Selasa, 07 November 2017

TEOLOGI: DOKTRIN ALLAH




Ev. David Kristanto

   
PENDAHULUAN

Dalam bab sebelumnya telah dijelaskan bahwa satu-satunya cara untuk mengenal Allah adalah melalui penyataan khusus dari Allah sendiri yaitu Alkitab. Maka, dalam bagian ini, kita tidak akan dituntut untuk menalar Allah dalam spekulasi-spekulasi yang tidak berujung seperti yang lazim dilakukan oleh para filsuf. Melainkan, kita akan menggali Alkitab untuk memahami siapakah Allah, dan apakah yang dilakukan-Nya?


ALLAH SEBAGAI PUSAT SEGALANYA
 Teolog besar J. I. Packer menjelaskan mengenai bagaimana Allah melalui nabi-Nya, berargumentasi dengan orang-orang yang meragukan rencana-Nya, “Lihatlah pekerjaan yang telah Aku lakukan, firman Tuhan. Dapatkah kamu melakukannya? Dapatkah seorang manusia melakukannya? “Siapa yang menakar air laut dengan lekuk tangannya dan mengukur langit dengan jengkal, menyukat debu tanah dengan takaran, menimbang gunung-gunung dengan dacing atau bukit-bukit dengan neraca?” (Yes. 40:12). Apakah kamu cukup bijaksana dan cukup kuat untuk melakukannya? Tetapi Aku sanggup; atau Aku tidak dapat menciptakan dunia ini sama sekali. Lihatlah Allahmu!”

Teologi Kristen sangatlah berbeda dengan teologi lainnya. Teologi Kristen selalu mendasarkan Allah sebagai pusat dari segalanya. Tak ada satu pun dapat terjadi di luar kehendak-Nya, dan tanpa Dia tak ada sesuatu pun dapat menjadi ada/eksis (Yoh. 1:3). Namun tidak hanya sampai disitu, Allah tidak sekedar menjadi pencipta atas segala sesuatu yang ada, tetapi Allah juga menjadi tujuan atas segala ciptaan yang diciptakan-Nya. Paulus menyatakan dalam Roma 11:36, “Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!” Segala ciptaan-Nya hanyalah ada untuk menyatakan kemuliaan dan kebesaran-Nya semata. Paulus adalah Rasul yang paling sering menulis tentang Allah dalam perjanjian baru. Leon Morris, seorang profesor Perjanjian Baru menyatakan:

Paulus menaruh perhatian yang amat besar kepada Allah. Biasanya kita menganggap pasti bahwa seorang penulis PB akan menulis tentang Allah dan anggapan ini tidak keliru. Akan tetapi, pada umumnya kita tidak menyadari bahwa Paulus menggunakan nama Allah dengan amat sering. Penggunaan nama Allah olehnya sungguh-sungguh luar biasa. Paulus mengacu pada Allah jauh lebih sering daripada penulis PB mana pun. Lebih dari 40% acuan pada Allah dalam PB berasal dari Paulus (yakni 548 dari 1.314 kali). Suatu proporsi yang amat tinggi. Sungguh luar biasa bahwa seorang penulis yang tulisan-tulisannya mengisi kira-kira seperempat PB, menyebut nama Allah sebanyak hampir setengah dari jumlah semua kata “Allah” dalam PB. Dalam surat kepada Jemaat di Roma ia memakai kata “Allah” sebanyak 153 kali, jadi rata-rata satu kali setiap 46 kata.

Nyatalah kepada kita, bahwa Allah adalah pusat dari teologi Paulus, dan Rasul Paulus selalu membangun teologinya di atas dasar doktrin Allah. Tak ada satu ajaran/doktrin pun, yang boleh dibangun di atas dasar lain, selain dasar doktrin Allah di dalam Alkitab. Allah adalah sumber dari segala sesuatu, Ia adalah pencipta dari segala sesuatu, pemilik dari segala sesuatu, dan tujuan akhir dari segala sesuatu.

Hal tersebut membuat Allah dalam teologi Kristen, bukanlah sekedar suatu kuasa yang menciptakan segala sesuatu, bukan pula suatu penggerak yang tidak digerakkan oleh apapun seperti yang dinyatakan oleh Aristoteles, melainkan Allah dalam Alkitab adalah satu pribadi Yang Maha Kuasa, yang telah ada dalam kekekalan (Yoh. 1:1), yang kehendak-Nya melampaui segala pemikiran manusia (Rm. 11:33-35), dan yang menetapkan segala sesuatu dalam maksud dan tujuan-Nya yang Maha Agung (Ef. 1:11-12).


ATRIBUT-ATRIBUT ALLAH
 Dalam mendeskripsikan kualitas-kualitas yang dimiliki Allah, kita menggunakan istilah “atribut-atribut” Allah. Istilah “atribut-atribut” Allah dipakai dalam arti kita “mengatribusikannya” kepada-Nya. Atribut-atribut tersebut terbagi kedalam dua bagian yaitu incommunicable (tidak bisa dikomunikasikan) dan communicable(bisa dikomunikasikan).

Atribut-atribut Allah yang incommunicable adalah Mahakuasa (omnipotent), Mahatahu (omniscience), dan Mahahadir (omnipresence), kekal, tak berubah, dan tak terbatas. Dikatakan incommunicable karena atribut-atribut tersebut hanyalah milik Allah saja, dan Allah tidak memberikan atribut-atribut tersebut kepada ciptaan-Nya.

Kekuasaan Allah yang tak terbatas dinyatakan dalam predestinasi-Nya sejak kekekalan, yaitu segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya semata (Ef. 1:11). Tanpa keputusan kehendak-Nya tak ada sesuatu pun dapat eksis atau pun terjadi. Allah juga merupakan satu-satunya pribadi yang Mahatahu. Ia tidak terbatas dalam pengetahuan, kebijaksanaan-Nya tak terhingga (Mzm. 147:5). Allah tidak mengetahui sesuatu secara bertahap, melainkan langsung secara tuntas. Karena segala sesuatu berada dalam penetapan keputusan-Nya, maka tak ada sesuatu pun yang berada diluar pengetahuan-Nya. Paulus mengatakan, “Sebab, siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan?” (Rm. 11:34).

Ia juga Pribadi yang Mahahadir. Pemazmur mengatakan, “Ke mana aku dapat pergi menjauhi roh-Mu, ke mana aku dapat lari dari hadapan-Mu? Jika aku mendaki ke langit, Engkau di sana; jika aku menaruh tempat tidurku di dunia orang mati, di situ pun Engkau” (Mzm. 139:7-8). Ketika Ia hadir, Ia hadir dalam segala kepenuhan diri-Nya. Tidaklah benar jika mengatakan bahwa, “Sebagian dari Allah hadir di tempat ini, dan sebagian lainnya hadir di tempat lain.” Allah tak pernah terbagi, Ia adalah Roh, yang tak pernah dibatasi ruang dan waktu.

