Pdt. Potias Pagawak, S. Th, Ketua Wilayah Bogo |
WAMENA, Sulhit.com – Di bawah langit Lembah Baliem yang teduh, Gereja Injili Di Indonesia (GIDI) kembali menegaskan komitmen pelayanannya melalui agenda strategis tahunan. Bertempat di GIDI Jemaat Agape Wamena, Minggu (22/03/2026).
Rapat Badan Pekerja Lengkap (BPL) Ke-XXIX tahun 2026 Klasis Lembah Baliem resmi dibuka. Sebuah momentum yang bukan sekadar seremonial, melainkan panggilan untuk "Kembali kepada Kristus" di tengah dinamika zaman.
Perhelatan besar ini dihadiri oleh tokoh-tokoh kunci, mulai dari pimpinan gereja hingga pejabat tinggi negara, termasuk Gubernur Papua Pegunungan, Dr. (HC) Jhon Tabo, M.BA, yang hadir melepas atribut kekuasaannya demi menempatkan diri sebagai anggota jemaat yang rendah hati.
Acara diawali dengan ibadah pembukaan yang khidmat, dipimpin langsung oleh Ketua Wilayah Bogo, Pdt. Potias Pagawak, S.Th. Dalam khotbahnya yang menggugah, Pdt. Pagawak membedah tema sentral: "Kembali Kepada Kristus", yang berlandaskan pada nas Alkitab Zakaria 1:3 dan Lukas 9:23.
"Mengikut Kristus berarti bersedia menyangkal diri dan memikul salib setiap hari. Rapat BPL ini bukan sekadar ajang evaluasi administratif, tetapi ruang untuk memastikan bahwa detak jantung pelayanan kita tetap selaras dengan kehendak Kristus," tegas Pdt. Pagawak di hadapan ratusan peserta BPL, Jemaat dari 24 jemaat dan Pos Penginjilan (PI) se-Klasis Lembah Baliem.
Sub-tema kegiatan kali ini menjadi kompas bagi para pimpinan: "Melalui BPL Ke-XXIX Seluruh Pimpinan Se-Klasis Lembah Baliem Mengevaluasi Kinerja Program Pelayanan Bersatu Hati serta Menjangkau Jiwa-Jiwa Bagi Kristus." Fokus utama periode ini adalah penguatan internal sebuah konsep "Memperbaiki Yerusalem" sebelum melangkah lebih jauh ke ujung bumi. Ujar Pdt. Potias Pagawak dalam khotbahnya.
Dalam sambutan pembukaannya, Pdt. Potias Pagawak menekankan visi sinergi pelayanan yang pragmatis namun visioner. Ia menggarisbawahi pentingnya penguatan basis pelayanan internal di Wilayah Bogo dan lebih Khusus Klasis Lembah Baliem sebelum melakukan ekspansi misi ke luar daerah.
Kita tidak bisa memimpikan pelayanan yang jauh jika di dalam rumah sendiri kita masih kekurangan. Strategi kita saat ini adalah memperbaiki 'Yerusalem' kita yaitu Wilayah Bogo dan khusus Klasis Lembah Baliem. Setelah internal kita kuat, barulah kita bergerak ke Mamberamo, Sumba, Kalimantan, dan daerah lainnya," jelasnya.
Menariknya, Pdt. Pagawak menyoroti kemandirian gereja yang lahir dari tradisi lokal. Beliau mengingatkan bahwa GIDI adalah gereja yang "Lahir dari Kesederhanaan". Gereja ini tidak lahir dari tumpukan modal besar. Kita lahir dari ketaatan di dalam Honai. Karena itu, sumber dana utama kita bukanlah investor, melainkan dari setiap anggota jemaat dan para kader.
Kekuatan logistik yang melibatkan hasil bumi, sayur-mayur, dan ternak dalam momentum BPL ini mengingatkan kepada kita bahwa orang tua kita dulu setelah menerima Injil mereka lakukan hal yang demikian, mereka lakukan dengan Iman tanpa mengharapkan bantuan dari siap-siap, ujar Pdt. Pagawak.
Secara pribadi dan atas nama seluruh Badan Pekerja Wilayah Bogo berikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Jemaat GIDI yang sedang membangun Gereja di beberapa tempat, dalam lingkungan Klasis Lembah Baliem ini, sebagai dukungan kami pengurus wilayah juga beberapa bulan yang lalu sudah membantu berupa materiil bagunan kepada Jemaat yang sedang membangun Gedung Gereja.
