Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan

Senin, 23 Maret 2026

Marthen Kogoya, S.H., M.AP.: Figur Birokrat Rendah Hati dan Penyejuk di Tengah Dinamika Politik.

 

Foto Istimewa

Dalam panggung pemerintahan di Tanah Papua, nama Marthen Kogoya, S.H., M.AP. muncul sebagai simbol kepemimpinan yang memadukan kecerdasan birokrasi dengan kedalaman spiritual. Berasal dari Kondaga, Kabupaten Tolikara, perjalanan karier beliau adalah bukti nyata bahwa integritas dan kerja keras mampu membawa putra daerah menuju puncak pengabdian yang lebih luas.

Akar Kedewasaan: Rendah Hati dan Takut Akan Tuhan.

Satu hal yang paling menonjol dari sosok Marthen Kogoya adalah karakternya yang tetap membumi. Di balik jabatan strategis yang pernah dan sedang diembannya, beliau dikenal sebagai pribadi yang rendah hati. Prinsip hidupnya yang berlandaskan rasa Takut Akan Tuhan menjadikannya sosok pemimpin yang bekerja bukan untuk pujian, melainkan sebagai bentuk ibadah dan tanggung jawab moral kepada masyarakat.

Rekam Jejak Birokrasi yang Mumpuni

Pengalaman beliau dalam dunia birokrasi tidak perlu diragukan lagi. Marthen Kogoya telah melewati berbagai penugasan penting yang membentuk ketajamannya dalam memimpin:

• Kepala BKD Provinsi Papua: Dedikasi beliau dalam menata manajemen aparatur sipil negara di tingkat provinsi menunjukkan kemampuannya dalam mengelola sistem pemerintahan yang kompleks.

• Kepala Baperida Provinsi Papua Pegunungan: Kini, beliau dipercaya menakhodai Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Baperida) di provinsi baru, sebuah posisi krusial yang menentukan arah pembangunan masa depan Papua Pegunungan.

Sang Penyejuk di Tolikara: Mengawal Demokrasi dengan Damai

Salah satu ujian terbesar kepemimpinan beliau adalah saat menjabat sebagai Penjabat (Pj) Bupati Tolikara. Sebagaimana diketahui, Tolikara sering kali menjadi daerah yang rawan konflik setiap kali pesta demokrasi digelar. Namun, di bawah kepemimpinan Marthen Kogoya, Pilkada dapat berlangsung dengan aman dan terkendali.

Beliau mampu merangkul berbagai lapisan masyarakat, tokoh adat, dan tokoh agama untuk menjaga stabilitas. Pendekatan persuasif dan ketegasannya dalam menjaga netralitas birokrasi terbukti efektif meredam potensi gesekan politik yang biasanya memanas.

Kesimpulan

Marthen Kogoya, S.H., M.Ap. adalah potret pemimpin masa kini yang dibutuhkan Papua. Beliau adalah kombinasi antara keahlian administratif, pengalaman lapangan, dan karakter yang kuat. Dari Kondaga untuk Papua, beliau terus melangkah dengan visi besar untuk membawa perubahan dan kedamaian bagi masyarakat.


Penulis

Yugwa Nen

Kamis, 26 Februari 2026

Mengenang Sang "Pastor Awam": Trilogi Buku Thom Beanal Resmi Diluncurkan di Jayapura.


Foto Istimewa : Markus Haluk, Penulis Buku

JAYAPURA, Sulhit. com – Semangat perjuangan dan keteladanan mendiang Thom Beanal kembali bergema di Tanah Papua. Bertepatan dengan peringatan 27 tahun pertemuan bersejarah Tim 100 dengan Presiden BJ Habibie, sebuah trilogi buku berjudul “Thom Beanal: Pastor Awam, Kepala Suku dan Bapak Bangsa Papua” resmi diluncurkan dan dibedah di Jayapura, Kamis (26/2/2026).

Acara yang berlangsung khidmat ini dihadiri oleh berbagai lapisan masyarakat, mulai dari tokoh adat, pimpinan gereja, akademisi, aktivis HAM, hingga generasi muda Papua. Kehadiran mereka menjadi bukti bahwa figur Thom Beanal tetap menjadi kompas moral dan politik bagi rakyat Papua meski ia telah tiada.

Trilogi buku ini mengabadikan perjalanan hidup Thom Beanal dalam lima dimensi utama: gereja, adat, politik, LSM, dan perjuangannya menghadapi korporasi global di Freeport. Markus Haluk, mewakili tim penulis, menegaskan bahwa karya ini adalah upaya melawan lupa.

"Buku ini adalah dokumentasi atas dedikasi almarhum yang tak kenal lelah. Kami juga menyerukan agar semangat perdamaian yang diusung Thom Beanal dihormati dengan penghentian pendekatan militerisme di tanah ini," ujar Markus saat menyerahkan buku secara simbolis kepada pihak keluarga.

Dalam sesi bedah buku, RD Yosep Ikikitaro menyoroti sisi spiritualitas Thom sebagai "Pastor Awam" (diakon permanen). Ia menyebut Thom sebagai model pemimpin yang membawa nilai spiritualitas "dari altar ke pasar"—menerjemahkan iman menjadi aksi nyata dalam memperjuangkan keadilan bagi sesama.

