Selasa, 07 November 2017

ANTROPOLOGI: DOKTRIN MANUSIA






PENDAHULUAN

Dalam bagian ini, tidak akan diuraikan mengenai apa yang dikatakan sumber-sumber lain di luar Alkitab mengenai manusia. Tetapi yang akan diuraikan sejelas mungkin, adalah mengenai doktrin manusia yang diajarkan oleh Alkitab. Secara sederhana, bab ini akan menjawab pertanyaan, “Apakah yang dikatakan Alkitab mengenai manusia?”

Melalui Alkitab, kita telah mengetahui, bahwa Allah adalah sumber, pemilik, dan alasan utama dari segala sesuatu yang ada. Hal tersebut tentu saja manusia. Pertanyaan yang paling mendasar bagi kita adalah, “Jika kita tidak membaca dan mempelajari Alkitab? Mungkinkah kita mengerti bahwa Allah adalah sumber, pemilik, dan sekaligus alasan utama dari segala sesuatu yang ada, termasuk manusia?” Jawabannya, tentu saja tidak! Hal itu memberikan kita suatu bukti yang kuat atas perbedaan-perbedaan pandangan mengenai manusia di luar Alkitab.


DEFINISI MANUSIA
 Di luar Alkitab, kita mengetahui bahwa manusia didefinisikan secara berbeda-beda, melalui pendekatan dan penekanan yang berbeda-beda. Lalu apakah yang dikatakan Alkitab mengenai manusia? Kita akan memahami definisi  manusia dengan memperhatikan apa yang pertama kali Alkitab katakan mengenai manusia, yaitu penciptaannya. Ayat yang paling jelas menyatakan hal tersebut adalah Kejadian 1:26, baik dalam Alkitab bahasa Indonesia, dan Alkitab versi New King James Version, sebagai berikut:

Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi."

Then God said, "Let Us make man in Our image, according to Our likeness; let them have dominion over the fish of the sea, over the birds of the air, and over the cattle, over all the earth and over every creeping thing that creeps on the earth."

Kejadian 1:26 merupakan ayat yang pertama kali membicarakan manusia. Ayat tersebut berbicara dalam konteks penciptaan manusia. Hal tersebut membawa kita kepada suatu definisi utama sekaligus pertama mengenai manusia dalam Alkitab, yaitu satu-satunya makhluk yang diciptakan Allah menurut gambar dan rupa Allah. Karena setelah ayat ini pun, tidak ada ayat lain di dalam Alkitab yang menyatakan bahwa ada ciptaan lain yang diciptakan segambar dan serupa dengan Allah. Tetapi, apakah sebenarnya arti dari diciptakan menurut gambar Allah?

Prof. Sung Wook Chung mengartikan diciptakan menurut gambar Allah dalam ketiga pandangan yang menyeluruh, yaitu substantif, relasional, dan fungsional. Substantif dalam arti manusia memiliki akal budi dan kehendak bebas sebagai gambar Allah di dalam manusia yang membedakan manusia dengan binatang (pandangan Agustinus). Luther dan Calvin mengadaptasi posisi Agustinus dan menambahkan bahwa karakteristik-karakteristik moral juga merupakan karakter dari gambar Allah.[3]

Pandangan relasional menyatakan bahwa gambar Allah, bukanlah suatu unsur yang dilimpahkan ke dalam seorang manusia, melainkan merupakan kemampuan manusia untuk menjaga relasi dengan Allah dan orang-orang lain. Pandangan ini dianut oleh teolog-teolog Neo-ortodoks, seperti Emil Brunner dan Karl Barth. Karl Barth secara khusus terkenal karena pendapatnya bahwa manusia-manusia mampu untuk bereksistensi di dalam relasi dengan Allah dan orang-orang lain, khususnya karena mereka diciptakan di dalam gambar Allah Tritunggal yang bersifat relasional.[4]

Pandangan ketiga adalah pandangan fungsional yang mulai meraih perhatian pada abad ke-20. Menurut pandangan ini, gambar Allah bukanlah karakteristik dasar atau pun kemampuan umat manusia untuk membangun relasi-relasi, melainkan gambar Allah diwujud nyatakan dalam tujuan atau fungsi manusia untuk menampilkan karya-karya natur Ilahi. Allah memanggil manusia untuk menjadi wakil pengawas atas ciptaan. Dengan demikian, Allah memerintahkan manusia untuk merefleksikan gambar-Nya dengan berfungsi sebagai raja atas ciptaan.[5]

