Tampilkan postingan dengan label Alam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Alam. Tampilkan semua postingan

Kamis, 04 Juni 2026

Tolikara Gaungkan Kesadaran Lingkungan Lewat Nobar Film “Pesta Baby"

Foto Istimewa

Gereja dan dan sejumlah OKP Tolikara menyelengarakan Nonton bareng Film Pesta Baby yang disutradarai oleh Dendy Laksono dan kawan-kawan di Ujung Gambar Udara Karubaga, 03/06/2026.

Kegiatan pemutaran film bersama (nonton bareng/Nobar) bertajuk “Pesta Baby” menjadi ruang edukasi publik di Kabupaten Tolikara untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga lingkungan hidup serta membangun masa depan generasi muda yang lebih baik. 

Mengusung tema “Lindungi Alam, Kita Ciptakan Masa Depan”, kegiatan ini tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga menjadi media refleksi sosial bagi masyarakat, khususnya generasi muda di wilayah tersebut.

Dalam sambutannya, Ketua Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Tolikara,  Yalimer Kogoya, S. Pd, menegaskan bahwa pelestarian alam merupakan tanggung jawab bersama seluruh masyarakat Kabupaten Tolikara. 

Ia menyampaikan bahwa kekayaan alam, lingkungan hidup, serta tanah leluhur yang diwariskan para pendahulu harus dijaga dan dilestarikan demi keberlanjutan hidup generasi mendatang.

“Lembah Tolikara memiliki potensi alam yang sangat luar biasa. Karena itu, masyarakat harus memiliki kesadaran untuk melindungi hutan, sungai, dan seluruh sumber daya alam yang menjadi bagian dari identitas kehidupan kita,” ujarnya.

Menurutnya, alam yang terjaga dengan baik akan memberikan dampak positif bagi pembangunan daerah serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat di masa depan. 

Selain isu lingkungan, ia juga menyoroti tantangan sosial yang dihadapi generasi muda saat ini, terutama pengaruh minuman beralkohol, pergaulan bebas, serta perilaku yang dapat merusak masa depan anak-anak muda.

“Kita harus bersama-sama membimbing generasi muda agar memiliki cita-cita, pendidikan yang baik, serta karakter yang kuat. Masa depan Tolikara berada di tangan mereka,” tegasnya.

Kegiatan Nobar “Pesta Baby” ini juga menjadi pengingat bahwa pembangunan daerah tidak hanya bertumpu pada infrastruktur fisik, tetapi juga pada penguatan sumber daya manusia. Pembentukan generasi unggul dinilai harus dimulai sejak usia dini melalui pendidikan, pembinaan karakter, serta lingkungan sosial yang sehat dan aman.

Melalui pendekatan tersebut, masyarakat diharapkan mampu membangun kesadaran kolektif untuk melindungi alam sekaligus mempersiapkan generasi emas Tolikara di masa depan.

“Menjaga alam berarti menjaga kehidupan. Cintai tanah leluhur, lindungi lingkungan, dan siapkan masa depan yang lebih cerah bagi anak-anak Tolikara,” demikian pesan penutup dalam kegiatan tersebut.

Minggu, 08 Maret 2026

ILUSTRASI GAMBAR SEORANG NATALIUS PIGAI BISU SEMBOYAN JAKARTA.

 

Gambar : Ilustrasi AI

Ilustrasi ini dapat dibaca sebagai sebuah alegori visual yang menggambarkan ketegangan antara idealisme advokasi hak asasi manusia dan realitas institusional dalam struktur kekuasaan negara. Figur yang menyerupai Natalius Pigai ditempatkan dalam komposisi tubuh yang tidak utuh, dengan organ-organ vital—seperti jantung, paru-paru, dan sistem pencernaan—ditampilkan secara terbuka dan membentuk tubuh yang terfragmentasi.

Dalam perspektif simbolik, penggambaran organ internal yang terekspos dapat dimaknai sebagai representasi kerentanan moral dan politik yang sering kali melekat pada individu yang berpindah dari posisi aktivisme ke dalam struktur kekuasaan formal. Aktivis HAM pada dasarnya beroperasi dalam kerangka kritik terhadap negara, sedangkan ketika berada dalam institusi pemerintahan, posisi tersebut menuntut kompromi dengan realitas kebijakan, birokrasi, dan dinamika kekuasaan. Konsekuensinya, integritas normatif yang sebelumnya menjadi basis legitimasi moral dapat menghadapi tekanan struktural yang kompleks.

Latar hutan yang gelap dengan pencahayaan bulan memperkuat nuansa ambiguitas dan ketidakpastian. Dalam pembacaan semiotik, lanskap tersebut dapat ditafsirkan sebagai metafora ruang sosial-politik yang penuh ketegangan, terutama dalam konteks wilayah Papua yang selama beberapa dekade menjadi arena diskursus mengenai hak-hak masyarakat adat, keadilan distributif, serta relasi antara negara dan komunitas lokal.

Secara kritis, ilustrasi ini juga dapat dipahami sebagai refleksi terhadap paradoks institusionalisasi advokasi HAM. Ketika seorang aktivis memasuki ruang kekuasaan negara, terdapat potensi terjadinya transformasi peran: dari aktor kritis eksternal menjadi bagian dari mekanisme kebijakan yang sebelumnya menjadi objek kritik. Dalam literatur ilmu politik dan studi hak asasi manusia, fenomena ini sering dipahami sebagai bentuk “co-optation” atau integrasi ke dalam struktur kekuasaan, yang dapat menimbulkan dilema antara mempertahankan idealisme normatif dan menjalankan fungsi administratif negara.

Dengan demikian, karya visual ini tidak semata-mata berfungsi sebagai representasi personal terhadap seorang tokoh, melainkan juga sebagai kritik simbolik terhadap dinamika kekuasaan, kerentanan moral dalam politik, serta kompleksitas implementasi hak asasi manusia dalam konteks pemerintahan.

NATALIUS PIGAI BISU SEMBOYAN JAKARTA

Jumat, 04 Mei 2012