Sabtu, 31 Oktober 2020

Kritik Martin Luther atas Gereja Katolik Melahirkan Protestanisme


Pada 31 Oktober 1517, Martin Luther memaku 95 dalil berisi kritik terhadap otoritas Katolik pada pintu gereja di Wittenberg.


Penulis: Tony Firman
31 Oktober 2020
   
Sejarah agama adalah sejarah umat manusia, orang-orang yang dikatakan sebagai Joachim Wach dalam buku Studi Banding Agama (1969). Dalam sejarah terpercik konflik, perang, damai, perpecahan agama ke dalam berbagai aliran, dan seterusnya. Perjalanan agama Kristen selama abad pertama Masehi sampai saat ini pun tidak steril dari dinamika itu.

Di daratan Eropa sejak abad ke-5 Gereja Katolik Roma menjadi pusat politik dan budaya Kekristenan yang amat dominan. Namun pada abad ke-15, Gereja Katolik harus menghadapi perkembangan zaman yang begitu pesat di Eropa.

Selama periode Abad Pertengahan hingga Renaissance, penemuan ilmiah baru telah membuka mata tentang kompleksitas alam semesta. Aktivitas pelayaran dan perdagangan antar samudera jadi hal lumrah dibandingkan abad-abad sebelumnya ketika laut dipandang sebagai sarang monster dan tepi dunia.

Perlahan-lahan peradaban Eropa Abad Pertengahan mulai mengalami krisis. Pada 1347-1351, wabah pes merenggut sekitar 75 juta populasi. Kota-kota Eropa dilanda kepanikan. Sementara itu, aliansi politik tradisional antara Paus sebagai pemimpin tertinggi Gereja Katolik Roma dan pangeran-pangeran Eropa mulai ulang .

Kebudayaan peradaban abad pertengahan dan kebangkitan era Renaisans yang bermula dari Italia turut melahirkan para pemikir Kristen mulai otoritas tinggi Gereja Katolik.

Pada 31 Oktober 1517, tepat hari ini 503 tahun silam, sebuah biarawan tak dikenal bernama Martin Luther berdiri di depan sebuah gereja di Wittenberg - kota kecil yang kini masuk wilayah Jerman. Di pintu gereja, dia nekat memaku daftar 95 dalil berisi kritik terhadap otoritas Gereja Katolik. Peristiwa itu tercatat dalam sejarah sebagai awal mula gerakan Reformasi di daratan Eropa dan seluruh dunia yang melahirkan Protestantisme.

Baca juga: Giordano Bruno, Pemikir yang Dibakar atas Nama Iman 

Berbekal pendidikan magister hukum dari Universitas Erfurt, Luther memutuskan jadi biarawan ketika usianya masih 21 tahun. Perilakunya sangat asketik. Dia rajin berdoa, puasa, bertapa, menahan hawa dingin tanpa selimut, dan melakukan ritual biarawan lainnya.

Praktik indulgensi sendiri muncul pada abad ke-11 dan ke-12 saat Perang Salib masih berkobar. Gereja menjelaskannya sebagai "penghapusan siksa-siksa temporal di depan Tuhan untuk dosa-dosa yang sudah diampuni". Aturan indulgensi, sudah tertuang khususnya dalam Katekismus Gereja Katolik 1471.

Seiring perjalanan waktu, para pemimpin Gereja memutuskan bahwa membayar sejumlah uang untuk proses indulgensi bisa dilakukan setiap orang, tidak hanya mereka yang terjun ke Perang Salib.

Selama beberapa abad berikutnya, penjualan indulgensi menyebar luas dan mencakup pengampunan dosa atas orang-orang yang sudah meninggal. Hal ini terutama diserukan dalam khotbah-khotbah biarawan Ordo Dominikan John Tetzel.

Praktik jual beli indulgensi pun jadi jamak. Di bawah kepemimpinan Paus Leo X, Gereja meraup pemasukan besar dari umat yang kemudian dialokasikan untuk membangun kembali Basilika Santo Petrus di Roma. Luther memandang praktik tersebut sebagai perilaku korup. Dari sanalah 95 dalil Luther bermula.

Dalam sebuah debat publik di Leipzig pada 1519, Luther menyatakan bahwa, “Orang awam yang dipersenjatai kitab suci lebih unggul dari Paus beserta dewan kardinalnya." Akibatnya, Luther langsung mendapat ancaman ekskomunikasi; tak boleh ikut sakramen.

Pada 1520, Luther menjawab ancaman tersebut dengan menerbitkan tiga risalah yang terpentingnya. Risalah pertama berkepala  Seruan kepada Bangsawan Kristen  yang menekankan bahwa semua orang Kristen adalah imam dan kedekatan para penguasa untuk mengambil jalan Reformasi gereja. Kedua, Tawanan Babilonia Gereja  yang mengurangi tujuh sakramen menjadi hanya dua berupa pembaptisan dan Perjamuan Kudus. Ketiga, Tentang Kebebasan Seorang Kristen  yang mengatakan orang-orang Kristen bahwa mereka sudah terbebas dari hukum Taurat dan kini telah mengacu pada ikatan cinta pada hukum tersebut.

