Tampilkan postingan dengan label Materi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Materi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 23 Agustus 2022

PERNIKAHAN

Ilustrasi Pernikahan 




Mengapa orang menikah ?

Karena mereka jatuh cinta.

Mengapa rumah tangganya kemudian bahagia ?

Apakah karena jatuh cinta ?

Bukan...

Tapi karena mereka terus bangun cinta. Jatuh cinta itu gampang, 10 menit juga bisa.

Tapi bangun cinta itu susah sekali, perlu waktu seumur hidup...

Mengapa jatuh cinta gampang ?

Karena saat itu kita buta, bisu dan tuli terhadap keburukan pasangan kita.

Tapi saat memasuki pernikahan, tak ada yang bisa ditutupi lagi.

Dengan interaksi 24 jam per hari 7 hari dalam seminggu, semua belang tersingkap...

Di sini letak perbedaan jatuh cinta dan bangun cinta. Jatuh cinta dalam keadaan menyukai.

Namun bangun cinta diperlukan dalam keadaan jengkel.

Dalam keadaan jengkel, cinta bukan lagi berwujud pelukan, melainkan berbentuk itikad baik memahami konflik dan ber-sama2 mencari solusi yang dapat diterima semua pihak. Cinta yang dewasa tak menyimpan uneg2, walau ada beberapa hal peka untuk bisa diungkapkan seperti masalah keuangan, orang tua dan keluarga atau masalah yang sangat pribadi.. Namun sepeka apapun masalah itu perlu dibicarakan agar kejengkelan tak berlarut.

Syarat untuk keberhasilan pembicaraan adalah kita bisa saling memperhitungkan perasaan. Jika suami istri saling memperhatikan perasaan sendiri, mereka akan saling melukai. Jika dibiarkan berlarut, mereka bisa saling memusuhi dan rumah tangga sudah berubah bukan surga lagi tapi neraka.

Apakah kondisi ini bisa diperbaiki ?

Tentu saja bisa, saat masing2 mengingat KOMITMEN awal mereka dulu apakah dulu ingin mencari teman hidup atau musuh hidup. Kalau memang mencari teman hidup kenapa sekarang malah bermusuhan ??

Mencari teman hidup memang dimulai dengan jatuh cinta. Tetapi sesudahnya, porsi terbesar adalah membangun cinta. Berarti mendewasakan cinta sehingga kedua pihak bisa saling mengoreksi, berunding, menghargai, tenggang rasa, menopang, setia, mendengarkan, memahami, mengalah dan bertanggung jawab.

Mau punya teman hidup ?

Jatuh cintalah....

Tetapi sesudah itu.. bangunlah cinta...Jagalah KOMITMEN awal.


1. KETIKA AKAN MENIKAH

Janganlah mencari isteri, tapi carilah ibu bagi anak-anak kita.

Janganlah mencari suami, tapi carilah ayah bagi anak-anak kita.


2. KETIKA MELAMAR

Anda bukan sedang meminta kepada orang tua si gadis, tapi meminta kepada TUHAN melalui wali si gadis.


3. KETIKA MENIKAH

Anda berdua bukan menikah di hadapan negara, tetapi menikah di hadapan TUHAN.


4. KETIKA MENEMPUH HIDUP BERKELUARGA

Sadarilah bahwa jalan yang akan dilalui tidak melalui jalan bertabur bunga, tetapi juga semak belukar yang penuh onak & duri.


5. KETIKA BIDUK RUMAH TANGGA OLENG

Jangan saling berlepas tangan, tapi sebaliknya justru semakin erat berpegang tangan.


6. KETIKA TELAH MEMILIKI ANAK

Jangan bagi cinta anda kepada suami/isteri dan anak Anda, tetapi cintailah isteri atau suami Anda 100% & cintai anak2x Anda masing2x 100%.


7.KETIKA ANDA ADALAH SUAMI

Boleh bermanja2x kepada isteri tetapi jangan lupa untuk bangkit secara bertanggung jawab apabila isteri membutuhkan pertolongan Anda.


8.KETIKA ANDA ADALAH ISTERI

Tetaplah berjalan dengan gemulai & lemah lembut, tetapi selalu berhasil menyelesaikan semua pekerjaan.


9.KETIKA MENDIDIK ANAK

Jangan pernah berpikir bahwa orang tua yang baik adalah orang tua yang tidak pernah marah kepada anak, karena orang tua yang baik adalah orang tua yang jujur kepada anak.


10.KETIKA ANAK BERMASALAH

Yakinilah bahwa tidak ada seorang anakpun yang tidak mau bekerjasama dengan orang tua, yang ada adalah anak yang merasa tidak didengar oleh orang tuanya.


11.KETIKA ADA 'PIL/ Pria Idaman lain.

Jangan diminum, cukuplah suami sebagai obat.


12.KETIKA ADA 'WIL/ Wanita Idaman lain.

Jangan dituruti, cukuplah isteri sebagai pelabuhan hati.


13.KETIKA MEMILIH POTRET KELUARGA

Pilihlah potret keluarga sekolah yang berada dalam proses pertumbuhan menuju potret keluarga bahagia.


14.KETIKA INGIN LANGGENG & HARMONIS

GUNAKANLAH FORMULA 7K


1.Ketakutan akan Tuhan


2.Kasih sayang


3.Kesetiaan


4.Komunikasi dialogis


5.Keterbukaan


6.Kejujuran


7.Kesabaran


Meski kita telah menikah dengan orang yang benar (tepat), tetapi kalau kita memperlakukan orang itu secara keliru, maka kita akhirnya akan mendapatkan orang yang keliru.

Kebahagiaan dalam sebuah pernikahan tidak tumbuh dengan sendirinya, melainkan harus diupayakan.

Pernikahan bukanlah tanaman bunga mekar harum semerbak yang sudah jadi. Pernikahan adalah lahan kosong yang harus kita garap bersama-sama.

Tidak cukup hanya dengan memilih dan menikah dengan orang yang tepat, tetapi jadilah pasangan yang TEPAT, yang memperlakukan pasangan kita dengan TEPAT pula.

Kita juga harus yakin kalau kita tidak salah memilih pasangan hidup. Kalau TUHAN sudah mengizinkan pernikahan itu terjadi, maka itu berarti IA mempercayakan tanggung jawab rumah tangga itu kepada kita dan pasangan kita.

Berbuatlah sesuai dengan apa yang telah engkau janjikan di hadapan TUHAN dan Imam, untuk tetap setia dan saling mengasihi dalam segala keadaan.


MENIKAH DENGAN ORANG YANG BENAR (ATAU SALAH), ITU TERGANTUNG DARI "CARA" KITA MEMPERLAKUKAN PASANGAN.


Manusia cenderung lebih pintar menilai orang lain daripada memeriksa diri sendiri,

Padahal, ketika satu jari menunjuk kepada orang lain, empat jari yang lain mengarah ke diri sendiri.

Jangan suka menghakimi tetapi baiklah kita saling mengasihi.


Pernikahan adalah tiket 1x jalan, jadi pastikan bersama pasangan kita menuju tempat yang lebih baik dari saat ini.

Pernikahan adalah tempat dimana kita dituntut menjadi dewasa & salah satu tanda dewasa adalah SIAP memikul tanggung jawab.

Pernikahan bukan masalah feeling suka tidak suka, tapi tentang komitmen.

Masalah dalam pernikahan biasanya karena kita tidak memahami perbedaan pria & wanita.

Jangan tuntut pasangan untuk berubah, kitalah yang harus berubah lebih dulu.

Ingat !!

Better me = Better we.


☻ 3 kesalahan umum ☻

yang sering dilakukan suami :

A. Tidak perhatikan perasaan istri.

Laki lebih pakai logika , wanita pakai feeling.

B. Lebih fokus memikirkan solusi daripada mendengar.

Wanita biasanya ingin didengarkan, dia ingin suami merasakan apa yang dia rasakan.

C. Seringkali setelah bicara, suami pergi tanpa beri kepastian / jawaban.


☻ 3 kesalahan umum ☻

yang sering dilakukan istri :

A. Memberi petunjuk tanpa diminta.

Mungkin bagi istri menunjukan perhatian , tapi bagi suami merasa dikontrol.

B. Mengeluhkan suami d¡ hadapan orang lain.

C. Mencoba membenarkan pada saat suami melakukan kesalahan. (istri merasa lebih benar)


Selama berumah tangga,

milikiLah komitmen2x ini :

1. Komitmen untuk tetap berpacaran.

2. Komitmen memiliki sexual intimacy regularly.

3. Komitmen untuk saling membantu (jangan mengkritik pasangan).

4. Komitmen untuk punya romantic get away (liburan berdua)

5. Komitmen berkomunikasi dengan jelas (saling cerita, terbuka, jangan biasakan bilang tidak dapat apa-apa bila ada apa-apa, pasangan kita bukan dukun)

6. Komitmen untuk bicara hal yang baik tentang pasangan (puji pasangan)

7. Komitmen untuk jadi pribadi yang lebih sehat dari sebelumnya. (Fisik yang sehat adalah kado buat pasangan)

8. Komitmen untuk mudah mengampuni pasangan.

9. Komitmen untuk bergandengan dan berpelukan.

10. Komitmen untuk h¡dυp dalam kebenaran.

10 Hukum Pernikahan Bahagia:


1. Jangan marah pada waktu yang bersamaan. (Efesus 5:1)

2. Jangan berteriak pada waktu yang bersamaan. (Matius 5:3)

3. Jikalau bertengkar cobalah mengalah untuk menang. (Amsal 16:32)

4. Tegurlah pasangan Anda dengan kasih. (Yohanes 13:34-35)

5. Lupakanlah kesalahan masa lalu. (Yesaya 1:18 ; Amsal 16:6)

6. Boleh lupakan yang lain tapi jangan lupakan Tuhan dan pasangan Anda. (Kidung Agung 3:1-2)

7. Jangan menyimpan amarah sampai matahari terbenam. (Efesus 4:26-27)

8. Seringlah memberi pujian pada pasangan Anda. ( Kidung Agung 4:1-5 ; 5:9-16)

9. Bersedia mengakui kesalahan. ( I Yohanes 1:9)

10. Dalam pertengkaran yang paling banyak bicara,dialah yang salah. ( Matius 5:9)

Pernikahan yang bahagia membutuhkan jatuh cinta berulang-ulang dengan pasangan yang sama.

Kidung Agung 8:7 "Air yang banyak tak dapat memadamkan cinta. Sungai-sungai tak dapat menghanyutkannya. Sekalipun orang memberi segala harta benda rumahnya untuk cinta, namun ia pasti akan dihina."

