Sabtu, 06 Februari 2021

Membangun Kesadaran di Hari Pekabaran Injil di Tanah Papua yang Ke-166


Tugu Injil Masuk di Pulau Mansinam Manokwari


Oleh : Pdt. Dr.Lenis Kogoya, M.Th, M. Pdk.


REFLEKSI MISI UNTUK TANAH PAPUA TAHUN 2021: Melawan Lupa/Jadi Waras Jangan hanya kejar parasnya saja. Temukan Nilai-nilai Dasar OAP Yang Pernah Berjumpa dan Mendaratkan Injil Di Tanah ini pada 166 Tahun Silam itu. Jangan terus mengekspor nilai-nilai dari budaya lain yang hanya terus menambah beban, tantangan dan problem bahkan menjerat pergerakan misi di tanah Papua. Dengan demikian, kita tidak terjebak pada dikemah yang saya sebut "latihan lain, main lain," atau "realitas lain, omong lain," atau "orang mau makan ubi, malah sodorkan nasi."

Back to the history atau harus kembali kepada sejarah Misi di Papua sebagai Dasar untuk membangun kesadaran bagi semua orang yang ada di atas Tanah ini. Sebab rupanya Tanah Papua ini sudah di persembahkan sejak awal kepada Tuhan oleh Carl Willem Ottow dan Johan Gottlod Geissler dengan berkata: "Dengan nama Tuhan kami menginjak kaki di tanah ini”. Dengan doa itulah kedua hamba Tuhan yang saya sebut sebagai "Founding Fathers" tersebut memulai pekabaran Injil di Tanah Papua pada tahun 1855 di Mansinam. 

Dampak dan berkat doa kedua orang penting itulah yang menyebabkan Kekristenan hari ini masih bertahan meski harus berjuang. Dan entah sampai kapan, bagaimana dan kenapa Papua dengan sebutan "Tanah Injil" itu akan ada. Jika model misinya tak berubah, pemainnya tidak berganti kostum dan intonasi bunyi toanya tetap tidak merdu, maka akan tetap kelihatan kerja bahkti, rutinitas belaka, berkeringatan dan hosa-hosa saja tanpa capaian-capaian yang bernilai bertahan. Jika demikian, maka Nilai kekristenan sudah mati suri tapi agama Kristen masih merayalela di bumi Cenderawasih. 

Beberapa tahun kemudian, ada doa sulung oleh seorang Izaak Samuel Kijne melalui karyanya dengan berkata: "Di atas batu ini, saya meletakkan Peradaban Orang Papua. Sekalipun orang memiliki kepandaian tinggi, akal budi dan marifat tetapi tidak dapat memimpin bangsa ini, bangsa ini akan bangkit dan memimpin dirinya sendiri” (Wasior, 25 Oktober 1925).

Pernyataan ini merupakan sebuah kata-kata prophesi yang berharga baik bagi OAP maupun OP. Kata perkata dalam tulisan ini perlu dianalisis sambil renung untuk bertindak nyata. Artinya, idrntifikasi dan introspeksi diri, percaya diri, berdiri di kaki sediri, makan dari kebun sendiri, minum dari sumur sendiri. Dengan demikian, kita menjadi pemeran atau pemain utama bukan cadangan atau korban sandiwara pewayangan. Orang Asli Papua itu hasil kreasi Mega Karya Sang Kreator. Orang Asli Papua itu asli manusia sejak awal. Dan manusia asli itu perlu diajar untuk mengerti segala sesuatu. Dan karena itu, pengajaran itu sudah dimulai sejak tahun 1855 hingga kini sudah 166 tahun di tahun 2021 ini. Lalu pertanyaan ialah: Apakah kita masih cari orang pintar, orang terdidik, orang berakal budi di luar sana atau masih mau dipimpin? Mari kita bangun kesadaran diri, lawan lupa akan pernyataan sejarah yang bernuansa prophetik ini. 

Stop diskriminasi sesama Anak Asli Papua. Stop merasa sudah memahami OAP padahal lamanya Anda di Papua tidak s banding dengan lamanya para Founding fathers kita di atas. Stop membanding-bandingkan sesama OAP apalagi oleh OP yang tidak ada nilai dasar dengan kesukuan Papua. Mari kita berdayakan OAP dengan jujur, ikhlas dan tindakkan nyata, bukan memperdaya mereka dengan maksud dan cara-cara yang tidak manis atau tidak elok seperti mencari keutungan atas mereka, mencari muka atas nama.mereka, menjebak mereka dan sebagainya. Sebab hal-hal ini adalah trend dan gaya baru dari imperialisme dan kolonialism termasuk yang berjubahkan jabatan-jabatan gerejawi. Dan hal ini sungguh-sungguh menjerat pergerakan misi di atas Tanah ini

Setelah mendoakan, memperhatikan dan mengalami bersama OAP bertehun-tahun, maka menarik kesimpulan oleh seorang Izaak Samuel Kijne dengan pesan: "Barang Siapa yang bekerja di Tanah ini dengan setia, jujur ​​dan dengar-dengaran, maka ia akan berjalan dari tanda heran yang satu tanda heran yang lain.” ( Pdt. I. S. Kijne, 1947).


Mengapa kesimpulan ini dibuat? Saya yakin, bahwa alasannya ialah, bahwa aslinya OAP di mata para misionaris lintas budaya ini adalah polos-polos, jujur dan hidup apa adanya di atas kekayaan alam yang kaya raya dan melimpah ruah ini. Dikuatirkan bila ada tangan-tangan jahil di tanah ini bisa membodohi OAP dan tidak mengalami keajaiban-keajaiban Allah, justru timbul kejahatan, pencurian, pembunuhan seperti yang dialami dewasa ini. 


Saudaraku yang terkasih,

Dalam momen penting, pada HPI 166 tahun ini, saya merasa penting sekaligus menjadi kebutuhan untuk membangun kesadaran bersama sebagai sesama anak Tuhan dan sesama Anak Papua. Sebab kita semua yang tinggal dan hidup di Tanah Papua terlihat sudah tidak sesuai dengan tatanan dan nilai peradaban hidup Orang Asli Papua. Telah terkikis dan sudah kabur doa sulung di atas dengan adalah nilai-nilai dan tatanan budaya lain. Entah sampai kapan, siap yang memulai dan bagaimana caranya? Hanya Tuhan yang tahu dan kita semua hanya berharap dengan doa kepada Tuhan. 


Akhirnya saya, Pdt. Lenis Kogoya bersama keluarga mengucapkan Selamat Memperingati HPI Di Tanah Papua yang ke 166 tahun pada tanggal 05 bulan Februari tahun 2021. Semoga model dan metode harus dikembalikan kepada nilai dasar orang asli Papua untuk misi kepada orang Papua. Jangan ubah form dan model kecuali untuk sasaran kepada yang lain. Tuhan Yesus Kepala Gereja Tuhan di Tanah Papua memberkati. 


Wa wa wa 

0 comments:

Posting Komentar