Sabtu, 04 Juli 2026

Duka di Langit Papua: Surat Terbuka Pilot Misionaris Menggugah Nurani Setelah Rekannya Dilaporkan Tewas di Yahukimo

 

Yahukimo, Papua | Awal Juli 2026 – Duka kembali menyelimuti pelayanan penerbangan kemanusiaan di Tanah Papua. Seorang pilot misionaris yang melayani wilayah pedalaman dilaporkan meninggal dunia dalam sebuah insiden di Kabupaten Yahukimo. Peristiwa tersebut memicu keprihatinan luas, terutama setelah beredar sebuah surat terbuka yang ditulis oleh rekan sesama pilot misionaris.

Surat yang ditandatangani dengan inisial HLF itu bukan sekadar ungkapan belasungkawa, melainkan jeritan hati seorang pelayan kemanusiaan yang telah bertahun-tahun mengabdikan diri melayani masyarakat di pelosok Papua.

Dalam suratnya, HLF menggambarkan bahwa setiap penerbangan ke pedalaman bukan sekadar pekerjaan, tetapi sebuah panggilan kemanusiaan. Menurutnya, pesawat-pesawat kecil yang setiap hari melintasi pegunungan Papua membawa obat-obatan, bahan makanan, guru, tenaga kesehatan, logistik, serta harapan bagi masyarakat yang sulit dijangkau melalui jalur darat.

"Kami datang bukan membawa senjata. Kami datang bukan membawa kebencian. Kami datang membawa kehidupan," tulisnya.

HLF mengungkapkan bahwa para Bush Pilot setiap hari menghadapi tantangan cuaca ekstrem, medan yang sulit, serta risiko penerbangan yang tinggi. Namun, menurutnya, tantangan terbesar justru ketika penerbangan kemanusiaan menjadi korban konflik.

Dalam surat tersebut, ia mempertanyakan mengapa mereka yang datang untuk melayani harus kehilangan nyawa. Ia menegaskan bahwa para pilot bukan bagian dari konflik dan hanya ingin menjalankan tugas kemanusiaan dengan aman demi membantu masyarakat pedalaman.

Surat itu juga mengingatkan bahwa ketika sebuah pesawat tidak dapat terbang, dampaknya dirasakan oleh banyak orang. Bayi kehilangan akses terhadap obat-obatan, ibu hamil kehilangan kesempatan memperoleh pelayanan kesehatan, anak-anak kehilangan guru, dan kampung-kampung terpencil kehilangan jalur distribusi kebutuhan pokok.

Di bagian akhir suratnya, HLF mengajak seluruh pihak untuk melindungi penerbangan kemanusiaan agar tetap dapat menjalankan misinya. Ia berharap pesawat-pesawat yang melayani Papua tidak lagi menjadi sasaran kekerasan.

"Kami hanya ingin melayani. Kami hanya ingin pulang. Kami percaya setiap nyawa adalah anugerah Tuhan yang harus dihormati," tulisnya.

Surat tersebut ditutup dengan doa agar damai hadir di seluruh Tanah Papua. HLF berharap suatu hari nanti setiap suara pesawat yang terdengar di langit Papua hanya membawa kabar baik, harapan, dan kehidupan, bukan lagi air mata maupun kehilangan.

Peristiwa ini kembali mengingatkan pentingnya perlindungan terhadap seluruh tenaga kemanusiaan yang bertugas di wilayah konflik. Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi masyarakat pedalaman Papua, keselamatan para pelayan kemanusiaan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari upaya menjaga keberlangsungan pelayanan bagi mereka yang paling membutuhkan.

"Tidak ada kemenangan yang lebih indah daripada ketika manusia saling mengasihi. Dan tidak ada penerbangan yang lebih membahagiakan daripada penerbangan yang membawa harapan, lalu kembali pulang dengan selamat."

Jumat, 19 Juni 2026

MATINYA ROH PENDIDIKAN DI KABUPATEN LANNY JAYA

Foto Istimewa : Gembala Dr.A.G. Socratez Yoman


"Anak-anak masuk SMP tapi karena tidak tahu membaca dan menulis, anak-anak malu dan pulang ke kampung."

Oleh : Gembala Dr.A.G. Socratez Yoman

Para pembaca setia artikel saya yang mulia dan terhormat. Artikel ini saya sudah bagi pada 15 Juni 2026 dengan judul: "MENJADI GURU PROFESIONAL DAN BERTANGGUNGJAWAB". 

TETAPI, saya mengubah judul tapi isinya tetap sama. Tujuan utama ialah saya mau sampaikan persoalan pendidikan di kabupaten Lanny Jaya. Sebelumnya, saya apresiasi dan menghormati para penyelenggara pendidikan di Lanny Jaya yang sudah, sedang dan akan bekerja untuk kemajuan pendidikan di kabupaten Lanny Jaya. 

***
Saya menemukan masalah serius tentang pendidikan di Lanny Jaya. 

Saya sampaikan hanya salah satu contoh:

Pada 12-13 Juni 2026, saya berada di Wamena. Pada 13 Juni,  salah satu Ketua dan pengurus wilayah Baptis pertemuan dengan saya dan dia sampaikan:  

"Di wilayah pelayanan kami gedung sekolah  sudah tumbuh rumput dan guru-guru tidak pernah ada di tempat. Anak-anak tidak pernah belajar. Guru-guru datang pada saat ujian. Anak-anak diluluskan semua tanpa pengetahuan membaca dan menulis".

Saya sampaikan kepada guru-guru:

"Kamu datang hanya memberikan ujian saja begini, apa yang anak-anak jawab pertanyaan soal-soal ujian? Saudara-saudara, ini tidak benar. Anda ini sedang hancurkan masa depan anak-anak, gereja dan bangsa."

Ketua wilayah ini melanjutkan:  

"Anak-anak masuk SMP tapi karena tidak tahu membaca dan menulis, anak-anak malu dan pulang ke kampung."

Kisah sedih ini terjadi di wilayah Baptis Yugwa, distrik Danime, Kabupaten Lanny Jaya. Dan saya percaya semua wilayah mengalami masalah yang sama. 

***
Para guru dan pejabat yang menyelenggarkan pendidikan di kabupaten Lanny Jaya, tulisan ini menjadi alat koreksi untuk dievaluasi pelaksanaa pendidikan di Lanny Jaya yang lebih baik. 

"Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya" ( Amsal 27:17).  

"Sebatang lilin tidak kehilangan apa-apa, ketika lilin yang menyala itu menyalakan lilin lain" (Thomas Jefferson).

Tuhan Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "

"Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan. Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamupun wajib saling membasuh kakimu; sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu" (Yohanes 13:13-15)

***
Para guru profesional perlu  menyadari syarat terpenting dan utama bagi seorang guru ialah kepribadiannya sendiri. Sebuah teladan dan perbuatan seseorang lebih berharga serta berpengaruh daripada nasihat dan perkataan. Kebenaran yang diwujudkan adalah satu-satunya kebenaran yang berpengaruh, dan kehidupan seorang guru menjiwai pengajarannya. 

Karakter guru meliputi: guru memberikan teladan, guru yang kreatif, guru pemberi ilham, guru yang mengoreksi, guru meneguhkan, guru berdoa, guru rela berkorban dan guru yang belajar dan mengajar.

Pengertian "Rabi" dan "Didaskalos". 

 Istilah "rabi" dalam bahasa Ibrani berarti orang yang mulia, yang menduduki jabatan terhormat.  Sedangkan istilah "didaskalos" dalam bahasa Yunani artinya orang yang memiliki kuasa mulia sebagai pengajar yang didengarkan oleh orang banyak. Jadi, profesi guru adalah orang-orang yang mulia, terhormat dan terpandang.

***
Tugas seorang guru dilihat dalam dua pespektif, yaitu, pertama,  guru sebagai tugas profesi. Tugas profesional guru adalah mengajar,  mendidik murid,  pelajar, siswa dan mahasiswa dalam mempertanggungjawabkan keilmuannya. Dalam tugas profesionalisme ini guru mendapatkan upah dalam bentuk gaji dan tunjangan lainnya. Artinya, guru melaksanakan kewajiban dan tanggungjawab, maka guru berhak untuk mendapat bayaran atau gajinya.

Kedua, tugas panggilan. Para guru dan dosen jarang menyadari tentang tugas panggilan. Guru dan dosen dipanggil dan diutus Tuhan Yesus untuk menjadi saksi bagi Kristus melalui teladan hidupnya di sekolah dan kampus. 

Guru dan dosen menjadi terang dunia dan garam dunia dalam sekolah dan kampus. Guru dan dosen menghadirkan Kerajaan Allah di sekolah dan kampus. "..datanglah Kerajaan-Mu dan jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga" (Matius 6:10). 

Guru dan dosen menjadi seperti bintang-bintang di sekolah dan kampus. "Lakukanlah segala sesuatu (mengajarlah) dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantahan, supaya kamu tiada beraib dan tiada bernoda, sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat ini, sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia" (Filipi 2:14-15).

***
Akhir kata, saya selalu mengingat  nama-nama dan selalu ada di hati saya, yakni bapak-bapak guru yang menyalakan cahaya lilin dalam hidup saya di Sekolah Dasar di SD Negeri Tiom (kini: Lanny Jaya), yakni,  Suyanto, Natsun Manowarun, Penias Tawaru, Yan Karel Maniba, Saul Rumsumbre, Enos Sawamenay, Yosias Pakage dan masih banyak lainnya.

Doa dan harapan saya bahwa tulisan kecil ini menjadi berkat dan cahaya lilin kecil. Tuhan Yesus memberkati.

Ita Wakhu Purom, 18 Juni 2026
Kontak: 08124888458

Kamis, 04 Juni 2026

Tolikara Gaungkan Kesadaran Lingkungan Lewat Nobar Film “Pesta Baby"

Foto Istimewa

Gereja dan dan sejumlah OKP Tolikara menyelengarakan Nonton bareng Film Pesta Baby yang disutradarai oleh Dendy Laksono dan kawan-kawan di Ujung Gambar Udara Karubaga, 03/06/2026.

Kegiatan pemutaran film bersama (nonton bareng/Nobar) bertajuk “Pesta Baby” menjadi ruang edukasi publik di Kabupaten Tolikara untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga lingkungan hidup serta membangun masa depan generasi muda yang lebih baik. 

Mengusung tema “Lindungi Alam, Kita Ciptakan Masa Depan”, kegiatan ini tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga menjadi media refleksi sosial bagi masyarakat, khususnya generasi muda di wilayah tersebut.

Dalam sambutannya, Ketua Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Tolikara,  Yalimer Kogoya, S. Pd, menegaskan bahwa pelestarian alam merupakan tanggung jawab bersama seluruh masyarakat Kabupaten Tolikara. 

Ia menyampaikan bahwa kekayaan alam, lingkungan hidup, serta tanah leluhur yang diwariskan para pendahulu harus dijaga dan dilestarikan demi keberlanjutan hidup generasi mendatang.

“Lembah Tolikara memiliki potensi alam yang sangat luar biasa. Karena itu, masyarakat harus memiliki kesadaran untuk melindungi hutan, sungai, dan seluruh sumber daya alam yang menjadi bagian dari identitas kehidupan kita,” ujarnya.

Menurutnya, alam yang terjaga dengan baik akan memberikan dampak positif bagi pembangunan daerah serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat di masa depan. 

