Sabtu, 06 Februari 2021

Membangun Kesadaran di Hari Pekabaran Injil di Tanah Papua yang Ke-166


Tugu Injil Masuk di Pulau Mansinam Manokwari


Oleh : Pdt. Dr.Lenis Kogoya, M.Th, M. Pdk.


REFLEKSI MISI UNTUK TANAH PAPUA TAHUN 2021: Melawan Lupa/Jadi Waras Jangan hanya kejar parasnya saja. Temukan Nilai-nilai Dasar OAP Yang Pernah Berjumpa dan Mendaratkan Injil Di Tanah ini pada 166 Tahun Silam itu. Jangan terus mengekspor nilai-nilai dari budaya lain yang hanya terus menambah beban, tantangan dan problem bahkan menjerat pergerakan misi di tanah Papua. Dengan demikian, kita tidak terjebak pada dikemah yang saya sebut "latihan lain, main lain," atau "realitas lain, omong lain," atau "orang mau makan ubi, malah sodorkan nasi."

Back to the history atau harus kembali kepada sejarah Misi di Papua sebagai Dasar untuk membangun kesadaran bagi semua orang yang ada di atas Tanah ini. Sebab rupanya Tanah Papua ini sudah di persembahkan sejak awal kepada Tuhan oleh Carl Willem Ottow dan Johan Gottlod Geissler dengan berkata: "Dengan nama Tuhan kami menginjak kaki di tanah ini”. Dengan doa itulah kedua hamba Tuhan yang saya sebut sebagai "Founding Fathers" tersebut memulai pekabaran Injil di Tanah Papua pada tahun 1855 di Mansinam. 

Dampak dan berkat doa kedua orang penting itulah yang menyebabkan Kekristenan hari ini masih bertahan meski harus berjuang. Dan entah sampai kapan, bagaimana dan kenapa Papua dengan sebutan "Tanah Injil" itu akan ada. Jika model misinya tak berubah, pemainnya tidak berganti kostum dan intonasi bunyi toanya tetap tidak merdu, maka akan tetap kelihatan kerja bahkti, rutinitas belaka, berkeringatan dan hosa-hosa saja tanpa capaian-capaian yang bernilai bertahan. Jika demikian, maka Nilai kekristenan sudah mati suri tapi agama Kristen masih merayalela di bumi Cenderawasih. 

Beberapa tahun kemudian, ada doa sulung oleh seorang Izaak Samuel Kijne melalui karyanya dengan berkata: "Di atas batu ini, saya meletakkan Peradaban Orang Papua. Sekalipun orang memiliki kepandaian tinggi, akal budi dan marifat tetapi tidak dapat memimpin bangsa ini, bangsa ini akan bangkit dan memimpin dirinya sendiri” (Wasior, 25 Oktober 1925).

Pernyataan ini merupakan sebuah kata-kata prophesi yang berharga baik bagi OAP maupun OP. Kata perkata dalam tulisan ini perlu dianalisis sambil renung untuk bertindak nyata. Artinya, idrntifikasi dan introspeksi diri, percaya diri, berdiri di kaki sediri, makan dari kebun sendiri, minum dari sumur sendiri. Dengan demikian, kita menjadi pemeran atau pemain utama bukan cadangan atau korban sandiwara pewayangan. Orang Asli Papua itu hasil kreasi Mega Karya Sang Kreator. Orang Asli Papua itu asli manusia sejak awal. Dan manusia asli itu perlu diajar untuk mengerti segala sesuatu. Dan karena itu, pengajaran itu sudah dimulai sejak tahun 1855 hingga kini sudah 166 tahun di tahun 2021 ini. Lalu pertanyaan ialah: Apakah kita masih cari orang pintar, orang terdidik, orang berakal budi di luar sana atau masih mau dipimpin? Mari kita bangun kesadaran diri, lawan lupa akan pernyataan sejarah yang bernuansa prophetik ini. 

Stop diskriminasi sesama Anak Asli Papua. Stop merasa sudah memahami OAP padahal lamanya Anda di Papua tidak s banding dengan lamanya para Founding fathers kita di atas. Stop membanding-bandingkan sesama OAP apalagi oleh OP yang tidak ada nilai dasar dengan kesukuan Papua. Mari kita berdayakan OAP dengan jujur, ikhlas dan tindakkan nyata, bukan memperdaya mereka dengan maksud dan cara-cara yang tidak manis atau tidak elok seperti mencari keutungan atas mereka, mencari muka atas nama.mereka, menjebak mereka dan sebagainya. Sebab hal-hal ini adalah trend dan gaya baru dari imperialisme dan kolonialism termasuk yang berjubahkan jabatan-jabatan gerejawi. Dan hal ini sungguh-sungguh menjerat pergerakan misi di atas Tanah ini

Setelah mendoakan, memperhatikan dan mengalami bersama OAP bertehun-tahun, maka menarik kesimpulan oleh seorang Izaak Samuel Kijne dengan pesan: "Barang Siapa yang bekerja di Tanah ini dengan setia, jujur ​​dan dengar-dengaran, maka ia akan berjalan dari tanda heran yang satu tanda heran yang lain.” ( Pdt. I. S. Kijne, 1947).


Mengapa kesimpulan ini dibuat? Saya yakin, bahwa alasannya ialah, bahwa aslinya OAP di mata para misionaris lintas budaya ini adalah polos-polos, jujur dan hidup apa adanya di atas kekayaan alam yang kaya raya dan melimpah ruah ini. Dikuatirkan bila ada tangan-tangan jahil di tanah ini bisa membodohi OAP dan tidak mengalami keajaiban-keajaiban Allah, justru timbul kejahatan, pencurian, pembunuhan seperti yang dialami dewasa ini. 