Konfliks dan perselisihan menggerus cinta perlahan-lahan seperti abrasi mengikis pantai.

Waktu atas sebuah pernikahan membuat cinta menjadi pudar, padahal asal muasal cinta begitu kuat tak terpadamkan, cinta sejati tidak bisa dibayar dengan harta benda.

Bangun pagi ini katakan kepada pasangan kita " I LOVE YOU " biarlah ini menjadi pupuk yang akan menyuburkan kembali cinta kepada pasangan kita.

Tujuan pernikahan bukanlah berpikiran sama, tetapi berpikir bersama.

Matius 19:6 Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.

Kenapa kita disatukan dengan pasangan kita, agar kita saling melengkapi.

Pasangan yang tepat adalah yang dapat melengkapi kekurangan kita, bukan yang sama seperti kita.

Ketahuilah! Sampai kapanpun kita tidak akan pernah bisa menemukan pasangan yang memiliki pikiran yang sama.

Ketika kita bangun pagi ini pandang pasangan kita lalu katakan "saya membutuhkan kamu tanpa kamu hidup jadi tidak sempurna"

Lalu mulailah merangkai perbedaan perbedaan dengan pasangan kita agar menjadi satu sehingga menjadi suatu kekuatan yang luar biasa.

Percayalah ! Mulai saat ini keluarga kita menjadi keluarga yang diberkati TUHAN


Tuhan Yesus memberkati 

Rabu, 31 Maret 2021

Apa yang Begitu Baik tentang Jumat Agung?

 



Apa itu Jumat Agung dan mengapa kita menyebut Jumat Agung "Agung", sementara itu merupakan sebuah peristiwa yang gelap dan suram untuk memperingati hari kesengsaraan dan kematian Yesus?

Bagi orang Kristen, Jumat Agung adalah sebuah hari yang sangat penting dalam setahun karena merayakan apa yang kita percayai sebagai minggu yang paling penting dalam sejarah dunia. Sejak Yesus mati dan bangkit, orang Kristen memproklamirkan salib dan kebangkitan Yesus sebagai titik balik yang menentukan bagi semua ciptaan. Paulus menganggapnya sebagai "yang terpenting" bahwa Yesus mati untuk dosa kita, dikuburkan, dan bangkit pada hari yang ketiga, semua sesuai dengan yang Allah janjikan di seluruh Kitab Suci (1 Korintus 15:3).

Pada hari Jumat Agung, kita mengingat hari ketika Yesus rela menderita dan mati disalibkan sebagai korban terbesar untuk dosa-dosa kita (1 Yohanes 1:10). Dilanjutkan dengan Paskah, perayaan mulia akan hari ketika Yesus dibangkitkan dari antara orang mati, menggembar-gemborkan kemenangan-Nya atas dosa dan kematian, dan menunjukkan kebangkitan pada masa yang akan datang bagi semua yang dipersatukan dengan-Nya dalam iman (Roma 6:5).

Arti Sebutan "Jumat Agung"

Tetap saja, mengapa kita menyebut hari kematian Yesus dengan "Jumat Agung", bukannya "Jumat Buruk" atau sesuatu yang mirip semacam itu? Tradisi Kristen melakukan pendekatan ini: di Jerman misalnya, hari itu disebut Karfreitag, atau "Jumat Penuh Sengsara." Dalam Bahasa Inggris, sesungguhnya, istilah asli "Agung" diperdebatkan: beberapa orang yakin itu dikembangkan dari sebutan yang ada sebelumnya, "Jumat milik Allah." Terlepas dari asal-usulnya, sebutan Jumat Baik sepenuhnya tepat karena kesengsaraan dan kematian Yesus, yang memang mengerikan, melambangkan puncak rencana Allah yang dramatis untuk menyelamatkan umat-Nya dari dosa-dosa mereka.

Rencana Penebusan Allah

Agar kita bisa memaknai kabar baik Injil, pertama-tama kita harus mengerti kabar buruk tentang kondisi kita sebagai orang berdosa yang ada di bawah kutukan. Kabar baik tentang pembebasan hanya masuk akal begitu kita melihat betapa terbelenggunya kita. Cara lain untuk mengatakan ini adalah penting untuk mengerti dan membedakan antara hukum Taurat dan Injil dalam Kitab Suci. Kita membutuhkan hukum Taurat terlebih dahulu untuk menunjukkan betapa tidak berdayanya kondisi kita; kemudian Injil anugerah Yesus datang dan membawa kelepasan dan keselamatan bagi kita.

Demikian juga, Jumat Agung adalah "agung" karena sama seperti mengerikannya hari itu, kengerian itulah yang seharusnya kita alami agar menerima sukacita Paskah. Murka Allah atas dosa harus ditumpahkan kepada Yesus, korban pengganti yang sempurna, agar pengampunan dan keselamatan dicurahkan untuk bangsa-bangsa. Tanpa hari yang sangat mengerikan dari penderitaan, kedukaan, dan darah yang tercurah di kayu salib, Allah tidak akan menjadi "benar dan juga Pembenar" bagi mereka yang percaya kepada Yesus (Roma 3:26). Paradoksnya, hari yang tampaknya menjadi kemenangan iblis yang terbesar, sebenarnya adalah pukulan maut dalam rencana baik Allah yang mulia untuk menebus dunia dari perbudakan dosa.

Kebenaran Sejajar dengan Belas Kasihan

Salib adalah tempat kita melihat perjumpaan antara penderitaan dahsyat dan pengampunan Allah. Mazmur 85:10 menyanyikan sebuah hari ketika "kebenaran dan damai sejahtera" akan "bercium-ciuman". Salib Yesus adalah tempat di mana itu terjadi, syarat Allah, kebenaran-Nya, setara dengan belas kasihan-Nya. Kita menerima pengampunan, belas kasihan, dan damai sejahtera ilahi karena Yesus rela menggantikan hukuman Allah atas kita karena kebenaran Allah bertentangan dengan dosa. "Demi sukacita yang ditetapkan bagi-Nya" (Ibrani 12:2) Yesus menanggung salib pada hari Jumat Agung, tahu bahwa itu akan menuju kepada kebangkitan-Nya, keselamatan kita, dan awal pemerintahan Allah atas kebenaran dan damai sejahtera.

Jumat Agung melambangkan hari ketika murka dan belas kasihan bertemu di kayu salib. Itulah sebabnya, mengapa Jumat Agung begitu gelap sekaligus begitu Agung.

Sebuah Doa Jumat Agung

Hari ini, ya Tuhan, aku mohon agar Engkau mengajarku untuk berduka. Jangan biarkan aku terburu-buru untuk mengalami Paskah pada hari Minggu terlalu cepat. Berikanku anugerah untuk tetap tinggal di sana, di tempat kedukaan bertemu dengan penebusan. Jadikan kematian-Mu sangat nyata bagiku seperti kebangkitan-Mu. Biarlah aku selalu dekat ke salib.

Saat aku menanti di kaki salib, ya Tuhan, singkapkan sekali lagi kepadaku betapa mahalnya harga yang harus dibayar karena dosa-dosaku. Jangan biarkan aku hidup dalam dunia khayalan yang akhir bahagia Paskah membuat keegoisanku menyimpang. Ingatkan aku bahwa anugerah-Mu yang sempurna diperoleh dengan harga yang termahal. Ampuni aku ada masa-masa ketika aku hidup seakan-akan dosa bukanlah sesuatu yang serius, seakan-akan Jumat Baik tidak pernah benar-benar terjadi.

Penuhi aku dengan sukacita dan dukacita, rasa takut dan rasa syukur yang hadir sebelum penguburan Jumat Agung: sukacita karena kemenangan-Mu, dukacita karena kematian-Mu, rasa takut karena kekudusan-Mu, rasa syukur karena anugerah-Mu. Jangan biarkan aku hanya menempatkan salah satu dari emosi-emosi itu dengan mengurbankan yang lain. Beri aku hati yang cukup besar untuk memegang semuanya dengan erat. Jadikanku cukup berani untuk mengejar kebenaran yang benar-benar sejati, bukan hanya kebenaran yang sesuai dengan keinginanku.


Sumber : Wanita Sabda. org

Sabtu, 10 Agustus 2019

Mahasiswa Jaman Now: Gaya Hidup Sosialita, Orang Tua Susah Di Kampung

 


Pernah mendengar gaya hidup sosialita? Apa itu gaya hidup sosialita?

Sosialita atau sosialite merupakan akronim yang diserap dari bahasa Inggris. Sosialite berasal dari dua kata yakni sosial dan elite.

Sosial dapat berarti Suka memperhatikan kepentingan umum (suka menolong, menderma, dan sebagainya), sedangkan elite dapat berarti Kelompok kecil orang-orang terpandang atau berderajat tinggi (kaum bangsawan, kaum berduit dan lain sebagainya).

Jika dilihat dari pengertian diatas, maka sosialite atau sosialita merupakan sekelompok orang yang terpandang dan memiliki derajad tinggi namun mereka memiliki jiwa sosial dengan memperhatikan kehidupan orang-orang yang kurang mampu atau miskin.

Namun seiring perubahan jaman, sosialita mengalami pergeseran makna. Sekarang ini arti kata sosialita dikaitkan dengan kehidupan mewah, glamour dan menghabis-habiskan uang.

Gaya hidup tak sesuai kemampuan kemudian mendorong mereka cenderung mengambil jalan pintas dengan menghalalkan segala cara. Mereka ingin merasakan kenyamanan yang semu.

Salah satu yang paling nampak dari gaya hidup sosialita sekarang ini adalah pada kehidupan mahasiswa di Indonesia.

Mahasiswa jauh merantau dari kampung, tinggal di kota, hidupnya berlagak orang kaya di perantauan. Sekali jalan habis ratusan ribu, sekali makan kena ratusan ribu.

Pernahkah saat kamu menghabiskan uang yang begitu banyak untuk sekedar kesenangan, biar dikatakan “gaul”, kamu pernah memikirkan keluargamu yang di kampung ?

Pernahkah kamu pikirkan berapa penghasilan orang tuamu sehari dibandingkan banyaknya pengeluaranmu sekali jalan? Pernahkah kau pikirkan apa yang mereka makan saat kamu makan di restoran mewah?

Apakah kamu malu jadi orang miskin sehingga kamu berpura pura jadi orang yang berada di perantauan ini? Bukankah kamu menyangkal orang tuamu yang hidup tak seenak hidupmu di perantauan?