Selain isu lingkungan, ia juga menyoroti tantangan sosial yang dihadapi generasi muda saat ini, terutama pengaruh minuman beralkohol, pergaulan bebas, serta perilaku yang dapat merusak masa depan anak-anak muda.

“Kita harus bersama-sama membimbing generasi muda agar memiliki cita-cita, pendidikan yang baik, serta karakter yang kuat. Masa depan Tolikara berada di tangan mereka,” tegasnya.

Kegiatan Nobar “Pesta Baby” ini juga menjadi pengingat bahwa pembangunan daerah tidak hanya bertumpu pada infrastruktur fisik, tetapi juga pada penguatan sumber daya manusia. Pembentukan generasi unggul dinilai harus dimulai sejak usia dini melalui pendidikan, pembinaan karakter, serta lingkungan sosial yang sehat dan aman.

Melalui pendekatan tersebut, masyarakat diharapkan mampu membangun kesadaran kolektif untuk melindungi alam sekaligus mempersiapkan generasi emas Tolikara di masa depan.

“Menjaga alam berarti menjaga kehidupan. Cintai tanah leluhur, lindungi lingkungan, dan siapkan masa depan yang lebih cerah bagi anak-anak Tolikara,” demikian pesan penutup dalam kegiatan tersebut.

Kamis, 16 April 2026

KETIKA KOMPAS HUKUM TAK LAGI MENJADI PETUNJUK ARAH


Foto Ilustrasi


Pendahuluan: Hukum sebagai Kompas Negara

Dalam kerangka negara hukum, setiap tindakan penyelenggara pemerintahan semestinya berpijak pada satu orientasi yang pasti, yakni tunduk pada konstitusi dan peraturan perundang-undangan. Hukum bukan sekadar perangkat normatif yang bersifat simbolik, melainkan kompas yang menentukan arah kebijakan, membimbing perilaku pejabat publik, serta menjaga keseimbangan relasi kekuasaan antar lembaga negara. Ketika kompas ini diabaikan, maka penyelenggaraan pemerintahan tidak hanya kehilangan arah secara administratif, tetapi juga mengalami kemunduran secara etis dan politik.

Fenomena yang tengah berlangsung di Papua Pegunungan memperlihatkan gejala yang patut menjadi perhatian serius. Ketika seorang kepala daerah secara terbuka menolak putusan Mahkamah Agung, mengabaikan instruksi gubernur sebagai representasi pemerintah pusat, serta menghambat pelantikan anggota DPRK jalur Otonomi Khusus (Otsus), maka persoalan tersebut tidak lagi dapat dipahami sebagai sekadar perbedaan tafsir kewenangan. Yang muncul adalah krisis kepatuhan terhadap hukum yang berpotensi menggerus fondasi sistem pemerintahan itu sendiri.


Pembangkangan terhadap Putusan Hukum: Dari Legalitas ke Kehendak Kekuasaan

Dualisme Surat Keputusan (SK) kepala desa sesungguhnya bukan fenomena baru dalam dinamika pemerintahan daerah. Namun, ketika sengketa tersebut telah memperoleh kepastian hukum melalui putusan Mahkamah Agung sebagai lembaga peradilan tertinggi, maka seluruh ruang perdebatan seharusnya berakhir. Dalam teori negara hukum (*rechtstaat*), putusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap bersifat final, mengikat, dan wajib dilaksanakan oleh setiap pejabat negara tanpa pengecualian.

Penolakan terhadap putusan tersebut menunjukkan adanya pergeseran mendasar dari prinsip *_rule of law_ * menuju *rule of man*, yakni kondisi di mana hukum tidak lagi menjadi panglima, melainkan tunduk pada kehendak individu yang berkuasa. Dalam perspektif hukum administrasi negara, tindakan demikian dapat dipahami sebagai pelanggaran terhadap asas legalitas, penyalahgunaan wewenang (*detournement de pouvoir*), serta pengabaian kewajiban konstitusional. Lebih dari itu, pembangkangan semacam ini menciptakan preseden berbahaya, yakni terbukanya ruang bagi negosiasi politik terhadap putusan hukum yang seharusnya bersifat final dan tidak dapat ditawar.


Distorsi Politik dalam Proses Seleksi DPRK Otsus

Permasalahan tidak berhenti pada aspek hukum semata, tetapi juga merambah ke ranah politik representasi. DPRK jalur Otsus secara normatif dirancang sebagai instrumen afirmasi untuk memastikan keterwakilan Orang Asli Papua (OAP) dalam struktur kekuasaan legislatif daerah. Oleh karena itu, proses seleksi melalui Tim Seleksi (Timsel) semestinya dilaksanakan secara transparan, profesional, dan bebas dari intervensi kepentingan politik praktis.

Namun dalam praktiknya, muncul indikasi bahwa proses tersebut mengalami distorsi serius. Timsel yang seharusnya menjadi penjaga integritas justru diduga terjebak dalam praktik transaksional, sehingga menghasilkan kandidat yang lebih mencerminkan kepentingan politik tertentu, termasuk kedekatan dengan kekuasaan eksekutif daerah. Ketika proses seleksi kehilangan objektivitas, maka legitimasi hasilnya pun menjadi dipertanyakan.

Dalam konteks ini, langkah gubernur untuk menetapkan anggota DPRK berdasarkan usulan Timsel Kabupaten yang masuk dalam Lima besar, sesuai ketentuan dapat dipahami sebagai upaya korektif untuk mengembalikan proses pada rel hukum yang semestinya. Tindakan tersebut bukan bentuk intervensi politik, melainkan justru manifestasi dari tanggung jawab konstitusional dalam menjaga integritas kelembagaan. Penolakan terhadap keputusan ini dengan alasan subjektif “bukan versi tertentu” memperlihatkan adanya kecenderungan personalisasi kekuasaan yang bertentangan dengan prinsip-prinsip demokrasi. Kami juga sampaikan terimakasih kepada 3 kabupaten yang sudah melantik anggota DPRK 4 daerah yang sedang siapkan administrasi. Hanya satu kabupaten yaitu kabupaten Yahukimo yang menolak untuk melantik anggota DPRK dengan alasan yang tidak masuk akal. Karena Bapak Gubernur tidak menetapkan Calon DPRK yang tidak seleksi atau tidak ikut proses administrasi berdasarkan konstitusi yang berlaku justru sebaliknya. 


Penundaan Pelantikan DPRK: Penghambatan Fungsi Negara

Penolakan atau penundaan pelantikan anggota DPRK jalur Otsus merupakan persoalan yang memiliki implikasi serius terhadap keberlangsungan pemerintahan daerah. Pelantikan DPRK bukanlah domain privat kepala daerah, melainkan bagian integral dari agenda konstitusional negara yang berkaitan langsung dengan fungsi legislasi, pengawasan, serta representasi politik masyarakat.

Dalam teori pemerintahan, lembaga legislatif memiliki peran vital sebagai penyeimbang kekuasaan eksekutif. Oleh karena itu, setiap upaya untuk menghambat terbentuknya lembaga tersebut secara sah dapat dikategorikan sebagai bentuk penghambatan fungsi negara (*obstruction of governance*). Tindakan ini tidak hanya berdampak pada stagnasi proses legislasi, tetapi juga berpotensi melemahkan sistem checks and balances yang menjadi pilar utama dalam tata kelola pemerintahan demokratis.


Fenomena “Raja Kecil” dan Personalisasi Kekuasaan

Apa yang terjadi di Papua Pegunungan mencerminkan fenomena yang dalam literatur ilmu politik dikenal sebagai *local strongman* atau “raja kecil daerah”. Fenomena ini muncul ketika kepala daerah memusatkan kekuasaan secara berlebihan, mengabaikan mekanisme kontrol, serta menolak koreksi dari otoritas yang lebih tinggi.

Dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia, tidak terdapat ruang bagi kekuasaan absolut di tingkat lokal. Kepala daerah bukanlah pemegang kedaulatan, melainkan pelaksana mandat rakyat yang bekerja dalam kerangka sistem pemerintahan nasional yang terstruktur. Ketika seorang bupati bertindak seolah-olah sebagai otoritas tunggal yang tidak dapat dikoreksi, maka yang terjadi adalah distorsi terhadap prinsip dasar desentralisasi yang seharusnya berjalan dalam bingkai negara kesatuan.



Disfungsi Relasi Vertikal dalam Pemerintahan

Relasi antara bupati dan gubernur bukanlah relasi yang bersifat opsional, melainkan bagian dari desain institusional negara. Gubernur, dalam kapasitasnya sebagai wakil pemerintah pusat, memiliki fungsi pembinaan dan pengawasan terhadap pemerintah kabupaten/kota. Instruksi yang dikeluarkan gubernur dalam kerangka tersebut merupakan bagian dari mekanisme koordinasi vertikal yang wajib dipatuhi.

Pengabaian terhadap instruksi tersebut menimbulkan disfungsi dalam sistem pemerintahan, yang pada akhirnya dapat berujung pada fragmentasi kebijakan. Jika setiap daerah berjalan dengan versinya masing-masing, maka negara akan kehilangan kohesi dan kemampuan untuk menjalankan fungsi pemerintahan secara efektif.


Dampak Sistemik: Dari Krisis Elit ke Krisis Publik

Perilaku pembangkangan terhadap hukum dan struktur pemerintahan tidak hanya berdampak pada elit politik, tetapi juga merembet ke masyarakat luas. Ketidakjelasan arah kebijakan akan memicu krisis legitimasi, di mana masyarakat kehilangan kepercayaan terhadap institusi negara. Di sisi lain, DPRK yang terbentuk melalui proses yang tidak kredibel berpotensi kehilangan fungsi kontrolnya terhadap eksekutif.

Lebih jauh, fragmentasi elit politik dapat memicu konflik horizontal di tengah masyarakat, terutama ketika terjadi polarisasi antara kelompok yang mendukung masing-masing pihak. Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi menggagalkan tujuan utama Otonomi Khusus sebagai instrumen untuk memperkuat kesejahteraan dan keadilan bagi masyarakat Papua.


Negara dan Kewajiban Menegakkan Kewibawaan Hukum

Dalam situasi seperti ini, negara tidak boleh bersikap pasif. Penegakan hukum harus dilakukan secara konsisten dan tanpa kompromi terhadap kepentingan individu atau kelompok. Jika pembangkangan terhadap hukum dibiarkan, maka hal tersebut akan menjadi preseden yang berbahaya bagi daerah lain.

Kewibawaan negara tidak diukur dari kekuatan retorika, melainkan dari kemampuan untuk memastikan bahwa setiap aturan dijalankan secara konsisten. Negara tidak boleh tunduk pada ego kekuasaan, karena yang dipertaruhkan bukan hanya stabilitas politik jangka pendek, tetapi juga keutuhan sistem pemerintahan secara keseluruhan.


Penutup: Mengembalikan Arah yang Benar

Apa yang tengah terjadi bukan sekadar konflik antara kepala daerah dan gubernur, melainkan ujian nyata bagi komitmen kita terhadap prinsip negara hukum. Ketika hukum diabaikan, struktur pemerintahan dilemahkan, dan kepentingan pribadi ditempatkan di atas kepentingan publik, maka sesungguhnya kompas hukum telah ditinggalkan.