Atribut-atribut Allah yang communicable meliputi keberadaan, kasih, hikmat, kebaikan, kekudusan, keadilan, dan kebenaran. Atribut-atribut Allah ini dikomunikasikan Allah kepada ciptaan-Nya yaitu malaikat dan manusia sampai kepada taraf tertentu. Secara sederhana, dapat dikatakan bahwa atribut-atribut Allah yang dimiliki oleh malaikat dan manusia tersebut hanyalah bayang-bayang dari atribut-atribut Allah yang tak terbatas.


ALLAH TRITUNGGAL
 Mari kita memulainya dengan konsep Trinitas itu sendiri. Apakah Trinitas berarti satu pribadi dengan tiga peran? Saya seringkali menemukan pengajaran ini, baik dalam kebaktian sekolah minggu sewaktu saya kanak-kanak, dan juga dalam kebaktian dewasa salah satu Gereja. Sang Pendeta mengatakan, “Tritunggal itu seperti saya, saya dirumah sebagai seorang ayah, lalu di Gereja sebagai seorang pendeta, dan di kampus sebagai seorang mahasiswa.” Kurang lebih Pendeta tersebut menyatakannya demikian. Apa yang disampaikan pendeta tersebut sesungguhnya merupakan suatu bidat (ajaran sesat) Kristen zaman Gereja purba yang disebut Sabelianisme atau juga dikenal dengan modalisme. Konsep Tritunggal dalam Alkitab sangatlah jauh dari konsep yang sederhana seperti itu.

Konsep Tritunggal dalam Alkitab berarti satu di dalam tiga, sekaligus tiga di dalam satu. Hal ini berbeda dengan satu buah mangga yang terdiri dari biji, daging, dan kulitnya. Mengapa berbeda? Karena mangga tersebut adalah satu buah saja, tetapi memiliki tiga bagian. Berbeda juga dengan manusia yang terdiri dari tubuh, jiwa, dan roh. Seorang penafsir Kristen yang sangat alegoris (menafsir dengan perlambangan-perlambangan) bahkan pernah mengatakan, “Karena manusia terdiri dari tubuh, jiwa, dan roh, maka Allah pun Tritunggal.” Padahal hal tersebut tak memiliki sangkut paut apa pun.

Tidak ada satu ayat pun yang menyatakan hubungan elemen manusia yang trikotomi (terdiri dari tubuh, jiwa, dan roh) serta doktrin Allah Tritunggal, bahkan konsep Tritunggal sesungguhnya sangat berbeda dengan konsep kesatuan tiga elemen tadi dalam diri seorang manusia. Mengapa? Sama seperti mangga tadi, pada dasarnya manusia tersebut hanyalah seorang saja, hanya terdiri dari tiga bagian (Beberapa teolog tidak menerima pandangan ini, dan berpendapat bahwa manusia hanya terdiri dari dua bagian, yakni tubuh dan jiwa/roh, pandangan ini disebut dikotomi). Konsep Tritunggal yang Alkitabiah adalah satu dalam tiga sekaligus tiga tetapi satu. Prof. Sung Wook Chung menjelaskan:

Pada abad ke 4 Masehi, ada tiga sarjana terkenal di wilayah Kapadokia, sekarang disebut Turki. Seperti yang sedang kita lakukan sekarang, ketiga pria ini bergumul tentang pertanyaan Tritunggal. Setelah belajar sekian lama, mereka menyimpulkan bahwa ketiga Pribadi dari Allah ada sebagai satu Allah melalui kondisi berdiam satu sama lain (mutual indwelling) dan bepenetrasi satu sama lain (mutual interpenetration). Mereka menyelidiki studi mereka kembali kepada kata Yunani “perichoresis” yang menyatakan kesatuan esensial dari ketiga Pribadi Allah – yaitu Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Ketiga Pribadi Allah itu dikenal sebagai Pribadi-pribadi yang berbeda, akan tetapi mereka tidak eksklusif secara mutual satu sama lain; malahan, Bapa tinggal di dalam Anak dan Roh Kudus, Anak tinggal di dalam Bapa dan Roh Kudus, dan Roh Kudus tinggal di dalam Bapa dan Anak. Dengan kata lain, mereka ada sebagai satu Allah, sepenuhnya disatukan di dalam esensi mereka. Kata “komuni” menggambarkan persekutuan mereka sebagai kesatuan yang terjaga dan persekutuan dari ketiga Pribadi Allah.

Alkitab hanya menjelaskan bahwa Allah yang satu memiliki tiga Pribadi, dan tiga Pribadi Allah tersebut adalah satu. Ketiga Pribadi Allah tersebut berdiam bersama, dan juga bersekutu bersama. Bagi saya, tak ada satu pun contoh, atau ilustrasi yang dapat menggambarkan kesatuan Tritunggal Allah. Doktrin ini hanya dapat diketahui, tetapi tak dapat dimengerti oleh manusia secara sempurna.

Doktrin ini mungkin merupakan doktrin yang paling sering diserang dibandingkan dengan doktrin-doktrin teologi Kristen lainnya. Doktrin Tritunggal membuat teologi Kristen menjadi suatu bentuk teologi yang paling membingungkan dari segala teologi agama-agama lainnya. Apabila kita membaca kepustakaan teologi agama-agama diluar Kristen, kita akan menemukan, bahwa teologi-teologi diluar teologi Kristen lebih mudah diterima oleh orang-orang. Hal tersebut dikarenakan oleh sistem teologinya yang sangat rasional dan mudah diterima oleh akal. Tetapi doktrin Tritunggal dalam teologi Kristen, sangatlah sulit diterima oleh rasio manusia. Bahkan beberapa orang menanggapnya tak masuk akal.

Dalam menanggapi hal-hal semacam ini, kita perlu mengingat, bahwa teologi Kristen bukanlah suatu sistem teologi yang dibuat oleh manusia untuk suatu tujuan tertentu, misalnya tujuan sosial, politik, dsb. Sistem teologi Kristen dibuat di atas dasar Alkitab. Teologi Kristen bergantung mutlak hanya kepada Alkitab yang merupakan satu-satunya Wahyu Khusus Allah kepada manusia (sola scriptura).

Maka dalam menghadapi persoalan ini, kita tidak boleh memilah-milah untuk mempercayai dan mengajarkan doktrin-doktrin yang dapat diterima oleh akal manusia, atau bahkan yang mudah diterima oleh akal manusia semata. Yang perlu ditekankan adalah apa yang dikatakan Alkitab tentang doktrin tersebut. Sesulit dan semustahil apa pun doktrin tersebut di mata manusia, tetaplah harus diterima apabila Alkitab mengajarkannya. Dan yang tidak mungkin bagi teologi Kristen adalah Allah tunduk kepada rasio manusia. Sedangkan yang pasti dalam teologi Kristen adalah manusia tunduk kepada Allah. Karena alasan mendasar tersebut, maka kita akan sering menjumpai hal-hal yang supra-rasional (melampaui rasio) di dalam Alkitab. Sekarang mari kita menggali lebih dalam, apakah yang sebenarnya dikatakan Alkitab mengenai doktrin Tritunggal?