Saudaraku yang terkasih,

Dalam momen penting, pada HPI 166 tahun ini, saya merasa penting sekaligus menjadi kebutuhan untuk membangun kesadaran bersama sebagai sesama anak Tuhan dan sesama Anak Papua. Sebab kita semua yang tinggal dan hidup di Tanah Papua terlihat sudah tidak sesuai dengan tatanan dan nilai peradaban hidup Orang Asli Papua. Telah terkikis dan sudah kabur doa sulung di atas dengan adalah nilai-nilai dan tatanan budaya lain. Entah sampai kapan, siap yang memulai dan bagaimana caranya? Hanya Tuhan yang tahu dan kita semua hanya berharap dengan doa kepada Tuhan. 


Akhirnya saya, Pdt. Lenis Kogoya bersama keluarga mengucapkan Selamat Memperingati HPI Di Tanah Papua yang ke 166 tahun pada tanggal 05 bulan Februari tahun 2021. Semoga model dan metode harus dikembalikan kepada nilai dasar orang asli Papua untuk misi kepada orang Papua. Jangan ubah form dan model kecuali untuk sasaran kepada yang lain. Tuhan Yesus Kepala Gereja Tuhan di Tanah Papua memberkati. 


Wa wa wa 

Selasa, 19 Januari 2021

Dimensi Tentang Manusia













Dimensi tentang manusia selalu tidak terbatas, mengapa kemudian Manusia disebut MAKROKOSMOS, karena angan, mimpi dan apa yang ada dalam hati manusia tidak pernah dibatasi oleh apapun. 
Manusia adalah makhuk sosial dan dinamis. sudah menjadi hukumnya manusia membutuhkan manusia yang lain.
 
Dalam buku Pengelolaan Lingkungan Sosial (2005), sebagai makhluk sosial, manusia tidak pernah bisa hidup seorang diri.

Di mana pun dan bila mana pun, manusia senantiasa memerlukan kerja sama dengan orang lain.

Manusia membentuk pengelompokan sosial di antara sesama dalam upaya mempertahankan hidup dan mengembangkan kehidupan.

Dalam kehidupan bersamanya, manusia memerlukan pula adanya organisasi, yaitu jaringan interaksi sosial antar sesama untuk menjamin ketertiban sosial.

Interaksi-interaksi itulah yang kemudian melahirkan sesuatu yang dinamakan lingkungan hidup, seperti keluarga inti, keluarga luas, atau kelompok masyarakat.

Di Asmat sendiri, jumlah penduduk (manusia) adalah sekitar 144.764 jiwa (sumber: Wikipedia - 2019), dengan luas wilayah kurang lebih 31.984 km persegi, dengan kondisi alam dan budaya yang luar biasa. 
keunikan dan kekayaan alam serta budaya Asmat kemudian menjadikannya sebagai salah satu ikon PARIWISATA di  Papua secara khusus, Nasional bahkan Mancanegra. 

telah menjadi Rahasia umum bahwa Pariwisata di kabupaten Asmat kian hari kian terkenal, dengan adanya usaha dari pemerintah, Keuskupan, serta banyak pihak lain yang melihat Asmat dalam keunikan serta kekayaannya. 

sayangnya, potensi kekayaan dan keunikan alam serta budaya Asmat lebih besar daripada kenyataan Asmat sebagai ikon pariwisata saat ini. 

melihat kenyataan diatas dan atas dasar kesadaran sebagai MANUSIA yang mendiami tanah Asmat, komunitas Asmat Fotografi yang mana terhimpun atas dasar kesamaan hobi, yang kemudian menghimpun individu-individu yang memiliki ketertarikan dalam dunia fotografi yang berdiri sejak tahun 2011, melihat ini sebagai persoalan kongkrit. 

selain sebuah komunitas seni, Asmat Fotografi juga menyadari diri sebagai komunitas sosial, sebagai makrokosmos, kemudian berupaya dengan kemampuan dan keterbatasan berusaha memperkenalkan potensi Asmat di mata luar. 

Asmat Fotografi secara mandiri, melihat alam dan kehidupan sosial masyarakat Asmat sebagai sebuah keunikan, mulai dari pemukiman yang tidak berdiri langsung di tanah, bertempat di tengah-tengah hutan mangrove, belum lagi budaya yang luar biasa, danbdikenal lewat festival budaya yang diakan setiap tahun, adalah suatu daya tarik dan potensi pariwisata yang sulit ditemukan di belahan dunia manapun. 

atas dasar itu Asmat Fotografi kemudian membangun sebuah spirit untuk pariwisata, yaitu "ASMAT ADALAH RAKSASA PARIWISATA YANG SEDANG TIDUR" di selatan Papua.
spirit ini terus mebakar semangat Asmat Fotografi dalam upaya-upaya kecil untuk mempromosikan dan mengembangkan PARIWISATA ASMAT dengan karya-karyanya. 

sebagai contoh, tempat rekreasi kampung KAYE (KAMPUNG PELANGI) adalah awal Asmat Fotografi secara serius ingin nengembangkan Pariwisata Asmat, dengan harapan suatu ketika, pariwisata Asmat dapat berkembang sehingga lahir masyarakat yang mandiri serta terciptanya ekonomi kreatif di Masyarakat sebagai pelaku pariwisata. 

untuk itu, komunitas membutuhkan dukungan semangat dari seluruh masyarakat Asmat guna cita-cita tersebut. Asmat Fotografi adalah komunitas yang mandiri, yang tidak terikat dengan badan atau organisasi manapun. 

tanpa menyinggung, mengucilkan dan mendiskreditkan siapapun dan pihak manapun, mari kita sama-sama, bergandeng tangan memajukan pariwisata Asmat dengan kemampuan dan kreativitas dari posisi kita masing-masing. 
mimpi Asmat Fotografi adalah mimpi kita bersama, mari kita gapai mimpi itu, mari bangkitkan RAKSASA PARIWISATA YANG SEDANG TIDUR INI

di akhir tulisan ini,
saya mengutip bahasa mantan presiden Amerika Serikat yaitu "jangan tanyakan apa yang tanah ini berikan kepadamu, tetapi tanyakan apa yang engkau berikan untuk tanah ini"  John F Keneddy

Ja Asamanam Apcamar

hormat kami, Komunitas Asmat Fotografi

Dormom o..