Mengembalikan arah pemerintahan berarti mengembalikan hukum sebagai panglima, menempatkan kekuasaan sebagai amanah, serta menegaskan bahwa negara adalah milik bersama yang tidak boleh dikuasai oleh kepentingan sempit. Tanpa itu semua, yang tersisa hanyalah kekuasaan yang rapuh kehilangan legitimasi, kehilangan arah, dan pada akhirnya kehilangan kepercayaan rakyat.


Oleh: Mari Mirin, SH
Sekretaris DPD Partai Golkar Provinsi Papua Pegunungan


Jumat, 03 April 2026

𝗣𝗘𝗡𝗚𝗢𝗥𝗕𝗔𝗡𝗔𝗡-𝗡𝗬𝗔 𝗦𝗘𝗠𝗣𝗨𝗥𝗡𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗞𝗨

Ilustrasi, Paku, Mahkota Duri dan Palu


Di atas kayu salib, Dia tergantung

Tubuh-Nya terluka, darah-Nya mengalir

Kasih-Nya tak terbatas, pengorbanan-Nya sempurna

Untuk menebus dosa, Dia rela mati


O, Tuhan Yesus, betapa besar kasih-Mu

Mengapa harus seperti ini, mengapa harus kau derita?

Tapi itu semua, karena kasih-Mu yang besar

Untuk menyelamatkan kami, dari dosa dan kematian


Di atas kayu salib, Dia menangis

"Eli, Eli, lama sabaktani?" (Ya Allah, Ya Allah, mengapa Engkau meninggalkan Aku?)

Tapi Dia tetap setia, sampai akhir

Menggenapi rencana, kasih Allah yang sempurna


O, Tuhan Yesus, kami puji-Mu

Karena kasih-Mu yang besar, kami diselamatkan

Kami akan mengikuti-Mu, sampai akhir

Dengan kasih dan iman, kami akan hidup untuk-Mu. 


𝙎𝙚𝙡𝙖𝙢𝙖𝙩 𝙈𝙚𝙢𝙥𝙚𝙧𝙞𝙣𝙜𝙖𝙩𝙞 𝙅𝙪𝙢𝙖𝙩 𝘼𝙜𝙪𝙣𝙜

Senin, 23 Maret 2026

Marthen Kogoya, S.H., M.AP.: Figur Birokrat Rendah Hati dan Penyejuk di Tengah Dinamika Politik.

 

Foto Istimewa

Dalam panggung pemerintahan di Tanah Papua, nama Marthen Kogoya, S.H., M.AP. muncul sebagai simbol kepemimpinan yang memadukan kecerdasan birokrasi dengan kedalaman spiritual. Berasal dari Kondaga, Kabupaten Tolikara, perjalanan karier beliau adalah bukti nyata bahwa integritas dan kerja keras mampu membawa putra daerah menuju puncak pengabdian yang lebih luas.

Akar Kedewasaan: Rendah Hati dan Takut Akan Tuhan.

Satu hal yang paling menonjol dari sosok Marthen Kogoya adalah karakternya yang tetap membumi. Di balik jabatan strategis yang pernah dan sedang diembannya, beliau dikenal sebagai pribadi yang rendah hati. Prinsip hidupnya yang berlandaskan rasa Takut Akan Tuhan menjadikannya sosok pemimpin yang bekerja bukan untuk pujian, melainkan sebagai bentuk ibadah dan tanggung jawab moral kepada masyarakat.

Rekam Jejak Birokrasi yang Mumpuni

Pengalaman beliau dalam dunia birokrasi tidak perlu diragukan lagi. Marthen Kogoya telah melewati berbagai penugasan penting yang membentuk ketajamannya dalam memimpin:

• Kepala BKD Provinsi Papua: Dedikasi beliau dalam menata manajemen aparatur sipil negara di tingkat provinsi menunjukkan kemampuannya dalam mengelola sistem pemerintahan yang kompleks.

• Kepala Baperida Provinsi Papua Pegunungan: Kini, beliau dipercaya menakhodai Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Baperida) di provinsi baru, sebuah posisi krusial yang menentukan arah pembangunan masa depan Papua Pegunungan.

Sang Penyejuk di Tolikara: Mengawal Demokrasi dengan Damai

Salah satu ujian terbesar kepemimpinan beliau adalah saat menjabat sebagai Penjabat (Pj) Bupati Tolikara. Sebagaimana diketahui, Tolikara sering kali menjadi daerah yang rawan konflik setiap kali pesta demokrasi digelar. Namun, di bawah kepemimpinan Marthen Kogoya, Pilkada dapat berlangsung dengan aman dan terkendali.

Beliau mampu merangkul berbagai lapisan masyarakat, tokoh adat, dan tokoh agama untuk menjaga stabilitas. Pendekatan persuasif dan ketegasannya dalam menjaga netralitas birokrasi terbukti efektif meredam potensi gesekan politik yang biasanya memanas.

Kesimpulan

Marthen Kogoya, S.H., M.Ap. adalah potret pemimpin masa kini yang dibutuhkan Papua. Beliau adalah kombinasi antara keahlian administratif, pengalaman lapangan, dan karakter yang kuat. Dari Kondaga untuk Papua, beliau terus melangkah dengan visi besar untuk membawa perubahan dan kedamaian bagi masyarakat.


Penulis

Yugwa Nen

Minggu, 22 Maret 2026

Ketua Wilayah Bogo Secara Resmi Membuka Rapat BPL Ke-XXIX Klasis Lembah Baliem, GIDI Fokus Perluas Penginjilan Dalam dan Luar Daerah


Pdt. Potias Pagawak, S. Th, Ketua Wilayah Bogo 

WAMENA, Sulhit.com – Di bawah langit Lembah Baliem yang teduh, Gereja Injili Di Indonesia (GIDI) kembali menegaskan komitmen pelayanannya melalui agenda strategis tahunan. Bertempat di GIDI Jemaat Agape Wamena, Minggu (22/03/2026).

Rapat Badan Pekerja Lengkap (BPL) Ke-XXIX tahun 2026 Klasis Lembah Baliem resmi dibuka. Sebuah momentum yang bukan sekadar seremonial, melainkan panggilan untuk "Kembali kepada Kristus" di tengah dinamika zaman.

Perhelatan besar ini dihadiri oleh tokoh-tokoh kunci, mulai dari pimpinan gereja hingga pejabat tinggi negara, termasuk Gubernur Papua Pegunungan, Dr. (HC) Jhon Tabo, M.BA, yang hadir melepas atribut kekuasaannya demi menempatkan diri sebagai anggota jemaat yang rendah hati.

Acara diawali dengan ibadah pembukaan yang khidmat, dipimpin langsung oleh Ketua Wilayah Bogo, Pdt. Potias Pagawak, S.Th. Dalam khotbahnya yang menggugah, Pdt. Pagawak membedah tema sentral: "Kembali Kepada Kristus", yang berlandaskan pada nas Alkitab Zakaria 1:3 dan Lukas 9:23.

"Mengikut Kristus berarti bersedia menyangkal diri dan memikul salib setiap hari. Rapat BPL ini bukan sekadar ajang evaluasi administratif, tetapi ruang untuk memastikan bahwa detak jantung pelayanan kita tetap selaras dengan kehendak Kristus," tegas Pdt. Pagawak di hadapan ratusan peserta BPL, Jemaat dari 24 jemaat dan Pos Penginjilan (PI) se-Klasis Lembah Baliem.

Sub-tema kegiatan kali ini menjadi kompas bagi para pimpinan: "Melalui BPL Ke-XXIX Seluruh Pimpinan Se-Klasis Lembah Baliem Mengevaluasi Kinerja Program Pelayanan Bersatu Hati serta Menjangkau Jiwa-Jiwa Bagi Kristus." Fokus utama periode ini adalah penguatan internal sebuah konsep "Memperbaiki Yerusalem" sebelum melangkah lebih jauh ke ujung bumi. Ujar Pdt. Potias Pagawak dalam khotbahnya.

Dalam sambutan pembukaannya, Pdt. Potias Pagawak menekankan visi sinergi pelayanan yang pragmatis namun visioner. Ia menggarisbawahi pentingnya penguatan basis pelayanan internal di Wilayah Bogo dan lebih Khusus Klasis Lembah Baliem sebelum melakukan ekspansi misi ke luar daerah.

Kita tidak bisa memimpikan pelayanan yang jauh jika di dalam rumah sendiri kita masih kekurangan. Strategi kita saat ini adalah memperbaiki 'Yerusalem' kita yaitu Wilayah Bogo dan khusus Klasis Lembah Baliem. Setelah internal kita kuat, barulah kita bergerak ke Mamberamo, Sumba, Kalimantan, dan daerah lainnya," jelasnya.

Menariknya, Pdt. Pagawak menyoroti kemandirian gereja yang lahir dari tradisi lokal. Beliau mengingatkan bahwa GIDI adalah gereja yang "Lahir dari Kesederhanaan". Gereja ini tidak lahir dari tumpukan modal besar. Kita lahir dari ketaatan di dalam Honai. Karena itu, sumber dana utama kita bukanlah investor, melainkan dari setiap anggota jemaat dan para kader.

Kekuatan logistik yang melibatkan hasil bumi, sayur-mayur, dan ternak dalam momentum BPL ini mengingatkan kepada kita bahwa orang tua kita dulu setelah menerima Injil mereka lakukan hal yang demikian, mereka lakukan dengan Iman tanpa mengharapkan bantuan dari siap-siap, ujar Pdt. Pagawak.

Secara pribadi dan atas nama seluruh Badan Pekerja Wilayah Bogo berikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Jemaat GIDI yang sedang membangun Gereja di beberapa tempat, dalam lingkungan Klasis Lembah Baliem ini, sebagai dukungan kami pengurus wilayah juga beberapa bulan yang lalu sudah membantu berupa materiil bagunan kepada Jemaat yang sedang membangun Gedung Gereja. 

Kita harus berani membuat masalah dalam arti positif: mulailah membangun meskipun dana terlihat kurang. Biarkan Tuhan yang melakukan bagian-Nya untuk mencukupkan, tambahnya sembari mengapresiasi bantuan material bangunan yang telah disalurkan ke berbagai jemaat yang sedang membangun Gedung Gereja.

Salah satu sorotan utama dalam laporan kepanitiaan adalah perjuangan luar biasa Jemaat Agape Wamena. Ketua Panitia, Ibu Ester Yahuli, S. Pd, menyampaikan laporan yang penuh haru. Jemaat Agape baru saja menguras energi bahkan dana untuk meresmikan gedung gereja baru pada Desember 2025 lalu. Namun, hanya dalam waktu dua bulan persiapan (Januari-Februari 2026), mereka sanggup menjadi tuan rumah BPL. Namun, kami melangkah dengan iman. Karena kami percaya bahwa Tuhan adalah sumber berkat," Sehingga Tuhan mengerahkan hati anak-anak Tuhan yaitu, para kader dan 24 Jemaat serta Pos PI yang ada di Klasis Lembah Baliem ini telah menyumbangkan bahan makanan, uang dan babi untuk mensukseskan kegiatan BPL ini, ungkap Ibu Ester dalam pembacaan laporan Panitia. 

Pada momentum ini dihadiri Gubernur Papua Pegunungan, Dr. (HC) Jhon Tabo, M.BA, memberikan warna tersendiri. Dalam sambutannya, tokoh karismatik ini menunjukkan sikap kenegaraan yang dewasa. Beliau menegaskan batasan antara jabatan politik dan identitas spiritual. Saya hadir di sini bukan untuk mengintervensi keputusan rapat, melainkan saya sebagai anggota jemaat dan sekaligus kader Gereja GIDI. ujar Jhon Tabo disambut tepuk tangan riuh. Sebagai bentuk nyata dukungan kader terhadap kegiatan BPL, Gubernur Jhon Tabo memberikan sumbangan pribadi berupa uang guna menopang kelancaran kegiatan BPL.

