PENDAHULUAN
Dalam bagian ini, tidak akan diuraikan mengenai apa yang
dikatakan sumber-sumber lain di luar Alkitab mengenai manusia. Tetapi yang akan
diuraikan sejelas mungkin, adalah mengenai doktrin manusia yang diajarkan oleh
Alkitab. Secara sederhana, bab ini akan menjawab pertanyaan, “Apakah yang
dikatakan Alkitab mengenai manusia?”
Melalui Alkitab, kita telah mengetahui, bahwa Allah adalah
sumber, pemilik, dan alasan utama dari segala sesuatu yang ada. Hal tersebut
tentu saja manusia. Pertanyaan yang paling mendasar bagi kita adalah, “Jika
kita tidak membaca dan mempelajari Alkitab? Mungkinkah kita mengerti bahwa
Allah adalah sumber, pemilik, dan sekaligus alasan utama dari segala sesuatu
yang ada, termasuk manusia?” Jawabannya, tentu saja tidak! Hal itu memberikan
kita suatu bukti yang kuat atas perbedaan-perbedaan pandangan mengenai manusia
di luar Alkitab.
DEFINISI MANUSIA
Di luar Alkitab, kita mengetahui bahwa manusia didefinisikan
secara berbeda-beda, melalui pendekatan dan penekanan yang berbeda-beda. Lalu
apakah yang dikatakan Alkitab mengenai manusia? Kita akan memahami
definisi manusia dengan memperhatikan apa yang pertama kali Alkitab
katakan mengenai manusia, yaitu penciptaannya. Ayat yang paling jelas
menyatakan hal tersebut adalah Kejadian 1:26, baik dalam Alkitab bahasa
Indonesia, dan Alkitab versi New King James Version, sebagai berikut:
Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia
menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan
burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala
binatang melata yang merayap di bumi."
Then God said, "Let Us make man in Our image, according to
Our likeness; let them have dominion over the fish of the sea, over the birds
of the air, and over the cattle, over all the earth and over every creeping
thing that creeps on the earth."
Kejadian 1:26 merupakan ayat yang pertama kali membicarakan
manusia. Ayat tersebut berbicara dalam konteks penciptaan manusia. Hal tersebut
membawa kita kepada suatu definisi utama sekaligus pertama mengenai manusia
dalam Alkitab, yaitu satu-satunya makhluk yang diciptakan Allah menurut
gambar dan rupa Allah. Karena setelah ayat ini pun, tidak ada ayat lain di
dalam Alkitab yang menyatakan bahwa ada ciptaan lain yang diciptakan segambar
dan serupa dengan Allah. Tetapi, apakah sebenarnya arti dari diciptakan menurut
gambar Allah?
Prof. Sung Wook Chung mengartikan diciptakan menurut gambar
Allah dalam ketiga pandangan yang menyeluruh, yaitu substantif, relasional, dan
fungsional. Substantif dalam arti manusia memiliki akal budi dan kehendak bebas
sebagai gambar Allah di dalam manusia yang membedakan manusia dengan binatang
(pandangan Agustinus). Luther dan Calvin mengadaptasi posisi Agustinus dan
menambahkan bahwa karakteristik-karakteristik moral juga merupakan karakter
dari gambar Allah.[3]
Pandangan relasional menyatakan bahwa gambar Allah, bukanlah
suatu unsur yang dilimpahkan ke dalam seorang manusia, melainkan merupakan
kemampuan manusia untuk menjaga relasi dengan Allah dan orang-orang lain.
Pandangan ini dianut oleh teolog-teolog Neo-ortodoks, seperti Emil Brunner dan
Karl Barth. Karl Barth secara khusus terkenal karena pendapatnya bahwa
manusia-manusia mampu untuk bereksistensi di dalam relasi dengan Allah dan
orang-orang lain, khususnya karena mereka diciptakan di dalam gambar Allah
Tritunggal yang bersifat relasional.[4]
Pandangan ketiga adalah pandangan fungsional yang mulai meraih
perhatian pada abad ke-20. Menurut pandangan ini, gambar Allah bukanlah
karakteristik dasar atau pun kemampuan umat manusia untuk membangun
relasi-relasi, melainkan gambar Allah diwujud nyatakan dalam tujuan atau fungsi
manusia untuk menampilkan karya-karya natur Ilahi. Allah memanggil manusia
untuk menjadi wakil pengawas atas ciptaan. Dengan demikian, Allah memerintahkan
manusia untuk merefleksikan gambar-Nya dengan berfungsi sebagai raja atas
ciptaan.[5]
Menurut hemat saya, ketiga pandangan tersebut secara menyeluruh
yaitu substansi, relasional, dan fungsional, merupakan jawaban yang terbaik
saat ini untuk menjelaskan arti dari “diciptakan menurut gambar Allah.” Secara
substansi manusia mewarisi sifat-sifat Allah yang communicable (dapat
dikomunikasikan) seperti kekudusan, kebijaksanaan, kebenaran, kasih, dan keadilan.