Jumat, 15 Januari 2021

MENJADI ANAK-ANAK TERANG

Foto Ilustrasi Terang (jazwanphoto)


Oleh : Pdt. Thomas Wenda, S.Th 
(π™ΆπšŽπš–πš‹πšŠπš•πšŠ π™ΉπšŽπš–πšŠπšŠπš 𝙢𝙸𝙳𝙸 π™°πš—πšžπšπšŽπš›πšŠπš‘ π™ΌπšŠπš—πšŠπšπš˜)
Yohanes 12:34 46

Percayalah kepada terang itu, selama terang itu ada padamu, supaya kamu menjadi anak anak terang.
 Yohanes 12:36

Yesus adalah terang dan Dia ingin manusia yang hidup di dalam dunia yang gelap oleh dosa memperoleh terang. Caranya cukup dengan percaya sungguh sungguh kepada Yesus selagi ada kesempatan, maka kita akan menjadi anak anak terang.

Apa ciri anak anak terang? Pertama, ia tidak senang di dalam kegelapan. Tuhan Yesus menyatakan, Aku telah datang ke dalam dunia sebagai terang, supaya setiap orang yang percaya kepada Ku, jangan tinggal di dalam kegelapan. (Yoh. 12:46). Sebagai orang percaya, kita diberi kemampuan untuk bisa menang atas kebiasaan buruk, bahkan kekuatan untuk mengalahkan setan dan dosa. Memang dunia masih penuh dosa dan tubuh jasmani kita adalah tubuh dosa, jadi kita masih mungkin jatuh ke dalam dosa. Namun, orang percaya tidak akan betah berkubang dalam dosa. Ia selalu akan merasa gelisah dan berusaha keluar dari segala dosa yang menjeratnya.

Kedua, ia menjadi terang bagi yang lain. Yesus berkata, Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. (Mat. 5:14). Orang percaya akan mengalami proses perubahan menjadi kudus oleh Roh Kudus. Pelan pelan sikap, karakter, dan emosinya akan diubahkan. Perubahannya tidak bisa disembunyikan, semua orang akan melihatnya, apalagi orang orang yang tinggal serumah. Ateng tinggal di lingkungan yang keras. Ia akrab dengan berbagai kebiasaan buruk dan berdosa, seperti perkelahian fisik. Ketika bertobat, pelan pelan ia mulai tidak suka berkelahi. Walau sesekali jatuh ke dalam perkelahian tetapi ia segera menyesalinya. Perubahan karakter Ateng dari seorang yang temperamental menjadi suka cinta damai, menjadi pembicaraan orang di sekitarnya. Hidupnya telah diubahkan oleh Kristus dan firman Nya.

Ketiga, ia akan menjadi alat kesaksian Tuhan. Yesus berkata, Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga. (Mat. 5:16). Orang percaya akan berusaha sedemikian rupa untuk menjadi kesaksian, baik lewat kehidupan pribadi maupun karyanya di dalam keluarga dan masyarakat. Juga melalui ucapannya yang menghargai, menghibur, dan menguatkan serta memberitakan kasih Kristus. Melalui kehidupannya anak terang akan bisa memuliakan Bapa di
Sorga.

Salam jadi anak terang.

Refleksi Diri:

Apakah Anda sudah menjadi anak anak terang yang membenci dosa dan mengalami perubahan karakter karena Roh Kudus?

Bagaimana Anda akan menjadi alat kesaksian Yesus di tengah lingkungan Anda?

Selamat pagi, selamat menjadi alat kesaksian Yesus !