Sinergi ini diamini oleh Ketua Badan Pekerja Klasis (BPK) Lembah Baliem, Pdt. Minus Wanimbo, S.Th. Pemerintah dan Gereja adalah mitra strategis sehingga Kami berterima kasih kepada para kader GIDI khususnya Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan, dalam hal ini Bapak Gubernur yang telah mendukung rangkaian HUT GIDI Masuk di Klasis Lembah Baliem pada tanggal 28 November 2025 yang lalu, dan acara pembaptisan massal Januari 2026, sehingga kegiatan telah sukses dengan baik," tutur Pdt. Wanimbo.

Rapat BPL Ke-XXIX ini diharapkan menjadi momentum evaluasi kritis terhadap program-program yang telah berjalan. Di tengah tantangan modernitas di Lembah Baliem, pimpinan klasis dituntut untuk tetap relevan namun tidak kehilangan jati diri teologisnya.

Agenda rapat akan mencakup sinkronisasi program pelayanan terhadap anggota Jemaat, penginjilan, manajemen aset jemaat, hingga penguatan kapasitas pemuda sebagai kader masa depan GIDI. Dengan semangat persatuan yang ditunjukkan dalam pembukaan ini, Klasis Lembah Baliem optimis dapat menjangkau lebih banyak jiwa dan memperkokoh fondasi iman di tanah Papua dan daerah lainnya.

Kegiatan ini secara resmi dibuka dengan doa, menandai dimulainya persidangan yang akan menentukan arah pelayanan GIDI di Lembah Baliem untuk beberapa tahun ke depan.

Penyelenggaraan BPL Ke-XXIX ini membuktikan bahwa kekuatan Gereja GIDI terletak pada perpaduan antara spiritualitas yang mendalam dan kearifan lokal (Local Wisdom). Model pendanaan mandiri dan kemitraan tanpa intervensi dengan pemerintah bisa menjadi cetak biru (blueprint) bagi organisasi GIDI kedepan di Papua dalam mengelola pelayanan yang berkelanjutan. (*) 

Sabtu, 21 Maret 2026

Bangsa dan Gereja Yang Terluka

Gembala Dr. A.G. Socratez Yoman


Bangsa dan Gereja yang terluka dan hidup dalam kemiskinan karena kebodohan para pendeta, pemimpin gereja dan sekolah-sekolah teologi sepanjang sejarah.

Para pendeta dan pemimpin gereja dan sekolah-sekolah teologi jangan terlalu sibuk bahas agama dan surga. Para pendeta dan pemimpin dan sekolah-sekolah teologi sejak dulu dari mimbar gereja memiskinkan dan melumpuhkan bahkan mematikan umat Tuhan dengan ayat-ayat Firman Tuhan.  

Memang fakta, kebanyakan pendeta dan pemimpin gereja dan sekolah-sekolah teologi hidup miskin dan hidup tergantung dan beeharap dengan hasil persembahan dan persepuluhan. 

Sesungguhnya dari mimbar para pendeta dan pemimpin gereja harus berkhotbah dan sekolah-sekolah teologi dua dimensi, yaitu dimensi rohani dan dimensi jasmani. Seperti Tuhan Yesus memberi makan 4000 sampai 5000 orang adalah dimensi jasmani. Dari mimbar harus melihat kebutuhan umat Tuhan secara utuh (holistik) bukan miring sebelah. 

Mengapa mayoritas kebanyakan anggota jemaat dan pendeta dan pemimpin gereja hidup miskin? Karena para pendeta dan anggota jemaat selalu sibuk urus surga atau agama.  

Menurut saya bahwa para pendeta dan pemimpin gereja yang sibuk berbicara surga adalah pendeta dan pemimpin gereja yang tidak mengerti tentang surga dan mereka sedang menyesatkan anggota jemaat. 

"Datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehebdak-Mu di bumi seperti di sorga". (Matius 6:10).

Jumat, 20 Maret 2026

Dukungan BPL Ke-XXIX, Jemaat GIDI Se-Klasis Lembah Baliem Banjiri Panitia dengan Bahan Makanan, Ternak Serta Dana

Jemaat Sedang Membawa Sumbangan Babi dan Sayuran (Dok Panitia) 

WAMENA Sulhit.com – Menjelang pembukaan Rapat Badan Pekerja Lengkap (BPL) Ke-XXIX Klasis Lembah Baliem, gelombang dukungan dari jemaat terus mengalir deras. Berdasarkan pantauan di lapangan pada Jumat (20/03/2026), puluhan jemaat dari berbagai wilayah di bawah naungan Gereja Injili di Indonesia (GIDI) mendatangi sekretariat panitia untuk menyerahkan sumbangan wajib maupun sukarela.

Dukungan yang diberikan tidak hanya berupa dana, tetapi juga bahan pangan lokal dalam jumlah besar. Hingga sore hari, panitia mencatat arus distribusi bantuan berupa ternak babi, sayur-sayuran, ubi, keladi, nenas, hingga buah merah terus berdatangan dari 24 jemaat yang tersebar di wilayah Klasis Lembah Baliem.

Selain jemaat tetap, sejumlah Pos Penginjilan yang berada di Kabupaten Jayawijaya dan Kabupaten Nduga turut ambil bagian dalam memberikan dukungan nyata demi menyukseskan agenda besar organisasi gereja tersebut.

Sumbangan Jemaat Ubi dan Sayuran

Ketua Panitia menyampaikan apresiasi yang mendalam atas antusiasme luar biasa dari seluruh warga jemaat. Sebagai tuan rumah, Jemaat Agape Wamena dengan sigap menyambut setiap rombongan yang datang membawa berkat.

Kami menyampaikan terima kasih yang tulus kepada seluruh jemaat GIDI di Klasis Lembah Baliem. Segala bentuk sumbangan, mulai dari uang hingga hasil bumi seperti babi, sayur-sayuran, buah merah, jagung, dan keladi, merupakan wujud kepedulian jemaat terhadap kelancaran acara ini, ujar pihak Panitia di Wamena.

Rapat BPL Ke-29 ini dijadwalkan berlangsung selama empat hari, yakni mulai Minggu hingga Rabu, 22-25 Maret 2026, berpusat di Jemaat Agape Wamena. Panitia menegaskan bahwa pintu dukungan masih terbuka lebar bagi individu, kelompok, maupun keluarga yang ingin berpartisipasi hingga kegiatan berakhir.

Dukungan "Doa, Daya, dan Dana" dari seluruh lapisan jemaat ini diharapkan menjadi fondasi kuat bagi suksesnya pengambilan keputusan-keputusan penting dalam rapat BPL mendatang demi kemajuan pelayanan GIDI di tanah Papua dan Internasional. (*) 

Rabu, 18 Maret 2026

Dukung BPL Klasis Lembah Balim Ke- XXIX, Kadinsos Papua Pegunungan Salurkan Bantuan di Jemaat Agape

 

Penyerahan Sumbangan Kepada Panitia dan Pengurus Klasis Lembah Balim Wamena. (Dok.Panitia) 

WAMENA, Sulhit.com.Panitia BPL Klasis Lembah Balim Wamena Ke XXIX Tahun 2026, menerima bantuan berupa dana stimulan dan paket sembako dari Kepala Dinas Sosial Provinsi Papua Pegunungan, Yanius Telenggen, SH., M.AP. Penyerahan bantuan tersebut berlangsung di Sekretariat Panitia, kompleks Gereja GIDI Jemaat Agape Wamena, Rabu (18/03/2026).

​Bantuan ini merupakan bentuk kepedulian nyata dari kader GIDI untuk menyukseskan perhelatan akbar BPL Klasis Lembah Balim yang dijadwalkan berlangsung pada 22 hingga 28 Maret 2026 mendatang.

​Dalam arahannya, Yanius Telenggen menyampaikan bahwa bantuan yang diberikan saat ini merupakan dukungan awal. Ia menekankan pentingnya sikap tulus dan sukacita dalam mendukung pekerjaan pelayanan Tuhan.

​"Apa yang Tuhan percayakan dalam hidup kita, sudah sepatutnya kita kembalikan kepada Sang Pemilik melalui ucapan syukur. Untuk menunjang pelayanan Tuhan, kita tidak boleh berhitung, tetapi harus memberi dengan sukacita," ujar Telenggen di hadapan panitia.


​Ia juga menambahkan bahwa seiring berjalannya kegiatan, pihaknya akan terus memantau kebutuhan panitia. Beliau meyakini bahwa berkat Tuhan akan terus mengalir bagi kelancaran konferensi tersebut.

​Menanggapi hal tersebut, Wakil Ketua Klasis Lembah Balim Wamena, Pdt. Yotinus Kobak, S.Th., yang mewakili pengurus klasis dan panitia, menyampaikan apresiasi yang mendalam atas kunjungan dan bantuan tersebut.

​"Kami menyampaikan terima kasih yang tulus kepada Bapak Yanius Telenggen atas bantuan uang dan sembako ini. Dukungan ini sangat berarti bagi kelancaran pelayanan selama BPL berlangsung. Doa kami, kiranya Tuhan senantiasa memberkati Bapak dalam menjalankan tugas pengabdian kepada masyarakat di Provinsi Papua Pegunungan," pungkas Pdt. Kobak.

​Prosesi penyerahan bantuan berlangsung khidmat dan diakhiri dengan diskusi ringan mengenai persiapan teknis menjelang pembukaan konferensi pekan depan.*

Minggu, 08 Maret 2026

Karakter Dibentuk Dari Disiplin dan Konsisten



Banyak orang ingin terlihat berkarakter kuat, tapi enggan menjalani proses yang membentuknya. Mereka mengira karakter lahir dari bakat, latar belakang, atau pencitraan yang rapi. Padahal, karakter tidak dibentuk saat segalanya mudah, melainkan saat kamu lelah, bosan, dan tetap memilih melakukan hal yang benar. Di situlah disiplin dan konsistensi bekerja—diam-diam, tanpa tepuk tangan.

Karakter sejati bukan hasil dari satu keputusan besar, melainkan akumulasi dari pilihan kecil yang diulang setiap hari. Apa yang kamu lakukan saat tidak ada yang menilai, itulah cerminan karaktermu. Jika kamu ingin hidupmu naik kelas—secara finansial, moral, maupun profesional—maka fondasinya bukan motivasi sesaat, tapi disiplin yang dijalankan secara konsisten.


1. Disiplin Membentuk Struktur dalam Hidupmu

Disiplin adalah kemampuan mematuhi standar yang kamu tetapkan sendiri, bahkan saat kamu tidak sedang bersemangat. Ia menciptakan struktur dalam hidupmu—kapan bekerja, kapan belajar, kapan menahan diri. Tanpa struktur ini, hidup mudah dikendalikan emosi dan situasi, bukan nilai.

Orang yang berdisiplin tidak menunggu mood datang untuk bertindak. Ia bergerak karena komitmen, bukan perasaan. Dari sinilah karakter terbentuk: kamu menjadi pribadi yang bisa diandalkan, bukan hanya saat kondisi ideal, tapi juga saat keadaan menekan.