Pertama, mari kita melihat konsep Allah Tritunggal dalam Perjanjian Lama. Dalam Perjanjian Lama, tak ada satu pun rumusan Tritunggal yang dinyatakan kepada kita secara tegas dan lengkap. Tetapi doktrin ini dinyatakan kepada kita secara bertahap, maka melalui Perjanjian Lama, kita tidak dapat mengetahui doktrin Trinitas secara lengkap, melainkan hanya sebagian dan dalam gambaran yang samar-samar. Tetapi hal ini tidaklah berarti bahwa Perjanjian Lama tidak menyatakan doktrin Trinitas. Pengakuan Iman Westminster mengatakan, “Tetapi bukan berarti bahwa Allah Perjanjian Lama bukan Allah Trinitas. Allah Perjanjian Lama adalah Allah sempurna (dan Trinitas) walaupun tidak dinyatakan secara penuh.”[5] Mari kita melihat doktrin Trinitas yang dinyatakan dengan jelas dalam Perjanjian Lama.

Dalam Kejadian 1:26 dan Kejadian 11:7, dinyatakan bagaimana Allah berbicara dengan dirinya sendiri. Allah tidak hanya berkata kepada diri-Nya sendiri, melainkan Ia berbicara dengan diri-Nya sendiri. Dalam Alkitab bahasa Indonesia digunakan kata “Kita” ketika Allah berbicara kepada diri-Nya sendiri. Tetapi hal tersebut tidak pernah berarti bahwa Allah Israel adalah Allah yang plural, seperti para allah bangsa-bangsa penyembah berhala. Tidaklah mungkin demikian, dalam Kejadian 1:26 misalnya, kata “Allah” dalam bahasa Ibrani menggunakan kata אֱלֹהִים (baca: 'elohiym) yang memang memiliki bentuk plural tetapi memiliki arti singular.[6] Dan juga terlihat jelas mengenai ke-Esa-an Allah Israel kepada kita melalui pengakuan iman orang Yahudi dalam Ulangan 6:4. Bahkan pengakuan iman Yahudi zaman Musa tersebut masih terus dipakai sampai saat ini dalam agama Yudaisme.

Jadi dapat disimpulkan, bahwa tidaklah mungkin menyatakan bahwa Allah Israel adalah Allah yang politeisme seperti bangsa-bangsa lain di sekitar Israel. Tetapi juga tidak mungkin menyatakan bahwa ke-Esa-an Allah tersebut adalah bukan plural di dalam ke-Esa-an Allah sendiri. Karena Allah sendiri menyebut diri-Nya dengan sebutan yang plural, dan Ia membicarakan apa yang menurut-Nya baik kepada diri-Nya sendiri.

Dalam Perjanjian Lama, kita juga menemukan manifestasi Allah dalam rupa “Malaikat TUHAN” kepada diri bangsa pilihan Allah (Kej. 32:24). Dia memang seringkali menampakan diri dalam rupa manusia (Kej. 32:24), tetapi Ia juga dikenali sebagai Allah (ay. 30). Hal tersebut membuktikan bahwa Allah adalah plural dalam diri-Nya sendiri, karena sekalipun Ia memerintah dalam Sorga, tetapi Ia juga dapat turun kedunia dan memanifestasikan diri-Nya dalam rupa yang dikehendaki-Nya. Penampakan Malaikat TUHAN tersebut cukup banyak dinyatakan kepada kita dalam Perjanjian Lama.

Dalam kitab Yesaya, kita menemukan suatu janji bahwa Allah akan mengaruniakan seorang Putra yang akan lahir dari anak dara (Yes. 7:14) yang akan disebut Imanuel (artinya Allah beserta kita), dan Dia juga disebut “Allah yang perkasa” (Yes. 9:5). Bagaimana mungkin Allah mengaruniakan Allah apabila Allah tidaklah plural dalam diri-Nya yang Esa? Beberapa hal di atas hanyalah beberapa contoh bahwa doktrin Trinitas telah dinyatakan secara parsial dalam Perjanjian Lama. Hal tersebut menjadi suatu landasan bagi penyataan doktrin Trinitas yang sempurna dan lengkap di dalam Perjanjian Baru. Sehingga tak seorang pun sebenarnya dapat mengatakan bahwa Perjanjian Baru bertentangan dengan Perjanjian Lama dalam ajarannya mengenai Trinitas.

Kedua, mari kita melihat doktrin Trinitas yang telah lengkap di dalam Perjanjian Baru. Pemahaman kita akan doktrin Trinitas sesungguhnya berdasarkan tindakan Allah yang melakukan pekerjaan-Nya bagi orang-orang pilihan-Nya melalui ketiga pribadi-Nya. Pengakuan Iman Westminster mengatakan, “Perjanjian Baru ditulis setelah natur Trinitas Allah telah dimanifestasikan secara utuh.”[7] Allah Bapa telah mengutus Tuhan Yesus (Allah Anak), kemudian Tuhan Yesus mengutus Allah Roh Kudus. Ketiga pekerjaan Allah ini, menyatakan doktrin Trinitas kepada kita secara tegas dan jelas.

Dalam ketiga pekerjaan Allah tersebut, ketiga-Nya saling memberi kesaksian. Ketika Tuhan Yesus dibaptis dan akan memulai pelayanan-Nya di dunia, Allah Bapa bersaksi tentang Dia (Mrk. 1:11). Kemudian dalam pelayanan-Nya, Tuhan Yesus mengatakan bahwa Allah Bapa telah mengutus Dia (Yoh. 8:18). Setelah kebangkitan-Nya, Tuhan Yesus mengutus Allah Roh Kudus (Yoh. 16:7). Dan Roh Kudus juga bersaksi tentang Tuhan Yesus (Yoh. 16:14). Dalam tindakan pekerjaan ketiga oknum Allah inilah, doktrin Trinitas baru dapat dinyatakan kepada kita secara jelas dan tegas.

Dalam amanat agung Tuhan Yesus kepada Gereja, kita melihat rumusan Tritunggal dinyatakan secara jelas. Tuhan Yesus mengatakan dalam Matius 28:19, “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus.” Kata “nama” dalam ayat itu tidaklah menggunakan bentuk plural. Tidak dikatakan “nama-nama”, melainkan hanyalah menggunakan kata “nama” saja. Padahal yang kata “nama” yang tunggal tersebut mencakup tiga nama yang berbeda, yaitu Bapa dan Anak dan Roh Kudus. Hal ini membuktikan kepada kita bahwa ketiga Pribadi tersebut adalah Esa dalam Tritunggal yang kudus dan sederajat satu sama lain.


