PENDAHULUAN
Sebelum bab ini, telah dibahas mengenai
manusia, dimulai dari sejak kemuliaan manusia sebagai satu-satunya ciptaan yang
diberikan gambar dan diri Allah, tetapi kemudian jatuh ke dalam dosa, mengalami
kerusakan total, sehingga memiliki ketidakmampuan total untuk berbuat baik.
Hal tersebut sungguh luar biasa mengerikan terjadi dalam diri manusia, tetapi masih ada hal lain yang lebih mengerikan. Allah mengutuk tanah sehingga manusia harus bersusah payah untuk mencari rezeki, susah payah mengandung dan melahirkan bagi wanita, bahkan dikatakan kepada Adam bahwa ia akan mencari makanannya dengan bersusah payah (Kej. 3:19). Sungguh suatu kutuk yang mengerikan akibat dosa, yang juga masih dialami oleh manusia di zaman ini. Tetapi itu pun belum cukup, masih ada yang paling mengerikan.
Hal tersebut sungguh luar biasa mengerikan terjadi dalam diri manusia, tetapi masih ada hal lain yang lebih mengerikan. Allah mengutuk tanah sehingga manusia harus bersusah payah untuk mencari rezeki, susah payah mengandung dan melahirkan bagi wanita, bahkan dikatakan kepada Adam bahwa ia akan mencari makanannya dengan bersusah payah (Kej. 3:19). Sungguh suatu kutuk yang mengerikan akibat dosa, yang juga masih dialami oleh manusia di zaman ini. Tetapi itu pun belum cukup, masih ada yang paling mengerikan.
Yang
saya maksud paling mengerikan adalah menjadi mati secara rohani, atau terpisah
dengan Allah. Dalam kitab Kejadian, hal tersebut dapat terlihat melalui
tindakan Tuhan Allah mengusir manusia dari taman Eden (Kej. 3:23). Tindakan
Allah mengutuk dan mengusir manusia dari taman Eden menyatakan dengan tegas,
bahwa manusia tidak lagi menjadi sekutu Allah seperti pertama diciptakan,
melainkan menjadi musuh Allah. Mungkin beberapa orang mengatakan, “Bukankah
Allah mahakasih?” Jawabannya tentu saja. Tetapi kemudian kita harus mengingat
bahwa Ia adalah Allah yang maha-adil! Tiada satupun pelanggaran yang dilupakan
dan tidak diadilinya. Bukankah manusia diwakilkan oleh Adam dan Hawa telah
memutuskan untuk melanggar perintah Allah, mengikuti saran si Iblis dalam wujud
ular, dan ingin menjadi seperti Allah? Tidakkah Allah yang maha-adil akan
menghukum tindakan yang sangat keji seperti itu?
KEPASTIAN MASUK NERAKA
Jawaban
dari pertanyaan diatas adalah “YA”! Mari kita renungkan sejenak apa yang telah
kita pelajari dalam bab sebelumnya, yaitu bahwa Allah telah memahkotai manusia
untuk menjadi raja atas semesta ciptaan-Nya, bukankah Ia telah memberikan
segala sesuatu yang diperlukan manusia untuk menyukakan hati mereka? Tetapi
manusia membalas kebaikan Tuhan dengan kedurhakaan yang besar. Untuk hal itu
mereka pasti dihukum.
1) Definisi Neraka
Iman
Kristen mempercayai suatu tempat yang disebut “neraka”. Apakah tempat itu
merupakan tempat yang menyenangkan? Tentu saja tidak, setiap orang Kristen
pasti mengetahuinya. Tempat tersebut adalah tempat siksaan kekal yang
diciptakan oleh Tuhan Allah untuk menghukum dosa dalam kekekalan. Tuhan Yesus
mengatakan, “Dan mereka ini akan masuk ke tempat siksaan yang kekal, tetapi
orang benar ke dalam hidup yang kekal."[1] Mengenai
tempat, Alkitab tidak menyatakan dengan jelas apakah tempat siksaan bagi orang
berdosa saat ini sama dengan lautan api setelah penghakiman takhta putih atau
penghakiman terakhir (Why. 20:15). Tetapi, Alkitab menyatakan dengan jelas,
bahwa ada suatu tempat untuk penghukuman Allah yang kekal, dan itulah yang saat
ini disebut dengan istilah neraka.
