar, haus, telanjang, sakit, dipenjara, dan tidak punya tempat tinggal, mari kita mengambil bagian, melayani dengan menolong dan meringankan beban mereka. 


Sumber : ANT/www.renunganharian.net


Selasa, 30 Januari 2024

Kelangkaan Kasih di Dunia


Kelangkaan Kasih

Kelangkaan Kasih


Bacaan: KISAH PARA RASUL 9:36-43

Bacaan Setahun: Keluaran 36-38


Nas: Berkemaslah Petrus dan berangkat bersama mereka. Setibanya di sana, ia dibawa ke ruang atas. Semua janda datang berdiri dekatnya dan sambil menangis mereka menunjukkan kepadanya baju-baju dan pakaian yang dibuat Dorkas waktu ia masih bersama mereka. (Kisah Para Rasul 9:39).


Apakah yang langka di dunia ini? Mungkin terpikir oleh kita hewan-hewan yang hampir punah, seperti orangutan, vaquita (sejenis lumba-lumba) dan saola (sejenis sapi). Atau tumbuhan seperti raflesia, acung jangkung, dan rotan inun. Atau sumber daya alam seperti batu bara dan minyak bumi. Benar, memang semuanya itu langka. Namun, ada satu lagi yang kerap tidak kita sadari. Apakah itu? Kasih!

Sewajarnya jika manusia yang hidup di dunia ini mati. Namun, saat kematian terjadi pada Dorkas, orang-orang di Yope bertindak tidak wajar. Dua orang diutus kepada Petrus dengan permintaan, "Segeralah datang ke tempat kami" (ay. 38). Kebetulan Petrus berada di Lida, tidak jauh dari Yope. Begitu Petrus tiba di situ, datang semua janda berdiri dekatnya dan menangis (ay. 39). Terlihat hati tidak rela ditinggal mati oleh perempuan itu. Seakan mereka semua berkata kepada Petrus, "Tolong lakukan sesuatu untuk kami!" Dapat dimengerti mereka bertindak demikian karena selama hidupnya Dorkas telah melakukan hal yang langka. Ia menabur kasih dengan banyak sekali berbuat kebaikan dan memberi sedekah (ay. 36). Bagi para janda yang mayoritas ialah kaum papa, Dorkas membuatkan baju dan pakaian.

Banyak orang mengaku sebagai anak Tuhan, tetapi kehilangan kasih. Sungguh menyedihkan mengetahui kasih ternyata langka mengingat anak Tuhan dikenal sebagai pembawa kasih. Rindukah kita membalik kenyataan ini? Rindukah kita mengubah "langka" menjadi "limpah"? Sekiranya ya, maka mulai hari ini mari menabur kasih dalam kehidupan sehari-hari. Perbuatlah kebaikan dan tunjukkan kemurahan hati. Hiburkan mereka yang susah, topanglah mereka yang lemah, bantulah mereka yang menderita.


Ayat Alkitab: KISAH PARA RASUL 9:36-43

9:36 Di Yope ada seorang murid perempuan bernama Tabita--dalam bahasa Yunani Dorkas. Perempuan itu banyak sekali berbuat baik dan memberi sedekah.

9:37 Tetapi pada waktu itu ia sakit lalu meninggal. Dan setelah dimandikan, mayatnya dibaringkan di ruang atas.

9:38 Lida dekat dengan Yope. Ketika murid-murid mendengar, bahwa Petrus ada di Lida, mereka menyuruh dua orang kepadanya dengan permintaan: "Segeralah datang ke tempat kami."

9:39 Maka berkemaslah Petrus dan berangkat bersama-sama dengan mereka. Setelah sampai di sana, ia dibawa ke ruang atas dan semua janda datang berdiri dekatnya dan sambil menangis mereka menunjukkan kepadanya semua baju dan pakaian, yang dibuat Dorkas waktu ia masih hidup.

9:40 Tetapi Petrus menyuruh mereka semua keluar, lalu ia berlutut dan berdoa. Kemudian ia berpaling ke mayat itu dan berkata: "Tabita, bangkitlah!" Lalu Tabita membuka matanya dan ketika melihat Petrus, ia bangun lalu duduk.

9:41 Petrus memegang tangannya dan membantu dia berdiri. Kemudian ia memanggil orang-orang kudus beserta janda-janda, lalu menunjukkan kepada mereka, bahwa perempuan itu hidup.

9:42 Peristiwa itu tersiar di seluruh Yope dan banyak orang menjadi percaya kepada Tuhan.

9:43 Kemudian dari pada itu Petrus tinggal beberapa hari di Yope, di rumah seorang yang bernama Simon, seorang penyamak kulit."

 

Sumber : www.renunganharian.net


Senin, 29 Januari 2024

Ketaatan dan Menjatuhkan Hukuman


Ilustrasi Menjatuhkan Hukuman



Bacaan: IBRANI 8

Bacaan Setahun: Keluaran 33-35

Nas: Ketika Ia berkata-kata tentang perjanjian yang baru, Ia menyatakan yang pertama sebagai perjanjian yang telah menjadi tua. Apa yang telah menjadi tua dan usang, akan segera lenyap. (Ibrani 8:13)


Sudah Usang


Dulu kita menggunakan telepon rumah, telepon umum, atau pergi ke wartel untuk menelepon. Kini, kebanyakan orang menggenggam telepon di tangannya masing-masing. Kita hidup dengan teknologi yang lebih baru. Perangkat kuno tadi sudah ketinggalan zaman, sudah usang.

Perjanjian Baru jauh lebih agung daripada Perjanjian Lama, yang menuntut ketaatan sempurna dari orang-orang yang tidak sempurna. Dalam Perjanjian Baru, Yesus sebagai Imam Besar mempersembahkan persembahan yang sempurna. Melalui ketaatan-Nya, orang-orang yang percaya kepada-Nya mendapatkan pembenaran.

Allah juga menuliskan hukum-Nya dalam akal budi dan hati orang percaya (ay. 10). Menurut Yeremia 31:34, hukum ini membuat orang mengenal Allah tanpa perlu diajari oleh orang lain. Nubuatan ini mengacu pada "hukum Roh yang memberi hidup" (Rm. 8:2). Roh Kuduslah yang mengajarkan segala sesuatu kepada kita (Yoh. 14:26). Kita tidak lagi diatur oleh hukum yang tertulis pada loh batu, tetapi dipimpin oleh Roh Kudus yang tinggal di dalam hati kita.

Martin Luther menggambarkan perbedaan antara Perjanjian Lama dan Baru sebagai berikut, "Hukum Taurat berkata, 'Lakukan hal ini, ' dan hal tersebut tidak pernah terlaksana. Anugerah berkata, 'Percayalah akan hal ini, ' dan segala sesuatunya sudah diselesaikan." Apakah kita menjalani hidup ini dengan cara lama-mengandalkan ketaatan pribadi pada aturan-aturan agamawi-ataukah dengan cara baru-mengandalkan anugerah dan pimpinan Roh Kudus? 


Sumber : ARS/www.renunganharian.net


* * *

HUKUM TAURAT MENUNTUT KETAATAN DAN MENJATUHKAN HUKUMAN,

ROH KUDUS MEMBERIKAN HIDUP DAN MENYEDIAKAN KEMERDEKAAN"