Adam Clarke mengatakan, “Hence man was wise in his mind, holy in his heart,
and righteous in his actions.”[6] Pernyataan
tersebut saya terjemahkan sebagai, “Sebab itu, manusia adalah bijak di dalam
pikirannya, suci di dalam hatinya, dan benar di dalam tindakannya.”
Secara relasional, manusia diciptakan dalam gambar Allah
Tritunggal yang memiliki persekutuan dalam ketiga oknum Tritunggal dalam
kesatuan-Nya. Gambar Allah secara relasional ini, terpancar dalam kehidupan
manusia sebagai makhluk sosial, yang tidak mampu hidup sendiri, tanpa melakukan
hubungan sosial. Manusia sebagai makhluk sosial juga berarti bahwa manusia
memiliki ketergantungan secara sosial terhadap manusia lainnya.
Secara fungsional, manusia memiliki peran manajerial atas dunia
ini. Manusia dapat dikatakan memiliki jabatan sebagai raja atas dunia ini.
Tetapi hal tersebut tidaklah berarti bahwa manusia dapat menggunakan alam
semesta secara semena-mena, melainkan hal tersebut berarti manusia harus
merefleksikan gambar Allah dalam diri-Nya dengan mengelola alam semesta secara
bertanggung jawab bagi kemuliaan Allah pencipta-Nya. Ketiga hal tersebut akan
dijelaskan lebih lagi dalam bagian berikutnya.
KEADAAN MANUSIA PERTAMA DICIPTAKAN
Dalam bagian ini, kita akan membahas manusia yang mampu
memancarkan gambar diri Allah sebelum manusia jatuh dalam dosa. Bagian ini
tidak mungkin dibahas lepas dari definisi manusia. Hal tersebut disebabkan
karena manusia didefinisikan sesuai dengan penciptaannya yang unik. Tidak ada
satu pun perbedaan manusia dengan ciptaan lain, selain penciptaannya yang khas
dan tujuan Allah dalam penciptaannya yang khas tersebut. Tanpa manusia diciptakan
sesuai dengan gambar Allah, kita akan kehilangan makna sesungguhnya dari
manusia, dan manusia tidak akan menjadi berbeda dengan binatang.
Prof. DR. Werner Gitt menyatakan, “Jika kita menolak fakta
penciptaan, kita akan terseok-seok berputar-putar di semak belukar sistem
pemikiran evolusi dan tidak akan bertemu dengan kebenaran.” Bila
kita setuju dengan pendapat tersebut, maka kita akan menyimpulkan, bahwa tanpa
fakta penciptaan, kita tidak akan menemukan kebenaran mengenai manusia. Apakah
yang Alkitab katakan mengenai penciptaan manusia?
1) Manusia Diciptakan Dari Debu Tanah
Kejadian 2:7 menyatakan, “Ketika itulah TUHAN Allah membentuk
manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya;
demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup.” Dalam ayat ini, Alkitab
versi Indonesia Terjemahan Baru memberikan terjemahan yang baik. Dikatakan
Allah “membentuk” manusia, dan bukannya “menciptakan”. Perlu
sekali diketahui bahwa dalam bahasa Ibrani, istilah menciptakan sedikitnya
diterjemahkan dari dua kata Ibrani, yakni בּרא (baca: bara) dan יָצַר (baca: yatsar). Definisi yang paling
mendasar untuk kata בּרא (baca: bara) adalah menciptakan dari yang tidak ada menjadi
ada, sedangkan untuk יָצַר (baca: yatsar) adalah menyempurnakan/membentuk suatu
ciptaan dari ciptaan yang sudah ada.[8]
Permasalahan yang timbul mengenai kedua istilah Ibrani tersebut
adalah penciptaan manusia dalam Kej. 1:27, karena kata “menciptakan” dalam ayat
tersebut menggunakan kata בּרא (baca: bara). Mengapakah kata “menciptakan” yang digunakan
dalam Kej. 1:27 dan Kej 2:7 merupakan dua kata berbeda? Saya rasa alasannya
sangat mendasar, yaitu karena Kej. 1:27 menjelaskan mengenai manusia diciptakan
menurut gambar dan rupa Allah. Sedangkan Kej. 2:7 menceritakan bagaimana Allah
menciptakan tubuh manusia dari debu tanah. Kedua peristiwa tersebut jelas
sangat berbeda sekali. Karena sebelum manusia belum pernah ada ciptaan yang
diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Tetapi meskipun demikian, tubuh
manusia tetap diciptakan dari ciptaan yang rendah, yaitu debu tanah.
“Menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya.” Dalam hal
ini juga penciptaan manusia menjadi sangat unik. Karena tidak ada ciptaan lain
dalam Kejadian 1 yang diberikan nafas hidup oleh Allah selain manusia, demikianlah
melalui bagian ini dapat dimengerti suatu alasan utama atas keunggulan manusia
dari ciptaan lainnya. Barnes mengatakan:
“The “breath of life” is special to this passage. It expresses
the spiritual and principal element in man, which is not formed, but breathed
by the Creator into the physical form of man.”[9] (“Nafas
hidup” adalah istimewa dalam perikop ini. Hal itu menyatakan elemen spiritual
dan prinsip dari manusia, yang tidak dibentuk, tetapi dinafaskan oleh Sang
Pencipta kedalam bentuk fisik dari manusia.)
Nafas hidup yang dihembuskan Allah kepada manusia pertama
itulah, yang membuat manusia menjadi makhluk yang paling penting di seluruh
alam semesta ini. Hal itu juga membuat manusia memiliki fungsi tertinggi dalam
tatanan semesta. Hal tersebut disebabkan, karena tidak ada satu pun makhluk di
seluruh alam semesta ciptaan Allah yang dihembuskan nafas hidup dari Allah
sendiri sewaktu pertama kali diciptakan. Penciptaan manusia dari debu tanah
juga memberikan suatu penjelasan yang penting, yaitu tanpa nafas Allah, manusia
hanyalah debu yang tidak lebih dari binatang dalam tatanan alam semesta, karena
binatang mempunyai jiwa, tetapi debu tidak memiliki apapun, selain substansi
materi.
2) Manusia Merefleksikan Diri Allah
Seperti telah dibahas dalam bagian sebelumnya, manusia adalah
satu-satunya makhluk dalam alam semesta ciptaan Allah yang menerima nafas Allah
sendiri. Nafas Allah yang diberikan kepada manusia, memampukan manusia untuk
merefleksikan diri Allah, karena nafas Allah tersebut tidaklah diciptakan,
seperti pendapat Barnes dalam poin pertama, melainkan dinafaskan oleh Sang
Pencipta kedalam bentuk fisik dari manusia.
Maka, di dalam diri manusia, terdapat diri Allah. Tentu saja
bukan diri Allah yang sempurna. Melainkan hanya gambar diri-Nya yang diberikan
langsung (tidak diciptakan) kepada debu tanah. Dalam bagian awal, telah
dibahas arti mengenai segambar dan serupa dengan Allah dalam substansi manusia.
Substansi/hakekat manusia mewarisi atribut-atribut Allah yang communicable (dapat
dikomunikasikan), seperti hikmat, kebijaksanaan, akal budi, kehendak bebas,
kesucian, kasih, dsb. Tetapi atribut-atribut tersebut tidak diberikan Allah
secara sempurna, tetapi dalam suatu batasan yang jauh antara pencipta dengan
ciptaan. Hal tersebut hanyalah cermin yang digunakan Allah untuk
merefleksikan/memantulkan kemuliaan-Nya melalui manusia.
Maka, segala substansi Ilahi yang dimiliki manusia, ketika
pertama kali diciptakan, tidak pernah dimaksudkan untuk membuat manusia
bermegah di dalam dirinya sendiri. Melainkan, dimaksudkan untuk membuat manusia
memuliakan Allah melalui dirinya. H. Henry Meeter mengatakan:
Manusia sebelum kejatuhannya dalam dosa pun, jika dibandingkan
dengan Allah yang mulia, tidak ada artinya dan seperti kesia-siaan belaka.
