Senin, 23 Maret 2026

Marthen Kogoya, S.H., M.AP.: Figur Birokrat Rendah Hati dan Penyejuk di Tengah Dinamika Politik.

 

Foto Istimewa

Dalam panggung pemerintahan di Tanah Papua, nama Marthen Kogoya, S.H., M.AP. muncul sebagai simbol kepemimpinan yang memadukan kecerdasan birokrasi dengan kedalaman spiritual. Berasal dari Kondaga, Kabupaten Tolikara, perjalanan karier beliau adalah bukti nyata bahwa integritas dan kerja keras mampu membawa putra daerah menuju puncak pengabdian yang lebih luas.

Akar Kedewasaan: Rendah Hati dan Takut Akan Tuhan.

Satu hal yang paling menonjol dari sosok Marthen Kogoya adalah karakternya yang tetap membumi. Di balik jabatan strategis yang pernah dan sedang diembannya, beliau dikenal sebagai pribadi yang rendah hati. Prinsip hidupnya yang berlandaskan rasa Takut Akan Tuhan menjadikannya sosok pemimpin yang bekerja bukan untuk pujian, melainkan sebagai bentuk ibadah dan tanggung jawab moral kepada masyarakat.

Rekam Jejak Birokrasi yang Mumpuni

Pengalaman beliau dalam dunia birokrasi tidak perlu diragukan lagi. Marthen Kogoya telah melewati berbagai penugasan penting yang membentuk ketajamannya dalam memimpin:

• Kepala BKD Provinsi Papua: Dedikasi beliau dalam menata manajemen aparatur sipil negara di tingkat provinsi menunjukkan kemampuannya dalam mengelola sistem pemerintahan yang kompleks.

• Kepala Baperida Provinsi Papua Pegunungan: Kini, beliau dipercaya menakhodai Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Baperida) di provinsi baru, sebuah posisi krusial yang menentukan arah pembangunan masa depan Papua Pegunungan.

Sang Penyejuk di Tolikara: Mengawal Demokrasi dengan Damai

Salah satu ujian terbesar kepemimpinan beliau adalah saat menjabat sebagai Penjabat (Pj) Bupati Tolikara. Sebagaimana diketahui, Tolikara sering kali menjadi daerah yang rawan konflik setiap kali pesta demokrasi digelar. Namun, di bawah kepemimpinan Marthen Kogoya, Pilkada dapat berlangsung dengan aman dan terkendali.

Beliau mampu merangkul berbagai lapisan masyarakat, tokoh adat, dan tokoh agama untuk menjaga stabilitas. Pendekatan persuasif dan ketegasannya dalam menjaga netralitas birokrasi terbukti efektif meredam potensi gesekan politik yang biasanya memanas.

Kesimpulan

Marthen Kogoya, S.H., M.Ap. adalah potret pemimpin masa kini yang dibutuhkan Papua. Beliau adalah kombinasi antara keahlian administratif, pengalaman lapangan, dan karakter yang kuat. Dari Kondaga untuk Papua, beliau terus melangkah dengan visi besar untuk membawa perubahan dan kedamaian bagi masyarakat.


Penulis

Yugwa Nen

Minggu, 22 Maret 2026

Ketua Wilayah Bogo Secara Resmi Membuka Rapat BPL Ke-XXIX Klasis Lembah Baliem, GIDI Fokus Perluas Penginjilan Dalam dan Luar Daerah


Pdt. Potias Pagawak, S. Th, Ketua Wilayah Bogo 

WAMENA, Sulhit.com – Di bawah langit Lembah Baliem yang teduh, Gereja Injili Di Indonesia (GIDI) kembali menegaskan komitmen pelayanannya melalui agenda strategis tahunan. Bertempat di GIDI Jemaat Agape Wamena, Minggu (22/03/2026).

Rapat Badan Pekerja Lengkap (BPL) Ke-XXIX tahun 2026 Klasis Lembah Baliem resmi dibuka. Sebuah momentum yang bukan sekadar seremonial, melainkan panggilan untuk "Kembali kepada Kristus" di tengah dinamika zaman.

Perhelatan besar ini dihadiri oleh tokoh-tokoh kunci, mulai dari pimpinan gereja hingga pejabat tinggi negara, termasuk Gubernur Papua Pegunungan, Dr. (HC) Jhon Tabo, M.BA, yang hadir melepas atribut kekuasaannya demi menempatkan diri sebagai anggota jemaat yang rendah hati.

