Ev. David Kristanto
PENDAHULUAN
Dalam bab sebelumnya telah dijelaskan bahwa satu-satunya cara untuk
mengenal Allah adalah melalui penyataan khusus dari Allah sendiri yaitu
Alkitab. Maka, dalam bagian ini, kita tidak akan dituntut untuk menalar Allah
dalam spekulasi-spekulasi yang tidak berujung seperti yang lazim dilakukan oleh
para filsuf. Melainkan, kita akan menggali Alkitab untuk memahami siapakah
Allah, dan apakah yang dilakukan-Nya?
ALLAH SEBAGAI PUSAT SEGALANYA
Teolog besar J. I. Packer menjelaskan mengenai bagaimana Allah
melalui nabi-Nya, berargumentasi dengan orang-orang yang meragukan rencana-Nya,
“Lihatlah pekerjaan yang telah Aku lakukan, firman Tuhan. Dapatkah kamu
melakukannya? Dapatkah seorang manusia melakukannya? “Siapa yang menakar air
laut dengan lekuk tangannya dan mengukur langit dengan jengkal, menyukat debu
tanah dengan takaran, menimbang gunung-gunung dengan dacing atau bukit-bukit
dengan neraca?” (Yes. 40:12). Apakah kamu cukup bijaksana dan cukup kuat untuk
melakukannya? Tetapi Aku sanggup; atau Aku tidak dapat menciptakan dunia ini
sama sekali. Lihatlah Allahmu!”
Teologi Kristen sangatlah berbeda dengan teologi lainnya.
Teologi Kristen selalu mendasarkan Allah sebagai pusat dari segalanya. Tak ada
satu pun dapat terjadi di luar kehendak-Nya, dan tanpa Dia tak ada sesuatu pun
dapat menjadi ada/eksis (Yoh. 1:3). Namun tidak hanya sampai disitu, Allah
tidak sekedar menjadi pencipta atas segala sesuatu yang ada, tetapi Allah juga
menjadi tujuan atas segala ciptaan yang diciptakan-Nya. Paulus menyatakan dalam
Roma 11:36, “Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada
Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!” Segala ciptaan-Nya hanyalah
ada untuk menyatakan kemuliaan dan kebesaran-Nya semata. Paulus adalah Rasul
yang paling sering menulis tentang Allah dalam perjanjian baru. Leon Morris,
seorang profesor Perjanjian Baru menyatakan:
Paulus menaruh perhatian yang amat besar kepada Allah. Biasanya
kita menganggap pasti bahwa seorang penulis PB akan menulis tentang Allah dan
anggapan ini tidak keliru. Akan tetapi, pada umumnya kita tidak menyadari bahwa
Paulus menggunakan nama Allah dengan amat sering. Penggunaan nama Allah olehnya
sungguh-sungguh luar biasa. Paulus mengacu pada Allah jauh lebih sering daripada
penulis PB mana pun. Lebih dari 40% acuan pada Allah dalam PB berasal dari
Paulus (yakni 548 dari 1.314 kali). Suatu proporsi yang amat tinggi. Sungguh
luar biasa bahwa seorang penulis yang tulisan-tulisannya mengisi kira-kira
seperempat PB, menyebut nama Allah sebanyak hampir setengah dari jumlah semua
kata “Allah” dalam PB. Dalam surat kepada Jemaat di Roma ia memakai kata
“Allah” sebanyak 153 kali, jadi rata-rata satu kali setiap 46 kata.
Nyatalah kepada kita, bahwa Allah adalah pusat dari teologi
Paulus, dan Rasul Paulus selalu membangun teologinya di atas dasar doktrin
Allah. Tak ada satu ajaran/doktrin pun, yang boleh dibangun di atas dasar lain,
selain dasar doktrin Allah di dalam Alkitab. Allah adalah sumber dari segala
sesuatu, Ia adalah pencipta dari segala sesuatu, pemilik dari segala sesuatu,
dan tujuan akhir dari segala sesuatu.
Hal tersebut membuat Allah dalam teologi Kristen, bukanlah
sekedar suatu kuasa yang menciptakan segala sesuatu, bukan pula suatu penggerak
yang tidak digerakkan oleh apapun seperti yang dinyatakan oleh Aristoteles,
melainkan Allah dalam Alkitab adalah satu pribadi Yang Maha Kuasa, yang telah
ada dalam kekekalan (Yoh. 1:1), yang kehendak-Nya melampaui segala pemikiran
manusia (Rm. 11:33-35), dan yang menetapkan segala sesuatu dalam maksud dan
tujuan-Nya yang Maha Agung (Ef. 1:11-12).
ATRIBUT-ATRIBUT ALLAH
Dalam mendeskripsikan kualitas-kualitas yang dimiliki Allah,
kita menggunakan istilah “atribut-atribut” Allah. Istilah “atribut-atribut”
Allah dipakai dalam arti kita “mengatribusikannya” kepada-Nya. Atribut-atribut
tersebut terbagi kedalam dua bagian yaitu incommunicable (tidak
bisa dikomunikasikan) dan communicable(bisa dikomunikasikan).
Atribut-atribut Allah yang incommunicable adalah
Mahakuasa (omnipotent), Mahatahu (omniscience), dan Mahahadir (omnipresence),
kekal, tak berubah, dan tak terbatas. Dikatakan incommunicable karena
atribut-atribut tersebut hanyalah milik Allah saja, dan Allah tidak memberikan
atribut-atribut tersebut kepada ciptaan-Nya.
Kekuasaan Allah yang tak terbatas dinyatakan dalam
predestinasi-Nya sejak kekekalan, yaitu segala sesuatu bekerja menurut
keputusan kehendak-Nya semata (Ef. 1:11). Tanpa keputusan kehendak-Nya tak ada
sesuatu pun dapat eksis atau pun terjadi. Allah juga merupakan satu-satunya
pribadi yang Mahatahu. Ia tidak terbatas dalam pengetahuan, kebijaksanaan-Nya
tak terhingga (Mzm. 147:5). Allah tidak mengetahui sesuatu secara bertahap,
melainkan langsung secara tuntas. Karena segala sesuatu berada dalam penetapan
keputusan-Nya, maka tak ada sesuatu pun yang berada diluar pengetahuan-Nya.
Paulus mengatakan, “Sebab, siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan?” (Rm.
11:34).
Ia juga Pribadi yang Mahahadir. Pemazmur mengatakan, “Ke mana
aku dapat pergi menjauhi roh-Mu, ke mana aku dapat lari dari hadapan-Mu? Jika
aku mendaki ke langit, Engkau di sana; jika aku menaruh tempat tidurku di dunia
orang mati, di situ pun Engkau” (Mzm. 139:7-8). Ketika Ia hadir, Ia hadir dalam
segala kepenuhan diri-Nya. Tidaklah benar jika mengatakan bahwa, “Sebagian dari
Allah hadir di tempat ini, dan sebagian lainnya hadir di tempat lain.” Allah
tak pernah terbagi, Ia adalah Roh, yang tak pernah dibatasi ruang dan waktu.