ALLAH BAPA DAN KARYA-NYA
 Allah Bapa dapat dikatakan sebagai satu-satunya oknum dari pribadi Allah Tritunggal yang paling jarang mendapatkan kritik. Hal ini mungkin sekali disebabkan karena paham Yudaisme yang menyatakan bahwa hanya ada satu Allah, dan Allah itu adalah Bapa bagi umat Israel (Kel. 4:22; Yes. 64:8). Dalam Perjanjian Baru, terdapat juga ayat-ayat yang secara tegas berbicara mengenai keberadaan Allah Bapa misalnya Roma 1:7, Yoh. 6:27, 1 Pet. 1:2.

Karya Allah Bapa di dalam dunia bersama-sama dengan dua oknum Tritunggal lainnya adalah menciptakan dan memerintah atas segala ciptaan-Nya. Sedangkan karya khusus dari Allah Bapa yang terpisah dari dua oknum Tritunggal lainnya adalah mengutus Allah Anak yaitu Sang Mesias Yesus ke dalam dunia, untuk menebus dosa manusia. Yohanes 20:21 menyatakan, “Maka kata Yesus sekali lagi: Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu."


ALLAH ANAK DAN KARYA-NYA
 Allah Anak adalah oknum kedua dari pribadi Allah Tritunggal dalam teologi Kristen. Sepanjang sejarah teologi Kristen, banyak sekali dilontarkan serangan-serangan terhadap ke-Allah-an Tuhan Yesus. Beberapa orang juga menerima Tuhan Yesus sebagai anak Allah, tetapi tidak sebagai Allah Anak. Salah satu cara terpenting dalam menghadapi serangan-serangan semacam itu adalah dengan menghafalkan ayat-ayat yang secara eksplisit menyatakan ke-Allah-an dari Tuhan Yesus. Ayat-ayat itu meliputi Yes. 9:5,  Yoh. 1:1,  Yoh. 1:18,  Yoh. 20:28,  Rm.9:5,  Flp. 2:5-7,  Tit. 2:13,  Ibr. 1:8,  2 Pet. 1:1,  1 Yoh. 5:20. Mari kita melihat ayat-ayat tersebut:

Yes. 9:5, Indonesia Terjemahan Baru:
Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai.

Yoh. 1:1, Indonesia Terjemahan Baru:
Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.

Yoh. 1:18, Indonesia Terjemahan Baru:
Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya.

Yoh. 20:28, Indonesia Terjemahan Baru:
Tomas menjawab Dia: "Ya Tuhanku dan Allahku!"

Rm. 9:5, Indonesia Terjemahan Baru:
Mereka adalah keturunan bapa-bapa leluhur, yang menurunkan Mesias dalam keadaan-Nya sebagai manusia, yang ada di atas segala sesuatu. Ia adalah Allah yang harus dipuji sampai selama-lamanya. Amin!

Flp. 2:5-6, Indonesia Terjemahan Baru:
5 Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus,
6 yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan,

Tit. 2:13, Indonesia Terjemahan Baru:
dengan menantikan penggenapan pengharapan kita yang penuh bahagia dan penyataan kemuliaan Allah yang Mahabesar dan Juruselamat kita Yesus Kristus,

Ibr. 1:8, Indonesia Terjemahan Baru:
Tetapi tentang Anak Ia berkata: "Takhta-Mu, ya Allah, tetap untuk seterusnya dan selamanya, dan tongkat kerajaan-Mu adalah tongkat kebenaran.

2 Pet. 1:1, Indonesia Terjemahan Baru:
Dari Simon Petrus, hamba dan rasul Yesus Kristus, kepada mereka yang bersama-sama dengan kami memperoleh iman oleh karena keadilan Allah dan Juruselamat kita, Yesus Kristus.

1 Yoh. 5:20, Indonesia Terjemahan Baru:
Akan tetapi kita tahu, bahwa Anak Allah telah datang dan telah mengaruniakan pengertian kepada kita, supaya kita mengenal Yang Benar; dan kita ada di dalam Yang Benar, di dalam Anak-Nya Yesus Kristus. Dia adalah Allah yang benar dan hidup yang kekal.

Dengan menghafalkan ayat-ayat di atas, kita memiliki senjata rohani yang tak mungkin dikalahkan oleh para guru-guru palsu dan anggota bidat-bidat penyesat. Ayat-ayat di atas sangatlah jelas dan tegas dalam menyatakan ke-Ilahi-an Kristus dan tak mungkin terbantahkan lagi.

Menurut saudara, dimanakah pertama kali Allah Anak tercatat muncul di dalam Perjanjian Lama? Sebagian mungkin berpendapat dalam kitab Yesaya, atau Yunus karena mengingat tanda Yunus, atau pun kitab-kitab lainnya. Tetapi sesungguhnya Allah Anak telah muncul dalam bagian paling pertama dari Alkitab, yaitu Kejadian 1:1. Allah Anak dalam kesatuan Tritunggal yang kudus dengan Allah Bapa dan Allah Roh Kudus, menciptakan langit dan bumi pada waktu yang paling mula-mula. Jadi jelas, karya Allah Anak bagi dunia, bukan hanya menebus dosa, melainkan juga menciptakannya dan memerintah atasnya bersama dengan dua oknum lain Allah Tritunggal.
Allah Anak juga memiliki karya khusus yang dilakukannya sendiri yaitu datang kedunia melalui inkarnasi, dan menebus dosa umat-Nya. Dialah Sang Mesias Agung yang menebus seluruh dosa orang percaya, Dialah Allah yang harus dipuji selama-lamanya! Mengenai karya Allah Anak di dunia, akan dibahas dengan lebih jelas dalam bagian doktrin Kristus.


ALLAH ROH KUDUS DAN KARYA-NYA
 Allah Roh Kudus merupakan oknum ketiga dari pribadi Allah Tritunggal. Allah Roh Kudus juga merupakan salah satu oknum pribadi Tritunggal yang paling sering diserang. Misalnya kelompok Saksi Yehuwa selalu menyatakan bahwa Roh Kudus hanyalah suatu kuasa dan bukannya pribadi. Hal tersebut jelas sangat bertentangan dengan apa yang dikatakan Alkitab. Alkitab tak pernah menyatakan Roh Kudus sebatas suatu kuasa atau suatu energi. Leon Morris, seorang ahli Perjanjian Baru menyatakan, “Jelas, Lukas memandang Roh sebagai bersifat hidup dan aktif, sebagai Oknum yang kehadiran-Nya menerangi dan membangkitkan semangat jemaat.”

Adakah bukti yang memadai yang menyatakan bahwa Roh Kudus adalah oknum Pribadi Allah Tritunggal? Apakah bukti dalam Alkitab yang menyatakan bahwa Roh Kudus adalah Pribadi dan bukan sekedar kuasa?

