Sejarah seringkali tertulis dalam darah dan air mata mereka yang berada di garis depan pengabdian. Di balik keindahan bentang alam Karubaga, Kabupaten Jayawijaya (kini bagian dari Kabupaten Tolikara), tersimpan memori kelam tentang penindasan, stigma, dan keteguhan seorang pemimpin masyarakat. Ini adalah kisah Kasim Tudoho, seorang pria kelahiran Fak-Fak yang mendedikasikan hidupnya sebagai Kepala Kampung Longoboma demi melindungi rakyatnya dari badai kekerasan militer di era Orde Baru.
Dedikasi di Tengah Pusaran Konflik
Pada tahun 1980, Kasim Tuduho dipercaya untuk menjabat sebagai Kepala Kampung Longoboma, Distrik Karubaga. Dengan semangat kemandirian, ia membangun kantor desa menggunakan dana pribadi dan sumbangan swadaya masyarakat. Di bawah kepemimpinannya, birokrasi kampung dijalankan secara disiplin; setiap staf memiliki ruang kerja dan diwajibkan mengikuti apel pagi guna memastikan pelayanan publik berjalan optimal.
Kasim tidak hanya membangun infrastruktur, tetapi juga membina ekonomi rakyat melalui tiga pilar pemberdayaan: perkebunan, perikanan, dan peternakan. Selama satu dekade, program-program ini membawa angin segar bagi kemajuan masyarakat lokal. Namun, keberhasilan ini justru memicu kecemburuan. Fitnah mulai beredar, menyebut Kasim sebagai bagian dari "gerombolan" (istilah Orde Baru untuk kelompok separatis), sebuah tuduhan yang nyaris merenggut nyawanya.
Konfrontasi dengan Kekuasaan: Menghadap Bupati Brigadir Jenderal TNI (Purn.) Jos Buce Wenas.
Akibat laporan palsu tersebut, Kasim dipanggil oleh Bupati Jayawijaya saat itu, Brigadir Jenderal TNI (Purn.) Jos Buce Wenas. Ia menempuh perjalanan jauh dengan berjalan kaki dari Karubaga menuju Wamena. Setibanya di sana, Kasim menghadapi ujian mental yang berat. Di ruang kerja bupati, ia diperintahkan berdiri dengan satu kaki selama satu jam sebagai bentuk hukuman sebelum diizinkan duduk.
Dengan tenang dan berani, Kasim menyerahkan laporan kerjanya. "Bapak jangan hanya bertanya kepada saya, tetapi lihatlah hasil kerja saya dalam membina masyarakat," tegasnya. Keberanian dan bukti nyata kinerjanya melunakkan hati Bupati Wenas, yang akhirnya menerima laporan tersebut dan mendorongnya untuk terus mengembangkan program pemberdayaan.
Teror Orde Baru di Longoboma
Era 1970 hingga 1980-an merupakan masa-masa gelap bagi warga Longoboma. Di bawah rezim militeristik, kesalahan kecil bisa berujung pada eksekusi atau mutilasi. Longoboma menjadi target operasi militer Koramil Karubaga selama bertahun-tahun. Catatan kelam menunjukkan bahwa kekerasan tidak hanya menyasar nyawa dan harta benda, tetapi juga menyisakan trauma mendalam bagi perempuan dan anak di bawah umur yang menjadi korban kekerasan seksual aparat.
Puncak ketegangan terjadi ketika Wakil Danramil Karubaga melaporkan ke Kodim 752 Wamena bahwa Longoboma adalah tempat latihan gerombolan. Hal ini memicu mobilisasi Pasukan 733 dari Ambon untuk melakukan operasi besar-besaran. Tanpa akses jalan darat yang memadai saat itu, pasukan berjalan kaki dari Wamena, sementara komandannya, Letnan Jhon, tiba menggunakan helikopter dan menyamar sebagai dokter di Puskesmas Karubaga untuk mengumpulkan informasi intelijen.
Diplomasi di Meja Makan
Menyadari ancaman besar yang mengintai desanya, Kasim Tuduho mengambil langkah diplomatis yang berisiko. Ia mengundang Danramil dan Letnan Jhon untuk makan malam di rumahnya di Ampera. Dalam percakapan yang krusial itu, Letnan Jhon secara terbuka menanyakan tentang keberadaan markas gerombolan.
Kasim menjawab dengan tegas, "Tidak ada, Pak. Saya kepala kampung di sana dan saya tidak tahu-menahu soal gerombolan. Jika Bapak punya bukti, silakan datang sendiri dan berinteraksi langsung dengan rakyat saya."
Berkat koordinasi yang cerdik bersama Kapolsek Karubaga saat itu, Bapak Kamorang Karema, Kasim berhasil meyakinkan pihak militer untuk tidak melakukan operasi kekerasan, melainkan hanya kunjungan langsung untuk memverifikasi keadaan.
Membela Rakyat di Garis Depan
Kebenaran akhirnya terungkap saat kunjungan lapangan berlangsung. Ketika beberapa aparat mencoba memprovokasi dengan menembak ternak warga (babi) dengan alasan "mencungkil tanah", Kasim menunjukkan dengan mata kepala sendiri bahwa ketakutan warga berasal dari perilaku aparat, bukan dari keberadaan gerombolan. Malu atas tindakannya yang terbukti salah sasaran, Wakil Danramil akhirnya ditarik dan diadili di Wamena.
Di masa-masa sulit, Kasim Tuduho bersama Pdt. Linge Nugur Wenda menyisir hutan-hutan dan gua-gua untuk menjemput masyarakat yang mengungsi karena ketakutan. Ia memberikan jaminan keamanan dengan taruhan nyawanya sendiri. "TNI dan Polri harus membunuh saya terlebih dahulu sebelum mereka bisa menyentuh kalian," ucapnya kepada warga yang ketakutan.
Penutup: Warisan Keberanian
Perjuangan Kasim Tuduho tidak terbatas di Longoboma, tetapi juga mencakup wilayah Konda, Anawi, Guburini, dan sekitarnya. Didukung oleh sosok-sosok seperti Kamorang Karema, Labetubun, dan Luaran Muri, Kasim membuktikan bahwa kepemimpinan sejati adalah tentang melindungi yang tertindas.
Catatan ini ditulis agar sejarah tidak melupakan pengorbanan rakyat kecil dan keberanian seorang pemimpin yang teguh berdiri di atas kebenaran, bahkan di bawah bayang-bayang senjata.
Kisah ini disusun berdasarkan penuturan langsung mantan Kepala Kampung Longoboma Bapak Kasim Tuduho, yang menyaksikan dan merasakan langsung penindasan di tanah Papua.
Oleh : Jazwan W. Yanengga
Penulis

0 comments:
Posting Komentar