Minggu, 10 Januari 2021

Pentingnya Menjaga Alam Tolikara

Kondisi Sampah di Kubupaga hingga andugumpaga

Pentingnya menjaga lingkungan wajib harus kita tanamkan sejak dini. Penebangan hutan secara liar/pembalakan hutan, polusi udara, dan masalah mengenai rusaknya lingkungan kita di Papua khususnya di puncak Kubu Baga hingga andugum baga, hal ini merupakan masalah yang serius di tangani oleh Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Tolikara. Bagaimana tidak, masalah ini tidak luput dari peran pemerintah dan masyarakat yang harus berdampingan menjaga lingkungan kita ini.
Lingkungan yang merupakan tempat tinggal semua makhluk hidup yang ada di muka bumi, termasuk manusia, hewan, dan tumbuhan harus kita jaga kelestariannya. Lingkungan sangat penting bagi kelangsungan hidup bagi makhluk hidup. Karena apabila lingkungan tidak ada maka manusia, hewan, dan tumbuhan tidak dapat bertahan hidup. Sebab lingkungan merupakan kandungan Ibu yang harus kita rawat dengan baik namun, sekarang lingkungan mengalami kerusakan. Itu semua akibat ulah dari manusia yang tidak bertanggung jawab. Contohnya saja seperti menebang pohon secara liar yang tidak diselingi dengan penanaman pohon kembali sehingga hutan menjadi gundul dan tanah tidak dapat menyerap air bahkan pohon tidak dapat menghirup karbondioksida diudara,  serta membuang sampah sembarangan yang berdampak buruk pada kehidupan makhluk hidup. Ulah manusia tersebut dapat berakibat fatal, mereka berani mengatasnamakan bisnis dan mengesampingkan lingkungan tanpa memikirkan anak cucu mereka kelak. Mungkin berbuat itu sangat mudah tapi kalau mengembalikannya seperti semula sangat sulit.
Oleh sebab itu, agar bencana alam tidak terulang terus-menerus, kita sebagai manusia yang hidup dimuka bumi yang telah diberikan kekayaan alam yang melimpah, seharusnya kita berterima kasih kepada Tuhan dengan cara menjaga dan melestarikan lingkungan ini. Mulai dari sekarang marilah kita membenahi lingkungan kita.
Pemerintah kabupaten Tolikara dalam hal ini Dinas Lingkungan Hidup telah  berupaya menanam papan nama untuk menjaga lingkungan di setiap mata jalan dari kota hingga ke distrik namun hingga saat ini belum ada kesadaran manusia sehingga membuang sampah dengan sembarang.
 Terutama di puncak gunung kubu Baga hingga andugum baga, kini dijuluki dengan puncak Mega Tolikara.
Dari pantauan kami selama tiga kali melalui motor kebanyakan sampah adalah sampah barang-barang kios yang sudah kadaluarsa atau masa explayernya habis, kemudian sampah rumah tangga dan besi-besi tua maupun botol-botol oli dari bengkel. Berdasarkan  pantauan kami sampah tersebut dibuang oleh para pedagang dan sopir-sopir angkutan umum maupun pribadi serta mobil-mobil dinas.
Masyarakat tidak mungkin datang dari jauh untuk membuang sampah pada tempat tersebut diatas. Oleh sebab itu setiap orang perlu punya kesadaran masing-masing untuk tidak membuang sampah dengan sembarang.  Jika kita tidak menjaga alam, maka siapa lagi yang datang untuk menjaga dan melestarikan lingkungan alam yang ada di daerah kita, tentu tidak !. Hanya kita sendiri yang harus menjaga dan melestarikan agar bisa menarik perhatian publik terutama para turis nasional maupun mancanegara.
Kita punya kekayaan alam yang begitu luar biasa, sebab alam yang kita miliki orang lain di tidak memiliki maka kita sama-sama menjaga dan melestarikan.
 Apa gunanya pendidikan dari TK sampai perguruan tinggi tetapi tidak bisa baca papan nama yang sudah tempel oleh di Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Tolikara. Tidak cukup ilmu yang diterima di bangku studi atau memang tidak tahu membaca buta huruf lalu membuang sampah dengan sembarang.
Setiap tempat pasti ada penghuninya sehingga kita saling menghormati antara satu sama lain. Puncak Kubu Baga hingga andugum baga bukan tempat kosong pasti ada penjaga alam juga sehingga kita harus menyadari untuk tidak membuang sampah dengan sembarang tempat. 
Sampah yang tidak bisa terurai kembali seperti sampah plastik, botol, kaleng, serta besi-besi tua akan merusak alam sampai bertahun-tahun. Akibat dari pada itu akan akan mengamuk. Sebab Tuhan menciptakan semesta alam untuk manusia menjaga dan memelihara, alam akan memberikan dampak baik kepada manusia dan hewan tanpa alam semua makhluk hidup tidak dapat bertahan hidup. Sehingga sebelum merusak kita perlu menjaga mulai dari sekarang supaya anak cucu kita kedepan tidak mengalami kesusahan untuk mengelola alam di lingkungan mereka masing-masing.


Oleh : Jazwan W. Yanengga
Photographer


Rabu, 23 Desember 2020

Natal Yang Penuh Tangisan


Selamat Natal  Saudara/i ku di Tanah Papua.
Terlebih khusus yang ada di Nduga, Tembagapura, Puncak Papua dan Intan Jaya.

Salam  teriring dengan Doa untuk saudara/i ku yang di balik gunung.
Bagaimana kabar kalian di sana..???
Di hutan rimba, di Goa, dibawa pohon serta di  hutan belantara.
Apakah kalian bisa makan dan minum dengan tenang disana..??
Apakah kalian bisa merayakan Natal dengan tenang disana..?
Tentu tidak,  
Saya sangat kawatir dengan keadaan kalian disana tetapi saya berharap kalian baik-baik saja dibawa perlindungan Tuhan pencipta orang Papua.

Pada momentum Natal ini saya sangat rindu kalian semua, harapan saya kita bisa natal bersama, Ibadah, Makan, minum, berbagi cerita dan merasakan kebahagiaan bersama seperti saudara-saudari kita di luar sana.

Namun semua harapan itu dibawa kabur  oleh bunyi tembakan  pada Bapa, mama, kakak, adik, om, anak, serta saudara-saudariku.

Sehingga saya hanya bisa mengukir 

Sebetulnya.
Kita bukan pemberontak..
Kita bukan teroris...
Kita bukan seperatis....
Kita bukan pendatang...

Kita adalah Manusia Papua yang punya harkat dan martabat  seperti kalian, kita  punya hak sepenuhnya untuk hidup dan berkembang di atas tanah kita sendiri.

Kita hanya menuntut keadilan dan kebenaran diatas negeri kita.

Emas kita dikerup habis....
Hutang kita di babat habis...
Minyak kita di kuras habis...

Bukan hanya alam saja Tetapi Manusiapun dibunuh habis tak pandang bulu, entah itu Pastor, Kotokis, Gembala, majelis, Guru, PNS, Mahasiswa, Pelajar, Tenaga Medis, nelayan dan  petani.

Kemana lagi kita akan pergi untuk mencari perlindungan...
Kita dibunuh dalam rumah kita sendiri...
Kita dibunuh di Jalanan kita sendiri....
Kita dibunuh di kebun kita sendiri...
Kita dibunuh di sekolah kita sendiri...
Kita di bunuh di Gereja kita sendiri...
Kita dibunuh di kantor kita sendiri....

