Minggu, 22 Februari 2026
Minggu, 15 Februari 2026
Memberi Dengan Sukacita Meraih Kemenangan
Sabtu, 14 Februari 2026
PUISI : PERAYAAN HUT GIDI KE-63Th 12 Februari 2026
Foto : Istimewah
Spirit Penginjilan Gereja GIDI
Oleh : Yosua Noak Douw
Dari gunung yang sunyi,
dari lembah yang sepi,
lahirlah sebuah iman
yang tidak ditulis oleh tinta,
tetapi oleh air mata doa.
Bukan dari kota besar,
bukan dari bangunan megah,
melainkan dari hati yang sederhana
yang mengenal Tuhan
lebih dalam dari siapa pun.
Mereka tidak punya banyak kata,
tidak punya gelar,
tidak punya kemewahan.
Hanya satu yang mereka punya:
iman… yang menyala.
Mereka bertanya,
“Apakah masih ada orang di balik gunung?”
Dan ketika jawabannya: “Ada,”
mereka tidak menunggu,
mereka tidak ragu,
mereka pergi.
Mereka berjalan jauh,
melewati hutan,
mendaki gunung,
menyeberangi sungai,
membawa Injil
di dalam hati mereka.
GIDI lahir bukan dari rencana manusia,
tetapi dari panggilan Allah.
Bertumbuh bukan karena kekuatan,
tetapi karena kesetiaan.
Di sana,
orang-orang sederhana berkata:
“Kami berdiri sendiri.”
Bukan karena sombong,
tetapi karena yakin—
Tuhan yang memanggil,
Tuhan yang memimpin,
Tuhan yang menyertai.
Hari demi hari,
tahun demi tahun,
Injil terus berjalan.
Dari pedalaman,
ke pesisir,
dari Papua,
ke seluruh Indonesia,
bahkan sampai ke bangsa-bangsa.
GIDI bukan sekadar gereja.
Ia adalah langkah iman.
Ia adalah perjalanan kasih.
Ia adalah saksi
bahwa Tuhan bekerja
melalui orang-orang sederhana.
Enam puluh tiga tahun…
bukan waktu yang singkat.
Ada air mata.
Ada luka.
Ada pengorbanan.
Ada sukacita.
Namun satu yang tidak berubah:
Injil tetap diberitakan.
Doa tetap dinaikkan.
Tuhan tetap disembah.
Hai generasi hari ini,
dengarlah suara para perintis:
Jangan padamkan api itu.
Jangan tinggalkan panggilan itu.
Jangan tukar iman
dengan kenyamanan.
Jadilah seperti labu
yang terus merambat,
dipetik—tetapi hidup,
dihambat—tetapi bertumbuh.
Karena gereja ini
bukan milik manusia.
Gereja ini milik Kristus.
Dialah Kepala.
Dialah Penuntun.
Dialah Penjaga.
Selama Injil diberitakan,
gereja akan hidup.
Selama doa dinaikkan,
Tuhan akan bekerja.
Selama Yesus di tengah pelayanan,
GIDI tidak akan pernah hilang arah.
Hari ini,
dan sampai nanti,
dari generasi ke generasi,
biarlah satu hal tetap tinggal:
iman yang sederhana,
kasih yang nyata,
dan keberanian
untuk memberitakan Kristus.
Selamat ulang tahun, GIDI.
Engkau bukan hanya gereja,
engkau adalah rumah iman.
Engkau bukan hanya sejarah,
engkau adalah panggilan.
Dan selama Tuhan Yesus hidup,
GIDI… akan terus hidup.
Amin.
Minggu, 04 Februari 2024
Menjaga Hati
Bacaan: AMSAL 4:23
Bacaan Setahun: Imamat 11-13
Nas: Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari sanalah terpancar kehidupan. (Amsal 4:23)
Menjaga Hati
Sejak menempati rumah baru, kami mendapati baju seragam putih anak-anak kami kusam, tidak putih bersinar, bak mandi lebih cepat kuning dan lantai kamar mandi lekas berlumut. Belakangan baru diketahui hal tersebut disebabkan oleh kualitas air tanah yang tidak baik, berwarna, dan berbau karat. Akhirnya, kami memasang alat pengolah air. Meskipun hasilnya tidak maksimal, sedikit banyak telah mengurangi dampak air tanah yang kualitasnya buruk. Kualitas air yang buruk berdampak buruk pula bagi beberapa hal di rumah.