2. Konsistensi Menentukan Siapa Dirimu Sebenarnya

Konsistensi adalah bukti nyata dari karakter. Banyak orang bisa melakukan hal baik sekali-dua kali, tapi hanya sedikit yang mampu melakukannya terus-menerus. Konsistensi menunjukkan bahwa nilai yang kamu pegang bukan sekadar slogan, tapi prinsip hidup.

Dunia menilai karakter bukan dari janji, tapi dari pola. Jika ucapanmu sejalan dengan tindakanmu dalam jangka panjang, kepercayaan akan tumbuh dengan sendirinya. Tanpa konsistensi, disiplin kehilangan makna, dan karaktermu akan terlihat rapuh saat diuji.


3. Disiplin Mengalahkan Alasan, Konsistensi Mengalahkan Waktu

Alasan selalu terdengar masuk akal bagi orang yang tidak berdisiplin. Terlalu capek, terlalu sibuk, belum siap—semuanya valid, tapi tidak membawa perubahan. Disiplin melatihmu untuk tetap melangkah meski alasan itu ada, bukan menunggu alasan itu hilang.

Sementara itu, konsistensi mengalahkan waktu. Hasil besar jarang datang dari usaha ekstrem sesaat, tapi dari langkah kecil yang terus diulang. Karakter yang kuat lahir dari proses panjang ini, bukan dari lonjakan singkat yang cepat menghilang.


4. Karakter Teruji Saat Tidak Ada yang Mengawasi

Saat tidak ada yang melihat, di situlah kualitas aslimu muncul. Apakah kamu tetap melakukan yang benar? Apakah kamu tetap menepati standar? Disiplin dan konsistensi membuatmu tetap utuh, meski tanpa pengakuan atau tekanan eksternal.

Orang berkarakter tidak membutuhkan pengawasan ketat untuk bersikap benar. Ia diawasi oleh nilai yang sudah tertanam kuat dalam dirinya. Dan nilai itu terbentuk dari kebiasaan disiplin yang dijalani terus-menerus, bukan dari ceramah atau nasihat semata.


5. Disiplin dan Konsistensi Membangun Reputasi Jangka Panjang

Reputasi bukan dibangun dari satu pencapaian besar, tapi dari perilaku yang bisa diprediksi. Orang percaya padamu karena kamu konsisten. Mereka menghormati kamu karena kamu disiplin. Inilah modal sosial yang jauh lebih mahal daripada pencitraan.

Karakter seperti ini membuat hidupmu stabil dalam jangka panjang. Saat orang lain naik-turun karena emosi dan impuls, kamu melaju pelan tapi pasti. Dan justru dari kestabilan inilah kepercayaan, peluang, dan tanggung jawab yang lebih besar datang.

Karakter bukan hadiah, tapi hasil latihan. Ia dibentuk dari disiplin yang sering terasa berat dan konsistensi yang sering terasa membosankan. Namun justru di situlah nilainya—karena tidak semua orang sanggup menjalaninya.

Jika kamu ingin hidup yang kuat, dihormati, dan tahan diuji waktu, berhentilah mencari jalan instan. Mulailah dari disiplin hari ini, dan ulangi besok, lalu besok lagi. Karena pada akhirnya, siapa dirimu ditentukan bukan oleh niat baikmu, tapi oleh kebiasaan yang kamu pertahankan.

ILUSTRASI GAMBAR SEORANG NATALIUS PIGAI BISU SEMBOYAN JAKARTA.

 

Gambar : Ilustrasi AI

Ilustrasi ini dapat dibaca sebagai sebuah alegori visual yang menggambarkan ketegangan antara idealisme advokasi hak asasi manusia dan realitas institusional dalam struktur kekuasaan negara. Figur yang menyerupai Natalius Pigai ditempatkan dalam komposisi tubuh yang tidak utuh, dengan organ-organ vital—seperti jantung, paru-paru, dan sistem pencernaan—ditampilkan secara terbuka dan membentuk tubuh yang terfragmentasi.

Dalam perspektif simbolik, penggambaran organ internal yang terekspos dapat dimaknai sebagai representasi kerentanan moral dan politik yang sering kali melekat pada individu yang berpindah dari posisi aktivisme ke dalam struktur kekuasaan formal. Aktivis HAM pada dasarnya beroperasi dalam kerangka kritik terhadap negara, sedangkan ketika berada dalam institusi pemerintahan, posisi tersebut menuntut kompromi dengan realitas kebijakan, birokrasi, dan dinamika kekuasaan. Konsekuensinya, integritas normatif yang sebelumnya menjadi basis legitimasi moral dapat menghadapi tekanan struktural yang kompleks.

Latar hutan yang gelap dengan pencahayaan bulan memperkuat nuansa ambiguitas dan ketidakpastian. Dalam pembacaan semiotik, lanskap tersebut dapat ditafsirkan sebagai metafora ruang sosial-politik yang penuh ketegangan, terutama dalam konteks wilayah Papua yang selama beberapa dekade menjadi arena diskursus mengenai hak-hak masyarakat adat, keadilan distributif, serta relasi antara negara dan komunitas lokal.

Secara kritis, ilustrasi ini juga dapat dipahami sebagai refleksi terhadap paradoks institusionalisasi advokasi HAM. Ketika seorang aktivis memasuki ruang kekuasaan negara, terdapat potensi terjadinya transformasi peran: dari aktor kritis eksternal menjadi bagian dari mekanisme kebijakan yang sebelumnya menjadi objek kritik. Dalam literatur ilmu politik dan studi hak asasi manusia, fenomena ini sering dipahami sebagai bentuk “co-optation” atau integrasi ke dalam struktur kekuasaan, yang dapat menimbulkan dilema antara mempertahankan idealisme normatif dan menjalankan fungsi administratif negara.

Dengan demikian, karya visual ini tidak semata-mata berfungsi sebagai representasi personal terhadap seorang tokoh, melainkan juga sebagai kritik simbolik terhadap dinamika kekuasaan, kerentanan moral dalam politik, serta kompleksitas implementasi hak asasi manusia dalam konteks pemerintahan.

NATALIUS PIGAI BISU SEMBOYAN JAKARTA

Sabtu, 28 Februari 2026

Ibadah Pengukuhan, Doa Pelantikan, dan Syukuran Gembala Jemaat Efesua Mandura di Gereja Efesus Mandura

 

Foto : Doa Peneguhan / Pelantikan Gembala Jemaat Efesus Mandura

Mandura – Ibadah Pengukuhan dan Doa Pelantikan Gembala Jemaat Efesua Mandura berlangsung khidmat di Gereja Efesus Mandura, Dewan Konda, Klasis Konda, Wilayah Toli, pada Jumat (27/2/2026) pukul 11.45 WIT.

Pendeta Simon Yanengga secara resmi melantik dan mengukuhkan doa bagi Gembala Jemaat Efesua Mandura dalam suasana penuh sukacita dan rasa syukur. Acara ini dihadiri oleh pimpinan gereja, jemaat setempat, serta jemaat dari wilayah sekitar.

Ketua Klasis Konda, Pdt. Agus Kogoya, dalam sambutannya menyampaikan harapan agar Gereja Injili Di Indonesia (GIDI) terus berkembang hingga ke seluruh pelosok dunia, sembari tetap menjaga dan menghargai tempat lahirnya GIDI itu sendiri. Ia menekankan pentingnya persatuan dan komitmen bersama dalam membangun pelayanan yang kuat dan berkesinambungan.

Sementara itu, Pdt. Arius Kogoya menyampaikan bahwa kepemimpinan yang baru dilantik merupakan bagian dari proses suksesi dari generasi tua kepada generasi muda. Ia mengibaratkannya seperti kepemimpinan Musa yang mempersiapkan Yosua untuk menuntun umat Israel menuju Tanah Kanaan. Ia berharap Pdt. Simon Yanengga menjadi jembatan rohani yang membawa Jemaat Efesua Mandura kepada keselamatan melalui pembinaan rohani dan jasmani.

Dalam kesempatan tersebut, pimpinan dan rekan sekerja Gereja Efesus Mandura juga diingatkan untuk saling menopang dan mendukung selama masa kepemimpinan yang baru, agar pelayanan dapat berjalan dengan baik dan membawa berkat bagi jemaat.

Sebagai ungkapan syukur, jemaat Efesua Mandura bersama jemaat tetangga turut mengadakan ibadah syukuran yang dirangkaikan dengan acara bakar batu (barapen).

Panitia pelaksana, Misiluk Yanengga, menyampaikan bahwa dalam kegiatan tersebut disiapkan 5 ekor babi, 96 ekor ayam, 58 bungkus gula pasir ditambah 2 karung 50 kg, 6 bungkus kopi ditambah 4 karton, 6 bungkus daun teh, 7 karton air mineral, serta 11 karton minuman Panta dan Suprait.

Ibadah pengukuhan dan syukuran ini menjadi momentum penting bagi Jemaat Efesua Mandura untuk melangkah bersama dalam semangat persatuan, pelayanan, dan pertumbuhan iman di bawah kepemimpinan yang baru di Lantik tadi 

Ilustrasi foto: Suasana doa pengukuhan di Gereja Efesus Mandura, dipimpin Ketua Klasis Konda Pdt. Agus Kogoya bersama jajaran pelayan gereja.(ym)

Kamis, 26 Februari 2026

Mengenang Sang "Pastor Awam": Trilogi Buku Thom Beanal Resmi Diluncurkan di Jayapura.


Foto Istimewa : Markus Haluk, Penulis Buku

JAYAPURA, Sulhit. com – Semangat perjuangan dan keteladanan mendiang Thom Beanal kembali bergema di Tanah Papua. Bertepatan dengan peringatan 27 tahun pertemuan bersejarah Tim 100 dengan Presiden BJ Habibie, sebuah trilogi buku berjudul “Thom Beanal: Pastor Awam, Kepala Suku dan Bapak Bangsa Papua” resmi diluncurkan dan dibedah di Jayapura, Kamis (26/2/2026).

Acara yang berlangsung khidmat ini dihadiri oleh berbagai lapisan masyarakat, mulai dari tokoh adat, pimpinan gereja, akademisi, aktivis HAM, hingga generasi muda Papua. Kehadiran mereka menjadi bukti bahwa figur Thom Beanal tetap menjadi kompas moral dan politik bagi rakyat Papua meski ia telah tiada.

Trilogi buku ini mengabadikan perjalanan hidup Thom Beanal dalam lima dimensi utama: gereja, adat, politik, LSM, dan perjuangannya menghadapi korporasi global di Freeport. Markus Haluk, mewakili tim penulis, menegaskan bahwa karya ini adalah upaya melawan lupa.

"Buku ini adalah dokumentasi atas dedikasi almarhum yang tak kenal lelah. Kami juga menyerukan agar semangat perdamaian yang diusung Thom Beanal dihormati dengan penghentian pendekatan militerisme di tanah ini," ujar Markus saat menyerahkan buku secara simbolis kepada pihak keluarga.

Dalam sesi bedah buku, RD Yosep Ikikitaro menyoroti sisi spiritualitas Thom sebagai "Pastor Awam" (diakon permanen). Ia menyebut Thom sebagai model pemimpin yang membawa nilai spiritualitas "dari altar ke pasar"—menerjemahkan iman menjadi aksi nyata dalam memperjuangkan keadilan bagi sesama.