Ingat tujuanmu diperantauan ini. Mengapa harus mudah terpengaruh ajakan yang membuatmu lupa siapa sebenarnya dirimu. Yang membuatmu menyangkal dirimu sendiri dan berpura pura jadi orang lain. Bukannya kita iri atau tidak bisa seperti kamu. Tetapi kami masih tau batas. 

Hiduplah sederhana tidak akan membuatmu mati.  Kejar dan capailah dulu tujuaan utamamu di perantauan. Kelak kamu sukses dan kaya, kamu bisa ajak orang tuamu merasakan kesenangan itu.

Referensi:
1. Wikipedia
2. Fanpage Facebook: Filsafat dan Refleksi

Minggu, 07 April 2019

Takut Untuk Berubah, Kamu Wajib Baca dan Renungkan 5 Ayat Alkitab ini!


Budhi Marpaung

Dunia berubah, sekeliling berubah, haruskah kita juga ikut berubah? Jawaban atas pertanyaan ini sebenarnya ada di diri kita masing-masing. Bagi yang melihat perubahan adalah sesuatu yang baik untuk dilakukan, mereka akan turut di dalam perubahan. Namun, bagi yang melihat perubahan adalah sesuatu yang menakutkan, tidak ada kepastian, kecenderungannya mereka akan bersikap defensif atau memilih untuk tetap dengan cara lama yang selalu mereka lakukan.

Namun, sesungguhnya untuk mengetahui apakah keputusan yang kita ambil ini tepat atau tidak adalah lihatlah pada hasil atau dampaknya. Ketika berubah menunjukkan efek yang baik walaupun proses untuk melihatnya sedikit lama, berarti itu adalah keputusan yang tepat. Namun, jika tidak atau justru mengarah ke hasil yang negatif, berarti perubahan yang kita lakukan justru adalah keputusan keliru.

Sebaliknya, saat kita memilih untuk tetap pada pola lama (tidak berubah) ternyata hasilnya adalah kita mengalami stagnasi, tidak ada terobosan dalam hal keuangan maka keputusan untuk tidak berubah adalah kurang tepat. Akan tetapi, ketika kita memutuskan untuk tidak berubah dan hasilnya adalah kita tetap berkembang, pendapatan kita sehat maka keputusan untuk berubah adalah tepat adanya.

Setuju atau tidak, pada faktanya berubah itu adalah sesuatu yang ditakutkan oleh sebagian besar manusia. Kita cenderung enggan untuk mencoba hal-hal yang baru, yang akan mengusik kebiasaan kita selama ini. Bagi kamu yang saat ini kesulitan untuk berubah atau merasa khawatir dengan perubahan, berikut 5 ayat Alkitab untuk membangkitkan dirimu untuk melangkah kepada perubahan.


1. Yosua 1:9

Bukankah telah Kuperintahkan kepadamu: kuatkan dan teguhkanlah hatimu? Janganlah kecut dan tawar hati, sebab TUHAN, Allahmu, menyertai engkau, ke manapun engkau pergi."


2. Mazmur 18:3

Ya TUHAN, bukit batuku, kubu pertahananku dan penyelamatku, Allahku, gunung batuku, tempat aku berlindung, perisaiku, tanduk keselamatanku, kota bentengku!



3. Efesus 4:6-8

Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus. Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.


4. Ratapan 3:21-23

Tetapi hal-hal inilah yang kuperhatikan, oleh sebab itu aku akan berharap: Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!


5. Yeremia 29:11

Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.

Jangan takut dengan perubahan. Bila kamu yakin bahwa Tuhan yang mau kamu melakukannya di dalam pekerjaan atau pun bisnismu maka lakukanlah. Lihatlah itu sebagai sesuatu yang positif bagi hidupmu termasuk finansialmu.   

Sumber : biblestudytools.com

 

Jumat, 20 Juli 2018

8 Ciri-Ciri Jodoh Menurut Kristen Sesuai Firman Allah

Ilustarasi Ciri-ciri Jodoh



Banyak umat Kristen yang kadang tidak terpikirkan tentang ciri-ciri jodoh menurut Kristen. Padahal ada banyak anak Tuhan yang sedang menantikan jodoh dan pendamping hidup seperti yang mereka harapkan. Namun seringkali banyak yang tidak sadar bahwa jodoh itu ada bersama mereka sejak sebelumnya. Bahwa Tuhan ternyata menetapkan  berupa pasangan hidup kita tersebut yang melekat dekat dengan kita dari awal. Inilah terkadang kebodohan yang dialami umat Allah. Dimana akhirnya mencari pengganti yang berada di luar iman dan bahkan menggadaikan keselamatan demi pasangan hidup.

Tanpa dipenuhi hikmat yang lebih dalam tentang konsep apakah atau siapakah jodoh seturut yang Tuhan kehendaki. Oleh karena itu, jika sedang mengalami pergumulan akan masa depan termasuk pendamping hidup, ada baiknya mengetahui lebih detail tentang ciri-ciri jodoh menurut Kristen yang juga sesuai dengan firman Allah.

1. Sepadan

Tentunya Tuhan akan memberikan pendamping serta pasangan hidup yang sepadan dengan kita umatNya. Di dalam hal ini sepadan artinya bahwa pasangan hidup kita akan memiliki pemikiran yang kurang lebih sama. Karena menyatukan dua pemikiran yang berbeda tentu akan menjadi sesuatu yang tidak mudah. Demikian pula jika menjalin hubungan dengan orang lain yang tidak sepemikiran dan satu tujuan atau memiliki visi dan misi yang sama dalam hidupnya.

Oleh karena itu, Allah tidak akan membiarkan umatNya memiliki pendamping yang tidak memiliki pemikiran yang sama. Salah satunya dalam memahami konsep keselamatan dan takut akan Allah. Tentu ini adalah pondasi semua rumah tangga, sehingga ini adalah hal penting yang bisa menunjukkan siapa yang layak menjadi pasangan hidup kita nantinya. Apalagi jika keras hati dan keras kepala untuk menerima orang yang tidak seiman atau tidak memiliki konsep Allah yang sama. Tentu ini jauh dari kata sepadan dan nantinya akan lebih susah untuk menyelaraskan rumah tangga dalam memiliki visi dan misi yang sesuai dengan kehendak Allah.

2. Takut Akan Tuhan

Selanjutnya yang paling penting jika berbicara tentang cara memilih pasangan hidup menurut iman Kristen atau jodoh yaitu memiliki rasa takut akan Tuhan yang sama. Terutama bagi laki-laki yang akan memimpin suatu keluarga. Tentunya jika memiliki pasangan terutama suami yang tidak takut akan Allah akan lebih susah dalam menjalankan dan mengatur rumah tangga yang sudah diidam-idamkan.

Karena dasar kasih suami istri, kasih dalam keluarga, ketaatan dan kekuatan iman rumah tangga berpatok akan rasa takut kepada Tuhan Allah yang sama. Disinilah pasangan hidup kita merupakan penyokong dalam segala aktivitas rohani kita yang membawa kita bertumbuh lebih jauh dan lebih dalam. Jika tidak demikian, tentu akan susah untuk menyelaraskan kehidupan yang telah kita pilih dengan pasangan hidup kita nantinya.

3. Menjadi Penolong

Pasangan hidup tentunya merupakan orang yang akan menjadi penolong utama dalam kehidupan kita nanti dan bersama-sama dalam membangun rumah tangga. Karena itu tentunya jodoh adalah orang yang Tuhan siapkan untuk menjadi penolong segala kegiatan yang dilakukan mulai dari hal kecil seperti mengurus anak hingga perkara besar seperti mengatasi pergumulan. Karena itu berpatokanlah dengan mencari orang yang tentunya mampu atau sanggup untuk menjadi penolong dalam segala hal.

Tentunya jika Allah menyiapkan jodoh untuk umatNya tentu akan memberi yang terbaik dan yang sanggup  bekerja sama dalam mengarungi bahtera rumah tangga nantinya. Apabila pasangan yang kita pilih dari awal tidak menunjukkan sikap yang demikian, maka besar kemungkinan dia bukan orang yang tepat untuk pasangan hidup kita. Oleh sebab itu ketahui dengan benar calon pasangan hidup kita, apakah merupakan orang yang diperuntukkan ke kita dari Allah atau bukan dengan melihat sebesar mana nantinya dia sanggup menjadi penolong kita dalam segala hal.

4. Memiliki Buah Roh

Satu hal penting dari orang yang menjadi jodoh di dalam Tuhan yaitu memiliki buah-buah Roh Kudus yang dapat dilakukan dan diterapkan dalam hidup sehari-hari. Seperti firman Allah nyatakan, bahwa buah Roh ini meliputi kasih, sukacita, damai sejahtera, sabar, adil, murah hati, lemah lembut, setia dan penguasaan diri. Sehingga jika menemui karakter yang demikian pada diri seseorang dan dia merupakan orang yang dekat, bisa jadi ini merupakan jodoh yang Tuhan telah sediakan.

Sehingga pergumulkan hal tersebut dengan sungguh dan biarlah Allah yang memastikan apakah itulah ciri-ciri jodoh menurut Kristen yang sudah Tuhan berikan bagi kita. Apabila kita sedang dekat dengan seseorang namun tidak memiliki karakter yang demikian, bisa jadi ini bukanlah kehendak Allah. Karena itu melalui  cara berdoa dalam Roh dan pergumulkan dengan benar siapa pasangan hidup kita nantinya.

5. Lahir Baru

Ciri-ciri jodoh menurut Kristen dapat pula berupa seseorang yang telah lahir baru di dalam Tuhan dan dekat pada Allah. Hal ini sangat penting supaya hubungan rumah tangga nantinya merupakan hubungan yang sesuai dengan kehendak Bapa. Karena jika tidak tentunya akan berbeda hasilnya nanti. Bisa jadi rumah tangga yang dibangun tidak memiliki sukacita ataupun damai sejahtera karena memiliki pasangan yang tidak mengenal Allah dalam arti mungkin hanya Kristen tapi tidak sungguh-sungguh dan masih sering melakukan dosa.

Dengan memiliki pasangan seiman yang taat dan takut akan Allah tentunya akan lebih mudah supaya nantinya rumah tangga yang dibina diberkati penuh oleh Allah. Karena dalam memilih pasangan hidup yang tepat artinya menyenangkan hati Allah. Jika Allah senang maka Ia akan senantiasa memberkati kita setiap waktu.

