Minggu, 16 Desember 2018

APOLOGETIKA TERHADAP PERAYAAN NATAL


Dok. Pribadi Sulhit News.  |Pada Perayaan Natal  Jemaat GIDI Anugerah Bersama Pemerintah Kota Manado  10 Desember 2016| . |Foto by. Jazwan W. Yanengga|

Tulisan yang dicetak miring, dibold dan berwarna merah adalah tulisan yang berjudul Sejarah Natal, oleh Herbert W. Armstrong. Berikut ini adalah apologi [pembelaan iman] atas tulisan tersebut.
Kata Christmas (Natal) yang artinya Mass of Christ atau disingkat Christ-Mass, diartikan sebagai hari untuk merayakan kelahiran “Yesus”. Perayaan yang diselenggarakan oleh non-Kristen dan semua orang Kristen ini berasal dari ajaran Gereja Kristen Katholik Roma. Tetapi, dari manakah mereka mendapatkan ajaran itu?.  Sebab Natal itu bukan ajaran Bibel (Alkitab), dan Yesus pun tidak pernah memerintah para muridnya untuk menyelenggarakannya. Perayaan yang masuk dalam ajaran Kristen Katholik Roma pada abad ke-4 ini berasal dari upacara adat masyarakat penyembah berhala.
Iman Katolik tidak hanya didasarkan pada kitab suci saja. Karena itu tidak masalah apabila perayaan Natal tidak terdapat di Kitab Suci, dan tentu saja perayaan Natal tidak berasal dari upacara adat penyembah berhala.
Terdapat tiga teori mengapa hari Natal dirayakan tanggal 25 Desember.
The first theory is the simplest. An old story says that, in about the year 350, Pope Julius I looked up the date of Jesus’ birth in the census records. Certainly there is nothing outlandish in the idea of census records holding that information even three and a half centuries later. We know from Luke’s Gospel that Jesus was born during a census. The Romans, with their almost compulsive love of order, might well have kept those records forever in some bureaucratic hole in Rome.
The second theory has it that Christians, unable to stamp out a pagan midwinter celebration, simply took it over. Throughout history, people have celebrated the passing of the shortest day in the year, the solstice. When the days begin to lengthen again, it means that the death of winter will certainly pass, and the world will be reborn in spring.
The third theory to account for the specific date December 25 is that it corresponded with the early Church’s notion of Jesus’ perfect life. Tradition had it that Jesus died on March 25. In order for His life to be appealingly perfect, the theologians reasoned, He must also have been conceived on March 25, then born exactly nine months later – (Source)
Update :
Penjelasan Paus Benediktus XVI bahwa 25 Desember adalah tanggal historis kelahiran Yesus Kristus :
Tahun 2000, Joseph Cardinal Ratzinger menulis dalam bukunya The Spirit of the Liturgy bahwa tradisi Yahudi menganggap bahwa Abraham hampir mengurbankan Ishak di gunung Moriah pada 25 Maret. Gunung Moriah berada di Yerusalam (lih. 2 Chron 3:1), dan 25 Maret adalah tanggal dimana Kristus disalib pada kalender  solar (Paskah seperti Paskah Mosaic dikalkulasi oleh fenomena lunar). Anda bisa melihat bahwa ada hubungan geografis dan temporal disini. Kita memahami bahwa Bapa dengan rela mempersembahkan Putra-Nya yang tunggal.
Kardinal Ratzinger juga mencatat bahwa 25 Maret merupakan hari pertama penciptaan. Karenanya, 25 Maret memiliki makna kosmis.  Hal yang penting adalah bahwa 25 Maret adalah tanggal tradisional untuk penciptaan dunia, untuk kurban Abraham, dan untuk kurban Allah Putra.
Pada halaman 107-108, Kardinal Ratzinger membuat observasi bahwa kematian Kristus juga dianggap sebagai hari dimana Ia dikandung oleh Roh Kudus dalam rahim Perawan Maria. 25 Maret, adalah hari dimana Malaikat Gabriel memberi kabar sukacita pada Bunda Maria. Tambah 9 bulan maka anda akan tiba pada 25 Desember sebagai hari kelahiran Yesus.
Ratzinger juga membuang apa yang ia sebut “teori-teori lama” yang mengajarkan bahwa 25 Desember dipilih untuk menggantikan hari raya pagan. Namun Bapa Suci mengakui 25 Desember sebagai hari kelahiran Kristus Tuhan yang sebenarnya. Ia mengembangkan bahwa kesejajaran makna ini memiliki makna liturgis.
Paus St. Leo Agung berbicara tentang makna kelahiran Kristus pada musim salju :
Tapi kelahiran Yesus ini yang disembah di surga dan diatas bumi ditunjukkan bagi kita pada hari ini, dengan terang awal yang masih memancarkan sinarnya di alam, [terang] ini memperlihatkan bagi indra kita kegemilangan misteri yang menakjubkan ini (St. Leo Magnus, Sermo 26)
(Sumber)