2) Siapakah Penghuni Neraka?
Ketika
Ia mengajar di dunia, Tuhan Yesus pernah mengatakan, “Dan Ia akan berkata juga
kepada mereka yang di sebelah kiri-Nya: Enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu
orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah sedia untuk
Iblis dan malaikat-malaikatnya.”[2] Dari
ayat tersebut, kita dapat mengerti, bahwa neraka diciptakan untuk Iblis, dan
juga untuk manusia. Tetapi manusia yang seperti apa?
Rasul
Paulus mengatakan, “Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah
hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.”[3] Maut
yang dimaksud Rasul Paulus adalah maut yang kekal, yaitu siksaan api neraka.
Kita dapat mengetahuinya karena ia membandingkan maut tersebut dengan hidup
yang kekal. Tidak mungkin ia membandingkan kematian tubuh yang sementara dengan
hidup yang kekal, karena jelas yang sementara tidak sepadan dengan yang kekal.
Tetapi apa yang dia bandingkan adalah maut yang kekal dengan hidup yang kekal.
Yang pertama yaitu maut yang kekal dimiliki oleh yang berdosa, sedangkan yang
kedua yaitu hidup yang kekal dimiliki hanya melalui karunia Allah.
Maka,
melalui pengajaran rasul Paulus tersebut, kita mengerti, bahwa setiap orang
berdosa akan mengalami kematian yang kekal. Setiap orang yang berdosa pasti
akan dihukum Allah oleh karena Ia maha-adil! Ketika Tuhan Yesus berbicara
dengan Nikodemus, Ia mengucapkan kalimat yang jelas sekali mengenai siapa yang
akan menerima hukuman tersebut. Ia mengatakan, “Barangsiapa percaya kepada-Nya,
ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah
hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah.”[4] Semua
yang belum beriman kepada Kristus, atau semua orang yang masih hidup di dalam
dosa, telah berada dalam hukuman itu!
Mungkin
suatu analogi akan mempermudah saudara untuk mengerti ajaran kepastian hukuman
neraka ini. Seandainya, hidup seorang bapak yang bernama A. Bapak A adalah
seorang yang sangat baik. Ia pintar, memiliki banyak gelar dengan nilai Summa
Cumlaude atau nyaris sempurna, dermawan, suka menolong, disenangi oleh
semua orang, dan memiliki seluruh sikap baik yang pernah dimiliki manusia.
Selama 50 tahun, bapak A telah mengabdi sebagai dokter ditempat ia tinggal.
Banyak sekali pasien yang telah tertolong, disembuhkan, dan merasa sangat
berterima kasih atas pelayanan kesehatan yang diberikannya.
Kemudian,
dalam satu hari yang membuatnya kurang beruntung, ia terpaksa mengendarai mobil
dengan cepat karena suatu keperluan. Ketika ia mengendarai mobil dengan cepat,
ia menabrak seorang gadis kecil yang sedang menaiki sepeda untuk pulang dari
sekolahnya. Dan gadis kecil itu tewas. Orang tua gadis kecil tersebut tidak
menerima perilaku dari bapak A tersebut, sehingga menuntut dengan tuntutan
“nyetir ugal-ugalan” atau perilaku mencelakakkan orang lain. Setelah hakim
menimbang-nimbang perkara tersebut, dan dengan beberapa saksi yang melihat
bahwa bapak A mengendarai mobil dengan kecepatan yang tidak wajar, akhirnya
hakim memutuskan bahwa bapak A harus dipenjara. Adilkah keputusan hakim
tersebut?
Tentu
saja. Karena “nyetir ugal-ugalan” adalah tindakan yang melanggar hukum dan
mencelakakkan orang lain. Tetapi apakah saudara memperhatikan alur cerita tadi,
apakah saudara menyadari bahwa bapak A memiliki banyak kebaikan yang ia lakukan
selama 50 tahun terakhir hidupnya, tetapi hanya karena satu pelanggaran, maka
ia dijebloskan kedalam penjara? Begitu pula dengan anda, tidak perlu banyak
dosa untuk membuat anda mendapatkan penghukuman neraka, cukup dengan satu dosa!
