Selasa, 07 November 2017

SOTERIOLOGI: DOKTRIN KESELAMATAN




Ev. David Kristanto


PENDAHULUAN

            Sebelum bab ini, telah dibahas mengenai manusia, dimulai dari sejak kemuliaan manusia sebagai satu-satunya ciptaan yang diberikan gambar dan diri Allah, tetapi kemudian jatuh ke dalam dosa, mengalami kerusakan total, sehingga memiliki ketidakmampuan total untuk berbuat baik.
Hal tersebut sungguh luar biasa mengerikan terjadi dalam diri manusia, tetapi masih ada hal lain yang lebih mengerikan. Allah mengutuk tanah sehingga manusia harus bersusah payah untuk mencari rezeki, susah payah mengandung dan melahirkan bagi wanita, bahkan dikatakan kepada Adam bahwa ia akan mencari makanannya dengan bersusah payah (Kej. 3:19). Sungguh suatu kutuk yang mengerikan akibat dosa, yang juga masih dialami oleh manusia di zaman ini. Tetapi itu pun belum cukup, masih ada yang paling mengerikan.
            Yang saya maksud paling mengerikan adalah menjadi mati secara rohani, atau terpisah dengan Allah. Dalam kitab Kejadian, hal tersebut dapat terlihat melalui tindakan Tuhan Allah mengusir manusia dari taman Eden (Kej. 3:23). Tindakan Allah mengutuk dan mengusir manusia dari taman Eden menyatakan dengan tegas, bahwa manusia tidak lagi menjadi sekutu Allah seperti pertama diciptakan, melainkan menjadi musuh Allah. Mungkin beberapa orang mengatakan, “Bukankah Allah mahakasih?” Jawabannya tentu saja. Tetapi kemudian kita harus mengingat bahwa Ia adalah Allah yang maha-adil! Tiada satupun pelanggaran yang dilupakan dan tidak diadilinya. Bukankah manusia diwakilkan oleh Adam dan Hawa telah memutuskan untuk melanggar perintah Allah, mengikuti saran si Iblis dalam wujud ular, dan ingin menjadi seperti Allah? Tidakkah Allah yang maha-adil akan menghukum tindakan yang sangat keji seperti itu?



KEPASTIAN MASUK NERAKA
             Jawaban dari pertanyaan diatas adalah “YA”! Mari kita renungkan sejenak apa yang telah kita pelajari dalam bab sebelumnya, yaitu bahwa Allah telah memahkotai manusia untuk menjadi raja atas semesta ciptaan-Nya, bukankah Ia telah memberikan segala sesuatu yang diperlukan manusia untuk menyukakan hati mereka? Tetapi manusia membalas kebaikan Tuhan dengan kedurhakaan yang besar. Untuk hal itu mereka pasti dihukum.

    1)        Definisi Neraka
             Iman Kristen mempercayai suatu tempat yang disebut “neraka”. Apakah tempat itu merupakan tempat yang menyenangkan? Tentu saja tidak, setiap orang Kristen pasti mengetahuinya. Tempat tersebut adalah tempat siksaan kekal yang diciptakan oleh Tuhan Allah untuk menghukum dosa dalam kekekalan. Tuhan Yesus mengatakan, “Dan mereka ini akan masuk ke tempat siksaan yang kekal, tetapi orang benar ke dalam hidup yang kekal."[1] Mengenai tempat, Alkitab tidak menyatakan dengan jelas apakah tempat siksaan bagi orang berdosa saat ini sama dengan lautan api setelah penghakiman takhta putih atau penghakiman terakhir (Why. 20:15). Tetapi, Alkitab menyatakan dengan jelas, bahwa ada suatu tempat untuk penghukuman Allah yang kekal, dan itulah yang saat ini disebut dengan istilah neraka.

