Tampilkan postingan dengan label Relegion. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Relegion. Tampilkan semua postingan

Minggu, 22 Maret 2026

Ketua Wilayah Bogo Secara Resmi Membuka Rapat BPL Ke-XXIX Klasis Lembah Baliem, GIDI Fokus Perluas Penginjilan Dalam dan Luar Daerah


Pdt. Potias Pagawak, S. Th, Ketua Wilayah Bogo 

WAMENA, Sulhit.com – Di bawah langit Lembah Baliem yang teduh, Gereja Injili Di Indonesia (GIDI) kembali menegaskan komitmen pelayanannya melalui agenda strategis tahunan. Bertempat di GIDI Jemaat Agape Wamena, Minggu (22/03/2026).

Rapat Badan Pekerja Lengkap (BPL) Ke-XXIX tahun 2026 Klasis Lembah Baliem resmi dibuka. Sebuah momentum yang bukan sekadar seremonial, melainkan panggilan untuk "Kembali kepada Kristus" di tengah dinamika zaman.

Perhelatan besar ini dihadiri oleh tokoh-tokoh kunci, mulai dari pimpinan gereja hingga pejabat tinggi negara, termasuk Gubernur Papua Pegunungan, Dr. (HC) Jhon Tabo, M.BA, yang hadir melepas atribut kekuasaannya demi menempatkan diri sebagai anggota jemaat yang rendah hati.

Acara diawali dengan ibadah pembukaan yang khidmat, dipimpin langsung oleh Ketua Wilayah Bogo, Pdt. Potias Pagawak, S.Th. Dalam khotbahnya yang menggugah, Pdt. Pagawak membedah tema sentral: "Kembali Kepada Kristus", yang berlandaskan pada nas Alkitab Zakaria 1:3 dan Lukas 9:23.

"Mengikut Kristus berarti bersedia menyangkal diri dan memikul salib setiap hari. Rapat BPL ini bukan sekadar ajang evaluasi administratif, tetapi ruang untuk memastikan bahwa detak jantung pelayanan kita tetap selaras dengan kehendak Kristus," tegas Pdt. Pagawak di hadapan ratusan peserta BPL, Jemaat dari 24 jemaat dan Pos Penginjilan (PI) se-Klasis Lembah Baliem.

Sub-tema kegiatan kali ini menjadi kompas bagi para pimpinan: "Melalui BPL Ke-XXIX Seluruh Pimpinan Se-Klasis Lembah Baliem Mengevaluasi Kinerja Program Pelayanan Bersatu Hati serta Menjangkau Jiwa-Jiwa Bagi Kristus." Fokus utama periode ini adalah penguatan internal sebuah konsep "Memperbaiki Yerusalem" sebelum melangkah lebih jauh ke ujung bumi. Ujar Pdt. Potias Pagawak dalam khotbahnya.

Dalam sambutan pembukaannya, Pdt. Potias Pagawak menekankan visi sinergi pelayanan yang pragmatis namun visioner. Ia menggarisbawahi pentingnya penguatan basis pelayanan internal di Wilayah Bogo dan lebih Khusus Klasis Lembah Baliem sebelum melakukan ekspansi misi ke luar daerah.

Kita tidak bisa memimpikan pelayanan yang jauh jika di dalam rumah sendiri kita masih kekurangan. Strategi kita saat ini adalah memperbaiki 'Yerusalem' kita yaitu Wilayah Bogo dan khusus Klasis Lembah Baliem. Setelah internal kita kuat, barulah kita bergerak ke Mamberamo, Sumba, Kalimantan, dan daerah lainnya," jelasnya.

Menariknya, Pdt. Pagawak menyoroti kemandirian gereja yang lahir dari tradisi lokal. Beliau mengingatkan bahwa GIDI adalah gereja yang "Lahir dari Kesederhanaan". Gereja ini tidak lahir dari tumpukan modal besar. Kita lahir dari ketaatan di dalam Honai. Karena itu, sumber dana utama kita bukanlah investor, melainkan dari setiap anggota jemaat dan para kader.

Kekuatan logistik yang melibatkan hasil bumi, sayur-mayur, dan ternak dalam momentum BPL ini mengingatkan kepada kita bahwa orang tua kita dulu setelah menerima Injil mereka lakukan hal yang demikian, mereka lakukan dengan Iman tanpa mengharapkan bantuan dari siap-siap, ujar Pdt. Pagawak.

Secara pribadi dan atas nama seluruh Badan Pekerja Wilayah Bogo berikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Jemaat GIDI yang sedang membangun Gereja di beberapa tempat, dalam lingkungan Klasis Lembah Baliem ini, sebagai dukungan kami pengurus wilayah juga beberapa bulan yang lalu sudah membantu berupa materiil bagunan kepada Jemaat yang sedang membangun Gedung Gereja. 

Kita harus berani membuat masalah dalam arti positif: mulailah membangun meskipun dana terlihat kurang. Biarkan Tuhan yang melakukan bagian-Nya untuk mencukupkan, tambahnya sembari mengapresiasi bantuan material bangunan yang telah disalurkan ke berbagai jemaat yang sedang membangun Gedung Gereja.

Salah satu sorotan utama dalam laporan kepanitiaan adalah perjuangan luar biasa Jemaat Agape Wamena. Ketua Panitia, Ibu Ester Yahuli, S. Pd, menyampaikan laporan yang penuh haru. Jemaat Agape baru saja menguras energi bahkan dana untuk meresmikan gedung gereja baru pada Desember 2025 lalu. Namun, hanya dalam waktu dua bulan persiapan (Januari-Februari 2026), mereka sanggup menjadi tuan rumah BPL. Namun, kami melangkah dengan iman. Karena kami percaya bahwa Tuhan adalah sumber berkat," Sehingga Tuhan mengerahkan hati anak-anak Tuhan yaitu, para kader dan 24 Jemaat serta Pos PI yang ada di Klasis Lembah Baliem ini telah menyumbangkan bahan makanan, uang dan babi untuk mensukseskan kegiatan BPL ini, ungkap Ibu Ester dalam pembacaan laporan Panitia. 

Pada momentum ini dihadiri Gubernur Papua Pegunungan, Dr. (HC) Jhon Tabo, M.BA, memberikan warna tersendiri. Dalam sambutannya, tokoh karismatik ini menunjukkan sikap kenegaraan yang dewasa. Beliau menegaskan batasan antara jabatan politik dan identitas spiritual. Saya hadir di sini bukan untuk mengintervensi keputusan rapat, melainkan saya sebagai anggota jemaat dan sekaligus kader Gereja GIDI. ujar Jhon Tabo disambut tepuk tangan riuh. Sebagai bentuk nyata dukungan kader terhadap kegiatan BPL, Gubernur Jhon Tabo memberikan sumbangan pribadi berupa uang guna menopang kelancaran kegiatan BPL.

Sinergi ini diamini oleh Ketua Badan Pekerja Klasis (BPK) Lembah Baliem, Pdt. Minus Wanimbo, S.Th. Pemerintah dan Gereja adalah mitra strategis sehingga Kami berterima kasih kepada para kader GIDI khususnya Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan, dalam hal ini Bapak Gubernur yang telah mendukung rangkaian HUT GIDI Masuk di Klasis Lembah Baliem pada tanggal 28 November 2025 yang lalu, dan acara pembaptisan massal Januari 2026, sehingga kegiatan telah sukses dengan baik," tutur Pdt. Wanimbo.

Rapat BPL Ke-XXIX ini diharapkan menjadi momentum evaluasi kritis terhadap program-program yang telah berjalan. Di tengah tantangan modernitas di Lembah Baliem, pimpinan klasis dituntut untuk tetap relevan namun tidak kehilangan jati diri teologisnya.

Agenda rapat akan mencakup sinkronisasi program pelayanan terhadap anggota Jemaat, penginjilan, manajemen aset jemaat, hingga penguatan kapasitas pemuda sebagai kader masa depan GIDI. Dengan semangat persatuan yang ditunjukkan dalam pembukaan ini, Klasis Lembah Baliem optimis dapat menjangkau lebih banyak jiwa dan memperkokoh fondasi iman di tanah Papua dan daerah lainnya.

Kegiatan ini secara resmi dibuka dengan doa, menandai dimulainya persidangan yang akan menentukan arah pelayanan GIDI di Lembah Baliem untuk beberapa tahun ke depan.

Penyelenggaraan BPL Ke-XXIX ini membuktikan bahwa kekuatan Gereja GIDI terletak pada perpaduan antara spiritualitas yang mendalam dan kearifan lokal (Local Wisdom). Model pendanaan mandiri dan kemitraan tanpa intervensi dengan pemerintah bisa menjadi cetak biru (blueprint) bagi organisasi GIDI kedepan di Papua dalam mengelola pelayanan yang berkelanjutan. (*) 

Jumat, 20 Maret 2026

Dukungan BPL Ke-XXIX, Jemaat GIDI Se-Klasis Lembah Baliem Banjiri Panitia dengan Bahan Makanan, Ternak Serta Dana

Jemaat Sedang Membawa Sumbangan Babi dan Sayuran (Dok Panitia) 

WAMENA Sulhit.com – Menjelang pembukaan Rapat Badan Pekerja Lengkap (BPL) Ke-XXIX Klasis Lembah Baliem, gelombang dukungan dari jemaat terus mengalir deras. Berdasarkan pantauan di lapangan pada Jumat (20/03/2026), puluhan jemaat dari berbagai wilayah di bawah naungan Gereja Injili di Indonesia (GIDI) mendatangi sekretariat panitia untuk menyerahkan sumbangan wajib maupun sukarela.

Dukungan yang diberikan tidak hanya berupa dana, tetapi juga bahan pangan lokal dalam jumlah besar. Hingga sore hari, panitia mencatat arus distribusi bantuan berupa ternak babi, sayur-sayuran, ubi, keladi, nenas, hingga buah merah terus berdatangan dari 24 jemaat yang tersebar di wilayah Klasis Lembah Baliem.

Selain jemaat tetap, sejumlah Pos Penginjilan yang berada di Kabupaten Jayawijaya dan Kabupaten Nduga turut ambil bagian dalam memberikan dukungan nyata demi menyukseskan agenda besar organisasi gereja tersebut.