Rumah, sekolah, Gereja kita semua dikuasai oleh singa dan di bakar habis...

Andaikan manusia Indonesia ini punya hati dan mengenal Dosa pasti mereka akan sadar dan bertobat tetapi  mereka tidak punya hati dan mengenal Dosa sehingga tetap menjajah Orang Papua dibawa kekuasaan militer dan moncong senjata.


Sabtu, 31 Oktober 2020

Kritik Martin Luther atas Gereja Katolik Melahirkan Protestanisme


Pada 31 Oktober 1517, Martin Luther memaku 95 dalil berisi kritik terhadap otoritas Katolik pada pintu gereja di Wittenberg.


Penulis: Tony Firman
31 Oktober 2020
   
Sejarah agama adalah sejarah umat manusia, orang-orang yang dikatakan sebagai Joachim Wach dalam buku Studi Banding Agama (1969). Dalam sejarah terpercik konflik, perang, damai, perpecahan agama ke dalam berbagai aliran, dan seterusnya. Perjalanan agama Kristen selama abad pertama Masehi sampai saat ini pun tidak steril dari dinamika itu.

Di daratan Eropa sejak abad ke-5 Gereja Katolik Roma menjadi pusat politik dan budaya Kekristenan yang amat dominan. Namun pada abad ke-15, Gereja Katolik harus menghadapi perkembangan zaman yang begitu pesat di Eropa.

Selama periode Abad Pertengahan hingga Renaissance, penemuan ilmiah baru telah membuka mata tentang kompleksitas alam semesta. Aktivitas pelayaran dan perdagangan antar samudera jadi hal lumrah dibandingkan abad-abad sebelumnya ketika laut dipandang sebagai sarang monster dan tepi dunia.

Perlahan-lahan peradaban Eropa Abad Pertengahan mulai mengalami krisis. Pada 1347-1351, wabah pes merenggut sekitar 75 juta populasi. Kota-kota Eropa dilanda kepanikan. Sementara itu, aliansi politik tradisional antara Paus sebagai pemimpin tertinggi Gereja Katolik Roma dan pangeran-pangeran Eropa mulai ulang .

Kebudayaan peradaban abad pertengahan dan kebangkitan era Renaisans yang bermula dari Italia turut melahirkan para pemikir Kristen mulai otoritas tinggi Gereja Katolik.

Pada 31 Oktober 1517, tepat hari ini 503 tahun silam, sebuah biarawan tak dikenal bernama Martin Luther berdiri di depan sebuah gereja di Wittenberg - kota kecil yang kini masuk wilayah Jerman. Di pintu gereja, dia nekat memaku daftar 95 dalil berisi kritik terhadap otoritas Gereja Katolik. Peristiwa itu tercatat dalam sejarah sebagai awal mula gerakan Reformasi di daratan Eropa dan seluruh dunia yang melahirkan Protestantisme.

Baca juga: Giordano Bruno, Pemikir yang Dibakar atas Nama Iman 

Berbekal pendidikan magister hukum dari Universitas Erfurt, Luther memutuskan jadi biarawan ketika usianya masih 21 tahun. Perilakunya sangat asketik. Dia rajin berdoa, puasa, bertapa, menahan hawa dingin tanpa selimut, dan melakukan ritual biarawan lainnya.

Praktik indulgensi sendiri muncul pada abad ke-11 dan ke-12 saat Perang Salib masih berkobar. Gereja menjelaskannya sebagai "penghapusan siksa-siksa temporal di depan Tuhan untuk dosa-dosa yang sudah diampuni". Aturan indulgensi, sudah tertuang khususnya dalam Katekismus Gereja Katolik 1471.

Seiring perjalanan waktu, para pemimpin Gereja memutuskan bahwa membayar sejumlah uang untuk proses indulgensi bisa dilakukan setiap orang, tidak hanya mereka yang terjun ke Perang Salib.

Selama beberapa abad berikutnya, penjualan indulgensi menyebar luas dan mencakup pengampunan dosa atas orang-orang yang sudah meninggal. Hal ini terutama diserukan dalam khotbah-khotbah biarawan Ordo Dominikan John Tetzel.

Praktik jual beli indulgensi pun jadi jamak. Di bawah kepemimpinan Paus Leo X, Gereja meraup pemasukan besar dari umat yang kemudian dialokasikan untuk membangun kembali Basilika Santo Petrus di Roma. Luther memandang praktik tersebut sebagai perilaku korup. Dari sanalah 95 dalil Luther bermula.

Dalam sebuah debat publik di Leipzig pada 1519, Luther menyatakan bahwa, “Orang awam yang dipersenjatai kitab suci lebih unggul dari Paus beserta dewan kardinalnya." Akibatnya, Luther langsung mendapat ancaman ekskomunikasi; tak boleh ikut sakramen.

Pada 1520, Luther menjawab ancaman tersebut dengan menerbitkan tiga risalah yang terpentingnya. Risalah pertama berkepala  Seruan kepada Bangsawan Kristen  yang menekankan bahwa semua orang Kristen adalah imam dan kedekatan para penguasa untuk mengambil jalan Reformasi gereja. Kedua, Tawanan Babilonia Gereja  yang mengurangi tujuh sakramen menjadi hanya dua berupa pembaptisan dan Perjamuan Kudus. Ketiga, Tentang Kebebasan Seorang Kristen  yang mengatakan orang-orang Kristen bahwa mereka sudah terbebas dari hukum Taurat dan kini telah mengacu pada ikatan cinta pada hukum tersebut.