Argumen Berdasarkan Tulisan Bapa Gereja
Kutipan paling eksplisit berasal dari St. Agustinus, yang menunjukkan bahwa Yesus lahir pada 25 Desember :
“For Christ is believed to have been conceived on the 25th of March, upon which day also he suffered; so the womb of the Virgin, in which he was conceived, where no one of mortals was begotten, corresponds to the new grave in which he was buried, wherein was never man laid, neither before him nor since. But he was born, according to tradition, upon December the 25th.”
“Karena Kristus dipercaya bahwa Ia dikandung pada tanggal 25 Maret, juga pada tanggal itu Ia menderita; sehingga rahim sang Perawan, dimana Ia diakndung, dimana tidak ada manusia lain yang dilahirkan dari rahim tersebut, berhubungan dengan makam baru dimana Ia dikubur, tempat dimana tidak pernah manusia dibaringkan, tidak sebelum Ia juga sejak itu. Tapi Ia lahir, menurut Tradisi, pada 25 Desember” –
– Saint Augustine, De trinitate, Book 4, 5.
Berikut ini kutipan dari Bapa Gereja yang menyatakan bahwa kelahiran Kristus dirayakan tanggal 25 Desember (dikutip dari Indonesian-Papist) :
Bapa Gereja Teofilus, Uskup Caesarea di Palestina (115-181 M), yang hidup dalam masa pemerintahan Kaisar Commodus mungkin adalah orang pertama yang secara eksplisit memberikan pernyataan mengenai Natal:
“Kita harus merayakan hari kelahiran Tuhan kita pada tanggal 25 Desember yang akan berlangsung.” [Magdeurgenses, Cent. 2.c.6. Hospinian, de Origin Festorum Christianorum]
Sextus Julius Africanus (220 AD), walau tidak berbicara mengenai adanya perayaan Natal, ia secara implisit menyatakan bahwa 25 Desember sebagai tanggal kelahiran Kristus. Dalam bukunya Chronographia, ia mengatakan bahwa dunia diciptakan pada tanggal 25 Maret berdasarkan kronologi Yahudi dan sejarah Kristen Perdana. Ia mengatakan bahwa pada tanggal 25 Maret ini, Sang Firman Allah menjelma menjadi manusia; hal ini membuat sense simbolis yang sempurna karena pada saat Penjelmaan ini, penciptaan yang baru dimulai. Berdasarkan Julius Africanus, karena Sang Firman Allah menjelma menjadi manusia sejak masa Dia dikandung oleh Perawan Maria, hal ini berarti setelah 9 bulan, Sang Firman Allah yang telah menjadi manusia itu lahir pada tanggal 25 Desember.
St. Hipolitus dari Roma, pentobat yang dulunya seorang anti-Paus pada masa penggembalaan Paus St. Zephyrinus, Paus St. Kallistus I, Paus St. Urbanus I dan Paus St. Pontianus, secara eksplisit juga menyatakan bahwa Yesus Kristus lahir pada tanggal 25 Desember:
Untuk kedatangan pertama Tuhan kita dalam daging, [terjadi] ketika Ia lahir di Betlehem,eight days before the kalends of January (25 Desember), hari keempat (Rabu) dalam minggu ketika Augustus (kaisar Romawi) dalam 42 tahun [pemerintahannya] tetapi dari Adam 5500 tahun. Ia (Yesus) menderita pada [usia] 33 tahun, eight days before the kalends of April(25 Maret), tahun kelimabelas Kaisar Tiberius ketika Rufus dan Roubellion dan Gaius Caesar, untuk keempat kalinya, dan Gaius Cestius Saturninus menjadi konsul [di Roma]. (St. Hippolytus of Rome (c. 225 AD), Commentary on Daniel 4.23.3)
Sedangkan, Bapa Gereja Yohanes, Uskup Nicea, memberitahu kita bahwa Paus St. Julius I (336-352)dengan bantuan tulisan-tulisan dari sejarawan Yahudi,Josephus, telah memastikan bahwa Kristus lahir pada tanggal 25 Desember.
Pada akhir abad keempat, Uskup Epifanius dari Salamis (salah satu sejarahwan Gereja) memberikan kronologi kehidupan Tuhan Yesus Kristus di mana menurut Kalender Julian (saat ini Gereja Katolik Roma menggunakan Kalender Gregorian) tanggal 6 Januari adalah hari kelahiran Tuhan dan 8 November adalah hari pembaptisan Tuhan di Sungai Yordan.
Pada permulaan abad kelima, biarawan terpelajar, St. Yohanes Kassianus dari Konstantinopel, pergi ke Mesir untuk mempelajari peraturan-peraturan biara di sana. Antara tahun 418 hingga 425, St. Yohanes Kassianus menulis laporan pengamatannya. Dia memberitahukan kita bahwa uskup-uskup di wilayah itu, pada masa tersebut, menganggap Pesta Epifani (Penampakan Tuhan) sebagai hari kelahiran Tuhan dan tidak ada perayaan terpisah dalam menghormati kelahiran Tuhan. Dia menyebut hal ini “tradisi kuno”. Kebiasaan lama ini segera memberi jalan bagi tradisi baru. Sementara mengunjungi St. Sirillus, Patriark Alexandria;
Uskup Paulus dari Emesa berkhotbah pada perayaan kelahiran Tuhan Yesus pada 25 Desember tahun 432 M. Natal telah diperkenalkan kepada Mesir sebelum waktu kunjungan ini, dapat dikatakan sekitar 418 dan 432 M dan peristiwa ini menjadi bukti kuat berdasarkan kalender yang telah ada.
St. Gregorius dari Nazianzus, Bapa Gereja dan Uskup, selama tinggal di daerah Seleucia di Isauria (Turki sekarang) merayakan Natal untuk pertama kalinya di Konstantinopel pada tanggal 25 Desember 379.
St. Yohanes Krisostomos, Bapa Gereja dan Uskup, berkhotbah di Antiokia pada tanggal 20 Desember 386 dan karena kefasihan pewartaannya, ia berhasil mengajak umat beriman untuk menghadiri Natal 25 Desember 386. Sejumlah besar umat beriman hadir di Gereja ketika Natal dirayakan. Kita memiliki salinan khotbah St. Yohanes Krisostomos. Pada Pengantar khotbah, ia berkata bahwa ia berharap dapat berbicara kepada mereka mengenai perayaan Natal yang telah menjadi kontroversi besar di Antiokia. Dia mengusulkan kepada para pendengarnya untuk menghormati dan merayakan Natal dengan tiga dasar: Pertama, karena Natal telah menyebar dengan cepat dan pesat dan telah diterima dengan baik di berbagai daerah. Kedua, karena waktu pelaksanaan sensus pada tahun kelahiran Yesus dapat ditentukan dari berbagai dokumen kuno yang tersimpan di Roma; Ketiga, waktu kelahiran Tuhan Yesus dapat dihitung dari peristiwa penampakan malaikat kepada Zakarias, ayah Yohanes Pembaptis, di Bait Allah. Zakarias, sebagai Imam Agung, masuk ke dalam Tempat Mahakudus pada Hari Penebusan Dosa Yahudi (The Jewish Day of Atonement). Hari tersebut jatuh pada bulan September menurut kalender Gregorian. Enam bulan sesudah peristiwa ini, malaikat Gabriel datang kepada Maria dan enam bulan kemudian Yesus Kristus lahir, yaitu pada bulan Desember. St. Yohanes Krisostomos menyimpulkan khotbahnya dengan sanggahan telak terhadap orang-orang yang menolak bahwa Sang Allah telah menjadi manusia dan tinggal di dunia. St. Yohanes Krisostomos, dengan mengacu pada khotbah di atas, mengatakan dengan jelas bahwa pada masa tersebut, ketika perayaan Natal diperkenalkan di Timur, Natal telah dirayakan di Roma lebih dulu.(Sumber)
Karena perayaan Natal yang diselenggarakan di seluruh dunia ini berasal dari Katholik Roma, dan tidak memiliki dasar dari kitab suci, maka marilah kita dengarkan penjelasan dari Katholik Roma dalam Catholic Encyclopedia, edisi 1911, dengan judul : Christmas, Anda akan menemukan kalimat yang berbunyi sebagai berikut :
”Christmas was not among the earliest festivals of Church…the first evidence of the feast is from Egypt. Pagan customs centering around the January calends gravitated to Christmas”.
Artinya : “Natal bukanlah upacara Gereja yang pertama….melainkan ia diyakini berasal dari Mesir. Perayaan yang diselenggarakan oleh para penyembah berhala dan jatuh pada bulan Januari, kemudian dijadikan hari kelahiran Yesus” [selesai].
Mari kita melihat apa yang dikatakan Catholic Encylopedia : Christmas
Early celebration
Christmas was not among the earliest festivals of the Church.Irenaeus and Tertullian omit it from their lists of feasts; Origen, glancing perhaps at the discreditable imperial Natalitia, asserts (in Lev. Hom. viii in Migne, P.G., XII, 495) that in the Scriptures sinners alone, not saints, celebrate their birthday; Arnobius (VII, 32 in P.L., V, 1264) can still ridicule the “birthdays” of the gods.
Alexandria
The first evidence of the feast is from Egypt. About A.D. 200, Clement of Alexandria (Stromata I.21) says that certain Egyptian theologians “over curiously” assign, not the year alone, but the day of Christ’s birth, placing it on 25 Pachon (20 May) in the twenty-eighth year of Augustus. [Ideler (Chron., II, 397, n.) thought they did this believing that the ninth month, in which Christ was born, was the ninth of their own calenda.]…
Ini adalah kutipan yang lebih lengkap pada kalimat pertama dan kalimat kedua (lihat yang dibold). Sang penulis hanya mengutip sebagian, sehingga mengaburkan makna yang sesungguhnya. Terkesan bahwa karena Natal itu berasal dari Mesir, maka pasti berasal dari kaum pagan.
Dari kutipan diatas, memang dikatakan bahwa Natal [tidak ada] diantara festival pada masa awal Gereja. Irenaeus dan Tertullian mengabaikan dari daftar pesta mereka. Namun setelah ditelusuri lebih jauh, terlihat bahwa kutipan tersebut memiliki makna yang berbeda dari yang dimaksudkan. Juga bila kita membaca kutipan Bapa Gereja diatas, paling awal perayaan Natal mungkin dirayakan sekitar tahun 100 AD.
Kalimat kedua bisa dibaca lebih lengkap di link CE. Konteks kalimat tersebut berbeda dan tampaknya penulis sengaja menggabungkan bagian kalimat tersebut untuk mendukung pernyataannya (i.e. bahwa Natal berasal dari perayaan pagan)

Liturgy and custom
Cards and presents
Pagan customs centering round the January calends gravitated to Christmas.Tiele (Yule and Christmas, London, 1899) has collected many interesting examples. The strenæ (eacute;trennes) of the Roman 1 January (bitterly condemned by Tertullian, de Idol., xiv and x, and by Maximus of Turin, Hom. ciii, de Kal. gentil., in P.L., LVII, 492, etc.) survive as Christmas presents, cards, boxes.
Kutipan diatas tepatnya membicarakan tentang budaya hadiah, natal, kartu (mungkin maksudnya kartu natal). Lalu terjemahan yang diberikan dalam kutipan tadi rasanya tidak tepat, jadi silakan bandingkan sendiri dengan bahasa inggrisnya.
Dalam Ensiklopedi itu pula, dengan judul Natal Day; Bapak Katholik pertama mengakui bahwa :
”In the Scriptures, no one is recorded to have kept a feast or held a great banquet on his birthday. It is only sinners (like Pharaoh and Herod) who make great rejoicings over the day in which they were born into this world”.
Artinya : “Di dalam kitab suci, tidak ada seorang pun yang mengadakan upacara atau menyelenggarakan perayaan untuk merayakan hari kelahiran Yesus. Hanyalah orang-orang kafir saja (seperti Fir’aun dan Herodes) yang berpesta-pora merayakan hari kelahirannya di dunia ini” [selesai].
Mari kita lihat kutipan dari Origen :
of all the holy people in the Scriptures, no one is recorded to have kept a feast or held a great banquet on his birthday. It is only sinners (like Pharaoh and Herod) who make great rejoicings over the day on which they were born into this world below” (Origen, in Levit., Hom. VIII, in Migne P.G., XII, 495)
Kalimat “merayakan hari kelahiran Yesus” adalah terjemahan yang keliru dari “held a great banquet on his birthday” karena hari kelahiran yang dimaksud tidak ditujukan kepada hari kelahiran Yesus.
Dulu, orang-orang lebih merayakan hari kematian mereka daripada hari kelahiran mereka di dunia ini. Nah, hari kematian tersebut merupakan hari kelahiran mereka di dunia yang baru. Silakan dibaca kutipan dari Catholic Encyclopedia : Natal Day dibawah ini
In Greek genesia came to be frequently used in connection with the annual commemoration of a dead person by sacrifices and other rites (cf. Herodotus IV, 26). This commemoration is said to have taken place not upon the anniversary of the day of death but upon the actual birthday of the defunct person (C.I.G. 3417, and Rhode, Psyche, 4th ed., I, 235). When, therefore, the Christians of Smyrna about A.D. 150 write to describe how they took up the bones of St. Polycarp, “which are more valuable than precious stones and finer than refined gold and laid them in a suitable place, where the Lord will permit us to gather ourselves together, as we are able, in gladness and joy and to celebrate the birthday of his martyrdom” (epitelein ten tou martyriou autou hemeran genethlion), it is not easy to say how far they were influenced by pre-existing pagan usages. This phrase “the birthday of his martyrdom” certainly seems to indicate the commemoration of the day on which he died, and all the subsequent history of the Church confirms the practice of keeping this as the usual feast of any saint or martyr.
None the less a certain stress was often laid in Christian sermons and in mortuary inscriptions upon the idea that the day of a man’s death was his birthday to a new life. Thus St. Ambrose (Serm. 57, de Depos. St. Eusebii) declares that “the day of our burial is called our birthday (natalis), because, being set free from the prison of our crimes, we are born to the liberty of the Saviour”, and he goes on “wherefore this day is observed as a great celebration, for it is in truth a festival of the highest order to be dead to our vices and to live to righteousness alone.” And we find such inscriptions as the following