Acara diawali dengan ibadah pembukaan yang khidmat, dipimpin langsung oleh Ketua Wilayah Bogo, Pdt. Potias Pagawak, S.Th. Dalam khotbahnya yang menggugah, Pdt. Pagawak membedah tema sentral: "Kembali Kepada Kristus", yang berlandaskan pada nas Alkitab Zakaria 1:3 dan Lukas 9:23.

"Mengikut Kristus berarti bersedia menyangkal diri dan memikul salib setiap hari. Rapat BPL ini bukan sekadar ajang evaluasi administratif, tetapi ruang untuk memastikan bahwa detak jantung pelayanan kita tetap selaras dengan kehendak Kristus," tegas Pdt. Pagawak di hadapan ratusan peserta BPL, Jemaat dari 24 jemaat dan Pos Penginjilan (PI) se-Klasis Lembah Baliem.

Sub-tema kegiatan kali ini menjadi kompas bagi para pimpinan: "Melalui BPL Ke-XXIX Seluruh Pimpinan Se-Klasis Lembah Baliem Mengevaluasi Kinerja Program Pelayanan Bersatu Hati serta Menjangkau Jiwa-Jiwa Bagi Kristus." Fokus utama periode ini adalah penguatan internal sebuah konsep "Memperbaiki Yerusalem" sebelum melangkah lebih jauh ke ujung bumi. Ujar Pdt. Potias Pagawak dalam khotbahnya.

Dalam sambutan pembukaannya, Pdt. Potias Pagawak menekankan visi sinergi pelayanan yang pragmatis namun visioner. Ia menggarisbawahi pentingnya penguatan basis pelayanan internal di Wilayah Bogo dan lebih Khusus Klasis Lembah Baliem sebelum melakukan ekspansi misi ke luar daerah.

Kita tidak bisa memimpikan pelayanan yang jauh jika di dalam rumah sendiri kita masih kekurangan. Strategi kita saat ini adalah memperbaiki 'Yerusalem' kita yaitu Wilayah Bogo dan khusus Klasis Lembah Baliem. Setelah internal kita kuat, barulah kita bergerak ke Mamberamo, Sumba, Kalimantan, dan daerah lainnya," jelasnya.

Menariknya, Pdt. Pagawak menyoroti kemandirian gereja yang lahir dari tradisi lokal. Beliau mengingatkan bahwa GIDI adalah gereja yang "Lahir dari Kesederhanaan". Gereja ini tidak lahir dari tumpukan modal besar. Kita lahir dari ketaatan di dalam Honai. Karena itu, sumber dana utama kita bukanlah investor, melainkan dari setiap anggota jemaat dan para kader.

Kekuatan logistik yang melibatkan hasil bumi, sayur-mayur, dan ternak dalam momentum BPL ini mengingatkan kepada kita bahwa orang tua kita dulu setelah menerima Injil mereka lakukan hal yang demikian, mereka lakukan dengan Iman tanpa mengharapkan bantuan dari siap-siap, ujar Pdt. Pagawak.

Secara pribadi dan atas nama seluruh Badan Pekerja Wilayah Bogo berikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Jemaat GIDI yang sedang membangun Gereja di beberapa tempat, dalam lingkungan Klasis Lembah Baliem ini, sebagai dukungan kami pengurus wilayah juga beberapa bulan yang lalu sudah membantu berupa materiil bagunan kepada Jemaat yang sedang membangun Gedung Gereja. 

Kita harus berani membuat masalah dalam arti positif: mulailah membangun meskipun dana terlihat kurang. Biarkan Tuhan yang melakukan bagian-Nya untuk mencukupkan, tambahnya sembari mengapresiasi bantuan material bangunan yang telah disalurkan ke berbagai jemaat yang sedang membangun Gedung Gereja.

Salah satu sorotan utama dalam laporan kepanitiaan adalah perjuangan luar biasa Jemaat Agape Wamena. Ketua Panitia, Ibu Ester Yahuli, S. Pd, menyampaikan laporan yang penuh haru. Jemaat Agape baru saja menguras energi bahkan dana untuk meresmikan gedung gereja baru pada Desember 2025 lalu. Namun, hanya dalam waktu dua bulan persiapan (Januari-Februari 2026), mereka sanggup menjadi tuan rumah BPL. Namun, kami melangkah dengan iman. Karena kami percaya bahwa Tuhan adalah sumber berkat," Sehingga Tuhan mengerahkan hati anak-anak Tuhan yaitu, para kader dan 24 Jemaat serta Pos PI yang ada di Klasis Lembah Baliem ini telah menyumbangkan bahan makanan, uang dan babi untuk mensukseskan kegiatan BPL ini, ungkap Ibu Ester dalam pembacaan laporan Panitia. 