Baca juga: Orang-Orang yang Mengaku Juru Selamat

Dewan Gereja lalu memanggil Martin Luther dan dia pun segera terlibat dalam pertempuran sengit dengan para pemuka Gereja Katolik hingga bidah dan sesat. Luther sempat dilarikan diri ke Kastil Wartburg dan pelacur selama sepuluh bulan.

Gerakan Reformasi Luther menuntut menerjemahkan Alkitab dari bahasa Latin ke bahasa Jerman. Tampaknya besar karena orang tidak perlu lagi bergantung pada seorang imam untuk membaca dan menafsirkan Alkitab. Walhasil, legitimasi para padri Katolik pun terancam tergerus.

Selain itu, Luther mengkampanyekan pendidikan universal untuk anak perempuan dan laki-laki di zaman ketika pendidikan hanya bisa diakses oleh orang kaya. Dia juga banyak menulis nyanyian rohani, traktat, berkhotbah tentang pandangan Reformasi, dan melakukan perjalanan hingga kematiannya pada 1546.

Namun, gerakan Reformasi yang melahirkan pecahan Kristen Protestan ternyata harus dibayar mahal. Serangkaian perang antara kubu Katolik Roma dan Reformis Protestan meletus pada 1524-1648.

Puncak dari konflik berdarah tersebut adalah Perang Tiga Puluh Tahun di Jerman antara 1618-1648 yang menewaskan sekitar 7,5 juta jiwa. Konflik kedua kubu berakhir dengan perjanjian damai Westfalen. Tiga aliran Kristen akhirnya asli: Katolik Roma, Lutheran, dan Calvinis. 

Baca juga: Susah-Senang Membuat Film Tentang Yesus 

Warisan intelektual dan politik Luther mengilhami para tokoh pembaharu Protestan di zamannya seperti Calvin, Zwingli, Knox, dan Cranmer. Pemikiran para pembaharu ini pun pada kala melahirkan berbagai jenis denominasi Protestan, misalnya Gereja Lutheran, Reformed, Anglikan, Anabaptis, dan banyak lagi lainnya yang terus berkembang sampai sekarang.

500 Tahun Setelah Reformasi
Tiap 31 Oktober, berbagai aliran gereja Protestan - khususnya Lutheran - memperingati Reformasi. Pew Research Center menyambut 500 tahun Reformasi dengan menggelar jajak pendapat yang melibatkan penganut Protestan dan Katolik. Salah satu yang ditanyakan adalah pendangan umat tentang sola fide dan sola scriptura .

Baik sola fi de (keselamatan hanya melalui iman), dan sola scriptura ( alkitab sebagai otoritas tertinggi dan tidak memerlukan otoritas gereja) adalah dua dari lima ide revolusioner Martin Luther ketika melawan otoritas Katolik.

Baca juga: Iman dan Kesunyian Martin Scorsese 

Hasilnya, perbedaan teologis yang pernah memecah Kekristenan di Barat pada abad ke-16 itu diterapkan dengan cara yang sangat berbeda.

Umat ​​Protestan di Amerika Serikat memiliki sejumlah pandangan yang berbeda dalam memaknai Reformasi: 52 persen percaya bahwa selain dari Alkitab, orang Kristen harus mencari panduan dari ajaran dan tradisi gereja, sebuah posisi yang resmi diambil dari  Gereja Katolik .

Sementara soal iman dan keselamatan, jawaban orang Katolik dan Protestan di Eropa merepresentasikan pandangan tradisional Katolik bahwa iman dan amal baik yang diperlukan untuk mencapai keselamatan. Hanya Norwegia — dengan 51 persen penduduk penganut Protestan — yang menyatakan bahwa hanya imanlah yang mengantarkan manusia pada keselamatan.

Sebanyak 57 persen penganut Protestan di Amerika juga mengatakan bahwa ajaran Katolik lebih punya banyak kemiripan dengan Protestan. Namun ketika ditentukan untuk mendefinisikan Protestan dalam kata-kata mereka sendiri, 32 persen responden dewasa mengatakan bahwa Protestan bukan Katolik dan 12 persen menyebut mereka sebagai orang Kristen.

Baca juga: Khalifah yang Membangun Gereja Suci & Makam Yesus 

Data demografi yang dihimpun oleh Center for The Study of Global Christianity menunjukkan pada 2017 terdapat 560 juta pengikut Kristen Protestan di seluruh dunia. Jumlah ini menyumbang sepertiga dari total populasi umat Kristen dunia.

Benua Afrika menempati peringkat tertinggi dalam jumlah umat Protestan (228.300.000 jiwa) dan disusul Asia (99.040.000). Di Jerman, tempat asal Martin Luther dan Reformasi dilancarkan, Katolik masih mendominasi dengan 42 persen populasi, sementara Protestan sendiri dianut 28 persen penduduk, dan mengaku tidak terafiliasi dengan kelebihan.

Dari data 2015, Amerika Serikat masih berada di peringkat pertama negeri dengan populasi Protestan terbesar di dunia (56.177.000), disusul Nigeria (53.106.000) dan Brazil (34.836.000). Indonesia sendiri peringkat ke-9 (18.213.000).

Dalam peringatan peringatan 500 tahun Reformasi yang diadakan di Stadtkirche, Wittenberg, Di Jerman,  Para pemimpin gereja dari berbagai denominasi seperti Katolik Reformed, Lutheran, dan Methodis turut hadir.

Sedangkan saat peringaran Hari Reformasi ke-499 pada 2016 lalu, Paus Fransiskus hadir bergabung bersama para pemimpin Federasi Lutheran Dunia di Swedia.

Baca juga: Menjamurnya Gereja-Gereja Raksasa 

"Kita berkesempatan untuk memperbaiki momentum masa lalu dengan bergerak melebihi kontroversi dan perselisihan yang menghalangi kita untuk memahami satu sama lain," kata Paus pertama yang terpilih dari benua Amerika Latin tersebut.