PARENTE FILIO MERCURIO FECE
RUNT QUI VIXIT ANN V ET MENSES VIII
NATUS IN PACE ID FEBR
Where “natus in pace” clearly refers to eternal rest. So again Origen had evidently some similar thought before him when he insists that “of all the holy people in the Scriptures, no one is recorded to have kept a feast or held a great banquet on his birthday. It is only sinners (like Pharaoh and Herod) who make great rejoicings over the day on which they were born into this world below” (Origen, in Levit., Hom. VIII, in Migne P.G., XII, 495)
Jadi kutipan dari Origen tersebut mendukung pemikiran dari St. Amborse : the day of our burial is called our birthday dan all the subsequent history of the Church confirms the practice of keeping this as the usual feast of any saint or martyr. Karena itu tepatlah apa yang dikatakan Bapa Gereja Origen. Artikel dari Catholic Encyclopedia diatas sama sekali tidak membahas tentang kelahiran Kristus yang dihubungkan dengan paganisme, melainkan lebih kepada sejarah bagaimana umat Kristen merayakan hari raya martir-martir tertentu ataupun orang yang sudah meninggal pada hari kematiannya.
Encyclopedia Britanica yang terbit tahun 1946 menjelaskan sebagai berikut :
”Christmas was not among the earliest festival of the church…. It was not instituted by Christ or the apostles, or by Bible authority, it was picked up afterward from paganism”.
Artinya : “Natal bukanlah upacara gereja abad pertama. Hal ini tidak pernah diselenggarakan oleh Yesus atau para muridnya, ataupun otoritas Bibel. Upacara ini diambil oleh gereja dari kepercayaan penyembah berhala” [selesai].
Semua benar kecuali kalimat yang terakhir
Encyclopedia Americana terbitan tahun 1944 juga menyatakan berikut :
”Christmas…. It was, according to many authorities, not celebrated in the first centuries of the Christian church, as the Christian usage in general was to celebrate the death of remarkable persons rather than their birth…” (The “Communion”, which is instituted by New Testament Bible authority, is a memorial of the death of Christ). “…A feast was established in memory of this event [Christ’s birth] in the fourth century. In the fifth century the Western Church ordered it to be celebrated forever on the day of the old Roman feast of the birth of Sol, as no certain knowledge of the da of Christ’s birth existed”.
Artinya : “Menurut para ahli, pada abad-abad permulaan, Natal tidak pernah dirayakan oleh gereja Kristen. Pada umumnya, umat Kristen hanya merayakan hari kematian orang-orang terkemuka saja, dan tidak pernah merayakan harikelahrian orang tersebut…”. (”Perjamuan Suci” yang tertera dalam Kitab Perjanjian Baru, hanyalah untuk mengenang hari kematian Yesus). ”…Perayaan Natal yang dianggap sebagai hari kelahiran Yesus, mulai diresmikan pada abad keempat Masehi. Dan pada abad kelima Masehi, Gereja Barat memerintahkan kepada umat Kristen untuk merayakan hari kelahiran Yesus, yang diambil dari hari pesta bangsa Romawi yang merayakan hari Kelahiran Sol (Dewa Matahari). Sebab tidak seorang pun yang mengetahui hari kelahiran Yesus” [selesai].
Kutipan yang sepotong-sepotong seperti ini bisa diambil keluar dari konteksnya (seperti yang dilakukan pada kutipan dari Catholic Encyclopedia), lalu dijadikan satu kesatuan untuk mendukung posisi penulis. Lebih baik hadirkan kutipan yang secara utuh beserta link ke referensi tersebut (bila ada).
Update : Mengenai argumen “Tanggal 25 Desember adalah perayaan kelahiran Kristus yang menggantikan perayaan “Natalis Solis Invicti” (“Birthday of the Unconquered Sun”). Perlu diingat bahwa perayaan tersebut diperkenalkan oleh Kaisar Aurelian di Roma tahun 274 AD.
Hal terpenting, tidak ada catatan sejarah untuk peryaan Sol Invictus pada 25 Desember sebelum 354 AD. Bahkan pada 354 AD, tanggal tersebut hanya menunjuk pada “Invictus” tanpa menyebutkan hari kelahirannya. Tanggal tersebut secara eksplisit menjadi “Birthday of the Unconquered Son” dibawah pemerintahan Kaisar Yulian Si Murtad (The Apostate), yang sebelumnya beragama Kristen namun pindah menjadi paganisme romawi. Sejarah menunjkkan bahwa Mantan Kaisar Kristen (yang membenci Kristus) yang mendirikan hari libur pagan pada 25 Desember.
Mengapa hal ini penting? Karena artinya bahwa “the Unconquered Son” mungkin bukanlah dewa yang populer di kekaisaran Romawi. Hal ini menunjukkan bahwa rakyat Romawi kuno tidak perlu memikirkan hari libur “the Unconquered Son” tersebut. Terlebih, tradisi perayaan 25 Desember tidak ditemukan dalam kalender Romawi sampai setelah Kristenisasi Roma. Hari kelahiran “the Unconquered Son” bukan perayaan tradisional dan hampir tidak populer. Saturnalia justru lebih populer, tradisional dan menyenangkan. Hal tersebut malah menunjukkan bahwa Kaisar Julian berupaya untuk mengenalkan hari raya Pagan untuk menggantikan hari Raya Kristen pada 25 Desember! (Sumber)
Sekarang perhatikan ! Fakta sejarah telah membeberkan kepada kita bahwa mulai lahirnya gereja Kristen pertama sampai dua ratus atau tiga ratus tahun kemudian – jarak waktu yang lebih lama dari umur negara Amerika Serikat – upacara Natal tidak pernah dilakukan oleh umat Kristen. Baru setelah abad keempat, perayaan ini mulai diselenggarakan oleh orang-orang Kristen Barat, Kristen Roma, dan Gereja. Menjelang abad kelima, Gereja Roma memerintahkan untuk merayakan sebagai hari raya umat Kristen yang resmi.
Menurut Catholic Encyclopedia, pesta Natal pertama kali di sebut dalam “Depositio Martyrum” dalam Roman Chronograph 354 [edisi Valentini-Zucchetti (Vatican City, 1942) 2:17). Dan karena Depositio Marrtyrum ditulis sekitar tahun 336, maka disimpulkan bahwa perayaan Natal dimulai sekitar pertengahan abad ke-4. Kita juga tidak tahu secara persis tanggal kelahiran Kristus, yang diperkirakan sekitar 8-6 BC. St. Yohanes Chrysostom berargumentasi bahwa Natal memang jatuh pada tanggal 25 Desember, dengan perhitungan kelahiran Yohanes Pembaptis. Karena Zakaria adalah iman agung dan hari Atonement jatuh pada tanggal 24 September, maka Yohanes lahir tanggal 24 Juni dan Kristus lahir enam bulan setelahnya, yaitu tanggal 25 Desember. (sumber: New Catholic Encyclopedia, Vol. 3: Can-Col, 2nd ed. (Gale Cengage, 2002), p.655-656.) (Jawaban dikutip dari katolisitas.org)