Semua bangsa-bangsa hanya ibarat debu halus di atas timbangan. Manusia yang
belum terjatuh ke dalam dosa pun, sudah sepenuhnya bergantung kepada Allah.
Apalagi manusia yang sudah jatuh ke dalam dosa?
Dengan kata lain, kemuliaan yang dimiliki manusia dalam
kesuciaannya pertama kali diciptakan (sebelum manusia jatuh ke dalam dosa),
menyatakan suatu kebergantungan manusia kepada kemuliaan Allah. Sebagaimana
cermin bergantung kepada cahaya yang memantul kepadanya untuk memancarkan
cahaya, demikianlah manusia bergantung hanya kepada kemuliaan Allah semata,
untuk memancarkan kemuliaan hakekat dirinya sendiri. Karena tidak pernah ada
suatu cermin, yang mampu memancarkan cahaya dari dirinya sendiri.
3) Manusia Bersekutu Dengan Allah
Persekutuan dengan Allah merupakan arti manusia “segambar dan
serupa dengan Allah” secara relasional, seperti telah dipaparkan di bagian
awal. Persekutuan tersebut hanya mungkin terjadi, karena nafas Allah yang
diberikan ke dalam diri manusia. Hal tersebut terlihat di dalam Kejadian
2:16-17:
Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia:
"Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi
pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan
buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati."
Perintah tersebut disampaikan oleh Tuhan Allah kepada manusia
secara langsung, tanpa melalui perantara. Bukankah hal tersebut sangat berbeda
dengan persekutuan manusia dengan Allah di masa kini? Hal tersebut disebabkan
oleh dosa yang telah berkembang, sehingga semenjak kejatuhan manusia ke dalam
dosa, tidak semua orang dapat mendengar suara Tuhan secara langsung, hanya
sebagian orang saja yang dipilih-Nya. Bahkan dalam masa Israel sebagai bangsa
pilihan Tuhan saja, Allah tidak berbicara kepada seluruh orang Israel,
melainkan hanya kepada imam, nabi, dan raja.
Apabila kita memperhatikan seluruh pasal 2 dari kitab Kejadian.
Kita akan mengetahui, bahwa Kej. 2:16-17 adalah pertama kalinya Allah dicatat
berbicara kepada Adam, sang manusia pertama. Dan perkataan Allah yang pertama
kali tercatat tersebut adalah berupa perintah-Nya kepada manusia. Dari hal
tersebut, sebenarnya kita dapat memahami, bahwa hubungan persekutuan manusia
dengan Allah tidak pernah terlepas dari tanggung jawab manusia kepada Allah
untuk mematuhi perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Prof. J. Verkuyl,
seorang guru besar emeritus bidang etika di Vrije Universiteit Amsterdam
menyatakan:
Yang menentukan titik pangkal dogmatis buat Etika bukanlah hanya
pengakuan tentang Allah saja, tetapi juga pengakuan tentang manusia. Di dalam
penyataan-Nya, Allah berfirman kepada manusia. Manusia adalah tujuan, kawan,
anggota persekutuan, dengan siapa Allah mengadakan persekutuan di dalam
penyataan-Nya. Perlulah diselidiki apa isi ucapan ini, sebab hal itu merupakan
salah satu masalah pokok bagi Etika.
Melalui ucapan di atas, Prof. Verkuyl menyatakan bahwa salah
satu pokok persoalan dalam menyelidiki bagaimana cara manusia harus hidup,
adalah keharusan untuk mengetahui bahwa manusia memiliki persekutuan dengan
Allah. Bahkan, dapat dikatakan bahwa seluruh persekutuan manusia dengan Allah
yang dijelaskan dalam Alkitab, selalu berpusat kepada perintah dan
larangan-Nya, karena hanya dengan cara demikian, manusia dapat sungguh-sungguh
mengenal Allah dan sekaligus memuliakan-Nya melalui tindakan-tindakan mereka.
Dengan cara itu juga Alkitab mengajarkan bagaimana manusia harus bersekutu
dengan Allah. Daud, yang dijelaskan Alkitab sebagai seorang yang paling dekat
dengan Allah mengatakan, “Taurat TUHAN itu sempurna, menyegarkan jiwa;
peraturan TUHAN itu teguh, memberikan hikmat kepada orang yang tak
berpengalaman.”[13]
Sedangkan orang-orang yang tidak bergaul dekat dengan Allah atau
yang disebut orang-orang fasik dijelaskan sebagai orang-orang yang meninggalkan
Taurat Tuhan. Mzm. 119:53 mengatakan, “Aku menjadi gusar terhadap orang-orang
fasik, yang meninggalkan Taurat-Mu.” Perihal persekutuan manusia dengan Allah
yang tidak bisa terlepas dari perintah-Nya berpadanan dengan pengajaran doktrin
Allah dalam bab 2, yang menyatakan bahwa Allah adalah Raja atas seluruh semesta
ciptaan-Nya, dengan demikian manusia memiliki tanggung jawab penuh kepada Allah.