Menurut hemat saya, ketiga pandangan tersebut secara menyeluruh yaitu substansi, relasional, dan fungsional, merupakan jawaban yang terbaik saat ini untuk menjelaskan arti dari “diciptakan menurut gambar Allah.” Secara substansi manusia mewarisi sifat-sifat Allah yang communicable (dapat dikomunikasikan) seperti kekudusan, kebijaksanaan, kebenaran, kasih, dan keadilan. Adam Clarke mengatakan, “Hence man was wise in his mind, holy in his heart, and righteous in his actions.”[6] Pernyataan tersebut saya terjemahkan sebagai, “Sebab itu, manusia adalah bijak di dalam pikirannya, suci di dalam hatinya, dan benar di dalam tindakannya.”

Secara relasional, manusia diciptakan dalam gambar Allah Tritunggal yang memiliki persekutuan dalam ketiga oknum Tritunggal dalam kesatuan-Nya. Gambar Allah secara relasional ini, terpancar dalam kehidupan manusia sebagai makhluk sosial, yang tidak mampu hidup sendiri, tanpa melakukan hubungan sosial. Manusia sebagai makhluk sosial juga berarti bahwa manusia memiliki ketergantungan secara sosial terhadap manusia lainnya.

Secara fungsional, manusia memiliki peran manajerial atas dunia ini. Manusia dapat dikatakan memiliki jabatan sebagai raja atas dunia ini. Tetapi hal tersebut tidaklah berarti bahwa manusia dapat menggunakan alam semesta secara semena-mena, melainkan hal tersebut berarti manusia harus merefleksikan gambar Allah dalam diri-Nya dengan mengelola alam semesta secara bertanggung jawab bagi kemuliaan Allah pencipta-Nya. Ketiga hal tersebut akan dijelaskan lebih lagi dalam bagian berikutnya.


KEADAAN MANUSIA PERTAMA DICIPTAKAN
 Dalam bagian ini, kita akan membahas manusia yang mampu memancarkan gambar diri Allah sebelum manusia jatuh dalam dosa. Bagian ini tidak mungkin dibahas lepas dari definisi manusia. Hal tersebut disebabkan karena manusia didefinisikan sesuai dengan penciptaannya yang unik. Tidak ada satu pun perbedaan manusia dengan ciptaan lain, selain penciptaannya yang khas dan tujuan Allah dalam penciptaannya yang khas tersebut. Tanpa manusia diciptakan sesuai dengan gambar Allah, kita akan kehilangan makna sesungguhnya dari manusia, dan manusia tidak akan menjadi berbeda dengan binatang.

Prof. DR. Werner Gitt menyatakan, “Jika kita menolak fakta penciptaan, kita akan terseok-seok berputar-putar di semak belukar sistem pemikiran evolusi dan tidak akan bertemu dengan kebenaran.” Bila kita setuju dengan pendapat tersebut, maka kita akan menyimpulkan, bahwa tanpa fakta penciptaan, kita tidak akan menemukan kebenaran mengenai manusia. Apakah yang Alkitab katakan mengenai penciptaan manusia?

1)   Manusia Diciptakan Dari Debu Tanah
 Kejadian 2:7 menyatakan, “Ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup.” Dalam ayat ini, Alkitab versi Indonesia Terjemahan Baru memberikan terjemahan yang baik. Dikatakan Allah “membentuk” manusia, dan bukannya “menciptakan”. Perlu sekali diketahui bahwa dalam bahasa Ibrani, istilah menciptakan sedikitnya diterjemahkan dari dua kata Ibrani, yakni בּרא (baca: bara) dan יָצַר (baca: yatsar). Definisi yang paling mendasar untuk kata בּרא (baca: bara) adalah menciptakan dari yang tidak ada menjadi ada, sedangkan untuk יָצַר (baca: yatsar) adalah menyempurnakan/membentuk suatu ciptaan dari ciptaan yang sudah ada.[8]

