![]() |
Ilustrasi-penganiayaan-terhadap-seorang-pria |
Bacaan: 1Petrus 2:18-25NATS: Kristus pun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya (1Petrus 2:21)
![]() |
Ilustrasi-penganiayaan-terhadap-seorang-pria |
Bacaan: 1Petrus 2:18-25NATS: Kristus pun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya (1Petrus 2:21)
![]() |
| Ilustrasi Sikap dan Tindakan Orang Indonesia Terhadap Orang Asli Papua |
Oleh : Jazwan W. Yanengga
Pemerintah Indonesia sudah sekian tahun numpang tinggal di pulau Papua bersama Orang Asli Papua, tapi gagal mengambil hati Orang Asli Papua dan Mengindonesiakan orang Papua.
Sebelum pulau Papua aneksasi ke Indonesia, Pulau Papua sudah punya Negera sendiri diproklamasikan pada tanggal 1 Desember tahun 1961.
Soeharto pernah berkata bahwa bubarkan negara boneka pembentukan Belanda, secara tidak sadar beliau mengakui negara West Papua.
Indonesia lebih cenderung melihat kekayaan alam daripada manusianya, pemimpin-pemimpin besar Indonesia dari tahun ke tahun menanam Investasi di tanah Papua tanpa memperdayakan putra-putri asli Papua. Dari Pandangan Orang Indonesia tanah ini tanpa tuan sehingga semua keputusan diputuskan menurut kehendak mereka sendiri tanpa keterlibatan Orang Asli Papua dan tanpa pertimbangan dampak positif dan negatif yang akan terjadi di masa kini, dan akan datang terhadap Orang Asli Papua sebagai ahli waris di atas Tanah ini.
Jika Orang Indonesia datang di Papua ini kerena peduli dengan manusia maka, Papua itu maju dengan cepat seperti daerah-daerah lain di Indonesia. Tetepi mereka punya visi lain-lain sehingga tidak ada perubahan yang signifikan terhadap orang asli Papua. Orang Asli Papua punya bukti bahwa, ketika orang tua kita dulu mengajar dari orang belanda kemajuannya lebih cepat daripada sekarang ini.
Stigma orang Indonesia terhadap Orang Asli Papua, Bodoh, terbelakang, kaki telanjang, ketinggalan zaman masih tertanam dalam pikiran orang Indonesia.
Bukti dari itu tidak ada Orang Asli Papua yang bisa kerja di Indonesia, jangankan pekerjaan besar tukang sapu saja tidak ada, karena stigma itu terus di kembangkan oleh Indonesia dari generasi ke generasi.
Saya pernah ditanya oleh orang Indonesia melalui akun Twitter saya, Abang di Kota Merauke ada lampu atau tidak,? Kemudian saya jawab anda baru bangkit dari kuburan mana, Merauke itu kota tertua sebelum Papua aneksasi ke Indonesia, Merauke sudah ada pelabuhan, bandara, Penerangan, Pertanian sudah dibangun oleh pemerintah Belanda.
Anehnya pada zaman yang sudah canggih seperti sekarang ini stigma itu masih tertanam dalam pemikiran mereka, bisa lihat di Google earth, maps saja masih masih tanya-tanya dengan pertanyaan yang tidak berbobot.
Negara Indonesia punya target untuk menghilangkan nyawa orang Papua satu- persatu secara sistematik dan terstruktur. Maka siapapun anda dan saya, dari Gubernur, Bupati, Camat, ASN, Kepala Kampung, DPR, TNI, Polri, semua tidak pandang bulu, kita semua ada dalam penjara Indonesia ( Dr. Benny Giyai)
Trauma Orang Asli Papua pada tahun 1977 dalam Operasi Militer di Papua itu masih ada sampai sekarang, sehingga orang-orang tua selalu cerita kepada anak-anak maka sampai kapanpun tidak bisa lupa kecuali kalau sudah merebut kembali kemerdekaan Bangsa Papua Barat dari tangan kolonial Indonesia.
Sejarah tidak pernah tipu, yang memputar balikan fakta itu manusia sendiri, maka Ideologi Papua merdeka sejak lahir sudah tertanam dalam tubuh, jiwa dan Roh Orang Papua itu sendiri, ketika melihat terjadi intimidasi, pembunuhan terhadap orang asli Papua yang tak bersalah, komerkosaan, penjarahan karena menuntut keadilan atas hukum, hak hidup, hak berekspresi diatas negeri sendiri maka semangat perlawanan itu terus bertumbuh dan berkobar pada generasi muda Papua.