Atribut-atribut Allah yang communicable meliputi
keberadaan, kasih, hikmat, kebaikan, kekudusan, keadilan, dan kebenaran.
Atribut-atribut Allah ini dikomunikasikan Allah kepada ciptaan-Nya yaitu
malaikat dan manusia sampai kepada taraf tertentu. Secara sederhana, dapat
dikatakan bahwa atribut-atribut Allah yang dimiliki oleh malaikat dan manusia
tersebut hanyalah bayang-bayang dari atribut-atribut Allah yang tak terbatas.
ALLAH TRITUNGGAL
Mari kita memulainya dengan konsep Trinitas itu sendiri. Apakah
Trinitas berarti satu pribadi dengan tiga peran? Saya seringkali menemukan
pengajaran ini, baik dalam kebaktian sekolah minggu sewaktu saya kanak-kanak,
dan juga dalam kebaktian dewasa salah satu Gereja. Sang Pendeta mengatakan,
“Tritunggal itu seperti saya, saya dirumah sebagai seorang ayah, lalu di Gereja
sebagai seorang pendeta, dan di kampus sebagai seorang mahasiswa.” Kurang lebih
Pendeta tersebut menyatakannya demikian. Apa yang disampaikan pendeta tersebut
sesungguhnya merupakan suatu bidat (ajaran sesat) Kristen zaman Gereja purba
yang disebut Sabelianisme atau juga dikenal dengan modalisme.
Konsep Tritunggal dalam Alkitab sangatlah jauh dari konsep yang sederhana
seperti itu.
Konsep Tritunggal dalam Alkitab berarti satu di dalam tiga,
sekaligus tiga di dalam satu. Hal ini berbeda dengan satu buah mangga yang
terdiri dari biji, daging, dan kulitnya. Mengapa berbeda? Karena mangga
tersebut adalah satu buah saja, tetapi memiliki tiga bagian. Berbeda juga
dengan manusia yang terdiri dari tubuh, jiwa, dan roh. Seorang penafsir Kristen
yang sangat alegoris (menafsir dengan perlambangan-perlambangan) bahkan pernah
mengatakan, “Karena manusia terdiri dari tubuh, jiwa, dan roh, maka Allah pun
Tritunggal.” Padahal hal tersebut tak memiliki sangkut paut apa pun.
Tidak ada satu ayat pun yang menyatakan hubungan elemen manusia
yang trikotomi (terdiri dari tubuh, jiwa, dan roh) serta doktrin Allah
Tritunggal, bahkan konsep Tritunggal sesungguhnya sangat berbeda dengan konsep
kesatuan tiga elemen tadi dalam diri seorang manusia. Mengapa? Sama seperti
mangga tadi, pada dasarnya manusia tersebut hanyalah seorang saja, hanya
terdiri dari tiga bagian (Beberapa teolog tidak menerima pandangan ini, dan
berpendapat bahwa manusia hanya terdiri dari dua bagian, yakni tubuh dan
jiwa/roh, pandangan ini disebut dikotomi). Konsep Tritunggal yang Alkitabiah
adalah satu dalam tiga sekaligus tiga tetapi satu. Prof. Sung Wook Chung
menjelaskan:
Pada abad ke 4 Masehi, ada tiga sarjana terkenal di wilayah
Kapadokia, sekarang disebut Turki. Seperti yang sedang kita lakukan sekarang,
ketiga pria ini bergumul tentang pertanyaan Tritunggal. Setelah belajar sekian
lama, mereka menyimpulkan bahwa ketiga Pribadi dari Allah ada sebagai satu
Allah melalui kondisi berdiam satu sama lain (mutual indwelling) dan
bepenetrasi satu sama lain (mutual interpenetration). Mereka menyelidiki
studi mereka kembali kepada kata Yunani “perichoresis” yang menyatakan
kesatuan esensial dari ketiga Pribadi Allah – yaitu Bapa, Anak, dan Roh Kudus.
Ketiga Pribadi Allah itu dikenal sebagai Pribadi-pribadi yang berbeda, akan
tetapi mereka tidak eksklusif secara mutual satu sama lain; malahan, Bapa
tinggal di dalam Anak dan Roh Kudus, Anak tinggal di dalam Bapa dan Roh Kudus,
dan Roh Kudus tinggal di dalam Bapa dan Anak. Dengan kata lain, mereka ada
sebagai satu Allah, sepenuhnya disatukan di dalam esensi mereka. Kata “komuni”
menggambarkan persekutuan mereka sebagai kesatuan yang terjaga dan persekutuan
dari ketiga Pribadi Allah.
Alkitab hanya menjelaskan bahwa Allah yang satu memiliki tiga
Pribadi, dan tiga Pribadi Allah tersebut adalah satu. Ketiga Pribadi Allah
tersebut berdiam bersama, dan juga bersekutu bersama. Bagi saya, tak ada satu
pun contoh, atau ilustrasi yang dapat menggambarkan kesatuan Tritunggal Allah.
Doktrin ini hanya dapat diketahui, tetapi tak dapat dimengerti oleh manusia
secara sempurna.
Doktrin ini mungkin merupakan doktrin yang paling sering
diserang dibandingkan dengan doktrin-doktrin teologi Kristen lainnya. Doktrin
Tritunggal membuat teologi Kristen menjadi suatu bentuk teologi yang paling
membingungkan dari segala teologi agama-agama lainnya. Apabila kita membaca
kepustakaan teologi agama-agama diluar Kristen, kita akan menemukan, bahwa
teologi-teologi diluar teologi Kristen lebih mudah diterima oleh orang-orang.
Hal tersebut dikarenakan oleh sistem teologinya yang sangat rasional dan mudah
diterima oleh akal. Tetapi doktrin Tritunggal dalam teologi Kristen, sangatlah
sulit diterima oleh rasio manusia. Bahkan beberapa orang menanggapnya tak masuk
akal.
Dalam menanggapi hal-hal semacam ini, kita perlu mengingat,
bahwa teologi Kristen bukanlah suatu sistem teologi yang dibuat oleh manusia
untuk suatu tujuan tertentu, misalnya tujuan sosial, politik, dsb. Sistem
teologi Kristen dibuat di atas dasar Alkitab. Teologi Kristen bergantung mutlak
hanya kepada Alkitab yang merupakan satu-satunya Wahyu Khusus Allah kepada
manusia (sola scriptura).
Maka dalam menghadapi persoalan ini, kita tidak boleh
memilah-milah untuk mempercayai dan mengajarkan doktrin-doktrin yang dapat
diterima oleh akal manusia, atau bahkan yang mudah diterima oleh akal manusia
semata. Yang perlu ditekankan adalah apa yang dikatakan Alkitab tentang doktrin
tersebut. Sesulit dan semustahil apa pun doktrin tersebut di mata manusia,
tetaplah harus diterima apabila Alkitab mengajarkannya. Dan yang tidak mungkin
bagi teologi Kristen adalah Allah tunduk kepada rasio manusia. Sedangkan yang
pasti dalam teologi Kristen adalah manusia tunduk kepada Allah. Karena alasan
mendasar tersebut, maka kita akan sering menjumpai hal-hal yang supra-rasional
(melampaui rasio) di dalam Alkitab. Sekarang mari kita menggali lebih dalam,
apakah yang sebenarnya dikatakan Alkitab mengenai doktrin Tritunggal?
