Minggu, 24 Juni 2018

Seminarh Harian dan Lepas Sambut Pemuda GIDI Efesus Jati-Jati Merauke

Ibadah Lepas Sambut


Pemuda/i Gereja Injili di Indonesia (GIDI) Jemaat Efesus jati-Jati Merauke, telah melaksanakan kegiatan lepas sambut antara pemuda yang baru bergabung dan pergi menimba ilmu di kota studi lain baik tingkat SMP hingga perguruan tinggi, di pantai bayun sabtu, 23 Juni 2018 pukul 10:00-14:00 Wit, dengan Tema” Dengan Apakah Seorang Mudah Mempertahankan Kelakuan Yang Baik ” ( Maz 119:9)

Selasa, 22 Mei 2018

Bolekah Perempuan Mengajar ?

Ilustrasi Perempuan Sedang Khotbah




* 1 Timotius 2:8-15 Mengenai sikap orang laki-laki dan perempuan dalam ibadah jemaat
2:8 Oleh karena itu aku ingin, supaya di mana-mana orang laki-laki berdoa dengan menadahkan tangan yang suci, tanpa marah dan tanpa perselisihan.
2:9 Demikian juga hendaknya perempuan. Hendaklah ia berdandan dengan pantas, dengan sopan dan sederhana, rambutnya jangan berkepang-kepang, jangan memakai emas atau mutiara ataupun pakaian yang mahal-mahal,
2:10 tetapi hendaklah ia berdandan dengan perbuatan baik, seperti yang layak bagi perempuan yang beribadah.
2:11 Seharusnyalah perempuan berdiam diri dan menerima ajaran dengan patuh.
2:12 Aku tidak mengizinkan perempuan mengajar dan juga tidak mengizinkannya memerintah laki-laki; hendaklah ia berdiam diri.
2:13 Karena Adam yang pertama dijadikan, kemudian barulah Hawa.
2:14 Lagipula bukan Adam yang tergoda, melainkan perempuan itulah yang tergoda dan jatuh ke dalam dosa.
2:15 Tetapi perempuan akan diselamatkan karena melahirkan anak, asal ia bertekun dalam iman dan kasih dan pengudusan dengan segala kesederhanaan


Ini benar-benar "ucapan yang sulit." Bahasa yang digunakan nampaknya langsung dan jelas. Tetapi apakah maksud Paulus sama dengan arah pemikiran kita? dan jika memang demikian, apakah ini sebuah perintah yang diinginkannya untuk diterapkan secara universal, tanpa memandang konteks sejarah dan situasi?

Bacaan ini, dan bacaan yang dibahas dalam bab berikutnya, menjadi pusat diskusi yang terus-menerus mengenai kedudukan dan peranan perempuan dalam gereja, keluarga, dan masyarakat. Jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan di atas penting untuk diskusi tersebut.

Bacaan ini juga merupakan bacaan yang sulit karena satu alasan lagi, yaitu alasan emosi/pengalaman. Sebagai seorang laki-Iaki, saya yakin saya tidak dapat memahami sepenuhnya pengaruh ucapan Rasul ini terhadap perempuan. Tetapi walaupun secara terbatas, saya sedikit banyak memahami rusaknya harga diri dan rasa kemampuan seseorang karena ucapan ini. Kita hidup dalam sebuah jaman dalam sejarah di mana baik perempuan maupun laki-laki diakui sama-sama berbakat dalam kemampuan intelektual maupun ketrampilan komunikasi. Dalam situasi semacam ini, larangan Rasul ini nampaknya sangat sulit untuk dimengerti dan diterima. Karena perbedaan apakah dalam jenis kelamin yang menghalangi perwujudan sepenuhnya dari pemberian hati, pikiran, dan roh oleh Pencipta?