Pernahkah anda melakukan satu dosa?
KESELAMATAN DARI ALLAH
Karena anda pasti pernah melakukan satu dosa,
maka pastilah anda akan binasa dalam penghukuman Tuhan. Si bapak A yang telah
dipenjara, hanya mengalami hukuman dari manusia yaitu pemerintah. Hal itu ia
terima karena ia melanggar hukum dari pemerintah setempat, tetapi seseorang
yang melanggar hukum Allah pastilah dihukum oleh Allah sendiri yang jauh lebih
besar daripada siapa pun, dan yang pemerintahan-Nya meliputi seluruh alam
semesta ciptaan-Nya. Jika demikian, masih adakah harapan bagi umat manusia yang
telah jatuh dalam dosa?
1) Janji Keselamatan
Dalam
bab sebelumnya, saya telah menyatakan, bahwa Allah memberi janji akan
kedatangan Sang Juruselamat, tepat setelah manusia berdosa, dan sebelum kutuk
dosa diberikan kepada manusia. Janji tersebut merupakan janji keselamatan
pertama yang diberikan Allah kepada manusia, maka disebut proto-evangelium (Injil
yang pertama). Janji tersebut berbunyi, “Aku akan mengadakan permusuhan antara
engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya
akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.” Melalui
janji tersebut, kita dapat mengerti beberapa hal.
Pertama,
Allah yang memberikan janji tersebut kepada manusia. Perhatikanlah, manusia
tidak meminta janji tersebut, atau manusia tidak mempengaruhi Allah sedikit pun
untuk memberikan janji tersebut. Bahkan, melalui ayat-ayat lain dalam Alkitab,
kita bisa mengetahui, bahwa manusia berdosa, tidak pernah bisa berpikir bahwa
mereka memerlukan janji dan kuasa Allah untuk bisa menang atas Iblis. Mereka
selalu merasa diri mampu, sekalipun kenyataannya mereka telah rusak total oleh
kuasa dosa. Maka janji keselamatan atau Injil yang pertama tersebut adalah
pemberian Allah semata.
Kedua,
Allah menjanjikan manusia akan menang terhadap si Iblis yang dijelaskan dalam
bentuk ular dalam kitab Kejadian tersebut. Kehidupan ini tidak akan hanya
sekedar berputar-putar, yin dan yang, yang jahat dan yang baik, lalu kemudian
yang mati lalu lahir, terjadi reinkarnasi, kemudian terjadi lagi yang jahat dan
yang baik. Hal tersebut bertentangan dengan fakta Alkitab dalam Kej. 3:15.
Melainkan, Alkitab menyatakan dalam Injil yang pertama tersebut bahwa keturunan
Hawa akan meremukkan kepala si Iblis, dalam arti Iblis akan dikalahkan nanti,
itulah janji Tuhan. Maka kegelapan kejahatan manusia ditengah dunia, tidak akan
ada untuk selama-lamanya.
Ketiga,
janji tersebut diberikan kepada seluruh umat manusia yang adalah keturunan Adam
dan Hawa. Alkitab mengajarkan bahwa seluruh manusia dilahirkan dari Adam dan
Hawa, maka jika Allah menjanjikan kemenangan atas Iblis kepada keturunan Adam
dan Hawa, itu artinya Allah menjanjikannya kepada seluruh umat manusia, karena
seluruh manusia adalah keturunan Adam dan Hawa. Kejadian 3:20 menyatakan,
“Manusia itu memberi nama Hawa kepada isterinya, sebab dialah yang menjadi ibu
semua yang hidup.” Mengenai
keuniversalan Kejadian 3:15, Prof. George W. Peters mengatakan:
Janji ini diberikan kepada seluruh umat manusia. Kejadian 3:15
yang adalah bentuk protevangelium, yang menjadi bintang fajar di tengah malam
yang paling gelap dari umat manusia, adalah satu janji yang memiliki arti
penting secara universal. Di sini keuniversalan yang alkitabiah dilahirkan
sebagaimana halnya harapan yang diberitakan kepada semua manusia. Janji ini
memberikan harapan yang sama besarnya bagi orang-orang Cina, India, Negro, atau
Indian Amerika maupun bagi orang Israel atau orang Eropa masa kini. Lingkup
rasanya tidak boleh diabaikan, sebab hanya jika Kristus menjadi Juruselamat
dari seluruh umat manusia, maka Kejadian 3:15 benar-benar digenapi.