6. Membawa Pada Kebenaran

Tentunya orang yang Tuhan sudah siapkan sebagai pendamping kita dalam rumah tangga nantinya merupakan orang yang membawa kita pada kebenaran akan firman Allah. Sehingga jika memang benar dari Allah, tentu ia akan memberikan karakter yang mampu menuntun kita pada jalan yang benar. Terutama seorang laki-laki yang menjadi imam dalam rumah tangga. Sebagai kepala rumah tangga, suami harus dapat menuntun istri untuk mendekatkan diri pada Allah dan istri merupakan penolong untuk membangun hal tersebut dan mewujudkannya.

Karena itu sebaiknya pastikan bahwa calon jodoh kita adalah orang yang senantiasa melakukan kebenaran dan berusaha menjauhkan diri dari dosa. Karena apabila melakukan dosa, terutama macam-macam dosa menurut Alkitab sebelum pernikahan maka hal ini adalah dipandang keji di mata Allah. Tentunya orang yang demikian berarti bukan yang Allah kehendaki untuk menjadi pendamping hidup kita. Sehingga sebaiknya pertimbangkan dengan baik apa yang menjadi keinginan Tuhan dalam hidup kita tentang pasangan hidup yang dijanjikan.

7. Mendapat Restu Orang Tua

Tuhan sendiri telah berfirman supaya kita taat dan hormat kepada orang tua. Inilah salah satu parameter penting yang juga Tuhan berikan bahwa mereka yang menjadi pasangan hidup kita adalah orang-orang yang berkenan di mata orang tua kita. Saat orang tua mau menerima calon jodoh kita di situlah orang tua sebagai wakil Allah di dunia telah menerima dia sebagai calon pendamping atau suami/istri kita kelak. Oleh sebab itu jangan sampai kita menikahi orang yang tidak disetujui orang tua kita.

Karena jika demikian bisa jadi orang tersebut bukan yang Tuhan kehendaki dalam hidup kita untuk mendampingi sebagai pasangan hidup. Padahal ini adalah hal yang sering terjadi dimana pasangan menikah tanpa restu orang tua. Biasanya akan membawa pada akhir yang tidak sesuai dan tidak menuju jalan Tuhan. Lain halnya pernikahan yang mendapat restu orang tua dan dilakukan seturut dengan kehendak Allah.

8. Menjadi Berkat

Pasangan atau jodoh tentunya merupakan orang yang hidupnya mampu menjadi berkat bagi kita. Karena itu selalu perhatikan apakah calon jodoh kita ini adalah orang yang tepat dengan jalan melihat kehidupannya. Jika ia memang orang yang telah Tuhan sediakan tentunya ia akan mampu menjadi berkat baik bagi kita dan keluarga. Disini menjadi berkat bisa dengan menjadi penolong baik dalam hal fisik maupun juga rohani. Pasangan yang baik akan mampu memahami keadaan kita maupun keadaan orang tua dan keluarga kita.

Sehingga jika memang dia merupakan penolong yang Tuhan sediakan, maka ia akan memampukan dirinya untuk memahami kehendak Tuhan melalui menjadi pendamping hidup kita. Jika dia sulit memahami keadaan kita dan terus mengeluh serta tidak mampu memberikan pertolongan yang kita butuhkan, bisa jadi dia bukan yang terbaik yang diberikan oleh Tuhan. Maka dari itu mencari jodoh adalah sesuatu yang perlu doa dan bila perlu ambil waktu untuk doa dan cara puasa orang kristen  supaya mendapatkan jodoh yang benar, baik dan setia seperti yang kita kehendaki.

Itulah beberapa ciri-ciri jodoh menurut Kristen yang sebaiknya diketahui dari awal sebelum memutuskan siapa yang akan menjadi pendamping hidup paling tepat. Karena itu sebaiknya doakan dengan yakin supaya dapat memperoleh yang terbaik sesuai yang Tuhan telah pilihkan dan janjikan. Ikuti tuntunan  tujuan karunia Roh Kudus  memilih pendamping hidup yang terbaik. Jangan hanya memikirkan duniawi saja, tetapi pahami apa kehendak Allah melalui pendamping hidup kita nantinya. Sehingga di kelak rumah tangga yang dibina tidak akan melenceng dari firman Allah, melainkan selalu tunduk dan penuh ketaatan akan Allah. Tuhan memberkati.

Selasa, 22 Mei 2018

Bolekah Perempuan Mengajar ?

Ilustrasi Perempuan Sedang Khotbah




* 1 Timotius 2:8-15 Mengenai sikap orang laki-laki dan perempuan dalam ibadah jemaat
2:8 Oleh karena itu aku ingin, supaya di mana-mana orang laki-laki berdoa dengan menadahkan tangan yang suci, tanpa marah dan tanpa perselisihan.
2:9 Demikian juga hendaknya perempuan. Hendaklah ia berdandan dengan pantas, dengan sopan dan sederhana, rambutnya jangan berkepang-kepang, jangan memakai emas atau mutiara ataupun pakaian yang mahal-mahal,
2:10 tetapi hendaklah ia berdandan dengan perbuatan baik, seperti yang layak bagi perempuan yang beribadah.
2:11 Seharusnyalah perempuan berdiam diri dan menerima ajaran dengan patuh.
2:12 Aku tidak mengizinkan perempuan mengajar dan juga tidak mengizinkannya memerintah laki-laki; hendaklah ia berdiam diri.
2:13 Karena Adam yang pertama dijadikan, kemudian barulah Hawa.
2:14 Lagipula bukan Adam yang tergoda, melainkan perempuan itulah yang tergoda dan jatuh ke dalam dosa.
2:15 Tetapi perempuan akan diselamatkan karena melahirkan anak, asal ia bertekun dalam iman dan kasih dan pengudusan dengan segala kesederhanaan


Ini benar-benar "ucapan yang sulit." Bahasa yang digunakan nampaknya langsung dan jelas. Tetapi apakah maksud Paulus sama dengan arah pemikiran kita? dan jika memang demikian, apakah ini sebuah perintah yang diinginkannya untuk diterapkan secara universal, tanpa memandang konteks sejarah dan situasi?

Bacaan ini, dan bacaan yang dibahas dalam bab berikutnya, menjadi pusat diskusi yang terus-menerus mengenai kedudukan dan peranan perempuan dalam gereja, keluarga, dan masyarakat. Jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan di atas penting untuk diskusi tersebut.

Bacaan ini juga merupakan bacaan yang sulit karena satu alasan lagi, yaitu alasan emosi/pengalaman. Sebagai seorang laki-Iaki, saya yakin saya tidak dapat memahami sepenuhnya pengaruh ucapan Rasul ini terhadap perempuan. Tetapi walaupun secara terbatas, saya sedikit banyak memahami rusaknya harga diri dan rasa kemampuan seseorang karena ucapan ini. Kita hidup dalam sebuah jaman dalam sejarah di mana baik perempuan maupun laki-laki diakui sama-sama berbakat dalam kemampuan intelektual maupun ketrampilan komunikasi. Dalam situasi semacam ini, larangan Rasul ini nampaknya sangat sulit untuk dimengerti dan diterima. Karena perbedaan apakah dalam jenis kelamin yang menghalangi perwujudan sepenuhnya dari pemberian hati, pikiran, dan roh oleh Pencipta?

Pertanyaan ini seringkali dijawab dengan pernyataan untuk tegas bahwa peranan yang sudah didefinisikan secara jelas untuk laki-laki dan perempuan ditetapkan secara ilahi dan perintah Paulus yang membatasi merupakan bukti dari norma yang universal itu. Tetapi jawaban inipun menimbulkan masalah. Cerita mengenai penciptaan laki-laki dan perempuan dalam Kejadian 1-2 yang kita anggap sebagai pernyataan teologi yang mendasar dari rancangan dan tujuan Pencipta menegaskan bahwa laki-laki dan perempuan sederajat dan saling melengkapi. Mereka sarna-sarna serupa dengan gambar Allah (Kejadian 1 :26-27). Keduanya diberi kekuasaan yang bertanggung jawab terhadap ciptaan lain (Kejadian 1 :28). Penciptaan perempuan dimaksudkan untuk membebaskan laki-Iaki dari kesendirian dan melengkapinya (Kejadian 2:18 ).

Terhadap pandangan kuno bahwa para dewa menipu laki-laki dengan menciptakan perempuan dari bahan yang 'kurang bermutu', cerita penciptaan dalam kitab Kejadian menegaskan bahwa perempuan diciptakan sarna dengan laki-laki (tulang dari tulangku dan daging dari dagingku" Kejadian 2:23). Dengan demikian pandangan bahwa Allah menciptakan perempuan untuk mendapatkan peranan yang terbatas dalam keluarga, gereja, dan masyarakat tidak dapat dibenarkan atas dasar penciptaan.

Status perempuan yang terbatas secara tradisional didasarkan pada cerita kejatuhan manusia (Kejadian 3) dalam pemikiran dan adat orang Yahudi maupun orang Kristen. Tetapi dari konteks kitab Kejadian 2-3 jelas bahwa kata-kata dalarn Kejadian 3: 16, "Engkau akan berahi kepada suamimu dan ia akan berkuasa atasrnu" tidak mengungkapkan rancangan Allah agar laki-Iaki berkuasa. Sebaliknya kata-kata ini mengungkapkan suatu keadaan terkutuk karena hubungan yang terputus antara manusia yang diciptakan dengan Penciptanya. Dengan demikian kedudukan yang terbatas untuk perempuan dan dominansi laki-laki atas perempuan bukanlah tujuan ilahi melainkan cerminan dosa manusia. [1]

Bagi Paulus, tujuan karya penebusan Allah adalah mem¬bebaskan ciptaan Allah dari kutukan Firdaus. Siapa yang ada di dalam Kristus adalah ciptaan baru (II Korintus 5:17), yang dibebaskan dari ikatan dosa dan perwujudan dosa itu dalam hubunqan manusia (Roma 6:5-7). Dalam manusia baru yang diciptakan dalam Kristus, pandangan budaya dan agama yang sudan mendarah daging bahwa manusia yang satu lebih rendah dari yang lainnya berdasarkan jenis kelamin atau bangsa atau status sosial, tidak lagi dapat dipertahankan (Galatia 3:26-28). Ini jelas merupakan keyakinan teologis Paulus yang mendasar.