Permasalahan yang timbul mengenai kedua istilah Ibrani tersebut adalah penciptaan manusia dalam Kej. 1:27, karena kata “menciptakan” dalam ayat tersebut menggunakan kata בּרא (baca: bara). Mengapakah kata “menciptakan” yang digunakan dalam Kej. 1:27 dan Kej 2:7 merupakan dua kata berbeda? Saya rasa alasannya sangat mendasar, yaitu karena Kej. 1:27 menjelaskan mengenai manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Sedangkan Kej. 2:7 menceritakan bagaimana Allah menciptakan tubuh manusia dari debu tanah. Kedua peristiwa tersebut jelas sangat berbeda sekali. Karena sebelum manusia belum pernah ada ciptaan yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Tetapi meskipun demikian, tubuh manusia tetap diciptakan dari ciptaan yang rendah, yaitu debu tanah.

Menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya.” Dalam hal ini juga penciptaan manusia menjadi sangat unik. Karena tidak ada ciptaan lain dalam Kejadian 1 yang diberikan nafas hidup oleh Allah selain manusia, demikianlah melalui bagian ini dapat dimengerti suatu alasan utama atas keunggulan manusia dari ciptaan lainnya. Barnes mengatakan:

“The “breath of life” is special to this passage. It expresses the spiritual and principal element in man, which is not formed, but breathed by the Creator into the physical form of man.”[9] (“Nafas hidup” adalah istimewa dalam perikop ini. Hal itu menyatakan elemen spiritual dan prinsip dari manusia, yang tidak dibentuk, tetapi dinafaskan oleh Sang Pencipta kedalam bentuk fisik dari manusia.)


Nafas hidup yang dihembuskan Allah kepada manusia pertama itulah, yang membuat manusia menjadi makhluk yang paling penting di seluruh alam semesta ini. Hal itu juga membuat manusia memiliki fungsi tertinggi dalam tatanan semesta. Hal tersebut disebabkan, karena tidak ada satu pun makhluk di seluruh alam semesta ciptaan Allah yang dihembuskan nafas hidup dari Allah sendiri sewaktu pertama kali diciptakan. Penciptaan manusia dari debu tanah juga memberikan suatu penjelasan yang penting, yaitu tanpa nafas Allah, manusia hanyalah debu yang tidak lebih dari binatang dalam tatanan alam semesta, karena binatang mempunyai jiwa, tetapi debu tidak memiliki apapun, selain substansi materi.

  2)   Manusia Merefleksikan Diri Allah

Seperti telah dibahas dalam bagian sebelumnya, manusia adalah satu-satunya makhluk dalam alam semesta ciptaan Allah yang menerima nafas Allah sendiri. Nafas Allah yang diberikan kepada manusia, memampukan manusia untuk merefleksikan diri Allah, karena nafas Allah tersebut tidaklah diciptakan, seperti pendapat Barnes dalam poin pertama, melainkan dinafaskan oleh Sang Pencipta kedalam bentuk fisik dari manusia.

Maka, di dalam diri manusia, terdapat diri Allah. Tentu saja bukan diri Allah yang sempurna. Melainkan hanya gambar diri-Nya yang diberikan langsung (tidak diciptakan) kepada debu tanah.  Dalam bagian awal, telah dibahas arti mengenai segambar dan serupa dengan Allah dalam substansi manusia. Substansi/hakekat manusia mewarisi atribut-atribut Allah yang communicable (dapat dikomunikasikan), seperti hikmat, kebijaksanaan, akal budi, kehendak bebas, kesucian, kasih, dsb. Tetapi atribut-atribut tersebut tidak diberikan Allah secara sempurna, tetapi dalam suatu batasan yang jauh antara pencipta dengan ciptaan. Hal tersebut hanyalah cermin yang digunakan Allah untuk merefleksikan/memantulkan kemuliaan-Nya melalui manusia.

Maka, segala substansi Ilahi yang dimiliki manusia, ketika pertama kali diciptakan, tidak pernah dimaksudkan untuk membuat manusia bermegah di dalam dirinya sendiri. Melainkan, dimaksudkan untuk membuat manusia memuliakan Allah melalui dirinya. H. Henry Meeter mengatakan:

Manusia sebelum kejatuhannya dalam dosa pun, jika dibandingkan dengan Allah yang mulia, tidak ada artinya dan seperti kesia-siaan belaka. Semua bangsa-bangsa hanya ibarat debu halus di atas timbangan. Manusia yang belum terjatuh ke dalam dosa pun, sudah sepenuhnya bergantung kepada Allah. Apalagi manusia yang sudah jatuh ke dalam dosa?

