Kamis, 27 Agustus 2020

Berakar, Dibangun, dan Bersyukur

Kolose 2:6-15 


Dalam bacaan hari ini Paulus menegaskan bahwa keniscayaan logis setiap orang yang menerima Kristus adalah hidup di dalam Dia. Paulus mendeskripsikannya dengan: "Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur" (7).

Sang Rasul menegaskan, setiap pengikut Kristus harus mengakarkan dan mengarahkan dirinya hanya kepada Kristus. Dalam botani, berakar berarti siap mengambil air dan zat hara dari dalam tanah. Itu berarti dalam kehidupan kristiani, orang percaya dipanggil menghidupi dirinya dengan nilai-nilai Kristus.

Menarik disimak jika kita hendak meneliti unsur-unsur tumbuhan, kita hanya perlu memeriksa sehelai daunnya. Semua unsur dalam setiap bagian tumbuhan itu sama kadarnya. Dalam hidup seorang Kristen, pikiran, perkataan, dan perbuatan, semestinya dihidupi oleh nilai-nilai Kristus. Aneh rasanya jika yang dipikirkan berbeda dari yang dikatakan dan berbeda lagi dari yang dilakukan.

Tak hanya berakar, Paulus bicara soal pertumbuhan rohani yang dibangun di atas dasar Kristus. Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Sederhana tertera: "Hiduplah dengan menuruti kemauan-Nya." Kehendak Kristus menjadi arah pertumbuhan rohani. Sesungguhnya, ini merupakan perkara lumrah. Ketika kita membiarkan diri kita dialiri oleh nilai-nilai Kristus, melakukan kehendak Kristus menjadi hal yang wajar. Aneh rasanya, berakar dalam Kristus, tetapi tidak hidup seturut dengan kehendak-Nya.

Yang penting disimak juga, Paulus bicara soal hati yang "melimpah dengan syukur". Sang Rasul sadar, kehendak Kristus sering kali berbeda dengan keinginan manusia. Itulah yang membuat orang percaya merasa berat hidup sebagai Kristen, terlebih di tengah tekanan filsafat dunia (8). Pada titik ini "hidup bersyukur" merupakan frasa kunci.

Marilah kita bersyukur! Bersyukur karena kita dikubur bersama Kristus dalam baptisan dan dibangkitkan bersama Dia setelah pengampunan dosa.


Selasa, 25 Agustus 2020

Rohani vs Sekuler


Kolose 1:15-23

Kita mungkin sering mendengar orang berkata kalau di gereja tidak boleh berkata kasar, tidak boleh berbohong, tidak boleh berpikiran kotor, dan lain-lain. Perkataan ini tentu ada benarnya, tetapi lebih sering disalahartikan: "Kalau di gereja tidak boleh, maka di luar gereja boleh!" Pemahaman seperti ini mungkin sering kita jumpai dalam lingkungan kekristenan hari ini.

Rasul Paulus, mengajarkan kepada jemaat di Kolose bahwa segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia (16). Ini adalah sebuah ajaran Kristologi yang tegas sehingga jemaat di Kolose tidak jatuh pada ajaran sesat. Ajaran populer yang berkembang saat itu mengajarkan bahwa dunia/ materi adalah jahat sehingga Allah tidak mungkin menjadi manusia. Selain itu, ajaran tersebut mengatakan bahwa Allah tidak mengurusi perkara duniawi (sekuler), melainkan hanya hal-hal rohani.

Rasul Paulus menentang itu karena meyakini bahwa Yesus adalah Allah yang telah menjadi manusia. Ia adalah Allah yang menciptakan segala sesuatu dan segala sesuatu untuk Dia. Dengan demikian, tidak ada hal rohani atau sekuler, melainkan semua yang ada adalah ciptaan Allah.

Dualisme seperti itu kerap kali mengecilkan kekristenan. Seolah-olah kekristenan dianggap sebagai kehidupan agama yang hanya berhenti pada hari Minggu. Akibatnya, muncul anggapan bahwa hidup kudus hanya berlaku di gereja tidak berarti apa-apa di luar gereja.

Firman Tuhan mengajarkan bahwa segala sesuatu adalah milik Allah dan berada dalam pengamatan-Nya. Oleh karena itu, sebagai anak Tuhan, kita semestinya melakukan segala sesuatu untuk memuliakan-Nya. Kalau Anda adalah seorang pekerja, bekerjalah seperti untuk Tuhan.

Jika masih bersekolah, maka belajarlah sesuai dengan prinsip firman Allah. Bahkan jika sedang berolahraga, tidur, makan, atau bermain, tetap lakukanlah dengan kesadaran bahwa kita harus memuliakan Allah dalam segala aspek. Dengan penuh penyerahan, kita mau bersaksi tentang Tuhan lewat profesi, pekerjaan, dan seluruh aspek kehidupan. 

Minggu, 09 Agustus 2020

Pertikaian dalam Pelayanan



Filipi 4:2-9
Pernahkah Anda berdebat, bahkan bertikai dengan rekan satu pelayanan? Akibat pertengkaran itu, akhirnya kita berusaha agar tidak ditempatkan dalam tim pelayanan yang sama dengannya. Perdebatan dalam sebuah komunitas atau gereja adalah lumrah. Seperti Euodia dan Sintikhe, dua orang perempuan jemaat di Filipi yang berdebat karena perkara Hukum Taurat.