Dalam mendiskusikan bacaan I Korintus 14:33-44, di mana Paulus memerintahkan perempuan dalam jemaat untuk "berdiam diri," kita melihat bahwa pembatasan ini tidak diterapkan secara universal baik oleh Paulus maupun jemaat-jemaat lainnya pada masa itu. Banyak perempuan memiliki kedudukan kepemimpinan yang menonjol (Febe, Lydia, Euodia, Sintikhe, Priskila, Yunias). ditunjuk sebagai pend eta atau diaken (Roma 16:1), teman sekerja (Roma 16:3), kawan sekerja dalam Injil (Filipi 4:2-9), Rasul (atau pembawa pesan Roma 16:7). Roh Allah memberi kuasa baik kepada laki-Iaki maupun perempuan untuk bernubuat tentang karya penebusan Allah di dalam Kristus (Kisah Para Rasul 2:14-18 ). Partisipasi perempuan dalam penyebaran Injil secara lebih baik dan doa dalam jemaat merupakan bagian yang normal dari kehidupan jemaat pada jaman itu (I Korintus 11).

Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan di atas, alasan pembatasan secara khusus terhadap perempuan-perempuan dalam jemaat Timotius pasti ada dalam teks dan sltuasi jemaat yang dimaksudkan Paulus. Seperti yang kita lihat, jika peranan perempuan yang dibatasi bukan merupakan bagian dari tujuan ilahi dalam penciptaan dan juga bukan aspek yang normatif dari penebusan, rnaka pembatasan mereka dalam berbicara, mengajar, dan memimpin (I Korintus 14 dan 1 Timotius 2) pasti merupakan reaksi terhadap situasi lokal yang kritis. I Korintus 14 (dalam bab 27) mengungkapkan krisis semacam itu di Korintus. Situasi yang kritis dalam kehidupan dan iman jemaat Timotius nampaknya juga menjadi alasan perintah Paulus dalam hal ini. [2]

Jika kita membaca 1 Timotius, kita dengan segera menyadari bahwa keutuhan iman Kristen berada dalam keadaan kritis. Ada beberapa orang dalam jemaat yang mengajarkan doktrin-doktrin palsu dan dipenuhi dengan mitos-mitos dan gagasan spekulatif lainnya yang bertentangan dengan iman yang benar dan tutus (I Timotius 1 :3-4). Beberapa orang telah terjerat ke dalam perdebatan yang sia-sia, mau menjadi pengajar Hukum Taurat tanpa mengerti perkataan mereka sendiri dan pokok-pokok yang mereka kemukakan (1 :6-7). Ada keprihatinan yang menyeluruh untuk mempertahankan dan menjaga kebenaran iman (1:19; 2:4-7; 3:14-16; 4:1-3. 6-7,16; 6:1-5,12).

Kita tidak mengetahui identitas guru-guru palsu ini atau isi pengajaran mereka sepenuhnya. Dari perintah yang diberikan, kita dapat menyimpulkan bahwa pengajaran palsu ini mengarah kepada diabaikannya kebiasaan dan tingkah laku yang pantas dalam jemaat (2:8-15) dan juga penolakan terhadap lembaga perkawinan (4:3). Berdasarkan aspek terakhir pengajaran sesat ini, perlu dlcatat bahwa perhatian khusus diarahkan kepada para janda muda (5:9-15), yang dinasihatkan untuk menikah, mempunyai anak, dan memimpin rumah tangga mereka (5:14). Jika peranan yang normal dan sudah diatur secara sosial ini diabai¬kan atau ditoJak, maka perempuan-perempuan ini cenderung "menyebarkan gosip" dan "mencampuri soal orang lain dan mengatakan hal-hal yang tidak pantas" (5:13).


Atas dasar data ini, setidak-tidaknya ada dua kemungkinan situasi dalam jemaat Timotius di Efesus:

(1) Mungkin perempuan-perempuan dalam jemaat di Efesus merupakan pendukung dan penganjur pengajaran heretik yang mengacaukan pola kehidupan jemaat dan kehidupan rumah tangga yang sudah dlterima. Kemungkinan kedua adalah perempuan-perempuan dalam jemaat sangat terpengaruh oleh para guru yang sesat. Situasi semacam ini dalam jemaat Efesus diungkapkan dalam II Timotius 3:6-9 di mana perempuan, yang menjadi sasaran khusus dari orang-orang "yang menentang kebenaran" (3:8 ) "tidak pernah dapat mengenal kebenaran" (3:7).

Dalam keadaan yang mana pun, ucapan Paulus yang bersifat membatasi dalam I Timotius 2: 11-12 harus dimengerti dalam konteks di mana pengajaran palsu sedang menjadi masalah. Larangan secara umum untuk menentang semua orang yang "mengajarkan ajaran lain" (1 :3) sekarang secara khusus difokuskan pada para perempuan yang telah menjadi mangsa dari pengajaran palsu semacam itu atau terlibat dalam penyebarannya.

Nasihat Paulus dalam I Timotius 2:11, "berdiarn diri dan menerima ajaran dengan patuh" dengan demikian ditujukan kepada para perempuan yang karena pengajaran sesat telah menjadi para pendukung yang sangat kuat dari gagasan-gagasan yang mengacaukan situasi kehidupan jemaat dan rumah tangga yang sudah tertata. "Ketaatan" yang diperintahkan kepada mereka kemungkinan besar adalah ketaatan kepada para tua-tua dalam jemaat, yang merupakan penjaga kebenaran dan ibadah yang teratur. Larangan terhadap pengajaran mereka (2: 12) disebabkan oleh keterlibatan mereka dalam pengajaran palsu. Dan larangan "memerintah laki-laki" (2:12) harus dimengerti dalarn konteks penolakan mereka terhadap kekuasaan orang lain, barangkali para pemimpin laki-laki di Efesus yang pengajarannya yang ortodoks dan otoriter dirusak oleh pandangan sesat mereka. Kata bahasa Yunani yang tidak umum yang digunakan terutama mengandung arti negatif "rnerebut" atau "merampas kekuasaan." Jadi, pembatasan kedudukan dan partisipasi perempuan dalam kehidupan dan pelayanan di jemaat Efesus sangat mungkin "dituiukan kepada para perempuan yang terlibat dalam pengajaran palsu, yang telah menyalahgunakan pelaksanaan kekuasaan yang benar dalam jemaat dengan merampas kekuasaan dan mendominasi para pemimpin dan guru laki-Iaki di jemaat Efesus (hal ini tidak diperintahkan Paulus kepada perempuan-perempuan lain). [3]

Paulus melanjutkan dengan mendasarkan perintah ini pada perenungan beberapa bacaan pilihan dari Kitab Kejadian. Pemikiran-pemikiran tersebut merupakan pokok pembahasan kita pada bab berikutnya.



[1] Kala bahasa Yunani yang dilerjemahkan "penolong" (dalam Kejadian 2:18 dan 2:20), yang menunjukkan perempuan itu, hanya digunakan 16 kali lagi dalam Alkilab bahasa Ibrani. Dalam kasus-kasus di alas, perempuan selalu dilunjuk Allah sebagai yang menyelamalkan, mendukung, dan menopang umalNya (seperti dalam Mazmur 46: 1). Kala perempuan ini sama sekali tidak mengandung arti kedudukan atau status yang lebih rendah. Kala yang diterjemahkan "sesuai unluk" secara hurufiah berarti "di depan," dan menunjukkan seseorang yang berdiri "berhadapan rnuka" dengan lainnya, yang kualitas dan sifat-sifat dasarnya sama, dan karena itu merupakan "teman sekerja."

[2] Lihat Gordon D. Fee, 1 dan 2 Timothy, Titus Good News Commentary (San Fransisco: Harper & Row, 1984), yang membuat kasus I Timotius yang meyakinkan menjadi surat berkala yang membicarakan pengajaran-pengajaran sesat.

[3] David M. Scholer, "I Timothy 2:9-15 and the Place of Woman in the Church's Ministry," dalam Alvera Mickelsen, Women, Authority & the Bible (Downers Grove, III: Inter Varsity Press, 1986), hal. 205. Tulisan ini, dan beberapa tulisan lainnya dalam volume ini, menyajikan studi yang sangat bagus mengenai masalah eksegesis, sejarah-budaya dan bahasa tentang "ucapan yang sulit" dan teks-teks Alkitab yang berkaitan.


-----


Disalin dari :
Manfred T Brauch, Ucapan Paulus yang Sulit, SAAT Malang, p. 250-243

Senin, 14 Mei 2018

Apa itu Penyembuhan Batin?

Penyembuhan Luka Batin

"Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita." (Matius 8:17)
"Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan. Dan Allah yang menyelidiki hati nurani, mengetahui maksud Roh itu, yaitu bahwa Ia, sesuai dengan kehendak Allah, berdoa untuk orang-orang kudus." (Roma 8:26-27)

Selasa, 07 November 2017

ANTROPOLOGI: DOKTRIN MANUSIA






PENDAHULUAN

Dalam bagian ini, tidak akan diuraikan mengenai apa yang dikatakan sumber-sumber lain di luar Alkitab mengenai manusia. Tetapi yang akan diuraikan sejelas mungkin, adalah mengenai doktrin manusia yang diajarkan oleh Alkitab. Secara sederhana, bab ini akan menjawab pertanyaan, “Apakah yang dikatakan Alkitab mengenai manusia?”

Melalui Alkitab, kita telah mengetahui, bahwa Allah adalah sumber, pemilik, dan alasan utama dari segala sesuatu yang ada. Hal tersebut tentu saja manusia. Pertanyaan yang paling mendasar bagi kita adalah, “Jika kita tidak membaca dan mempelajari Alkitab? Mungkinkah kita mengerti bahwa Allah adalah sumber, pemilik, dan sekaligus alasan utama dari segala sesuatu yang ada, termasuk manusia?” Jawabannya, tentu saja tidak! Hal itu memberikan kita suatu bukti yang kuat atas perbedaan-perbedaan pandangan mengenai manusia di luar Alkitab.


DEFINISI MANUSIA
 Di luar Alkitab, kita mengetahui bahwa manusia didefinisikan secara berbeda-beda, melalui pendekatan dan penekanan yang berbeda-beda. Lalu apakah yang dikatakan Alkitab mengenai manusia? Kita akan memahami definisi  manusia dengan memperhatikan apa yang pertama kali Alkitab katakan mengenai manusia, yaitu penciptaannya. Ayat yang paling jelas menyatakan hal tersebut adalah Kejadian 1:26, baik dalam Alkitab bahasa Indonesia, dan Alkitab versi New King James Version, sebagai berikut:

Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi."

Then God said, "Let Us make man in Our image, according to Our likeness; let them have dominion over the fish of the sea, over the birds of the air, and over the cattle, over all the earth and over every creeping thing that creeps on the earth."