Sebagai tokoh adat, Thom Beanal dikenal melalui pendirian Lembaga Musyawarah Adat Suku Amungme (LEMASA). Wenan Watori dan panelis lainnya menggambarkan Thom sebagai sosok pemimpin Melanesia tulen yang menjunjung tinggi kejujuran dan kesetiaan pada akar budaya.

“Beliau adalah bukti bahwa pemimpin besar tidak harus berteriak. Kerendahhatiannya justru menjadi otoritas yang diakui kawan maupun lawan,” ungkap salah satu pembedah. Muncul pula usulan kuat dalam diskusi tersebut untuk mendirikan Sekolah Kepemimpinan Adat Melanesia guna melahirkan "Thom-Thom muda" di masa depan.

Di ranah politik dan HAM, nama Thom Beanal tak terpisahkan dari sejarah Presidium Dewan Papua (PDP) dan Tim 100. Aktivis HAM Anum Siregar dan mantan anggota komisioner Komnas HAM Fritz Ramandey menekankan kecerdasan Thom dalam memanfaatkan kanal hukum internasional, termasuk gugatan hukum terhadap Freeport di Amerika Serikat.

Meskipun menjadi motor penggerak aspirasi Papua, Thom dikenang sebagai sosok moderat yang mengutamakan dialog kolektif. Florensius Beanal, mewakili keluarga, memberikan kesaksian menyentuh tentang sifat pemaaf almarhum."

Bapa lebih banyak memberi teladan daripada nasihat. Beliau tidak pernah menuntut permintaan maaf, melainkan selalu mengedepankan rekonsiliasi," Kenang Florensius.

Diskusi yang berlangsung dinamis ini juga menghasilkan beberapa rekomendasi penting, di antaranya:

 Pertama, Sistematisasi Sejarah: Perlunya pendokumentasian sejarah perjuangan Papua agar tidak hilang ditelan zaman.

 Kedua, Kalender Sejarah: Penetapan hari-hari bersejarah bagi rakyat Papua sebagai bentuk penghormatan kolektif.

 Ketiga, Persatuan Bangsa: Evaluasi dan penguatan persatuan di antara organisasi politik Papua serta perlunya jilid keempat buku untuk melengkapi nilai-nilai perjuangan Thom Beanal.

Akademisi Dr. Budi Hernawan, yang hadir secara daring, mengajak publik untuk tidak sekadar mengenang Thom sebagai figur masa lalu. "Tugas kita adalah menghidupkan kembali semangatnya hari ini," tegasnya.

Acara ditutup dengan haru lewat lantunan lagu "Tanah Papua" dan doa bersama. Sebuah pesan kuat ditinggalkan oleh para peserta: perjuangan untuk martabat dan keadilan akan terus berlanjut, dipandu oleh jejak kaki yang telah ditinggalkan sang Bapak Bangsa.


Minggu, 22 Februari 2026

Apa peranan suami istri dalam keluarga?



Jawaban
Meskipun laki-laki dan perempuan setara dalam hubungannya dengan Kristus, Alkitab memberi peran yang khusus kepada mereka masing-masing dalam konteks pernikahan.

Suami harus mengepalai keluarga (1 Korintus 11:3; Efesus 5:23). Kepemimpinan ini tidak boleh bersifat diktator, merendahkan atau menghina istri, namun harus sesuai dengan teladan Kristus dalam memimpin gereja.

“Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman” (Ef 5:25-26). Kristus mengasihi gereja (umat-Nya) dengan belas kasihan, kemurahan, pengampunan, hormat dan tidak mementingkan diri.

Demikian pula suami harus mencintai istri.

Istri harus tunduk pada otoritas suami mereka. “Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh. Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu” (Ef 5:22-24).

Meskipun perempuan harus tunduk kepada suami mereka, Alkitab juga berkali-kali memberitahu laki-laki bagaimana seharusnya memperlakukan istri mereka. Suami tidak boleh berlaku sebagai diktator, namun harus menghormati istri dan pendapatnya.

Kenyataannya, Efesus 5:28-29 menasihati laki-laki untuk mencintai istri mereka sama seperti mereka mencintai tubuh sendiri, memberi makan dan merawatnya. Cinta seorang laki-laki terhadap istri harus sama seperti kasih Kristus terhadap tubuh-Nya, gereja.

“Hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan. Hai suami-suami, kasihilah isterimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia” (Kol 3:18-19). “Demikian juga kamu, hai suami-suami, hiduplah bijaksana dengan isterimu, sebagai kaum yang lebih lemah! Hormatilah mereka sebagai teman pewaris dari kasih karunia, yaitu kehidupan, supaya doamu jangan terhalang” (1Pet 3:7).

Dari ayat-ayat ini, kita melihat bahwa kasih dan rasa hormat mewarnai peranan suami istri. Kalau itu ada, maka otoritas, kepala, kasih dan ketaatan tidak akan menjadi masalah untuk pasangan manapun.

Dalam kaitan dengan pembagian tanggung jawab dalam rumah tangga, Alkitab memerintahkan suami untuk menyediakan nafkah bagi keluarganya. Ini berarti dia harus bekerja dan mencari nafkah yang cukup untuk mencukupi semua kebutuhan hidup istri dan anak-anaknya. Tidak melakukan ini pasti memiliki konsekuensi rohani yang.

“Tetapi jika ada seorang yang tidak memeliharakan sanak saudaranya, apalagi seisi rumahnya, orang itu murtad dan lebih buruk dari orang yang tidak beriman” (1 Tim 5:8).

Tidak berarti istri tidak bisa membantu menghidupi keluarga – Amsal 31 menunjukkan bahwa istri yang rohani jelas melakukan itu – namun mencukupi kebutuhan keluarga bukanlah tanggung jawab utamanya; itu adalah tanggung jawab suaminya.

Sekalipun suami sepatutnya membantu mengurusi anak-anak dan pekerjaan rumah tangga (sehingga memenuhi kewajibannya untuk mencintai istrinya), Amsal 31 juga menyatakan dengan jelas bahwa rumah tangga adalah wilayah tanggung jawab utama perempuan. Sekalipun dia harus tidur pada larut malam dan bangun pagi-pagi, keluarganya tidak sampai kekurangan apapun.

Ini bukanlah gaya hidup yang mudah bagi banyak perempuan – khususnya di negara Barat yang maju. Namun demikian, terlalu banyak perempuan yang sudah begitu stress dan hampir “meledak.” Untuk mencegah stress semacam itu, baik suami maupun istri harus berdoa, mengatur kembali prioritas mereka dan mengikuti petunjuk-petunjuk Alkitab untuk peranan mereka masing-masing.

Konflik mengenai pembagian tugas dalam pernikahan pasti akan terjadi. Namun, jika kedua pihak tunduk kepada Kristus, konflik ini akan minim.

Kalau satu pasangan sering ribut dan panas dalam soal ini, ataupun ketika perselisihan terlihat mewarnai pernikahan, akar masalahnya biasanya bersifat rohani. Dalam keadaan begini, pasangan harus terlebih dahulu berdoa dan menundukkan diri kepada Kristus, baru kemudian berbicara kepada pasangannya dalam sikap kasih dan hormat.

Selasa, 17 Februari 2026

DARURAT KEMANUSIAN DI PAPUA : RUMAH SOLIDARITAS PAPUA DESAK PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA SEGERA LAKSANAKAN SELURUH REKOMENDASI DPD RI ASAL PAPUA



 Siaran Pers

Rumah Solidaritas Papua

Nomor : 001 / SP - RSP / II / 2026


DARURAT KEMANUSIAN DI PAPUA : RUMAH SOLIDARITAS PAPUA DESAK PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA SEGERA LAKSANAKAN SELURUH REKOMENDASI DPD RI ASAL PAPUA


Pendekatan keamanan yang terus dikedepankan oleh Pemerintah Republik Indonesia di seluruh Wilayah Tanah Papua telah menelan korban di berbagai pihak. Mulai dari anggota TNI-Polri maupun anggota TPN PB serta masyarakat sipil baik Orang Asli Papua (OAP) maupun non OAP. Setidaknya, sepanjang tahun 2018-2024, 368 orang meninggal dan hanya di tahun 2005, lebih dari 10.261 warga sipil mengungsi (jumlah itu belum termasuk jumlah pengungsi dari tahun 2018 sampai tahun 2024). Semuanya berujung pada tindakan yang merendahkan martabat kemanusiaan di Indonesia. 


Konflik bersenjata di Papua memiliki akar persoalan politik antara Pemerintah Indonesia dan masyarakat Papua. Pasal 46 UU Nomor 2 Tahun 2021 telah mengatur mekanisme penyelesaiannya yaitu pembentukan Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR). Tujuan KKR dimaksudkan agar melakukan klarifikasi sejarah Papua untuk pemantapan persatuan dan kesatuan bangsa dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Serta merumuskan dan menetapkan langkah-langkah rekonsiliasi. 


Sama halnya Pasal 45 UU Nomor 2 Tahun 2021 tentang pembentukan Komisi HAM Papua dan Pengadilan HAM di Papua. Namun, sejak tahun 2001 sampai tahun 2026 langkah tersebut tidak pernah dilakukan oleh Pemerintah Pusat.


Melihat berbagai fakta pelanggaran HAM di Papua, baik akibat praktik pengerahan pasukan dalam konteks operasi militer selain perang ilegal dan konflik bersenjata antara TNI-Polri versus TPN PB berdampak serius pada keselamatan masyarakat sipil OAP maupun non OAP. Termasuk kebijakan proyek strategis nasional (PSN) yang berdampak serius pada pelanggaran Hak Masyarakat Adat Papua. Menyikapi situasi darurat kemanusiaan tersebut beberapa Lembaga Advokasi Hak Asasi Manusia seperti Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Amnesty International Indonesia, Yayasan Pusaka Bentala Rakyat, Persatuan Gereja Gereja Indonesia (PGI), Wahana Lingkungan Hidup (WALHI), Greenpeace, Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Komisi Orang Hilang (Kontras), Asian Justice and Rights (AJAR) dan individu lainnya yang tergabung dalam Rumah Solidaritas Papua melaksanakan audiensi dengan Pimpinan dan Anggota DPD RI asal Papua untuk membahas terkait dengan Kondisi HAM di Papua.


Dari berbagai persoalan pelanggaran HAM akibat pendekatan keamanan yang melahirkan konflik bersenjata di Papua yang berdampak pelanggaran HAM bagi masyarakat sipil yang berada disekitarnya. Termasuk didalamnya masalah Pengungsi akibat Konflik bersenjata di Papua, Persoalan Pelanggaran Hak Masyarakat Adat akibat pengembangan PSN dan juga penegakan Hukum dan HAM di Papua serta berbagai persoalan lainnya dibahas dalam audensi yang digelar pada tanggal 9 Februari 2026 di Gedung DPD RI.  

 

Dari hasil pertemuan Rumah Solidaritas Papua dengan pimpinan dan anggota DPD RI asal Papua, diperoleh beberapa poin rekomendasi yang diterbitkan sesuai dengan isu yang dibahas. Secara khusus berkaitan dengan isu konflik bersenjata terdapat 2 (dua) poin rekomendasi yang disampaikan kepada Pemerintah yaitu :


1. Menetapkan Tanah Papua sebagai wilayah Konflik Bersenjata Non-Internasional berdasarkan Hukum Humaniter Internasional sehingga para pihak yang berkonflik wajib mematuhi Hukum Humaniter Internasional (HHI);


2. Menata ulang semua operasi militer TNI berdasarkan HHI dan UU No. 3/2025 tentang Perubahan UU No. 34/2004 tentang TNI dan mengeluarkan Kepres tentang OMSP demi mencegah eskalasi konflik bersenjata dan ancaman keselamatan warga sipil dan Meminta untuk menggunakan pendekatan hukum terhadap dinamika politik di seluruh Tanah Papua untuk menghindari jatuhnya korban dan trauma masyarakat sipil di Tanah Papua.