Pertama, bukti ke-Allah-an Roh Kudus yang paling sering disampaikan adalah sebutan-Nya yang interchangeable (dapat dipertukarkan/dibolak balik) dengan sebutan Allah sendiri. Misalnya dalam Kis. 5:3-4 dikatakan mengenai Ananias dan Safira yang mendustai Roh Kudus. Hal itu dianggap sama dengan mendustai Roh Kudus.

Kis. 5:3-4, Indonesia Terjemahan Baru:
3 Tetapi Petrus berkata: "Ananias, mengapa hatimu dikuasai Iblis, sehingga engkau mendustai Roh Kudus dan menahan sebagian dari hasil penjualan tanah itu?
4 Selama tanah itu tidak dijual, bukankah itu tetap kepunyaanmu, dan setelah dijual, bukankah hasilnya itu tetap dalam kuasamu? Mengapa engkau merencanakan perbuatan itu dalam hatimu? Engkau bukan mendustai manusia, tetapi mendustai Allah."

Penyebutan Roh Kudus yang interchangeable juga dapat dilihat dalam Yesaya 40:13-14. Ayat 13 disebut Roh TUHAN, tetapi dalam ayat 14 hanya disebut TUHAN saja, tanpa diawali dengan sebutan “Roh”.

Yesaya 40:13-14, Indonesia Terjemahan Baru:
13 Siapa yang dapat mengatur Roh TUHAN atau memberi petunjuk kepada-Nya sebagai penasihat?
14 Kepada siapa TUHAN meminta nasihat untuk mendapat pengertian, dan siapa yang mengajar TUHAN untuk menjalankan keadilan, atau siapa mengajar Dia pengetahuan dan memberi Dia petunjuk supaya Ia bertindak dengan pengertian?

Terdapat juga dalam perkataan Paulus yang menyebutkan tubuh orang percaya sebagai bait Allah = bait Roh Kudus. Kita dapat mengerti dengan membandingkan 1 Kor. 3:16 dengan 1 Kor. 6:19.

1 Kor. 3:16, Indonesia Terjemahan Baru:
Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu?

1 Kor. 6:19, Indonesia Terjemahan Baru:
Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah,  —  dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri?

Penyebutan interchangeable tersebut banyak sekali terdapat dalam Alkitab, biasanya meliputi Roh Allah = Roh Kudus = Tuhan = Allah. Saya melampirkan beberapa saja, karena bukti-bukti penyebutan interchangeable tersebut tidak sulit untuk didapatkan dalam Alkitab.

Kedua, Alkitab menyatakan Roh Kudus sebagai Allah melalui pekerjaan yang dilakukan-Nya. Roh Kudus turut menciptakan langit dan bumi (Kej. 1:2), membentuk manusia (Kej. 2:7), dan masih banyak ayat-ayat yang menyatakan bahwa Roh Kudus terlibat dalam penciptaan dunia. Roh juga berdoa untuk orang-orang percaya (Rm. 8:26). Dia juga melakukan mukjizat (Kis. 8:39). Ia memimpin orang-orang pilihan kepada kebenaran dengan cara mendengar, berbicara, dan menunjukkan (Yoh. 16:13).

Ketiga, Roh Kudus memiliki sifat-sifat sebagai suatu Pribadi. Dia memiliki kecerdasan. Dia menyelidiki dan mengetahui apa yang ada dalam diri Allah (1 Kor. 2:10-11), hal ini berarti Dia juga Mahatahu karena dia mengetahui apa yang ada dalam diri Allah! Dia memiliki pikiran (Rm. 8:27); dan Dia mengajar orang percaya (1 Kor. 2:13). Dia memiliki perasaan, sehingga dapat didukakan (Ef. 4:30). Dia juga memiliki kehendak terutama dalam memberikan karunia-Nya kepada orang-orang percaya (1 Kor. 2:11), dan juga dalam memimpin seluruh aktivitas orang Kristen (Kis. 16:6-11), pekerjaan memimpin seluruh aktivitas orang Kristen ini jelas tak mungkin dilakukan oleh siapa pun, atau apa pun selain pribadi Allah sendiri.[9]

Karya khusus Allah Roh Kudus adalah melahirkan Gereja dengan cara mempersatukan orang-orang percaya dalam satu tubuh Kristus dan mendiami orang-orang percaya serta memateraikan mereka bagi Kristus (1 Kor. 12:13). Itulah sebabnya, mengapa orang-orang yang sudah sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan Yesus di zaman anugerah/zaman Gereja, tidak mungkin lagi mengalami kemurtadan. Bukan karena Gereja di zaman ini makin hidup berkenan kepada Tuhan, tetapi karena Allah Roh Kudus yang selalu bekerja di dalam diri orang beriman sampai selama-lamanya (Yoh. 14:16-17).

Karya Allah Roh Kudus bersama-sama dengan dua oknum Tritunggal lainnya adalah menciptakan alam semesta, dan memerintah seluruh ciptaan-Nya dengan kemuliaan diri-Nya dalam Allah Tritunggal yang kudus.


PREDESTINASI DAN DEKRIT ALLAH
 Predestinasi adalah ajaran bahwa dalam kekekalan, Allah telah menetapkan segala sesuatu sebelum semuanya terjadi. Sedangkan dekrit, sebenarnya secara prinsip, artinya sama-sama menetapkan, tetapi definisinya menjadi lebih resmi karena berhubungan dengan kuasa pemerintahan Allah. Merriam Webster Dictionary mendefinisikan dekrit (bahasa Inggris: decree), sebagai “an official order given by a person with power or by a government.” (Suatu perintah resmi yang diberikan oleh seseorang dengan kuasa atau oleh suatu pemerintahan). Istilah “dekrit” biasanya digunakan dalam menyatakan suatu keputusan/ketetapan Raja atau pemerintahan tertentu. Dalam Alkitab perjanjian lama, kita mengenal istilah “dekrit Raja Koresy”. Dalam beberapa kerajaan, dekrit yang ditetapkan tidak dapat dicabut kembali. Karena kedua istilah ini, predestinasi dan dekrit Allah pada dasarnya merupakan satu prinsip yang sama, maka saya akan cenderung menggunakan salah satunya.

Menurut saya, satu-satunya sistem teologi yang mengajarkan predestinasi dengan sangat baik adalah teologi Calvinistik. John Calvin merupakan seorang teolog yang paling dikenal dengan ajaran predestinasi. Ia menjabarkan predestinasi sebagai berikut: “Predestinasi disebut ketetapan Allah yang kekal, yang melaluinya Ia telah menetapkan di dalam diri-Nya apa yang akan terjadi dalam setiap individu umat manusia ... hidup kekal ditetapkan sebelumnya bagi sebagian orang, dan penghukuman kekal bagi yang lain. Setiap orang, karena itu, diciptakan untuk salah satu dari tujuan ini, kita sebut Ia mempredestinasikan baik untuk hidup atau untuk mati.”