Hati ibarat sumber air yang harus dijaga dengan baik seperti kata firman Tuhan. Tuhan memerintahkan kita menjaga hati di atas segalanya. Hati adalah pusat kehidupan yang menentukan jalan hidup kita. Hati penuh dosa menggerakkan tubuh kepada tindakan dosa. Hati yang bersih membawa kepada kehidupan yang berharga. Kita dapat menjaga hati kita dengan cara: memenuhi pikiran kita dengan firman Tuhan, taat kepada Allah dan melawan iblis (Yak 4:7). Begitu seriusnya dampak dari hati, demikian pula kita harus menjaganya dengan serius.
Penuhilah hati kita dengan kebenaran firman Tuhan setiap hari. Penuhilah hati dengan pengaruh dari komunitas yang benar. Hati yang penuh firman Tuhan akan membawa kehidupan kita penuh dengan syukur, mengampuni, mengasihi, melayani Tuhan dan sesama dengan ketulusan. Komunitas yang benar menolong kita belajar memiliki hati yang terarah kepada kebenaran firman Tuhan.
Sumber : --AWS/www.renunganharian.net
BEGITU SERIUSNYA DAMPAK SEBUAH HATI,
SERIUS PULA KITA HARUS MENJAGANYA."
Kamis, 01 Februari 2024
Pelayanan Menyeluruh
![]() |
| Ilustrasi Memberi Makan |
Bacaan: LUKAS 9:10-17
Bacaan Setahun: Keluaran 28-29
Nas: Tetapi, Ia berkata kepada mereka, "Kamu harus memberi mereka makan!" (Lukas 9:13)
Pelayanan Menyeluruh
Terkadang ada orang yang memahami bahwa pelayanan adalah hanya sesuatu yang berhubungan dengan kegiatan-kegiatan rohani di gereja maupun persekutuan. Pelayanan hanya terbatas, seperti, menjadi pembawa renungan, pemimpin pemahaman Alkitab, pemimpin pujian, pemusik ibadah, dan pendoa syafaat. Hanya itukah sebuah pelayanan?
Ketika orang banyak terus mengikuti Yesus, Dia tetap melayani mereka dengan menyampaikan berita tentang Kerajaan Allah dan menyembuhkan orang-orang yang sakit. Menjelang malam murid-murid-Nya meminta Yesus menyuruh orang banyak pergi agar dapat mencari tempat menginap dan makan. Tetapi alangkah terkejutnya para murid ketika Yesus mengatakan bahwa mereka harus memberi makan orang banyak itu. Para murid mungkin berpikir bahwa memberi makan bukanlah menjadi tanggung jawab mereka sebagai pelayan. Yesus mengajarkan kepada murid-murid-Nya suatu tanggung jawab pelayanan yang lebih luas dan menyeluruh. Sebab, ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu menjenguk Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku (Mat. 25:35-36).
Ketika melihat di sekitar kita, ada banyak sekali pelayanan yang bisa kita lakukan bagi Tuhan dengan mengasihi dan menolong sesama. Ada orang-orang yang mungkin lapar, haus, telanjang, sakit, dipenjara, dan tidak punya tempat tinggal, mari kita mengambil bagian, melayani dengan menolong dan meringankan beban mereka.
Sumber : ANT/www.renunganharian.net
Selasa, 30 Januari 2024
Kelangkaan Kasih di Dunia
Kelangkaan Kasih
Bacaan: KISAH PARA RASUL 9:36-43
Bacaan Setahun: Keluaran 36-38
Nas: Berkemaslah Petrus dan berangkat bersama mereka. Setibanya di sana, ia dibawa ke ruang atas. Semua janda datang berdiri dekatnya dan sambil menangis mereka menunjukkan kepadanya baju-baju dan pakaian yang dibuat Dorkas waktu ia masih bersama mereka. (Kisah Para Rasul 9:39).
Apakah yang langka di dunia ini? Mungkin terpikir oleh kita hewan-hewan yang hampir punah, seperti orangutan, vaquita (sejenis lumba-lumba) dan saola (sejenis sapi). Atau tumbuhan seperti raflesia, acung jangkung, dan rotan inun. Atau sumber daya alam seperti batu bara dan minyak bumi. Benar, memang semuanya itu langka. Namun, ada satu lagi yang kerap tidak kita sadari. Apakah itu? Kasih!