     2)        Siapakah Penghuni Neraka?
             Ketika Ia mengajar di dunia, Tuhan Yesus pernah mengatakan, “Dan Ia akan berkata juga kepada mereka yang di sebelah kiri-Nya: Enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah sedia untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya.”[2] Dari ayat tersebut, kita dapat mengerti, bahwa neraka diciptakan untuk Iblis, dan juga untuk manusia. Tetapi manusia yang seperti apa?
            Rasul Paulus mengatakan, “Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.”[3] Maut yang dimaksud Rasul Paulus adalah maut yang kekal, yaitu siksaan api neraka. Kita dapat mengetahuinya karena ia membandingkan maut tersebut dengan hidup yang kekal. Tidak mungkin ia membandingkan kematian tubuh yang sementara dengan hidup yang kekal, karena jelas yang sementara tidak sepadan dengan yang kekal. Tetapi apa yang dia bandingkan adalah maut yang kekal dengan hidup yang kekal. Yang pertama yaitu maut yang kekal dimiliki oleh yang berdosa, sedangkan yang kedua yaitu hidup yang kekal dimiliki hanya melalui karunia Allah.
            Maka, melalui pengajaran rasul Paulus tersebut, kita mengerti, bahwa setiap orang berdosa akan mengalami kematian yang kekal. Setiap orang yang berdosa pasti akan dihukum Allah oleh karena Ia maha-adil! Ketika Tuhan Yesus berbicara dengan Nikodemus, Ia mengucapkan kalimat yang jelas sekali mengenai siapa yang akan menerima hukuman tersebut. Ia mengatakan, “Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah.”[4] Semua yang belum beriman kepada Kristus, atau semua orang yang masih hidup di dalam dosa, telah berada dalam hukuman itu!
            Mungkin suatu analogi akan mempermudah saudara untuk mengerti ajaran kepastian hukuman neraka ini. Seandainya, hidup seorang bapak yang bernama A. Bapak A adalah seorang yang sangat baik. Ia pintar, memiliki banyak gelar dengan nilai Summa Cumlaude atau nyaris sempurna, dermawan, suka menolong, disenangi oleh semua orang, dan memiliki seluruh sikap baik yang pernah dimiliki manusia. Selama 50 tahun, bapak A telah mengabdi sebagai dokter ditempat ia tinggal. Banyak sekali pasien yang telah tertolong, disembuhkan, dan merasa sangat berterima kasih atas pelayanan kesehatan yang diberikannya.
            Kemudian, dalam satu hari yang membuatnya kurang beruntung, ia terpaksa mengendarai mobil dengan cepat karena suatu keperluan. Ketika ia mengendarai mobil dengan cepat, ia menabrak seorang gadis kecil yang sedang menaiki sepeda untuk pulang dari sekolahnya. Dan gadis kecil itu tewas. Orang tua gadis kecil tersebut tidak menerima perilaku dari bapak A tersebut, sehingga menuntut dengan tuntutan “nyetir ugal-ugalan” atau perilaku mencelakakkan orang lain. Setelah hakim menimbang-nimbang perkara tersebut, dan dengan beberapa saksi yang melihat bahwa bapak A mengendarai mobil dengan kecepatan yang tidak wajar, akhirnya hakim memutuskan bahwa bapak A harus dipenjara. Adilkah keputusan hakim tersebut?
            Tentu saja. Karena “nyetir ugal-ugalan” adalah tindakan yang melanggar hukum dan mencelakakkan orang lain. Tetapi apakah saudara memperhatikan alur cerita tadi, apakah saudara menyadari bahwa bapak A memiliki banyak kebaikan yang ia lakukan selama 50 tahun terakhir hidupnya, tetapi hanya karena satu pelanggaran, maka ia dijebloskan kedalam penjara? Begitu pula dengan anda, tidak perlu banyak dosa untuk membuat anda mendapatkan penghukuman neraka, cukup dengan satu dosa! Pernahkah anda melakukan satu dosa?