Hal yang jarang diperhatikan oleh orang-orang yang baru mempelajari Calvinisme adalah landasan berpikir Calvin untuk ajaran predestinasi tersebut. Cukup banyak orang-orang yang salah memahami, dan berpendapat bahwa predestinasi adalah dasar teologi Calvin. Pandangan tersebut sangatlah keliru. Paul Enns menyatakan, “Teologi Calvin berpusat pada kedaulatan Allah, doktrin-doktrin lain diikatkan pada premis itu.”[11] Disini menjadi jelas, bahwa Calvin mengembangkan ajaran predestinasi dalam teologinya sebagai pengembangan atas ajaran kedaulatan Allah atas segala sesuatu. Karena Allah adalah Raja semesta, dan tak ada satu pun yang dapat terjadi di luar kuasa kedaulatan-Nya, maka Allah mempredestinasikan segala sesuatu jauh sebelum segala sesuatu terjadi, yaitu dalam kekekalan.

Predestinasi dalam teologi Calvinistik juga memiliki aspek luas dan sempit. Aspek luas adalah penetapan atas segala sesuatu yang akan terjadi semenjak kekekalan berdasarkan Efesus 1:11. Tak ada satu pun hal yang terjadi baik dalam sejarah maupun di masa depan, yang tidak ditetapkan-Nya lebih dulu. Sedangkan aspek sempit dari predestinasi, adalah predestinasi yang bersifat personal. Allah telah memilih sebagian orang untuk keselamatan dan sebagian orang untuk hidup dalam dosa.[12] Ajaran ini didasarkan kepada Ef 1:4 yang menyatakan bahwa jemaat Kristen sejati adalah orang-orang yang dipilih-Nya untuk hidup kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya.

Indonesia Terjemahan Baru, Efesus 1:11
11 Aku katakan "di dalam Kristus," karena di dalam Dialah kami mendapat bagian yang dijanjikan  —  kami yang dari semula ditentukan untuk menerima bagian itu sesuai dengan maksud Allah, yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya.

New King James Version, Ephesians 1:11
11  In Him also we have obtained an inheritance, being predestined according to the purpose of Him who works all things according to the counsel of His will.

Paulus dalam ayat ini memang sedang menyatakan mengenai pemilihan Allah atas keselamatan orang-orang pilihan-Nya. Tetapi Paulus menarik suatu alasan utama atas predestinasi keselamatan orang-orang pilihan Tuhan tersebut, alasan tersebut adalah penetapan Allah atas segala sesuatu. Dengan kata lain, Paulus menyatakan bahwa, “Karena Allah menetapkan segala sesuatu sesuai kehendak-Nya, maka Allah juga menetapkan keselamatan kita.” Dari alasan utama itulah (yaitu penetapan Allah atas segala sesuatu), maka kita mengerti, bahwa keselamatan kita adalah ditetapkan Allah, begitu pula dengan penghukuman orang-orang yang tidak diselamatkan Allah, hal itu juga telah ditetapkan Allah.

Saudara juga perlu memperhatikan, bahwa penetapan/keputusan Allah atas segala sesuatu tersebut tidaklah berdasarkan hal-hal di luar diri-Nya. Penetapan tersebut hanyalah berdasarkan kehendak-Nya sendiri. Dapat dikatakan dalam hal ini, Allah berlaku “semau gue”. Mengenai tindakan Allah berdasarkan foreseen (kemampuan Allah melihat masa depan) adalah suatu kesalahan yang fatal. Allah tidak pernah menetapkan seseorang untuk selamat karena Ia tahu pasti seseorang tersebut nanti akan percaya Yesus. Hal tersebut tidaklah mungkin, karena seseorang dapat beriman pun karena telah ditetapkan Allah (Ingatlah bahwa Ef 1:11 menyatakan “segala sesuatu telah diputuskan/ditetapkan Allah sesuai dengan kehendak-Nya.” Bukankah segala sesuatu tersebut termasuk iman seseorang?).

Adakah sesuatu yang dapat dilakukan manusia atau sesuatu yang dapat terjadi tanpa ditetapkan Allah? Jawabannya adalah mustahil! Karena Alkitab katakan dengan jelas, bahwa segala sesuatu telah ditetapkan Allah. Tak ada satu hal pun yang dapat eksis atau pun terjadi tanpa penetapan Tuhan.

Ayat ini mungkin merupakan ayat yang paling tegas dalam menyatakan penetapan Allah atas segala sesuatu. Kejelasannya membuat ayat ini tak terbantahkan lagi, bahwa memang Allah telah menetapkan segala sesuatu sesuai dengan kehendak-Nya sendiri. Wycliffe menyatakan, “Kata-kata ditentukan, maksud, keputusan, kehendak memiliki hubungan yang erat. Tidak ada pernyataan di dalam Alkitab yang lebih jelas atau lebih khidmat tentang kedaulatan Allah. Di sepanjang Alkitab terdapat garis sejajar kedaulatan Allah dan tanggung jawab manusia. Kita tidak dapat memadukan keduanya, tetapi kita dapat mempercayai keduanya sebab diajarkan dalam Firman.”[13]

Komentar Wycliffe mengenai hal ini sangat tepat, memang Alkitab mengajarkan kedaulatan Allah dan di sisi lain tanggung jawab manusia. Mengenai tanggung jawab manusia akan kita bahas setelah pembahasan dekrit Allah ini. Lalu, bagaimana dengan dekrit Allah dalam sejarah? Adakah ayat-ayat yang mendukung hal tersebut? Mari kita perhatikan kutipan teks Alkitab di bawah ini:

Kis 4:24-28
24  Ketika teman-teman mereka mendengar hal itu, berserulah mereka bersama-sama kepada Allah, katanya: "Ya Tuhan, Engkaulah yang menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya.
25  Dan oleh Roh Kudus dengan perantaraan hamba-Mu Daud, bapa kami, Engkau telah berfirman: Mengapa rusuh bangsa-bangsa, mengapa suku-suku bangsa mereka-reka perkara yang sia-sia?
26  Raja-raja dunia bersiap-siap dan para pembesar berkumpul untuk melawan Tuhan dan Yang Diurapi-Nya.

Ayat 24 menjadi latar belakang ayat-ayat diatas. Ayat-ayat yang saya kutip di atas adalah seruan dari teman-teman Petrus dan Yohanes, ketika Petrus dan Yohanes baru saja dilepaskan dari sidang Mahkamah Agama Yahudi yang dipimpin oleh Imam Besar dan keturunan Imam Besar (Kis 4:5-6). Siapakah teman-teman Petrus dan Yohanes tersebut? Pastilah mereka adalah jemaat mula-mula. Lalu apakah isi seruan mereka?

Seruan mereka dalam ayat 24b-30 (saudara baca sendiri ayat 29-30, saya tidak cantumkan karena tidak sesuai topik dekrit Allah) terdiri dari dua bagian. Bagian pertama adalah pengakuan iman mereka dihadapan Tuhan dalam ayat 24b-28, lalu bagian kedua adalah permohonan mereka dalam meminta pertolongan Tuhan dalam ayat 29-30. Kita bahas bagian pertama saja, karena sesuai dengan topik dekrit kekal Allah.