Dengan kata lain, kemuliaan yang dimiliki manusia dalam kesuciaannya pertama kali diciptakan (sebelum manusia jatuh ke dalam dosa), menyatakan suatu kebergantungan manusia kepada kemuliaan Allah. Sebagaimana cermin bergantung kepada cahaya yang memantul kepadanya untuk memancarkan cahaya, demikianlah manusia bergantung hanya kepada kemuliaan Allah semata, untuk memancarkan kemuliaan hakekat dirinya sendiri. Karena tidak pernah ada suatu cermin, yang mampu memancarkan cahaya dari dirinya sendiri.

 3)   Manusia Bersekutu Dengan Allah
 Persekutuan dengan Allah merupakan arti manusia “segambar dan serupa dengan Allah” secara relasional, seperti telah dipaparkan di bagian awal. Persekutuan tersebut hanya mungkin terjadi, karena nafas Allah yang diberikan ke dalam diri manusia. Hal tersebut terlihat di dalam Kejadian 2:16-17:

Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: "Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati."

Perintah tersebut disampaikan oleh Tuhan Allah kepada manusia secara langsung, tanpa melalui perantara. Bukankah hal tersebut sangat berbeda dengan persekutuan manusia dengan Allah di masa kini? Hal tersebut disebabkan oleh dosa yang telah berkembang, sehingga semenjak kejatuhan manusia ke dalam dosa, tidak semua orang dapat mendengar suara Tuhan secara langsung, hanya sebagian orang saja yang dipilih-Nya. Bahkan dalam masa Israel sebagai bangsa pilihan Tuhan saja, Allah tidak berbicara kepada seluruh orang Israel, melainkan hanya kepada imam, nabi, dan raja.

Apabila kita memperhatikan seluruh pasal 2 dari kitab Kejadian. Kita akan mengetahui, bahwa Kej. 2:16-17 adalah pertama kalinya Allah dicatat berbicara kepada Adam, sang manusia pertama. Dan perkataan Allah yang pertama kali tercatat tersebut adalah berupa perintah-Nya kepada manusia. Dari hal tersebut, sebenarnya kita dapat memahami, bahwa hubungan persekutuan manusia dengan Allah tidak pernah terlepas dari tanggung jawab manusia kepada Allah untuk mematuhi perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Prof. J. Verkuyl, seorang guru besar emeritus bidang etika di Vrije Universiteit Amsterdam menyatakan:

Yang menentukan titik pangkal dogmatis buat Etika bukanlah hanya pengakuan tentang Allah saja, tetapi juga pengakuan tentang manusia. Di dalam penyataan-Nya, Allah berfirman kepada manusia. Manusia adalah tujuan, kawan, anggota persekutuan, dengan siapa Allah mengadakan persekutuan di dalam penyataan-Nya. Perlulah diselidiki apa isi ucapan ini, sebab hal itu merupakan salah satu masalah pokok bagi Etika.

Melalui ucapan di atas, Prof. Verkuyl menyatakan bahwa salah satu pokok persoalan dalam menyelidiki bagaimana cara manusia harus hidup, adalah keharusan untuk mengetahui bahwa manusia memiliki persekutuan dengan Allah. Bahkan, dapat dikatakan bahwa seluruh persekutuan manusia dengan Allah yang dijelaskan dalam Alkitab, selalu berpusat kepada perintah dan larangan-Nya, karena hanya dengan cara demikian, manusia dapat sungguh-sungguh mengenal Allah dan sekaligus memuliakan-Nya melalui tindakan-tindakan mereka. Dengan cara itu juga Alkitab mengajarkan bagaimana manusia harus bersekutu dengan Allah. Daud, yang dijelaskan Alkitab sebagai seorang yang paling dekat dengan Allah mengatakan, “Taurat TUHAN itu sempurna, menyegarkan jiwa; peraturan TUHAN itu teguh, memberikan hikmat kepada orang yang tak berpengalaman.”[13]

Sedangkan orang-orang yang tidak bergaul dekat dengan Allah atau yang disebut orang-orang fasik dijelaskan sebagai orang-orang yang meninggalkan Taurat Tuhan. Mzm. 119:53 mengatakan, “Aku menjadi gusar terhadap orang-orang fasik, yang meninggalkan Taurat-Mu.” Perihal persekutuan manusia dengan Allah yang tidak bisa terlepas dari perintah-Nya berpadanan dengan pengajaran doktrin Allah dalam bab 2, yang menyatakan bahwa Allah adalah Raja atas seluruh semesta ciptaan-Nya, dengan demikian manusia memiliki tanggung jawab penuh kepada Allah.