Sumbangan Jemaat Ubi dan Sayuran

Ketua Panitia menyampaikan apresiasi yang mendalam atas antusiasme luar biasa dari seluruh warga jemaat. Sebagai tuan rumah, Jemaat Agape Wamena dengan sigap menyambut setiap rombongan yang datang membawa berkat.

Kami menyampaikan terima kasih yang tulus kepada seluruh jemaat GIDI di Klasis Lembah Baliem. Segala bentuk sumbangan, mulai dari uang hingga hasil bumi seperti babi, sayur-sayuran, buah merah, jagung, dan keladi, merupakan wujud kepedulian jemaat terhadap kelancaran acara ini, ujar pihak Panitia di Wamena.

Rapat BPL Ke-29 ini dijadwalkan berlangsung selama empat hari, yakni mulai Minggu hingga Rabu, 22-25 Maret 2026, berpusat di Jemaat Agape Wamena. Panitia menegaskan bahwa pintu dukungan masih terbuka lebar bagi individu, kelompok, maupun keluarga yang ingin berpartisipasi hingga kegiatan berakhir.

Dukungan "Doa, Daya, dan Dana" dari seluruh lapisan jemaat ini diharapkan menjadi fondasi kuat bagi suksesnya pengambilan keputusan-keputusan penting dalam rapat BPL mendatang demi kemajuan pelayanan GIDI di tanah Papua dan Internasional. (*) 

Rabu, 18 Maret 2026

Dukung BPL Klasis Lembah Balim Ke- XXIX, Kadinsos Papua Pegunungan Salurkan Bantuan di Jemaat Agape

 

Penyerahan Sumbangan Kepada Panitia dan Pengurus Klasis Lembah Balim Wamena. (Dok.Panitia) 

WAMENA, Sulhit.com.Panitia BPL Klasis Lembah Balim Wamena Ke XXIX Tahun 2026, menerima bantuan berupa dana stimulan dan paket sembako dari Kepala Dinas Sosial Provinsi Papua Pegunungan, Yanius Telenggen, SH., M.AP. Penyerahan bantuan tersebut berlangsung di Sekretariat Panitia, kompleks Gereja GIDI Jemaat Agape Wamena, Rabu (18/03/2026).

​Bantuan ini merupakan bentuk kepedulian nyata dari kader GIDI untuk menyukseskan perhelatan akbar BPL Klasis Lembah Balim yang dijadwalkan berlangsung pada 22 hingga 28 Maret 2026 mendatang.

​Dalam arahannya, Yanius Telenggen menyampaikan bahwa bantuan yang diberikan saat ini merupakan dukungan awal. Ia menekankan pentingnya sikap tulus dan sukacita dalam mendukung pekerjaan pelayanan Tuhan.

​"Apa yang Tuhan percayakan dalam hidup kita, sudah sepatutnya kita kembalikan kepada Sang Pemilik melalui ucapan syukur. Untuk menunjang pelayanan Tuhan, kita tidak boleh berhitung, tetapi harus memberi dengan sukacita," ujar Telenggen di hadapan panitia.


​Ia juga menambahkan bahwa seiring berjalannya kegiatan, pihaknya akan terus memantau kebutuhan panitia. Beliau meyakini bahwa berkat Tuhan akan terus mengalir bagi kelancaran konferensi tersebut.

​Menanggapi hal tersebut, Wakil Ketua Klasis Lembah Balim Wamena, Pdt. Yotinus Kobak, S.Th., yang mewakili pengurus klasis dan panitia, menyampaikan apresiasi yang mendalam atas kunjungan dan bantuan tersebut.

​"Kami menyampaikan terima kasih yang tulus kepada Bapak Yanius Telenggen atas bantuan uang dan sembako ini. Dukungan ini sangat berarti bagi kelancaran pelayanan selama BPL berlangsung. Doa kami, kiranya Tuhan senantiasa memberkati Bapak dalam menjalankan tugas pengabdian kepada masyarakat di Provinsi Papua Pegunungan," pungkas Pdt. Kobak.

​Prosesi penyerahan bantuan berlangsung khidmat dan diakhiri dengan diskusi ringan mengenai persiapan teknis menjelang pembukaan konferensi pekan depan.*

Sabtu, 28 Februari 2026

Ibadah Pengukuhan, Doa Pelantikan, dan Syukuran Gembala Jemaat Efesua Mandura di Gereja Efesus Mandura

 

Foto : Doa Peneguhan / Pelantikan Gembala Jemaat Efesus Mandura

Mandura – Ibadah Pengukuhan dan Doa Pelantikan Gembala Jemaat Efesua Mandura berlangsung khidmat di Gereja Efesus Mandura, Dewan Konda, Klasis Konda, Wilayah Toli, pada Jumat (27/2/2026) pukul 11.45 WIT.

Pendeta Simon Yanengga secara resmi melantik dan mengukuhkan doa bagi Gembala Jemaat Efesua Mandura dalam suasana penuh sukacita dan rasa syukur. Acara ini dihadiri oleh pimpinan gereja, jemaat setempat, serta jemaat dari wilayah sekitar.

Ketua Klasis Konda, Pdt. Agus Kogoya, dalam sambutannya menyampaikan harapan agar Gereja Injili Di Indonesia (GIDI) terus berkembang hingga ke seluruh pelosok dunia, sembari tetap menjaga dan menghargai tempat lahirnya GIDI itu sendiri. Ia menekankan pentingnya persatuan dan komitmen bersama dalam membangun pelayanan yang kuat dan berkesinambungan.

Sementara itu, Pdt. Arius Kogoya menyampaikan bahwa kepemimpinan yang baru dilantik merupakan bagian dari proses suksesi dari generasi tua kepada generasi muda. Ia mengibaratkannya seperti kepemimpinan Musa yang mempersiapkan Yosua untuk menuntun umat Israel menuju Tanah Kanaan. Ia berharap Pdt. Simon Yanengga menjadi jembatan rohani yang membawa Jemaat Efesua Mandura kepada keselamatan melalui pembinaan rohani dan jasmani.

Dalam kesempatan tersebut, pimpinan dan rekan sekerja Gereja Efesus Mandura juga diingatkan untuk saling menopang dan mendukung selama masa kepemimpinan yang baru, agar pelayanan dapat berjalan dengan baik dan membawa berkat bagi jemaat.

Sebagai ungkapan syukur, jemaat Efesua Mandura bersama jemaat tetangga turut mengadakan ibadah syukuran yang dirangkaikan dengan acara bakar batu (barapen).

Panitia pelaksana, Misiluk Yanengga, menyampaikan bahwa dalam kegiatan tersebut disiapkan 5 ekor babi, 96 ekor ayam, 58 bungkus gula pasir ditambah 2 karung 50 kg, 6 bungkus kopi ditambah 4 karton, 6 bungkus daun teh, 7 karton air mineral, serta 11 karton minuman Panta dan Suprait.

Ibadah pengukuhan dan syukuran ini menjadi momentum penting bagi Jemaat Efesua Mandura untuk melangkah bersama dalam semangat persatuan, pelayanan, dan pertumbuhan iman di bawah kepemimpinan yang baru di Lantik tadi 

Ilustrasi foto: Suasana doa pengukuhan di Gereja Efesus Mandura, dipimpin Ketua Klasis Konda Pdt. Agus Kogoya bersama jajaran pelayan gereja.(ym)

Minggu, 22 Februari 2026

Apa peranan suami istri dalam keluarga?



Jawaban
Meskipun laki-laki dan perempuan setara dalam hubungannya dengan Kristus, Alkitab memberi peran yang khusus kepada mereka masing-masing dalam konteks pernikahan.

Suami harus mengepalai keluarga (1 Korintus 11:3; Efesus 5:23). Kepemimpinan ini tidak boleh bersifat diktator, merendahkan atau menghina istri, namun harus sesuai dengan teladan Kristus dalam memimpin gereja.

“Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman” (Ef 5:25-26). Kristus mengasihi gereja (umat-Nya) dengan belas kasihan, kemurahan, pengampunan, hormat dan tidak mementingkan diri.

Demikian pula suami harus mencintai istri.

Istri harus tunduk pada otoritas suami mereka. “Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh. Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu” (Ef 5:22-24).

Meskipun perempuan harus tunduk kepada suami mereka, Alkitab juga berkali-kali memberitahu laki-laki bagaimana seharusnya memperlakukan istri mereka. Suami tidak boleh berlaku sebagai diktator, namun harus menghormati istri dan pendapatnya.

Kenyataannya, Efesus 5:28-29 menasihati laki-laki untuk mencintai istri mereka sama seperti mereka mencintai tubuh sendiri, memberi makan dan merawatnya. Cinta seorang laki-laki terhadap istri harus sama seperti kasih Kristus terhadap tubuh-Nya, gereja.

“Hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan. Hai suami-suami, kasihilah isterimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia” (Kol 3:18-19). “Demikian juga kamu, hai suami-suami, hiduplah bijaksana dengan isterimu, sebagai kaum yang lebih lemah! Hormatilah mereka sebagai teman pewaris dari kasih karunia, yaitu kehidupan, supaya doamu jangan terhalang” (1Pet 3:7).

Dari ayat-ayat ini, kita melihat bahwa kasih dan rasa hormat mewarnai peranan suami istri. Kalau itu ada, maka otoritas, kepala, kasih dan ketaatan tidak akan menjadi masalah untuk pasangan manapun.

Dalam kaitan dengan pembagian tanggung jawab dalam rumah tangga, Alkitab memerintahkan suami untuk menyediakan nafkah bagi keluarganya. Ini berarti dia harus bekerja dan mencari nafkah yang cukup untuk mencukupi semua kebutuhan hidup istri dan anak-anaknya. Tidak melakukan ini pasti memiliki konsekuensi rohani yang.

“Tetapi jika ada seorang yang tidak memeliharakan sanak saudaranya, apalagi seisi rumahnya, orang itu murtad dan lebih buruk dari orang yang tidak beriman” (1 Tim 5:8).

Tidak berarti istri tidak bisa membantu menghidupi keluarga – Amsal 31 menunjukkan bahwa istri yang rohani jelas melakukan itu – namun mencukupi kebutuhan keluarga bukanlah tanggung jawab utamanya; itu adalah tanggung jawab suaminya.