Keempat,
kemenangan yang dijanjikan Allah tersebut akan terlaksana dengan penderitaan
dari Sang Juruselamat keturunan Hawa. Ungkapan “meremukkan tumitnya” menyatakan
bahwa sekalipun Sang Juruselamat keturunan Hawa tersebut menang atas Iblis,
tetapi tetap Ia akan menderita. Memang dalam Kejadian 3:15 belum dinyatakan
mengenai Tuhan Yesus, karena berita Injil baru saja dimulai dalam Kejadian
3:15, tetapi belum secara penuh dinyatakan dalam Kejadian 3:15.
Ayat-ayat
Alkitab setelah dari Kejadian 3:15 akan memperjelas janji tersebut beserta
dengan penggenapannya yang akhirnya dilakukan oleh Sang Juruselamat, yaitu
Tuhan Yesus. Hal itu disebut dengan progressive revelation(pewahyuan
bertahap). Walter C. Kaiser, Jr., mengatakan, “Janji itu secara bersinambungan
digenapi dalam Perjanjian Lama; namun menunggu penggenapan puncaknya dalam
hubungan dengan dua kedatangan Mesias-Sang Hamba.”[8]Yang
dimaksud dua kedatangan Mesias adalah kedatangan pertama yang diikuti
penderitaannya di kayu salib, dan kedatangan kedua yang akan diikuti dengan
penghakiman dan akhir zaman.
Kelima,
meski memiliki rincian yang panjang dalam Alkitab, yaitu Perjanjian Lama yang
terus memperjelas janji itu dari zaman ke zaman dan Perjanjian Baru yang
menyatakan penggenapan dari janji tersebut, janji itu sebenarnya hanya satu
janji saja. Yaitu janji akan kedatangan Sang Mesias atau Sang Juruselamat
dunia, tetapi janji tersebut disampaikan melalui pewahyuan yang bertahap.
Walter C. Kaiser, Jr., menyatakan, “Janji tunggal itu adalah suatu rencana
tunggal yang pasti dari Allah untuk menggunakan satu orang dan melalui dia
memberkati seluruh dunia.”[9] Puncak
dari janji tersebut akan digenapi melalui kedatangan Tuhan Yesus yang kedua,
yang akan lebih jelas dipelajari dalam bagian eskatologi.
2) Apakah Semua Orang Menerima Janji Keselamatan?
Telah kita pelajari sebelumnya, bahwa janji
keselamatan yang meliputi kemenangan atas dosa dan Iblis adalah bersifat
universal. Tetapi, apakah hal itu berarti bahwa semua orang akan masuk surga?
Apakah itu berarti bahwa setiap manusia akan mendapatkan kemenangan atas Iblis
yang dijanjikan sejak Kejadian 3:15?
Salah
satu ajaran yang paling terkenal mengenai hal ini adalah Universalisme. R. C.
Sproul mengatakan, “Universalism teaches that everyone is saved and goes to heaven.” (Universalisme
mengajarkan bahwa setiap orang diselamatkan dan pergi ke surga). Ajaran ini
sangat menekankan pribadi Allah yang mahakasih. Tetapi ajaran ini sudah jelas
tidak masuk akal, karena dalam bagian sebelumnya kita telah mempelajari, bahwa
Allah tidak hanya mahakasih, tetapi juga maha-adil. Apakah pengadilan yang
membebaskan seseorang yang bersalah dapat dikatakan adil? Tentu saja tidak,
apalagi maha-adil. Apakah Allah merupakan Allah yang maha-adil jika ia
membebaskan manusia berdosa dan tidak menghukum mereka? Tentu saja tidak adil!