Di sisi lain, persekutuan manusia dalam keadaan pertama kali
diciptakan dengan Allah, tidaklah merupakan suatu tuntutan semata tanpa belas
kasih Allah kepada manusia, hal tersebut adalah pandangan yang salah dan
menyesatkan. Memang benar, bahwa persekutuan manusia dengan Allah tidak mungkin
dipisahkan dengan perintah-Nya yang harus ditaati sebagai Raja semesta. Namun,
Allah telah memberikan berbagai kebaikan kepada Adam sebagai manusia pertama,
sehingga mematuhi perintah-Nya adalah hal yang lebih kecil bagi Adam jika
dibandingkan dengan kebaikan Allah dalam kehidupannya.
Allah memberikan kepada Adam seluruh alam semesta ciptaan-Nya
untuk ditempati, dinikmati, dan dibudidayakan. Fakta bahwa Allah menciptakan
manusia di hari keenam menjelaskan hal itu. Allah telah menciptakan segala
sesuatu untuk manusia dapat hidup secara sempurna lebih dahulu, barulah
kemudian Allah menciptakan manusia. Mari kita melihat kembali Kejadian 2:15-17:
TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman
Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu. Lalu TUHAN Allah memberi
perintah ini kepada manusia: "Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan
buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat
itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah
engkau mati."[14]
Manakah lebih besar bagi Adam, kebaikan Allah atau tuntutan
Allah? Bukankah Allah telah memberikan seluruh taman Eden sebagai bukti
kebaikan-Nya bagi Adam, sedangkan tuntutan-Nya hanyalah satu pohon saja? Maka,
kesalehan sejati seorang manusia dalam persekutuannya dengan Allah, tidak
didasarkan semata-mata karena ketakutannya akan penghukuman Allah. Tidaklah
dibenarkan bagi seseorang, untuk mematuhi Allah hanya karena takut
penghukuman-Nya, hal tersebut bukanlah cara relasi manusia dengan Allah yang
benar. Untuk mendefinisikan kesalehan hidup manusia yang benar di hadapan
Allah, John Calvin mengatakan kesalehan sebagai, “Penghormatan yang disertai
kasih akan Allah yang timbul oleh pengetahuan akan kebaikan-Nya.”
4) Mandat Budaya
Dalam peranan fungsional manusia yang diciptakan dalam gambar
Allah, manusia memiliki peran yang penting, yaitu untuk membudidayakan seluruh
alam semesta ciptaan Allah. Hal tersebut terlihat melalui perkataan Allah yang
pertama kepada manusia setelah Ia menciptakannya. Allah berkata,
“Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu,
berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala
binatang yang merayap di bumi.”
Firman-Nya yang pertama kali dinyatakan kepada manusia saat itu
sesungguhnya menjelaskan tujuan keberadaan manusia di bumi, yaitu untuk
berkuasa dan menaklukkan bumi. Perintah Allah bagi manusia untuk menggenapi
tujuan mulia tersebut disebut mandat budaya. Dalam seluruh Alkitab, hanya
terdapat dua mandat dari Allah bagi manusia, yaitu mandat budaya dan mandat
rohani/Injil. Mandat budaya adalah membudidayakan seluruh alam semesta ciptaan
Allah bagi kemuliaan Allah. Sedangkan mandat rohani atau mandat Injil adalah
perintah untuk memberitakan Injil ke seluruh dunia (Mat. 28:19-20).
Henry Meeter menyatakan bahwa, “Kamus mendefinisikan kebudayaan
sebagai tindakan mengolah atau mengembangkan, atau keadaan setelah
dikembangkan.”[17] Orang-orang
yang tidak bertanggungjawab, menafsirkan mandat budaya sebagai upaya
eksploitasi alam secara besar-besaran dan semena-mena. Tetapi bukanlah itu yang
dimaksudkan. H. Henry Meeter menambahkan, “Setelah mengembangkan semua itu,
manusia harus meletakkan segenap produk kebudayaannya, seluruh ciptaan, di bawah
kaki Dia yang adalah Raja atas manusia dan atas alam.”[18]
Dengan demikian, menjadi jelas, bahwa mandat budaya bukanlah
perintah eksploitasi alam besar-besaran secara tidak bertanggung jawab.