Sekalipun suami sepatutnya membantu mengurusi anak-anak dan pekerjaan rumah tangga (sehingga memenuhi kewajibannya untuk mencintai istrinya), Amsal 31 juga menyatakan dengan jelas bahwa rumah tangga adalah wilayah tanggung jawab utama perempuan. Sekalipun dia harus tidur pada larut malam dan bangun pagi-pagi, keluarganya tidak sampai kekurangan apapun.

Ini bukanlah gaya hidup yang mudah bagi banyak perempuan – khususnya di negara Barat yang maju. Namun demikian, terlalu banyak perempuan yang sudah begitu stress dan hampir “meledak.” Untuk mencegah stress semacam itu, baik suami maupun istri harus berdoa, mengatur kembali prioritas mereka dan mengikuti petunjuk-petunjuk Alkitab untuk peranan mereka masing-masing.

Konflik mengenai pembagian tugas dalam pernikahan pasti akan terjadi. Namun, jika kedua pihak tunduk kepada Kristus, konflik ini akan minim.

Kalau satu pasangan sering ribut dan panas dalam soal ini, ataupun ketika perselisihan terlihat mewarnai pernikahan, akar masalahnya biasanya bersifat rohani. Dalam keadaan begini, pasangan harus terlebih dahulu berdoa dan menundukkan diri kepada Kristus, baru kemudian berbicara kepada pasangannya dalam sikap kasih dan hormat.

Sabtu, 14 Februari 2026

PUISI : PERAYAAN HUT GIDI KE-63Th 12 Februari 2026

 
      Foto : Istimewah



Spirit Penginjilan Gereja GIDI
Oleh : Yosua Noak Douw

Dari gunung yang sunyi,
dari lembah yang sepi,
lahirlah sebuah iman
yang tidak ditulis oleh tinta,
tetapi oleh air mata doa.

Bukan dari kota besar,
bukan dari bangunan megah,
melainkan dari hati yang sederhana
yang mengenal Tuhan
lebih dalam dari siapa pun.

Mereka tidak punya banyak kata,
tidak punya gelar,
tidak punya kemewahan.
Hanya satu yang mereka punya:
iman… yang menyala.

Mereka bertanya,
“Apakah masih ada orang di balik gunung?”
Dan ketika jawabannya: “Ada,”
mereka tidak menunggu,
mereka tidak ragu,
mereka pergi.

Mereka berjalan jauh,
melewati hutan,
mendaki gunung,
menyeberangi sungai,
membawa Injil
di dalam hati mereka.

GIDI lahir bukan dari rencana manusia,
tetapi dari panggilan Allah.
Bertumbuh bukan karena kekuatan,
tetapi karena kesetiaan.

Di sana,
orang-orang sederhana berkata:
“Kami berdiri sendiri.”

Bukan karena sombong,
tetapi karena yakin—
Tuhan yang memanggil,
Tuhan yang memimpin,
Tuhan yang menyertai.

Hari demi hari,
tahun demi tahun,
Injil terus berjalan.

Dari pedalaman,
ke pesisir,
dari Papua,
ke seluruh Indonesia,
bahkan sampai ke bangsa-bangsa.

GIDI bukan sekadar gereja.
Ia adalah langkah iman.
Ia adalah perjalanan kasih.
Ia adalah saksi
bahwa Tuhan bekerja
melalui orang-orang sederhana.

Enam puluh tiga tahun…
bukan waktu yang singkat.

Ada air mata.
Ada luka.
Ada pengorbanan.
Ada sukacita.

Namun satu yang tidak berubah:
Injil tetap diberitakan.
Doa tetap dinaikkan.
Tuhan tetap disembah.

Hai generasi hari ini,
dengarlah suara para perintis:

Jangan padamkan api itu.
Jangan tinggalkan panggilan itu.
Jangan tukar iman
dengan kenyamanan.

Jadilah seperti labu
yang terus merambat,
dipetik—tetapi hidup,
dihambat—tetapi bertumbuh.

Karena gereja ini
bukan milik manusia.
Gereja ini milik Kristus.

Dialah Kepala.
Dialah Penuntun.
Dialah Penjaga.

Selama Injil diberitakan,
gereja akan hidup.

Selama doa dinaikkan,
Tuhan akan bekerja.

Selama Yesus di tengah pelayanan,
GIDI tidak akan pernah hilang arah.

Hari ini,
dan sampai nanti,
dari generasi ke generasi,

biarlah satu hal tetap tinggal:
iman yang sederhana,
kasih yang nyata,
dan keberanian
untuk memberitakan Kristus.

Selamat ulang tahun, GIDI.
Engkau bukan hanya gereja,
engkau adalah rumah iman.

Engkau bukan hanya sejarah,
engkau adalah panggilan.

Dan selama Tuhan Yesus hidup,
GIDI… akan terus hidup.

Amin.


Rabu, 11 Februari 2026

REFLEKSI DALAM HUT GIDI YANG KE 6E TAHUN

Foto Istimewa : Pdt. Dorman Wandikbo, S. Th


1.  SEJARAH.

       Lahirnya Gereja GIDI  …….. Atas kehendak dan Rencana Tuhan maka telah lahir Gereja Pribumi di balik gunung “HONAI’ Kampung sunyi jauh dari dunia maju, tak terhitung dan tak terpandang  namun berharga di mata Tuhan.   Pada saat itulah Pulau Papua menjadi incaran sejak lama di abad 13 san.  Namun, pulau yang didiami 274 suku ini, baru di jamah oleh INJIL pada pertengahan abad 19.  Merupakan titik awal lahirnya Gereja GIDI sejak duta duta Kristus, para misionaris  APCM UFM RBMU Tahun 1952/1955 Menjinjakkan kaki di papua Pengunungan.    Kiranya  lemah dikuatkan ,yang miskin dan hina dapat diangkat  oleh Kasih Karuniah dan Kebenaran Tuhan menyertai mereka yang di tandai oleh pertobatan dan pembaptisan orang percaya yang menerima Jesus sebagai Tuhan dan Juru selamat.      
Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan dan merekapun bersekutu, bertumbuh, berakardan berbuah di dalam DIA.        
Dan dalam waktu Tuhan ,mereka disatukan di dalam satu Tubuh Kristus yang secara DE FACTO dinyatakan pada Konferensi umum Gereja-Gereja Lani 12 Februari 1963 yang dikutip dalam kalimat ……….Karena Tuhan tinggal bersama-sama kami maka kami ingin BERDIRI SENDIRI , Sebuah TONGGAK PERADABAN  yang mengubah hidup manusia HITAM KRITING di tanah ini.   Sebuh keputusan IMAN  REVOLUASIONER, EKSTREM,RADIKAL dan tanpa suatu era  RESTORASI,era REVIVAL,era REFORMASI bagi umat manusia di negeri ini sepanjang masa.     Dengan berjalannya waktu maka Gereja pribumi dapat bertumbuh dan berkembang yang ikuti pula perubahan nama Gereja dari (Gereja Injil Irian Barat 1963 Menjadi Gereja Injil Irian Jaya 1973 dan kini Gereja Injil di Indonesia 1988 ).     Atas dasar keputusan itulah maka terbentuklah sebut Gereja pribumi yang  di sebut Gereja INDENPENDEN, OTONOM DAN MANDIRI dan  DEMIKRASI dengan sistim pemerintahan KONGRESIONAL dan PRESBITERIAN, Sebuah keputusan SPETAKULER yang diproklamasikan oleh pendiri pada detik detik lahirnya Gereja Injili Di Indonesia  12 Pebruari 1963 adalah “ KAMI INGIN BERDIRI SENDIRI:.

 2.  GEREJA TANPA PENGINJILAN  MATI         
                                                                                  
HUT GIDI 63 tahun membuktikan bahwa Gereja GIDI sudah dewasa dalam misi Secara fundamental bertanggungjawab untuk menjangkau jiwa jiwaa dalam dunia global.    
Tujuan Penginjilan adalah  Gereja yang berorientasi pada Amanat Agung. Orang tua dulu mereka sangat sederhana dengan berbusana koteka dan sali tetapi mereka membuat jalan dan   memberikan pedoman dan pengawasan kepada program misi gereja. Mereka adalah orang-orang kunci yang bertanggung jawab untuk menggerakkan gereja dalam misi. Pekerjaan mereka bukan melakukan semua pekerjaan. Pekerjaan mereka adalah SALING MENGHORMATI SATU SAMA LAIN, MENDORONG, MELATIH dan MENGGERAKAN anggota Jemaat sehingga lebih efektif dalam penginjilan lokal, komunikasi antara para penginjil  dan badan  Misi UFM,APCM dan RBMU sangat inten untuk memajukan penginjilan di seluruh papua dan di luar papua .