Pada momentum ini dihadiri Gubernur Papua Pegunungan, Dr. (HC) Jhon Tabo, M.BA, memberikan warna tersendiri. Dalam sambutannya, tokoh karismatik ini menunjukkan sikap kenegaraan yang dewasa. Beliau menegaskan batasan antara jabatan politik dan identitas spiritual. Saya hadir di sini bukan untuk mengintervensi keputusan rapat, melainkan saya sebagai anggota jemaat dan sekaligus kader Gereja GIDI. ujar Jhon Tabo disambut tepuk tangan riuh. Sebagai bentuk nyata dukungan kader terhadap kegiatan BPL, Gubernur Jhon Tabo memberikan sumbangan pribadi berupa uang guna menopang kelancaran kegiatan BPL.

Sinergi ini diamini oleh Ketua Badan Pekerja Klasis (BPK) Lembah Baliem, Pdt. Minus Wanimbo, S.Th. Pemerintah dan Gereja adalah mitra strategis sehingga Kami berterima kasih kepada para kader GIDI khususnya Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan, dalam hal ini Bapak Gubernur yang telah mendukung rangkaian HUT GIDI Masuk di Klasis Lembah Baliem pada tanggal 28 November 2025 yang lalu, dan acara pembaptisan massal Januari 2026, sehingga kegiatan telah sukses dengan baik," tutur Pdt. Wanimbo.

Rapat BPL Ke-XXIX ini diharapkan menjadi momentum evaluasi kritis terhadap program-program yang telah berjalan. Di tengah tantangan modernitas di Lembah Baliem, pimpinan klasis dituntut untuk tetap relevan namun tidak kehilangan jati diri teologisnya.

Agenda rapat akan mencakup sinkronisasi program pelayanan terhadap anggota Jemaat, penginjilan, manajemen aset jemaat, hingga penguatan kapasitas pemuda sebagai kader masa depan GIDI. Dengan semangat persatuan yang ditunjukkan dalam pembukaan ini, Klasis Lembah Baliem optimis dapat menjangkau lebih banyak jiwa dan memperkokoh fondasi iman di tanah Papua dan daerah lainnya.

Kegiatan ini secara resmi dibuka dengan doa, menandai dimulainya persidangan yang akan menentukan arah pelayanan GIDI di Lembah Baliem untuk beberapa tahun ke depan.

Penyelenggaraan BPL Ke-XXIX ini membuktikan bahwa kekuatan Gereja GIDI terletak pada perpaduan antara spiritualitas yang mendalam dan kearifan lokal (Local Wisdom). Model pendanaan mandiri dan kemitraan tanpa intervensi dengan pemerintah bisa menjadi cetak biru (blueprint) bagi organisasi GIDI kedepan di Papua dalam mengelola pelayanan yang berkelanjutan. (*) 

Sabtu, 21 Maret 2026

Bangsa dan Gereja Yang Terluka

Gembala Dr. A.G. Socratez Yoman


Bangsa dan Gereja yang terluka dan hidup dalam kemiskinan karena kebodohan para pendeta, pemimpin gereja dan sekolah-sekolah teologi sepanjang sejarah.

Para pendeta dan pemimpin gereja dan sekolah-sekolah teologi jangan terlalu sibuk bahas agama dan surga. Para pendeta dan pemimpin dan sekolah-sekolah teologi sejak dulu dari mimbar gereja memiskinkan dan melumpuhkan bahkan mematikan umat Tuhan dengan ayat-ayat Firman Tuhan.  

Memang fakta, kebanyakan pendeta dan pemimpin gereja dan sekolah-sekolah teologi hidup miskin dan hidup tergantung dan beeharap dengan hasil persembahan dan persepuluhan. 

Sesungguhnya dari mimbar para pendeta dan pemimpin gereja harus berkhotbah dan sekolah-sekolah teologi dua dimensi, yaitu dimensi rohani dan dimensi jasmani. Seperti Tuhan Yesus memberi makan 4000 sampai 5000 orang adalah dimensi jasmani. Dari mimbar harus melihat kebutuhan umat Tuhan secara utuh (holistik) bukan miring sebelah. 