YESUS TIDAK LAHIR PADA TANGGAL 25 DESEMBER
Sungguh sangat mustahil jika Yesus dilahirkan pada musim dingin [1]. Sebab Injil Lukas 2:11 menceritakan suasana di saat kelahiran Yesus sebagai berikut :
“Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam. Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan di dekat mereka dan kemuliaan Tuhan bersinar meliputi mereka dan mereka sangat ketakutan. Lalu kata malaikat itu kepada mereka : ”Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa : Hari ini telah lahir bagimu Juru selamat, yaitu Kristus, di kota Daud” [selesai].
Tidak mungkin para penggembala ternak itu berada di padang Yudea pada bulan Desember. Biasanya, mereka melepas ternak ke padang dan lereng-lereng gunung. Paling lambat tanggal 15 Oktober, ternak tersebut sudah dimasukkan ke kandangnya untuk menghindari hujan dan hawa dingin yang menggigil. Bibel sendiri dalam Perjanjian Lama, kitab Kidung Agung 2; dan Ezra 10:9,13 menjelaskan bahwa bila musim dingin tiba, tidak mungkin para gembala dan ternaknya berada di padang terbuka di malam hari.
Adam Clarke mengatakan :
”It was an ancient custom among Jews of those days to send out their sheep to the field and desert about Passover (early spring), and bring them home at commencement of the first rain” [Adam Clarke Commentary, Vol. 5, Page 370, New York].
Artinya : “Adalah kebiasaan lama bagi orang-orang Yahudi untuk menggiring domba-domba mereka ke padang menjelang Paskah (yang jatuh awal musim semi), dan membawanya pulang pada permulaan hujan pertama” [selesai].

Adam Clarke melanjutkan :
“During the time they were out, the shepherds watch them night and day. As….the first rain began early in the month of Marchesvan, which answers to part of our October and November (begins sometimes in October), we find that the sheep were kept out in the open country during the whole summer. And, as these shepherd had not yet brought home their flocks, it is presumptive argument that October had not yet commenced, and that, consequently, our Lord was not born on the 25th of December, when no flock were out in the fields; nor could He have been born later than September, as the flocks were still in the fields by night. On this very ground, the Nativity in December should be given up. The feeding of the flocks by night in the fields is a chronological fact… See the quotations from the Talmudists in the Lightfoot”.
Artinya : “Selama domba-domba berada di luar, para penggembala mengawasinya siang dan malam. Bila…hujan pertama mulai turun pada bulan Marchesvan, atau antara bulan Oktober dan Nopember, ternak-ternak itu mulai dimasukkan ke kandangnya. Kita pun mengetahui bahwa domba-domba itu dilepas di padang terbuka selama musim panas. Karena para penggembala belum membawa pulang domba-dombanya, berarti bulan Oktober belum tiba. Dengan demikian dapatlah diambil kesimpulan bahwa Yesus tidak lahir pada tanggal 25 Desember, ketika tidak ada domba yang berkeliaran di padang terbuka. Juga tidak mungkin dia lahir setelah bulan September, karena di bulan September inilah domba-domba masih berada di padang waktu malam. Dari berbagai bukti yang ada, kemungkinan lahir di bulan Desember itu harus disingkirkan. Memberi makan ternak di malan hari di padang gembalaan adalah fakta sejarah….sebagaimana yang diungkapkan oleh Talmud dalam bab ”Ringan Kaki” [selesai].
Ah..Adam Clarke adalah seorang methodis yang mengidentifikasi Gereja Katolik = anti Kristus. Silakan cari sumber lain yang lebih kredibel. Lalu pernyataan tentang para gembala dan ternak tidak mungkin berada diluar pada musim dingin di malam hari, sudah terjawab di artikel yang diberikan, terutama di bagian ini yang menunjukkan hal yang bertentangan dari yang dikatakan Herbert W. Armstrong :
As for the objection, “Jesus couldn’t have been born in the winter, since the shepherds were watching their flocks, which they couldn’t have done in winter”: This is really no objection. Palestine has a very mild climate, and December 25 is early enough in winter for the flocks and the shepherds to be out. The superior of our monastery, Brother Francis Maluf, grew up 30 miles from Beirut, which has the same climate as Bethlehem, both being near the Mediterranean coast, and he has personally testified to this fact.
Dan sebagai tambahan :
It is very true that December is winter time in Bethlehem or in Jerusalem. In fact, John 10:22 says that it was winter during the Feast of Dedication or Feast of the Light. The said feast is celebrated by the Jews during the 25th day of Chislev or December (1 Macc. 5:52); it marks the cleansing of the temple under the Maccabees and re-dedicating it to God and hence, it coincides with Christmas. But the problem with our Protestant friends is that, when they read that it was winter, they immediately concluded that the place must have been covered with snow! In logic, this fallacy is called the Confusion of the Absolute and Qualified Statement, that is, using a principle that is restricted in its applicability as though it were absolutely universal principle, and thus applying it to cases for which it was not intended [1] In America for example, though it is winter time during December, there are places which do not experience snow such as California. The same thing can be said about Bethlehem that although it is winter and cold, there is no snow covering the area during December. According to the International Station Meteorological Climate Summary (ISMCS,) the average temperature in Bethlehem is 49 Fahrenheit[2]. The average low i.e. during nighttime is 43 Fahrenheit[3] Therefore it is a mild winter, and not an icy winter, that occurs in Bethlehem during the month of December; so to our dearly separated brethren, the HALO-HALO argument is now a melted argument!
The issue that it is too cold for shepherds to go out during December night is partially addressed above. The temperature, as mentioned earlier, is tolerable for shepherds to withstand the coldness of the night. Moreover, Harper’s Encyclopedia of Bible Life [(C) 1971, pg. 7] explains that what is unique about Israel’s weather is that, winter season is NOT the “dead” season when plants die because of low temperature. On the contrary, it is the time of year when dormant vegetations are revived after the “dead” season of summer by the intermittent winter rains starting in mid-October and ending in mid-March. This being the case, and considering that the surrounding land just went through the dry season, depriving the sheep of sufficient food for months, it is very likely and logical that the shepherds would let their sheep out in the field during this season of revived vegetation so as to feed their flock. – (Source)
Intinya, musim dingin di Bethlehem masih memungkinkan bagi hewan-hewan untuk berada diluar. Superior Brother Andre Marie,  penulis artikel In Defense of Christmas, yaitu Brother Francis Maluf, memberi kesaksian terhadap hal ini seperti yang bisa dibaca di paragraf terakhir artikel teresbut.
Dalam ensiklopedi manapun atau juga dalam kitab suci Kristen sendiri akan mengatakan kepada kita bahwa Yesus tidak lahir pada tanggal 25 Desember. Catholic Encyclopdia sendiri secara tegas dan terang-terangan mengakui fakta ini.]
Namun dari Catholic Encyclopedia kita juga dapat mempelajari bagaimana tanggal 25 Desember dijadikan sebagai hari kelahiran Yesus Kristus.
Tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan hari kelahiran Yesus yang sebenarnya. Jika kita meneliti dari bukti-bukti sejarah dan kitab suci Kristen sendiri, saya bisa mengambil kesimpulan bahwa Yesus lahir pada awal musim gugur – yang diperkirakan jatuh pada bulan September – atau sekitar 6 bulan setelah hari Paskah
Jika Tuhan menghendaki kita untuk mengingat-ingat dan merayakan hari kelahiran Yesus, niscaya Dia tidak akan menyembunyikan hari kelahirannya.
Silakan baca dan pelajari semua link yang diberikan
Proses Natal Masuk ke Gereja
NewSchaff – Herzog Encyclopedia of Religious Knowledge dalam artikelnya yang berjudul “Christmas” menguraikan dengan jelas sebagai berikut :
“How much the date of the festival depended upon the pagan Brumalia (Dec. 25) following the Saturnalia (Dec. 17-24), and celebrating the shortest day of the year and ‘the new sun’…can not be accurately determined. The pagan Saturnalia and Brumalia were too deeply entrenched in popular custom to be set aside by Christian influence… The pagan festival with its riot and marrymaking was so popular that Christians were glad of an excuse to continue its celebration with little change in spirit and in manner. Christian preachers of the West and the Near East protested against the unseemly frivolity with which Christ’s birthday was celebrated, while Christians of Mesopotamia accused their Western brethren of idolatry and sun worship for adopting as Christian this pagan festival”.
Artinya : “Sunguh banyak tanggal perayaan yang terkait pada kepercayaan pagan/penyembah berhala Brumalia (25 Desember) sebagai kelanjutan dari perayaan Saturnalia (17 – 24 Desember), dan perayaan menjelang akhir tahun, serta perayaan menyambut kelahiran matahari baru….tidak dapat ditentukan secara pasti (jumlahnya). Adat kepercayaan pagan Brumalia dan Saturnalia sudah berurat berakar dan populer tersebut dalam adat istiadat tersebut diambil oleh Kristen. Perayaan ini dilestarikan oleh Kristen dengan sedikit mengubah jiwa dan tata caranya. Para pendeta Kristen di Barat dan Timur Dekat menentang perayaan kelahiran Yesus yang meniru agama berhala ini. Di samping itu, Kristen Mesopotamia menuding Kristen Barat telah mengadopsi model penyembahan terhadap dewa Matahari” [selesai].
Perayaan Natal tidak diperoleh dan berakar dari Saturnalia
Catholic Encylopedia : Christmas
Other theories of pagan origin
The origin of Christmas should not be sought in the Saturnalia (1-23 December)nor even in the midnight holy birth at Eleusis (see J.E. Harrison, Prolegom., p. 549) with its probable connection through Phrygia with the Naasene heretics, or even with the Alexandrian ceremony quoted above; nor yet in rites analogous to the midwinter cult at Delphi of the cradled Dionysus, with his revocation from the sea to a new birth (Harrison, op. cit., 402 sqq.).