Penginjilan belum selesai krn penginjilan adalah  Perintah Amanat Agung Jesus Kristus kepada Gereja dan Ia akan menyertainya sampai akhir zaman ( Mts 28:19-20)
Penginjilan belum selesai krn seluruh penduduk bumi sekarang berjumlah  8,3 miliar orang .  Dari jumlah itu umat Kristen Gereja Katolik dan Gereja Protestan  2,4 miliar orang. 
Masih ada 6 miliar penduduk bumi yang menolak Jesus Kristus menjadi Tuhan dan Juru SlamatNya.
Penginjilan belum selesai krn jika Gereja berhenti misi Penginjilan maka berita2 dan propoganda setan dan antek-anteknya ( BERLABEL GLOBALISASI, THEOLOGI KEMAKMURAN, ALIRAN TROTO BLESING, WESTERNISASI  dan pengaruh EKSTERNAL )  yang akan mempengaruhi manusia mengakibatkan Gereja kehilangan Fokus.
                                                                                                                                                                                                    
MENGERJAKAN 

Misi Penginjilan  perlu memberikan kesempatan untuk keterlibatan dalam penginjilan dunia. Dalam beberapa hal, ini berarti bahwa misi Penginjilan mengembangkan suatu pelayanan lintas budaya dan menarik anggota untuk mau terlibat. Juga mengarahkan jemaat pada Penginjilan misi,  Akan tetapi, pokok persoalannya adalah bahwa Misi Penginjilan tidak  bisa berjalan maksimal kalau hanya pada memberikan informasi,  atau  sekedar momen mengumpulkan uang  tetapi menggerakkan jemaat  lakukan seminar seminar , mendidik , mengajarkan Alkitab ,Memahami Doktrin  dan mengetahui Sejarah  perjalanan misi Gereja dari GIB GIIJ sampai kini di sebut GIDI.                                                                        

3. GEREJA ADALAH BENTENG TERAKHIR ORANG ASLI PAPUA
 
Gereja membawa perubahan paling beradap dalam sejarah peradaban umat manusia papua.Gereja mengangkat harkat dan martabat manusia papua sebagai ciptaan Tuhan. Gereja menemukan Orang Asli Papua dan hadir ditengah-tengah mereka sebagai sahabat, sebagai ayah, sebagai mama, sebagai kaka, sebagai saudara dan sebagai keluarga.  Gereja mengajarkan bahwa semua manusia sama dan setara di hadapan Tuhan. Gereja mengajarkan pendidikan, kesehatan dan ekonomi yang rama berbasis kontekstual sosial dan budaya orang asli papua.      Ketika umat Tuhan di tanah papua dianiaya jadi korban hukum bukan melanggar hukum  karena sesungguhnya orang papua hadapi  adalah :   RASISME,FASISME.KOLONIALISME,MILITERISME,IMPERALISME,KAPITALISME,KETIDAK ADILAN,PELANGGARAN HAM BERAT, GENOSIDA , EKOSIDA, MARGINALISASI, DIKRIMINASI DAN STATUS POLITIK PAPUA.

Maka hal itu memberikan rambu rambu kepada orang asli papua bahwa Gereja adalah Benteng terakhir untuk melawan tangan Firaun Moderen.     Bagi orang papua Gereja adalah benteng Keadilan dan Kedamaian. Alkitab yang di ajarkan oleh Gereja adalah satu-satunya benteng Kebenaran dan keselamatan, Benteng pengampunan dan pengharapan.  Gereja mengajarkan umatNya berlutut berdoa dan berpuasa.  Gereja tak akan tinggal diam ketika umat kepunyaan Allah di ancam.  Gereja berdiri di garis paling terdepan melawan musuh dengan tongkat Kebenaran, eadilan  dan Kemanusiaan.   Kita belajar dari orang asli AFRIKA SELATAN tentang pengalaman spiritualitas mereka keluar dari dampak buruk penerapan sistem APRTHEID Gereja bersuara dan Tuhan pulihkan negeri mereka.      
                                            
PERAN  PEMIMPIN GEREJA
 
Bapak Uskup Desmond M  tutu adalah seorang theolok berasal dari afrika selatan yang menentang keras terhadap kebijakan pemerintah yang diskriminatif dan rasis terhadap orang kulit hitam di Afrika Selatan.    Ia mengkritik kebijakan pemerintah dengan menyatakan bahwa orang kulit hitam tdk di beri kesempatan untuk memilih dalam hidup mereka sendiri.   Malahan mereka menderita di tanah sendiri.    
NELSON MANDELA memberikan pandangan yang baik tentang Uskup Tutu, Ia berkata bahwa Desmond tutu adalah seorang yang tidak pernah takut untuk menyuarakan SUARA YANG MEREKA TIDAK DAPAT MENYUARAKAN.   Gereja menjadi benteng terakhir bagi orang Papua. Gereja adalah satu satunya tempat bagi suku-suku hitam di planet bumi ini untuk dapat mengekspresikan harga diri sebagai ciptaan Tuhan dan kepada dunia bahwa semua manusia setara.          
                                                                   
GEREJA TAK PERNAH TERKALAHKAN
    
Demikian pula, setiap orang yang berniat jahat dan membunuh umatnya di tanah papua tdk pernah selamat dari hukuman Tuhan.   ANDA BOLEH MENCARI MAKAN DISINI, ANDA BOLRH CARI JABATAN DISINI, ANDA BOLEH CARI PANGKAT DISINI Tapi jangan bunuh orang asli papua.   Ketika kita berlindung kepada Gereja Tuhan maka Tuhan sendiri akan berperang melawan musuh-musuh kita.   Ketika Gereja diganggu maka itu tanda kematian orang asli papua.  Gereja adalah orang papua, Orang papua adalah Gereja.  Sebab ada tertulis, barang siapa membinasakan bait Allah maka Allah akan membinasakan dia.
                                                                                                                                                                    
TANTANGAN GEREJA DI TANAH PAPUA MASA  KINI

  Sejak tahun 1961, papua di INTEGRASIKAN secara ilegal sedalam negara RI .  Saat itu pula negara menggap papua sebagai tanah jajahan dan dirampas harta kekayaan laut,darat, dan udara serta tak segan untuk menculik, membunuh dan menghilangkan nyawa manusia pemilik neregi ini.    Akibat dari penjajah ini kerusakan moral dan mental yang ditimbulkan akibat doktrinisasi semangat nasional abu abu, nyaris kehilangan jati diri, kehilangan arah dan mulai mencari/ percaya pada praktek medadak menjadi kaya, menjadi penguasa, menjadi sukses,dls.    Setelah itu mereka di jadikan ATM Penguasa jakarta dengan ancaman KPK, dls. Ini nampak sangat sistematis, bertujuan mengkredilkan karakter orang papua.                                                                             

Akhirnya dari tulisan ini, saya mengucapkan selamat merayakan hari ulang tahun GIDI  yang ke 63  untuk semua umat yang di pesisir pulau, lembah, rawa, lereng gunung.   Kita semua ada karena INJIL . 


  Pdt Dorman Wandikbo, S. Th
(Dewan Pertimbangan GIDI).

Minggu, 04 Februari 2024

Menjaga Hati


Bacaan: AMSAL 4:23

Bacaan Setahun: Imamat 11-13


Nas: Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari sanalah terpancar kehidupan. (Amsal 4:23)


Menjaga Hati

Sejak menempati rumah baru, kami mendapati baju seragam putih anak-anak kami kusam, tidak putih bersinar, bak mandi lebih cepat kuning dan lantai kamar mandi lekas berlumut. Belakangan baru diketahui hal tersebut disebabkan oleh kualitas air tanah yang tidak baik, berwarna, dan berbau karat. Akhirnya, kami memasang alat pengolah air. Meskipun hasilnya tidak maksimal, sedikit banyak telah mengurangi dampak air tanah yang kualitasnya buruk. Kualitas air yang buruk berdampak buruk pula bagi beberapa hal di rumah.

Hati ibarat sumber air yang harus dijaga dengan baik seperti kata firman Tuhan. Tuhan memerintahkan kita menjaga hati di atas segalanya. Hati adalah pusat kehidupan yang menentukan jalan hidup kita. Hati penuh dosa menggerakkan tubuh kepada tindakan dosa. Hati yang bersih membawa kepada kehidupan yang berharga. Kita dapat menjaga hati kita dengan cara: memenuhi pikiran kita dengan firman Tuhan, taat kepada Allah dan melawan iblis (Yak 4:7). Begitu seriusnya dampak dari hati, demikian pula kita harus menjaganya dengan serius.

Penuhilah hati kita dengan kebenaran firman Tuhan setiap hari. Penuhilah hati dengan pengaruh dari komunitas yang benar. Hati yang penuh firman Tuhan akan membawa kehidupan kita penuh dengan syukur, mengampuni, mengasihi, melayani Tuhan dan sesama dengan ketulusan. Komunitas yang benar menolong kita belajar memiliki hati yang terarah kepada kebenaran firman Tuhan.

 

Sumber : --AWS/www.renunganharian.net

 

BEGITU SERIUSNYA DAMPAK SEBUAH HATI,

SERIUS PULA KITA HARUS MENJAGANYA."

Kamis, 01 Februari 2024

Pelayanan Menyeluruh



Ilustrasi Memberi Makan



Bacaan: LUKAS 9:10-17

Bacaan Setahun: Keluaran 28-29


Nas: Tetapi, Ia berkata kepada mereka, "Kamu harus memberi mereka makan!" (Lukas 9:13)

 

Pelayanan Menyeluruh

Terkadang ada orang yang memahami bahwa pelayanan adalah hanya sesuatu yang berhubungan dengan kegiatan-kegiatan rohani di gereja maupun persekutuan. Pelayanan hanya terbatas, seperti, menjadi pembawa renungan, pemimpin pemahaman Alkitab, pemimpin pujian, pemusik ibadah, dan pendoa syafaat. Hanya itukah sebuah pelayanan?

Ketika orang banyak terus mengikuti Yesus, Dia tetap melayani mereka dengan menyampaikan berita tentang Kerajaan Allah dan menyembuhkan orang-orang yang sakit. Menjelang malam murid-murid-Nya meminta Yesus menyuruh orang banyak pergi agar dapat mencari tempat menginap dan makan. Tetapi alangkah terkejutnya para murid ketika Yesus mengatakan bahwa mereka harus memberi makan orang banyak itu. Para murid mungkin berpikir bahwa memberi makan bukanlah menjadi tanggung jawab mereka sebagai pelayan. Yesus mengajarkan kepada murid-murid-Nya suatu tanggung jawab pelayanan yang lebih luas dan menyeluruh. Sebab, ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu menjenguk Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku (Mat. 25:35-36).

Ketika melihat di sekitar kita, ada banyak sekali pelayanan yang bisa kita lakukan bagi Tuhan dengan mengasihi dan menolong sesama. Ada orang-orang yang mungkin lapar, haus, telanjang, sakit, dipenjara, dan tidak punya tempat tinggal, mari kita mengambil bagian, melayani dengan menolong dan meringankan beban mereka. 


Sumber : ANT/www.renunganharian.net


Selasa, 30 Januari 2024

Kelangkaan Kasih di Dunia


Kelangkaan Kasih

Kelangkaan Kasih


Bacaan: KISAH PARA RASUL 9:36-43

Bacaan Setahun: Keluaran 36-38


Nas: Berkemaslah Petrus dan berangkat bersama mereka. Setibanya di sana, ia dibawa ke ruang atas. Semua janda datang berdiri dekatnya dan sambil menangis mereka menunjukkan kepadanya baju-baju dan pakaian yang dibuat Dorkas waktu ia masih bersama mereka. (Kisah Para Rasul 9:39).