Pertanyaan ini seringkali dijawab dengan pernyataan untuk tegas bahwa peranan yang sudah didefinisikan secara jelas untuk laki-laki dan perempuan ditetapkan secara ilahi dan perintah Paulus yang membatasi merupakan bukti dari norma yang universal itu. Tetapi jawaban inipun menimbulkan masalah. Cerita mengenai penciptaan laki-laki dan perempuan dalam Kejadian 1-2 yang kita anggap sebagai pernyataan teologi yang mendasar dari rancangan dan tujuan Pencipta menegaskan bahwa laki-laki dan perempuan sederajat dan saling melengkapi. Mereka sarna-sarna serupa dengan gambar Allah (Kejadian 1 :26-27). Keduanya diberi kekuasaan yang bertanggung jawab terhadap ciptaan lain (Kejadian 1 :28). Penciptaan perempuan dimaksudkan untuk membebaskan laki-Iaki dari kesendirian dan melengkapinya (Kejadian 2:18 ).

Terhadap pandangan kuno bahwa para dewa menipu laki-laki dengan menciptakan perempuan dari bahan yang 'kurang bermutu', cerita penciptaan dalam kitab Kejadian menegaskan bahwa perempuan diciptakan sarna dengan laki-laki (tulang dari tulangku dan daging dari dagingku" Kejadian 2:23). Dengan demikian pandangan bahwa Allah menciptakan perempuan untuk mendapatkan peranan yang terbatas dalam keluarga, gereja, dan masyarakat tidak dapat dibenarkan atas dasar penciptaan.

Status perempuan yang terbatas secara tradisional didasarkan pada cerita kejatuhan manusia (Kejadian 3) dalam pemikiran dan adat orang Yahudi maupun orang Kristen. Tetapi dari konteks kitab Kejadian 2-3 jelas bahwa kata-kata dalarn Kejadian 3: 16, "Engkau akan berahi kepada suamimu dan ia akan berkuasa atasrnu" tidak mengungkapkan rancangan Allah agar laki-Iaki berkuasa. Sebaliknya kata-kata ini mengungkapkan suatu keadaan terkutuk karena hubungan yang terputus antara manusia yang diciptakan dengan Penciptanya. Dengan demikian kedudukan yang terbatas untuk perempuan dan dominansi laki-laki atas perempuan bukanlah tujuan ilahi melainkan cerminan dosa manusia. [1]

Bagi Paulus, tujuan karya penebusan Allah adalah mem¬bebaskan ciptaan Allah dari kutukan Firdaus. Siapa yang ada di dalam Kristus adalah ciptaan baru (II Korintus 5:17), yang dibebaskan dari ikatan dosa dan perwujudan dosa itu dalam hubunqan manusia (Roma 6:5-7). Dalam manusia baru yang diciptakan dalam Kristus, pandangan budaya dan agama yang sudan mendarah daging bahwa manusia yang satu lebih rendah dari yang lainnya berdasarkan jenis kelamin atau bangsa atau status sosial, tidak lagi dapat dipertahankan (Galatia 3:26-28). Ini jelas merupakan keyakinan teologis Paulus yang mendasar.

Dalam mendiskusikan bacaan I Korintus 14:33-44, di mana Paulus memerintahkan perempuan dalam jemaat untuk "berdiam diri," kita melihat bahwa pembatasan ini tidak diterapkan secara universal baik oleh Paulus maupun jemaat-jemaat lainnya pada masa itu. Banyak perempuan memiliki kedudukan kepemimpinan yang menonjol (Febe, Lydia, Euodia, Sintikhe, Priskila, Yunias). ditunjuk sebagai pend eta atau diaken (Roma 16:1), teman sekerja (Roma 16:3), kawan sekerja dalam Injil (Filipi 4:2-9), Rasul (atau pembawa pesan Roma 16:7). Roh Allah memberi kuasa baik kepada laki-Iaki maupun perempuan untuk bernubuat tentang karya penebusan Allah di dalam Kristus (Kisah Para Rasul 2:14-18 ). Partisipasi perempuan dalam penyebaran Injil secara lebih baik dan doa dalam jemaat merupakan bagian yang normal dari kehidupan jemaat pada jaman itu (I Korintus 11).

Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan di atas, alasan pembatasan secara khusus terhadap perempuan-perempuan dalam jemaat Timotius pasti ada dalam teks dan sltuasi jemaat yang dimaksudkan Paulus. Seperti yang kita lihat, jika peranan perempuan yang dibatasi bukan merupakan bagian dari tujuan ilahi dalam penciptaan dan juga bukan aspek yang normatif dari penebusan, rnaka pembatasan mereka dalam berbicara, mengajar, dan memimpin (I Korintus 14 dan 1 Timotius 2) pasti merupakan reaksi terhadap situasi lokal yang kritis. I Korintus 14 (dalam bab 27) mengungkapkan krisis semacam itu di Korintus. Situasi yang kritis dalam kehidupan dan iman jemaat Timotius nampaknya juga menjadi alasan perintah Paulus dalam hal ini. [2]

Jika kita membaca 1 Timotius, kita dengan segera menyadari bahwa keutuhan iman Kristen berada dalam keadaan kritis. Ada beberapa orang dalam jemaat yang mengajarkan doktrin-doktrin palsu dan dipenuhi dengan mitos-mitos dan gagasan spekulatif lainnya yang bertentangan dengan iman yang benar dan tutus (I Timotius 1 :3-4). Beberapa orang telah terjerat ke dalam perdebatan yang sia-sia, mau menjadi pengajar Hukum Taurat tanpa mengerti perkataan mereka sendiri dan pokok-pokok yang mereka kemukakan (1 :6-7). Ada keprihatinan yang menyeluruh untuk mempertahankan dan menjaga kebenaran iman (1:19; 2:4-7; 3:14-16; 4:1-3. 6-7,16; 6:1-5,12).

Kita tidak mengetahui identitas guru-guru palsu ini atau isi pengajaran mereka sepenuhnya. Dari perintah yang diberikan, kita dapat menyimpulkan bahwa pengajaran palsu ini mengarah kepada diabaikannya kebiasaan dan tingkah laku yang pantas dalam jemaat (2:8-15) dan juga penolakan terhadap lembaga perkawinan (4:3). Berdasarkan aspek terakhir pengajaran sesat ini, perlu dlcatat bahwa perhatian khusus diarahkan kepada para janda muda (5:9-15), yang dinasihatkan untuk menikah, mempunyai anak, dan memimpin rumah tangga mereka (5:14). Jika peranan yang normal dan sudah diatur secara sosial ini diabai¬kan atau ditoJak, maka perempuan-perempuan ini cenderung "menyebarkan gosip" dan "mencampuri soal orang lain dan mengatakan hal-hal yang tidak pantas" (5:13).


Atas dasar data ini, setidak-tidaknya ada dua kemungkinan situasi dalam jemaat Timotius di Efesus:

(1) Mungkin perempuan-perempuan dalam jemaat di Efesus merupakan pendukung dan penganjur pengajaran heretik yang mengacaukan pola kehidupan jemaat dan kehidupan rumah tangga yang sudah dlterima. Kemungkinan kedua adalah perempuan-perempuan dalam jemaat sangat terpengaruh oleh para guru yang sesat. Situasi semacam ini dalam jemaat Efesus diungkapkan dalam II Timotius 3:6-9 di mana perempuan, yang menjadi sasaran khusus dari orang-orang "yang menentang kebenaran" (3:8 ) "tidak pernah dapat mengenal kebenaran" (3:7).

Dalam keadaan yang mana pun, ucapan Paulus yang bersifat membatasi dalam I Timotius 2: 11-12 harus dimengerti dalam konteks di mana pengajaran palsu sedang menjadi masalah. Larangan secara umum untuk menentang semua orang yang "mengajarkan ajaran lain" (1 :3) sekarang secara khusus difokuskan pada para perempuan yang telah menjadi mangsa dari pengajaran palsu semacam itu atau terlibat dalam penyebarannya.

