![]() |
| Pdt. Yusuf Yikwa/ Akrab di panggil bapak Mantri (Jazwanphoto) |
Pelayanan terbesar yang dapat kita berikan kepada Tuhan adalah memenuhi panggilan untuk menjadi saksi Kristus.
Kisah Para Rasul 1:8 merupakan Moto Gereja Injili di Indonesia (GIDI) menjadi landasan dan pegangan utama bagi umat GIDI terutama parah hamba Tuhan dalam menjalankan pelayanan untuk memenangkan jiwa-jiwa yang tersesat berada dalam kuasa kegelapan saat ini. Serta Demi mewujudkan Visi dan Misi Kristus untuk memberitakan Injil di seluruh dunia.
Sebagai pengikut Kristus, kita dipanggil untuk menjadi saksi atas apa yang telah Yesus lakukan di dalam kita dan bagi kita. Untuk menuntun orang kepada Kristus, kita tidak perlu dapat menjelaskan setiap persoalan teologis atau menjawab setiap pertanyaan. Yang harus kita lakukan adalah menjelaskan apa yang telah kita saksikan di dalam hidup kita sendiri melalui salib dan kebangkitan Juruselamat kita. Luar biasanya lagi, kita tidak perlu bergantung kepada diri kita sendiri untuk melakukannya. Yesus berkata, “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi” (Kis. 1:8).
Ketika kita bergantung kepada kuasa Roh Kudus, kita dapat membawa orang-orang yang terluka di tengah dunia ini kepada Kristus yang sanggup menebus mereka. Dengan pertolongan-Nya, kita bisa bersaksi tentang kuasa kehadiran-Nya dalam diri kita yang sanggup mengubahkan hidup!
Pdt. Yusuf Yikwa, adalah salah satu penginjil yang di utus dari Klasis Konda- Wilayah Toli ke Kamur Wilayah Pantai Selatan, Distrik Pantai Kasuari Kab. Asmat Pada Tahun 1973, di tengah-tengah Suku Sawi. Selama pelayanan disana tiga misi yang ia jalani adalah sebagai Penginjil, Mantri dan tukang Bangunan.
Menurut cerita beliau, tantangan awal yang beliau dan istrinya alami adalah belajar bahasa, budaya dan mengemudi perahu kayu. Meskipun demikian beliau dengan istrinya Neniamban Wenda, tetap berusaha untuk belajar. Karena di lihat dari medannya begitu luas dan rawa, kunjungi umat, mencari makan di hutan semuanya dengan perahu karena satu-satunya akses jalan dari kampung ke kampung lain melalui air, tidak ada jalan darat. Banyak tantangan yang Ia hadapi dalam pelayanan namun beliau dengan istrinya tetap optimis, sebab mereka tahu bahwa Tuhan ada bersama mereka. Atas Rahmat dan campur tangan Tuhan, mereka belajar semua yang mereka anggap tidak bisa itu, baik bahasa, budaya dan belajar mengemudi perahu kayu.
"Dalam Penginjilan jangan pernah secara langsung memaksakan orang lokal untuk berubah kehidupannya untuk mengikuti kehidupan kita, tetapi kita sendiri yang harus berusaha untuk menyesuaikan diri dengan kehidupan mereka. Maka mudah dalam penyesuaian dengan lingkungan yang ada dalam hal belajar bahasa dan budaya setempat, demi kemajuan Injil keselamatan, sebab mereka akan paham ketika kita menyampaikan Firman dengan bahasa mereka sendiri dan mengambil ilustrasi dengan kehidupan mereka dalam sehari-hari " ( Pdt. Yusuf Yikwa)
Beliau dikaruniai dua putra dan satu putri, ketiganya sudah memiliki keluarga sendiri-sendiri.
Satu putra dengan keluarganya tinggal bersama orang tua di kamura saat itu, putra yang kedua tugas di Merauke sebagai Guru, dan putri sudah memiliki keluarga juga. Kemudian dua anak sawi yang menjadi anak angkat dalam keluarganya.