Apakah yang langka di dunia ini? Mungkin terpikir oleh kita hewan-hewan yang hampir punah, seperti orangutan, vaquita (sejenis lumba-lumba) dan saola (sejenis sapi). Atau tumbuhan seperti raflesia, acung jangkung, dan rotan inun. Atau sumber daya alam seperti batu bara dan minyak bumi. Benar, memang semuanya itu langka. Namun, ada satu lagi yang kerap tidak kita sadari. Apakah itu? Kasih!

Sewajarnya jika manusia yang hidup di dunia ini mati. Namun, saat kematian terjadi pada Dorkas, orang-orang di Yope bertindak tidak wajar. Dua orang diutus kepada Petrus dengan permintaan, "Segeralah datang ke tempat kami" (ay. 38). Kebetulan Petrus berada di Lida, tidak jauh dari Yope. Begitu Petrus tiba di situ, datang semua janda berdiri dekatnya dan menangis (ay. 39). Terlihat hati tidak rela ditinggal mati oleh perempuan itu. Seakan mereka semua berkata kepada Petrus, "Tolong lakukan sesuatu untuk kami!" Dapat dimengerti mereka bertindak demikian karena selama hidupnya Dorkas telah melakukan hal yang langka. Ia menabur kasih dengan banyak sekali berbuat kebaikan dan memberi sedekah (ay. 36). Bagi para janda yang mayoritas ialah kaum papa, Dorkas membuatkan baju dan pakaian.

Banyak orang mengaku sebagai anak Tuhan, tetapi kehilangan kasih. Sungguh menyedihkan mengetahui kasih ternyata langka mengingat anak Tuhan dikenal sebagai pembawa kasih. Rindukah kita membalik kenyataan ini? Rindukah kita mengubah "langka" menjadi "limpah"? Sekiranya ya, maka mulai hari ini mari menabur kasih dalam kehidupan sehari-hari. Perbuatlah kebaikan dan tunjukkan kemurahan hati. Hiburkan mereka yang susah, topanglah mereka yang lemah, bantulah mereka yang menderita.


Ayat Alkitab: KISAH PARA RASUL 9:36-43

9:36 Di Yope ada seorang murid perempuan bernama Tabita--dalam bahasa Yunani Dorkas. Perempuan itu banyak sekali berbuat baik dan memberi sedekah.

9:37 Tetapi pada waktu itu ia sakit lalu meninggal. Dan setelah dimandikan, mayatnya dibaringkan di ruang atas.

9:38 Lida dekat dengan Yope. Ketika murid-murid mendengar, bahwa Petrus ada di Lida, mereka menyuruh dua orang kepadanya dengan permintaan: "Segeralah datang ke tempat kami."

9:39 Maka berkemaslah Petrus dan berangkat bersama-sama dengan mereka. Setelah sampai di sana, ia dibawa ke ruang atas dan semua janda datang berdiri dekatnya dan sambil menangis mereka menunjukkan kepadanya semua baju dan pakaian, yang dibuat Dorkas waktu ia masih hidup.

9:40 Tetapi Petrus menyuruh mereka semua keluar, lalu ia berlutut dan berdoa. Kemudian ia berpaling ke mayat itu dan berkata: "Tabita, bangkitlah!" Lalu Tabita membuka matanya dan ketika melihat Petrus, ia bangun lalu duduk.

9:41 Petrus memegang tangannya dan membantu dia berdiri. Kemudian ia memanggil orang-orang kudus beserta janda-janda, lalu menunjukkan kepada mereka, bahwa perempuan itu hidup.

9:42 Peristiwa itu tersiar di seluruh Yope dan banyak orang menjadi percaya kepada Tuhan.

9:43 Kemudian dari pada itu Petrus tinggal beberapa hari di Yope, di rumah seorang yang bernama Simon, seorang penyamak kulit."

 

Sumber : www.renunganharian.net


Senin, 29 Januari 2024

Ketaatan dan Menjatuhkan Hukuman


Ilustrasi Menjatuhkan Hukuman



Bacaan: IBRANI 8

Bacaan Setahun: Keluaran 33-35

Nas: Ketika Ia berkata-kata tentang perjanjian yang baru, Ia menyatakan yang pertama sebagai perjanjian yang telah menjadi tua. Apa yang telah menjadi tua dan usang, akan segera lenyap. (Ibrani 8:13)


Sudah Usang


Dulu kita menggunakan telepon rumah, telepon umum, atau pergi ke wartel untuk menelepon. Kini, kebanyakan orang menggenggam telepon di tangannya masing-masing. Kita hidup dengan teknologi yang lebih baru. Perangkat kuno tadi sudah ketinggalan zaman, sudah usang.

Perjanjian Baru jauh lebih agung daripada Perjanjian Lama, yang menuntut ketaatan sempurna dari orang-orang yang tidak sempurna. Dalam Perjanjian Baru, Yesus sebagai Imam Besar mempersembahkan persembahan yang sempurna. Melalui ketaatan-Nya, orang-orang yang percaya kepada-Nya mendapatkan pembenaran.

Allah juga menuliskan hukum-Nya dalam akal budi dan hati orang percaya (ay. 10). Menurut Yeremia 31:34, hukum ini membuat orang mengenal Allah tanpa perlu diajari oleh orang lain. Nubuatan ini mengacu pada "hukum Roh yang memberi hidup" (Rm. 8:2). Roh Kuduslah yang mengajarkan segala sesuatu kepada kita (Yoh. 14:26). Kita tidak lagi diatur oleh hukum yang tertulis pada loh batu, tetapi dipimpin oleh Roh Kudus yang tinggal di dalam hati kita.

Martin Luther menggambarkan perbedaan antara Perjanjian Lama dan Baru sebagai berikut, "Hukum Taurat berkata, 'Lakukan hal ini, ' dan hal tersebut tidak pernah terlaksana. Anugerah berkata, 'Percayalah akan hal ini, ' dan segala sesuatunya sudah diselesaikan." Apakah kita menjalani hidup ini dengan cara lama-mengandalkan ketaatan pribadi pada aturan-aturan agamawi-ataukah dengan cara baru-mengandalkan anugerah dan pimpinan Roh Kudus? 


Sumber : ARS/www.renunganharian.net


* * *

HUKUM TAURAT MENUNTUT KETAATAN DAN MENJATUHKAN HUKUMAN,

ROH KUDUS MEMBERIKAN HIDUP DAN MENYEDIAKAN KEMERDEKAAN"

Minggu, 15 Januari 2023

Jangan Pernah Mencintai Orang Kerena Rupa dan Hartanya

Ilustrasi Harta

Oleh : Pdt. Karlos Buburayai

Jangan pernah mencintai seorang karena rupa dan hartanya tetapi cintailah kesuciannya karena kesucian menjadikan hidupmu bahagia, yang akan membawah hidupmu menuju kekekalan abadi. Damai sejahtera menyertaimu disepanjang masa. Sebab ada tertulis : "Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahteraKu Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu." Yohanes 14 : 27.

Bila Mentari Berubah Merah disaat Sangsurya Mulai Terbenam

Oleh : Pdt. Karlos Buburayai 

Bila mentari berubah merah disaat sangsurya mulai terbenam. Sang jangkrik berbisik kalbu mengantarkan kita memasuki kala terjaga  dilelapnya  malam menyambut indahnya sang rembulan. Bersyukurlah kepada-Nya didalam pujian penyembahan kepada Dia yang layak menerima itu. Sebab ada tertulis : "Pujilah Dia karena segala keperkasaan-Nya, pujilah Dia sesuai dengan kebesaran-Nya yang hebat! Pujilah Dia dengan tiupan sangkakala, pujilah Dia dengan gambus dan kecapi! Pujilah Dia dengan rebana dan tari-tarian, pujilah Dia dengan permainan kecapi dan seruling! Pujilah Dia dengan ceracap yang berdenting, pujilah Dia dengan cepacap yang berdentang! Biarlah segala yang bernafas memuji TUHAN! " Mazmur 150 : 2 - 6.

Sabtu, 29 Oktober 2022

Pesan Allah Kepada Mereka yang Merasa Seperti Orang yang Gagal



Ada korelasi langsung antara kecenderungan seorang Kristen untuk memakai topeng dan kecenderungan Allah untuk membukanya.

Meskipun ini sulit, ingatlah bahwa itu adalah kasih karunia Allah. Allah adalah Allah yang penuh belas kasihan yang, dengan rahmat-Nya, membuka topeng dan mengalahkan agenda tersembunyi kita.

Pribadi Allah yang baik memungkinkan kita untuk berbuat dosa ... dan kadang-kadang dosa yang besar. Yah, mungkin akan lebih baik untuk mengatakan bahwa Allah yang baik akan secara jelas mengungkapkan dosa Anda kepada Anda atau Dia secara jelas akan mengungkapkannya kepada orang lain. Dia akan mengungkapkan kebesaran dosa Anda kepada Anda atau memungkinkan Anda untuk berbuat dosa besar.

Contoh: Natan memperlihatkan kepada Daud tentang pembunuhan dan perzinahannya dalam 2 Samuel 12. Jika itu tidak membuat Anda tersentak, ada sesuatu yang salah dengan Anda. Kemudian, Daud menulis salah satu pengakuan paling mendalam yang dapat ditemukan di seluruh Alkitab, yaitu Mazmur 51.

Bacalah Mazmur itu dan lihatlah bagaimana Allah merobek topeng Daud. Itu akan memberikan harapan kepada pendosa besar (yaitu Anda dan saya) bahwa Allah adalah Allah yang pengasih dan pemaaf. Dan tidak hanya itu, Anda akan tahu sumber kekuatan Daud, alasan sehingga ia dapat membuat sesuatu seperti menulis Mazmur yang luar biasa dan hidup, dan mengapa ia disebut "seorang pria yang berkenan di hati (Allah)" (1 Sam. 13:14).


Karunia terbesar dari Tuhan untuk orang-orang yang dikasihi-Nya adalah dosa mereka ... saat mereka mengetahuinya. Dan, kutukan terbesar untuk orang Kristen adalah ketaatan Kristen itu... saat mereka mengetahuinya.