KESELAMATAN DARI ALLAH
             Karena anda pasti pernah melakukan satu dosa, maka pastilah anda akan binasa dalam penghukuman Tuhan. Si bapak A yang telah dipenjara, hanya mengalami hukuman dari manusia yaitu pemerintah. Hal itu ia terima karena ia melanggar hukum dari pemerintah setempat, tetapi seseorang yang melanggar hukum Allah pastilah dihukum oleh Allah sendiri yang jauh lebih besar daripada siapa pun, dan yang pemerintahan-Nya meliputi seluruh alam semesta ciptaan-Nya. Jika demikian, masih adakah harapan bagi umat manusia yang telah jatuh dalam dosa?

     1)        Janji Keselamatan
             Dalam bab sebelumnya, saya telah menyatakan, bahwa Allah memberi janji akan kedatangan Sang Juruselamat, tepat setelah manusia berdosa, dan sebelum kutuk dosa diberikan kepada manusia. Janji tersebut merupakan janji keselamatan pertama yang diberikan Allah kepada manusia, maka disebut proto-evangelium (Injil yang pertama). Janji tersebut berbunyi, “Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.” Melalui janji tersebut, kita dapat mengerti beberapa hal.
            Pertama, Allah yang memberikan janji tersebut kepada manusia. Perhatikanlah, manusia tidak meminta janji tersebut, atau manusia tidak mempengaruhi Allah sedikit pun untuk memberikan janji tersebut. Bahkan, melalui ayat-ayat lain dalam Alkitab, kita bisa mengetahui, bahwa manusia berdosa, tidak pernah bisa berpikir bahwa mereka memerlukan janji dan kuasa Allah untuk bisa menang atas Iblis. Mereka selalu merasa diri mampu, sekalipun kenyataannya mereka telah rusak total oleh kuasa dosa. Maka janji keselamatan atau Injil yang pertama tersebut adalah pemberian Allah semata.
            Kedua, Allah menjanjikan manusia akan menang terhadap si Iblis yang dijelaskan dalam bentuk ular dalam kitab Kejadian tersebut. Kehidupan ini tidak akan hanya sekedar berputar-putar, yin dan yang, yang jahat dan yang baik, lalu kemudian yang mati lalu lahir, terjadi reinkarnasi, kemudian terjadi lagi yang jahat dan yang baik. Hal tersebut bertentangan dengan fakta Alkitab dalam Kej. 3:15. Melainkan, Alkitab menyatakan dalam Injil yang pertama tersebut bahwa keturunan Hawa akan meremukkan kepala si Iblis, dalam arti Iblis akan dikalahkan nanti, itulah janji Tuhan. Maka kegelapan kejahatan manusia ditengah dunia, tidak akan ada untuk selama-lamanya.
            Ketiga, janji tersebut diberikan kepada seluruh umat manusia yang adalah keturunan Adam dan Hawa. Alkitab mengajarkan bahwa seluruh manusia dilahirkan dari Adam dan Hawa, maka jika Allah menjanjikan kemenangan atas Iblis kepada keturunan Adam dan Hawa, itu artinya Allah menjanjikannya kepada seluruh umat manusia, karena seluruh manusia adalah keturunan Adam dan Hawa. Kejadian 3:20 menyatakan, “Manusia itu memberi nama Hawa kepada isterinya, sebab dialah yang menjadi ibu semua yang hidup.”  Mengenai keuniversalan Kejadian 3:15, Prof. George W. Peters mengatakan:

Janji ini diberikan kepada seluruh umat manusia. Kejadian 3:15 yang adalah bentuk protevangelium, yang menjadi bintang fajar di tengah malam yang paling gelap dari umat manusia, adalah satu janji yang memiliki arti penting secara universal. Di sini keuniversalan yang alkitabiah dilahirkan sebagaimana halnya harapan yang diberitakan kepada semua manusia. Janji ini memberikan harapan yang sama besarnya bagi orang-orang Cina, India, Negro, atau Indian Amerika maupun bagi orang Israel atau orang Eropa masa kini. Lingkup rasanya tidak boleh diabaikan, sebab hanya jika Kristus menjadi Juruselamat dari seluruh umat manusia, maka Kejadian 3:15 benar-benar digenapi.