Kita harus berani membuat masalah dalam arti positif: mulailah membangun meskipun dana terlihat kurang. Biarkan Tuhan yang melakukan bagian-Nya untuk mencukupkan, tambahnya sembari mengapresiasi bantuan material bangunan yang telah disalurkan ke berbagai jemaat yang sedang membangun Gedung Gereja.
Salah satu sorotan utama dalam laporan kepanitiaan adalah perjuangan luar biasa Jemaat Agape Wamena. Ketua Panitia, Ibu Ester Yahuli, S. Pd, menyampaikan laporan yang penuh haru. Jemaat Agape baru saja menguras energi bahkan dana untuk meresmikan gedung gereja baru pada Desember 2025 lalu. Namun, hanya dalam waktu dua bulan persiapan (Januari-Februari 2026), mereka sanggup menjadi tuan rumah BPL. Namun, kami melangkah dengan iman. Karena kami percaya bahwa Tuhan adalah sumber berkat," Sehingga Tuhan mengerahkan hati anak-anak Tuhan yaitu, para kader dan 24 Jemaat serta Pos PI yang ada di Klasis Lembah Baliem ini telah menyumbangkan bahan makanan, uang dan babi untuk mensukseskan kegiatan BPL ini, ungkap Ibu Ester dalam pembacaan laporan Panitia.
Pada momentum ini dihadiri Gubernur Papua Pegunungan, Dr. (HC) Jhon Tabo, M.BA, memberikan warna tersendiri. Dalam sambutannya, tokoh karismatik ini menunjukkan sikap kenegaraan yang dewasa. Beliau menegaskan batasan antara jabatan politik dan identitas spiritual. Saya hadir di sini bukan untuk mengintervensi keputusan rapat, melainkan saya sebagai anggota jemaat dan sekaligus kader Gereja GIDI. ujar Jhon Tabo disambut tepuk tangan riuh. Sebagai bentuk nyata dukungan kader terhadap kegiatan BPL, Gubernur Jhon Tabo memberikan sumbangan pribadi berupa uang guna menopang kelancaran kegiatan BPL.
Sinergi ini diamini oleh Ketua Badan Pekerja Klasis (BPK) Lembah Baliem, Pdt. Minus Wanimbo, S.Th. Pemerintah dan Gereja adalah mitra strategis sehingga Kami berterima kasih kepada para kader GIDI khususnya Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan, dalam hal ini Bapak Gubernur yang telah mendukung rangkaian HUT GIDI Masuk di Klasis Lembah Baliem pada tanggal 28 November 2025 yang lalu, dan acara pembaptisan massal Januari 2026, sehingga kegiatan telah sukses dengan baik," tutur Pdt. Wanimbo.
Rapat BPL Ke-XXIX ini diharapkan menjadi momentum evaluasi kritis terhadap program-program yang telah berjalan. Di tengah tantangan modernitas di Lembah Baliem, pimpinan klasis dituntut untuk tetap relevan namun tidak kehilangan jati diri teologisnya.
Agenda rapat akan mencakup sinkronisasi program pelayanan terhadap anggota Jemaat, penginjilan, manajemen aset jemaat, hingga penguatan kapasitas pemuda sebagai kader masa depan GIDI. Dengan semangat persatuan yang ditunjukkan dalam pembukaan ini, Klasis Lembah Baliem optimis dapat menjangkau lebih banyak jiwa dan memperkokoh fondasi iman di tanah Papua dan daerah lainnya.
Kegiatan ini secara resmi dibuka dengan doa, menandai dimulainya persidangan yang akan menentukan arah pelayanan GIDI di Lembah Baliem untuk beberapa tahun ke depan.
Penyelenggaraan BPL Ke-XXIX ini membuktikan bahwa kekuatan Gereja GIDI terletak pada perpaduan antara spiritualitas yang mendalam dan kearifan lokal (Local Wisdom). Model pendanaan mandiri dan kemitraan tanpa intervensi dengan pemerintah bisa menjadi cetak biru (blueprint) bagi organisasi GIDI kedepan di Papua dalam mengelola pelayanan yang berkelanjutan. (*)







.jpeg)
.jpeg)


.jpeg)