Melainkan sebagai tugas jabatan pengelola (Manager) yang berada di bawah
otoritas Allah sendiri yang adalah Raja atas semesta. Maka, seorang Kristen
harus menyadari bahwa tidaklah benar kehidupan yang menjauhkan diri dari dunia
dan hanya memperhatikan hal-hal rohani seperti yang dilakukan dalam biara-biara
Katolik, Buddha, dan agama-agama lainnya. Karena dengan melakukan hal yang
demikian, maka seseorang tersebut akan mengabaikan mandat budaya.
Melainkan, seorang Kristen setelah percaya kepada Tuhan Yesus
secara sungguh-sungguh, harus memperhatikan mandat budaya dengan lebih seksama.
Pekerjaan yang ditekuni, cita-cita yang diimpikan, pendidikan yang ditempuh,
dan apa pun yang dilakukan seorang beriman sebagai manusia di dunia, harus
seluruhnya sesuai dengan Firman Allah, sehingga membawa kemuliaan bagi
nama-Nya. Tidaklah dibenarkan untuk melakukan pekerjaan yang bertentangan
dengan Firman Tuhan, begitu juga tidak dibenarkan untuk bekerja bagi diri
sendiri dan bukan untuk Tuhan. Kedua sisi ini harus diperhatikan dalam
menjalankan mandat budaya, yaitu pekerjaan yang ditekuni harus sesuai dengan
Firman Allah, dan pekerjaan tersebut dilakukan untuk kemuliaan Allah saja.
KEADAAN MANUSIA SETELAH BERDOSA
Dalam memahami penciptaan manusia, kita menyaksikan melalui
Alkitab betapa agung dan mulia makhluk yang bernama manusia itu, karena ia
adalah satu-satunya makhluk yang paling serupa dengan Allah. Tetapi kemudian,
hanya satu pasal kemudian setelah Adam mendiami taman Eden, yaitu pasal 3
dinyatakan bahwa Adam dan Hawa telah melanggar perintah Allah. Dalam bagian ini
tidak akan diuraikan secara mendetail mengenai si ular, mengapa mereka jatuh
dalam dosa, dan bagaimana mereka bersembunyi dari Tuhan Allah. Yang akan
diperhatikan hanyalah dosa dan akibat dosa tersebut.
1) Definisi Dosa
Sangat berbahaya jika dosa dipahami dengan cara yang salah.
Beberapa orang yang saya temui menyatakan bahwa dosa adalah membunuh,
memfitnah, berzinah, dan beberapa tindakan tidak bermoral lainnya. Jika
demikian halnya, banyak orang yang tidak berdosa, karena tidak semua orang
membunuh, memfitnah, berzinah, dan melakukan tindakan-tindakan yang tidak
bermoral di mata hukum. Kemudian karena orang merasa diri tidak berdosa, karena
tidak berdosa maka tidak akan masuk neraka, karena tidak akan masuk neraka maka
tidak perlu Juruselamat. Pemahaman demikian seringkali terjadi karena salah
memahami dosa. Sungguh sangat berbahaya sekali!
Jika demikian, apakah perbuatan-perbuatan tersebut tidak dosa?
Tentu saja dosa, yang saya maksudkan adalah dosa tidak sebatas
perbuatan-perbuatan yang tidak bermoral di mata hukum. Dosa berasal dari kata
Yunani ἁμαρτία (hamartia) yang artinya adalah meleset dari
sasaran dan juga melanggar hukum Allah.[19] Memang
terdapat beberapa definisi lain dari dosa, tetapi menurut saya, kedua definisi
tersebut telah mewakili definisi lainnya. Dosa juga dalam bahasa Yunani
seringkali disampaikan dalam bentuk kata lain yang sinonim dengan kata hamartia,
tetapi kata ἁμαρτία (hamartia) adalah dosa dalam arti yang paling
luas. Itu sebabnya doktrin dosa menggunakan istilah hamartologi.