Pemerintah Indonesia memberikan level TPNPB menjadi KKB dan kini menjadi teroris tapi pelebelan itu tidak akan pernah menyelesaikan masalah di atas tanah Papua ini, sebelum melihat akar persoalan Papua yang sebenarnya yaitu, Pepera 1962 dibawa tekanan militer dan pelanggaran HAM berat yang terjadi sejak Pepera sampai hari ini.
Alangkah baiknya pemerintah Indonesia melihat beberapa akar persoalan Papua untuk mencari solusi untuk perdamaian di Tanah Papua ini.
Bagi orang Kristen, Jumat Agung adalah sebuah hari yang sangat penting dalam setahun karena merayakan apa yang kita percayai sebagai minggu yang paling penting dalam sejarah dunia. Sejak Yesus mati dan bangkit, orang Kristen memproklamirkan salib dan kebangkitan Yesus sebagai titik balik yang menentukan bagi semua ciptaan. Paulus menganggapnya sebagai "yang terpenting" bahwa Yesus mati untuk dosa kita, dikuburkan, dan bangkit pada hari yang ketiga, semua sesuai dengan yang Allah janjikan di seluruh Kitab Suci (1 Korintus 15:3).
Pada hari Jumat Agung, kita mengingat hari ketika Yesus rela menderita dan mati disalibkan sebagai korban terbesar untuk dosa-dosa kita (1 Yohanes 1:10). Dilanjutkan dengan Paskah, perayaan mulia akan hari ketika Yesus dibangkitkan dari antara orang mati, menggembar-gemborkan kemenangan-Nya atas dosa dan kematian, dan menunjukkan kebangkitan pada masa yang akan datang bagi semua yang dipersatukan dengan-Nya dalam iman (Roma 6:5).
Arti Sebutan "Jumat Agung"
Tetap saja, mengapa kita menyebut hari kematian Yesus dengan "Jumat Agung", bukannya "Jumat Buruk" atau sesuatu yang mirip semacam itu? Tradisi Kristen melakukan pendekatan ini: di Jerman misalnya, hari itu disebut Karfreitag, atau "Jumat Penuh Sengsara." Dalam Bahasa Inggris, sesungguhnya, istilah asli "Agung" diperdebatkan: beberapa orang yakin itu dikembangkan dari sebutan yang ada sebelumnya, "Jumat milik Allah." Terlepas dari asal-usulnya, sebutan Jumat Baik sepenuhnya tepat karena kesengsaraan dan kematian Yesus, yang memang mengerikan, melambangkan puncak rencana Allah yang dramatis untuk menyelamatkan umat-Nya dari dosa-dosa mereka.
Rencana Penebusan Allah
Agar kita bisa memaknai kabar baik Injil, pertama-tama kita harus mengerti kabar buruk tentang kondisi kita sebagai orang berdosa yang ada di bawah kutukan. Kabar baik tentang pembebasan hanya masuk akal begitu kita melihat betapa terbelenggunya kita. Cara lain untuk mengatakan ini adalah penting untuk mengerti dan membedakan antara hukum Taurat dan Injil dalam Kitab Suci. Kita membutuhkan hukum Taurat terlebih dahulu untuk menunjukkan betapa tidak berdayanya kondisi kita; kemudian Injil anugerah Yesus datang dan membawa kelepasan dan keselamatan bagi kita.
Demikian juga, Jumat Agung adalah "agung" karena sama seperti mengerikannya hari itu, kengerian itulah yang seharusnya kita alami agar menerima sukacita Paskah. Murka Allah atas dosa harus ditumpahkan kepada Yesus, korban pengganti yang sempurna, agar pengampunan dan keselamatan dicurahkan untuk bangsa-bangsa. Tanpa hari yang sangat mengerikan dari penderitaan, kedukaan, dan darah yang tercurah di kayu salib, Allah tidak akan menjadi "benar dan juga Pembenar" bagi mereka yang percaya kepada Yesus (Roma 3:26). Paradoksnya, hari yang tampaknya menjadi kemenangan iblis yang terbesar, sebenarnya adalah pukulan maut dalam rencana baik Allah yang mulia untuk menebus dunia dari perbudakan dosa.