Untuk
mengerti mengenai kepada siapa Allah memberikan janji keselamatan, kita harus
melihat ajaran Tuhan Yesus sendiri. Saya akan memaparkan ajaran-Nya yang sudah
sangat terkenal, yaitu Yohanes 3:16-18. Dalam bagian itu, Tuhan Yesus
mengatakan kepada Nikodemus sebagai berikut:
Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia
telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya
kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah
mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk
menyelamatkannya oleh Dia. Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan
dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia
tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah.[11]
Dikatakan
bahwa keselamatan bersifat universal yaitu untuk seluruh dunia melalui Anak-Nya
yang tunggal, tetapi perhatikan, hanya setiap orang yang percaya kepada-Nya
yang akan memperoleh hidup yang kekal. Jelas sekali dalam bagian ini, Tuhan
Yesus mengajarkan bahwa untuk bisa memperoleh hidup yang kekal, manusia harus
percaya kepada Anak Tunggal Allah yaitu Tuhan Yesus Kristus. Mengapa? Sebab
Tuhan Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang-orang yang percaya
kepada-Nya. Dalam Matius 1:21, malaikat menyatakan kepada Yusuf, “Ia akan
melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah
yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka.” Perhatikanlah kalimat
“menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka.” Apakah dikatakan Ia akan
menyelematkan semua orang? Tidak, hanya umat-Nya saja! Yaitu orang-orang yang
percaya kepada-Nya dan menyembah Dia!
Jika
demikian, bagaimana dengan orang-orang yang tidak percaya? Tuhan Yesus
mengatakan dalam Yohanes 3:18, “Barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di
bawah hukuman.” Hal ini bersesuaian dengan apa yang telah kita pelajari
sebelumnya, yaitu mengenai kepastian hukuman Allah. Kepastian neraka bagi
setiap orang berdosa, dan karena setiap orang berdosa, maka setiap orang pasti
masuk neraka. Allah memang menyediakan janji keselamatan, tetapi bukan untuk
orang yang tidak percaya, melainkan hanya untuk yang percaya kepada Tuhan
Yesus. Sehingga orang-orang yang tidak percaya, tetap berada di bawah hukuman
kekal Allah akibat dosa yang mencemari seluruh umat manusia.
3) Orang Yang Percaya
Apakah
semua orang percaya kepada Sang Mesias? Tentu saja tidak. Mengapa tidak?
Mengapa ada orang yang percaya dan ada yang tidak? Percaya yang bagaimanakah
yang membuat manusia diselamatkan? Pertanyaan-pertanyaan tersebut seringkali
mengganggu kita dalam memahami ajaran keselamatan yang Alkitabiah. Untuk
menjawab beberapa pertanyaan penting diatas, kita perlu melihat satu bagian
Alkitab yang sangat terkenal, yaitu Efesus 2:8-9. Dikatakan disana, “Sebab
karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu,
tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang
memegahkan diri.”
Kata
karena kasih karunia, mengingatkan kita kepada pengajaran mengenai Injil yang
pertama, yaitu Kejadian 3:15. Janji mengenai kemenangan atas Iblis dan
kedatangan Sang Juruselamat tersebut tidak dimulai dari manusia, tetapi dari
Allah sendiri. Mungkin beberapa saudara tidak akrab dengan kata karunia. Karunia
secara sederhana berarti hadiah. Jadi, Allah oleh kasih-Nya yang besar,
memberikan hadiah keselamatan kepada manusia. Apakah seluruh manusia diberikan
hadiah tersebut? Tidak, hanya sebagian saja. Sebagian lagi tidak. Bagaimana
kita mengetahui orang-orang tersebut diberi hadiah keselamatan atau tidak?
Jawabannya
adalah melalui iman. Orang yang dihadiahi keselamatan akan beriman kepada Tuhan
Yesus. Iman tersebut berasal dari kata Yunani πίστις (pistis) yang artinya secara sederhana adalah
kepercayaan kepada Allah. Tetapi dalam Perjanjian Baru, terutama dalam
surat-surat Rasul Paulus, tidak semua kepercayaan akan Allah dinilai sebagai
kepercayaan yang benar.