Dari definisi tersebut, kita mengetahui bahwa dosa adalah setiap
tindakan kita yang meleset dari tujuan dan perintah Allah. Maka, setiap orang
yang beramal banyak, tetapi melakukannya bukan untuk kemuliaan Allah
Tritunggal, adalah orang yang berbuat dosa. Karena meskipun beramal dan
mengeluarkan banyak uang, tetapi tetap meleset dari tujuan Allah. Demikian juga
orang-orang yang hidup saleh di dunia, tetapi tidak percaya Tuhan Yesus adalah
berdosa, karena meleset dari perintah Allah untuk percaya kepada Anak Tunggal Allah.
Akhirnya, Alkitab menyatakan dalam Roma 3:23, “Karena semua orang telah berbuat
dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.”
Bertolak dari fakta Alkitab di atas, pemikiran orang-orang akan
berubah menjadi karena semua orang berdosa, maka semua orang akan masuk neraka,
karena semua orang masuk neraka maka semua orang butuh Juruselamat. Dengan
mendefinisikan dosa dengan benar saja, sesungguhnya kita telah mampu membantu
banyak orang untuk mengenal Kristus. Atau sederhananya, setiap kali kita
memberitakan Injil, sebelum memberitakan Sang Juruselamat, beritakanlah dulu
Sang Dosa yang merusak seluruh dunia ini. Apabila kita langsung memberitakan
Sang Juruselamat tanpa memberitakan Sang Dosa, maka banyak orang akan menolak
mentah-mentah, karena mereka merasa diri tidak berdosa dan tidak memerlukan
Sang Juruselamat.
2) Total Depravity (Kerusakan Total)
Total depravity atau kerusakan total adalah ajaran teologi Reformed yang
mengajarkan bahwa manusia dalam dirinya telah rusak secara total karena dosa.
Tidak ada lagi sesuatu yang baik dalam diri manusia. Gambar diri Allah dalam
diri manusia yang meliputi tiga aspek yaitu substansi, relasional, dan
fungsional telah rusak secara total. Mungkin beberapa orang bertanya, “Bukankah
manusia masih bisa berbuat baik? Orang-orang yang bukan Kristen terkadang
beramal lebih banyak dari orang Kristen?” Pertanyaan tersebut membuktikan orang
tersebut belum mengerti definisi dosa. Dosa berarti meleset dari sasaran Allah
dalam hidup ini, bukan sebatas tidak beramal. Maka, ketika seseorang beramal
tetapi bukan untuk kemuliaan Allah Tritunggal, apakah hal itu perbuatan baik,
atau justru hal itu merupakan dosa? Tentu saja dosa! Karena dengan ia tidak
melakukan segala sesuatu bagi kemuliaan Allah, ia telah meleset dari sasaran
Allah. Meleset dari sasaran Allah tersebut yang disebut dosa!
Semua manusia yang pernah saya temui, selalu mampu berbuat baik
di mata manusia. Maka orang-orang sering menyatakan, “Setiap manusia itu
memiliki sisi baik dan buruk.” Tetapi tidak demikian di mata Allah. Apa yang
dimaksud dengan “total depravity” adalah ajaran bahwa manusia tidak
mampu lagi berbuat baik di mata Allah, bukan di mata manusia. Pdt. G. J. Baan
mengatakan bahwa ketidakberdayaan manusia untuk melakukan apa yang baik tersebut
sering diacu dengan kata kerusakan.[20] Maka
kebanyakan teolog menyebutnya sebagai “kerusakan total” atau “total
depravity”. Mari kita melihat bagaimana dosa masuk ke dalam dunia dan
merusak manusia.
Sejak semula, Allah telah berfirman, “Semua pohon dalam taman
ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang
baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau
memakannya, pastilah engkau mati.”[21] Apakah
kematian yang dimaksudkan? John Gill mengatakan, “Moreover, a spiritual or
moral death immediately ensued; he lost his original righteousness, in which he
was created; the image of God in him was deformed.”[22] (Lebih
lagi, sebuah kematian rohani atau moral segera terjadi; dia kehilangan
kebenarannya yang semula, yang mana ia diciptakan; Gambar Allah dalam dirinya
telah berubah bentuk.)