            Keempat, kemenangan yang dijanjikan Allah tersebut akan terlaksana dengan penderitaan dari Sang Juruselamat keturunan Hawa. Ungkapan “meremukkan tumitnya” menyatakan bahwa sekalipun Sang Juruselamat keturunan Hawa tersebut menang atas Iblis, tetapi tetap Ia akan menderita. Memang dalam Kejadian 3:15 belum dinyatakan mengenai Tuhan Yesus, karena berita Injil baru saja dimulai dalam Kejadian 3:15, tetapi belum secara penuh dinyatakan dalam Kejadian 3:15.
            Ayat-ayat Alkitab setelah dari Kejadian 3:15 akan memperjelas janji tersebut beserta dengan penggenapannya yang akhirnya dilakukan oleh Sang Juruselamat, yaitu Tuhan Yesus. Hal itu disebut dengan progressive revelation(pewahyuan bertahap). Walter C. Kaiser, Jr., mengatakan, “Janji itu secara bersinambungan digenapi dalam Perjanjian Lama; namun menunggu penggenapan puncaknya dalam hubungan dengan dua kedatangan Mesias-Sang Hamba.”[8]Yang dimaksud dua kedatangan Mesias adalah kedatangan pertama yang diikuti penderitaannya di kayu salib, dan kedatangan kedua yang akan diikuti dengan penghakiman dan akhir zaman.
            Kelima, meski memiliki rincian yang panjang dalam Alkitab, yaitu Perjanjian Lama yang terus memperjelas janji itu dari zaman ke zaman dan Perjanjian Baru yang menyatakan penggenapan dari janji tersebut, janji itu sebenarnya hanya satu janji saja. Yaitu janji akan kedatangan Sang Mesias atau Sang Juruselamat dunia, tetapi janji tersebut disampaikan melalui pewahyuan yang bertahap. Walter C. Kaiser, Jr., menyatakan, “Janji tunggal itu adalah suatu rencana tunggal yang pasti dari Allah untuk menggunakan satu orang dan melalui dia memberkati seluruh dunia.”[9] Puncak dari janji tersebut akan digenapi melalui kedatangan Tuhan Yesus yang kedua, yang akan lebih jelas dipelajari dalam bagian eskatologi.


     2)        Apakah Semua Orang Menerima Janji Keselamatan?
             Telah kita pelajari sebelumnya, bahwa janji keselamatan yang meliputi kemenangan atas dosa dan Iblis adalah bersifat universal. Tetapi, apakah hal itu berarti bahwa semua orang akan masuk surga? Apakah itu berarti bahwa setiap manusia akan mendapatkan kemenangan atas Iblis yang dijanjikan sejak Kejadian 3:15?
            Salah satu ajaran yang paling terkenal mengenai hal ini adalah Universalisme. R. C. Sproul mengatakan, “Universalism teaches that everyone is saved and goes to heaven.” (Universalisme mengajarkan bahwa setiap orang diselamatkan dan pergi ke surga). Ajaran ini sangat menekankan pribadi Allah yang mahakasih. Tetapi ajaran ini sudah jelas tidak masuk akal, karena dalam bagian sebelumnya kita telah mempelajari, bahwa Allah tidak hanya mahakasih, tetapi juga maha-adil. Apakah pengadilan yang membebaskan seseorang yang bersalah dapat dikatakan adil? Tentu saja tidak, apalagi maha-adil. Apakah Allah merupakan Allah yang maha-adil jika ia membebaskan manusia berdosa dan tidak menghukum mereka? Tentu saja tidak adil!
            Untuk mengerti mengenai kepada siapa Allah memberikan janji keselamatan, kita harus melihat ajaran Tuhan Yesus sendiri. Saya akan memaparkan ajaran-Nya yang sudah sangat terkenal, yaitu Yohanes 3:16-18. Dalam bagian itu, Tuhan Yesus mengatakan kepada Nikodemus sebagai berikut:

Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia. Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah.[11]