Di sisi lain, persekutuan manusia dalam keadaan pertama kali diciptakan dengan Allah, tidaklah merupakan suatu tuntutan semata tanpa belas kasih Allah kepada manusia, hal tersebut adalah pandangan yang salah dan menyesatkan. Memang benar, bahwa persekutuan manusia dengan Allah tidak mungkin dipisahkan dengan perintah-Nya yang harus ditaati sebagai Raja semesta. Namun, Allah telah memberikan berbagai kebaikan kepada Adam sebagai manusia pertama, sehingga mematuhi perintah-Nya adalah hal yang lebih kecil bagi Adam jika dibandingkan dengan kebaikan Allah dalam kehidupannya.

Allah memberikan kepada Adam seluruh alam semesta ciptaan-Nya untuk ditempati, dinikmati, dan dibudidayakan. Fakta bahwa Allah menciptakan manusia di hari keenam menjelaskan hal itu. Allah telah menciptakan segala sesuatu untuk manusia dapat hidup secara sempurna lebih dahulu, barulah kemudian Allah menciptakan manusia. Mari kita melihat kembali Kejadian 2:15-17:

TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu. Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: "Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati."[14]


Manakah lebih besar bagi Adam, kebaikan Allah atau tuntutan Allah? Bukankah Allah telah memberikan seluruh taman Eden sebagai bukti kebaikan-Nya bagi Adam, sedangkan tuntutan-Nya hanyalah satu pohon saja? Maka, kesalehan sejati seorang manusia dalam persekutuannya dengan Allah, tidak didasarkan semata-mata karena ketakutannya akan penghukuman Allah. Tidaklah dibenarkan bagi seseorang, untuk mematuhi Allah hanya karena takut penghukuman-Nya, hal tersebut bukanlah cara relasi manusia dengan Allah yang benar. Untuk mendefinisikan kesalehan hidup manusia yang benar di hadapan Allah, John Calvin mengatakan kesalehan sebagai, “Penghormatan yang disertai kasih akan Allah yang timbul oleh pengetahuan akan kebaikan-Nya.”

4)   Mandat Budaya
 Dalam peranan fungsional manusia yang diciptakan dalam gambar Allah, manusia memiliki peran yang penting, yaitu untuk membudidayakan seluruh alam semesta ciptaan Allah. Hal tersebut terlihat melalui perkataan Allah yang pertama kepada manusia setelah Ia menciptakannya. Allah berkata, “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.”

Firman-Nya yang pertama kali dinyatakan kepada manusia saat itu sesungguhnya menjelaskan tujuan keberadaan manusia di bumi, yaitu untuk berkuasa dan menaklukkan bumi. Perintah Allah bagi manusia untuk menggenapi tujuan mulia tersebut disebut mandat budaya. Dalam seluruh Alkitab, hanya terdapat dua mandat dari Allah bagi manusia, yaitu mandat budaya dan mandat rohani/Injil. Mandat budaya adalah membudidayakan seluruh alam semesta ciptaan Allah bagi kemuliaan Allah. Sedangkan mandat rohani atau mandat Injil adalah perintah untuk memberitakan Injil ke seluruh dunia (Mat. 28:19-20).