Pertama, mari kita melihat konsep Allah Tritunggal dalam
Perjanjian Lama. Dalam Perjanjian Lama, tak ada satu pun rumusan Tritunggal
yang dinyatakan kepada kita secara tegas dan lengkap. Tetapi doktrin ini
dinyatakan kepada kita secara bertahap, maka melalui Perjanjian Lama, kita
tidak dapat mengetahui doktrin Trinitas secara lengkap, melainkan hanya sebagian
dan dalam gambaran yang samar-samar. Tetapi hal ini tidaklah berarti bahwa
Perjanjian Lama tidak menyatakan doktrin Trinitas. Pengakuan Iman Westminster
mengatakan, “Tetapi bukan berarti bahwa Allah Perjanjian Lama bukan Allah
Trinitas. Allah Perjanjian Lama adalah Allah sempurna (dan Trinitas) walaupun
tidak dinyatakan secara penuh.”[5] Mari
kita melihat doktrin Trinitas yang dinyatakan dengan jelas dalam Perjanjian
Lama.
Dalam Kejadian 1:26 dan Kejadian 11:7, dinyatakan bagaimana
Allah berbicara dengan dirinya sendiri. Allah tidak hanya berkata kepada
diri-Nya sendiri, melainkan Ia berbicara dengan diri-Nya sendiri. Dalam Alkitab
bahasa Indonesia digunakan kata “Kita” ketika Allah berbicara kepada diri-Nya
sendiri. Tetapi hal tersebut tidak pernah berarti bahwa Allah Israel adalah
Allah yang plural, seperti para allah bangsa-bangsa penyembah berhala. Tidaklah
mungkin demikian, dalam Kejadian 1:26 misalnya, kata “Allah” dalam bahasa
Ibrani menggunakan kata אֱלֹהִים (baca: 'elohiym) yang memang memiliki bentuk plural
tetapi memiliki arti singular.[6] Dan
juga terlihat jelas mengenai ke-Esa-an Allah Israel kepada kita melalui
pengakuan iman orang Yahudi dalam Ulangan 6:4. Bahkan pengakuan iman Yahudi
zaman Musa tersebut masih terus dipakai sampai saat ini dalam agama Yudaisme.
Jadi dapat disimpulkan, bahwa tidaklah mungkin menyatakan bahwa
Allah Israel adalah Allah yang politeisme seperti bangsa-bangsa lain di sekitar
Israel. Tetapi juga tidak mungkin menyatakan bahwa ke-Esa-an Allah tersebut
adalah bukan plural di dalam ke-Esa-an Allah sendiri. Karena Allah sendiri
menyebut diri-Nya dengan sebutan yang plural, dan Ia membicarakan apa yang
menurut-Nya baik kepada diri-Nya sendiri.
Dalam Perjanjian Lama, kita juga menemukan manifestasi Allah
dalam rupa “Malaikat TUHAN” kepada diri bangsa pilihan Allah (Kej. 32:24). Dia
memang seringkali menampakan diri dalam rupa manusia (Kej. 32:24), tetapi Ia
juga dikenali sebagai Allah (ay. 30). Hal tersebut membuktikan bahwa Allah
adalah plural dalam diri-Nya sendiri, karena sekalipun Ia memerintah dalam
Sorga, tetapi Ia juga dapat turun kedunia dan memanifestasikan diri-Nya dalam
rupa yang dikehendaki-Nya. Penampakan Malaikat TUHAN tersebut cukup banyak
dinyatakan kepada kita dalam Perjanjian Lama.
Dalam kitab Yesaya, kita menemukan suatu janji bahwa Allah akan
mengaruniakan seorang Putra yang akan lahir dari anak dara (Yes. 7:14) yang
akan disebut Imanuel (artinya Allah beserta kita), dan Dia juga disebut “Allah
yang perkasa” (Yes. 9:5). Bagaimana mungkin Allah mengaruniakan Allah apabila
Allah tidaklah plural dalam diri-Nya yang Esa? Beberapa hal di atas hanyalah
beberapa contoh bahwa doktrin Trinitas telah dinyatakan secara parsial dalam
Perjanjian Lama. Hal tersebut menjadi suatu landasan bagi penyataan doktrin
Trinitas yang sempurna dan lengkap di dalam Perjanjian Baru. Sehingga tak
seorang pun sebenarnya dapat mengatakan bahwa Perjanjian Baru bertentangan
dengan Perjanjian Lama dalam ajarannya mengenai Trinitas.
Kedua, mari kita melihat doktrin Trinitas yang telah lengkap di
dalam Perjanjian Baru. Pemahaman kita akan doktrin Trinitas sesungguhnya
berdasarkan tindakan Allah yang melakukan pekerjaan-Nya bagi orang-orang
pilihan-Nya melalui ketiga pribadi-Nya. Pengakuan Iman Westminster mengatakan,
“Perjanjian Baru ditulis setelah natur Trinitas Allah telah dimanifestasikan secara
utuh.”[7] Allah
Bapa telah mengutus Tuhan Yesus (Allah Anak), kemudian Tuhan Yesus mengutus
Allah Roh Kudus. Ketiga pekerjaan Allah ini, menyatakan doktrin Trinitas kepada
kita secara tegas dan jelas.
Dalam ketiga pekerjaan Allah tersebut, ketiga-Nya saling memberi
kesaksian. Ketika Tuhan Yesus dibaptis dan akan memulai pelayanan-Nya di dunia,
Allah Bapa bersaksi tentang Dia (Mrk. 1:11). Kemudian dalam pelayanan-Nya,
Tuhan Yesus mengatakan bahwa Allah Bapa telah mengutus Dia (Yoh. 8:18). Setelah
kebangkitan-Nya, Tuhan Yesus mengutus Allah Roh Kudus (Yoh. 16:7). Dan Roh
Kudus juga bersaksi tentang Tuhan Yesus (Yoh. 16:14). Dalam tindakan pekerjaan
ketiga oknum Allah inilah, doktrin Trinitas baru dapat dinyatakan kepada kita
secara jelas dan tegas.
Dalam amanat agung Tuhan Yesus kepada Gereja, kita melihat
rumusan Tritunggal dinyatakan secara jelas. Tuhan Yesus mengatakan dalam Matius
28:19, “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah
mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus.” Kata “nama” dalam ayat itu
tidaklah menggunakan bentuk plural. Tidak dikatakan “nama-nama”, melainkan
hanyalah menggunakan kata “nama” saja. Padahal yang kata “nama” yang tunggal
tersebut mencakup tiga nama yang berbeda, yaitu Bapa dan Anak dan Roh Kudus.
Hal ini membuktikan kepada kita bahwa ketiga Pribadi tersebut adalah Esa dalam
Tritunggal yang kudus dan sederajat satu sama lain.