Sementara itu, berkaitan dengan isu pengungsi akibat konflik bersenjata diberikan 3 (tiga) rekomendasi sebagai berikut :


1. Meminta Pemerintah Pusat dan Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) untuk menepati Hukum Humaniter Internasional dengan membuka koridor kemanusiaan bagi lembaga-lembaga kemanusiaan dalam negeri dan internasional, khususnya Komite Internasional Palang Merah (ICRC) untuk melakukan aksi tanggap darurat dan pemulihan bagi penanganan pengungsi Papua yang berada di Papua Niugini, pengungsi internal korban konflik bersenjata dan warga terdampak lainnya di seluruh Tanah Papua;


2. Meminta Pemerintah Pusat untuk mendukung Pemerintah di Tanah Papua dalam memulihkan fasilitas layanan publik beserta sumber daya manusia dan perlindungan terhadap tenaga pendidikan dan kesehatan di wilayah-wilayah pasca terjadinya konflik;


3. Mengundang Kementerian dan lembaga yang berkaitan dengan penanganan pengungsi untuk melaksanakan Rapat Kerja dengan DPD RI dalam penanganan pengungsi internal.


Selain itu, berkaitan dengan isu Masyarakat Adat Papua diberikan 2 (dua) rekomendasi sebagai berikut :


1. Meminta Pemerintah untuk menghentikan PSN di Tanah Papua dan menghormati perangkat hukum negara yang melindungi eksistensi Masyarakat adat, hak milik, kesejahteraan, keselamatan, masa depan serta pelibatan masyarakat Papua dalam perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pembangunan;


2. Meminta pemerintah pusat untuk berkomitmen terhadap warwah perlindungan hak-hak masyarakat adat papua sebagaimana diatur pada Pasal 43 Undang – Undang Nomor 2 Tahun 2021;


Berkaitan dengan rekomendasi terkait penegakan hukum dan HAM ada 3 (tiga) poin yang disampaikan yaitu :


1. Meminta aparat penegak hukum untuk memastikan proses penegakan hukum yang efektif melalui Pengadilan HAM di lingkungan peradilan umum untuk kasus kekerasan terhadap warga sipil, termasuk kekerasan terhadap pembela HAM;


2. Meminta Pemerintah Pusat, khususnya Kementerian HAM, untuk segera membentuk Komisi HAM dan Pengadilan HAM berkedudukan di Papua untuk mengusut kekerasan dan pelanggaran HAM di Papua sesuai pasal 45, UU No. 2 Tahun 2021;


3. Mendorong kepemimpinan Indonesia di Dewan HAM untuk mengundang dan membuka kunjungan para pelapor situasi HAM di Papua guna melakukan verifikasi status KBNI dan dampaknya terhadap warga sipil di Tanah Papua.


Ironisnya, baru beberapa hari pasca Audiensi Rumah Solidaritas Papua dengan DPD RI berlangsung dan melahirkan beberapa rekomendasi untuk dijalankan Pemerintah, pendekatan keamanan masih terus dikedepankan. Korban kembali berjatuhan sebagaimana yang terjadi dalam peristiwa penembakan terhadap anggota TNI di areal PT. Freeport Indonesia pada tanggal 11 Februari 2026 dan Peristiwa Penembakan Terhadap Pilot dan Kopilot di Bandara Koroway Batu, Distrik Yaniruma, Boven Digoel pada tanggal 11 Februari 2026. Berdasarkan situasi di atas, semestinya Pemerintah belajar dari kesalahan agar nyawa rakyat tidak terus dikorbankan. Pemerintah harus kembali fokus menjawab akar persoalan ketidakadilan dan pelanggaran HAM di Papua. Pembelajaran penyelesaian konflik sebagaimana yang Pemerintah Republik Indonesia pernah lakukan di Timor Timur maupun di Aceh perlu dilakukan pada konflik di Papua.


Berdasarkan pada uraian di atas maka kami berbagai Lembaga Advokasi dan Individu yang tergabung dalam Rumah Solidaritas Papua tegaskan kepada Presiden Republik Indonesia untuk segera :


1. Mengeluarkan Kepres yang memberlakukan Hukum Humaniter Internasional di Tanah Papua sehingga status operasi militer di seluruh Tanah Papua memiliki legalitas yang diakui secara nasional dan internasional;


2. Memerintahkan Kementerian HAM untuk segera mewujudkan Komisi Pelurusan Sejarah, Komisi HAM, dan Pengadilan HAM di Tanah Papua sesuai UU Otonomi Khusus untuk dapat menangani pelanggaran HAM di Papua dan segera mencari solusi perdamaian atas konflik politik antara Indonesia dengan Papua demi melindungi HAM di Papua;


3. Perintahkan Kementerian dan Kepala Daerah masing-masing untuk menangani seluruh pengungsi akibat konflik bersenjata di Papua;


4. Menghentikan Proyek Strategis Nasional di Papua yang telah melanggar Hak Masyarakat Adat Papua;


5. Laksanakan seluruh rekomendasi DPD RI asal Papua demi melindungi HAM OAP dan Non OAP di wilayah Papua.

 

Demikian siaran pers ini dibuat, atas perhatian dan kerjasamanya disampaikan banyak terima kasih.

 

Jakarta, 17 Februari 2026

 


Hormat Kami


Rumah Solidaritas Papua 


(Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Amnesty International Indonesia, Yayasan Pusaka Bentala Rakyat, Persatuan Gereja Gereja Indonesia (PGI), Wahana Lingkungan Hidup (WALHI), Greenpeace, Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Komisi Orang Hilang (Kontras), Asian Justice and Rights (AJAR) dan individu lainnya)


Nara Hubung :

Kordinator RSP (082199507613)

Minggu, 15 Februari 2026

Memberi Dengan Sukacita Meraih Kemenangan

     Foto : Istimewa

Oleh : Pdt. Thomas Wenda, S. Th 

Bacaan: 2 KORINTUS 9:6-15. 

 Nas: "Lagi pula, Allah sanggup melimpahkan segala anugerah kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam berbagai perbuatan baik." (2 Korintus 9:8)

 Jemaat Korintus berjanji untuk memberikan persembahan bagi jemaat Yerusalem. Hal itu membuat Paulus membanggakan mereka di hadapan jemaat Makedonia. Bahkan, niat baik mereka juga merangsang orang lain untuk melakukan kebaikan yang sama. Namun, jemaat Korintus tidak segera mewujudkan janjinya. Karena itu, Paulus mendorong mereka untuk segera mewujudkan janjinya sambil memotivasi mereka menggunakan hukum tabur tuai. Meski demikian, Paulus tidak bermaksud mengajar jemaat Korintus untuk memberi dengan motivasi supaya mendapat imbalan atau memancing berkat yang lebih besar. Paulus menekankan semangat memberi dengan kerelaan hati, sukacita tanpa paksaan. Lagi pula, Tuhan tidak akan pernah membiarkan umat-Nya kekurangan. Ini bukan hanya berbicara tentang hal duniawi (materi), melainkan kasih karunia secara menyeluruh (hikmat, sukacita, dan damai sejahtera). Terlebih pelayanan kasih melalui pemberian berdampak melimpahkan ungkapan syukur bagi Allah. Sebab, orang yang menerima pemberian kita akan bersyukur kepada Allah. Karena pemberian yang kita bagikan, mereka juga memuliakan Allah. Tuhan memberikan kelimpahan kepada umat bukan supaya umat dapat berfoya-foya, melainkan untuk tujuan yang rohani, yakni berbagai perbuatan baik. Ini berarti bahwa sesungguhnya di balik setiap berkat yang Tuhan curahkan, ada tugas yang mesti kita emban, yaitu menjadi saluran berkat. Dengan demikian, tolak ukur berkat bagi orang percaya bukan lagi banyaknya harta yang dimiliki, melainkan banyaknya kebaikan yang dilakukan." 

 "TUHAN MELIMPAHKAN KASIH KARUNIA UNTUK DIBAGIKAN DALAM SEGALA KEBAJIKAN, BUKAN UNTUK DISIMPAN ATAU DIPAMERKAN."

  Pembacaan Setahun: Bilangan 8‐10


Sabtu, 14 Februari 2026

PUISI : PERAYAAN HUT GIDI KE-63Th 12 Februari 2026

 
      Foto : Istimewah



Spirit Penginjilan Gereja GIDI
Oleh : Yosua Noak Douw

Dari gunung yang sunyi,
dari lembah yang sepi,
lahirlah sebuah iman
yang tidak ditulis oleh tinta,
tetapi oleh air mata doa.

Bukan dari kota besar,
bukan dari bangunan megah,
melainkan dari hati yang sederhana
yang mengenal Tuhan
lebih dalam dari siapa pun.

Mereka tidak punya banyak kata,
tidak punya gelar,
tidak punya kemewahan.
Hanya satu yang mereka punya:
iman… yang menyala.

Mereka bertanya,
“Apakah masih ada orang di balik gunung?”
Dan ketika jawabannya: “Ada,”
mereka tidak menunggu,
mereka tidak ragu,
mereka pergi.

Mereka berjalan jauh,
melewati hutan,
mendaki gunung,
menyeberangi sungai,
membawa Injil
di dalam hati mereka.

GIDI lahir bukan dari rencana manusia,
tetapi dari panggilan Allah.
Bertumbuh bukan karena kekuatan,
tetapi karena kesetiaan.

Di sana,
orang-orang sederhana berkata:
“Kami berdiri sendiri.”

Bukan karena sombong,
tetapi karena yakin—
Tuhan yang memanggil,
Tuhan yang memimpin,
Tuhan yang menyertai.

Hari demi hari,
tahun demi tahun,
Injil terus berjalan.

Dari pedalaman,
ke pesisir,
dari Papua,
ke seluruh Indonesia,
bahkan sampai ke bangsa-bangsa.

GIDI bukan sekadar gereja.
Ia adalah langkah iman.
Ia adalah perjalanan kasih.
Ia adalah saksi
bahwa Tuhan bekerja
melalui orang-orang sederhana.

Enam puluh tiga tahun…
bukan waktu yang singkat.

Ada air mata.
Ada luka.
Ada pengorbanan.
Ada sukacita.

Namun satu yang tidak berubah:
Injil tetap diberitakan.
Doa tetap dinaikkan.
Tuhan tetap disembah.

Hai generasi hari ini,
dengarlah suara para perintis:

Jangan padamkan api itu.
Jangan tinggalkan panggilan itu.
Jangan tukar iman
dengan kenyamanan.

Jadilah seperti labu
yang terus merambat,
dipetik—tetapi hidup,
dihambat—tetapi bertumbuh.

Karena gereja ini
bukan milik manusia.
Gereja ini milik Kristus.

Dialah Kepala.
Dialah Penuntun.
Dialah Penjaga.

Selama Injil diberitakan,
gereja akan hidup.

Selama doa dinaikkan,
Tuhan akan bekerja.

Selama Yesus di tengah pelayanan,
GIDI tidak akan pernah hilang arah.