Paulus bersedih hati atas pertikaian dua orang itu. Sebab dahulunya, mereka adalah rekannya dalam mengabarkan Injil (3). Euodia dan Sintikhe bertikai perihal: apakah para pengikut Kristus yang baru wajib menjalankan Hukum Taurat? Oleh karena hal ini, Paulus meminta tolong kepada rekan pelayanannya yang lain, Sunsugos, untuk menolong mereka berdua agar berhenti bertikai. Paulus menasihati agar mereka lebih mengutamakan kesatuan dalam Tuhan ketimbang bertikai karena perbedaan pendapat.
Sebagai pengikut Kristus yang baru pada zaman itu, perkara Hukum Taurat memang membingungkan jemaat. Sebelumnya, mereka memahami bahwa Hukum Taurat adalah syarat keselamatan. Akan tetapi, ajaran Kristus seolah menunjukkan bahwa kasih karunia Allah menghapuskan Hukum Taurat.
Dalam menyikapi situasi tersebut, Paulus mengajarkan kepada jemaat di Filipi mengenai hal-hal baik sebagai pengikut Kristus. Misalnya, bersukacita, kebaikan hati, tidak khawatir, berdoa, dan bersyukur (4-6). Bagi Paulus, itu semua lebih penting daripada perdebatan dan pertikaian.
Jika hari ini Anda sedang bertikai dengan rekan di pelayanan, hentikanlah! Allah ingin supaya kita, sebagai rekan sekerja-Nya, mengutamakan tujuan pelayanan, yakni memikirkan apa yang benar dan melakukan ajaran Kristus. Jangan sampai perdebatan kecil merusak tujuan Allah yang mulia ini.

Mari kita memohon ampun jika sempat membenci rekan sepelayanan. Di dalam Tuhan, mari kita melayani-Nya dengan kesungguhan hati supaya damai sejahtera Allah menyertai kita semua. Kita mesti mengedepankan kasih, kepada Tuhan dan sesama. 

Minggu, 02 Agustus 2020

Ibadah Syukuran dan Doa Pelepasan Enam Pemuda GIDI Ke Sekolah Alkitab

 Pemuda yang mengambil keputusan untuk sekolah Alkitab (Dok. BPK GIDI Timika)

Timika Sulhit.Com.  Ungkapan Syukur tak ada batasnya kami panjatkan kepada Tuhan yang maha kuasa, atas rahmatnya sehingga acara Ibadah syukur dan pelepasan  pemuda-pemudi yang mengambil keputusan untuk menempuh pendidikan di sekolah Alkitab/kebenaran, bahasa Indonesia dan bahasa daerah telah terlaksana dengan baik di Jemaat Filadelfia Jile-Yale Timika Minggu, 02 Agustus 2020.

Dalam ibadah syukur dan doa pengutusan khotbah di bawakan  oleh Pdt. Yonewas Wonda, sebagai wakil Klasis GIDI Timika. Dengan Tema : "Sebab banyak yang di panggil tetapi sedikit yang di pilih" diambil dari Injil Matius 22:14.

Sudah  saatnya gereja harus siapkan generasi muda dengan  potensi yang ada untuk Tuhan dalam gereja,  kalian pergi belajar di  Sekolah Alkitab dengan baik lalu bisa datang kembali untuk melayani di Klasis Timika maupun diluar Timika untuk  menjadi penginjil bagi orang lain yang membutuhkan pelayanan.


Pelayanan terbesar yang kita lakukan adalah memenuhi panggilan-Nya untuk melayani di ladangnya.  Tuhan memanggil kita untuk menjadi pelayan di ladang-Nya, tanpa memandang usia, status, golongan, dan latar belakang tetapi Ia melihat kesediaan  hati kita yang benar-benar meyalani di ladang Tuhan.

Marilah kita kembali melihat kisah raja Daud, Saul  pergi mengurapi Daud di antara banyak saudara-saudaranya poster tubuh yang begitu gagah perkasa tetapi Tuhan memilih Daud hanya seorang penjaga Domba. (1 Samuel 16:1-13)

Kita di panggil bukan kerena kebetulan tetapi itu semua dalam rencana Tuhan  sebelum kita  lahir dari kandungan ibu Tuhan sudah punya rencana yang besar dalam hidup saudara dan saya untuk menjadi pelayan di ladang Tuhan.

Dalam ibadah tersebut di hadiri oleh Badan Pekerja Klasis, Tiga Gembala Daerah dan  sepuluh jemaat GIDI Klasis Timika,   kehadiran ini dengan tujuan  memberikan Doa dan sekaligus untuk memberi sumbangan sukarela demi mendukung keenam pemuda  tersebut. 

Mereka yang telah mengambil keputusan untuk  menempuh pendidikan tersebut adalah antara lain 1. Taipen Payokwa akan ke STT-GIDI Sentani,  2. Telly Payokwa ke STT-SAPPI di Bandung, 3.Bertho Wenda ke Sekolah Alkitab Mamit (SAM ) di Mamit Wilayah Toli. 4.Eminus Enambere ke STAID Wolo wilayah Bogo, 5.Maju Kogoya ke STAID wolo wilayah Bogo. 6.Apinas Mirin ke STT Russel Timika. 

Dalam Sambut penasehat Klasis pdt.Pulias Kiwo, memberikan pesan kepada jemaat sepuluh  gereja bahwa  harus mendukung secara finansial dan keenam anak harus belajar sungguh-sungguh serta siapkan diri di bangku sekolah jadi orang yang mau dengar-dengaran, jaga nama klasis yang di utus, dan harus pulang dengan  hasil. (*)