ALLAH BAPA DAN KARYA-NYA
Allah Bapa dapat dikatakan sebagai satu-satunya oknum dari
pribadi Allah Tritunggal yang paling jarang mendapatkan kritik. Hal ini mungkin
sekali disebabkan karena paham Yudaisme yang menyatakan bahwa hanya ada satu
Allah, dan Allah itu adalah Bapa bagi umat Israel (Kel. 4:22; Yes. 64:8). Dalam
Perjanjian Baru, terdapat juga ayat-ayat yang secara tegas berbicara mengenai
keberadaan Allah Bapa misalnya Roma 1:7, Yoh. 6:27, 1 Pet. 1:2.
Karya Allah Bapa di dalam dunia bersama-sama dengan dua oknum
Tritunggal lainnya adalah menciptakan dan memerintah atas segala ciptaan-Nya.
Sedangkan karya khusus dari Allah Bapa yang terpisah dari dua oknum Tritunggal
lainnya adalah mengutus Allah Anak yaitu Sang Mesias Yesus ke dalam dunia,
untuk menebus dosa manusia. Yohanes 20:21 menyatakan, “Maka kata Yesus sekali
lagi: Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga
sekarang Aku mengutus kamu."
ALLAH ANAK DAN KARYA-NYA
Allah Anak adalah oknum kedua dari pribadi Allah Tritunggal
dalam teologi Kristen. Sepanjang sejarah teologi Kristen, banyak sekali
dilontarkan serangan-serangan terhadap ke-Allah-an Tuhan Yesus. Beberapa orang
juga menerima Tuhan Yesus sebagai anak Allah, tetapi tidak sebagai Allah Anak.
Salah satu cara terpenting dalam menghadapi serangan-serangan semacam itu
adalah dengan menghafalkan ayat-ayat yang secara eksplisit menyatakan
ke-Allah-an dari Tuhan Yesus. Ayat-ayat itu meliputi Yes. 9:5, Yoh. 1:1, Yoh. 1:18, Yoh. 20:28, Rm.9:5,
Flp. 2:5-7, Tit. 2:13, Ibr. 1:8, 2 Pet. 1:1, 1 Yoh. 5:20. Mari kita melihat ayat-ayat tersebut:
Yes. 9:5, Indonesia Terjemahan Baru:
Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah
diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya
disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja
Damai.
Yoh. 1:1, Indonesia Terjemahan Baru:
Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah
dan Firman itu adalah Allah.
Yoh. 1:18, Indonesia Terjemahan Baru:
Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal
Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya.
Yoh. 20:28, Indonesia Terjemahan Baru:
Tomas menjawab Dia: "Ya Tuhanku dan Allahku!"
Rm. 9:5, Indonesia Terjemahan Baru:
Mereka adalah keturunan bapa-bapa leluhur, yang menurunkan
Mesias dalam keadaan-Nya sebagai manusia, yang ada di atas segala sesuatu. Ia
adalah Allah yang harus dipuji sampai selama-lamanya. Amin!
Flp. 2:5-6, Indonesia Terjemahan Baru:
5 Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan
perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus,
6 yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan
dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan,
Tit. 2:13, Indonesia Terjemahan Baru:
dengan menantikan penggenapan pengharapan kita yang penuh
bahagia dan penyataan kemuliaan Allah yang Mahabesar dan Juruselamat kita Yesus
Kristus,
Ibr. 1:8, Indonesia Terjemahan Baru:
Tetapi tentang Anak Ia berkata: "Takhta-Mu, ya Allah, tetap
untuk seterusnya dan selamanya, dan tongkat kerajaan-Mu adalah tongkat
kebenaran.
2 Pet. 1:1, Indonesia Terjemahan Baru:
Dari Simon Petrus, hamba dan rasul Yesus Kristus, kepada mereka
yang bersama-sama dengan kami memperoleh iman oleh karena keadilan Allah dan
Juruselamat kita, Yesus Kristus.
1 Yoh. 5:20, Indonesia Terjemahan Baru:
Akan tetapi kita tahu, bahwa Anak Allah telah datang dan telah
mengaruniakan pengertian kepada kita, supaya kita mengenal Yang Benar; dan kita
ada di dalam Yang Benar, di dalam Anak-Nya Yesus Kristus. Dia adalah Allah yang
benar dan hidup yang kekal.
Dengan menghafalkan ayat-ayat di atas, kita memiliki senjata
rohani yang tak mungkin dikalahkan oleh para guru-guru palsu dan anggota
bidat-bidat penyesat. Ayat-ayat di atas sangatlah jelas dan tegas dalam menyatakan
ke-Ilahi-an Kristus dan tak mungkin terbantahkan lagi.
Menurut saudara, dimanakah pertama kali Allah Anak tercatat
muncul di dalam Perjanjian Lama? Sebagian mungkin berpendapat dalam kitab
Yesaya, atau Yunus karena mengingat tanda Yunus, atau pun kitab-kitab lainnya.
Tetapi sesungguhnya Allah Anak telah muncul dalam bagian paling pertama dari
Alkitab, yaitu Kejadian 1:1. Allah Anak dalam kesatuan Tritunggal yang kudus
dengan Allah Bapa dan Allah Roh Kudus, menciptakan langit dan bumi pada waktu yang
paling mula-mula. Jadi jelas, karya Allah Anak bagi dunia, bukan hanya menebus
dosa, melainkan juga menciptakannya dan memerintah atasnya bersama dengan dua
oknum lain Allah Tritunggal.
Allah Anak juga memiliki karya khusus yang dilakukannya sendiri
yaitu datang kedunia melalui inkarnasi, dan menebus dosa umat-Nya. Dialah Sang
Mesias Agung yang menebus seluruh dosa orang percaya, Dialah Allah yang harus
dipuji selama-lamanya! Mengenai karya Allah Anak di dunia, akan dibahas dengan
lebih jelas dalam bagian doktrin Kristus.
ALLAH ROH KUDUS DAN KARYA-NYA
Allah Roh Kudus merupakan oknum ketiga dari pribadi Allah
Tritunggal. Allah Roh Kudus juga merupakan salah satu oknum pribadi Tritunggal
yang paling sering diserang. Misalnya kelompok Saksi Yehuwa selalu menyatakan
bahwa Roh Kudus hanyalah suatu kuasa dan bukannya pribadi. Hal tersebut jelas
sangat bertentangan dengan apa yang dikatakan Alkitab. Alkitab tak pernah
menyatakan Roh Kudus sebatas suatu kuasa atau suatu energi. Leon Morris,
seorang ahli Perjanjian Baru menyatakan, “Jelas, Lukas memandang Roh sebagai
bersifat hidup dan aktif, sebagai Oknum yang kehadiran-Nya menerangi dan
membangkitkan semangat jemaat.”
Adakah bukti yang memadai yang menyatakan bahwa Roh Kudus adalah
oknum Pribadi Allah Tritunggal? Apakah bukti dalam Alkitab yang menyatakan
bahwa Roh Kudus adalah Pribadi dan bukan sekedar kuasa?