Mengapa mayoritas kebanyakan anggota jemaat dan pendeta dan pemimpin gereja hidup miskin? Karena para pendeta dan anggota jemaat selalu sibuk urus surga atau agama.  

Menurut saya bahwa para pendeta dan pemimpin gereja yang sibuk berbicara surga adalah pendeta dan pemimpin gereja yang tidak mengerti tentang surga dan mereka sedang menyesatkan anggota jemaat. 

"Datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehebdak-Mu di bumi seperti di sorga". (Matius 6:10).

Jumat, 20 Maret 2026

Dukungan BPL Ke-XXIX, Jemaat GIDI Se-Klasis Lembah Baliem Banjiri Panitia dengan Bahan Makanan, Ternak Serta Dana

Jemaat Sedang Membawa Sumbangan Babi dan Sayuran (Dok Panitia) 

WAMENA Sulhit.com – Menjelang pembukaan Rapat Badan Pekerja Lengkap (BPL) Ke-XXIX Klasis Lembah Baliem, gelombang dukungan dari jemaat terus mengalir deras. Berdasarkan pantauan di lapangan pada Jumat (20/03/2026), puluhan jemaat dari berbagai wilayah di bawah naungan Gereja Injili di Indonesia (GIDI) mendatangi sekretariat panitia untuk menyerahkan sumbangan wajib maupun sukarela.

Dukungan yang diberikan tidak hanya berupa dana, tetapi juga bahan pangan lokal dalam jumlah besar. Hingga sore hari, panitia mencatat arus distribusi bantuan berupa ternak babi, sayur-sayuran, ubi, keladi, nenas, hingga buah merah terus berdatangan dari 24 jemaat yang tersebar di wilayah Klasis Lembah Baliem.

Selain jemaat tetap, sejumlah Pos Penginjilan yang berada di Kabupaten Jayawijaya dan Kabupaten Nduga turut ambil bagian dalam memberikan dukungan nyata demi menyukseskan agenda besar organisasi gereja tersebut.

Sumbangan Jemaat Ubi dan Sayuran

Ketua Panitia menyampaikan apresiasi yang mendalam atas antusiasme luar biasa dari seluruh warga jemaat. Sebagai tuan rumah, Jemaat Agape Wamena dengan sigap menyambut setiap rombongan yang datang membawa berkat.

Kami menyampaikan terima kasih yang tulus kepada seluruh jemaat GIDI di Klasis Lembah Baliem. Segala bentuk sumbangan, mulai dari uang hingga hasil bumi seperti babi, sayur-sayuran, buah merah, jagung, dan keladi, merupakan wujud kepedulian jemaat terhadap kelancaran acara ini, ujar pihak Panitia di Wamena.

Rapat BPL Ke-29 ini dijadwalkan berlangsung selama empat hari, yakni mulai Minggu hingga Rabu, 22-25 Maret 2026, berpusat di Jemaat Agape Wamena. Panitia menegaskan bahwa pintu dukungan masih terbuka lebar bagi individu, kelompok, maupun keluarga yang ingin berpartisipasi hingga kegiatan berakhir.

Dukungan "Doa, Daya, dan Dana" dari seluruh lapisan jemaat ini diharapkan menjadi fondasi kuat bagi suksesnya pengambilan keputusan-keputusan penting dalam rapat BPL mendatang demi kemajuan pelayanan GIDI di tanah Papua dan Internasional. (*) 

Rabu, 18 Maret 2026

Dukung BPL Klasis Lembah Balim Ke- XXIX, Kadinsos Papua Pegunungan Salurkan Bantuan di Jemaat Agape

 

Penyerahan Sumbangan Kepada Panitia dan Pengurus Klasis Lembah Balim Wamena. (Dok.Panitia) 

WAMENA, Sulhit.com.Panitia BPL Klasis Lembah Balim Wamena Ke XXIX Tahun 2026, menerima bantuan berupa dana stimulan dan paket sembako dari Kepala Dinas Sosial Provinsi Papua Pegunungan, Yanius Telenggen, SH., M.AP. Penyerahan bantuan tersebut berlangsung di Sekretariat Panitia, kompleks Gereja GIDI Jemaat Agape Wamena, Rabu (18/03/2026).