Percaya
atau iman yang benar adalah iman kepada Alkitab sebagai Firman Allah, dan
segala sesuatu yang tertulis di dalamnya. Iman yang diberikan kepada
orang-orang yang dihadiahi keselamatan oleh Allah bukanlah iman kepada sesuatu
diluar Alkitab. Tetapi karena begitu panjang, terperinci, dan kaya isi dari
Alkitab, maka Gereja merumuskan kepercayaan iman yang benar tersebut dalam
pengakuan iman Rasuli. Saudara harus mempercayai pengakuan iman tersebut untuk
diselamatkan, bahkan harus mengikrarkannya dalam segala segi kehidupan saudara.
Kita
kembali kepada pengajaran Efesus 2:8-9, selanjutnya dikatakan, “itu bukan hasil
usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang
yang memegahkan diri.” Apakah yang dimaksud bukan hasil usahamu? Bukan hasil
pekerjaanmu? Yang dimaksud adalah iman itu sendiri. Iman tersebut tidak
dihasilkan dari diri manusia yang berdosa. Sebelumnya kita telah mempelajari
bahwa kejatuhan manusia kedalam dosa membuat manusia rusak secara total, dan
tidak dapat berbuat sesuatu pun yang baik dimata Allah. Termasuk iman, manusia tidak
bisa mengusahakan dirinya yang berdosa untuk beriman dan takluk kepada Allah.
Yohanes
16:13 menyatakan, “Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan
memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran.” Maka untuk seseorang dapat mengerti
dan mempercayai kebenaran Alkitab, harus dipimpin oleh Roh Kudus. Dan hanya
orang-orang yang telah dianugerahi pimpinan Roh Kudus tersebut yang dapat
beriman kepada Allah dengan benar dan diselamatkan.
KEPASTIAN MASUK SURGA
Sama seperti orang berdosa pasti menerima
kematian kekal yaitu neraka, demikian pula orang yang benar pasti menerima
hidup yang kekal yaitu surga. Persoalannya, bagaimanakah menjadi orang benar?
Lalu, apakah sebenarnya yang dimaksud dengan istilah “surga”? Apakah kehidupan
yang penuh dengan kenikmatan seperti yang digambarkan oleh beberapa agama?
Ataukah surga tersebut berada di dunia ini, maka terdapat istilah “surga di
dunia”?
1) Definisi Surga
Surga di dalam Alkitab sulit untuk didefinisikan.
Menurut saya, surga dapat disimpulkan sebagai suatu tempat bersama dengan Tuhan
atau hadirat Tuhan itu sendiri. Persoalannya, Alkitab menyatakan beberapa
tempat hadirat Allah tersebut, singkatnya adalah tempat Allah bersemayam saat
ini, Kerajaan Seribu Tahun di dunia, dan langit dan bumi baru di dalamnya
terdapat pula Yerusalem baru, setelah dunia yang sekarang dilenyapkan (Why.
21:1).
Kemudian,
apakah surga memiliki kenikmatan-kenikmatan dunia seperti bidadari-bidadari
cantik, kenikmatan seksual, kenikmatan tubuh, dll? Jelas sekali tidak, karena
di surga, kita tubuh orang-orang beriman tidak lagi fana dan berdosa (lihat
bagian total depravity dalam doktrin manusia), tetapi di sorga, orang-orang
beriman memiliki tubuh kebangkitan, yang penuh kemuliaan (1 Tes. 4:14-17; 1
Kor. 15:51-52). Karena itu, tidaklah mungkin manusia surgawi tersebut
menginginkan hal yang duniawi, karena hal-hal surgawi jauh lebih mulia dan
menyenangkan dibandingkan dengan dunia sekarang ini yang penuh dengan penderitaan
tubuh. Prof. Sung Wook Chung menyatakan keindahan langit dan bumi baru
demikian:
Yerusalem Baru tidak akan memiliki banyak hal yang pernah kita
punyai dalam dunia sekarang ini. Kita tidak akan bisa menemukan lautan,
airmata, kematian, dukacita, atau kesakitan di sana. Dan Yerusalem Baru tidak
akan memiliki kuil-kuil apapun. Ini dikarenakan Allah yang Kudus dan Anak Domba
Allah akan berdiam bersama kita. Dalam Yerusalem Baru, tidak akan membutuhkan
terang matahari atau terang bulan lagi, karena kemuliaan Allah akan menjadi
terangnya dan Anak Domba Allah menjadi lampunya. Dalam Yerusalem Baru tidak
akan ada malam, kenajisan, atau penipuan, dan juga tidak akan ada lagi kutukan
atas ciptaan. Pada sisi yang lain, Yerusalem Baru kita akan mendapati banyak
hal yang tidak ada di dalam dunia yang lama. Di sana akan ada sungai air
kehidupan, pohon kehidupan, dan buah kehidupan. Tahta Allah dan Anak Domba
Allah akan selalu ada selamanya di hadapan kita. Kedamaian dan ketenangan akan
diberikan kepada semua orang yang telah ditebus Allah.