Pertama, bukti ke-Allah-an Roh Kudus yang paling sering
disampaikan adalah sebutan-Nya yang interchangeable (dapat
dipertukarkan/dibolak balik) dengan sebutan Allah sendiri. Misalnya dalam Kis.
5:3-4 dikatakan mengenai Ananias dan Safira yang mendustai Roh Kudus. Hal itu
dianggap sama dengan mendustai Roh Kudus.
Kis. 5:3-4, Indonesia Terjemahan Baru:
3 Tetapi Petrus berkata: "Ananias, mengapa hatimu dikuasai
Iblis, sehingga engkau mendustai Roh Kudus dan menahan
sebagian dari hasil penjualan tanah itu?
4 Selama tanah itu tidak dijual, bukankah itu tetap kepunyaanmu,
dan setelah dijual, bukankah hasilnya itu tetap dalam kuasamu? Mengapa engkau
merencanakan perbuatan itu dalam hatimu? Engkau bukan mendustai
manusia, tetapi mendustai Allah."
Penyebutan Roh Kudus yang interchangeable juga
dapat dilihat dalam Yesaya 40:13-14. Ayat 13 disebut Roh TUHAN, tetapi dalam
ayat 14 hanya disebut TUHAN saja, tanpa diawali dengan sebutan “Roh”.
Yesaya 40:13-14, Indonesia Terjemahan Baru:
13 Siapa yang dapat mengatur Roh TUHAN atau
memberi petunjuk kepada-Nya sebagai penasihat?
14 Kepada siapa TUHAN meminta nasihat untuk
mendapat pengertian, dan siapa yang mengajar TUHAN untuk
menjalankan keadilan, atau siapa mengajar Dia pengetahuan dan memberi Dia
petunjuk supaya Ia bertindak dengan pengertian?
Terdapat juga dalam perkataan Paulus yang menyebutkan tubuh
orang percaya sebagai bait Allah = bait Roh Kudus. Kita dapat mengerti dengan
membandingkan 1 Kor. 3:16 dengan 1 Kor. 6:19.
1 Kor. 3:16, Indonesia Terjemahan Baru:
Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan
bahwa Roh Allah diam di dalam kamu?
1 Kor. 6:19, Indonesia Terjemahan Baru:
Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh
Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah,
— dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri?
Penyebutan interchangeable tersebut banyak
sekali terdapat dalam Alkitab, biasanya meliputi Roh Allah = Roh Kudus = Tuhan
= Allah. Saya melampirkan beberapa saja, karena bukti-bukti penyebutan interchangeable tersebut
tidak sulit untuk didapatkan dalam Alkitab.
Kedua, Alkitab menyatakan Roh Kudus sebagai Allah melalui
pekerjaan yang dilakukan-Nya. Roh Kudus turut menciptakan langit dan bumi (Kej.
1:2), membentuk manusia (Kej. 2:7), dan masih banyak ayat-ayat yang menyatakan
bahwa Roh Kudus terlibat dalam penciptaan dunia. Roh juga berdoa untuk
orang-orang percaya (Rm. 8:26). Dia juga melakukan mukjizat (Kis. 8:39). Ia
memimpin orang-orang pilihan kepada kebenaran dengan cara mendengar, berbicara,
dan menunjukkan (Yoh. 16:13).
Ketiga, Roh Kudus memiliki sifat-sifat sebagai suatu Pribadi.
Dia memiliki kecerdasan. Dia menyelidiki dan mengetahui apa yang ada dalam diri
Allah (1 Kor. 2:10-11), hal ini berarti Dia juga Mahatahu karena dia mengetahui
apa yang ada dalam diri Allah! Dia memiliki pikiran (Rm. 8:27); dan Dia
mengajar orang percaya (1 Kor. 2:13). Dia memiliki perasaan, sehingga dapat
didukakan (Ef. 4:30). Dia juga memiliki kehendak terutama dalam memberikan
karunia-Nya kepada orang-orang percaya (1 Kor. 2:11), dan juga dalam memimpin
seluruh aktivitas orang Kristen (Kis. 16:6-11), pekerjaan memimpin seluruh
aktivitas orang Kristen ini jelas tak mungkin dilakukan oleh siapa pun, atau
apa pun selain pribadi Allah sendiri.[9]
Karya khusus Allah Roh Kudus adalah melahirkan Gereja dengan
cara mempersatukan orang-orang percaya dalam satu tubuh Kristus dan mendiami
orang-orang percaya serta memateraikan mereka bagi Kristus (1 Kor. 12:13). Itulah
sebabnya, mengapa orang-orang yang sudah sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan
Yesus di zaman anugerah/zaman Gereja, tidak mungkin lagi mengalami kemurtadan.
Bukan karena Gereja di zaman ini makin hidup berkenan kepada Tuhan, tetapi
karena Allah Roh Kudus yang selalu bekerja di dalam diri orang beriman sampai
selama-lamanya (Yoh. 14:16-17).
Karya Allah Roh Kudus bersama-sama dengan dua oknum Tritunggal
lainnya adalah menciptakan alam semesta, dan memerintah seluruh ciptaan-Nya
dengan kemuliaan diri-Nya dalam Allah Tritunggal yang kudus.
PREDESTINASI DAN DEKRIT ALLAH
Predestinasi adalah ajaran bahwa dalam kekekalan, Allah telah
menetapkan segala sesuatu sebelum semuanya terjadi. Sedangkan dekrit,
sebenarnya secara prinsip, artinya sama-sama menetapkan, tetapi definisinya
menjadi lebih resmi karena berhubungan dengan kuasa pemerintahan Allah. Merriam
Webster Dictionary mendefinisikan dekrit (bahasa Inggris: decree),
sebagai “an official order given by a person with power or by a government.”
(Suatu perintah resmi yang diberikan oleh seseorang dengan kuasa atau oleh
suatu pemerintahan). Istilah “dekrit” biasanya digunakan dalam menyatakan suatu
keputusan/ketetapan Raja atau pemerintahan tertentu. Dalam Alkitab perjanjian
lama, kita mengenal istilah “dekrit Raja Koresy”. Dalam beberapa kerajaan,
dekrit yang ditetapkan tidak dapat dicabut kembali. Karena kedua istilah ini,
predestinasi dan dekrit Allah pada dasarnya merupakan satu prinsip yang sama,
maka saya akan cenderung menggunakan salah satunya.
Menurut saya, satu-satunya sistem teologi yang mengajarkan
predestinasi dengan sangat baik adalah teologi Calvinistik. John Calvin
merupakan seorang teolog yang paling dikenal dengan ajaran predestinasi. Ia
menjabarkan predestinasi sebagai berikut: “Predestinasi disebut ketetapan Allah
yang kekal, yang melaluinya Ia telah menetapkan di dalam diri-Nya apa yang akan
terjadi dalam setiap individu umat manusia ... hidup kekal ditetapkan
sebelumnya bagi sebagian orang, dan penghukuman kekal bagi yang lain. Setiap orang,
karena itu, diciptakan untuk salah satu dari tujuan ini, kita sebut Ia
mempredestinasikan baik untuk hidup atau untuk mati.”