Sebagai tokoh adat, Thom Beanal dikenal melalui pendirian Lembaga Musyawarah Adat Suku Amungme (LEMASA). Wenan Watori dan panelis lainnya menggambarkan Thom sebagai sosok pemimpin Melanesia tulen yang menjunjung tinggi kejujuran dan kesetiaan pada akar budaya.

“Beliau adalah bukti bahwa pemimpin besar tidak harus berteriak. Kerendahhatiannya justru menjadi otoritas yang diakui kawan maupun lawan,” ungkap salah satu pembedah. Muncul pula usulan kuat dalam diskusi tersebut untuk mendirikan Sekolah Kepemimpinan Adat Melanesia guna melahirkan "Thom-Thom muda" di masa depan.

Di ranah politik dan HAM, nama Thom Beanal tak terpisahkan dari sejarah Presidium Dewan Papua (PDP) dan Tim 100. Aktivis HAM Anum Siregar dan mantan anggota komisioner Komnas HAM Fritz Ramandey menekankan kecerdasan Thom dalam memanfaatkan kanal hukum internasional, termasuk gugatan hukum terhadap Freeport di Amerika Serikat.

Meskipun menjadi motor penggerak aspirasi Papua, Thom dikenang sebagai sosok moderat yang mengutamakan dialog kolektif. Florensius Beanal, mewakili keluarga, memberikan kesaksian menyentuh tentang sifat pemaaf almarhum."

Bapa lebih banyak memberi teladan daripada nasihat. Beliau tidak pernah menuntut permintaan maaf, melainkan selalu mengedepankan rekonsiliasi," Kenang Florensius.

Diskusi yang berlangsung dinamis ini juga menghasilkan beberapa rekomendasi penting, di antaranya:

 Pertama, Sistematisasi Sejarah: Perlunya pendokumentasian sejarah perjuangan Papua agar tidak hilang ditelan zaman.

 Kedua, Kalender Sejarah: Penetapan hari-hari bersejarah bagi rakyat Papua sebagai bentuk penghormatan kolektif.

 Ketiga, Persatuan Bangsa: Evaluasi dan penguatan persatuan di antara organisasi politik Papua serta perlunya jilid keempat buku untuk melengkapi nilai-nilai perjuangan Thom Beanal.

Akademisi Dr. Budi Hernawan, yang hadir secara daring, mengajak publik untuk tidak sekadar mengenang Thom sebagai figur masa lalu. "Tugas kita adalah menghidupkan kembali semangatnya hari ini," tegasnya.

Acara ditutup dengan haru lewat lantunan lagu "Tanah Papua" dan doa bersama. Sebuah pesan kuat ditinggalkan oleh para peserta: perjuangan untuk martabat dan keadilan akan terus berlanjut, dipandu oleh jejak kaki yang telah ditinggalkan sang Bapak Bangsa.


Kamis, 16 Februari 2023

Pasangan Yang Saling Berpelukan Dalam Pelukan Cinta Selama 3.500 Tahun

Sumber : Ancien Archaeology  Secrect

Ilmu pengetahuan modern membuka rahasia pasangan yang saling berpelukan dalam pelukan cinta selama 3.500 tahun.

 Gambar-gambar menarik ini menunjukkan penguburan kuno di desa Staryi Tartas, di wilayah Novosibirsk, tempat para ilmuwan mempelajari sekitar 600 makam.

Lusinan berisi tulang pasangan, saling berhadapan, beberapa dengan tangan mereka disatukan seolah-olah untuk selama-lamanya.

 Ada teori bahwa pada kematian pria itu, istrinya dikorbankan dan dikuburkan bersamanya untuk anak cucu sebagai tindakan keintiman.

 Atau, seperti yang dikatakan Klein, dapatkah seorang wanita muda dikorbankan untuk tujuan ini, digunakan untuk memenuhi bagian kewanitaan dalam ritual ini?

 Profesor Molodin tidak mengesampingkan versi ini, namun menjelaskan bahwa ini hanyalah sebuah hipotesis.

 Sekali lagi itu adalah sugesti. Sebagai saran, bisa saja. Gagasan tentang Klein ini juga dapat diperluas ke Siberia, karena sebagian besar peneliti berpendapat bahwa orang Andronovo adalah orang Iran.

 'Jadi hipotesis ini dapat diperluas ke mereka. Tapi, saya ulangi, itu hanya hipotesis.'

 Di sana dia mengatakan 'jumlah yang bagus' dari kuburan pasangan ini. 'Jumlahnya mengesankan.

 Lebih dari itu, kita melihat beberapa fakta menarik. Untuk budaya Andronovo, kremasi lebih khas, dan di sini kita bisa melihat kombinasi yang menarik seperti kremasi dan inhumasi dalam satu penguburan. Mengapa demikian?

 'Ada versi bahwa mereka tidak hanya menuangkan abunya ke dalam kuburan, tetapi membuat boneka dan menaruh abunya di dalamnya. Tapi kita tidak bisa mengatakan dengan pasti.