Ayat 24b menyatakan bahwa mereka mengakui Allah sebagai pencipta langit dan bumi (hampir semua orang Kristen setuju disini), dalam ayat 25-26 mereka mengutip Mzm 2:1-2 yaitu bagian Mazmur Mesianis (Mazmur yang menubuatkan Sang Mesias). Dalam bagian Mazmur yang mereka kutip tersebut dijelaskan bagaimana Daud menubuatkan pemberontakan raja-raja dunia terhadap Tuhan dan Sang Mesias.

27  Sebab sesungguhnya telah berkumpul di dalam kota ini Herodes dan Pontius Pilatus beserta bangsa-bangsa dan suku-suku bangsa Israel melawan Yesus, Hamba-Mu yang kudus, yang Engkau urapi,
28  untuk melaksanakan segala sesuatu yang telah Engkau tentukan dari semula oleh kuasa dan kehendak-Mu.

Dalam ayat 27 para jemaat tersebut menyatakan iman mereka, bahwa nubuat Daud mengenai raja-raja dunia yang melawan Sang Mesias tersebut telah digenapi melalui pemberontakan terhadap Yesus Kristus (Kristus dalam bahasa Ibrani adalah Mesias). Ayat 28 adalah puncak dari pengakuan iman mereka, bahwa semua itu (segala nubuat Daud mengenai Mesias) harus terjadi untuk melaksanakan “segala sesuatu” yang telah Engkau “tentukan dari semula” oleh “kuasa” dan “kehendak-Mu” (sampai tahap ini biasanya orang-orang Kristen berbeda pendapat).

Mari sekarang kita lebih fokus lagi kepada ayat 28. Ayat 28 menyatakan penggenapan dekrit Allah atas “perlawanan” raja-raja dunia terhadap Yesus Kristus. Saudara perlu memperhatikan, bahwa penetapan Allah tidak hanya meliputi kematian dan pengorbanan Kristus semata, tetapi penentuan Allah tersebut, juga meliputi “perlawanan” raja-raja dunia terhadap Yesus Kristus. Jadi, raja-raja dan pembesar-pembesar, serta bangsa-bangsa yang “melawan” Yesus Kristus, sesungguhnya telah “ditentukan Allah dari semula” (dipredestinasikan) oleh kuasa dan kehendak-Nya.

Kalimat “ditentukan Allah dari semula” menyatakan predestinasi-Nya yang kekal dimana dari kekekalan Allah telah menentukan perlawanan mereka terhadap Mesias. Kata “Kuasa” bersesuaian dengan apa yang dinyatakan di awal mengenai dekrit, yaitu bahwa dekrit adalah suatu perintah yang ditetapkan dengan suatu kuasa perorangan atau pun kuasa suatu pemerintahan. Kata “Kehendak-Nya” menyatakan bahwa Allah menetapkan segala sesuatu dalam kuasa dan kehendak-Nya semata, tanpa ada campur tangan siapa pun, atau pun hal lain diluar keinginan hati-Nya. Hal tersebut kembali menyangkal pandangan bahwa Allah menetapkan sesuatu karena Ia telah tahu bahwa hal tersebut akan terjadi (foreseen). Pandangan tersebut sangat bertentangan dengan Alkitab. Pandangan Alkitab terutama dalam bagian ini adalah Allah menetapkan semau-Nya Dia! Bukan karena pertimbangan lain di luar keinginan hati-Nya sendiri!

Maka penafsiran ayat 28 adalah raja-raja dan para pembesar, serta bangsa-bangsa MELAWAN Kristus karena telah ditetapkan Allah dari semula sesuai dengan kuasa dan keinginan hati-Nya semata. Hal ini menegaskan kepada kita, bahwa Allah menetapkan perbuatan baik Kristus untuk mati di kayu salib, tetapi juga menetapkan perbuatan jahat setiap orang yang melawan-Nya. Dari uraian di atas, nyatalah kepada kita, bahwa Gereja mula-mula mempercayai dekrit Allah yang kekal yang meliputi perbuatan baik maupun perbuatan jahat.

Lalu bagaimana dengan providensi Allah? Apakah providensi berbeda dengan predestinasi? Francois Wendel, seorang pakar literatur zaman reformasi menyatakan, “Predestinasi bisa dianggap sebagai aplikasi khusus dari gagasan Providensi yang sifatnya lebih umum.”[14] Providensi Allah secara harfiah dapat diartikan sebagai pemeliharaan Allah. Ia tidak hanya menciptakan, melainkan memelihara, memimpin, menuntun, dan mengendalikan seluruh ciptaan-Nya, itulah inti pokok gagasan providensi Allah. Sedangkan predestinasi adalah salah satu tindakan Allah dalam providensi-Nya.


KEHENDAK BEBAS DAN TANGGUNG JAWAB MANUSIA
 Pada dasarnya, seluruh ciptaan tunduk kepada Allah. Ia adalah pencipta, tetapi tidak meninggalkan ciptaan-Nya setelah mencipta, melainkan Ia memimpin seluruh ciptaan-Nya. Ia adalah Raja dari seluruh semesta ciptaan-Nya. Tak ada satu pun dari semesta ciptaan-Nya yang lebih tinggi dari diri Allah sendiri. Manusia, berbeda dengan ciptaan yang lain, karena diciptakan menurut gambar dan rupa Allah sendiri (Kej 1:26-27). Manusia dalam tingkat ciptaan-Nya yang tertinggi, merupakan makhluk yang memiliki kehendak bebas (sebelum jatuh ke dalam dosa).

Karena diciptakan dalam tingkatan yang tertinggi, maka manusia merupakan satu-satunya makhluk yang diberi tugas pengelolaan (management) oleh Allah sendiri. Manusia diperintahkan Allah untuk berkuasa dan menaklukkan bumi (Kej 1:28). Perintah untuk berkuasa yang diberikan kepada manusia atas bumi, bukanlah kekuasaan yang semena-mena, melainkan suatu kuasa otoritas untuk mengelola apa yang menjadi milik Allah, sehingga kemuliaan kuasa Allah, dapat dipantulkan oleh manusia.

Apabila kita memperhatikan Kejadian pasal 1, diceritakan bagaimana Allah menciptakan manusia sebagai ciptaan yang tertinggi dalam ayat 26-27, tetapi dalam ayat 28 (satu ayat setelah cerita penciptaan manusia) dinyatakan suatu perintah Allah yang besar bagi manusia. Maka manusia menjadi makhluk ciptaan Allah yang paling mulia, dengan suatu tanggung jawab yang besar kepada Allah untuk mematuhi perintah-Nya. Allah tidak menciptakan manusia untuk hidup dan menggunakan segala potensi dirinya bagi kesemena-menaan.