Nasihat Paulus dalam I Timotius 2:11, "berdiarn diri dan menerima ajaran dengan patuh" dengan demikian ditujukan kepada para perempuan yang karena pengajaran sesat telah menjadi para pendukung yang sangat kuat dari gagasan-gagasan yang mengacaukan situasi kehidupan jemaat dan rumah tangga yang sudah tertata. "Ketaatan" yang diperintahkan kepada mereka kemungkinan besar adalah ketaatan kepada para tua-tua dalam jemaat, yang merupakan penjaga kebenaran dan ibadah yang teratur. Larangan terhadap pengajaran mereka (2: 12) disebabkan oleh keterlibatan mereka dalam pengajaran palsu. Dan larangan "memerintah laki-laki" (2:12) harus dimengerti dalarn konteks penolakan mereka terhadap kekuasaan orang lain, barangkali para pemimpin laki-laki di Efesus yang pengajarannya yang ortodoks dan otoriter dirusak oleh pandangan sesat mereka. Kata bahasa Yunani yang tidak umum yang digunakan terutama mengandung arti negatif "rnerebut" atau "merampas kekuasaan." Jadi, pembatasan kedudukan dan partisipasi perempuan dalam kehidupan dan pelayanan di jemaat Efesus sangat mungkin "dituiukan kepada para perempuan yang terlibat dalam pengajaran palsu, yang telah menyalahgunakan pelaksanaan kekuasaan yang benar dalam jemaat dengan merampas kekuasaan dan mendominasi para pemimpin dan guru laki-Iaki di jemaat Efesus (hal ini tidak diperintahkan Paulus kepada perempuan-perempuan lain). [3]

Paulus melanjutkan dengan mendasarkan perintah ini pada perenungan beberapa bacaan pilihan dari Kitab Kejadian. Pemikiran-pemikiran tersebut merupakan pokok pembahasan kita pada bab berikutnya.



[1] Kala bahasa Yunani yang dilerjemahkan "penolong" (dalam Kejadian 2:18 dan 2:20), yang menunjukkan perempuan itu, hanya digunakan 16 kali lagi dalam Alkilab bahasa Ibrani. Dalam kasus-kasus di alas, perempuan selalu dilunjuk Allah sebagai yang menyelamalkan, mendukung, dan menopang umalNya (seperti dalam Mazmur 46: 1). Kala perempuan ini sama sekali tidak mengandung arti kedudukan atau status yang lebih rendah. Kala yang diterjemahkan "sesuai unluk" secara hurufiah berarti "di depan," dan menunjukkan seseorang yang berdiri "berhadapan rnuka" dengan lainnya, yang kualitas dan sifat-sifat dasarnya sama, dan karena itu merupakan "teman sekerja."

[2] Lihat Gordon D. Fee, 1 dan 2 Timothy, Titus Good News Commentary (San Fransisco: Harper & Row, 1984), yang membuat kasus I Timotius yang meyakinkan menjadi surat berkala yang membicarakan pengajaran-pengajaran sesat.

[3] David M. Scholer, "I Timothy 2:9-15 and the Place of Woman in the Church's Ministry," dalam Alvera Mickelsen, Women, Authority & the Bible (Downers Grove, III: Inter Varsity Press, 1986), hal. 205. Tulisan ini, dan beberapa tulisan lainnya dalam volume ini, menyajikan studi yang sangat bagus mengenai masalah eksegesis, sejarah-budaya dan bahasa tentang "ucapan yang sulit" dan teks-teks Alkitab yang berkaitan.


-----


Disalin dari :
Manfred T Brauch, Ucapan Paulus yang Sulit, SAAT Malang, p. 250-243

Rabu, 16 Mei 2018

Kata-kata Bijak

Bersama Yesus Pasti Bisa



Bersama Yesus melakukan perkara yang besar.
Jika kita menjadi terang di tempat kegelapan, kita harus ikut dan tinggal bersama  dalam kegelapan itu untuk menjadi terang. Sebab sesuatu yang kita pandang dari jauh belum tentu benar adanya, pasti ada sesuatu yang baik tersembunyi di balik itu.  (Jaxwan)

Tak ada yang berbeda di antara kita
Tak ada perbedaan warna kulit, rambut,  suku dan bahasa, kita telah di persatuan oleh Kristus maka kita semua adalah keluarga Allah.