Senin, 03 Desember 2018

Semua Mahluk Sangat Berharga Dari Mata Pencipta

Ilustrasi Makhluk Ciptaan Tuhan


 (Kejadian 1:24-25 )
24.  Berfirmanlah Allah: "Hendaklah bumi mengeluarkan segala jenis makhluk yang hidup, ternak dan binatang melata dan segala jenis binatang liar." Dan jadilah demikian.
 25.Allah menjadikan segala jenis binatang liar dan segala jenis ternak dan segala jenis binatang melata di muka bumi. Allah melihat bahwa semuanya itu baik.

Jumat, 23 November 2018

Rabu, 21 November 2018

Bersikap Didalam Masa Sulit


Filipi 4:6 Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.

Permusuhan dari kalangan kafir dapat menimbulkan kekhawatiran. Hal ini harus dihilangkan dengan doa. "Memperhatikan adalah kebajikan, tetapi memelihara kecemasan adalah dosa" Di dalam segala hal. Semua yang dapat menimbulkan kekhawatiran jika tidak didoakan. Dengan ucapan syukur. Bersyukur atas apa yang telah dilakukan Allah merupakan sikap yang tepat untuk mengajukan permohonan baru.

Selamat pagi dan selamat berkarya.

Minggu, 28 Oktober 2018

Jumat, 17 Agustus 2018

13 Mahasiswa Papua telah di wisudahkan di Universitas Sam Ratulangi Manado


Foto Bersama Wisudawan/ti

Manado Sulihit News.   13 Mahasiswa/i Papua di Universitas Sam Ratulangi Manado telah Meraih Gelar Strata Satu ( S1) dan  di wisudahkan , 15 Agustus 2018 di Gedung audotorium Unsrat Manado.  Ibadah Syukuran atas keberhasislan ke 13 Mahasiswa/i Asal Papua ini,    telah dilaksanakan di Gedung Gereja Alfa Omega Klabat  Manado. Tuju  wadah yang bergabunga dalam ibadah tersebut adalah  (PPM-PJ,  (IMT),  (PPM-LJ), (IP-MAMI), (KPM-PP),   (IPMAPANDODE), dan (PPMY) .

Kamis, 16 Agustus 2018

Jenis-Jenis Fotografi




Berikut ini silahkan Anda simak beberapa jenis atau aliran dalam fotografi :

– Fotografi Landscape

landscape

Fotografi Landscape adalah fotografi pemandangan alam atau dalam pengertian lain adalah jenis fotografi yang merekam keindahan alam. Dapat juga dikombinasikan dengan yang lain seperti manusia, hewan dan yang lainnya, namun tetap yang menjadi fokus utamanya adalah alam. Ada beberapa sub dari fotografi landscape seperti seascape yang lebih fokus ke laut, cityscape yang fokus ke perkotaan dan skyscape yang fokus pada pemandangan langit.


– Fotografi Macro

macro-fotografia-seconda-parte


Fotografi macro adalah adalah jenis fotografi dengan pengambilan gambar dari jarak dekat dengan obyek utama benda-benda kecil. Objek fotografi makro dapat berupa serangga, bunga, embun atau benda lain yang di close-up sehingga menghasilkan detail yang menarik. Fotografer  umumnya menggunakan lensa macro agar hasil foto terlihat lebih tajam, tapi fotografer dengan budget terbatas bisa menggunakan close-up filter, extension tube atau reverse ring sebagai alternatif lensa macro.


– Fotografi Hitam Putih/Black and White Photography

astl0665s


Ini adalah salah satu aliran fotografi yang saya sukai. Pada awal sejarah fotografi, fotografi hitam-putih adalah satu-satunya pilihan seorang fotografer untuk mengambil gambar. Bahkan ketika foto berwarna sudah tersedia, foto hitam-putih pada awalnya mempunyai kualitas yang lebih baik dan lebih murah untuk mengembangkan daripada foto berwarna. Seiring dengan kualitas foto berwarna semakin membaik, foto berwarna menjadi pilihan yang lebih populer sehingga menyebabkan fotografi hitam-putih kurang populer. Akan tetapi fotografi hitam-putih untuk saat ini lebih cenderung digunakan untuk menimbulkan efek tertentu yang bisa didapat dari berbagai aplikasi editing foto sehingga foto yang dihasilkan lebih bermakna dan menarik.


– Fotografi Satwa/Wildlife Photography

best-photos2

Fotografi satwa lebih memfokuskan objek pada pengambilan gambar adalah hewan. Kadang hewan berperilaku unik dan jika kita berada di waktu dan tempat yang tepat kita dapat mengabadikan aksi hewan tersebut dan pastinya akan menjadi hasil karya yang menarik.


– Fotografi Portrait/Potrait Photography

d1a664bca214bf785a293cbc87950fc4

Foto portrait adalah sebuah foto yang mengedepankan detail dari obyek foto, untuk menunjukkan karakter dari sebuah obyek foto. Apabila objek adalah manusia, maka pada umumnya mata dari obyek akan lurus menatap kepada kamera. Hal ini menunjukkan bahwa terjadi “komunikasi” yang intens antara obyek dengan fotografer. Ekspresi wajah begitu dominan untuk mengungkapkan persamaan, kepribadian, bahkan perasaan seseorang. Pada umumnya foto portrait menampilkan ekspresi alami dari objek yang di foto. disini mata dari objek menjadi komponen penting dari sebuah foto portrait.

– Fotografi Jalanan/Street Photography

dsc_0378_web

Street Photography atau fotografi jalanan adalah aliran fotografi yang menarik. Sedikit berbeda dengan fotojurnalistik yang fokusnya mengabadikan momen puncak/klimaks . Street photography bertujuan untuk merekam kegiatan sehari-hari . Foto biasanya diambil dari jarak dekat dan fotografer berada disekitar objek daripada dari jarak jauh.

Fotografer harus dapat mengambil gambar dengan diam-diam tapi bukan sembunyi dan melakukannya dengan cepat dan lugas.


– Fotografi Model

ide-dan-konsep-fotografi-model-hijab-indro-dengan-dua-lampu-backligth-cewek-igo-cantik-pakai-jilbab-dalam-studio-terbaru-11

Pengertiannya sebenarnya hampir sama dengan fotografi potrait namun pada fotografi model, fotografer memutuskan bagaimana posenya, ekspresinya, arah pandangan dan sebagainya. Model yang bagus adalah mereka tau bagaimana cara berpose untuk mempermudah fotografer mendapatkan foto yang bagus.


– Fotografi Panning

panning-2

Panning adalah salah satu teknik fotografi yang digunakan untuk membekukan gerakan benda yang bergerak. Ide dibalik teknik panning ini adalah untuk mengatasi masalah dalam menangkap objek yang bergerak cepat. Ciri-ciri foto dengan menggunakan teknik panning adalah fokus dengan tajam terhadap objek yang bergerak sedangkan background nya blur atau kabur. Foto jenis ini bisa didapat dengan memanfaatkan shutter speed rendah.


Fotografi Tilt Shift

1-tilt-shift-photography-preview


Fotografi tilt shift adalah teknik fotografi yang bertujuan untuk mendapatkan hasil foto yang tampak seperti miniatur.

Teknik tilt-shift ini menggunakan lensa khusus yang dikembangkan untuk memperbaiki perspektif dan mengatasi distorsi dengan cara mengubah sudut lensa terhadap media (film atau sensor). Namun salah satu efek yang paling nyata dari penggunaan lensa tilt-shift adalah menyempitnya ruang tajam (DoF – Depth of Field) sehingga bisa menciptakan efek seperti miniatur.

Seiring dengan perkembangan teknologi digital, foto tilt shift bisa dibuat dengan memanfaatkan aplikasi photo editor seperti Photoshop.


– Fotografi Light Painting

foto-light-painting

Fotografi light painting atau melukis dengan cahaya sangatlah unik. Memotret dengan teknik light painting adalah hal yang sangat mengasyikkan dan salah satu penggunaan kreatif shutter speed. Dalam fotografi light painting, kita membuka shutter dalam waktu yang cukup lama (long exposure), memotret dalam kegelapan dan mengarahkan sumber cahaya terarah (misal lampu senter) pada beberapa titik obyek foto dalam rentang sepanjang shutter terbuka.