​Bantuan ini merupakan bentuk kepedulian nyata dari kader GIDI untuk menyukseskan perhelatan akbar BPL Klasis Lembah Balim yang dijadwalkan berlangsung pada 22 hingga 28 Maret 2026 mendatang.

​Dalam arahannya, Yanius Telenggen menyampaikan bahwa bantuan yang diberikan saat ini merupakan dukungan awal. Ia menekankan pentingnya sikap tulus dan sukacita dalam mendukung pekerjaan pelayanan Tuhan.

​"Apa yang Tuhan percayakan dalam hidup kita, sudah sepatutnya kita kembalikan kepada Sang Pemilik melalui ucapan syukur. Untuk menunjang pelayanan Tuhan, kita tidak boleh berhitung, tetapi harus memberi dengan sukacita," ujar Telenggen di hadapan panitia.


​Ia juga menambahkan bahwa seiring berjalannya kegiatan, pihaknya akan terus memantau kebutuhan panitia. Beliau meyakini bahwa berkat Tuhan akan terus mengalir bagi kelancaran konferensi tersebut.

​Menanggapi hal tersebut, Wakil Ketua Klasis Lembah Balim Wamena, Pdt. Yotinus Kobak, S.Th., yang mewakili pengurus klasis dan panitia, menyampaikan apresiasi yang mendalam atas kunjungan dan bantuan tersebut.

​"Kami menyampaikan terima kasih yang tulus kepada Bapak Yanius Telenggen atas bantuan uang dan sembako ini. Dukungan ini sangat berarti bagi kelancaran pelayanan selama BPL berlangsung. Doa kami, kiranya Tuhan senantiasa memberkati Bapak dalam menjalankan tugas pengabdian kepada masyarakat di Provinsi Papua Pegunungan," pungkas Pdt. Kobak.

​Prosesi penyerahan bantuan berlangsung khidmat dan diakhiri dengan diskusi ringan mengenai persiapan teknis menjelang pembukaan konferensi pekan depan.*

Minggu, 08 Maret 2026

Karakter Dibentuk Dari Disiplin dan Konsisten



Banyak orang ingin terlihat berkarakter kuat, tapi enggan menjalani proses yang membentuknya. Mereka mengira karakter lahir dari bakat, latar belakang, atau pencitraan yang rapi. Padahal, karakter tidak dibentuk saat segalanya mudah, melainkan saat kamu lelah, bosan, dan tetap memilih melakukan hal yang benar. Di situlah disiplin dan konsistensi bekerja—diam-diam, tanpa tepuk tangan.

Karakter sejati bukan hasil dari satu keputusan besar, melainkan akumulasi dari pilihan kecil yang diulang setiap hari. Apa yang kamu lakukan saat tidak ada yang menilai, itulah cerminan karaktermu. Jika kamu ingin hidupmu naik kelas—secara finansial, moral, maupun profesional—maka fondasinya bukan motivasi sesaat, tapi disiplin yang dijalankan secara konsisten.


1. Disiplin Membentuk Struktur dalam Hidupmu

Disiplin adalah kemampuan mematuhi standar yang kamu tetapkan sendiri, bahkan saat kamu tidak sedang bersemangat. Ia menciptakan struktur dalam hidupmu—kapan bekerja, kapan belajar, kapan menahan diri. Tanpa struktur ini, hidup mudah dikendalikan emosi dan situasi, bukan nilai.

Orang yang berdisiplin tidak menunggu mood datang untuk bertindak. Ia bergerak karena komitmen, bukan perasaan. Dari sinilah karakter terbentuk: kamu menjadi pribadi yang bisa diandalkan, bukan hanya saat kondisi ideal, tapi juga saat keadaan menekan.


2. Konsistensi Menentukan Siapa Dirimu Sebenarnya

Konsistensi adalah bukti nyata dari karakter. Banyak orang bisa melakukan hal baik sekali-dua kali, tapi hanya sedikit yang mampu melakukannya terus-menerus. Konsistensi menunjukkan bahwa nilai yang kamu pegang bukan sekadar slogan, tapi prinsip hidup.

Dunia menilai karakter bukan dari janji, tapi dari pola. Jika ucapanmu sejalan dengan tindakanmu dalam jangka panjang, kepercayaan akan tumbuh dengan sendirinya. Tanpa konsistensi, disiplin kehilangan makna, dan karaktermu akan terlihat rapuh saat diuji.