            Dikatakan bahwa keselamatan bersifat universal yaitu untuk seluruh dunia melalui Anak-Nya yang tunggal, tetapi perhatikan, hanya setiap orang yang percaya kepada-Nya yang akan memperoleh hidup yang kekal. Jelas sekali dalam bagian ini, Tuhan Yesus mengajarkan bahwa untuk bisa memperoleh hidup yang kekal, manusia harus percaya kepada Anak Tunggal Allah yaitu Tuhan Yesus Kristus. Mengapa? Sebab Tuhan Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang-orang yang percaya kepada-Nya. Dalam Matius 1:21, malaikat menyatakan kepada Yusuf, “Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka.” Perhatikanlah kalimat “menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka.” Apakah dikatakan Ia akan menyelematkan semua orang? Tidak, hanya umat-Nya saja! Yaitu orang-orang yang percaya kepada-Nya dan menyembah Dia!
            Jika demikian, bagaimana dengan orang-orang yang tidak percaya? Tuhan Yesus mengatakan dalam Yohanes 3:18, “Barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman.” Hal ini bersesuaian dengan apa yang telah kita pelajari sebelumnya, yaitu mengenai kepastian hukuman Allah. Kepastian neraka bagi setiap orang berdosa, dan karena setiap orang berdosa, maka setiap orang pasti masuk neraka. Allah memang menyediakan janji keselamatan, tetapi bukan untuk orang yang tidak percaya, melainkan hanya untuk yang percaya kepada Tuhan Yesus. Sehingga orang-orang yang tidak percaya, tetap berada di bawah hukuman kekal Allah akibat dosa yang mencemari seluruh umat manusia.

     3)        Orang Yang Percaya
            Apakah semua orang percaya kepada Sang Mesias? Tentu saja tidak. Mengapa tidak? Mengapa ada orang yang percaya dan ada yang tidak? Percaya yang bagaimanakah yang membuat manusia diselamatkan? Pertanyaan-pertanyaan tersebut seringkali mengganggu kita dalam memahami ajaran keselamatan yang Alkitabiah. Untuk menjawab beberapa pertanyaan penting diatas, kita perlu melihat satu bagian Alkitab yang sangat terkenal, yaitu Efesus 2:8-9. Dikatakan disana, “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.”
            Kata karena kasih karunia, mengingatkan kita kepada pengajaran mengenai Injil yang pertama, yaitu Kejadian 3:15. Janji mengenai kemenangan atas Iblis dan kedatangan Sang Juruselamat tersebut tidak dimulai dari manusia, tetapi dari Allah sendiri. Mungkin beberapa saudara tidak akrab dengan kata karunia. Karunia secara sederhana berarti hadiah. Jadi, Allah oleh kasih-Nya yang besar, memberikan hadiah keselamatan kepada manusia. Apakah seluruh manusia diberikan hadiah tersebut? Tidak, hanya sebagian saja. Sebagian lagi tidak. Bagaimana kita mengetahui orang-orang tersebut diberi hadiah keselamatan atau tidak?
            Jawabannya adalah melalui iman. Orang yang dihadiahi keselamatan akan beriman kepada Tuhan Yesus. Iman tersebut berasal dari kata Yunani πίστις (pistis) yang artinya secara sederhana adalah kepercayaan kepada Allah. Tetapi dalam Perjanjian Baru, terutama dalam surat-surat Rasul Paulus, tidak semua kepercayaan akan Allah dinilai sebagai kepercayaan yang benar.
            Percaya atau iman yang benar adalah iman kepada Alkitab sebagai Firman Allah, dan segala sesuatu yang tertulis di dalamnya. Iman yang diberikan kepada orang-orang yang dihadiahi keselamatan oleh Allah bukanlah iman kepada sesuatu diluar Alkitab. Tetapi karena begitu panjang, terperinci, dan kaya isi dari Alkitab, maka Gereja merumuskan kepercayaan iman yang benar tersebut dalam pengakuan iman Rasuli. Saudara harus mempercayai pengakuan iman tersebut untuk diselamatkan, bahkan harus mengikrarkannya dalam segala segi kehidupan saudara.
            Kita kembali kepada pengajaran Efesus 2:8-9, selanjutnya dikatakan, “itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.” Apakah yang dimaksud bukan hasil usahamu? Bukan hasil pekerjaanmu? Yang dimaksud adalah iman itu sendiri. Iman tersebut tidak dihasilkan dari diri manusia yang berdosa. Sebelumnya kita telah mempelajari bahwa kejatuhan manusia kedalam dosa membuat manusia rusak secara total, dan tidak dapat berbuat sesuatu pun yang baik dimata Allah. Termasuk iman, manusia tidak bisa mengusahakan dirinya yang berdosa untuk beriman dan takluk kepada Allah.
            Yohanes 16:13 menyatakan, “Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran.” Maka untuk seseorang dapat mengerti dan mempercayai kebenaran Alkitab, harus dipimpin oleh Roh Kudus. Dan hanya orang-orang yang telah dianugerahi pimpinan Roh Kudus tersebut yang dapat beriman kepada Allah dengan benar dan diselamatkan.