Selasa, 15 Mei 2018

Senin, 14 Mei 2018

Apa itu Penyembuhan Batin?

Penyembuhan Luka Batin

"Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita." (Matius 8:17)
"Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan. Dan Allah yang menyelidiki hati nurani, mengetahui maksud Roh itu, yaitu bahwa Ia, sesuai dengan kehendak Allah, berdoa untuk orang-orang kudus." (Roma 8:26-27)

Sabtu, 05 Mei 2018

Anak dan Internet

Ilustrasi Anak dan Internet


"Bangsa yang menguasai teknologi akan memimpin dunia."
Mungkin ungkapan ini sudah terasa usang di telinga kita. Terlalu banyak tokoh menyerukan ungkapan seperti ini. Perdana Menteri Jepang misalnya, saat menerima kekalahan dalam Perang Dunia II, ia pun memotivasi rakyatnya untuk mempelajari teknologi sedalam mungkin agar dapat bangkit kembali dari kekalahan.
Bill Gates, pemimpin Microsoft yang sekaligus menjadi orang terkaya di dunia, bahkan membuktikan secara personal bahwa teknologi dapat menguasai dunia. Sekarang ini, siapa pengguna Personal Computer (PC) yang tidak mengenal program Windows, Word, atau Excel?
Kemudian pemimpin Oracle, Lawrence Elisson, juga pernah mengingatkan pentingnya teknologi bagi kemajuan umat manusia. Bahkan, tokoh yang pernah dinobatkan sebagai orang terkaya nomor dua di dunia ini menambahkan bahwa peran itu harus dimulai sejak anak-anak karena merekalah yang nantinya akan menjadi penerus generasi yang ada sekarang. Oleh karena itu, pengenalan mengenai internet adalah satu awal yang sangat baik.
Internet memang merupakan satu bentuk perkembangan teknologi yang sedang berkembang pesat saat ini. Banyak hal positif yang bisa dilakukan dengan internet. Informasi yang tak terbatas, fasilitas e-mail yang dapat menggantikan posisi surat konvensional sebagai media komunikasi tertulis, merupakan beberapa contoh positif dari perkembangan internet. Namun, tentu saja tidak tertutup kemungkinan adanya hal-hal negatif yang mengiringinya, seperti pornografi, penipuan kartu kredit, dan beberapa contoh lain seperti yang sering diangkat di media lainnya.
Pengajaran internet untuk anak-anak sebenarnya sudah mulai dipikirkan sejak beberapa tahun lalu. Waktu itu, beberapa tempat kursus komputer di Jakarta sudah mulai membuka program "Internet for Kids". Sayangnya, masih ada beberapa pihak yang menilai bahwa hal itu terlalu berlebihan. Untuk apa anak usia enam tahun, dengan penguasaan bahasa Inggris nol, mempelajari internet yang petunjuknya sebagian besar memakai bahasa Inggris? Untuk apa mengajarkan teknologi kepada anak-anak sementara orang dewasa pun masih jarang menggunakannya? Dan untuk apa mengajarkan anak-anak sebuah pengetahuan yang dapat menyimpang ke hal-hal berbau pornografi?
Semua opini bisa saja diungkapkan. Tapi bila boleh menengok ke belakang, saat bangsa Jepang kalah pada Perang Dunia II, mereka secara massal menerjemahkan buku ilmu pengetahuan dari Jerman. Saat itu hanya segelintir orang saja yang menguasai bahasa Jerman. Namun, hal tersebut tidak menghambat mereka untuk tetap menerjemahkan buku-buku tersebut untuk kemudian menyebarluaskannya untuk dipelajari. Akhirnya satu demi satu, industri berbasis teknologi muncul. Saat ini mereka sudah menjadi sebuah bangsa yang besar dengan industri teknologi yang canggih.