Baca juga: Orang-Orang yang Mengaku Juru Selamat

Dewan Gereja lalu memanggil Martin Luther dan dia pun segera terlibat dalam pertempuran sengit dengan para pemuka Gereja Katolik hingga bidah dan sesat. Luther sempat dilarikan diri ke Kastil Wartburg dan pelacur selama sepuluh bulan.

Gerakan Reformasi Luther menuntut menerjemahkan Alkitab dari bahasa Latin ke bahasa Jerman. Tampaknya besar karena orang tidak perlu lagi bergantung pada seorang imam untuk membaca dan menafsirkan Alkitab. Walhasil, legitimasi para padri Katolik pun terancam tergerus.

Selain itu, Luther mengkampanyekan pendidikan universal untuk anak perempuan dan laki-laki di zaman ketika pendidikan hanya bisa diakses oleh orang kaya. Dia juga banyak menulis nyanyian rohani, traktat, berkhotbah tentang pandangan Reformasi, dan melakukan perjalanan hingga kematiannya pada 1546.

Namun, gerakan Reformasi yang melahirkan pecahan Kristen Protestan ternyata harus dibayar mahal. Serangkaian perang antara kubu Katolik Roma dan Reformis Protestan meletus pada 1524-1648.

Puncak dari konflik berdarah tersebut adalah Perang Tiga Puluh Tahun di Jerman antara 1618-1648 yang menewaskan sekitar 7,5 juta jiwa. Konflik kedua kubu berakhir dengan perjanjian damai Westfalen. Tiga aliran Kristen akhirnya asli: Katolik Roma, Lutheran, dan Calvinis. 

Baca juga: Susah-Senang Membuat Film Tentang Yesus 

Warisan intelektual dan politik Luther mengilhami para tokoh pembaharu Protestan di zamannya seperti Calvin, Zwingli, Knox, dan Cranmer. Pemikiran para pembaharu ini pun pada kala melahirkan berbagai jenis denominasi Protestan, misalnya Gereja Lutheran, Reformed, Anglikan, Anabaptis, dan banyak lagi lainnya yang terus berkembang sampai sekarang.

500 Tahun Setelah Reformasi
Tiap 31 Oktober, berbagai aliran gereja Protestan - khususnya Lutheran - memperingati Reformasi. Pew Research Center menyambut 500 tahun Reformasi dengan menggelar jajak pendapat yang melibatkan penganut Protestan dan Katolik. Salah satu yang ditanyakan adalah pendangan umat tentang sola fide dan sola scriptura .

Baik sola fi de (keselamatan hanya melalui iman), dan sola scriptura ( alkitab sebagai otoritas tertinggi dan tidak memerlukan otoritas gereja) adalah dua dari lima ide revolusioner Martin Luther ketika melawan otoritas Katolik.

Baca juga: Iman dan Kesunyian Martin Scorsese 

Hasilnya, perbedaan teologis yang pernah memecah Kekristenan di Barat pada abad ke-16 itu diterapkan dengan cara yang sangat berbeda.

Umat ​​Protestan di Amerika Serikat memiliki sejumlah pandangan yang berbeda dalam memaknai Reformasi: 52 persen percaya bahwa selain dari Alkitab, orang Kristen harus mencari panduan dari ajaran dan tradisi gereja, sebuah posisi yang resmi diambil dari  Gereja Katolik .

Sementara soal iman dan keselamatan, jawaban orang Katolik dan Protestan di Eropa merepresentasikan pandangan tradisional Katolik bahwa iman dan amal baik yang diperlukan untuk mencapai keselamatan. Hanya Norwegia — dengan 51 persen penduduk penganut Protestan — yang menyatakan bahwa hanya imanlah yang mengantarkan manusia pada keselamatan.

Sebanyak 57 persen penganut Protestan di Amerika juga mengatakan bahwa ajaran Katolik lebih punya banyak kemiripan dengan Protestan. Namun ketika ditentukan untuk mendefinisikan Protestan dalam kata-kata mereka sendiri, 32 persen responden dewasa mengatakan bahwa Protestan bukan Katolik dan 12 persen menyebut mereka sebagai orang Kristen.

Baca juga: Khalifah yang Membangun Gereja Suci & Makam Yesus 

Data demografi yang dihimpun oleh Center for The Study of Global Christianity menunjukkan pada 2017 terdapat 560 juta pengikut Kristen Protestan di seluruh dunia. Jumlah ini menyumbang sepertiga dari total populasi umat Kristen dunia.

Benua Afrika menempati peringkat tertinggi dalam jumlah umat Protestan (228.300.000 jiwa) dan disusul Asia (99.040.000). Di Jerman, tempat asal Martin Luther dan Reformasi dilancarkan, Katolik masih mendominasi dengan 42 persen populasi, sementara Protestan sendiri dianut 28 persen penduduk, dan mengaku tidak terafiliasi dengan kelebihan.