Saya setuju dengan pandangan Gill, kematian yang dimaksudkan
ketika manusia memakan buah terlarang tersebut bukanlah kematian fisik yang
langsung terjadi, tetapi suatu kematian rohani yang langsung terjadi. Apabila
kita melihat seluruh Alkitab, kematian tidak pernah diartikan dalam arti
“musnah” tetapi selalu diartikan sebagai “terpisah”. Ketika seorang manusia
mati secara fisik, artinya fisiknya terpisah dari jiwanya, tetapi bukan berarti
ia musnah/menghilang seketika. Dalam bagian pertama, ketika dibahas mengenai
manusia diciptakan dari debu tanah, telah saya sampaikan bahwa jiwa manusia
tidak pernah diciptakan, tetapi dihembuskan langsung dari Allah, maka jiwa
manusia adalah kekal dan tidak dapat musnah. Kematian yang berarti “terpisah”
tersebut, apabila diartikan ke dalam situasi kematian rohani Adam dan Hawa,
maka dapat dikatakan bahwa Adam dan Hawa secara rohani menjadi terpisah dari
Allah.
Semenjak keterpisahan manusia dengan Allah atau kematian rohani
manusia, segala sesuatu menjadi berubah. Manusia yang tadinya memancarkan
kemuliaan Allah sekarang menjadi kehilangan kemuliaan Allah (Rm. 3:23). Manusia
yang tadinya hidup dalam persekutuan dengan Allah, menjadi takut dan
bersembunyi dari hadirat Allah (Kej. 3:8). Manusia yang tadinya berfungsi
sebagai raja atas alam semesta yang diciptakan Allah, untuk mengelola dan
menikmati alam, menjadi susah payah dalam mengandung bagi yang wanita, susah
payah dalam mencari rezeki dari tanah bagi yang pria, dan alam sendiri terkutuk
karena dosa manusia pertama (Kej. 3:16-19). Kedua kesusahan ini merupakan bukti
bahwa manusia sudah tidak mungkin menjalankan mandat budaya secara sempurna,
karena mandat budaya meliputi beranak cucu dan menguasai bumi. Sedangkan
manusia menjadi susah untuk melahirkan dan susah untuk mengerjakan/mengelola
bumi karena kutuk dosa.
3) Mesias Yang Dijanjikan
Tetapi, terpujilah Allah dalam hikmat-Nya yang Agung! Sebelum
kutuk dosa diberikan kepada manusia mulai dari Kejadian 3:16, Allah telah
menjanjikan berkat yang akan menjadi jawaban bagi masa depan manusia yang suram
dan tanpa harapan, yaitu janji tentang Mesias yang pertama! Kejadian 3:15, ayat
tersebut adalah proto-evangelium (Injil yang pertama).
Perhatikanlah, bahwa Injil yang pertama tidak dimulai dari kitab
nabi-nabi atau kitab sejarah, tetapi Injil yang pertama diberikan tepat setelah
manusia jatuh ke dalam dosa, dan tepat sebelum kutuk dosa merusak masa depan
manusia! Karena itulah, hanya Injil yaitu janji mengenai kedatangan Sang Mesias
yang akan mengalahkan si ular tersebut, yang mampu mengatasi dosa, dan merubah
masa depan manusia yang suram menjadi kembali kepada kemuliaan Allah yang semula.
ADAM MANUSIA PERTAMA
Dalam bagian ini, kita akan melihat beberapa ayat dalam Alkitab
yang menyatakan bahwa Adam adalah manusia pertama yang diciptakan Allah.
Ayat-ayat tersebut adalah sebagai berikut:
1Kor 15:45
Seperti ada tertulis: “Manusia pertama, Adam menjadi
makhluk yang hidup,” tetapi Adam yang akhir menjadi roh yang menghidupkan.
Kej 3:20
Manusia itu memberi nama Hawa kepada
isterinya, sebab dialah yang menjadi ibu semua yang hidup.
Dalam bahasa Ibrani, kata “hidup” dari klausa “ibu semua yang hidup” menggunakan kata “hay” yang bisa diartikan manusia, atau pun keturunan. Jadi ayat itu dapat diterjemahkan, ibu dari semua manusia.
Kis 17:26
Dari satu orang saja Ia telah menjadikan semua
bangsa dan umat manusia untuk mendiami seluruh muka bumi dan Ia telah
menentukan musim-musim bagi mereka dan batas-batas kediaman mereka.
Ayat tersebut menjelaskan bagaimana Allah
menjadikan seluruh umat manusiauntuk mendiami
seluruh muka bumi. Yaitu menciptakannya melalui satu orang saja. Maka
ajaran mengenai Adam adalah manusia pertama yang Tuhan ciptakan adalah ajaran
yang Alkitabiah.

0 comments:
Posting Komentar