Mengajarkan internet untuk anak-anak usia enam sampai dua belas tahun bukanlah suatu hal yang terlalu dini. Materi internet untuk anak dalam segala usia telah tersedia lengkap. Internet bukanlah sebuah teknologi yang rumit. Saat ini perkembangan teknologi sangat cepat. Arus informasi harus ditanggapi dengan cepat pula. Pilihannya: Ingin mengikuti perkembangan zaman atau menjadi pihak yang terbelakang dalam memeroleh informasi.
Ketakutan akan pornografi pun sebenarnya merupakan ketakutan semu. Dengan mengajarkan internet secara benar pada anak, misalnya dengan membiasakan anak mencari informasi melalui internet atau membiasakan anak memanfaatkan e-mail sebagai media komunikasi, sedikit banyak dapat menumbuhkan satu hal baru yang positif di otak mereka. Jangan biarkan anak terlebih dahulu mengetahui teknologi ini dari pihak yang kurang tepat. Kalau Anda mencintainya, bimbinglah anak Anda untuk mengenalnya sejak dini.
Jadi sebenarnya, ketakutan untuk mengajarkan internet pada anak adalah sesuatu yang tidak perlu terjadi.
PENTINGNYA INTERNET BAGI ANAK
Tanpa terasa, masa pengenalan internet telah berlalu. Internet tidak lagi asing bagi kita. Kini internet telah menjadi suatu kebutuhan tersendiri karena banyaknya manfaat dan fasilitas yang dapat diambil darinya. Salah satunya adalah fasilitas e-mail, yang kini telah menduduki peran yang signifikan dalam komunikasi baik secara personal maupun secara instansi dan lembaga. E-Commerce pun telah menjadi alternatif lain dari dunia bisnis.
Sejalan dengan perkembangan tersebut, terkadang masih ada beberapa hal yang mungkin lepas dari perhatian kita. Karena begitu mudahnya informasi didapat oleh siapa saja yang dapat mengakses internet. Maka anak-anak pun, tanpa bimbingan dan pengarahan yang tepat, pasti akan terimbas oleh dampak negatifnya.
Menurut Dr. Howard Gardner dari Harvard University, Amerika Serikat, pada diri seorang anak biasanya terdapat tujuh kemampuan (intelegensi). Tujuh intelegensi itu meliputi:
  1. Kemampuan dasar seseorang, yaitu bahasa atau linguistik;
  2. Kemampuan logika yang mencakup rasionalitas, mengurutkan kejadian atau menarik hubungan antara simbol yang satu dengan lainnya;
  3. Kemampuan visual, yaitu kemampuan berpikir berdasarkan gambar, ruang, atau bentuk;
  4. Kemampuan musikal atau ritme;
  5. Kemampuan mengendalikan atau meningkatkan fisiknya;
  6. Kemampuan interpersonal, yaitu kemampuan berhubungan dengan orang lain; dan
  7. Kemampuan intrapersonal, yaitu kemampuan untuk kewaspadaan diri.
Dengan mengacu pada ketujuh kemampuan tersebut, teknologi internet yang diajarkan dengan tepat dan benar akan dapat meningkatkan minimal empat kemampuan. Tak heran bila beberapa sekolah dasar swasta terkemuka di Indonesia sekarang ini mulai memasukkan pelajaran komputer sebagai pelajaran wajib. Bahkan beberapa di antaranya sudah mulai mengajarkan internet kepada siswa kelas 3 SD. Di sekolah tersebut, anak dipandu untuk mempelajari internet. Mereka memiliki pembimbing yang menunjukkan berbagai hal positif dari internet.
Anak yang tidak diberi pengertian dan pelajaran mengenai internet, kebanyakan akan mendapatkannya dari teman-teman sebayanya. Bila demikian, maka tidak jarang hal-hal negatif yang terlebih dahulu terekam dalam otaknya. Tentu hal ini tidak diharapkan akan terjadi.
