Dimensi tentang manusia selalu tidak terbatas, mengapa kemudian Manusia disebut MAKROKOSMOS, karena angan, mimpi dan apa yang ada dalam hati manusia tidak pernah dibatasi oleh apapun.
Manusia adalah makhuk sosial dan dinamis. sudah menjadi hukumnya manusia membutuhkan manusia yang lain.
Dalam buku Pengelolaan Lingkungan Sosial (2005), sebagai makhluk sosial, manusia tidak pernah bisa hidup seorang diri.
Di mana pun dan bila mana pun, manusia senantiasa memerlukan kerja sama dengan orang lain.
Manusia membentuk pengelompokan sosial di antara sesama dalam upaya mempertahankan hidup dan mengembangkan kehidupan.
Dalam kehidupan bersamanya, manusia memerlukan pula adanya organisasi, yaitu jaringan interaksi sosial antar sesama untuk menjamin ketertiban sosial.
Interaksi-interaksi itulah yang kemudian melahirkan sesuatu yang dinamakan lingkungan hidup, seperti keluarga inti, keluarga luas, atau kelompok masyarakat.
Di Asmat sendiri, jumlah penduduk (manusia) adalah sekitar 144.764 jiwa (sumber: Wikipedia - 2019), dengan luas wilayah kurang lebih 31.984 km persegi, dengan kondisi alam dan budaya yang luar biasa.
keunikan dan kekayaan alam serta budaya Asmat kemudian menjadikannya sebagai salah satu ikon PARIWISATA di Papua secara khusus, Nasional bahkan Mancanegra.
telah menjadi Rahasia umum bahwa Pariwisata di kabupaten Asmat kian hari kian terkenal, dengan adanya usaha dari pemerintah, Keuskupan, serta banyak pihak lain yang melihat Asmat dalam keunikan serta kekayaannya.
sayangnya, potensi kekayaan dan keunikan alam serta budaya Asmat lebih besar daripada kenyataan Asmat sebagai ikon pariwisata saat ini.
melihat kenyataan diatas dan atas dasar kesadaran sebagai MANUSIA yang mendiami tanah Asmat, komunitas Asmat Fotografi yang mana terhimpun atas dasar kesamaan hobi, yang kemudian menghimpun individu-individu yang memiliki ketertarikan dalam dunia fotografi yang berdiri sejak tahun 2011, melihat ini sebagai persoalan kongkrit.
selain sebuah komunitas seni, Asmat Fotografi juga menyadari diri sebagai komunitas sosial, sebagai makrokosmos, kemudian berupaya dengan kemampuan dan keterbatasan berusaha memperkenalkan potensi Asmat di mata luar.
Asmat Fotografi secara mandiri, melihat alam dan kehidupan sosial masyarakat Asmat sebagai sebuah keunikan, mulai dari pemukiman yang tidak berdiri langsung di tanah, bertempat di tengah-tengah hutan mangrove, belum lagi budaya yang luar biasa, danbdikenal lewat festival budaya yang diakan setiap tahun, adalah suatu daya tarik dan potensi pariwisata yang sulit ditemukan di belahan dunia manapun.
atas dasar itu Asmat Fotografi kemudian membangun sebuah spirit untuk pariwisata, yaitu "ASMAT ADALAH RAKSASA PARIWISATA YANG SEDANG TIDUR" di selatan Papua.
spirit ini terus mebakar semangat Asmat Fotografi dalam upaya-upaya kecil untuk mempromosikan dan mengembangkan PARIWISATA ASMAT dengan karya-karyanya.
sebagai contoh, tempat rekreasi kampung KAYE (KAMPUNG PELANGI) adalah awal Asmat Fotografi secara serius ingin nengembangkan Pariwisata Asmat, dengan harapan suatu ketika, pariwisata Asmat dapat berkembang sehingga lahir masyarakat yang mandiri serta terciptanya ekonomi kreatif di Masyarakat sebagai pelaku pariwisata.
untuk itu, komunitas membutuhkan dukungan semangat dari seluruh masyarakat Asmat guna cita-cita tersebut. Asmat Fotografi adalah komunitas yang mandiri, yang tidak terikat dengan badan atau organisasi manapun.
tanpa menyinggung, mengucilkan dan mendiskreditkan siapapun dan pihak manapun, mari kita sama-sama, bergandeng tangan memajukan pariwisata Asmat dengan kemampuan dan kreativitas dari posisi kita masing-masing.
mimpi Asmat Fotografi adalah mimpi kita bersama, mari kita gapai mimpi itu, mari bangkitkan RAKSASA PARIWISATA YANG SEDANG TIDUR INI
di akhir tulisan ini,
saya mengutip bahasa mantan presiden Amerika Serikat yaitu "jangan tanyakan apa yang tanah ini berikan kepadamu, tetapi tanyakan apa yang engkau berikan untuk tanah ini" John F Keneddy
Ja Asamanam Apcamar
hormat kami, Komunitas Asmat Fotografi
Dormom o..