Kebenaran Sejajar dengan Belas Kasihan
Salib adalah tempat kita melihat perjumpaan antara penderitaan dahsyat dan pengampunan Allah. Mazmur 85:10 menyanyikan sebuah hari ketika "kebenaran dan damai sejahtera" akan "bercium-ciuman". Salib Yesus adalah tempat di mana itu terjadi, syarat Allah, kebenaran-Nya, setara dengan belas kasihan-Nya. Kita menerima pengampunan, belas kasihan, dan damai sejahtera ilahi karena Yesus rela menggantikan hukuman Allah atas kita karena kebenaran Allah bertentangan dengan dosa. "Demi sukacita yang ditetapkan bagi-Nya" (Ibrani 12:2) Yesus menanggung salib pada hari Jumat Agung, tahu bahwa itu akan menuju kepada kebangkitan-Nya, keselamatan kita, dan awal pemerintahan Allah atas kebenaran dan damai sejahtera.
Sebuah Doa Jumat Agung
Hari ini, ya Tuhan, aku mohon agar Engkau mengajarku untuk berduka. Jangan biarkan aku terburu-buru untuk mengalami Paskah pada hari Minggu terlalu cepat. Berikanku anugerah untuk tetap tinggal di sana, di tempat kedukaan bertemu dengan penebusan. Jadikan kematian-Mu sangat nyata bagiku seperti kebangkitan-Mu. Biarlah aku selalu dekat ke salib.
Saat aku menanti di kaki salib, ya Tuhan, singkapkan sekali lagi kepadaku betapa mahalnya harga yang harus dibayar karena dosa-dosaku. Jangan biarkan aku hidup dalam dunia khayalan yang akhir bahagia Paskah membuat keegoisanku menyimpang. Ingatkan aku bahwa anugerah-Mu yang sempurna diperoleh dengan harga yang termahal. Ampuni aku ada masa-masa ketika aku hidup seakan-akan dosa bukanlah sesuatu yang serius, seakan-akan Jumat Baik tidak pernah benar-benar terjadi.
Penuhi aku dengan sukacita dan dukacita, rasa takut dan rasa syukur yang hadir sebelum penguburan Jumat Agung: sukacita karena kemenangan-Mu, dukacita karena kematian-Mu, rasa takut karena kekudusan-Mu, rasa syukur karena anugerah-Mu. Jangan biarkan aku hanya menempatkan salah satu dari emosi-emosi itu dengan mengurbankan yang lain. Beri aku hati yang cukup besar untuk memegang semuanya dengan erat. Jadikanku cukup berani untuk mengejar kebenaran yang benar-benar sejati, bukan hanya kebenaran yang sesuai dengan keinginanku.
Sumber : Wanita Sabda. org
Seseorang yang telah lahir ke dunia akan mengalami pertumbuhan perkembangan, mulai dari pertumbuhan anak-anak. Lalu bertumbuh sampe remaja dan langsung bertumbuh sampai kita tumbuh dewasa. Biasanya setelah kita dewasa kita akan menentukan arah hidup kita, apakah kita akan langsung melanjutkan kerja atau kita akan melanjutkan ke jenjang yang lebih serius. Kalangan orang tua yang sering kali banyak menginginkan anaknya cepat menikah. Padahal apabila kita menikah, kita harus memantapkan pasangan yang memang sudah serius kita punya. Namun, banyak kalangan wanita bahkan pria yang terkadang tidak ingin cepat-cepat menikah atau mereka lebih menginginkan menjenjang karirnya terlebih dahulu.
1. Perbedaan Ras, dan Suku
Orang tua sering sekali menuntut pasangan anda dengan lewat ras dan suku. Biasanya orang tua lebih menginginkan mempunyai pasangan yang memiliki satu ras dan suku yang sama. Sering sekali anak dari orang tua tersebut yang memperkenalkan pasangannya, namun sering sekali mengalami banyak pertentangan dari orang tua.
2. Pekerjaan, dan Status Keluarga
Selain perbedaan ras dan suku yang tidak disetujui, bisanya orang tua akan menanyakan pekerjaan pasangan anda. Dan latarbelakang tentang keluarga pasangan anda tersebut. Orang tua sering kali menuntut mempunyai pasangan yang mempunyai pekerjaan yang lebih tinggi atau minimal setara dibandingkan perempuannya. Orang tua anda biasanya akan menanyakan tentang kehidupan keluarga anda dengan harus keterangan yang baik.