Sebagaimana yang saya pahami, Alkitab mengajarkan bahwa orang-orang berdosa karena kita berbuat dosa ... kita semua. Dosa, pemberontakan dan pembangkangan telah menyusup ke dalam serat dari setiap ciptaan Allah dan semua makhluk ciptaan Allah. Itu bukan karena Allah menyukai dosa. Dia membenci dosa karena itu merusak dan berbahaya untuk segala sesuatu yang penting. Itu bukan karena Tuhan tidak menginginkan kita untuk bersenang-senang. Dia bukan "perusak" seperti yang ditunjukkan oleh beberapa pengkhotbah dan orang-orang religius. Hal itu bukan karena Dia mengambil kesenangan dalam menghukum kita saat kita keluar dari jalur. Astaga, Allah malah melakukan hal yang sebaliknya dan melakukan ketidakadilan terbesar dalam sejarah dunia, hukuman dicurahkan pada Anak-Nya sendiri sebagai "pendamaian bagi dosa-dosa kita" (1 Yohanes 2: 2, AYT).

Allah mengizinkan dosa demi kemegahan dan keagungan-Nya (Alkitab menyebut itu "kemuliaan"-Nya) dan untuk kebebasan Anda. Demi Tuhan, jangan buang dosa Anda; akuilah. Jangan menendang untuk menghalaunya. Berhati-hatilah merencanakan agenda perlindungan Anda, atau mengencangkan topeng agar tidak ada orang yang melihat. Selain itu, karena Allah mengasihi Anda, Ia tidak akan membiarkan Anda melakukannya. Kemudian Anda akan bebas.

Allah membenci bagaimana rasa malu, rasa takut dan rasa bersalah dari agenda kita yang tersembunyi dan topeng-topeng merampok kita dari kebebasan dan sukacita. Ia begitu membencinya sehingga Ia melewati "kekacauan" dari kesulitan dan penderitaan untuk membebaskan kita.


Setelah Anda sudah cukup menderita, cukup malu, cukup salah, dan cukup berdosa, Ia akan memeluk Anda dan mengundang Anda ke pesta yang Ia selenggarakan bagi orang-orang yang benar-benar bebas, yang tidak begitu peduli pada apa yang dipikirkan orang lain, dan yang memiliki cinta yang sangat mendalam ketika mereka tidak layak mendapatkannya.


Anda akan menjadi lebih baik nanti.

Saya tahu, saya tahu. Saya benci ketika orang mengatakannya kepada saya. Namun, dalam kasus ini, itu benar. Mungkin tidak "lebih baik" tetapi bebas, dan itu benar-benar lebih baik. (t/N. Risanti)


Nama situs : Charisma Mag

Alamat URL : http://www.charismamag.com/life/women/27125-god-s-message-to-those-who-feel-like-a-failure

Judul asli artikel : God's Message to Those Who Feel Like a Failure

Penulis artikel : Steve Brown

Tanggal akses : 28 Juli 2016

Rabu, 31 Maret 2021

Apa yang Begitu Baik tentang Jumat Agung?

 



Apa itu Jumat Agung dan mengapa kita menyebut Jumat Agung "Agung", sementara itu merupakan sebuah peristiwa yang gelap dan suram untuk memperingati hari kesengsaraan dan kematian Yesus?

Bagi orang Kristen, Jumat Agung adalah sebuah hari yang sangat penting dalam setahun karena merayakan apa yang kita percayai sebagai minggu yang paling penting dalam sejarah dunia. Sejak Yesus mati dan bangkit, orang Kristen memproklamirkan salib dan kebangkitan Yesus sebagai titik balik yang menentukan bagi semua ciptaan. Paulus menganggapnya sebagai "yang terpenting" bahwa Yesus mati untuk dosa kita, dikuburkan, dan bangkit pada hari yang ketiga, semua sesuai dengan yang Allah janjikan di seluruh Kitab Suci (1 Korintus 15:3).

Pada hari Jumat Agung, kita mengingat hari ketika Yesus rela menderita dan mati disalibkan sebagai korban terbesar untuk dosa-dosa kita (1 Yohanes 1:10). Dilanjutkan dengan Paskah, perayaan mulia akan hari ketika Yesus dibangkitkan dari antara orang mati, menggembar-gemborkan kemenangan-Nya atas dosa dan kematian, dan menunjukkan kebangkitan pada masa yang akan datang bagi semua yang dipersatukan dengan-Nya dalam iman (Roma 6:5).

Arti Sebutan "Jumat Agung"

Tetap saja, mengapa kita menyebut hari kematian Yesus dengan "Jumat Agung", bukannya "Jumat Buruk" atau sesuatu yang mirip semacam itu? Tradisi Kristen melakukan pendekatan ini: di Jerman misalnya, hari itu disebut Karfreitag, atau "Jumat Penuh Sengsara." Dalam Bahasa Inggris, sesungguhnya, istilah asli "Agung" diperdebatkan: beberapa orang yakin itu dikembangkan dari sebutan yang ada sebelumnya, "Jumat milik Allah." Terlepas dari asal-usulnya, sebutan Jumat Baik sepenuhnya tepat karena kesengsaraan dan kematian Yesus, yang memang mengerikan, melambangkan puncak rencana Allah yang dramatis untuk menyelamatkan umat-Nya dari dosa-dosa mereka.

Rencana Penebusan Allah

Agar kita bisa memaknai kabar baik Injil, pertama-tama kita harus mengerti kabar buruk tentang kondisi kita sebagai orang berdosa yang ada di bawah kutukan. Kabar baik tentang pembebasan hanya masuk akal begitu kita melihat betapa terbelenggunya kita. Cara lain untuk mengatakan ini adalah penting untuk mengerti dan membedakan antara hukum Taurat dan Injil dalam Kitab Suci. Kita membutuhkan hukum Taurat terlebih dahulu untuk menunjukkan betapa tidak berdayanya kondisi kita; kemudian Injil anugerah Yesus datang dan membawa kelepasan dan keselamatan bagi kita.

Demikian juga, Jumat Agung adalah "agung" karena sama seperti mengerikannya hari itu, kengerian itulah yang seharusnya kita alami agar menerima sukacita Paskah. Murka Allah atas dosa harus ditumpahkan kepada Yesus, korban pengganti yang sempurna, agar pengampunan dan keselamatan dicurahkan untuk bangsa-bangsa. Tanpa hari yang sangat mengerikan dari penderitaan, kedukaan, dan darah yang tercurah di kayu salib, Allah tidak akan menjadi "benar dan juga Pembenar" bagi mereka yang percaya kepada Yesus (Roma 3:26). Paradoksnya, hari yang tampaknya menjadi kemenangan iblis yang terbesar, sebenarnya adalah pukulan maut dalam rencana baik Allah yang mulia untuk menebus dunia dari perbudakan dosa.

Kebenaran Sejajar dengan Belas Kasihan

Salib adalah tempat kita melihat perjumpaan antara penderitaan dahsyat dan pengampunan Allah. Mazmur 85:10 menyanyikan sebuah hari ketika "kebenaran dan damai sejahtera" akan "bercium-ciuman". Salib Yesus adalah tempat di mana itu terjadi, syarat Allah, kebenaran-Nya, setara dengan belas kasihan-Nya. Kita menerima pengampunan, belas kasihan, dan damai sejahtera ilahi karena Yesus rela menggantikan hukuman Allah atas kita karena kebenaran Allah bertentangan dengan dosa. "Demi sukacita yang ditetapkan bagi-Nya" (Ibrani 12:2) Yesus menanggung salib pada hari Jumat Agung, tahu bahwa itu akan menuju kepada kebangkitan-Nya, keselamatan kita, dan awal pemerintahan Allah atas kebenaran dan damai sejahtera.

Jumat Agung melambangkan hari ketika murka dan belas kasihan bertemu di kayu salib. Itulah sebabnya, mengapa Jumat Agung begitu gelap sekaligus begitu Agung.

Sebuah Doa Jumat Agung

Hari ini, ya Tuhan, aku mohon agar Engkau mengajarku untuk berduka. Jangan biarkan aku terburu-buru untuk mengalami Paskah pada hari Minggu terlalu cepat. Berikanku anugerah untuk tetap tinggal di sana, di tempat kedukaan bertemu dengan penebusan. Jadikan kematian-Mu sangat nyata bagiku seperti kebangkitan-Mu. Biarlah aku selalu dekat ke salib.

Saat aku menanti di kaki salib, ya Tuhan, singkapkan sekali lagi kepadaku betapa mahalnya harga yang harus dibayar karena dosa-dosaku. Jangan biarkan aku hidup dalam dunia khayalan yang akhir bahagia Paskah membuat keegoisanku menyimpang. Ingatkan aku bahwa anugerah-Mu yang sempurna diperoleh dengan harga yang termahal. Ampuni aku ada masa-masa ketika aku hidup seakan-akan dosa bukanlah sesuatu yang serius, seakan-akan Jumat Baik tidak pernah benar-benar terjadi.

Penuhi aku dengan sukacita dan dukacita, rasa takut dan rasa syukur yang hadir sebelum penguburan Jumat Agung: sukacita karena kemenangan-Mu, dukacita karena kematian-Mu, rasa takut karena kekudusan-Mu, rasa syukur karena anugerah-Mu. Jangan biarkan aku hanya menempatkan salah satu dari emosi-emosi itu dengan mengurbankan yang lain. Beri aku hati yang cukup besar untuk memegang semuanya dengan erat. Jadikanku cukup berani untuk mengejar kebenaran yang benar-benar sejati, bukan hanya kebenaran yang sesuai dengan keinginanku.


Sumber : Wanita Sabda. org

Sabtu, 06 Februari 2021

Membangun Kesadaran di Hari Pekabaran Injil di Tanah Papua yang Ke-166


Tugu Injil Masuk di Pulau Mansinam Manokwari


Oleh : Pdt. Dr.Lenis Kogoya, M.Th, M. Pdk.