Kejadian 1:26 merupakan ayat yang pertama kali membicarakan manusia. Ayat tersebut berbicara dalam konteks penciptaan manusia. Hal tersebut membawa kita kepada suatu definisi utama sekaligus pertama mengenai manusia dalam Alkitab, yaitu satu-satunya makhluk yang diciptakan Allah menurut gambar dan rupa Allah. Karena setelah ayat ini pun, tidak ada ayat lain di dalam Alkitab yang menyatakan bahwa ada ciptaan lain yang diciptakan segambar dan serupa dengan Allah. Tetapi, apakah sebenarnya arti dari diciptakan menurut gambar Allah?

Prof. Sung Wook Chung mengartikan diciptakan menurut gambar Allah dalam ketiga pandangan yang menyeluruh, yaitu substantif, relasional, dan fungsional. Substantif dalam arti manusia memiliki akal budi dan kehendak bebas sebagai gambar Allah di dalam manusia yang membedakan manusia dengan binatang (pandangan Agustinus). Luther dan Calvin mengadaptasi posisi Agustinus dan menambahkan bahwa karakteristik-karakteristik moral juga merupakan karakter dari gambar Allah.[3]

Pandangan relasional menyatakan bahwa gambar Allah, bukanlah suatu unsur yang dilimpahkan ke dalam seorang manusia, melainkan merupakan kemampuan manusia untuk menjaga relasi dengan Allah dan orang-orang lain. Pandangan ini dianut oleh teolog-teolog Neo-ortodoks, seperti Emil Brunner dan Karl Barth. Karl Barth secara khusus terkenal karena pendapatnya bahwa manusia-manusia mampu untuk bereksistensi di dalam relasi dengan Allah dan orang-orang lain, khususnya karena mereka diciptakan di dalam gambar Allah Tritunggal yang bersifat relasional.[4]

Pandangan ketiga adalah pandangan fungsional yang mulai meraih perhatian pada abad ke-20. Menurut pandangan ini, gambar Allah bukanlah karakteristik dasar atau pun kemampuan umat manusia untuk membangun relasi-relasi, melainkan gambar Allah diwujud nyatakan dalam tujuan atau fungsi manusia untuk menampilkan karya-karya natur Ilahi. Allah memanggil manusia untuk menjadi wakil pengawas atas ciptaan. Dengan demikian, Allah memerintahkan manusia untuk merefleksikan gambar-Nya dengan berfungsi sebagai raja atas ciptaan.[5]

Menurut hemat saya, ketiga pandangan tersebut secara menyeluruh yaitu substansi, relasional, dan fungsional, merupakan jawaban yang terbaik saat ini untuk menjelaskan arti dari “diciptakan menurut gambar Allah.” Secara substansi manusia mewarisi sifat-sifat Allah yang communicable (dapat dikomunikasikan) seperti kekudusan, kebijaksanaan, kebenaran, kasih, dan keadilan. Adam Clarke mengatakan, “Hence man was wise in his mind, holy in his heart, and righteous in his actions.”[6] Pernyataan tersebut saya terjemahkan sebagai, “Sebab itu, manusia adalah bijak di dalam pikirannya, suci di dalam hatinya, dan benar di dalam tindakannya.”

Secara relasional, manusia diciptakan dalam gambar Allah Tritunggal yang memiliki persekutuan dalam ketiga oknum Tritunggal dalam kesatuan-Nya. Gambar Allah secara relasional ini, terpancar dalam kehidupan manusia sebagai makhluk sosial, yang tidak mampu hidup sendiri, tanpa melakukan hubungan sosial. Manusia sebagai makhluk sosial juga berarti bahwa manusia memiliki ketergantungan secara sosial terhadap manusia lainnya.

Secara fungsional, manusia memiliki peran manajerial atas dunia ini. Manusia dapat dikatakan memiliki jabatan sebagai raja atas dunia ini. Tetapi hal tersebut tidaklah berarti bahwa manusia dapat menggunakan alam semesta secara semena-mena, melainkan hal tersebut berarti manusia harus merefleksikan gambar Allah dalam diri-Nya dengan mengelola alam semesta secara bertanggung jawab bagi kemuliaan Allah pencipta-Nya. Ketiga hal tersebut akan dijelaskan lebih lagi dalam bagian berikutnya.


KEADAAN MANUSIA PERTAMA DICIPTAKAN
 Dalam bagian ini, kita akan membahas manusia yang mampu memancarkan gambar diri Allah sebelum manusia jatuh dalam dosa. Bagian ini tidak mungkin dibahas lepas dari definisi manusia. Hal tersebut disebabkan karena manusia didefinisikan sesuai dengan penciptaannya yang unik. Tidak ada satu pun perbedaan manusia dengan ciptaan lain, selain penciptaannya yang khas dan tujuan Allah dalam penciptaannya yang khas tersebut. Tanpa manusia diciptakan sesuai dengan gambar Allah, kita akan kehilangan makna sesungguhnya dari manusia, dan manusia tidak akan menjadi berbeda dengan binatang.

Prof. DR. Werner Gitt menyatakan, “Jika kita menolak fakta penciptaan, kita akan terseok-seok berputar-putar di semak belukar sistem pemikiran evolusi dan tidak akan bertemu dengan kebenaran.” Bila kita setuju dengan pendapat tersebut, maka kita akan menyimpulkan, bahwa tanpa fakta penciptaan, kita tidak akan menemukan kebenaran mengenai manusia. Apakah yang Alkitab katakan mengenai penciptaan manusia?

1)   Manusia Diciptakan Dari Debu Tanah
 Kejadian 2:7 menyatakan, “Ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup.” Dalam ayat ini, Alkitab versi Indonesia Terjemahan Baru memberikan terjemahan yang baik. Dikatakan Allah “membentuk” manusia, dan bukannya “menciptakan”. Perlu sekali diketahui bahwa dalam bahasa Ibrani, istilah menciptakan sedikitnya diterjemahkan dari dua kata Ibrani, yakni בּרא (baca: bara) dan יָצַר (baca: yatsar). Definisi yang paling mendasar untuk kata בּרא (baca: bara) adalah menciptakan dari yang tidak ada menjadi ada, sedangkan untuk יָצַר (baca: yatsar) adalah menyempurnakan/membentuk suatu ciptaan dari ciptaan yang sudah ada.[8]

Permasalahan yang timbul mengenai kedua istilah Ibrani tersebut adalah penciptaan manusia dalam Kej. 1:27, karena kata “menciptakan” dalam ayat tersebut menggunakan kata בּרא (baca: bara). Mengapakah kata “menciptakan” yang digunakan dalam Kej. 1:27 dan Kej 2:7 merupakan dua kata berbeda? Saya rasa alasannya sangat mendasar, yaitu karena Kej. 1:27 menjelaskan mengenai manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Sedangkan Kej. 2:7 menceritakan bagaimana Allah menciptakan tubuh manusia dari debu tanah. Kedua peristiwa tersebut jelas sangat berbeda sekali. Karena sebelum manusia belum pernah ada ciptaan yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Tetapi meskipun demikian, tubuh manusia tetap diciptakan dari ciptaan yang rendah, yaitu debu tanah.

Menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya.” Dalam hal ini juga penciptaan manusia menjadi sangat unik. Karena tidak ada ciptaan lain dalam Kejadian 1 yang diberikan nafas hidup oleh Allah selain manusia, demikianlah melalui bagian ini dapat dimengerti suatu alasan utama atas keunggulan manusia dari ciptaan lainnya. Barnes mengatakan:

“The “breath of life” is special to this passage. It expresses the spiritual and principal element in man, which is not formed, but breathed by the Creator into the physical form of man.”[9] (“Nafas hidup” adalah istimewa dalam perikop ini. Hal itu menyatakan elemen spiritual dan prinsip dari manusia, yang tidak dibentuk, tetapi dinafaskan oleh Sang Pencipta kedalam bentuk fisik dari manusia.)


Nafas hidup yang dihembuskan Allah kepada manusia pertama itulah, yang membuat manusia menjadi makhluk yang paling penting di seluruh alam semesta ini. Hal itu juga membuat manusia memiliki fungsi tertinggi dalam tatanan semesta. Hal tersebut disebabkan, karena tidak ada satu pun makhluk di seluruh alam semesta ciptaan Allah yang dihembuskan nafas hidup dari Allah sendiri sewaktu pertama kali diciptakan. Penciptaan manusia dari debu tanah juga memberikan suatu penjelasan yang penting, yaitu tanpa nafas Allah, manusia hanyalah debu yang tidak lebih dari binatang dalam tatanan alam semesta, karena binatang mempunyai jiwa, tetapi debu tidak memiliki apapun, selain substansi materi.

  2)   Manusia Merefleksikan Diri Allah

Seperti telah dibahas dalam bagian sebelumnya, manusia adalah satu-satunya makhluk dalam alam semesta ciptaan Allah yang menerima nafas Allah sendiri. Nafas Allah yang diberikan kepada manusia, memampukan manusia untuk merefleksikan diri Allah, karena nafas Allah tersebut tidaklah diciptakan, seperti pendapat Barnes dalam poin pertama, melainkan dinafaskan oleh Sang Pencipta kedalam bentuk fisik dari manusia.

Maka, di dalam diri manusia, terdapat diri Allah. Tentu saja bukan diri Allah yang sempurna. Melainkan hanya gambar diri-Nya yang diberikan langsung (tidak diciptakan) kepada debu tanah.  Dalam bagian awal, telah dibahas arti mengenai segambar dan serupa dengan Allah dalam substansi manusia. Substansi/hakekat manusia mewarisi atribut-atribut Allah yang communicable (dapat dikomunikasikan), seperti hikmat, kebijaksanaan, akal budi, kehendak bebas, kesucian, kasih, dsb. Tetapi atribut-atribut tersebut tidak diberikan Allah secara sempurna, tetapi dalam suatu batasan yang jauh antara pencipta dengan ciptaan. Hal tersebut hanyalah cermin yang digunakan Allah untuk merefleksikan/memantulkan kemuliaan-Nya melalui manusia.

Maka, segala substansi Ilahi yang dimiliki manusia, ketika pertama kali diciptakan, tidak pernah dimaksudkan untuk membuat manusia bermegah di dalam dirinya sendiri. Melainkan, dimaksudkan untuk membuat manusia memuliakan Allah melalui dirinya. H. Henry Meeter mengatakan:

Manusia sebelum kejatuhannya dalam dosa pun, jika dibandingkan dengan Allah yang mulia, tidak ada artinya dan seperti kesia-siaan belaka. Semua bangsa-bangsa hanya ibarat debu halus di atas timbangan. Manusia yang belum terjatuh ke dalam dosa pun, sudah sepenuhnya bergantung kepada Allah. Apalagi manusia yang sudah jatuh ke dalam dosa?