3. Disiplin Mengalahkan Alasan, Konsistensi Mengalahkan Waktu

Alasan selalu terdengar masuk akal bagi orang yang tidak berdisiplin. Terlalu capek, terlalu sibuk, belum siap—semuanya valid, tapi tidak membawa perubahan. Disiplin melatihmu untuk tetap melangkah meski alasan itu ada, bukan menunggu alasan itu hilang.

Sementara itu, konsistensi mengalahkan waktu. Hasil besar jarang datang dari usaha ekstrem sesaat, tapi dari langkah kecil yang terus diulang. Karakter yang kuat lahir dari proses panjang ini, bukan dari lonjakan singkat yang cepat menghilang.


4. Karakter Teruji Saat Tidak Ada yang Mengawasi

Saat tidak ada yang melihat, di situlah kualitas aslimu muncul. Apakah kamu tetap melakukan yang benar? Apakah kamu tetap menepati standar? Disiplin dan konsistensi membuatmu tetap utuh, meski tanpa pengakuan atau tekanan eksternal.

Orang berkarakter tidak membutuhkan pengawasan ketat untuk bersikap benar. Ia diawasi oleh nilai yang sudah tertanam kuat dalam dirinya. Dan nilai itu terbentuk dari kebiasaan disiplin yang dijalani terus-menerus, bukan dari ceramah atau nasihat semata.


5. Disiplin dan Konsistensi Membangun Reputasi Jangka Panjang

Reputasi bukan dibangun dari satu pencapaian besar, tapi dari perilaku yang bisa diprediksi. Orang percaya padamu karena kamu konsisten. Mereka menghormati kamu karena kamu disiplin. Inilah modal sosial yang jauh lebih mahal daripada pencitraan.

Karakter seperti ini membuat hidupmu stabil dalam jangka panjang. Saat orang lain naik-turun karena emosi dan impuls, kamu melaju pelan tapi pasti. Dan justru dari kestabilan inilah kepercayaan, peluang, dan tanggung jawab yang lebih besar datang.

Karakter bukan hadiah, tapi hasil latihan. Ia dibentuk dari disiplin yang sering terasa berat dan konsistensi yang sering terasa membosankan. Namun justru di situlah nilainya—karena tidak semua orang sanggup menjalaninya.

Jika kamu ingin hidup yang kuat, dihormati, dan tahan diuji waktu, berhentilah mencari jalan instan. Mulailah dari disiplin hari ini, dan ulangi besok, lalu besok lagi. Karena pada akhirnya, siapa dirimu ditentukan bukan oleh niat baikmu, tapi oleh kebiasaan yang kamu pertahankan.

ILUSTRASI GAMBAR SEORANG NATALIUS PIGAI BISU SEMBOYAN JAKARTA.

 

Gambar : Ilustrasi AI

Ilustrasi ini dapat dibaca sebagai sebuah alegori visual yang menggambarkan ketegangan antara idealisme advokasi hak asasi manusia dan realitas institusional dalam struktur kekuasaan negara. Figur yang menyerupai Natalius Pigai ditempatkan dalam komposisi tubuh yang tidak utuh, dengan organ-organ vital—seperti jantung, paru-paru, dan sistem pencernaan—ditampilkan secara terbuka dan membentuk tubuh yang terfragmentasi.

Dalam perspektif simbolik, penggambaran organ internal yang terekspos dapat dimaknai sebagai representasi kerentanan moral dan politik yang sering kali melekat pada individu yang berpindah dari posisi aktivisme ke dalam struktur kekuasaan formal. Aktivis HAM pada dasarnya beroperasi dalam kerangka kritik terhadap negara, sedangkan ketika berada dalam institusi pemerintahan, posisi tersebut menuntut kompromi dengan realitas kebijakan, birokrasi, dan dinamika kekuasaan. Konsekuensinya, integritas normatif yang sebelumnya menjadi basis legitimasi moral dapat menghadapi tekanan struktural yang kompleks.

Latar hutan yang gelap dengan pencahayaan bulan memperkuat nuansa ambiguitas dan ketidakpastian. Dalam pembacaan semiotik, lanskap tersebut dapat ditafsirkan sebagai metafora ruang sosial-politik yang penuh ketegangan, terutama dalam konteks wilayah Papua yang selama beberapa dekade menjadi arena diskursus mengenai hak-hak masyarakat adat, keadilan distributif, serta relasi antara negara dan komunitas lokal.