 'Ada juga penguburan dengan hanya beberapa jenazah yang dikremasi. Jadi lebih rumit daripada Mereka saling mencintai dan mati dalam satu hari. 


Sumber : Ancien Archaeology  Secrets


Kamis, 29 April 2021

PEMERINTAH INDONESIA GAGAL MENDEKATI ORANG ASLI PAPUA


Ilustrasi  Sikap dan Tindakan Orang Indonesia 
Terhadap Orang  Asli Papua

Oleh : Jazwan W. Yanengga

Pemerintah Indonesia sudah sekian tahun numpang tinggal di pulau Papua bersama Orang Asli Papua, tapi gagal mengambil hati Orang Asli Papua dan Mengindonesiakan orang Papua.

Sebelum pulau Papua aneksasi ke Indonesia, Pulau Papua sudah punya Negera sendiri diproklamasikan pada tanggal 1 Desember tahun 1961.

Soeharto pernah berkata bahwa bubarkan negara boneka pembentukan Belanda, secara tidak sadar beliau mengakui negara West Papua.

 Indonesia lebih cenderung melihat kekayaan alam daripada manusianya, pemimpin-pemimpin besar Indonesia dari tahun ke tahun menanam Investasi di tanah Papua tanpa memperdayakan putra-putri asli Papua. Dari Pandangan Orang Indonesia tanah ini tanpa tuan sehingga semua keputusan diputuskan menurut kehendak mereka sendiri tanpa keterlibatan Orang Asli Papua dan tanpa pertimbangan dampak positif dan negatif yang akan terjadi di masa kini, dan akan datang terhadap Orang Asli Papua sebagai ahli waris di atas Tanah ini.

Jika Orang Indonesia datang di Papua ini kerena peduli dengan manusia maka, Papua itu maju dengan cepat seperti daerah-daerah lain di Indonesia. Tetepi mereka punya visi lain-lain sehingga tidak ada perubahan yang signifikan terhadap orang asli Papua. Orang Asli Papua punya bukti bahwa, ketika orang tua kita dulu mengajar dari orang belanda kemajuannya lebih cepat daripada sekarang ini.

Stigma orang Indonesia terhadap Orang Asli Papua, Bodoh, terbelakang, kaki telanjang, ketinggalan zaman masih tertanam dalam pikiran orang Indonesia. 

Bukti dari itu tidak ada Orang Asli Papua yang bisa kerja di Indonesia, jangankan pekerjaan besar tukang sapu saja tidak ada, karena stigma itu terus di kembangkan oleh Indonesia dari generasi ke generasi.

Saya pernah ditanya oleh orang Indonesia melalui akun Twitter saya, Abang di Kota Merauke ada lampu atau tidak,? Kemudian saya jawab anda baru bangkit dari kuburan mana, Merauke itu kota tertua sebelum Papua aneksasi ke Indonesia, Merauke sudah ada pelabuhan, bandara, Penerangan, Pertanian sudah dibangun oleh pemerintah Belanda.

Anehnya pada zaman yang sudah canggih seperti sekarang ini stigma itu masih tertanam dalam pemikiran mereka, bisa lihat di Google earth, maps saja masih masih tanya-tanya dengan pertanyaan yang tidak berbobot.


Negara Indonesia punya target untuk menghilangkan nyawa orang Papua satu- persatu secara sistematik dan terstruktur. Maka siapapun anda dan saya, dari Gubernur, Bupati, Camat, ASN, Kepala Kampung, DPR, TNI, Polri, semua tidak pandang bulu, kita semua ada dalam penjara Indonesia ( Dr. Benny Giyai)

Trauma Orang Asli Papua pada tahun 1977 dalam Operasi Militer di Papua itu masih ada sampai sekarang, sehingga orang-orang tua selalu cerita kepada anak-anak maka sampai kapanpun tidak bisa lupa kecuali kalau sudah merebut kembali kemerdekaan Bangsa Papua Barat dari tangan kolonial Indonesia.

Sejarah tidak pernah tipu, yang memputar balikan fakta itu manusia sendiri, maka Ideologi Papua merdeka sejak lahir sudah tertanam dalam tubuh, jiwa dan Roh Orang Papua itu sendiri, ketika melihat terjadi intimidasi, pembunuhan terhadap orang asli Papua yang tak bersalah, komerkosaan, penjarahan karena menuntut keadilan atas hukum, hak hidup, hak berekspresi diatas negeri sendiri maka semangat perlawanan itu terus bertumbuh dan berkobar pada generasi muda Papua.

Pemerintah Indonesia memberikan level TPNPB menjadi KKB dan kini menjadi teroris tapi pelebelan itu tidak akan pernah menyelesaikan masalah di atas tanah Papua ini, sebelum melihat akar persoalan Papua yang sebenarnya yaitu, Pepera 1962 dibawa tekanan militer dan pelanggaran HAM berat yang terjadi sejak Pepera sampai hari ini.

Alangkah baiknya pemerintah Indonesia melihat beberapa akar persoalan Papua untuk mencari solusi untuk perdamaian di Tanah Papua ini.


Jumat, 04 Mei 2012