Senin, 24 November 2025

𝗣𝗲𝗹𝗮𝘆𝗮𝗻𝗮𝗻 𝗞𝗲𝘀𝗲𝗵𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗢𝗿𝗮𝗻𝗴 𝗔𝘀𝗹𝗶 𝗣𝗮𝗽𝘂𝗮 𝗣𝗮𝗱𝗮 𝗘𝗿𝗮 𝗢𝘁𝗼𝗻𝗼𝗺𝗶 𝗞𝗵𝘂𝘀𝘂𝘀 𝗝𝗶𝗹𝗶𝗱 𝗗𝘂𝗮 𝗦𝗮𝗻𝗴𝗮𝘁 𝗣𝗿𝗶𝗵𝗮𝘁𝗶𝗻: 𝙆𝙚𝙩𝙞𝙠𝙖 𝙋𝙖𝙨𝙞𝙚𝙣 𝘽𝙚𝙧𝙨𝙖𝙡𝙞𝙣 𝘿𝙞𝙩𝙤𝙡𝙖𝙠 𝙆𝙖𝙧𝙚𝙣𝙖 𝙏𝙖𝙠 𝙈𝙖𝙢𝙥𝙪 𝘽𝙖𝙮𝙖𝙧 𝘽𝙞𝙖𝙮𝙖 𝙊𝙥𝙚𝙧𝙖𝙨𝙞.

Foto : Ilustrasi AI


Janji Otonomi Khusus (Otsus) Jilid 2 di Tanah Papua, yang ditandai dengan perubahan undang-undang dan peningkatan alokasi dana yang masif, sejatinya dicanangkan untuk menutup jurang kesenjangan sosial dan meningkatkan kesejahteraan Orang Asli Papua (OAP). Sektor kesehatan, sebagai pilar utama pembangunan sumber daya manusia, seharusnya menjadi pos terdepan yang menunjukkan keberhasilan dana triliunan rupiah tersebut.

​Namun, laporan yang menyayat hati mengenai seorang pasien bersalin yang ditolak oleh pihak rumah sakit karena tidak mampu membayar biaya persalinan, mendedahkan realitas yang jauh dari harapan. Kasus ini bukan hanya insiden tunggal kegagalan administrasi, melainkan cerminan sistem pelayanan kesehatan yang 'sangat prihatin' dan mengkhianati semangat Otsus itu sendiri.

​Paradoks Dana Melimpah dan Akses Terbatas

Dana Otsus dirancang untuk memastikan OAP, yang merupakan kelompok paling rentan, mendapatkan akses penuh terhadap hak-hak dasar, termasuk kesehatan. Dalam konteks Papua, di mana infrastruktur medis terbatas dan tantangan geografis sangat ekstrem, rumah sakit, baik milik pemerintah pusat maupun daerah, seharusnya berfungsi sebagai benteng terakhir jaminan kesehatan.

​Kasus penolakan pasien bersalin ini menciptakan paradoks yang memilukan:

𝙆𝙚𝙜𝙖𝙜𝙖𝙡𝙖𝙣 𝙅𝙖𝙢𝙞𝙣𝙖𝙣 𝙎𝙤𝙨𝙞𝙖𝙡 :  Di bawah skema Otsus, seharusnya semua OAP terintegrasi dengan jaminan kesehatan yang memadai. Penolakan karena alasan finansial menunjukkan bahwa skema jaminan ini, atau setidaknya implementasinya di tingkat fasilitas kesehatan, gagal total.

 

𝙋𝙚𝙡𝙖𝙣𝙜𝙜𝙖𝙧𝙖𝙣 𝙀𝙩𝙞𝙠𝙖 𝙙𝙖𝙣 𝙃𝙪𝙠𝙪𝙢 𝘿𝙖𝙧𝙪𝙧𝙖𝙩 : Dalam hukum kesehatan Indonesia, penolakan pasien dalam kondisi darurat (termasuk persalinan) adalah pelanggaran berat. Kondisi bersalin adalah situasi kritis di mana nyawa ibu dan bayi berada dalam ancaman. Mengutamakan biaya di atas nyawa adalah tindakan yang tidak manusiawi dan melanggar sumpah Hippokrates.

 

𝙈𝙚𝙣𝙜𝙖𝙥𝙖 𝘿𝙖𝙣𝙖 𝙊𝙩𝙨𝙪𝙨 𝙂𝙖𝙜𝙖𝙡 𝙎𝙖𝙢𝙥𝙖𝙞 𝙆𝙚 𝙋𝙖𝙨𝙞𝙚𝙣..? 

​Pertanyaan mendasar yang harus dijawab oleh pemerintah daerah dan pusat adalah: ke mana perginya dana Otsus yang sedemikian besar, yang salah satu prioritas utamanya adalah kesehatan?