Sewajarnya jika manusia yang hidup di dunia ini mati. Namun, saat kematian terjadi pada Dorkas, orang-orang di Yope bertindak tidak wajar. Dua orang diutus kepada Petrus dengan permintaan, "Segeralah datang ke tempat kami" (ay. 38). Kebetulan Petrus berada di Lida, tidak jauh dari Yope. Begitu Petrus tiba di situ, datang semua janda berdiri dekatnya dan menangis (ay. 39). Terlihat hati tidak rela ditinggal mati oleh perempuan itu. Seakan mereka semua berkata kepada Petrus, "Tolong lakukan sesuatu untuk kami!" Dapat dimengerti mereka bertindak demikian karena selama hidupnya Dorkas telah melakukan hal yang langka. Ia menabur kasih dengan banyak sekali berbuat kebaikan dan memberi sedekah (ay. 36). Bagi para janda yang mayoritas ialah kaum papa, Dorkas membuatkan baju dan pakaian.
Banyak orang mengaku sebagai anak Tuhan, tetapi kehilangan kasih. Sungguh menyedihkan mengetahui kasih ternyata langka mengingat anak Tuhan dikenal sebagai pembawa kasih. Rindukah kita membalik kenyataan ini? Rindukah kita mengubah "langka" menjadi "limpah"? Sekiranya ya, maka mulai hari ini mari menabur kasih dalam kehidupan sehari-hari. Perbuatlah kebaikan dan tunjukkan kemurahan hati. Hiburkan mereka yang susah, topanglah mereka yang lemah, bantulah mereka yang menderita.
Ayat Alkitab: KISAH PARA RASUL 9:36-43
9:36 Di Yope ada seorang murid perempuan bernama Tabita--dalam bahasa Yunani Dorkas. Perempuan itu banyak sekali berbuat baik dan memberi sedekah.
9:37 Tetapi pada waktu itu ia sakit lalu meninggal. Dan setelah dimandikan, mayatnya dibaringkan di ruang atas.
9:38 Lida dekat dengan Yope. Ketika murid-murid mendengar, bahwa Petrus ada di Lida, mereka menyuruh dua orang kepadanya dengan permintaan: "Segeralah datang ke tempat kami."
9:39 Maka berkemaslah Petrus dan berangkat bersama-sama dengan mereka. Setelah sampai di sana, ia dibawa ke ruang atas dan semua janda datang berdiri dekatnya dan sambil menangis mereka menunjukkan kepadanya semua baju dan pakaian, yang dibuat Dorkas waktu ia masih hidup.
9:40 Tetapi Petrus menyuruh mereka semua keluar, lalu ia berlutut dan berdoa. Kemudian ia berpaling ke mayat itu dan berkata: "Tabita, bangkitlah!" Lalu Tabita membuka matanya dan ketika melihat Petrus, ia bangun lalu duduk.
9:41 Petrus memegang tangannya dan membantu dia berdiri. Kemudian ia memanggil orang-orang kudus beserta janda-janda, lalu menunjukkan kepada mereka, bahwa perempuan itu hidup.
9:42 Peristiwa itu tersiar di seluruh Yope dan banyak orang menjadi percaya kepada Tuhan.
9:43 Kemudian dari pada itu Petrus tinggal beberapa hari di Yope, di rumah seorang yang bernama Simon, seorang penyamak kulit."
Sumber : www.renunganharian.net
Senin, 29 Januari 2024
Ketaatan dan Menjatuhkan Hukuman
![]() |
| Ilustrasi Menjatuhkan Hukuman |
Bacaan: IBRANI 8
Bacaan Setahun: Keluaran 33-35
Nas: Ketika Ia berkata-kata tentang perjanjian yang baru, Ia menyatakan yang pertama sebagai perjanjian yang telah menjadi tua. Apa yang telah menjadi tua dan usang, akan segera lenyap. (Ibrani 8:13)
Sudah Usang
Dulu kita menggunakan telepon rumah, telepon umum, atau pergi ke wartel untuk menelepon. Kini, kebanyakan orang menggenggam telepon di tangannya masing-masing. Kita hidup dengan teknologi yang lebih baru. Perangkat kuno tadi sudah ketinggalan zaman, sudah usang.
Perjanjian Baru jauh lebih agung daripada Perjanjian Lama, yang menuntut ketaatan sempurna dari orang-orang yang tidak sempurna. Dalam Perjanjian Baru, Yesus sebagai Imam Besar mempersembahkan persembahan yang sempurna. Melalui ketaatan-Nya, orang-orang yang percaya kepada-Nya mendapatkan pembenaran.
Allah juga menuliskan hukum-Nya dalam akal budi dan hati orang percaya (ay. 10). Menurut Yeremia 31:34, hukum ini membuat orang mengenal Allah tanpa perlu diajari oleh orang lain. Nubuatan ini mengacu pada "hukum Roh yang memberi hidup" (Rm. 8:2). Roh Kuduslah yang mengajarkan segala sesuatu kepada kita (Yoh. 14:26). Kita tidak lagi diatur oleh hukum yang tertulis pada loh batu, tetapi dipimpin oleh Roh Kudus yang tinggal di dalam hati kita.