3. Perbedaan Agama
Sering kali kalau kita menemukan pasangan yang mempunyai perbedaan agama dalam mereka menjalinkan hubungan. Banyak sekali pasangan yang menjalin hubungan dengan perbedaan agama, mereka akan melakukan hubungan yang diam-diam karena mereka tahu pasti hubungan cinta mereka akan terlarang dan tidak disetujui.
Baca juga: Renungan Singkat Kristen – Sejarah Natal
Pertentangan-pertentangan yang sering terjadi pada beda agama, banyak sekali faktor yang tidak menyetujui. Masalah faktor utamanya adalah tidak ada restu pada masing-masing orang tua pasangan. Walau sering sekali mendapatkan banyak tantangan sering kali pasangan ini melakukan pertetangan dari nasehat orang tua dengan melakukan hubungannya atau sering kali melakukan nikah lari atau sering disebuat nikah diam-diam tanpa persejutuan orang tua. Lalu mengapa alasan mereka untuk melanjutkan hubungannya atau melangkah yang lebih serius? Berikut alasan pasangan banyak memilih pasangan yang berbeda agama:
Pasangan yang berbeda agama bila kita sering menanyakan mengapa melanjutkan hubungannya kembali? Mereka pasti akan menjawab bahwa mereka sudah saling telanjur cinta mati atau tidak bisa move on dari pasangannya. Pelakuan ini biasanya akan disampaikan oleh salah satu pasangannya untuk melanjutkan hubungannya dengan tahap yang serius lagi
Jalinan yang sudah dijalankan dalam pasangan anda dalam waktu yang panjang dan sudah memiliki pacar yang memang sudah sangat terjalin dalam mengetahui masalah sulit dan masalah senangnya. Biasanya mereka tidak akan mau dipisahkan atau ditentang orang tua. Biasanya mereka akan kabur dan melakukan keluarga hubungan yang baru bersama pasangan anda.
Alasan ini juga merupakan salah satu dari mereka melanjutkan pernikahan, hubungan yang terus disegaja dilakukan ini biasanya agar pasangan ini mendapatkan pengakuan dan luluhan dari orang tuanya. Namun, hanya ada beberapa orang tua yang menyetujuinya dan pada sebagaian orang tua tidak menyetujuinya. Lalu biasanya mereka akan melakukan putus hubungan keluarga.
Ada tiga alasan yang sudah dijelaskan sedikit mengapa sering kali orang tua menantang, hubungan anda. Namun dari beberapa hal yang sudah dijelaskan tentang alasan mengapa orang tua melarang, biasanya terkadang orang tua akan menyetujui alasan yang pertama dan kedua. Pada alasan yang ketiga sering kali orang tua tidak menyetujuinya, untuk alasan anak apapun. Karena dalam perbedaan agama apabila disatukan, tidak akan pernah menjadi satu menurut prinsip orang tua. Apabila anda melakukan pernikahan hubungan kepada pasangan yang berbeda agama akan sekali menimbulkan banyak masalah sebagai berikut:
Pandangan Menikah Menurut Agama Kristen Yang Benar
Jika kita sudah membaca dari adanya faktor yang tidak disetujui dari berbagai dari banyak orang tua, dan sampai menjelasskan masalah konflik yang terjadi dalam rumah tangga dalam perbedaan agama. Lalu apa yah pandangan agama Kristen tentang adanya pernikahan agama yang terjadi pada anggota jemaatnya.
Berikut pandangan agama Kristen menurut dengan pasal pada alkitab:
2 Korintus 6:14: Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap? Maksudnya dari nas epistel ini adalah bahwa kita harus memilih pasangan yang tepat dalam pasangan calon anda, jangan pernah memiliki perbedaan dalam ajaran Tuhan. Tuhan hanya menginginkan keluarga yang sama-sama saling utuh dan saling menghargai satu agama yang dimiliki oleh keluarga barunya tersebut. Persamaan yang akan terjalin dalam hidup keluarga anda dalam pasangan baru anda akan membuat hati anda lebih tenang, dan jarang menghadapi berbagai cobaan dari luar. Karena hubungan pernikahan keluarga anda sudah terlindungi didalam Tuhan.