Henry Meeter menyatakan bahwa, “Kamus mendefinisikan kebudayaan sebagai tindakan mengolah atau mengembangkan, atau keadaan setelah dikembangkan.”[17] Orang-orang yang tidak bertanggungjawab, menafsirkan mandat budaya sebagai upaya eksploitasi alam secara besar-besaran dan semena-mena. Tetapi bukanlah itu yang dimaksudkan. H. Henry Meeter menambahkan, “Setelah mengembangkan semua itu, manusia harus meletakkan segenap produk kebudayaannya, seluruh ciptaan, di bawah kaki Dia yang adalah Raja atas manusia dan atas alam.”[18]

Dengan demikian, menjadi jelas, bahwa mandat budaya bukanlah perintah eksploitasi alam besar-besaran secara tidak bertanggung jawab. Melainkan sebagai tugas jabatan pengelola (Manager) yang berada di bawah otoritas Allah sendiri yang adalah Raja atas semesta. Maka, seorang Kristen harus menyadari bahwa tidaklah benar kehidupan yang menjauhkan diri dari dunia dan hanya memperhatikan hal-hal rohani seperti yang dilakukan dalam biara-biara Katolik, Buddha, dan agama-agama lainnya. Karena dengan melakukan hal yang demikian, maka seseorang tersebut akan mengabaikan mandat budaya.

Melainkan, seorang Kristen setelah percaya kepada Tuhan Yesus secara sungguh-sungguh, harus memperhatikan mandat budaya dengan lebih seksama. Pekerjaan yang ditekuni, cita-cita yang diimpikan, pendidikan yang ditempuh, dan apa pun yang dilakukan seorang beriman sebagai manusia di dunia, harus seluruhnya sesuai dengan Firman Allah, sehingga membawa kemuliaan bagi nama-Nya. Tidaklah dibenarkan untuk melakukan pekerjaan yang bertentangan dengan Firman Tuhan, begitu juga tidak dibenarkan untuk bekerja bagi diri sendiri dan bukan untuk Tuhan. Kedua sisi ini harus diperhatikan dalam menjalankan mandat budaya, yaitu pekerjaan yang ditekuni harus sesuai dengan Firman Allah, dan pekerjaan tersebut dilakukan untuk kemuliaan Allah saja.


KEADAAN MANUSIA SETELAH BERDOSA
 Dalam memahami penciptaan manusia, kita menyaksikan melalui Alkitab betapa agung dan mulia makhluk yang bernama manusia itu, karena ia adalah satu-satunya makhluk yang paling serupa dengan Allah. Tetapi kemudian, hanya satu pasal kemudian setelah Adam mendiami taman Eden, yaitu pasal 3 dinyatakan bahwa Adam dan Hawa telah melanggar perintah Allah. Dalam bagian ini tidak akan diuraikan secara mendetail mengenai si ular, mengapa mereka jatuh dalam dosa, dan bagaimana mereka bersembunyi dari Tuhan Allah. Yang akan diperhatikan hanyalah dosa dan akibat dosa tersebut.

    1)        Definisi Dosa
 Sangat berbahaya jika dosa dipahami dengan cara yang salah. Beberapa orang yang saya temui menyatakan bahwa dosa adalah membunuh, memfitnah, berzinah, dan beberapa tindakan tidak bermoral lainnya. Jika demikian halnya, banyak orang yang tidak berdosa, karena tidak semua orang membunuh, memfitnah, berzinah, dan melakukan tindakan-tindakan yang tidak bermoral di mata hukum. Kemudian karena orang merasa diri tidak berdosa, karena tidak berdosa maka tidak akan masuk neraka, karena tidak akan masuk neraka maka tidak perlu Juruselamat. Pemahaman demikian seringkali terjadi karena salah memahami dosa. Sungguh sangat berbahaya sekali!

Jika demikian, apakah perbuatan-perbuatan tersebut tidak dosa? Tentu saja dosa, yang saya maksudkan adalah dosa tidak sebatas perbuatan-perbuatan yang tidak bermoral di mata hukum. Dosa berasal dari kata Yunani ἁμαρτία (hamartia) yang artinya adalah meleset dari sasaran dan juga melanggar hukum Allah.[19] Memang terdapat beberapa definisi lain dari dosa, tetapi menurut saya, kedua definisi tersebut telah mewakili definisi lainnya. Dosa juga dalam bahasa Yunani seringkali disampaikan dalam bentuk kata lain yang sinonim dengan kata hamartia, tetapi kata ἁμαρτία (hamartia) adalah dosa dalam arti yang paling luas. Itu sebabnya doktrin dosa menggunakan istilah hamartologi.