Manusia pertama, yaitu Adam, ditempatkan Allah ke dalam taman Eden. Taman Eden diberikan Allah dengan segala fasilitas di dalamnya, dengan tujuan untuk diusahakan dan dipelihara oleh Adam (Kej 2:15-16). Setelah itu Allah memerintahkan apa yang boleh dimakan oleh Adam, serta apa yang tidak boleh dimakan oleh Adam (Kej 2:16-17). Hal ini menjadi jelas bagi kita, bahwa Allah tidak pernah membiarkan manusia untuk hidup semena-mena, melainkan untuk hidup dalam tanggung jawab kepada Allah Sang Penguasa semesta.

Dalam seluruh Alkitab, kita menemukan banyak sekali berkat yang Allah berikan kepada manusia, serta di sisi lain, kita juga menemukan banyak larangan yang diperintahkan Allah kepada manusia. Saya rasa, kebanyakan orang Kristen mempercayai bahwa banyak sekali terdapat ayat-ayat mengenai tanggung jawab manusia kepada Allah.

Persoalan yang timbul bagi kita adalah bagaimana mempercayai bahwa manusia memiliki tanggung jawab kepada Allah, tetapi juga mempercayai bahwa Allah telah menetapkan (mempredestinasikan) segala sesuatu dalam dekrit-Nya sejak kekekalan. Seorang teman saya yang malas ke Gereja pernah mengatakan, “Saya kan gak ke Gereja hari ini ya karena sudah ditetapkan Allah.” Dia mengatakannya sambil cengengesan. Bolehkah seorang Kristen mengatakan kalimat seperti itu?

Kita perlu ingat satu hal yang terpenting, yaitu bahwa manusia diciptakan Allah untuk memiliki kehendak bebas. Apakah kehendak bebas yang diberikan Allah ketika Ia menciptakan manusia tersebut berada di luar penetapan Allah? Tentu saja tidak, Allah tak mungkin bertindak diluar ketetapan hati-Nya sendiri! Jadi, dapat kita simpulkan bahwa Allah telah menetapkan manusia untuk memiliki kehendak bebas ketika pertama diciptakan.

Kita harus mengingat, bahwa kehendak bebas pada manusia yang pertama kali diciptakan (Adam dan Hawa) berada di dalam penetapan Allah. Jika Allah tidak menetapkan manusia untuk memiliki kehendak bebas pada waktu diciptakan, apakah manusia tersebut dapat memiliki kehendak bebas? Tentu saja tidak! Maka kehendak bebas manusia tersebut bergantung kepada penetapan Allah. Sekarang apabila pertanyaannya dibalik, dapatkah manusia melakukan sesuatu yang berada di luar penetapan Allah dengan kehendak bebasnya? Tentu saja tidak, mengapa? Karena kehendak bebas manusia bergantung kepada penetapan Allah, tetapi penetapan Allah tidak bergantung kepada kehendak bebas manusia.

Lalu kemudian, bagaimana dengan keputusan-keputusan yang dihasilkan oleh kehendak bebas manusia tersebut, apakah telah ditetapkan Allah juga? Tentu saja! Saudara telah mempelajari bahwa segala sesuatu berada dalam penetapan Allah. Tak ada satu pun dapat eksis atau pun terjadi di luar ketetapan-Nya. Jika demikian, dapatkah kehendak bebas yang ditetapkan Allah tersebut disebut sebagai kehendak bebas? Pengakuan Iman Westminster mengatakan:

Kebebasan bisa didefinisikan sebagai “tidak adanya pengaruh eksternal.” Jika seseorang tidak dipaksa oleh suatu kuasa dari luar dirinya untuk melakukan hal yang berlawanan dengan apa “yang ingin dia lakukan”, maka tepat bila kita mengatakan bahwa orang itu “bebas.” Hal yang mengagumkan dari predestinasi Allah adalah bahwa Allah sungguh-sungguh membiarkan manusia bebas dalam pengertian ini, meskipun Dia mempredestinasikan segala sesuatu yang akan dilakukan setiap orang.

Allah dalam cara-Nya yang misterius, mampu menetapkan segala sesuatu yang akan dilakukan manusia, tanpa merusak kebebasan kehendak manusia. Ketika Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa, apakah hal itu berasal dari kehendak bebas Adam dan Hawa sendiri? Ya tentu saja, jelas-jelas Hawa memakan buah itu karena ia mengingininya (Kej 3:6a). Tetapi apakah hal tersebut telah dipredestinasikan Allah? Ya, tentu saja, tak ada satu hal pun dapat terjadi di luar ketetapan Allah.

Tetapi perlu sekali kita memperhatikan, bahwa kebebasan kehendak untuk memilih perbuatan baik atau jahat, memuliakan Tuhan atau pun dosa, hanyalah dimiliki oleh manusia pada waktu pertama kali diciptakan. Karena setelah kejatuhan dalam dosa, manusia dikuasai oleh dosa, dan segala kehendaknya adalah buah dari dosa yang menguasai hati serta seluruh diri manusia. Seperti pohon yang tidak baik pasti menghasilkan buah yang tidak baik, begitu pula manusia yang berdosa, pastilah menghasilkan perbuatan dosa (Mat 7:17-19). Mengenai macam-macam dosa, dan bagaimana manusia berdosa tak mungkin lagi melakukan sesuatu yang memuliakan Allah atau melakukan sesuatu yang tak tercemar oleh dosa dalam dirinya dapat dipelajari dalam bab IV di bagian Hamartologi (doktrin dosa).

Hal ini menjadi jelas bagi kita, bahwa Allah mempredestinasikan dosa, tetapi Allah tak berdosa, atau pun menciptakan dosa. Mengapa? Karena sekalipun berada dalam penetapan Allah, tetap yang menciptakan dan yang melakukan dosa adalah sang pribadi itu sendiri. Dalam konteks dosa manusia, jelas sekali baik dosa pertama yang dilakukan Adam dan Hawa, maupun dosa yang kemudian dilakukan oleh keturunan mereka secara aktif, selalu berdasarkan kehendak pribadi manusia tersebut. Misteri terbesar bagi kita adalah bagaimana cara Allah menetapkan segala sesuatu yang akan dilakukan oleh manusia, tanpa merusak kehendak bebas manusia tersebut. Mengenai hal ini, Alkitab tidak menyatakan kepada kita, maka kita tak mungkin bisa mengetahuinya.

Apa yang dapat kita ketahui dengan pasti melalui Alkitab, adalah bahwa Allah telah menetapkan segala sesuatu sesuai dengan keinginan hati-Nya, dan penetapan Allah atas perilaku manusia tak merusak kebebasan kehendak manusia tersebut. Maka, manusia memiliki tanggung jawab kepada Allah, untuk melakukan perintah-Nya, dan untuk menjauhi larangan-Nya.

0 comments:

Posting Komentar