Sumber : http://www.uniquedailytips.com/


Jumat, 20 Juli 2018

8 Ciri-Ciri Jodoh Menurut Kristen Sesuai Firman Allah

Ilustarasi Ciri-ciri Jodoh



Banyak umat Kristen yang kadang tidak terpikirkan tentang ciri-ciri jodoh menurut Kristen. Padahal ada banyak anak Tuhan yang sedang menantikan jodoh dan pendamping hidup seperti yang mereka harapkan. Namun seringkali banyak yang tidak sadar bahwa jodoh itu ada bersama mereka sejak sebelumnya. Bahwa Tuhan ternyata menetapkan  berupa pasangan hidup kita tersebut yang melekat dekat dengan kita dari awal. Inilah terkadang kebodohan yang dialami umat Allah. Dimana akhirnya mencari pengganti yang berada di luar iman dan bahkan menggadaikan keselamatan demi pasangan hidup.

Tanpa dipenuhi hikmat yang lebih dalam tentang konsep apakah atau siapakah jodoh seturut yang Tuhan kehendaki. Oleh karena itu, jika sedang mengalami pergumulan akan masa depan termasuk pendamping hidup, ada baiknya mengetahui lebih detail tentang ciri-ciri jodoh menurut Kristen yang juga sesuai dengan firman Allah.

1. Sepadan

Tentunya Tuhan akan memberikan pendamping serta pasangan hidup yang sepadan dengan kita umatNya. Di dalam hal ini sepadan artinya bahwa pasangan hidup kita akan memiliki pemikiran yang kurang lebih sama. Karena menyatukan dua pemikiran yang berbeda tentu akan menjadi sesuatu yang tidak mudah. Demikian pula jika menjalin hubungan dengan orang lain yang tidak sepemikiran dan satu tujuan atau memiliki visi dan misi yang sama dalam hidupnya.

Oleh karena itu, Allah tidak akan membiarkan umatNya memiliki pendamping yang tidak memiliki pemikiran yang sama. Salah satunya dalam memahami konsep keselamatan dan takut akan Allah. Tentu ini adalah pondasi semua rumah tangga, sehingga ini adalah hal penting yang bisa menunjukkan siapa yang layak menjadi pasangan hidup kita nantinya. Apalagi jika keras hati dan keras kepala untuk menerima orang yang tidak seiman atau tidak memiliki konsep Allah yang sama. Tentu ini jauh dari kata sepadan dan nantinya akan lebih susah untuk menyelaraskan rumah tangga dalam memiliki visi dan misi yang sesuai dengan kehendak Allah.

2. Takut Akan Tuhan

Selanjutnya yang paling penting jika berbicara tentang cara memilih pasangan hidup menurut iman Kristen atau jodoh yaitu memiliki rasa takut akan Tuhan yang sama. Terutama bagi laki-laki yang akan memimpin suatu keluarga. Tentunya jika memiliki pasangan terutama suami yang tidak takut akan Allah akan lebih susah dalam menjalankan dan mengatur rumah tangga yang sudah diidam-idamkan.

Karena dasar kasih suami istri, kasih dalam keluarga, ketaatan dan kekuatan iman rumah tangga berpatok akan rasa takut kepada Tuhan Allah yang sama. Disinilah pasangan hidup kita merupakan penyokong dalam segala aktivitas rohani kita yang membawa kita bertumbuh lebih jauh dan lebih dalam. Jika tidak demikian, tentu akan susah untuk menyelaraskan kehidupan yang telah kita pilih dengan pasangan hidup kita nantinya.

3. Menjadi Penolong

Pasangan hidup tentunya merupakan orang yang akan menjadi penolong utama dalam kehidupan kita nanti dan bersama-sama dalam membangun rumah tangga. Karena itu tentunya jodoh adalah orang yang Tuhan siapkan untuk menjadi penolong segala kegiatan yang dilakukan mulai dari hal kecil seperti mengurus anak hingga perkara besar seperti mengatasi pergumulan. Karena itu berpatokanlah dengan mencari orang yang tentunya mampu atau sanggup untuk menjadi penolong dalam segala hal.

Tentunya jika Allah menyiapkan jodoh untuk umatNya tentu akan memberi yang terbaik dan yang sanggup  bekerja sama dalam mengarungi bahtera rumah tangga nantinya. Apabila pasangan yang kita pilih dari awal tidak menunjukkan sikap yang demikian, maka besar kemungkinan dia bukan orang yang tepat untuk pasangan hidup kita. Oleh sebab itu ketahui dengan benar calon pasangan hidup kita, apakah merupakan orang yang diperuntukkan ke kita dari Allah atau bukan dengan melihat sebesar mana nantinya dia sanggup menjadi penolong kita dalam segala hal.

4. Memiliki Buah Roh

Satu hal penting dari orang yang menjadi jodoh di dalam Tuhan yaitu memiliki buah-buah Roh Kudus yang dapat dilakukan dan diterapkan dalam hidup sehari-hari. Seperti firman Allah nyatakan, bahwa buah Roh ini meliputi kasih, sukacita, damai sejahtera, sabar, adil, murah hati, lemah lembut, setia dan penguasaan diri. Sehingga jika menemui karakter yang demikian pada diri seseorang dan dia merupakan orang yang dekat, bisa jadi ini merupakan jodoh yang Tuhan telah sediakan.

Sehingga pergumulkan hal tersebut dengan sungguh dan biarlah Allah yang memastikan apakah itulah ciri-ciri jodoh menurut Kristen yang sudah Tuhan berikan bagi kita. Apabila kita sedang dekat dengan seseorang namun tidak memiliki karakter yang demikian, bisa jadi ini bukanlah kehendak Allah. Karena itu melalui  cara berdoa dalam Roh dan pergumulkan dengan benar siapa pasangan hidup kita nantinya.

5. Lahir Baru

Ciri-ciri jodoh menurut Kristen dapat pula berupa seseorang yang telah lahir baru di dalam Tuhan dan dekat pada Allah. Hal ini sangat penting supaya hubungan rumah tangga nantinya merupakan hubungan yang sesuai dengan kehendak Bapa. Karena jika tidak tentunya akan berbeda hasilnya nanti. Bisa jadi rumah tangga yang dibangun tidak memiliki sukacita ataupun damai sejahtera karena memiliki pasangan yang tidak mengenal Allah dalam arti mungkin hanya Kristen tapi tidak sungguh-sungguh dan masih sering melakukan dosa.

Dengan memiliki pasangan seiman yang taat dan takut akan Allah tentunya akan lebih mudah supaya nantinya rumah tangga yang dibina diberkati penuh oleh Allah. Karena dalam memilih pasangan hidup yang tepat artinya menyenangkan hati Allah. Jika Allah senang maka Ia akan senantiasa memberkati kita setiap waktu.

6. Membawa Pada Kebenaran

Tentunya orang yang Tuhan sudah siapkan sebagai pendamping kita dalam rumah tangga nantinya merupakan orang yang membawa kita pada kebenaran akan firman Allah. Sehingga jika memang benar dari Allah, tentu ia akan memberikan karakter yang mampu menuntun kita pada jalan yang benar. Terutama seorang laki-laki yang menjadi imam dalam rumah tangga. Sebagai kepala rumah tangga, suami harus dapat menuntun istri untuk mendekatkan diri pada Allah dan istri merupakan penolong untuk membangun hal tersebut dan mewujudkannya.

Karena itu sebaiknya pastikan bahwa calon jodoh kita adalah orang yang senantiasa melakukan kebenaran dan berusaha menjauhkan diri dari dosa. Karena apabila melakukan dosa, terutama macam-macam dosa menurut Alkitab sebelum pernikahan maka hal ini adalah dipandang keji di mata Allah. Tentunya orang yang demikian berarti bukan yang Allah kehendaki untuk menjadi pendamping hidup kita. Sehingga sebaiknya pertimbangkan dengan baik apa yang menjadi keinginan Tuhan dalam hidup kita tentang pasangan hidup yang dijanjikan.

7. Mendapat Restu Orang Tua

Tuhan sendiri telah berfirman supaya kita taat dan hormat kepada orang tua. Inilah salah satu parameter penting yang juga Tuhan berikan bahwa mereka yang menjadi pasangan hidup kita adalah orang-orang yang berkenan di mata orang tua kita. Saat orang tua mau menerima calon jodoh kita di situlah orang tua sebagai wakil Allah di dunia telah menerima dia sebagai calon pendamping atau suami/istri kita kelak. Oleh sebab itu jangan sampai kita menikahi orang yang tidak disetujui orang tua kita.