Dari definisi tersebut, kita mengetahui bahwa dosa adalah setiap tindakan kita yang meleset dari tujuan dan perintah Allah. Maka, setiap orang yang beramal banyak, tetapi melakukannya bukan untuk kemuliaan Allah Tritunggal, adalah orang yang berbuat dosa. Karena meskipun beramal dan mengeluarkan banyak uang, tetapi tetap meleset dari tujuan Allah. Demikian juga orang-orang yang hidup saleh di dunia, tetapi tidak percaya Tuhan Yesus adalah berdosa, karena meleset dari perintah Allah untuk percaya kepada Anak Tunggal Allah. Akhirnya, Alkitab menyatakan dalam Roma 3:23, “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.”

Bertolak dari fakta Alkitab di atas, pemikiran orang-orang akan berubah menjadi karena semua orang berdosa, maka semua orang akan masuk neraka, karena semua orang masuk neraka maka semua orang butuh Juruselamat. Dengan mendefinisikan dosa dengan benar saja, sesungguhnya kita telah mampu membantu banyak orang untuk mengenal Kristus. Atau sederhananya, setiap kali kita memberitakan Injil, sebelum memberitakan Sang Juruselamat, beritakanlah dulu Sang Dosa yang merusak seluruh dunia ini. Apabila kita langsung memberitakan Sang Juruselamat tanpa memberitakan Sang Dosa, maka banyak orang akan menolak mentah-mentah, karena mereka merasa diri tidak berdosa dan tidak memerlukan Sang Juruselamat.
 
     2)        Total Depravity (Kerusakan Total)
           Total depravity atau kerusakan total adalah ajaran teologi Reformed yang mengajarkan bahwa manusia dalam dirinya telah rusak secara total karena dosa. Tidak ada lagi sesuatu yang baik dalam diri manusia. Gambar diri Allah dalam diri manusia yang meliputi tiga aspek yaitu substansi, relasional, dan fungsional telah rusak secara total. Mungkin beberapa orang bertanya, “Bukankah manusia masih bisa berbuat baik? Orang-orang yang bukan Kristen terkadang beramal lebih banyak dari orang Kristen?” Pertanyaan tersebut membuktikan orang tersebut belum mengerti definisi dosa. Dosa berarti meleset dari sasaran Allah dalam hidup ini, bukan sebatas tidak beramal. Maka, ketika seseorang beramal tetapi bukan untuk kemuliaan Allah Tritunggal, apakah hal itu perbuatan baik, atau justru hal itu merupakan dosa? Tentu saja dosa! Karena dengan ia tidak melakukan segala sesuatu bagi kemuliaan Allah, ia telah meleset dari sasaran Allah. Meleset dari sasaran Allah tersebut yang disebut dosa!

Semua manusia yang pernah saya temui, selalu mampu berbuat baik di mata manusia. Maka orang-orang sering menyatakan, “Setiap manusia itu memiliki sisi baik dan buruk.” Tetapi tidak demikian di mata Allah. Apa yang dimaksud dengan “total depravity” adalah ajaran bahwa manusia tidak mampu lagi berbuat baik di mata Allah, bukan di mata manusia. Pdt. G. J. Baan mengatakan bahwa ketidakberdayaan manusia untuk melakukan apa yang baik tersebut sering diacu dengan kata kerusakan.[20] Maka kebanyakan teolog menyebutnya sebagai “kerusakan total” atau “total depravity”. Mari kita melihat bagaimana dosa masuk ke dalam dunia dan merusak manusia.

Sejak semula, Allah telah berfirman, “Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.”[21] Apakah kematian yang dimaksudkan? John Gill mengatakan, “Moreover, a spiritual or moral death immediately ensued; he lost his original righteousness, in which he was created; the image of God in him was deformed.”[22] (Lebih lagi, sebuah kematian rohani atau moral segera terjadi; dia kehilangan kebenarannya yang semula, yang mana ia diciptakan; Gambar Allah dalam dirinya telah berubah bentuk.)