Lalu, bagaimana dengan ide unifikasi antara Katolik Roma dan Protestan sendiri?

Dalam sebuah survei yang diadakan di Jerman oleh kantor berita Ide , 45 persen responden menjawab tidak peduli, dan 17 persen tidak bisa / mau menjawab. Hanya 20 persen orang mendukung unifikasi, sementara 18 persen persennya. Sebagian besar dari mereka yang menginginkan persatuan adalah para penganut Katolik Roma (66 persen), sementara para anggota gereja Protestan masih unifikasi (59 persen dari total penentang).

Pada Anugerah Reformasi tahun 2015 lalu di Jerman, suvenir karakter tokoh Martin Luther laris manis. Sebanyak 34 ribu karakter Martin Luther terjual dalam waktu 72 jam. D mengutip Waktu , seorang juru bicara produsen karakter Luther menyebut fenomena itu sebagai "misteri besar.


Sumber : tirto.id 

Kamis, 15 Oktober 2020

Jangan Pernah Irih Pada Orang Lain Tetapi Syukuri Apa Yang Ada Pada Kita

Dulu, aku pernah iri pada seorang teman yg cantik. Setiap kali brjalan denganny, semua orang memandangny. Belasan thn kmdian ak bertemu lagi, hampir ak tak mengenalnya. Wajahnya berjerawat, badanny 2x lebih besar dari ak. Kulitny menghitam. Ia sakit.⁣⁣

⁣⁣.

Dulu, aku pernah iri pada tetanggaku, rumahny besar, mobilny bagus. Kalo bertemu, perhiasan di tangan & lehernya bersinar. Tak lama setelah ak pindah, ak melihatnya di TV, ia meninggal karna dibunuh seseorang, karena utang ratusan juta yg tak kunjung ia bayar.⁣⁣

Dulu, aku pernah iri pada temanku, ia selalu cerita pacarnya tampan, anak org kaya, kuliah di luar negeri. Kemudian ak tau, ia dibawa lari pacarnya, lalu hamil di luar nikah, dan skrg ia ditinggalkan. Mereka bercerai.⁣⁣

Dulu, aku iri pada teman senamku. Ia mau kuliah S3 di negara tetangga. Pulang ke Indonesia sebulan sekali. Aku marah pada suamiku yg tak mengizinkanku kuliah lagi. Belakangan, aku sering baca status medsos suaminya. Lalu aku tau, mereka bercerai, karena temanku lebih memilih pria lain di negara tempatnya kuliah. Keluarganya berantakan.⁣⁣

Dulu, aku iri pada sahabatku. Ia selalu masuk sekolah favorit. Kuliah di universitas terkenal. Lulus PNS dg mudah. Tapi bulan kemarin ia menghubungiku. Mau pinjam uang. Gajinya tak cukup utk mmbayar semua cicilan barang2nya.⁣⁣

Dulu, aku iri pd teman sekolahku. Ia selalu rangking 1. Guru2 menyukainya. Lalu kuliah di univ terkenal. Kerja di perusahaan besar. Teman2 memujinya. Tapi kemarin ia menyapaku d WA. Minta pekerjaan. Ia baru aja di PHK. Perusahaan tempatny bekerja baru aja bangkrut.⁣⁣


Hidup itu sawang sinawang. Apa yang kita lihat indah, blm tentu seindah aslinya. Apa yg dulu kamu sesali, bisa jd skrg kamu syukuri. Ktika dulu nangis2 karna tak bisa seperti org lain, sekarang bilang alhamdulillah telah menjadi dirimu sendiri. Kunci nikmati hidup adalah bersyukur. Apa yg kamu lihat di orang lain belum tentu seperti apa yg kamu kira. Setiap orang diuji dengan cara yg berbeda.⁣⁣

Mungkin ada yg iri melihat saya nampak hidup enak. Padahal aslinya, sy juga ngalamin masukin air ke botol sampo pas habis.⁣⁣

⁣.

.

Penulis: Dinifitriyah⁣⁣

Foto: indahkusuma

#skripsi follow @pembimbingmahasiswa 😊

Senin, 28 September 2020

Tuhan Meninggikan Orang Rendah

Mazmur 113

Sebelum membicarakan orang rendah dan yang direndahkan, pemazmur terlebih dahulu memuji Tuhan sebagai Pribadi yang mahatinggi mengatasi segala bangsa dan penuh kemuliaan. Siapa pun yang memandang Allah akan selalu merasa kerdil (1-6).

Penggambaran Tuhan yang mahatinggi dan manusia yang rendah bukan dimaksudkan supaya hamba-hamba-Nya diliputi kekaguman dan pemujaan. Sebaliknya, ini merupakan peringatan akan apa yang dapat dilakukan Tuhan dari takhta-Nya yang kudus. Dia dapat membolak-balikkan keadaan manusia. Bagi-Nya mengangkat derajat orang miskin dan hina bukanlah hal yang sulit. Ia juga dapat menghapus aib manusia dan menggantinya dengan kebanggaan dan sukacita.

Tuhan tidak menutup mata bahwa umat yang beriman, setia beribadah, dan taat melakukan firman-Nya pun bisa hidup dalam kenyataan pahit. Ada banyak orang kehilangan anggota keluarganya yang terpandang sehingga mereka tidak lagi dipandang, bahkan ditinggalkan orang. Ada juga yang jatuh miskin karena menjadi korban kecurangan bisnis, ketidakadilan, maupun kepentingan para penguasa. Ada juga orang-orang yang direndahkan oleh sesamanya karena kondisi lahiriah yang tidak bisa ditolak (misalnya mandul).