Dari data 2015, Amerika Serikat masih berada di peringkat pertama negeri dengan populasi Protestan terbesar di dunia (56.177.000), disusul Nigeria (53.106.000) dan Brazil (34.836.000). Indonesia sendiri peringkat ke-9 (18.213.000).

Dalam peringatan peringatan 500 tahun Reformasi yang diadakan di Stadtkirche, Wittenberg, Di Jerman,  Para pemimpin gereja dari berbagai denominasi seperti Katolik Reformed, Lutheran, dan Methodis turut hadir.

Sedangkan saat peringaran Hari Reformasi ke-499 pada 2016 lalu, Paus Fransiskus hadir bergabung bersama para pemimpin Federasi Lutheran Dunia di Swedia.

Baca juga: Menjamurnya Gereja-Gereja Raksasa 

"Kita berkesempatan untuk memperbaiki momentum masa lalu dengan bergerak melebihi kontroversi dan perselisihan yang menghalangi kita untuk memahami satu sama lain," kata Paus pertama yang terpilih dari benua Amerika Latin tersebut.

Lalu, bagaimana dengan ide unifikasi antara Katolik Roma dan Protestan sendiri?

Dalam sebuah survei yang diadakan di Jerman oleh kantor berita Ide , 45 persen responden menjawab tidak peduli, dan 17 persen tidak bisa / mau menjawab. Hanya 20 persen orang mendukung unifikasi, sementara 18 persen persennya. Sebagian besar dari mereka yang menginginkan persatuan adalah para penganut Katolik Roma (66 persen), sementara para anggota gereja Protestan masih unifikasi (59 persen dari total penentang).

Pada Anugerah Reformasi tahun 2015 lalu di Jerman, suvenir karakter tokoh Martin Luther laris manis. Sebanyak 34 ribu karakter Martin Luther terjual dalam waktu 72 jam. D mengutip Waktu , seorang juru bicara produsen karakter Luther menyebut fenomena itu sebagai "misteri besar.


Sumber : tirto.id 

Kamis, 15 Oktober 2020

Jangan Pernah Irih Pada Orang Lain Tetapi Syukuri Apa Yang Ada Pada Kita

Dulu, aku pernah iri pada seorang teman yg cantik. Setiap kali brjalan denganny, semua orang memandangny. Belasan thn kmdian ak bertemu lagi, hampir ak tak mengenalnya. Wajahnya berjerawat, badanny 2x lebih besar dari ak. Kulitny menghitam. Ia sakit.⁣⁣

⁣⁣.

Dulu, aku pernah iri pada tetanggaku, rumahny besar, mobilny bagus. Kalo bertemu, perhiasan di tangan & lehernya bersinar. Tak lama setelah ak pindah, ak melihatnya di TV, ia meninggal karna dibunuh seseorang, karena utang ratusan juta yg tak kunjung ia bayar.⁣⁣

Dulu, aku pernah iri pada temanku, ia selalu cerita pacarnya tampan, anak org kaya, kuliah di luar negeri. Kemudian ak tau, ia dibawa lari pacarnya, lalu hamil di luar nikah, dan skrg ia ditinggalkan. Mereka bercerai.⁣⁣

Dulu, aku iri pada teman senamku. Ia mau kuliah S3 di negara tetangga. Pulang ke Indonesia sebulan sekali. Aku marah pada suamiku yg tak mengizinkanku kuliah lagi. Belakangan, aku sering baca status medsos suaminya. Lalu aku tau, mereka bercerai, karena temanku lebih memilih pria lain di negara tempatnya kuliah. Keluarganya berantakan.⁣⁣

Dulu, aku iri pada sahabatku. Ia selalu masuk sekolah favorit. Kuliah di universitas terkenal. Lulus PNS dg mudah. Tapi bulan kemarin ia menghubungiku. Mau pinjam uang. Gajinya tak cukup utk mmbayar semua cicilan barang2nya.⁣⁣

Dulu, aku iri pd teman sekolahku. Ia selalu rangking 1. Guru2 menyukainya. Lalu kuliah di univ terkenal. Kerja di perusahaan besar. Teman2 memujinya. Tapi kemarin ia menyapaku d WA. Minta pekerjaan. Ia baru aja di PHK. Perusahaan tempatny bekerja baru aja bangkrut.⁣⁣


Hidup itu sawang sinawang. Apa yang kita lihat indah, blm tentu seindah aslinya. Apa yg dulu kamu sesali, bisa jd skrg kamu syukuri. Ktika dulu nangis2 karna tak bisa seperti org lain, sekarang bilang alhamdulillah telah menjadi dirimu sendiri. Kunci nikmati hidup adalah bersyukur. Apa yg kamu lihat di orang lain belum tentu seperti apa yg kamu kira. Setiap orang diuji dengan cara yg berbeda.⁣⁣

Mungkin ada yg iri melihat saya nampak hidup enak. Padahal aslinya, sy juga ngalamin masukin air ke botol sampo pas habis.⁣⁣

⁣.

.

Penulis: Dinifitriyah⁣⁣

Foto: indahkusuma

#skripsi follow @pembimbingmahasiswa 😊