KEPASTIAN MASUK SURGA
           Sama seperti orang berdosa pasti menerima kematian kekal yaitu neraka, demikian pula orang yang benar pasti menerima hidup yang kekal yaitu surga. Persoalannya, bagaimanakah menjadi orang benar? Lalu, apakah sebenarnya yang dimaksud dengan istilah “surga”? Apakah kehidupan yang penuh dengan kenikmatan seperti yang digambarkan oleh beberapa agama? Ataukah surga tersebut berada di dunia ini, maka terdapat istilah “surga di dunia”?

    1)        Definisi Surga
             Surga di dalam Alkitab sulit untuk didefinisikan. Menurut saya, surga dapat disimpulkan sebagai suatu tempat bersama dengan Tuhan atau hadirat Tuhan itu sendiri. Persoalannya, Alkitab menyatakan beberapa tempat hadirat Allah tersebut, singkatnya adalah tempat Allah bersemayam saat ini, Kerajaan Seribu Tahun di dunia, dan langit dan bumi baru di dalamnya terdapat pula Yerusalem baru, setelah dunia yang sekarang dilenyapkan (Why. 21:1).
            Kemudian, apakah surga memiliki kenikmatan-kenikmatan dunia seperti bidadari-bidadari cantik, kenikmatan seksual, kenikmatan tubuh, dll? Jelas sekali tidak, karena di surga, kita tubuh orang-orang beriman tidak lagi fana dan berdosa (lihat bagian total depravity dalam doktrin manusia), tetapi di sorga, orang-orang beriman memiliki tubuh kebangkitan, yang penuh kemuliaan (1 Tes. 4:14-17; 1 Kor. 15:51-52). Karena itu, tidaklah mungkin manusia surgawi tersebut menginginkan hal yang duniawi, karena hal-hal surgawi jauh lebih mulia dan menyenangkan dibandingkan dengan dunia sekarang ini yang penuh dengan penderitaan tubuh. Prof. Sung Wook Chung menyatakan keindahan langit dan bumi baru demikian:
 
Yerusalem Baru tidak akan memiliki banyak hal yang pernah kita punyai dalam dunia sekarang ini. Kita tidak akan bisa menemukan lautan, airmata, kematian, dukacita, atau kesakitan di sana. Dan Yerusalem Baru tidak akan memiliki kuil-kuil apapun. Ini dikarenakan Allah yang Kudus dan Anak Domba Allah akan berdiam bersama kita. Dalam Yerusalem Baru, tidak akan membutuhkan terang matahari atau terang bulan lagi, karena kemuliaan Allah akan menjadi terangnya dan Anak Domba Allah menjadi lampunya. Dalam Yerusalem Baru tidak akan ada malam, kenajisan, atau penipuan, dan juga tidak akan ada lagi kutukan atas ciptaan. Pada sisi yang lain, Yerusalem Baru kita akan mendapati banyak hal yang tidak ada di dalam dunia yang lama. Di sana akan ada sungai air kehidupan, pohon kehidupan, dan buah kehidupan. Tahta Allah dan Anak Domba Allah akan selalu ada selamanya di hadapan kita. Kedamaian dan ketenangan akan diberikan kepada semua orang yang telah ditebus Allah.