Hal yang jarang diperhatikan oleh orang-orang yang baru
mempelajari Calvinisme adalah landasan berpikir Calvin untuk ajaran
predestinasi tersebut. Cukup banyak orang-orang yang salah memahami, dan
berpendapat bahwa predestinasi adalah dasar teologi Calvin. Pandangan tersebut
sangatlah keliru. Paul Enns menyatakan, “Teologi Calvin berpusat pada
kedaulatan Allah, doktrin-doktrin lain diikatkan pada premis itu.”[11] Disini
menjadi jelas, bahwa Calvin mengembangkan ajaran predestinasi dalam teologinya
sebagai pengembangan atas ajaran kedaulatan Allah atas segala sesuatu. Karena
Allah adalah Raja semesta, dan tak ada satu pun yang dapat terjadi di luar
kuasa kedaulatan-Nya, maka Allah mempredestinasikan segala sesuatu jauh sebelum
segala sesuatu terjadi, yaitu dalam kekekalan.
Predestinasi dalam teologi Calvinistik juga memiliki aspek luas
dan sempit. Aspek luas adalah penetapan atas segala sesuatu yang akan terjadi
semenjak kekekalan berdasarkan Efesus 1:11. Tak ada satu pun hal yang terjadi
baik dalam sejarah maupun di masa depan, yang tidak ditetapkan-Nya lebih dulu.
Sedangkan aspek sempit dari predestinasi, adalah predestinasi yang bersifat
personal. Allah telah memilih sebagian orang untuk keselamatan dan sebagian
orang untuk hidup dalam dosa.[12] Ajaran
ini didasarkan kepada Ef 1:4 yang menyatakan bahwa jemaat Kristen sejati adalah
orang-orang yang dipilih-Nya untuk hidup kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya.
Indonesia Terjemahan Baru, Efesus 1:11
11 Aku katakan "di dalam Kristus," karena di dalam
Dialah kami mendapat bagian yang dijanjikan — kami yang dari semula
ditentukan untuk menerima bagian itu sesuai dengan maksud Allah, yang
di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya.
New King James Version, Ephesians 1:11
11 In Him also we have obtained an inheritance, being
predestined according to the purpose of Him who works all things
according to the counsel of His will.
Paulus dalam ayat ini memang sedang menyatakan mengenai
pemilihan Allah atas keselamatan orang-orang pilihan-Nya. Tetapi Paulus menarik
suatu alasan utama atas predestinasi keselamatan orang-orang pilihan Tuhan
tersebut, alasan tersebut adalah penetapan Allah atas segala sesuatu. Dengan
kata lain, Paulus menyatakan bahwa, “Karena Allah menetapkan segala sesuatu
sesuai kehendak-Nya, maka Allah juga menetapkan keselamatan kita.” Dari alasan
utama itulah (yaitu penetapan Allah atas segala sesuatu), maka kita mengerti,
bahwa keselamatan kita adalah ditetapkan Allah, begitu pula dengan penghukuman
orang-orang yang tidak diselamatkan Allah, hal itu juga telah ditetapkan Allah.
Saudara juga perlu memperhatikan, bahwa penetapan/keputusan
Allah atas segala sesuatu tersebut tidaklah berdasarkan hal-hal di luar
diri-Nya. Penetapan tersebut hanyalah berdasarkan kehendak-Nya sendiri. Dapat
dikatakan dalam hal ini, Allah berlaku “semau gue”. Mengenai tindakan Allah
berdasarkan foreseen (kemampuan Allah melihat masa depan)
adalah suatu kesalahan yang fatal. Allah tidak pernah menetapkan seseorang
untuk selamat karena Ia tahu pasti seseorang tersebut nanti akan percaya Yesus.
Hal tersebut tidaklah mungkin, karena seseorang dapat beriman pun karena telah
ditetapkan Allah (Ingatlah bahwa Ef 1:11 menyatakan “segala sesuatu telah
diputuskan/ditetapkan Allah sesuai dengan kehendak-Nya.” Bukankah segala
sesuatu tersebut termasuk iman seseorang?).
Adakah sesuatu yang dapat dilakukan manusia atau sesuatu yang
dapat terjadi tanpa ditetapkan Allah? Jawabannya adalah mustahil! Karena
Alkitab katakan dengan jelas, bahwa segala sesuatu telah
ditetapkan Allah. Tak ada satu hal pun yang dapat eksis atau pun terjadi tanpa
penetapan Tuhan.
Ayat ini mungkin merupakan ayat yang paling tegas dalam
menyatakan penetapan Allah atas segala sesuatu. Kejelasannya membuat ayat ini
tak terbantahkan lagi, bahwa memang Allah telah menetapkan segala sesuatu
sesuai dengan kehendak-Nya sendiri. Wycliffe menyatakan, “Kata-kata ditentukan,
maksud, keputusan, kehendak memiliki hubungan yang erat. Tidak ada pernyataan
di dalam Alkitab yang lebih jelas atau lebih khidmat tentang kedaulatan Allah.
Di sepanjang Alkitab terdapat garis sejajar kedaulatan Allah dan tanggung jawab
manusia. Kita tidak dapat memadukan keduanya, tetapi kita dapat mempercayai
keduanya sebab diajarkan dalam Firman.”[13]
Komentar Wycliffe mengenai hal ini sangat tepat, memang Alkitab
mengajarkan kedaulatan Allah dan di sisi lain tanggung jawab manusia. Mengenai
tanggung jawab manusia akan kita bahas setelah pembahasan dekrit Allah ini.
Lalu, bagaimana dengan dekrit Allah dalam sejarah? Adakah ayat-ayat yang
mendukung hal tersebut? Mari kita perhatikan kutipan teks Alkitab di bawah ini:
Kis 4:24-28
24 Ketika teman-teman mereka mendengar hal itu,
berserulah mereka bersama-sama kepada Allah, katanya: "Ya Tuhan, Engkaulah
yang menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya.
25 Dan oleh Roh Kudus dengan perantaraan hamba-Mu
Daud, bapa kami, Engkau telah berfirman: Mengapa rusuh bangsa-bangsa, mengapa
suku-suku bangsa mereka-reka perkara yang sia-sia?
26 Raja-raja dunia bersiap-siap dan para pembesar berkumpul
untuk melawan Tuhan dan Yang Diurapi-Nya.
Ayat 24 menjadi latar belakang ayat-ayat diatas. Ayat-ayat yang
saya kutip di atas adalah seruan dari teman-teman Petrus dan Yohanes, ketika
Petrus dan Yohanes baru saja dilepaskan dari sidang Mahkamah Agama Yahudi yang
dipimpin oleh Imam Besar dan keturunan Imam Besar (Kis 4:5-6). Siapakah
teman-teman Petrus dan Yohanes tersebut? Pastilah mereka adalah jemaat
mula-mula. Lalu apakah isi seruan mereka?