Martin Luther menggambarkan perbedaan antara Perjanjian Lama dan Baru sebagai berikut, "Hukum Taurat berkata, 'Lakukan hal ini, ' dan hal tersebut tidak pernah terlaksana. Anugerah berkata, 'Percayalah akan hal ini, ' dan segala sesuatunya sudah diselesaikan." Apakah kita menjalani hidup ini dengan cara lama-mengandalkan ketaatan pribadi pada aturan-aturan agamawi-ataukah dengan cara baru-mengandalkan anugerah dan pimpinan Roh Kudus?
Sumber : ARS/www.renunganharian.net
* * *
HUKUM TAURAT MENUNTUT KETAATAN DAN MENJATUHKAN HUKUMAN,
ROH KUDUS MEMBERIKAN HIDUP DAN MENYEDIAKAN KEMERDEKAAN"
Senin, 30 Agustus 2021
PENGANIAYAAN YANG BERBALIK
![]() |
Ilustrasi-penganiayaan-terhadap-seorang-pria |
Bacaan: 1Petrus 2:18-25NATS: Kristus pun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya (1Petrus 2:21)
Rabu, 31 Maret 2021
Apa yang Begitu Baik tentang Jumat Agung?
Bagi orang Kristen, Jumat Agung adalah sebuah hari yang sangat penting dalam setahun karena merayakan apa yang kita percayai sebagai minggu yang paling penting dalam sejarah dunia. Sejak Yesus mati dan bangkit, orang Kristen memproklamirkan salib dan kebangkitan Yesus sebagai titik balik yang menentukan bagi semua ciptaan. Paulus menganggapnya sebagai "yang terpenting" bahwa Yesus mati untuk dosa kita, dikuburkan, dan bangkit pada hari yang ketiga, semua sesuai dengan yang Allah janjikan di seluruh Kitab Suci (1 Korintus 15:3).
Pada hari Jumat Agung, kita mengingat hari ketika Yesus rela menderita dan mati disalibkan sebagai korban terbesar untuk dosa-dosa kita (1 Yohanes 1:10). Dilanjutkan dengan Paskah, perayaan mulia akan hari ketika Yesus dibangkitkan dari antara orang mati, menggembar-gemborkan kemenangan-Nya atas dosa dan kematian, dan menunjukkan kebangkitan pada masa yang akan datang bagi semua yang dipersatukan dengan-Nya dalam iman (Roma 6:5).
Arti Sebutan "Jumat Agung"
Tetap saja, mengapa kita menyebut hari kematian Yesus dengan "Jumat Agung", bukannya "Jumat Buruk" atau sesuatu yang mirip semacam itu? Tradisi Kristen melakukan pendekatan ini: di Jerman misalnya, hari itu disebut Karfreitag, atau "Jumat Penuh Sengsara." Dalam Bahasa Inggris, sesungguhnya, istilah asli "Agung" diperdebatkan: beberapa orang yakin itu dikembangkan dari sebutan yang ada sebelumnya, "Jumat milik Allah." Terlepas dari asal-usulnya, sebutan Jumat Baik sepenuhnya tepat karena kesengsaraan dan kematian Yesus, yang memang mengerikan, melambangkan puncak rencana Allah yang dramatis untuk menyelamatkan umat-Nya dari dosa-dosa mereka.
Rencana Penebusan Allah
Agar kita bisa memaknai kabar baik Injil, pertama-tama kita harus mengerti kabar buruk tentang kondisi kita sebagai orang berdosa yang ada di bawah kutukan. Kabar baik tentang pembebasan hanya masuk akal begitu kita melihat betapa terbelenggunya kita. Cara lain untuk mengatakan ini adalah penting untuk mengerti dan membedakan antara hukum Taurat dan Injil dalam Kitab Suci. Kita membutuhkan hukum Taurat terlebih dahulu untuk menunjukkan betapa tidak berdayanya kondisi kita; kemudian Injil anugerah Yesus datang dan membawa kelepasan dan keselamatan bagi kita.