Secara kritis, ilustrasi ini juga dapat dipahami sebagai refleksi terhadap paradoks institusionalisasi advokasi HAM. Ketika seorang aktivis memasuki ruang kekuasaan negara, terdapat potensi terjadinya transformasi peran: dari aktor kritis eksternal menjadi bagian dari mekanisme kebijakan yang sebelumnya menjadi objek kritik. Dalam literatur ilmu politik dan studi hak asasi manusia, fenomena ini sering dipahami sebagai bentuk “co-optation” atau integrasi ke dalam struktur kekuasaan, yang dapat menimbulkan dilema antara mempertahankan idealisme normatif dan menjalankan fungsi administratif negara.

Dengan demikian, karya visual ini tidak semata-mata berfungsi sebagai representasi personal terhadap seorang tokoh, melainkan juga sebagai kritik simbolik terhadap dinamika kekuasaan, kerentanan moral dalam politik, serta kompleksitas implementasi hak asasi manusia dalam konteks pemerintahan.

NATALIUS PIGAI BISU SEMBOYAN JAKARTA

Sabtu, 28 Februari 2026

Ibadah Pengukuhan, Doa Pelantikan, dan Syukuran Gembala Jemaat Efesua Mandura di Gereja Efesus Mandura

 

Foto : Doa Peneguhan / Pelantikan Gembala Jemaat Efesus Mandura

Mandura – Ibadah Pengukuhan dan Doa Pelantikan Gembala Jemaat Efesua Mandura berlangsung khidmat di Gereja Efesus Mandura, Dewan Konda, Klasis Konda, Wilayah Toli, pada Jumat (27/2/2026) pukul 11.45 WIT.

Pendeta Simon Yanengga secara resmi melantik dan mengukuhkan doa bagi Gembala Jemaat Efesua Mandura dalam suasana penuh sukacita dan rasa syukur. Acara ini dihadiri oleh pimpinan gereja, jemaat setempat, serta jemaat dari wilayah sekitar.

Ketua Klasis Konda, Pdt. Agus Kogoya, dalam sambutannya menyampaikan harapan agar Gereja Injili Di Indonesia (GIDI) terus berkembang hingga ke seluruh pelosok dunia, sembari tetap menjaga dan menghargai tempat lahirnya GIDI itu sendiri. Ia menekankan pentingnya persatuan dan komitmen bersama dalam membangun pelayanan yang kuat dan berkesinambungan.

Sementara itu, Pdt. Arius Kogoya menyampaikan bahwa kepemimpinan yang baru dilantik merupakan bagian dari proses suksesi dari generasi tua kepada generasi muda. Ia mengibaratkannya seperti kepemimpinan Musa yang mempersiapkan Yosua untuk menuntun umat Israel menuju Tanah Kanaan. Ia berharap Pdt. Simon Yanengga menjadi jembatan rohani yang membawa Jemaat Efesua Mandura kepada keselamatan melalui pembinaan rohani dan jasmani.

Dalam kesempatan tersebut, pimpinan dan rekan sekerja Gereja Efesus Mandura juga diingatkan untuk saling menopang dan mendukung selama masa kepemimpinan yang baru, agar pelayanan dapat berjalan dengan baik dan membawa berkat bagi jemaat.

Sebagai ungkapan syukur, jemaat Efesua Mandura bersama jemaat tetangga turut mengadakan ibadah syukuran yang dirangkaikan dengan acara bakar batu (barapen).

Panitia pelaksana, Misiluk Yanengga, menyampaikan bahwa dalam kegiatan tersebut disiapkan 5 ekor babi, 96 ekor ayam, 58 bungkus gula pasir ditambah 2 karung 50 kg, 6 bungkus kopi ditambah 4 karton, 6 bungkus daun teh, 7 karton air mineral, serta 11 karton minuman Panta dan Suprait.

Ibadah pengukuhan dan syukuran ini menjadi momentum penting bagi Jemaat Efesua Mandura untuk melangkah bersama dalam semangat persatuan, pelayanan, dan pertumbuhan iman di bawah kepemimpinan yang baru di Lantik tadi 

Ilustrasi foto: Suasana doa pengukuhan di Gereja Efesus Mandura, dipimpin Ketua Klasis Konda Pdt. Agus Kogoya bersama jajaran pelayan gereja.(ym)