Hari ini,
dan sampai nanti,
dari generasi ke generasi,

biarlah satu hal tetap tinggal:
iman yang sederhana,
kasih yang nyata,
dan keberanian
untuk memberitakan Kristus.

Selamat ulang tahun, GIDI.
Engkau bukan hanya gereja,
engkau adalah rumah iman.

Engkau bukan hanya sejarah,
engkau adalah panggilan.

Dan selama Tuhan Yesus hidup,
GIDI… akan terus hidup.

Amin.


Rabu, 11 Februari 2026

REFLEKSI DALAM HUT GIDI YANG KE 6E TAHUN

Foto Istimewa : Pdt. Dorman Wandikbo, S. Th


1.  SEJARAH.

       Lahirnya Gereja GIDI  …….. Atas kehendak dan Rencana Tuhan maka telah lahir Gereja Pribumi di balik gunung “HONAI’ Kampung sunyi jauh dari dunia maju, tak terhitung dan tak terpandang  namun berharga di mata Tuhan.   Pada saat itulah Pulau Papua menjadi incaran sejak lama di abad 13 san.  Namun, pulau yang didiami 274 suku ini, baru di jamah oleh INJIL pada pertengahan abad 19.  Merupakan titik awal lahirnya Gereja GIDI sejak duta duta Kristus, para misionaris  APCM UFM RBMU Tahun 1952/1955 Menjinjakkan kaki di papua Pengunungan.    Kiranya  lemah dikuatkan ,yang miskin dan hina dapat diangkat  oleh Kasih Karuniah dan Kebenaran Tuhan menyertai mereka yang di tandai oleh pertobatan dan pembaptisan orang percaya yang menerima Jesus sebagai Tuhan dan Juru selamat.      
Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan dan merekapun bersekutu, bertumbuh, berakardan berbuah di dalam DIA.        
Dan dalam waktu Tuhan ,mereka disatukan di dalam satu Tubuh Kristus yang secara DE FACTO dinyatakan pada Konferensi umum Gereja-Gereja Lani 12 Februari 1963 yang dikutip dalam kalimat ……….Karena Tuhan tinggal bersama-sama kami maka kami ingin BERDIRI SENDIRI , Sebuah TONGGAK PERADABAN  yang mengubah hidup manusia HITAM KRITING di tanah ini.   Sebuh keputusan IMAN  REVOLUASIONER, EKSTREM,RADIKAL dan tanpa suatu era  RESTORASI,era REVIVAL,era REFORMASI bagi umat manusia di negeri ini sepanjang masa.     Dengan berjalannya waktu maka Gereja pribumi dapat bertumbuh dan berkembang yang ikuti pula perubahan nama Gereja dari (Gereja Injil Irian Barat 1963 Menjadi Gereja Injil Irian Jaya 1973 dan kini Gereja Injil di Indonesia 1988 ).     Atas dasar keputusan itulah maka terbentuklah sebut Gereja pribumi yang  di sebut Gereja INDENPENDEN, OTONOM DAN MANDIRI dan  DEMIKRASI dengan sistim pemerintahan KONGRESIONAL dan PRESBITERIAN, Sebuah keputusan SPETAKULER yang diproklamasikan oleh pendiri pada detik detik lahirnya Gereja Injili Di Indonesia  12 Pebruari 1963 adalah “ KAMI INGIN BERDIRI SENDIRI:.

 2.  GEREJA TANPA PENGINJILAN  MATI         
                                                                                  
HUT GIDI 63 tahun membuktikan bahwa Gereja GIDI sudah dewasa dalam misi Secara fundamental bertanggungjawab untuk menjangkau jiwa jiwaa dalam dunia global.    
Tujuan Penginjilan adalah  Gereja yang berorientasi pada Amanat Agung. Orang tua dulu mereka sangat sederhana dengan berbusana koteka dan sali tetapi mereka membuat jalan dan   memberikan pedoman dan pengawasan kepada program misi gereja. Mereka adalah orang-orang kunci yang bertanggung jawab untuk menggerakkan gereja dalam misi. Pekerjaan mereka bukan melakukan semua pekerjaan. Pekerjaan mereka adalah SALING MENGHORMATI SATU SAMA LAIN, MENDORONG, MELATIH dan MENGGERAKAN anggota Jemaat sehingga lebih efektif dalam penginjilan lokal, komunikasi antara para penginjil  dan badan  Misi UFM,APCM dan RBMU sangat inten untuk memajukan penginjilan di seluruh papua dan di luar papua .

Penginjilan belum selesai krn penginjilan adalah  Perintah Amanat Agung Jesus Kristus kepada Gereja dan Ia akan menyertainya sampai akhir zaman ( Mts 28:19-20)
Penginjilan belum selesai krn seluruh penduduk bumi sekarang berjumlah  8,3 miliar orang .  Dari jumlah itu umat Kristen Gereja Katolik dan Gereja Protestan  2,4 miliar orang. 
Masih ada 6 miliar penduduk bumi yang menolak Jesus Kristus menjadi Tuhan dan Juru SlamatNya.
Penginjilan belum selesai krn jika Gereja berhenti misi Penginjilan maka berita2 dan propoganda setan dan antek-anteknya ( BERLABEL GLOBALISASI, THEOLOGI KEMAKMURAN, ALIRAN TROTO BLESING, WESTERNISASI  dan pengaruh EKSTERNAL )  yang akan mempengaruhi manusia mengakibatkan Gereja kehilangan Fokus.
                                                                                                                                                                                                    
MENGERJAKAN 

Misi Penginjilan  perlu memberikan kesempatan untuk keterlibatan dalam penginjilan dunia. Dalam beberapa hal, ini berarti bahwa misi Penginjilan mengembangkan suatu pelayanan lintas budaya dan menarik anggota untuk mau terlibat. Juga mengarahkan jemaat pada Penginjilan misi,  Akan tetapi, pokok persoalannya adalah bahwa Misi Penginjilan tidak  bisa berjalan maksimal kalau hanya pada memberikan informasi,  atau  sekedar momen mengumpulkan uang  tetapi menggerakkan jemaat  lakukan seminar seminar , mendidik , mengajarkan Alkitab ,Memahami Doktrin  dan mengetahui Sejarah  perjalanan misi Gereja dari GIB GIIJ sampai kini di sebut GIDI.                                                                        

3. GEREJA ADALAH BENTENG TERAKHIR ORANG ASLI PAPUA
 
Gereja membawa perubahan paling beradap dalam sejarah peradaban umat manusia papua.Gereja mengangkat harkat dan martabat manusia papua sebagai ciptaan Tuhan. Gereja menemukan Orang Asli Papua dan hadir ditengah-tengah mereka sebagai sahabat, sebagai ayah, sebagai mama, sebagai kaka, sebagai saudara dan sebagai keluarga.  Gereja mengajarkan bahwa semua manusia sama dan setara di hadapan Tuhan. Gereja mengajarkan pendidikan, kesehatan dan ekonomi yang rama berbasis kontekstual sosial dan budaya orang asli papua.      Ketika umat Tuhan di tanah papua dianiaya jadi korban hukum bukan melanggar hukum  karena sesungguhnya orang papua hadapi  adalah :   RASISME,FASISME.KOLONIALISME,MILITERISME,IMPERALISME,KAPITALISME,KETIDAK ADILAN,PELANGGARAN HAM BERAT, GENOSIDA , EKOSIDA, MARGINALISASI, DIKRIMINASI DAN STATUS POLITIK PAPUA.

Maka hal itu memberikan rambu rambu kepada orang asli papua bahwa Gereja adalah Benteng terakhir untuk melawan tangan Firaun Moderen.     Bagi orang papua Gereja adalah benteng Keadilan dan Kedamaian. Alkitab yang di ajarkan oleh Gereja adalah satu-satunya benteng Kebenaran dan keselamatan, Benteng pengampunan dan pengharapan.  Gereja mengajarkan umatNya berlutut berdoa dan berpuasa.  Gereja tak akan tinggal diam ketika umat kepunyaan Allah di ancam.  Gereja berdiri di garis paling terdepan melawan musuh dengan tongkat Kebenaran, eadilan  dan Kemanusiaan.   Kita belajar dari orang asli AFRIKA SELATAN tentang pengalaman spiritualitas mereka keluar dari dampak buruk penerapan sistem APRTHEID Gereja bersuara dan Tuhan pulihkan negeri mereka.      
                                            
PERAN  PEMIMPIN GEREJA
 
Bapak Uskup Desmond M  tutu adalah seorang theolok berasal dari afrika selatan yang menentang keras terhadap kebijakan pemerintah yang diskriminatif dan rasis terhadap orang kulit hitam di Afrika Selatan.    Ia mengkritik kebijakan pemerintah dengan menyatakan bahwa orang kulit hitam tdk di beri kesempatan untuk memilih dalam hidup mereka sendiri.   Malahan mereka menderita di tanah sendiri.    
NELSON MANDELA memberikan pandangan yang baik tentang Uskup Tutu, Ia berkata bahwa Desmond tutu adalah seorang yang tidak pernah takut untuk menyuarakan SUARA YANG MEREKA TIDAK DAPAT MENYUARAKAN.   Gereja menjadi benteng terakhir bagi orang Papua. Gereja adalah satu satunya tempat bagi suku-suku hitam di planet bumi ini untuk dapat mengekspresikan harga diri sebagai ciptaan Tuhan dan kepada dunia bahwa semua manusia setara.          
                                                                   
GEREJA TAK PERNAH TERKALAHKAN
    
Demikian pula, setiap orang yang berniat jahat dan membunuh umatnya di tanah papua tdk pernah selamat dari hukuman Tuhan.   ANDA BOLEH MENCARI MAKAN DISINI, ANDA BOLRH CARI JABATAN DISINI, ANDA BOLEH CARI PANGKAT DISINI Tapi jangan bunuh orang asli papua.   Ketika kita berlindung kepada Gereja Tuhan maka Tuhan sendiri akan berperang melawan musuh-musuh kita.   Ketika Gereja diganggu maka itu tanda kematian orang asli papua.  Gereja adalah orang papua, Orang papua adalah Gereja.  Sebab ada tertulis, barang siapa membinasakan bait Allah maka Allah akan membinasakan dia.
                                                                                                                                                                    
TANTANGAN GEREJA DI TANAH PAPUA MASA  KINI

  Sejak tahun 1961, papua di INTEGRASIKAN secara ilegal sedalam negara RI .  Saat itu pula negara menggap papua sebagai tanah jajahan dan dirampas harta kekayaan laut,darat, dan udara serta tak segan untuk menculik, membunuh dan menghilangkan nyawa manusia pemilik neregi ini.    Akibat dari penjajah ini kerusakan moral dan mental yang ditimbulkan akibat doktrinisasi semangat nasional abu abu, nyaris kehilangan jati diri, kehilangan arah dan mulai mencari/ percaya pada praktek medadak menjadi kaya, menjadi penguasa, menjadi sukses,dls.    Setelah itu mereka di jadikan ATM Penguasa jakarta dengan ancaman KPK, dls. Ini nampak sangat sistematis, bertujuan mengkredilkan karakter orang papua.                                                                             

Akhirnya dari tulisan ini, saya mengucapkan selamat merayakan hari ulang tahun GIDI  yang ke 63  untuk semua umat yang di pesisir pulau, lembah, rawa, lereng gunung.   Kita semua ada karena INJIL . 


  Pdt Dorman Wandikbo, S. Th
(Dewan Pertimbangan GIDI).