Seruan mereka dalam ayat 24b-30 (saudara baca sendiri ayat
29-30, saya tidak cantumkan karena tidak sesuai topik dekrit Allah) terdiri
dari dua bagian. Bagian pertama adalah pengakuan iman mereka dihadapan Tuhan
dalam ayat 24b-28, lalu bagian kedua adalah permohonan mereka dalam meminta
pertolongan Tuhan dalam ayat 29-30. Kita bahas bagian pertama saja, karena
sesuai dengan topik dekrit kekal Allah.
Ayat 24b menyatakan bahwa mereka mengakui Allah sebagai pencipta
langit dan bumi (hampir semua orang Kristen setuju disini), dalam ayat 25-26
mereka mengutip Mzm 2:1-2 yaitu bagian Mazmur Mesianis (Mazmur yang menubuatkan
Sang Mesias). Dalam bagian Mazmur yang mereka kutip tersebut dijelaskan
bagaimana Daud menubuatkan pemberontakan raja-raja dunia terhadap Tuhan dan
Sang Mesias.
27 Sebab sesungguhnya telah berkumpul di dalam kota
ini Herodes dan Pontius Pilatus beserta bangsa-bangsa dan suku-suku bangsa
Israel melawan Yesus, Hamba-Mu yang kudus, yang Engkau urapi,
28 untuk melaksanakan segala sesuatu yang telah
Engkau tentukan dari semula oleh kuasa dan kehendak-Mu.
Dalam ayat 27 para jemaat tersebut menyatakan iman mereka, bahwa
nubuat Daud mengenai raja-raja dunia yang melawan Sang Mesias tersebut telah
digenapi melalui pemberontakan terhadap Yesus Kristus (Kristus dalam bahasa
Ibrani adalah Mesias). Ayat 28 adalah puncak dari pengakuan iman mereka, bahwa
semua itu (segala nubuat Daud mengenai Mesias) harus terjadi untuk melaksanakan
“segala sesuatu” yang telah Engkau “tentukan dari semula” oleh “kuasa”
dan “kehendak-Mu” (sampai tahap ini biasanya orang-orang Kristen berbeda
pendapat).
Mari sekarang kita lebih fokus lagi kepada ayat 28. Ayat 28
menyatakan penggenapan dekrit Allah atas “perlawanan” raja-raja dunia
terhadap Yesus Kristus. Saudara perlu memperhatikan, bahwa penetapan Allah
tidak hanya meliputi kematian dan pengorbanan Kristus semata, tetapi penentuan
Allah tersebut, juga meliputi “perlawanan” raja-raja dunia terhadap
Yesus Kristus. Jadi, raja-raja dan pembesar-pembesar, serta bangsa-bangsa yang
“melawan” Yesus Kristus, sesungguhnya telah “ditentukan Allah dari
semula” (dipredestinasikan) oleh kuasa dan kehendak-Nya.
Kalimat “ditentukan Allah dari semula” menyatakan
predestinasi-Nya yang kekal dimana dari kekekalan Allah telah menentukan
perlawanan mereka terhadap Mesias. Kata “Kuasa” bersesuaian dengan apa yang
dinyatakan di awal mengenai dekrit, yaitu bahwa dekrit adalah suatu perintah
yang ditetapkan dengan suatu kuasa perorangan atau pun kuasa suatu
pemerintahan. Kata “Kehendak-Nya” menyatakan bahwa Allah menetapkan segala
sesuatu dalam kuasa dan kehendak-Nya semata, tanpa ada campur tangan siapa pun,
atau pun hal lain diluar keinginan hati-Nya. Hal tersebut kembali menyangkal
pandangan bahwa Allah menetapkan sesuatu karena Ia telah tahu bahwa hal
tersebut akan terjadi (foreseen). Pandangan tersebut sangat bertentangan
dengan Alkitab. Pandangan Alkitab terutama dalam bagian ini adalah Allah
menetapkan semau-Nya Dia! Bukan karena pertimbangan lain di luar keinginan
hati-Nya sendiri!
Maka penafsiran ayat 28 adalah raja-raja dan para pembesar,
serta bangsa-bangsa MELAWAN Kristus karena telah ditetapkan Allah dari semula
sesuai dengan kuasa dan keinginan hati-Nya semata. Hal ini menegaskan kepada
kita, bahwa Allah menetapkan perbuatan baik Kristus untuk mati di kayu salib,
tetapi juga menetapkan perbuatan jahat setiap orang yang melawan-Nya. Dari
uraian di atas, nyatalah kepada kita, bahwa Gereja mula-mula mempercayai dekrit
Allah yang kekal yang meliputi perbuatan baik maupun perbuatan jahat.
Lalu bagaimana dengan providensi Allah? Apakah providensi
berbeda dengan predestinasi? Francois Wendel, seorang pakar literatur zaman
reformasi menyatakan, “Predestinasi bisa dianggap sebagai aplikasi khusus dari
gagasan Providensi yang sifatnya lebih umum.”[14] Providensi
Allah secara harfiah dapat diartikan sebagai pemeliharaan Allah. Ia tidak hanya
menciptakan, melainkan memelihara, memimpin, menuntun, dan mengendalikan
seluruh ciptaan-Nya, itulah inti pokok gagasan providensi Allah. Sedangkan
predestinasi adalah salah satu tindakan Allah dalam providensi-Nya.
KEHENDAK BEBAS DAN TANGGUNG JAWAB MANUSIA
Pada dasarnya, seluruh ciptaan tunduk kepada Allah. Ia adalah
pencipta, tetapi tidak meninggalkan ciptaan-Nya setelah mencipta, melainkan Ia
memimpin seluruh ciptaan-Nya. Ia adalah Raja dari seluruh semesta ciptaan-Nya.
Tak ada satu pun dari semesta ciptaan-Nya yang lebih tinggi dari diri Allah
sendiri. Manusia, berbeda dengan ciptaan yang lain, karena diciptakan menurut
gambar dan rupa Allah sendiri (Kej 1:26-27). Manusia dalam tingkat ciptaan-Nya
yang tertinggi, merupakan makhluk yang memiliki kehendak bebas (sebelum jatuh
ke dalam dosa).
Karena diciptakan dalam tingkatan yang tertinggi, maka manusia
merupakan satu-satunya makhluk yang diberi tugas pengelolaan (management)
oleh Allah sendiri. Manusia diperintahkan Allah untuk berkuasa dan menaklukkan
bumi (Kej 1:28). Perintah untuk berkuasa yang diberikan kepada manusia atas
bumi, bukanlah kekuasaan yang semena-mena, melainkan suatu kuasa otoritas untuk
mengelola apa yang menjadi milik Allah, sehingga kemuliaan kuasa Allah, dapat
dipantulkan oleh manusia.
Apabila kita memperhatikan Kejadian pasal 1, diceritakan
bagaimana Allah menciptakan manusia sebagai ciptaan yang tertinggi dalam ayat
26-27, tetapi dalam ayat 28 (satu ayat setelah cerita penciptaan manusia)
dinyatakan suatu perintah Allah yang besar bagi manusia. Maka manusia menjadi
makhluk ciptaan Allah yang paling mulia, dengan suatu tanggung jawab yang besar
kepada Allah untuk mematuhi perintah-Nya. Allah tidak menciptakan manusia untuk
hidup dan menggunakan segala potensi dirinya bagi kesemena-menaan.