Karena jika demikian bisa jadi orang tersebut bukan yang Tuhan kehendaki dalam hidup kita untuk mendampingi sebagai pasangan hidup. Padahal ini adalah hal yang sering terjadi dimana pasangan menikah tanpa restu orang tua. Biasanya akan membawa pada akhir yang tidak sesuai dan tidak menuju jalan Tuhan. Lain halnya pernikahan yang mendapat restu orang tua dan dilakukan seturut dengan kehendak Allah.

8. Menjadi Berkat

Pasangan atau jodoh tentunya merupakan orang yang hidupnya mampu menjadi berkat bagi kita. Karena itu selalu perhatikan apakah calon jodoh kita ini adalah orang yang tepat dengan jalan melihat kehidupannya. Jika ia memang orang yang telah Tuhan sediakan tentunya ia akan mampu menjadi berkat baik bagi kita dan keluarga. Disini menjadi berkat bisa dengan menjadi penolong baik dalam hal fisik maupun juga rohani. Pasangan yang baik akan mampu memahami keadaan kita maupun keadaan orang tua dan keluarga kita.

Sehingga jika memang dia merupakan penolong yang Tuhan sediakan, maka ia akan memampukan dirinya untuk memahami kehendak Tuhan melalui menjadi pendamping hidup kita. Jika dia sulit memahami keadaan kita dan terus mengeluh serta tidak mampu memberikan pertolongan yang kita butuhkan, bisa jadi dia bukan yang terbaik yang diberikan oleh Tuhan. Maka dari itu mencari jodoh adalah sesuatu yang perlu doa dan bila perlu ambil waktu untuk doa dan cara puasa orang kristen  supaya mendapatkan jodoh yang benar, baik dan setia seperti yang kita kehendaki.

Itulah beberapa ciri-ciri jodoh menurut Kristen yang sebaiknya diketahui dari awal sebelum memutuskan siapa yang akan menjadi pendamping hidup paling tepat. Karena itu sebaiknya doakan dengan yakin supaya dapat memperoleh yang terbaik sesuai yang Tuhan telah pilihkan dan janjikan. Ikuti tuntunan  tujuan karunia Roh Kudus  memilih pendamping hidup yang terbaik. Jangan hanya memikirkan duniawi saja, tetapi pahami apa kehendak Allah melalui pendamping hidup kita nantinya. Sehingga di kelak rumah tangga yang dibina tidak akan melenceng dari firman Allah, melainkan selalu tunduk dan penuh ketaatan akan Allah. Tuhan memberkati.

Minggu, 24 Juni 2018

Seminarh Harian dan Lepas Sambut Pemuda GIDI Efesus Jati-Jati Merauke

Ibadah Lepas Sambut


Pemuda/i Gereja Injili di Indonesia (GIDI) Jemaat Efesus jati-Jati Merauke, telah melaksanakan kegiatan lepas sambut antara pemuda yang baru bergabung dan pergi menimba ilmu di kota studi lain baik tingkat SMP hingga perguruan tinggi, di pantai bayun sabtu, 23 Juni 2018 pukul 10:00-14:00 Wit, dengan Tema” Dengan Apakah Seorang Mudah Mempertahankan Kelakuan Yang Baik ” ( Maz 119:9)

Selasa, 22 Mei 2018

Bolekah Perempuan Mengajar ?

Ilustrasi Perempuan Sedang Khotbah




* 1 Timotius 2:8-15 Mengenai sikap orang laki-laki dan perempuan dalam ibadah jemaat
2:8 Oleh karena itu aku ingin, supaya di mana-mana orang laki-laki berdoa dengan menadahkan tangan yang suci, tanpa marah dan tanpa perselisihan.
2:9 Demikian juga hendaknya perempuan. Hendaklah ia berdandan dengan pantas, dengan sopan dan sederhana, rambutnya jangan berkepang-kepang, jangan memakai emas atau mutiara ataupun pakaian yang mahal-mahal,
2:10 tetapi hendaklah ia berdandan dengan perbuatan baik, seperti yang layak bagi perempuan yang beribadah.
2:11 Seharusnyalah perempuan berdiam diri dan menerima ajaran dengan patuh.
2:12 Aku tidak mengizinkan perempuan mengajar dan juga tidak mengizinkannya memerintah laki-laki; hendaklah ia berdiam diri.
2:13 Karena Adam yang pertama dijadikan, kemudian barulah Hawa.
2:14 Lagipula bukan Adam yang tergoda, melainkan perempuan itulah yang tergoda dan jatuh ke dalam dosa.
2:15 Tetapi perempuan akan diselamatkan karena melahirkan anak, asal ia bertekun dalam iman dan kasih dan pengudusan dengan segala kesederhanaan


Ini benar-benar "ucapan yang sulit." Bahasa yang digunakan nampaknya langsung dan jelas. Tetapi apakah maksud Paulus sama dengan arah pemikiran kita? dan jika memang demikian, apakah ini sebuah perintah yang diinginkannya untuk diterapkan secara universal, tanpa memandang konteks sejarah dan situasi?

Bacaan ini, dan bacaan yang dibahas dalam bab berikutnya, menjadi pusat diskusi yang terus-menerus mengenai kedudukan dan peranan perempuan dalam gereja, keluarga, dan masyarakat. Jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan di atas penting untuk diskusi tersebut.

Bacaan ini juga merupakan bacaan yang sulit karena satu alasan lagi, yaitu alasan emosi/pengalaman. Sebagai seorang laki-Iaki, saya yakin saya tidak dapat memahami sepenuhnya pengaruh ucapan Rasul ini terhadap perempuan. Tetapi walaupun secara terbatas, saya sedikit banyak memahami rusaknya harga diri dan rasa kemampuan seseorang karena ucapan ini. Kita hidup dalam sebuah jaman dalam sejarah di mana baik perempuan maupun laki-laki diakui sama-sama berbakat dalam kemampuan intelektual maupun ketrampilan komunikasi. Dalam situasi semacam ini, larangan Rasul ini nampaknya sangat sulit untuk dimengerti dan diterima. Karena perbedaan apakah dalam jenis kelamin yang menghalangi perwujudan sepenuhnya dari pemberian hati, pikiran, dan roh oleh Pencipta?

Pertanyaan ini seringkali dijawab dengan pernyataan untuk tegas bahwa peranan yang sudah didefinisikan secara jelas untuk laki-laki dan perempuan ditetapkan secara ilahi dan perintah Paulus yang membatasi merupakan bukti dari norma yang universal itu. Tetapi jawaban inipun menimbulkan masalah. Cerita mengenai penciptaan laki-laki dan perempuan dalam Kejadian 1-2 yang kita anggap sebagai pernyataan teologi yang mendasar dari rancangan dan tujuan Pencipta menegaskan bahwa laki-laki dan perempuan sederajat dan saling melengkapi. Mereka sarna-sarna serupa dengan gambar Allah (Kejadian 1 :26-27). Keduanya diberi kekuasaan yang bertanggung jawab terhadap ciptaan lain (Kejadian 1 :28). Penciptaan perempuan dimaksudkan untuk membebaskan laki-Iaki dari kesendirian dan melengkapinya (Kejadian 2:18 ).

Terhadap pandangan kuno bahwa para dewa menipu laki-laki dengan menciptakan perempuan dari bahan yang 'kurang bermutu', cerita penciptaan dalam kitab Kejadian menegaskan bahwa perempuan diciptakan sarna dengan laki-laki (tulang dari tulangku dan daging dari dagingku" Kejadian 2:23). Dengan demikian pandangan bahwa Allah menciptakan perempuan untuk mendapatkan peranan yang terbatas dalam keluarga, gereja, dan masyarakat tidak dapat dibenarkan atas dasar penciptaan.

Status perempuan yang terbatas secara tradisional didasarkan pada cerita kejatuhan manusia (Kejadian 3) dalam pemikiran dan adat orang Yahudi maupun orang Kristen. Tetapi dari konteks kitab Kejadian 2-3 jelas bahwa kata-kata dalarn Kejadian 3: 16, "Engkau akan berahi kepada suamimu dan ia akan berkuasa atasrnu" tidak mengungkapkan rancangan Allah agar laki-Iaki berkuasa. Sebaliknya kata-kata ini mengungkapkan suatu keadaan terkutuk karena hubungan yang terputus antara manusia yang diciptakan dengan Penciptanya. Dengan demikian kedudukan yang terbatas untuk perempuan dan dominansi laki-laki atas perempuan bukanlah tujuan ilahi melainkan cerminan dosa manusia. [1]

Bagi Paulus, tujuan karya penebusan Allah adalah mem¬bebaskan ciptaan Allah dari kutukan Firdaus. Siapa yang ada di dalam Kristus adalah ciptaan baru (II Korintus 5:17), yang dibebaskan dari ikatan dosa dan perwujudan dosa itu dalam hubunqan manusia (Roma 6:5-7). Dalam manusia baru yang diciptakan dalam Kristus, pandangan budaya dan agama yang sudan mendarah daging bahwa manusia yang satu lebih rendah dari yang lainnya berdasarkan jenis kelamin atau bangsa atau status sosial, tidak lagi dapat dipertahankan (Galatia 3:26-28). Ini jelas merupakan keyakinan teologis Paulus yang mendasar.