2) Siapakah Yang Masuk Surga
Surga sungguh indah tiada tandingannya, tetapi
orang berdosa tidak mungkin masuk surga. Karena Allah tidak mungkin membiarkan
dosa tanpa hukuman, jika demikian Allah menjadi tidak maha-adil. Persoalan
terbesarnya adalah semua orang berdosa. Jika demikian masalahnya, apakah
artinya semua manusia tidak akan masuk surga? Tentu saja! Tetapi Allah, karena
kasih karunia-Nya yang besar telah memilih sebagian orang untuk menikmati surga
dengan cara menebus mereka oleh darah-Nya! Orang-orang yang dipilih tersebut,
adalah orang-orang yang saya jelaskan diatas sebagai orang-orang yang percaya
sehingga menerima janji keselamatan.
Yang
perlu diperhatikan dalam bagian ini adalah penebusan dari Allah tersebut. Mana
mungkin Allah menebus dengan darah-Nya sedangkan Ia adalah Roh? Akan tetapi,
Alkitab mengatakan, Allah tidak hanya Roh, tetapi Dia juga pernah berinkarnasi
ke dalam dunia menjadi manusia (Yoh. 1:14). Allah yang berinkarnasi adalah
penggenapan janji keselamatan kepada Adam dan Hawa (Kej. 3:15), Ia adalah Tuhan
kita Yesus Sang Mesias (Dalam bahasa Yunani Mesias disebut Kristus). I Timotius
2:5-6 mengatakan, “Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi
pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus, yang telah
menyerahkan diri-Nya sebagai tebusan bagi semua manusia: itu kesaksian pada
waktu yang ditentukan.”
Kata
“semua” tersebut, diaplikasikan kepada semua orang yang percaya. Dengan cara
yang sedemikian unik, Alkitab menyatakan Allah sebagai Allah yang mahakasih dan
juga maha-adil. Ia mengasihi, Ia mengampuni orang-orang pilihan-Nya tetapi juga
menghukum dosa-dosa mereka di dalam Kristus Yesus, Sang Allah Anak. Maka Rasul
Paulus dalam Efesus 2:8-9 dapat mengatakan “dibenarkan karena iman!” Ketika
saudara beriman kepada Tuhan Yesus, saudara dibenarkan dalam Dia, sehingga
saudara menjadi warga surga! Yesus Kristus yang menebus, manusia yang beriman
oleh jamahan Allah Roh Kudus, itulah rahasia terbesar iman Kristen bagi
keselamatan manusia.
Suatu
ajaran yang disebut dengan arminianisme telah meresahkan
sukacita orang-orang percaya dalam hal keselamatan. Mereka mengatakan bahwa
keselamatan bisa hilang. Hari ini bisa saja percaya Tuhan Yesus, besok belum
tentu. Hal tersebut adalah omong kosong besar! Manusia dapat percaya bukan
karena kemampuan manusia semata, melainkan hanya karya Roh Kudus semata.
Bagaimana mungkin keselamatan dapat hilang, sedangkan Alkitab mengatakan
dipilih sebelum dunia dijadikan (Ef. 1:4), bahkan Allah memberikan Roh Kudus
pada orang-orang percaya untuk memateraikan setiap orang percaya, sampai
akhirnya memperoleh seluruh janji keselamatan melalui penebusan Kristus (Ef.
1:13-14). Mengenai hal ini, saya berani mengatakan, bahwa tidak ada satu pun
ayat dalam Alkitab yang secara jelas menyatakan bahwa orang yang
sungguh-sungguh beriman dan didiami Roh Kudus dapat menjadi murtad di zaman
Gereja ini.
0 comments:
Posting Komentar