Demikian juga, Jumat Agung adalah "agung" karena sama seperti mengerikannya hari itu, kengerian itulah yang seharusnya kita alami agar menerima sukacita Paskah. Murka Allah atas dosa harus ditumpahkan kepada Yesus, korban pengganti yang sempurna, agar pengampunan dan keselamatan dicurahkan untuk bangsa-bangsa. Tanpa hari yang sangat mengerikan dari penderitaan, kedukaan, dan darah yang tercurah di kayu salib, Allah tidak akan menjadi "benar dan juga Pembenar" bagi mereka yang percaya kepada Yesus (Roma 3:26). Paradoksnya, hari yang tampaknya menjadi kemenangan iblis yang terbesar, sebenarnya adalah pukulan maut dalam rencana baik Allah yang mulia untuk menebus dunia dari perbudakan dosa.
Kebenaran Sejajar dengan Belas Kasihan
Salib adalah tempat kita melihat perjumpaan antara penderitaan dahsyat dan pengampunan Allah. Mazmur 85:10 menyanyikan sebuah hari ketika "kebenaran dan damai sejahtera" akan "bercium-ciuman". Salib Yesus adalah tempat di mana itu terjadi, syarat Allah, kebenaran-Nya, setara dengan belas kasihan-Nya. Kita menerima pengampunan, belas kasihan, dan damai sejahtera ilahi karena Yesus rela menggantikan hukuman Allah atas kita karena kebenaran Allah bertentangan dengan dosa. "Demi sukacita yang ditetapkan bagi-Nya" (Ibrani 12:2) Yesus menanggung salib pada hari Jumat Agung, tahu bahwa itu akan menuju kepada kebangkitan-Nya, keselamatan kita, dan awal pemerintahan Allah atas kebenaran dan damai sejahtera.
Sebuah Doa Jumat Agung
Hari ini, ya Tuhan, aku mohon agar Engkau mengajarku untuk berduka. Jangan biarkan aku terburu-buru untuk mengalami Paskah pada hari Minggu terlalu cepat. Berikanku anugerah untuk tetap tinggal di sana, di tempat kedukaan bertemu dengan penebusan. Jadikan kematian-Mu sangat nyata bagiku seperti kebangkitan-Mu. Biarlah aku selalu dekat ke salib.
Saat aku menanti di kaki salib, ya Tuhan, singkapkan sekali lagi kepadaku betapa mahalnya harga yang harus dibayar karena dosa-dosaku. Jangan biarkan aku hidup dalam dunia khayalan yang akhir bahagia Paskah membuat keegoisanku menyimpang. Ingatkan aku bahwa anugerah-Mu yang sempurna diperoleh dengan harga yang termahal. Ampuni aku ada masa-masa ketika aku hidup seakan-akan dosa bukanlah sesuatu yang serius, seakan-akan Jumat Baik tidak pernah benar-benar terjadi.
Penuhi aku dengan sukacita dan dukacita, rasa takut dan rasa syukur yang hadir sebelum penguburan Jumat Agung: sukacita karena kemenangan-Mu, dukacita karena kematian-Mu, rasa takut karena kekudusan-Mu, rasa syukur karena anugerah-Mu. Jangan biarkan aku hanya menempatkan salah satu dari emosi-emosi itu dengan mengurbankan yang lain. Beri aku hati yang cukup besar untuk memegang semuanya dengan erat. Jadikanku cukup berani untuk mengejar kebenaran yang benar-benar sejati, bukan hanya kebenaran yang sesuai dengan keinginanku.
Sumber : Wanita Sabda. org
Minggu, 05 Juli 2020
Mengenal Tuhan Yang Benar
- Hosea 6:1-6
- Ayat Nast 6:3
- Tema : "MENGENAL TUHAN YANG BENAR"
Minggu, 28 Juni 2020
Penderitaan Kristus Menjadi Teladan
![]() |
Oleh : Pdt. Thomas Wenda, S. Th Gembala Jemaat GIDI Anugerah Manado |
Minggu, 21 Juni 2020
Pertobatan Sejati
Senin, 01 Juni 2020
Sukacita Iman atau Rohaniah Yang Melimpah Bag. Kedua
Minggu, 31 Mei 2020
Sukacita Iman atau Rohaniah Yang Melimpah | Bag. Pertama
SORGA ATAU NERAKA
Minggu, 24 Mei 2020
Kehidupan Yang Berkenan Tuhan Allah
![]() |
| Oleh :Pdt. Thomas Wenda, S.Th |
Gembala Jemaat GIDI Anugerah Manado
Kamis, 21 Mei 2020
Lebih Berguna Yesus Naik Ke Sorga
Rabu, 20 Mei 2020
MAKNA KENAIKAN YESUS KRISTUS
![]() |
| Makna Kenaikan Kristus |
Senin, 18 Mei 2020
Yesus Akan Datang Kembali
Yohanes 14:18




.jpeg)
.jpeg)