Cara Mencoba Hubungan yang Baru Dengan Satu Iman Kristiani
Lalu anda pasti sering menanyakan bagaimana saya harus bisa berpindah dengan pasangan saya yang berbeda agama ini. Pertanyaan ini sebenarnya mudah dijawab namun juga sulit untuk dijawab, keputusan jawabannya biasanya terletak dari hati dan kemauan anda. Jangan pernah pikirkan hanya pada enak sementara dalam menjalikan pernikahan, yang namun akan membuat pernikahan anda lebih berantakan dengan sendirinya. Cara kalian mencoba hubungan baru dengan sesama iman sebagai berikut:
Keenam cara ini bisanya akan bisa anda lakukan dengan niat dan keputusan tekad anda sendiri. Bila hanya melakukan karena paksaan atau karena dari ada paksaan orang tua, sebaiknya anda pikir terlebih dahulu. Jangan sampe apa yang anda lakukan dengan setengah-setengah dalam prinsip cara anda berpindah dalam hubungan pasangan anda. Anda biasanya akan mengalami kebingungan dan kembimbangan dalam anda memilih keputusan anda yang akan membuat hidup anda menjadi aka lebih stress yang berkepanjangan.
Ingatlah apa yang sudah disampaikan dalam artikel ini, semoga bisa jadi manfaat dan wawasan dalam anda mengalami masalah yang sama pada artikel ini. Pilihlah makna dan keputusan yang tepat dalam hidup anda menjalinkan hubungan yang benar dan tepat.
![]() |
| Tugu Injil Masuk di Pulau Mansinam Manokwari |
Oleh : Pdt. Dr.Lenis Kogoya, M.Th, M. Pdk.
REFLEKSI MISI UNTUK TANAH PAPUA TAHUN 2021: Melawan Lupa/Jadi Waras Jangan hanya kejar parasnya saja. Temukan Nilai-nilai Dasar OAP Yang Pernah Berjumpa dan Mendaratkan Injil Di Tanah ini pada 166 Tahun Silam itu. Jangan terus mengekspor nilai-nilai dari budaya lain yang hanya terus menambah beban, tantangan dan problem bahkan menjerat pergerakan misi di tanah Papua. Dengan demikian, kita tidak terjebak pada dikemah yang saya sebut "latihan lain, main lain," atau "realitas lain, omong lain," atau "orang mau makan ubi, malah sodorkan nasi."
Back to the history atau harus kembali kepada sejarah Misi di Papua sebagai Dasar untuk membangun kesadaran bagi semua orang yang ada di atas Tanah ini. Sebab rupanya Tanah Papua ini sudah di persembahkan sejak awal kepada Tuhan oleh Carl Willem Ottow dan Johan Gottlod Geissler dengan berkata: "Dengan nama Tuhan kami menginjak kaki di tanah ini”. Dengan doa itulah kedua hamba Tuhan yang saya sebut sebagai "Founding Fathers" tersebut memulai pekabaran Injil di Tanah Papua pada tahun 1855 di Mansinam.
Dampak dan berkat doa kedua orang penting itulah yang menyebabkan Kekristenan hari ini masih bertahan meski harus berjuang. Dan entah sampai kapan, bagaimana dan kenapa Papua dengan sebutan "Tanah Injil" itu akan ada. Jika model misinya tak berubah, pemainnya tidak berganti kostum dan intonasi bunyi toanya tetap tidak merdu, maka akan tetap kelihatan kerja bahkti, rutinitas belaka, berkeringatan dan hosa-hosa saja tanpa capaian-capaian yang bernilai bertahan. Jika demikian, maka Nilai kekristenan sudah mati suri tapi agama Kristen masih merayalela di bumi Cenderawasih.
Beberapa tahun kemudian, ada doa sulung oleh seorang Izaak Samuel Kijne melalui karyanya dengan berkata: "Di atas batu ini, saya meletakkan Peradaban Orang Papua. Sekalipun orang memiliki kepandaian tinggi, akal budi dan marifat tetapi tidak dapat memimpin bangsa ini, bangsa ini akan bangkit dan memimpin dirinya sendiri” (Wasior, 25 Oktober 1925).