REFLEKSI MISI UNTUK TANAH PAPUA TAHUN 2021: Melawan Lupa/Jadi Waras Jangan hanya kejar parasnya saja. Temukan Nilai-nilai Dasar OAP Yang Pernah Berjumpa dan Mendaratkan Injil Di Tanah ini pada 166 Tahun Silam itu. Jangan terus mengekspor nilai-nilai dari budaya lain yang hanya terus menambah beban, tantangan dan problem bahkan menjerat pergerakan misi di tanah Papua. Dengan demikian, kita tidak terjebak pada dikemah yang saya sebut "latihan lain, main lain," atau "realitas lain, omong lain," atau "orang mau makan ubi, malah sodorkan nasi."

Back to the history atau harus kembali kepada sejarah Misi di Papua sebagai Dasar untuk membangun kesadaran bagi semua orang yang ada di atas Tanah ini. Sebab rupanya Tanah Papua ini sudah di persembahkan sejak awal kepada Tuhan oleh Carl Willem Ottow dan Johan Gottlod Geissler dengan berkata: "Dengan nama Tuhan kami menginjak kaki di tanah ini”. Dengan doa itulah kedua hamba Tuhan yang saya sebut sebagai "Founding Fathers" tersebut memulai pekabaran Injil di Tanah Papua pada tahun 1855 di Mansinam. 

Dampak dan berkat doa kedua orang penting itulah yang menyebabkan Kekristenan hari ini masih bertahan meski harus berjuang. Dan entah sampai kapan, bagaimana dan kenapa Papua dengan sebutan "Tanah Injil" itu akan ada. Jika model misinya tak berubah, pemainnya tidak berganti kostum dan intonasi bunyi toanya tetap tidak merdu, maka akan tetap kelihatan kerja bahkti, rutinitas belaka, berkeringatan dan hosa-hosa saja tanpa capaian-capaian yang bernilai bertahan. Jika demikian, maka Nilai kekristenan sudah mati suri tapi agama Kristen masih merayalela di bumi Cenderawasih. 

Beberapa tahun kemudian, ada doa sulung oleh seorang Izaak Samuel Kijne melalui karyanya dengan berkata: "Di atas batu ini, saya meletakkan Peradaban Orang Papua. Sekalipun orang memiliki kepandaian tinggi, akal budi dan marifat tetapi tidak dapat memimpin bangsa ini, bangsa ini akan bangkit dan memimpin dirinya sendiri” (Wasior, 25 Oktober 1925).

Pernyataan ini merupakan sebuah kata-kata prophesi yang berharga baik bagi OAP maupun OP. Kata perkata dalam tulisan ini perlu dianalisis sambil renung untuk bertindak nyata. Artinya, idrntifikasi dan introspeksi diri, percaya diri, berdiri di kaki sediri, makan dari kebun sendiri, minum dari sumur sendiri. Dengan demikian, kita menjadi pemeran atau pemain utama bukan cadangan atau korban sandiwara pewayangan. Orang Asli Papua itu hasil kreasi Mega Karya Sang Kreator. Orang Asli Papua itu asli manusia sejak awal. Dan manusia asli itu perlu diajar untuk mengerti segala sesuatu. Dan karena itu, pengajaran itu sudah dimulai sejak tahun 1855 hingga kini sudah 166 tahun di tahun 2021 ini. Lalu pertanyaan ialah: Apakah kita masih cari orang pintar, orang terdidik, orang berakal budi di luar sana atau masih mau dipimpin? Mari kita bangun kesadaran diri, lawan lupa akan pernyataan sejarah yang bernuansa prophetik ini. 

Stop diskriminasi sesama Anak Asli Papua. Stop merasa sudah memahami OAP padahal lamanya Anda di Papua tidak s banding dengan lamanya para Founding fathers kita di atas. Stop membanding-bandingkan sesama OAP apalagi oleh OP yang tidak ada nilai dasar dengan kesukuan Papua. Mari kita berdayakan OAP dengan jujur, ikhlas dan tindakkan nyata, bukan memperdaya mereka dengan maksud dan cara-cara yang tidak manis atau tidak elok seperti mencari keutungan atas mereka, mencari muka atas nama.mereka, menjebak mereka dan sebagainya. Sebab hal-hal ini adalah trend dan gaya baru dari imperialisme dan kolonialism termasuk yang berjubahkan jabatan-jabatan gerejawi. Dan hal ini sungguh-sungguh menjerat pergerakan misi di atas Tanah ini

Setelah mendoakan, memperhatikan dan mengalami bersama OAP bertehun-tahun, maka menarik kesimpulan oleh seorang Izaak Samuel Kijne dengan pesan: "Barang Siapa yang bekerja di Tanah ini dengan setia, jujur ​​dan dengar-dengaran, maka ia akan berjalan dari tanda heran yang satu tanda heran yang lain.” ( Pdt. I. S. Kijne, 1947).


Mengapa kesimpulan ini dibuat? Saya yakin, bahwa alasannya ialah, bahwa aslinya OAP di mata para misionaris lintas budaya ini adalah polos-polos, jujur dan hidup apa adanya di atas kekayaan alam yang kaya raya dan melimpah ruah ini. Dikuatirkan bila ada tangan-tangan jahil di tanah ini bisa membodohi OAP dan tidak mengalami keajaiban-keajaiban Allah, justru timbul kejahatan, pencurian, pembunuhan seperti yang dialami dewasa ini. 


Saudaraku yang terkasih,

Dalam momen penting, pada HPI 166 tahun ini, saya merasa penting sekaligus menjadi kebutuhan untuk membangun kesadaran bersama sebagai sesama anak Tuhan dan sesama Anak Papua. Sebab kita semua yang tinggal dan hidup di Tanah Papua terlihat sudah tidak sesuai dengan tatanan dan nilai peradaban hidup Orang Asli Papua. Telah terkikis dan sudah kabur doa sulung di atas dengan adalah nilai-nilai dan tatanan budaya lain. Entah sampai kapan, siap yang memulai dan bagaimana caranya? Hanya Tuhan yang tahu dan kita semua hanya berharap dengan doa kepada Tuhan. 


Akhirnya saya, Pdt. Lenis Kogoya bersama keluarga mengucapkan Selamat Memperingati HPI Di Tanah Papua yang ke 166 tahun pada tanggal 05 bulan Februari tahun 2021. Semoga model dan metode harus dikembalikan kepada nilai dasar orang asli Papua untuk misi kepada orang Papua. Jangan ubah form dan model kecuali untuk sasaran kepada yang lain. Tuhan Yesus Kepala Gereja Tuhan di Tanah Papua memberkati. 


Wa wa wa 

Sabtu, 31 Oktober 2020

Kritik Martin Luther atas Gereja Katolik Melahirkan Protestanisme


Pada 31 Oktober 1517, Martin Luther memaku 95 dalil berisi kritik terhadap otoritas Katolik pada pintu gereja di Wittenberg.


Penulis: Tony Firman
31 Oktober 2020
   
Sejarah agama adalah sejarah umat manusia, orang-orang yang dikatakan sebagai Joachim Wach dalam buku Studi Banding Agama (1969). Dalam sejarah terpercik konflik, perang, damai, perpecahan agama ke dalam berbagai aliran, dan seterusnya. Perjalanan agama Kristen selama abad pertama Masehi sampai saat ini pun tidak steril dari dinamika itu.

Di daratan Eropa sejak abad ke-5 Gereja Katolik Roma menjadi pusat politik dan budaya Kekristenan yang amat dominan. Namun pada abad ke-15, Gereja Katolik harus menghadapi perkembangan zaman yang begitu pesat di Eropa.

Selama periode Abad Pertengahan hingga Renaissance, penemuan ilmiah baru telah membuka mata tentang kompleksitas alam semesta. Aktivitas pelayaran dan perdagangan antar samudera jadi hal lumrah dibandingkan abad-abad sebelumnya ketika laut dipandang sebagai sarang monster dan tepi dunia.

Perlahan-lahan peradaban Eropa Abad Pertengahan mulai mengalami krisis. Pada 1347-1351, wabah pes merenggut sekitar 75 juta populasi. Kota-kota Eropa dilanda kepanikan. Sementara itu, aliansi politik tradisional antara Paus sebagai pemimpin tertinggi Gereja Katolik Roma dan pangeran-pangeran Eropa mulai ulang .

Kebudayaan peradaban abad pertengahan dan kebangkitan era Renaisans yang bermula dari Italia turut melahirkan para pemikir Kristen mulai otoritas tinggi Gereja Katolik.

Pada 31 Oktober 1517, tepat hari ini 503 tahun silam, sebuah biarawan tak dikenal bernama Martin Luther berdiri di depan sebuah gereja di Wittenberg - kota kecil yang kini masuk wilayah Jerman. Di pintu gereja, dia nekat memaku daftar 95 dalil berisi kritik terhadap otoritas Gereja Katolik. Peristiwa itu tercatat dalam sejarah sebagai awal mula gerakan Reformasi di daratan Eropa dan seluruh dunia yang melahirkan Protestantisme.

Baca juga: Giordano Bruno, Pemikir yang Dibakar atas Nama Iman 

Berbekal pendidikan magister hukum dari Universitas Erfurt, Luther memutuskan jadi biarawan ketika usianya masih 21 tahun. Perilakunya sangat asketik. Dia rajin berdoa, puasa, bertapa, menahan hawa dingin tanpa selimut, dan melakukan ritual biarawan lainnya.

Praktik indulgensi sendiri muncul pada abad ke-11 dan ke-12 saat Perang Salib masih berkobar. Gereja menjelaskannya sebagai "penghapusan siksa-siksa temporal di depan Tuhan untuk dosa-dosa yang sudah diampuni". Aturan indulgensi, sudah tertuang khususnya dalam Katekismus Gereja Katolik 1471.

Seiring perjalanan waktu, para pemimpin Gereja memutuskan bahwa membayar sejumlah uang untuk proses indulgensi bisa dilakukan setiap orang, tidak hanya mereka yang terjun ke Perang Salib.

Selama beberapa abad berikutnya, penjualan indulgensi menyebar luas dan mencakup pengampunan dosa atas orang-orang yang sudah meninggal. Hal ini terutama diserukan dalam khotbah-khotbah biarawan Ordo Dominikan John Tetzel.

Praktik jual beli indulgensi pun jadi jamak. Di bawah kepemimpinan Paus Leo X, Gereja meraup pemasukan besar dari umat yang kemudian dialokasikan untuk membangun kembali Basilika Santo Petrus di Roma. Luther memandang praktik tersebut sebagai perilaku korup. Dari sanalah 95 dalil Luther bermula.