Pemazmur menguatkan bahwa Tuhan bukan saja memperhitungkan ibadah dan ketaatan kita, tetapi juga memperhatikan hidup kita sehari-hari. Marilah kita mengimani bahwa pengakuan akan Tuhan Yang Mahatinggi bukan sekadar ungkapan pemujaan, melainkan pengingat bahwa Dia sanggup mengangkat kita dari segala kerendahan, kehinaan, dan keterpurukan, bahkan kehancuran hidup.

Tuhan menginginkan kita hidup sederajat dengan sesama sekalipun jalan hidup kita berbeda. Lihatlah Hana dan Maria yang ditinggikan Allah (lih. 1Sam 2:1-10 dan Luk 1:46-55). Ada kalanya Allah meninggikan kita melalui peristiwa-peristiwa ajaib karena itu marilah kita sadari dan kita akui bahwa tidak ada yang mustahil bagi Allah.

Kamis, 27 Agustus 2020

Berakar, Dibangun, dan Bersyukur

Kolose 2:6-15 


Dalam bacaan hari ini Paulus menegaskan bahwa keniscayaan logis setiap orang yang menerima Kristus adalah hidup di dalam Dia. Paulus mendeskripsikannya dengan: "Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur" (7).

Sang Rasul menegaskan, setiap pengikut Kristus harus mengakarkan dan mengarahkan dirinya hanya kepada Kristus. Dalam botani, berakar berarti siap mengambil air dan zat hara dari dalam tanah. Itu berarti dalam kehidupan kristiani, orang percaya dipanggil menghidupi dirinya dengan nilai-nilai Kristus.

Menarik disimak jika kita hendak meneliti unsur-unsur tumbuhan, kita hanya perlu memeriksa sehelai daunnya. Semua unsur dalam setiap bagian tumbuhan itu sama kadarnya. Dalam hidup seorang Kristen, pikiran, perkataan, dan perbuatan, semestinya dihidupi oleh nilai-nilai Kristus. Aneh rasanya jika yang dipikirkan berbeda dari yang dikatakan dan berbeda lagi dari yang dilakukan.

Tak hanya berakar, Paulus bicara soal pertumbuhan rohani yang dibangun di atas dasar Kristus. Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Sederhana tertera: "Hiduplah dengan menuruti kemauan-Nya." Kehendak Kristus menjadi arah pertumbuhan rohani. Sesungguhnya, ini merupakan perkara lumrah. Ketika kita membiarkan diri kita dialiri oleh nilai-nilai Kristus, melakukan kehendak Kristus menjadi hal yang wajar. Aneh rasanya, berakar dalam Kristus, tetapi tidak hidup seturut dengan kehendak-Nya.

Yang penting disimak juga, Paulus bicara soal hati yang "melimpah dengan syukur". Sang Rasul sadar, kehendak Kristus sering kali berbeda dengan keinginan manusia. Itulah yang membuat orang percaya merasa berat hidup sebagai Kristen, terlebih di tengah tekanan filsafat dunia (8). Pada titik ini "hidup bersyukur" merupakan frasa kunci.

Marilah kita bersyukur! Bersyukur karena kita dikubur bersama Kristus dalam baptisan dan dibangkitkan bersama Dia setelah pengampunan dosa.


Selasa, 25 Agustus 2020

Rohani vs Sekuler


Kolose 1:15-23

Kita mungkin sering mendengar orang berkata kalau di gereja tidak boleh berkata kasar, tidak boleh berbohong, tidak boleh berpikiran kotor, dan lain-lain. Perkataan ini tentu ada benarnya, tetapi lebih sering disalahartikan: "Kalau di gereja tidak boleh, maka di luar gereja boleh!" Pemahaman seperti ini mungkin sering kita jumpai dalam lingkungan kekristenan hari ini.

Rasul Paulus, mengajarkan kepada jemaat di Kolose bahwa segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia (16). Ini adalah sebuah ajaran Kristologi yang tegas sehingga jemaat di Kolose tidak jatuh pada ajaran sesat. Ajaran populer yang berkembang saat itu mengajarkan bahwa dunia/ materi adalah jahat sehingga Allah tidak mungkin menjadi manusia. Selain itu, ajaran tersebut mengatakan bahwa Allah tidak mengurusi perkara duniawi (sekuler), melainkan hanya hal-hal rohani.

Rasul Paulus menentang itu karena meyakini bahwa Yesus adalah Allah yang telah menjadi manusia. Ia adalah Allah yang menciptakan segala sesuatu dan segala sesuatu untuk Dia. Dengan demikian, tidak ada hal rohani atau sekuler, melainkan semua yang ada adalah ciptaan Allah.

Dualisme seperti itu kerap kali mengecilkan kekristenan. Seolah-olah kekristenan dianggap sebagai kehidupan agama yang hanya berhenti pada hari Minggu. Akibatnya, muncul anggapan bahwa hidup kudus hanya berlaku di gereja tidak berarti apa-apa di luar gereja.

Firman Tuhan mengajarkan bahwa segala sesuatu adalah milik Allah dan berada dalam pengamatan-Nya. Oleh karena itu, sebagai anak Tuhan, kita semestinya melakukan segala sesuatu untuk memuliakan-Nya. Kalau Anda adalah seorang pekerja, bekerjalah seperti untuk Tuhan.

Jika masih bersekolah, maka belajarlah sesuai dengan prinsip firman Allah. Bahkan jika sedang berolahraga, tidur, makan, atau bermain, tetap lakukanlah dengan kesadaran bahwa kita harus memuliakan Allah dalam segala aspek. Dengan penuh penyerahan, kita mau bersaksi tentang Tuhan lewat profesi, pekerjaan, dan seluruh aspek kehidupan.