Dalam mendiskusikan bacaan I Korintus 14:33-44, di mana Paulus memerintahkan perempuan dalam jemaat untuk "berdiam diri," kita melihat bahwa pembatasan ini tidak diterapkan secara universal baik oleh Paulus maupun jemaat-jemaat lainnya pada masa itu. Banyak perempuan memiliki kedudukan kepemimpinan yang menonjol (Febe, Lydia, Euodia, Sintikhe, Priskila, Yunias). ditunjuk sebagai pend eta atau diaken (Roma 16:1), teman sekerja (Roma 16:3), kawan sekerja dalam Injil (Filipi 4:2-9), Rasul (atau pembawa pesan Roma 16:7). Roh Allah memberi kuasa baik kepada laki-Iaki maupun perempuan untuk bernubuat tentang karya penebusan Allah di dalam Kristus (Kisah Para Rasul 2:14-18 ). Partisipasi perempuan dalam penyebaran Injil secara lebih baik dan doa dalam jemaat merupakan bagian yang normal dari kehidupan jemaat pada jaman itu (I Korintus 11).

Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan di atas, alasan pembatasan secara khusus terhadap perempuan-perempuan dalam jemaat Timotius pasti ada dalam teks dan sltuasi jemaat yang dimaksudkan Paulus. Seperti yang kita lihat, jika peranan perempuan yang dibatasi bukan merupakan bagian dari tujuan ilahi dalam penciptaan dan juga bukan aspek yang normatif dari penebusan, rnaka pembatasan mereka dalam berbicara, mengajar, dan memimpin (I Korintus 14 dan 1 Timotius 2) pasti merupakan reaksi terhadap situasi lokal yang kritis. I Korintus 14 (dalam bab 27) mengungkapkan krisis semacam itu di Korintus. Situasi yang kritis dalam kehidupan dan iman jemaat Timotius nampaknya juga menjadi alasan perintah Paulus dalam hal ini. [2]

Jika kita membaca 1 Timotius, kita dengan segera menyadari bahwa keutuhan iman Kristen berada dalam keadaan kritis. Ada beberapa orang dalam jemaat yang mengajarkan doktrin-doktrin palsu dan dipenuhi dengan mitos-mitos dan gagasan spekulatif lainnya yang bertentangan dengan iman yang benar dan tutus (I Timotius 1 :3-4). Beberapa orang telah terjerat ke dalam perdebatan yang sia-sia, mau menjadi pengajar Hukum Taurat tanpa mengerti perkataan mereka sendiri dan pokok-pokok yang mereka kemukakan (1 :6-7). Ada keprihatinan yang menyeluruh untuk mempertahankan dan menjaga kebenaran iman (1:19; 2:4-7; 3:14-16; 4:1-3. 6-7,16; 6:1-5,12).

Kita tidak mengetahui identitas guru-guru palsu ini atau isi pengajaran mereka sepenuhnya. Dari perintah yang diberikan, kita dapat menyimpulkan bahwa pengajaran palsu ini mengarah kepada diabaikannya kebiasaan dan tingkah laku yang pantas dalam jemaat (2:8-15) dan juga penolakan terhadap lembaga perkawinan (4:3). Berdasarkan aspek terakhir pengajaran sesat ini, perlu dlcatat bahwa perhatian khusus diarahkan kepada para janda muda (5:9-15), yang dinasihatkan untuk menikah, mempunyai anak, dan memimpin rumah tangga mereka (5:14). Jika peranan yang normal dan sudah diatur secara sosial ini diabai¬kan atau ditoJak, maka perempuan-perempuan ini cenderung "menyebarkan gosip" dan "mencampuri soal orang lain dan mengatakan hal-hal yang tidak pantas" (5:13).


Atas dasar data ini, setidak-tidaknya ada dua kemungkinan situasi dalam jemaat Timotius di Efesus:

(1) Mungkin perempuan-perempuan dalam jemaat di Efesus merupakan pendukung dan penganjur pengajaran heretik yang mengacaukan pola kehidupan jemaat dan kehidupan rumah tangga yang sudah dlterima. Kemungkinan kedua adalah perempuan-perempuan dalam jemaat sangat terpengaruh oleh para guru yang sesat. Situasi semacam ini dalam jemaat Efesus diungkapkan dalam II Timotius 3:6-9 di mana perempuan, yang menjadi sasaran khusus dari orang-orang "yang menentang kebenaran" (3:8 ) "tidak pernah dapat mengenal kebenaran" (3:7).

Dalam keadaan yang mana pun, ucapan Paulus yang bersifat membatasi dalam I Timotius 2: 11-12 harus dimengerti dalam konteks di mana pengajaran palsu sedang menjadi masalah. Larangan secara umum untuk menentang semua orang yang "mengajarkan ajaran lain" (1 :3) sekarang secara khusus difokuskan pada para perempuan yang telah menjadi mangsa dari pengajaran palsu semacam itu atau terlibat dalam penyebarannya.

Nasihat Paulus dalam I Timotius 2:11, "berdiarn diri dan menerima ajaran dengan patuh" dengan demikian ditujukan kepada para perempuan yang karena pengajaran sesat telah menjadi para pendukung yang sangat kuat dari gagasan-gagasan yang mengacaukan situasi kehidupan jemaat dan rumah tangga yang sudah tertata. "Ketaatan" yang diperintahkan kepada mereka kemungkinan besar adalah ketaatan kepada para tua-tua dalam jemaat, yang merupakan penjaga kebenaran dan ibadah yang teratur. Larangan terhadap pengajaran mereka (2: 12) disebabkan oleh keterlibatan mereka dalam pengajaran palsu. Dan larangan "memerintah laki-laki" (2:12) harus dimengerti dalarn konteks penolakan mereka terhadap kekuasaan orang lain, barangkali para pemimpin laki-laki di Efesus yang pengajarannya yang ortodoks dan otoriter dirusak oleh pandangan sesat mereka. Kata bahasa Yunani yang tidak umum yang digunakan terutama mengandung arti negatif "rnerebut" atau "merampas kekuasaan." Jadi, pembatasan kedudukan dan partisipasi perempuan dalam kehidupan dan pelayanan di jemaat Efesus sangat mungkin "dituiukan kepada para perempuan yang terlibat dalam pengajaran palsu, yang telah menyalahgunakan pelaksanaan kekuasaan yang benar dalam jemaat dengan merampas kekuasaan dan mendominasi para pemimpin dan guru laki-Iaki di jemaat Efesus (hal ini tidak diperintahkan Paulus kepada perempuan-perempuan lain). [3]

Paulus melanjutkan dengan mendasarkan perintah ini pada perenungan beberapa bacaan pilihan dari Kitab Kejadian. Pemikiran-pemikiran tersebut merupakan pokok pembahasan kita pada bab berikutnya.



[1] Kala bahasa Yunani yang dilerjemahkan "penolong" (dalam Kejadian 2:18 dan 2:20), yang menunjukkan perempuan itu, hanya digunakan 16 kali lagi dalam Alkilab bahasa Ibrani. Dalam kasus-kasus di alas, perempuan selalu dilunjuk Allah sebagai yang menyelamalkan, mendukung, dan menopang umalNya (seperti dalam Mazmur 46: 1). Kala perempuan ini sama sekali tidak mengandung arti kedudukan atau status yang lebih rendah. Kala yang diterjemahkan "sesuai unluk" secara hurufiah berarti "di depan," dan menunjukkan seseorang yang berdiri "berhadapan rnuka" dengan lainnya, yang kualitas dan sifat-sifat dasarnya sama, dan karena itu merupakan "teman sekerja."

[2] Lihat Gordon D. Fee, 1 dan 2 Timothy, Titus Good News Commentary (San Fransisco: Harper & Row, 1984), yang membuat kasus I Timotius yang meyakinkan menjadi surat berkala yang membicarakan pengajaran-pengajaran sesat.

[3] David M. Scholer, "I Timothy 2:9-15 and the Place of Woman in the Church's Ministry," dalam Alvera Mickelsen, Women, Authority & the Bible (Downers Grove, III: Inter Varsity Press, 1986), hal. 205. Tulisan ini, dan beberapa tulisan lainnya dalam volume ini, menyajikan studi yang sangat bagus mengenai masalah eksegesis, sejarah-budaya dan bahasa tentang "ucapan yang sulit" dan teks-teks Alkitab yang berkaitan.


-----


Disalin dari :
Manfred T Brauch, Ucapan Paulus yang Sulit, SAAT Malang, p. 250-243