Dalam sebuah debat publik di Leipzig pada 1519, Luther menyatakan bahwa, “Orang awam yang dipersenjatai kitab suci lebih unggul dari Paus beserta dewan kardinalnya." Akibatnya, Luther langsung mendapat ancaman ekskomunikasi; tak boleh ikut sakramen.

Pada 1520, Luther menjawab ancaman tersebut dengan menerbitkan tiga risalah yang terpentingnya. Risalah pertama berkepala  Seruan kepada Bangsawan Kristen  yang menekankan bahwa semua orang Kristen adalah imam dan kedekatan para penguasa untuk mengambil jalan Reformasi gereja. Kedua, Tawanan Babilonia Gereja  yang mengurangi tujuh sakramen menjadi hanya dua berupa pembaptisan dan Perjamuan Kudus. Ketiga, Tentang Kebebasan Seorang Kristen  yang mengatakan orang-orang Kristen bahwa mereka sudah terbebas dari hukum Taurat dan kini telah mengacu pada ikatan cinta pada hukum tersebut.

Baca juga: Orang-Orang yang Mengaku Juru Selamat

Dewan Gereja lalu memanggil Martin Luther dan dia pun segera terlibat dalam pertempuran sengit dengan para pemuka Gereja Katolik hingga bidah dan sesat. Luther sempat dilarikan diri ke Kastil Wartburg dan pelacur selama sepuluh bulan.

Gerakan Reformasi Luther menuntut menerjemahkan Alkitab dari bahasa Latin ke bahasa Jerman. Tampaknya besar karena orang tidak perlu lagi bergantung pada seorang imam untuk membaca dan menafsirkan Alkitab. Walhasil, legitimasi para padri Katolik pun terancam tergerus.

Selain itu, Luther mengkampanyekan pendidikan universal untuk anak perempuan dan laki-laki di zaman ketika pendidikan hanya bisa diakses oleh orang kaya. Dia juga banyak menulis nyanyian rohani, traktat, berkhotbah tentang pandangan Reformasi, dan melakukan perjalanan hingga kematiannya pada 1546.

Namun, gerakan Reformasi yang melahirkan pecahan Kristen Protestan ternyata harus dibayar mahal. Serangkaian perang antara kubu Katolik Roma dan Reformis Protestan meletus pada 1524-1648.

Puncak dari konflik berdarah tersebut adalah Perang Tiga Puluh Tahun di Jerman antara 1618-1648 yang menewaskan sekitar 7,5 juta jiwa. Konflik kedua kubu berakhir dengan perjanjian damai Westfalen. Tiga aliran Kristen akhirnya asli: Katolik Roma, Lutheran, dan Calvinis. 

Baca juga: Susah-Senang Membuat Film Tentang Yesus 

Warisan intelektual dan politik Luther mengilhami para tokoh pembaharu Protestan di zamannya seperti Calvin, Zwingli, Knox, dan Cranmer. Pemikiran para pembaharu ini pun pada kala melahirkan berbagai jenis denominasi Protestan, misalnya Gereja Lutheran, Reformed, Anglikan, Anabaptis, dan banyak lagi lainnya yang terus berkembang sampai sekarang.

500 Tahun Setelah Reformasi
Tiap 31 Oktober, berbagai aliran gereja Protestan - khususnya Lutheran - memperingati Reformasi. Pew Research Center menyambut 500 tahun Reformasi dengan menggelar jajak pendapat yang melibatkan penganut Protestan dan Katolik. Salah satu yang ditanyakan adalah pendangan umat tentang sola fide dan sola scriptura .

Baik sola fi de (keselamatan hanya melalui iman), dan sola scriptura ( alkitab sebagai otoritas tertinggi dan tidak memerlukan otoritas gereja) adalah dua dari lima ide revolusioner Martin Luther ketika melawan otoritas Katolik.

Baca juga: Iman dan Kesunyian Martin Scorsese 

Hasilnya, perbedaan teologis yang pernah memecah Kekristenan di Barat pada abad ke-16 itu diterapkan dengan cara yang sangat berbeda.

Umat ​​Protestan di Amerika Serikat memiliki sejumlah pandangan yang berbeda dalam memaknai Reformasi: 52 persen percaya bahwa selain dari Alkitab, orang Kristen harus mencari panduan dari ajaran dan tradisi gereja, sebuah posisi yang resmi diambil dari  Gereja Katolik .

Sementara soal iman dan keselamatan, jawaban orang Katolik dan Protestan di Eropa merepresentasikan pandangan tradisional Katolik bahwa iman dan amal baik yang diperlukan untuk mencapai keselamatan. Hanya Norwegia — dengan 51 persen penduduk penganut Protestan — yang menyatakan bahwa hanya imanlah yang mengantarkan manusia pada keselamatan.

Sebanyak 57 persen penganut Protestan di Amerika juga mengatakan bahwa ajaran Katolik lebih punya banyak kemiripan dengan Protestan. Namun ketika ditentukan untuk mendefinisikan Protestan dalam kata-kata mereka sendiri, 32 persen responden dewasa mengatakan bahwa Protestan bukan Katolik dan 12 persen menyebut mereka sebagai orang Kristen.

Baca juga: Khalifah yang Membangun Gereja Suci & Makam Yesus 

Data demografi yang dihimpun oleh Center for The Study of Global Christianity menunjukkan pada 2017 terdapat 560 juta pengikut Kristen Protestan di seluruh dunia. Jumlah ini menyumbang sepertiga dari total populasi umat Kristen dunia.

Benua Afrika menempati peringkat tertinggi dalam jumlah umat Protestan (228.300.000 jiwa) dan disusul Asia (99.040.000). Di Jerman, tempat asal Martin Luther dan Reformasi dilancarkan, Katolik masih mendominasi dengan 42 persen populasi, sementara Protestan sendiri dianut 28 persen penduduk, dan mengaku tidak terafiliasi dengan kelebihan.

Dari data 2015, Amerika Serikat masih berada di peringkat pertama negeri dengan populasi Protestan terbesar di dunia (56.177.000), disusul Nigeria (53.106.000) dan Brazil (34.836.000). Indonesia sendiri peringkat ke-9 (18.213.000).

Dalam peringatan peringatan 500 tahun Reformasi yang diadakan di Stadtkirche, Wittenberg, Di Jerman,  Para pemimpin gereja dari berbagai denominasi seperti Katolik Reformed, Lutheran, dan Methodis turut hadir.

Sedangkan saat peringaran Hari Reformasi ke-499 pada 2016 lalu, Paus Fransiskus hadir bergabung bersama para pemimpin Federasi Lutheran Dunia di Swedia.

Baca juga: Menjamurnya Gereja-Gereja Raksasa 

"Kita berkesempatan untuk memperbaiki momentum masa lalu dengan bergerak melebihi kontroversi dan perselisihan yang menghalangi kita untuk memahami satu sama lain," kata Paus pertama yang terpilih dari benua Amerika Latin tersebut.

Lalu, bagaimana dengan ide unifikasi antara Katolik Roma dan Protestan sendiri?

Dalam sebuah survei yang diadakan di Jerman oleh kantor berita Ide , 45 persen responden menjawab tidak peduli, dan 17 persen tidak bisa / mau menjawab. Hanya 20 persen orang mendukung unifikasi, sementara 18 persen persennya. Sebagian besar dari mereka yang menginginkan persatuan adalah para penganut Katolik Roma (66 persen), sementara para anggota gereja Protestan masih unifikasi (59 persen dari total penentang).

Pada Anugerah Reformasi tahun 2015 lalu di Jerman, suvenir karakter tokoh Martin Luther laris manis. Sebanyak 34 ribu karakter Martin Luther terjual dalam waktu 72 jam. D mengutip Waktu , seorang juru bicara produsen karakter Luther menyebut fenomena itu sebagai "misteri besar.


Sumber : tirto.id 

Kamis, 27 Agustus 2020

Berakar, Dibangun, dan Bersyukur

Kolose 2:6-15 


Dalam bacaan hari ini Paulus menegaskan bahwa keniscayaan logis setiap orang yang menerima Kristus adalah hidup di dalam Dia. Paulus mendeskripsikannya dengan: "Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur" (7).

Sang Rasul menegaskan, setiap pengikut Kristus harus mengakarkan dan mengarahkan dirinya hanya kepada Kristus. Dalam botani, berakar berarti siap mengambil air dan zat hara dari dalam tanah. Itu berarti dalam kehidupan kristiani, orang percaya dipanggil menghidupi dirinya dengan nilai-nilai Kristus.

Menarik disimak jika kita hendak meneliti unsur-unsur tumbuhan, kita hanya perlu memeriksa sehelai daunnya. Semua unsur dalam setiap bagian tumbuhan itu sama kadarnya. Dalam hidup seorang Kristen, pikiran, perkataan, dan perbuatan, semestinya dihidupi oleh nilai-nilai Kristus. Aneh rasanya jika yang dipikirkan berbeda dari yang dikatakan dan berbeda lagi dari yang dilakukan.

Tak hanya berakar, Paulus bicara soal pertumbuhan rohani yang dibangun di atas dasar Kristus. Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Sederhana tertera: "Hiduplah dengan menuruti kemauan-Nya." Kehendak Kristus menjadi arah pertumbuhan rohani. Sesungguhnya, ini merupakan perkara lumrah. Ketika kita membiarkan diri kita dialiri oleh nilai-nilai Kristus, melakukan kehendak Kristus menjadi hal yang wajar. Aneh rasanya, berakar dalam Kristus, tetapi tidak hidup seturut dengan kehendak-Nya.

Yang penting disimak juga, Paulus bicara soal hati yang "melimpah dengan syukur". Sang Rasul sadar, kehendak Kristus sering kali berbeda dengan keinginan manusia. Itulah yang membuat orang percaya merasa berat hidup sebagai Kristen, terlebih di tengah tekanan filsafat dunia (8). Pada titik ini "hidup bersyukur" merupakan frasa kunci.

Marilah kita bersyukur! Bersyukur karena kita dikubur bersama Kristus dalam baptisan dan dibangkitkan bersama Dia setelah pengampunan dosa.