Pernyataan ini merupakan sebuah kata-kata prophesi yang berharga baik bagi OAP maupun OP. Kata perkata dalam tulisan ini perlu dianalisis sambil renung untuk bertindak nyata. Artinya, idrntifikasi dan introspeksi diri, percaya diri, berdiri di kaki sediri, makan dari kebun sendiri, minum dari sumur sendiri. Dengan demikian, kita menjadi pemeran atau pemain utama bukan cadangan atau korban sandiwara pewayangan. Orang Asli Papua itu hasil kreasi Mega Karya Sang Kreator. Orang Asli Papua itu asli manusia sejak awal. Dan manusia asli itu perlu diajar untuk mengerti segala sesuatu. Dan karena itu, pengajaran itu sudah dimulai sejak tahun 1855 hingga kini sudah 166 tahun di tahun 2021 ini. Lalu pertanyaan ialah: Apakah kita masih cari orang pintar, orang terdidik, orang berakal budi di luar sana atau masih mau dipimpin? Mari kita bangun kesadaran diri, lawan lupa akan pernyataan sejarah yang bernuansa prophetik ini.
Stop diskriminasi sesama Anak Asli Papua. Stop merasa sudah memahami OAP padahal lamanya Anda di Papua tidak s banding dengan lamanya para Founding fathers kita di atas. Stop membanding-bandingkan sesama OAP apalagi oleh OP yang tidak ada nilai dasar dengan kesukuan Papua. Mari kita berdayakan OAP dengan jujur, ikhlas dan tindakkan nyata, bukan memperdaya mereka dengan maksud dan cara-cara yang tidak manis atau tidak elok seperti mencari keutungan atas mereka, mencari muka atas nama.mereka, menjebak mereka dan sebagainya. Sebab hal-hal ini adalah trend dan gaya baru dari imperialisme dan kolonialism termasuk yang berjubahkan jabatan-jabatan gerejawi. Dan hal ini sungguh-sungguh menjerat pergerakan misi di atas Tanah ini
Setelah mendoakan, memperhatikan dan mengalami bersama OAP bertehun-tahun, maka menarik kesimpulan oleh seorang Izaak Samuel Kijne dengan pesan: "Barang Siapa yang bekerja di Tanah ini dengan setia, jujur dan dengar-dengaran, maka ia akan berjalan dari tanda heran yang satu tanda heran yang lain.” ( Pdt. I. S. Kijne, 1947).
Mengapa kesimpulan ini dibuat? Saya yakin, bahwa alasannya ialah, bahwa aslinya OAP di mata para misionaris lintas budaya ini adalah polos-polos, jujur dan hidup apa adanya di atas kekayaan alam yang kaya raya dan melimpah ruah ini. Dikuatirkan bila ada tangan-tangan jahil di tanah ini bisa membodohi OAP dan tidak mengalami keajaiban-keajaiban Allah, justru timbul kejahatan, pencurian, pembunuhan seperti yang dialami dewasa ini.
Saudaraku yang terkasih,
Dalam momen penting, pada HPI 166 tahun ini, saya merasa penting sekaligus menjadi kebutuhan untuk membangun kesadaran bersama sebagai sesama anak Tuhan dan sesama Anak Papua. Sebab kita semua yang tinggal dan hidup di Tanah Papua terlihat sudah tidak sesuai dengan tatanan dan nilai peradaban hidup Orang Asli Papua. Telah terkikis dan sudah kabur doa sulung di atas dengan adalah nilai-nilai dan tatanan budaya lain. Entah sampai kapan, siap yang memulai dan bagaimana caranya? Hanya Tuhan yang tahu dan kita semua hanya berharap dengan doa kepada Tuhan.
Akhirnya saya, Pdt. Lenis Kogoya bersama keluarga mengucapkan Selamat Memperingati HPI Di Tanah Papua yang ke 166 tahun pada tanggal 05 bulan Februari tahun 2021. Semoga model dan metode harus dikembalikan kepada nilai dasar orang asli Papua untuk misi kepada orang Papua. Jangan ubah form dan model kecuali untuk sasaran kepada yang lain. Tuhan Yesus Kepala Gereja Tuhan di Tanah Papua memberkati.
Wa wa wa
saya mengutip bahasa mantan presiden Amerika Serikat yaitu "jangan tanyakan apa yang tanah ini berikan kepadamu, tetapi tanyakan apa yang engkau berikan untuk tanah ini" John F Keneddy
Penyerahan Buku Profil Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kepada Gubernur Papua Pegunungan Oleh Kepala Dinas Dukcapil Amos Wandik, S.PAK., M...