Dengan kata lain, kemuliaan yang dimiliki manusia dalam kesuciaannya pertama kali diciptakan (sebelum manusia jatuh ke dalam dosa), menyatakan suatu kebergantungan manusia kepada kemuliaan Allah. Sebagaimana cermin bergantung kepada cahaya yang memantul kepadanya untuk memancarkan cahaya, demikianlah manusia bergantung hanya kepada kemuliaan Allah semata, untuk memancarkan kemuliaan hakekat dirinya sendiri. Karena tidak pernah ada suatu cermin, yang mampu memancarkan cahaya dari dirinya sendiri.

 3)   Manusia Bersekutu Dengan Allah
 Persekutuan dengan Allah merupakan arti manusia “segambar dan serupa dengan Allah” secara relasional, seperti telah dipaparkan di bagian awal. Persekutuan tersebut hanya mungkin terjadi, karena nafas Allah yang diberikan ke dalam diri manusia. Hal tersebut terlihat di dalam Kejadian 2:16-17:

Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: "Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati."

Perintah tersebut disampaikan oleh Tuhan Allah kepada manusia secara langsung, tanpa melalui perantara. Bukankah hal tersebut sangat berbeda dengan persekutuan manusia dengan Allah di masa kini? Hal tersebut disebabkan oleh dosa yang telah berkembang, sehingga semenjak kejatuhan manusia ke dalam dosa, tidak semua orang dapat mendengar suara Tuhan secara langsung, hanya sebagian orang saja yang dipilih-Nya. Bahkan dalam masa Israel sebagai bangsa pilihan Tuhan saja, Allah tidak berbicara kepada seluruh orang Israel, melainkan hanya kepada imam, nabi, dan raja.

Apabila kita memperhatikan seluruh pasal 2 dari kitab Kejadian. Kita akan mengetahui, bahwa Kej. 2:16-17 adalah pertama kalinya Allah dicatat berbicara kepada Adam, sang manusia pertama. Dan perkataan Allah yang pertama kali tercatat tersebut adalah berupa perintah-Nya kepada manusia. Dari hal tersebut, sebenarnya kita dapat memahami, bahwa hubungan persekutuan manusia dengan Allah tidak pernah terlepas dari tanggung jawab manusia kepada Allah untuk mematuhi perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Prof. J. Verkuyl, seorang guru besar emeritus bidang etika di Vrije Universiteit Amsterdam menyatakan:

Yang menentukan titik pangkal dogmatis buat Etika bukanlah hanya pengakuan tentang Allah saja, tetapi juga pengakuan tentang manusia. Di dalam penyataan-Nya, Allah berfirman kepada manusia. Manusia adalah tujuan, kawan, anggota persekutuan, dengan siapa Allah mengadakan persekutuan di dalam penyataan-Nya. Perlulah diselidiki apa isi ucapan ini, sebab hal itu merupakan salah satu masalah pokok bagi Etika.

Melalui ucapan di atas, Prof. Verkuyl menyatakan bahwa salah satu pokok persoalan dalam menyelidiki bagaimana cara manusia harus hidup, adalah keharusan untuk mengetahui bahwa manusia memiliki persekutuan dengan Allah. Bahkan, dapat dikatakan bahwa seluruh persekutuan manusia dengan Allah yang dijelaskan dalam Alkitab, selalu berpusat kepada perintah dan larangan-Nya, karena hanya dengan cara demikian, manusia dapat sungguh-sungguh mengenal Allah dan sekaligus memuliakan-Nya melalui tindakan-tindakan mereka. Dengan cara itu juga Alkitab mengajarkan bagaimana manusia harus bersekutu dengan Allah. Daud, yang dijelaskan Alkitab sebagai seorang yang paling dekat dengan Allah mengatakan, “Taurat TUHAN itu sempurna, menyegarkan jiwa; peraturan TUHAN itu teguh, memberikan hikmat kepada orang yang tak berpengalaman.”[13]

Sedangkan orang-orang yang tidak bergaul dekat dengan Allah atau yang disebut orang-orang fasik dijelaskan sebagai orang-orang yang meninggalkan Taurat Tuhan. Mzm. 119:53 mengatakan, “Aku menjadi gusar terhadap orang-orang fasik, yang meninggalkan Taurat-Mu.” Perihal persekutuan manusia dengan Allah yang tidak bisa terlepas dari perintah-Nya berpadanan dengan pengajaran doktrin Allah dalam bab 2, yang menyatakan bahwa Allah adalah Raja atas seluruh semesta ciptaan-Nya, dengan demikian manusia memiliki tanggung jawab penuh kepada Allah.

Di sisi lain, persekutuan manusia dalam keadaan pertama kali diciptakan dengan Allah, tidaklah merupakan suatu tuntutan semata tanpa belas kasih Allah kepada manusia, hal tersebut adalah pandangan yang salah dan menyesatkan. Memang benar, bahwa persekutuan manusia dengan Allah tidak mungkin dipisahkan dengan perintah-Nya yang harus ditaati sebagai Raja semesta. Namun, Allah telah memberikan berbagai kebaikan kepada Adam sebagai manusia pertama, sehingga mematuhi perintah-Nya adalah hal yang lebih kecil bagi Adam jika dibandingkan dengan kebaikan Allah dalam kehidupannya.

Allah memberikan kepada Adam seluruh alam semesta ciptaan-Nya untuk ditempati, dinikmati, dan dibudidayakan. Fakta bahwa Allah menciptakan manusia di hari keenam menjelaskan hal itu. Allah telah menciptakan segala sesuatu untuk manusia dapat hidup secara sempurna lebih dahulu, barulah kemudian Allah menciptakan manusia. Mari kita melihat kembali Kejadian 2:15-17:

TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu. Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: "Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati."[14]


Manakah lebih besar bagi Adam, kebaikan Allah atau tuntutan Allah? Bukankah Allah telah memberikan seluruh taman Eden sebagai bukti kebaikan-Nya bagi Adam, sedangkan tuntutan-Nya hanyalah satu pohon saja? Maka, kesalehan sejati seorang manusia dalam persekutuannya dengan Allah, tidak didasarkan semata-mata karena ketakutannya akan penghukuman Allah. Tidaklah dibenarkan bagi seseorang, untuk mematuhi Allah hanya karena takut penghukuman-Nya, hal tersebut bukanlah cara relasi manusia dengan Allah yang benar. Untuk mendefinisikan kesalehan hidup manusia yang benar di hadapan Allah, John Calvin mengatakan kesalehan sebagai, “Penghormatan yang disertai kasih akan Allah yang timbul oleh pengetahuan akan kebaikan-Nya.”

4)   Mandat Budaya
 Dalam peranan fungsional manusia yang diciptakan dalam gambar Allah, manusia memiliki peran yang penting, yaitu untuk membudidayakan seluruh alam semesta ciptaan Allah. Hal tersebut terlihat melalui perkataan Allah yang pertama kepada manusia setelah Ia menciptakannya. Allah berkata, “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.”

Firman-Nya yang pertama kali dinyatakan kepada manusia saat itu sesungguhnya menjelaskan tujuan keberadaan manusia di bumi, yaitu untuk berkuasa dan menaklukkan bumi. Perintah Allah bagi manusia untuk menggenapi tujuan mulia tersebut disebut mandat budaya. Dalam seluruh Alkitab, hanya terdapat dua mandat dari Allah bagi manusia, yaitu mandat budaya dan mandat rohani/Injil. Mandat budaya adalah membudidayakan seluruh alam semesta ciptaan Allah bagi kemuliaan Allah. Sedangkan mandat rohani atau mandat Injil adalah perintah untuk memberitakan Injil ke seluruh dunia (Mat. 28:19-20).

Henry Meeter menyatakan bahwa, “Kamus mendefinisikan kebudayaan sebagai tindakan mengolah atau mengembangkan, atau keadaan setelah dikembangkan.”[17] Orang-orang yang tidak bertanggungjawab, menafsirkan mandat budaya sebagai upaya eksploitasi alam secara besar-besaran dan semena-mena. Tetapi bukanlah itu yang dimaksudkan. H. Henry Meeter menambahkan, “Setelah mengembangkan semua itu, manusia harus meletakkan segenap produk kebudayaannya, seluruh ciptaan, di bawah kaki Dia yang adalah Raja atas manusia dan atas alam.”[18]

Dengan demikian, menjadi jelas, bahwa mandat budaya bukanlah perintah eksploitasi alam besar-besaran secara tidak bertanggung jawab. Melainkan sebagai tugas jabatan pengelola (Manager) yang berada di bawah otoritas Allah sendiri yang adalah Raja atas semesta. Maka, seorang Kristen harus menyadari bahwa tidaklah benar kehidupan yang menjauhkan diri dari dunia dan hanya memperhatikan hal-hal rohani seperti yang dilakukan dalam biara-biara Katolik, Buddha, dan agama-agama lainnya. Karena dengan melakukan hal yang demikian, maka seseorang tersebut akan mengabaikan mandat budaya.

Melainkan, seorang Kristen setelah percaya kepada Tuhan Yesus secara sungguh-sungguh, harus memperhatikan mandat budaya dengan lebih seksama. Pekerjaan yang ditekuni, cita-cita yang diimpikan, pendidikan yang ditempuh, dan apa pun yang dilakukan seorang beriman sebagai manusia di dunia, harus seluruhnya sesuai dengan Firman Allah, sehingga membawa kemuliaan bagi nama-Nya. Tidaklah dibenarkan untuk melakukan pekerjaan yang bertentangan dengan Firman Tuhan, begitu juga tidak dibenarkan untuk bekerja bagi diri sendiri dan bukan untuk Tuhan. Kedua sisi ini harus diperhatikan dalam menjalankan mandat budaya, yaitu pekerjaan yang ditekuni harus sesuai dengan Firman Allah, dan pekerjaan tersebut dilakukan untuk kemuliaan Allah saja.