Saya setuju dengan pandangan Gill, kematian yang dimaksudkan ketika manusia memakan buah terlarang tersebut bukanlah kematian fisik yang langsung terjadi, tetapi suatu kematian rohani yang langsung terjadi. Apabila kita melihat seluruh Alkitab, kematian tidak pernah diartikan dalam arti “musnah” tetapi selalu diartikan sebagai “terpisah”. Ketika seorang manusia mati secara fisik, artinya fisiknya terpisah dari jiwanya, tetapi bukan berarti ia musnah/menghilang seketika. Dalam bagian pertama, ketika dibahas mengenai manusia diciptakan dari debu tanah, telah saya sampaikan bahwa jiwa manusia tidak pernah diciptakan, tetapi dihembuskan langsung dari Allah, maka jiwa manusia adalah kekal dan tidak dapat musnah. Kematian yang berarti “terpisah” tersebut, apabila diartikan ke dalam situasi kematian rohani Adam dan Hawa, maka dapat dikatakan bahwa Adam dan Hawa secara rohani menjadi terpisah dari Allah.

Semenjak keterpisahan manusia dengan Allah atau kematian rohani manusia, segala sesuatu menjadi berubah. Manusia yang tadinya memancarkan kemuliaan Allah sekarang menjadi kehilangan kemuliaan Allah (Rm. 3:23). Manusia yang tadinya hidup dalam persekutuan dengan Allah, menjadi takut dan bersembunyi dari hadirat Allah (Kej. 3:8). Manusia yang tadinya berfungsi sebagai raja atas alam semesta yang diciptakan Allah, untuk mengelola dan menikmati alam, menjadi susah payah dalam mengandung bagi yang wanita, susah payah dalam mencari rezeki dari tanah bagi yang pria, dan alam sendiri terkutuk karena dosa manusia pertama (Kej. 3:16-19). Kedua kesusahan ini merupakan bukti bahwa manusia sudah tidak mungkin menjalankan mandat budaya secara sempurna, karena mandat budaya meliputi beranak cucu dan menguasai bumi. Sedangkan manusia menjadi susah untuk melahirkan dan susah untuk mengerjakan/mengelola bumi karena kutuk dosa.

3)        Mesias Yang Dijanjikan

Tetapi, terpujilah Allah dalam hikmat-Nya yang Agung! Sebelum kutuk dosa diberikan kepada manusia mulai dari Kejadian 3:16, Allah telah menjanjikan berkat yang akan menjadi jawaban bagi masa depan manusia yang suram dan tanpa harapan, yaitu janji tentang Mesias yang pertama! Kejadian 3:15, ayat tersebut adalah proto-evangelium (Injil yang pertama).

Perhatikanlah, bahwa Injil yang pertama tidak dimulai dari kitab nabi-nabi atau kitab sejarah, tetapi Injil yang pertama diberikan tepat setelah manusia jatuh ke dalam dosa, dan tepat sebelum kutuk dosa merusak masa depan manusia! Karena itulah, hanya Injil yaitu janji mengenai kedatangan Sang Mesias yang akan mengalahkan si ular tersebut, yang mampu mengatasi dosa, dan merubah masa depan manusia yang suram menjadi kembali kepada kemuliaan Allah yang semula.

ADAM MANUSIA PERTAMA
 Dalam bagian ini, kita akan melihat beberapa ayat dalam Alkitab yang menyatakan bahwa Adam adalah manusia pertama yang diciptakan Allah. Ayat-ayat tersebut adalah sebagai berikut:

1Kor 15:45
Seperti ada tertulis: “Manusia pertama, Adam menjadi makhluk yang hidup,” tetapi Adam yang akhir menjadi roh yang menghidupkan.

Kej 3:20
Manusia itu memberi nama Hawa kepada isterinya, sebab dialah yang menjadi ibu semua yang hidup.

Dalam bahasa Ibrani, kata “hidup” dari klausa “ibu semua yang hidup” menggunakan kata “hay” yang bisa diartikan manusia, atau pun keturunan. Jadi ayat itu dapat diterjemahkan, ibu dari semua manusia.

Kis 17:26
Dari satu orang saja Ia telah menjadikan semua bangsa dan umat manusia untuk mendiami seluruh muka bumi dan Ia telah menentukan musim-musim bagi mereka dan batas-batas kediaman mereka.

Ayat tersebut menjelaskan bagaimana Allah menjadikan seluruh umat manusiauntuk mendiami seluruh muka bumi. Yaitu menciptakannya melalui satu orang saja. Maka ajaran mengenai Adam adalah manusia pertama yang Tuhan ciptakan adalah ajaran yang Alkitabiah.

0 comments:

Posting Komentar