Manusia pertama, yaitu Adam, ditempatkan Allah ke dalam taman
Eden. Taman Eden diberikan Allah dengan segala fasilitas di dalamnya, dengan
tujuan untuk diusahakan dan dipelihara oleh Adam (Kej 2:15-16). Setelah itu
Allah memerintahkan apa yang boleh dimakan oleh Adam, serta apa yang tidak
boleh dimakan oleh Adam (Kej 2:16-17). Hal ini menjadi jelas bagi kita, bahwa
Allah tidak pernah membiarkan manusia untuk hidup semena-mena, melainkan untuk
hidup dalam tanggung jawab kepada Allah Sang Penguasa semesta.
Dalam seluruh Alkitab, kita menemukan banyak sekali berkat yang
Allah berikan kepada manusia, serta di sisi lain, kita juga menemukan banyak
larangan yang diperintahkan Allah kepada manusia. Saya rasa, kebanyakan orang
Kristen mempercayai bahwa banyak sekali terdapat ayat-ayat mengenai tanggung
jawab manusia kepada Allah.
Persoalan yang timbul bagi kita adalah bagaimana mempercayai
bahwa manusia memiliki tanggung jawab kepada Allah, tetapi juga mempercayai
bahwa Allah telah menetapkan (mempredestinasikan) segala sesuatu dalam
dekrit-Nya sejak kekekalan. Seorang teman saya yang malas ke Gereja pernah mengatakan,
“Saya kan gak ke Gereja hari ini ya karena sudah ditetapkan Allah.” Dia
mengatakannya sambil cengengesan. Bolehkah seorang Kristen mengatakan kalimat
seperti itu?
Kita perlu ingat satu hal yang terpenting, yaitu bahwa manusia
diciptakan Allah untuk memiliki kehendak bebas. Apakah kehendak bebas yang
diberikan Allah ketika Ia menciptakan manusia tersebut berada di luar penetapan
Allah? Tentu saja tidak, Allah tak mungkin bertindak diluar ketetapan hati-Nya
sendiri! Jadi, dapat kita simpulkan bahwa Allah telah menetapkan
manusia untuk memiliki kehendak bebas ketika pertama diciptakan.
Kita harus mengingat, bahwa kehendak bebas pada manusia yang
pertama kali diciptakan (Adam dan Hawa) berada di dalam penetapan Allah. Jika
Allah tidak menetapkan manusia untuk memiliki kehendak bebas pada waktu
diciptakan, apakah manusia tersebut dapat memiliki kehendak bebas? Tentu saja
tidak! Maka kehendak bebas manusia tersebut bergantung kepada penetapan Allah.
Sekarang apabila pertanyaannya dibalik, dapatkah manusia melakukan sesuatu yang
berada di luar penetapan Allah dengan kehendak bebasnya? Tentu saja tidak,
mengapa? Karena kehendak bebas manusia bergantung kepada penetapan Allah,
tetapi penetapan Allah tidak bergantung kepada kehendak bebas manusia.
Lalu kemudian, bagaimana dengan keputusan-keputusan yang
dihasilkan oleh kehendak bebas manusia tersebut, apakah telah ditetapkan Allah
juga? Tentu saja! Saudara telah mempelajari bahwa segala sesuatu berada dalam
penetapan Allah. Tak ada satu pun dapat eksis atau pun terjadi di luar
ketetapan-Nya. Jika demikian, dapatkah kehendak bebas yang ditetapkan Allah
tersebut disebut sebagai kehendak bebas? Pengakuan Iman Westminster mengatakan:
Kebebasan bisa didefinisikan sebagai “tidak adanya pengaruh
eksternal.” Jika seseorang tidak dipaksa oleh suatu kuasa dari luar dirinya
untuk melakukan hal yang berlawanan dengan apa “yang ingin dia lakukan”, maka
tepat bila kita mengatakan bahwa orang itu “bebas.” Hal yang mengagumkan dari
predestinasi Allah adalah bahwa Allah sungguh-sungguh membiarkan manusia bebas
dalam pengertian ini, meskipun Dia mempredestinasikan segala sesuatu yang akan
dilakukan setiap orang.
Allah dalam cara-Nya yang misterius, mampu menetapkan segala
sesuatu yang akan dilakukan manusia, tanpa merusak kebebasan kehendak manusia.
Ketika Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa, apakah hal itu berasal dari kehendak
bebas Adam dan Hawa sendiri? Ya tentu saja, jelas-jelas Hawa memakan buah itu
karena ia mengingininya (Kej 3:6a). Tetapi apakah hal tersebut telah
dipredestinasikan Allah? Ya, tentu saja, tak ada satu hal pun dapat terjadi di
luar ketetapan Allah.
Tetapi perlu sekali kita memperhatikan, bahwa kebebasan kehendak
untuk memilih perbuatan baik atau jahat, memuliakan Tuhan atau pun dosa,
hanyalah dimiliki oleh manusia pada waktu pertama kali diciptakan. Karena
setelah kejatuhan dalam dosa, manusia dikuasai oleh dosa, dan segala
kehendaknya adalah buah dari dosa yang menguasai hati serta seluruh diri
manusia. Seperti pohon yang tidak baik pasti menghasilkan buah yang tidak baik,
begitu pula manusia yang berdosa, pastilah menghasilkan perbuatan dosa (Mat
7:17-19). Mengenai macam-macam dosa, dan bagaimana manusia berdosa tak mungkin
lagi melakukan sesuatu yang memuliakan Allah atau melakukan sesuatu yang tak
tercemar oleh dosa dalam dirinya dapat dipelajari dalam bab IV di bagian
Hamartologi (doktrin dosa).
Hal ini menjadi jelas bagi kita, bahwa Allah mempredestinasikan
dosa, tetapi Allah tak berdosa, atau pun menciptakan dosa. Mengapa? Karena
sekalipun berada dalam penetapan Allah, tetap yang menciptakan dan yang
melakukan dosa adalah sang pribadi itu sendiri. Dalam konteks dosa manusia,
jelas sekali baik dosa pertama yang dilakukan Adam dan Hawa, maupun dosa yang
kemudian dilakukan oleh keturunan mereka secara aktif, selalu berdasarkan
kehendak pribadi manusia tersebut. Misteri terbesar bagi kita adalah bagaimana
cara Allah menetapkan segala sesuatu yang akan dilakukan oleh manusia, tanpa
merusak kehendak bebas manusia tersebut. Mengenai hal ini, Alkitab tidak
menyatakan kepada kita, maka kita tak mungkin bisa mengetahuinya.
Apa yang dapat kita ketahui dengan pasti melalui Alkitab, adalah
bahwa Allah telah menetapkan segala sesuatu sesuai dengan keinginan hati-Nya,
dan penetapan Allah atas perilaku manusia tak merusak kebebasan kehendak
manusia tersebut. Maka, manusia memiliki tanggung jawab kepada Allah, untuk
melakukan perintah-Nya, dan untuk menjauhi larangan-Nya.
0 comments:
Posting Komentar