Sekian tahun beliau melayani di suku sawi, Setelah orang sawi bisa berdiri sendiri di atas negerinya misionaris dari luar Negara dan dari Papua meninggalkan mereka lalu keluar.
Beliau ini di angkat sebagai PNS di lingkungan pemerintah kabupaten Merauke, dan di tugaskan Distrik Bupul Kab. Merauke sebagai mantri, Setelah pensiun dari pemerintah beliau kembali ke kota Merauke pada tahun 2011.
Beliau ini di angkat sebagai PNS di lingkungan pemerintah kabupaten Merauke, dan di tugaskan Distrik Bupul Kab. Merauke sebagai mantri, Setelah pensiun dari pemerintah beliau kembali ke kota Merauke pada tahun 2011.
Selama di Merauke, beliau melayani di Jemaat GIDI Efesus Jati-Jati Merauke, sebagai majelis, dan penasehat pemuda, mantri serta tukang bangunan.
Di luar dari pelayanan di Gereja beliau juga sebagai penasehat Himpunan Mahasiswa Tolikara (HMT) di Merauke saat itu. Banyak nasehat dan pengalaman yang ia bagikan kepada Mahasiswa Tolikara di Merauke, bukan hanya dengan teori saja namun beliau juga ajarkan langsung kepada Mahasiswa, cara Bagun Rumah.
Di luar dari pelayanan di Gereja beliau juga sebagai penasehat Himpunan Mahasiswa Tolikara (HMT) di Merauke saat itu. Banyak nasehat dan pengalaman yang ia bagikan kepada Mahasiswa Tolikara di Merauke, bukan hanya dengan teori saja namun beliau juga ajarkan langsung kepada Mahasiswa, cara Bagun Rumah.
Atas berkat dorongan dari orang tua sehingga roda organisasi berjalan dengan baik dan lancar semua kepengurusan dalam organisasi tersebut. Baik dalam hal komunikasi antara, mahasiswa, pelajar, masyarakat dan Pemda Tolikara maupun Pemda Merauke. dan kegiatan fisik, memperingati hari-hari raya besar umat Kristen serta kegiatan non fisik.
Pada usia tua beliau bukan istirahat dari perjalanan dalam pelayanan cukup panjang itu namun kembali mencari jiwa ke ladang Tuhan.
Pada Tahun 2012, beliau mengambil keputusan untuk kembali melayani di rimba Korowai, tepatnya pos Danogawe dimana tempat tugas bapak Yowenus Wonda. Saat ini beliau dengan keluarganya masih melayani di Danowage bersama bapak Yowenus Wenda.
Ketika beliau ada di rimba korowai, putranya yang pertama telah di panggil Tuhan di kediamannya Kompleks pertanian Jati-Jati Merauke.
Almarhum telah meninggalkan istrinya dan ketiga putranya di Merauke.
Bapak/Ibu, saudara/i, terus mendukung beliau dalam Doa agar Tuhan berikan usianya yang panjang dan sehat dalam pelayanan di Rimba Korowai.
Penulisan cerita ini kurang lengkap dan jauh dari kesempurnaan perjalanan seorang bapak yang akrab di panggil bapak Mantri ini.
Pada Tahun 2012, beliau mengambil keputusan untuk kembali melayani di rimba Korowai, tepatnya pos Danogawe dimana tempat tugas bapak Yowenus Wonda. Saat ini beliau dengan keluarganya masih melayani di Danowage bersama bapak Yowenus Wenda.
Ketika beliau ada di rimba korowai, putranya yang pertama telah di panggil Tuhan di kediamannya Kompleks pertanian Jati-Jati Merauke.
Almarhum telah meninggalkan istrinya dan ketiga putranya di Merauke.
Bapak/Ibu, saudara/i, terus mendukung beliau dalam Doa agar Tuhan berikan usianya yang panjang dan sehat dalam pelayanan di Rimba Korowai.
Penulisan cerita ini kurang lengkap dan jauh dari kesempurnaan perjalanan seorang bapak yang akrab di panggil bapak Mantri ini.

0 comments:
Posting Komentar