Kebanyakan anak memiliki keingintahuan yang besar. Mereka antusias dan siap mencoba segala hal baru. Sementara itu, teman-teman mereka juga akan dengan bangga menunjukkan apa yang diketahuinya, terutama hal-hal yang belum pernah mereka lakukan sebelumnya, termasuk hal-hal yang negatif.
Untuk masa sekarang, keharusan menyediakan fasilitas internet untuk semua sekolah tentu masih belum dapat dilakukan. Hal ini mengingat penyediaan komputer beserta modemnya masih membutuhkan anggaran yang besar. Untuk menyikapinya, sekolah yang belum bisa menyediakan fasilitas internet bisa mencoba untuk mendapatkannya melalui kerja sama dengan pihak ketiga seperti perusahaan penjual komputer dan lembaga kursus komputer.
Namun, bila sekolah benar-benar tidak mampu menyediakan fasilitas tersebut, maka Anda sebagai orang tua wajib mewujudkannya. Ini tidak berarti bahwa Anda harus berlangganan internet untuk putra-putri Anda. Namun, Anda dapat mengajak anak-anak Anda ke warnet pada waktu-waktu tertentu dengan jadwal yang Anda atur sendiri. Bila Anda melakukannya dengan tepat, hal ini sudah cukup efektif untuk mengajarkan internet pada anak.
INTERNET DALAM BAHASA ANAK-ANAK
Internet di mata anak-anak merupakan sesuatu yang abstrak. Mereka belum memahami manfaat nyata internet bagi kehidupan mereka sehari-hari. Anda dapat menggunakan pendekatan yang sesuai dengan ketertarikan anak-anak, seperti tokoh idola, cerita kepahlawanan, atau pun permainan. Berbagai hal lain yang menarik perhatian anak juga dapat digunakan untuk memperkenalkan mereka dengan internet.
Anak-anak akan lebih mudah menerima jika pembelajaran internet disampaikan dalam bentuk cerita. Orang tua dapat menceritakan bagaimana polisi memburu penjahat dengan memanfaatkan internet guna mendapatkan data dan informasi. Melalui internet, polisi dapat mencari nama, alamat, dan melihat foto terakhir sang penjahat sehingga pada akhirnya polisi dapat menangkap penjahat tersebut.
Contoh lain, Anda dapat mengajak anak-anak untuk mencari berita tentang tokoh idola mereka. Dari internet mereka dapat mengoleksi foto-foto, berkirim surat, membaca informasi terbaru, atau bahkan mengobrol secara langsung dengan tokoh idola tersebut.
Untuk mengembangkan wawasan anak, internet dapat diilustrasikan sebagai sebuah perpustakaan yang paling lengkap. Dengan internet, anak-anak dapat memilih buku cerita tentang pengetahuan alam, pengetahuan sosial, olah raga, atau kartun. Di sini, anak-anak dirangsang untuk mengeksplorasi internet sesuai keinginan dan kebutuhannya. Dengan begitu, anak akan dapat menarik kesimpulan sendiri tentang sarana yang bernama internet itu.
Namun, kita juga harus ingat bahwa dunia anak adalah dunia bermain. Bermain merupakan metode yang dipakai seorang anak untuk belajar menjadi dewasa dan mandiri. Bermain juga berguna untuk melatih berbagai macam bakat dan keterampilan. Dengan demikian dalam membantu anak belajar, hendaknya kita tidak menggunakan cara-cara yang formal dan kaku. Sesuaikan pengajaran dengan umur anak dan jangan tergesa mengajarkan hal-hal yang rumit. Ketertarikan awal sangat penting bagi proses pengajaran selanjutnya. Bila perlu, tunjukkan kesenangan yang dapat diperoleh anak melalui internet. Misal, bila anak suka membaca, bawa mereka ke situs-situs yang menyediakan cerita-cerita anak. Bila anak senang bermain, internet juga menyediakan situs-situs yang berisi permainan (game). Dengan membuka situs-situs tersebut, maka anak-anak dapat belajar, bermain, dan bergembira. Dengan demikian secara tidak langsung, pengajaran internet pada anak sudah dilakukan.