      2)        Siapakah Yang Masuk Surga
             Surga sungguh indah tiada tandingannya, tetapi orang berdosa tidak mungkin masuk surga. Karena Allah tidak mungkin membiarkan dosa tanpa hukuman, jika demikian Allah menjadi tidak maha-adil. Persoalan terbesarnya adalah semua orang berdosa. Jika demikian masalahnya, apakah artinya semua manusia tidak akan masuk surga? Tentu saja! Tetapi Allah, karena kasih karunia-Nya yang besar telah memilih sebagian orang untuk menikmati surga dengan cara menebus mereka oleh darah-Nya! Orang-orang yang dipilih tersebut, adalah orang-orang yang saya jelaskan diatas sebagai orang-orang yang percaya sehingga menerima janji keselamatan.
            Yang perlu diperhatikan dalam bagian ini adalah penebusan dari Allah tersebut. Mana mungkin Allah menebus dengan darah-Nya sedangkan Ia adalah Roh? Akan tetapi, Alkitab mengatakan, Allah tidak hanya Roh, tetapi Dia juga pernah berinkarnasi ke dalam dunia menjadi manusia (Yoh. 1:14). Allah yang berinkarnasi adalah penggenapan janji keselamatan kepada Adam dan Hawa (Kej. 3:15), Ia adalah Tuhan kita Yesus Sang Mesias (Dalam bahasa Yunani Mesias disebut Kristus). I Timotius 2:5-6 mengatakan, “Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus, yang telah menyerahkan diri-Nya sebagai tebusan bagi semua manusia: itu kesaksian pada waktu yang ditentukan.”
            Kata “semua” tersebut, diaplikasikan kepada semua orang yang percaya. Dengan cara yang sedemikian unik, Alkitab menyatakan Allah sebagai Allah yang mahakasih dan juga maha-adil. Ia mengasihi, Ia mengampuni orang-orang pilihan-Nya tetapi juga menghukum dosa-dosa mereka di dalam Kristus Yesus, Sang Allah Anak. Maka Rasul Paulus dalam Efesus 2:8-9 dapat mengatakan “dibenarkan karena iman!” Ketika saudara beriman kepada Tuhan Yesus, saudara dibenarkan dalam Dia, sehingga saudara menjadi warga surga! Yesus Kristus yang menebus, manusia yang beriman oleh jamahan Allah Roh Kudus, itulah rahasia terbesar iman Kristen bagi keselamatan manusia.
            Suatu ajaran yang disebut dengan arminianisme telah meresahkan sukacita orang-orang percaya dalam hal keselamatan. Mereka mengatakan bahwa keselamatan bisa hilang. Hari ini bisa saja percaya Tuhan Yesus, besok belum tentu. Hal tersebut adalah omong kosong besar! Manusia dapat percaya bukan karena kemampuan manusia semata, melainkan hanya karya Roh Kudus semata. Bagaimana mungkin keselamatan dapat hilang, sedangkan Alkitab mengatakan dipilih sebelum dunia dijadikan (Ef. 1:4), bahkan Allah memberikan Roh Kudus pada orang-orang percaya untuk memateraikan setiap orang percaya, sampai akhirnya memperoleh seluruh janji keselamatan melalui penebusan Kristus (Ef. 1:13-14). Mengenai hal ini, saya berani mengatakan, bahwa tidak ada satu pun ayat dalam Alkitab yang secara jelas menyatakan bahwa orang yang sungguh-sungguh beriman dan didiami Roh Kudus dapat menjadi murtad di zaman Gereja ini.

0 comments:

Posting Komentar