KEADAAN MANUSIA SETELAH BERDOSA
 Dalam memahami penciptaan manusia, kita menyaksikan melalui Alkitab betapa agung dan mulia makhluk yang bernama manusia itu, karena ia adalah satu-satunya makhluk yang paling serupa dengan Allah. Tetapi kemudian, hanya satu pasal kemudian setelah Adam mendiami taman Eden, yaitu pasal 3 dinyatakan bahwa Adam dan Hawa telah melanggar perintah Allah. Dalam bagian ini tidak akan diuraikan secara mendetail mengenai si ular, mengapa mereka jatuh dalam dosa, dan bagaimana mereka bersembunyi dari Tuhan Allah. Yang akan diperhatikan hanyalah dosa dan akibat dosa tersebut.

    1)        Definisi Dosa
 Sangat berbahaya jika dosa dipahami dengan cara yang salah. Beberapa orang yang saya temui menyatakan bahwa dosa adalah membunuh, memfitnah, berzinah, dan beberapa tindakan tidak bermoral lainnya. Jika demikian halnya, banyak orang yang tidak berdosa, karena tidak semua orang membunuh, memfitnah, berzinah, dan melakukan tindakan-tindakan yang tidak bermoral di mata hukum. Kemudian karena orang merasa diri tidak berdosa, karena tidak berdosa maka tidak akan masuk neraka, karena tidak akan masuk neraka maka tidak perlu Juruselamat. Pemahaman demikian seringkali terjadi karena salah memahami dosa. Sungguh sangat berbahaya sekali!

Jika demikian, apakah perbuatan-perbuatan tersebut tidak dosa? Tentu saja dosa, yang saya maksudkan adalah dosa tidak sebatas perbuatan-perbuatan yang tidak bermoral di mata hukum. Dosa berasal dari kata Yunani ἁμαρτία (hamartia) yang artinya adalah meleset dari sasaran dan juga melanggar hukum Allah.[19] Memang terdapat beberapa definisi lain dari dosa, tetapi menurut saya, kedua definisi tersebut telah mewakili definisi lainnya. Dosa juga dalam bahasa Yunani seringkali disampaikan dalam bentuk kata lain yang sinonim dengan kata hamartia, tetapi kata ἁμαρτία (hamartia) adalah dosa dalam arti yang paling luas. Itu sebabnya doktrin dosa menggunakan istilah hamartologi.

Dari definisi tersebut, kita mengetahui bahwa dosa adalah setiap tindakan kita yang meleset dari tujuan dan perintah Allah. Maka, setiap orang yang beramal banyak, tetapi melakukannya bukan untuk kemuliaan Allah Tritunggal, adalah orang yang berbuat dosa. Karena meskipun beramal dan mengeluarkan banyak uang, tetapi tetap meleset dari tujuan Allah. Demikian juga orang-orang yang hidup saleh di dunia, tetapi tidak percaya Tuhan Yesus adalah berdosa, karena meleset dari perintah Allah untuk percaya kepada Anak Tunggal Allah. Akhirnya, Alkitab menyatakan dalam Roma 3:23, “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.”

Bertolak dari fakta Alkitab di atas, pemikiran orang-orang akan berubah menjadi karena semua orang berdosa, maka semua orang akan masuk neraka, karena semua orang masuk neraka maka semua orang butuh Juruselamat. Dengan mendefinisikan dosa dengan benar saja, sesungguhnya kita telah mampu membantu banyak orang untuk mengenal Kristus. Atau sederhananya, setiap kali kita memberitakan Injil, sebelum memberitakan Sang Juruselamat, beritakanlah dulu Sang Dosa yang merusak seluruh dunia ini. Apabila kita langsung memberitakan Sang Juruselamat tanpa memberitakan Sang Dosa, maka banyak orang akan menolak mentah-mentah, karena mereka merasa diri tidak berdosa dan tidak memerlukan Sang Juruselamat.
 
     2)        Total Depravity (Kerusakan Total)
           Total depravity atau kerusakan total adalah ajaran teologi Reformed yang mengajarkan bahwa manusia dalam dirinya telah rusak secara total karena dosa. Tidak ada lagi sesuatu yang baik dalam diri manusia. Gambar diri Allah dalam diri manusia yang meliputi tiga aspek yaitu substansi, relasional, dan fungsional telah rusak secara total. Mungkin beberapa orang bertanya, “Bukankah manusia masih bisa berbuat baik? Orang-orang yang bukan Kristen terkadang beramal lebih banyak dari orang Kristen?” Pertanyaan tersebut membuktikan orang tersebut belum mengerti definisi dosa. Dosa berarti meleset dari sasaran Allah dalam hidup ini, bukan sebatas tidak beramal. Maka, ketika seseorang beramal tetapi bukan untuk kemuliaan Allah Tritunggal, apakah hal itu perbuatan baik, atau justru hal itu merupakan dosa? Tentu saja dosa! Karena dengan ia tidak melakukan segala sesuatu bagi kemuliaan Allah, ia telah meleset dari sasaran Allah. Meleset dari sasaran Allah tersebut yang disebut dosa!

Semua manusia yang pernah saya temui, selalu mampu berbuat baik di mata manusia. Maka orang-orang sering menyatakan, “Setiap manusia itu memiliki sisi baik dan buruk.” Tetapi tidak demikian di mata Allah. Apa yang dimaksud dengan “total depravity” adalah ajaran bahwa manusia tidak mampu lagi berbuat baik di mata Allah, bukan di mata manusia. Pdt. G. J. Baan mengatakan bahwa ketidakberdayaan manusia untuk melakukan apa yang baik tersebut sering diacu dengan kata kerusakan.[20] Maka kebanyakan teolog menyebutnya sebagai “kerusakan total” atau “total depravity”. Mari kita melihat bagaimana dosa masuk ke dalam dunia dan merusak manusia.

Sejak semula, Allah telah berfirman, “Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.”[21] Apakah kematian yang dimaksudkan? John Gill mengatakan, “Moreover, a spiritual or moral death immediately ensued; he lost his original righteousness, in which he was created; the image of God in him was deformed.”[22] (Lebih lagi, sebuah kematian rohani atau moral segera terjadi; dia kehilangan kebenarannya yang semula, yang mana ia diciptakan; Gambar Allah dalam dirinya telah berubah bentuk.)

Saya setuju dengan pandangan Gill, kematian yang dimaksudkan ketika manusia memakan buah terlarang tersebut bukanlah kematian fisik yang langsung terjadi, tetapi suatu kematian rohani yang langsung terjadi. Apabila kita melihat seluruh Alkitab, kematian tidak pernah diartikan dalam arti “musnah” tetapi selalu diartikan sebagai “terpisah”. Ketika seorang manusia mati secara fisik, artinya fisiknya terpisah dari jiwanya, tetapi bukan berarti ia musnah/menghilang seketika. Dalam bagian pertama, ketika dibahas mengenai manusia diciptakan dari debu tanah, telah saya sampaikan bahwa jiwa manusia tidak pernah diciptakan, tetapi dihembuskan langsung dari Allah, maka jiwa manusia adalah kekal dan tidak dapat musnah. Kematian yang berarti “terpisah” tersebut, apabila diartikan ke dalam situasi kematian rohani Adam dan Hawa, maka dapat dikatakan bahwa Adam dan Hawa secara rohani menjadi terpisah dari Allah.

Semenjak keterpisahan manusia dengan Allah atau kematian rohani manusia, segala sesuatu menjadi berubah. Manusia yang tadinya memancarkan kemuliaan Allah sekarang menjadi kehilangan kemuliaan Allah (Rm. 3:23). Manusia yang tadinya hidup dalam persekutuan dengan Allah, menjadi takut dan bersembunyi dari hadirat Allah (Kej. 3:8). Manusia yang tadinya berfungsi sebagai raja atas alam semesta yang diciptakan Allah, untuk mengelola dan menikmati alam, menjadi susah payah dalam mengandung bagi yang wanita, susah payah dalam mencari rezeki dari tanah bagi yang pria, dan alam sendiri terkutuk karena dosa manusia pertama (Kej. 3:16-19). Kedua kesusahan ini merupakan bukti bahwa manusia sudah tidak mungkin menjalankan mandat budaya secara sempurna, karena mandat budaya meliputi beranak cucu dan menguasai bumi. Sedangkan manusia menjadi susah untuk melahirkan dan susah untuk mengerjakan/mengelola bumi karena kutuk dosa.

3)        Mesias Yang Dijanjikan

Tetapi, terpujilah Allah dalam hikmat-Nya yang Agung! Sebelum kutuk dosa diberikan kepada manusia mulai dari Kejadian 3:16, Allah telah menjanjikan berkat yang akan menjadi jawaban bagi masa depan manusia yang suram dan tanpa harapan, yaitu janji tentang Mesias yang pertama! Kejadian 3:15, ayat tersebut adalah proto-evangelium (Injil yang pertama).

Perhatikanlah, bahwa Injil yang pertama tidak dimulai dari kitab nabi-nabi atau kitab sejarah, tetapi Injil yang pertama diberikan tepat setelah manusia jatuh ke dalam dosa, dan tepat sebelum kutuk dosa merusak masa depan manusia! Karena itulah, hanya Injil yaitu janji mengenai kedatangan Sang Mesias yang akan mengalahkan si ular tersebut, yang mampu mengatasi dosa, dan merubah masa depan manusia yang suram menjadi kembali kepada kemuliaan Allah yang semula.

ADAM MANUSIA PERTAMA
 Dalam bagian ini, kita akan melihat beberapa ayat dalam Alkitab yang menyatakan bahwa Adam adalah manusia pertama yang diciptakan Allah. Ayat-ayat tersebut adalah sebagai berikut:

1Kor 15:45
Seperti ada tertulis: “Manusia pertama, Adam menjadi makhluk yang hidup,” tetapi Adam yang akhir menjadi roh yang menghidupkan.

Kej 3:20
Manusia itu memberi nama Hawa kepada isterinya, sebab dialah yang menjadi ibu semua yang hidup.

Dalam bahasa Ibrani, kata “hidup” dari klausa “ibu semua yang hidup” menggunakan kata “hay” yang bisa diartikan manusia, atau pun keturunan. Jadi ayat itu dapat diterjemahkan, ibu dari semua manusia.

Kis 17:26
Dari satu orang saja Ia telah menjadikan semua bangsa dan umat manusia untuk mendiami seluruh muka bumi dan Ia telah menentukan musim-musim bagi mereka dan batas-batas kediaman mereka.

Ayat tersebut menjelaskan bagaimana Allah menjadikan seluruh umat manusiauntuk mendiami seluruh muka bumi. Yaitu menciptakannya melalui satu orang saja. Maka ajaran mengenai Adam adalah manusia pertama yang Tuhan ciptakan adalah ajaran yang Alkitabiah.