DEFINISI YANG TEPAT
Sebelum mengajarkan internet kepada anak-anak, tentunya Anda sendiri juga harus tahu apa itu internet. Akan tetapi, tentu bukan definisi yang Anda peroleh dari kamuslah yang Anda berikan kepada anak-anak. Sebaliknya, Anda harus menggunakan kalimat yang sederhana agar mereka dapat mengerti. Salah satu pengajar mengungkapkan bahwa anak-anak sulit menerima penjelasan secara langsung. Definisi teknis sebaiknya jangan diberikan. Anda dapat menggunakan ilustrasi yang sudah dikenal dengan baik oleh anak-anak.
Untuk anak-anak yang tinggal di kota besar, internet dapat diilustrasikan sebagai sebuah televisi dengan saluran (channel) yang tak terhingga. Hanya saja, berbeda dengan mengganti saluran-saluran di televisi yang dapat dilakukan hanya dengan memencet tombol. Di internet mereka harus terlebih dahulu mengetik alamat channel yang akan dituju. Misal, bila ingin mengunjungi saluran Unikids, anak harus terlebih dulu menulis "unikids.com". Ilustrasi seperti ini akan lebih mudah dicerna oleh anak.
Jangan heran bila kemudian muncul pertanyaan-pertanyaan lanjutan dari anak. Beberapa contoh pertanyaan lanjutan yang sering terlontar misalnya, "Mengapa tidak ada filmnya?", "Mengapa tidak ada iklannya?", "Kok tidak ada suaranya?", dan lain-lain. Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut harus sesuai dengan ilustrasi yang dikemukakan. Anak mungkin akan bingung jika kita menggunakan ilustrasi yang berlainan.
Saat memperkenalkan internet pada anak, kita tidak perlu memberikan teori terlebih dahulu. Mengingat daya ingat anak masih sangat terbatas, akan lebih baik bila pembelajaran langsung dilakukan dengan praktik, langsung dengan menghadap komputer bersama anak.
Diambil dan disunting seperlunya dari:
Judul buku:Internet for Kids
Judul artikel:Anak dan Internet
Penulis:Yudhi Herwibowo dan Toni Hendrono
Penerbit:ANDI, Yogyakarta 2003
Halaman:1 -- 5
Dipublikasikan di:e-BinaAnak, edisi 256
Alamat URL:http://www.sabda.org/publikasi/e-binaanak/25

Jumat, 13 April 2018

KRISTUS DALAM KEBANGKITANNYA



 
Yesus Telah Bangkit


Kebangkitan Yesus Kristus adalah salah satu kebenaran dasar dari iman Kristen. Murid-murid yang mula-mula didorong untuk bersaksi bagi Kristus sebab mereka percaya bahwa Yesus Kristus telah benar-benar mati dan benar-benar bangkit kembali secara badaniah dari kuburNya. James Orr memberikan komentar, 

Kamis, 22 Maret 2018

Selasa, 30 Januari 2018

Menyalin Hubungan Pacaran Yang Baik Secara Kristen

Bungga Merupakan Simbol Kasih Sayang ( Jazwanphoto)

Pernikahan adalah salah satu momen yang paling berharga yang terjadi didalam hidup seseorang. Dan tentunya untuk mendapatkan seseorang yang bisa mengerti dan bisa diajak berkomunikasi dengan baik dan satu pemikiran dengan kita yang bisa saling menerima satu sama lain bukanlah hal yang mudah. Oleh karena itu sebelum diikrarkannya janji pernikahan kristen, kita akan melalui masa yang disebut dengan masa pacaran.