​Terdapat beberapa faktor yang diduga menjadi penyebab berlarutnya krisis pelayanan ini:

 

1.      𝙏𝙖𝙩𝙖 𝙆𝙚𝙡𝙤𝙡𝙖 𝙙𝙖𝙣 𝙆𝙤𝙧𝙪𝙥𝙨𝙞: Kebocoran dan ketidaktransparanan dalam pengelolaan dana Otsus menyebabkan alokasi yang seharusnya menjangkau fasilitas kesehatan tingkat bawah justru terserap dalam birokrasi yang gemuk atau praktik korupsi.

2.      𝘼𝙠𝙨𝙚𝙨𝙞𝙗𝙞𝙡𝙞𝙩𝙖𝙨 𝙙𝙖𝙣 𝘿𝙞𝙨𝙩𝙧𝙞𝙗𝙪𝙨𝙞:  Walaupun dana tersedia, masalah distribusi obat, alat medis, dan penempatan tenaga kesehatan yang tidak merata, terutama di wilayah pedalaman, membuat rumah sakit di perkotaan sering menjadi pintu tunggal yang terlampau penuh beban dan kaku secara aturan.

3.      𝙈𝙚𝙣𝙩𝙖𝙡𝙞𝙩𝙖𝙨 𝘽𝙞𝙧𝙤𝙠𝙧𝙖𝙨𝙞 𝙑𝙎 𝙆𝙚𝙢𝙖𝙣𝙪𝙨𝙞𝙖𝙖𝙣: Stigma terhadap OAP yang dianggap sering tidak patuh pada prosedur administrasi seringkali diperparah oleh mentalitas birokratis di rumah sakit yang mengutamakan kelengkapan berkas dan kemampuan bayar, alih-alih prinsip salus populi suprema lex (keselamatan rakyat adalah hukum tertinggi).


​Memulihkan Kemanusiaan dalam Pelayanan

​Otsus Jilid 2 tidak akan berhasil jika kasus penolakan pasien darurat terus terjadi. Kasus ini adalah indikator nyata bahwa reformasi struktural harus segera dilakukan, jauh melampaui sekadar menambah jumlah uang.

​Pemerintah wajib melakukan langkah-langkah konkret: 

1. 𝘼𝙪𝙙𝙞𝙩 𝙙𝙖𝙣 𝘼𝙠𝙪𝙣𝙩𝙖𝙗𝙞𝙡𝙞𝙩𝙖𝙨 𝘿𝙖𝙣𝙖 𝙆𝙚𝙨𝙚𝙝𝙖𝙩𝙖𝙣 𝙊𝙩𝙨𝙪𝙨 

 Melakukan audit menyeluruh terhadap penggunaan dana kesehatan Otsus dan menindak tegas setiap pelanggaran administrasi atau korupsi yang menghambat layanan.

 

2. 𝙆𝙚𝙗𝙞𝙟𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙏𝙖𝙣𝙥𝙖 𝘽𝙖𝙮𝙖𝙧 𝙙𝙞 𝙏𝙞𝙩𝙞𝙠 𝙋𝙚𝙡𝙖𝙮𝙖𝙣𝙖𝙣

​ Menerbitkan regulasi tegas yang menjamin bahwa semua pasien OAP yang berada dalam kondisi darurat, khususnya bersalin, harus dilayani terlebih dahulu tanpa prasyarat pembayaran atau kelengkapan berkas Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) atau BPJS Kesehatan. Masalah administrasi harus diselesaikan setelah kondisi pasien stabil.

 

3. 𝙋𝙚𝙡𝙖𝙩𝙞𝙝𝙖𝙣 𝙀𝙩𝙞𝙠𝙖 𝙙𝙖𝙣 𝘽𝙪𝙙𝙖𝙮𝙖

​ Melakukan pelatihan intensif bagi seluruh staf rumah sakit di Papua mengenai etika kedokteran, penanganan pasien darurat, dan sensitivitas budaya terhadap OAP.

 

𝙆𝙚𝙨𝙞𝙢𝙥𝙪𝙡𝙖𝙣

​Tragedi penolakan pasien bersalin adalah alarm keras. Pemerintah dan pihak terkait harus memastikan bahwa hak konstitusional atas kesehatan tidak dapat dibatalkan hanya karena hambatan birokrasi atau biaya operasi. Otsus Jilid II harus menjadi era di mana nyawa OAP, terutama ibu dan anak, adalah prioritas tertinggi.

Di bawah payung Otsus Jilid 2, tidak boleh ada lagi OAP yang meregang nyawa di depan pintu rumah sakit hanya karena terhalang tembok birokrasi dan biaya. Ini adalah pertaruhan atas keberhasilan dan martabat Otsus itu sendiri. Negara harus hadir dan memastikan bahwa dana yang seharusnya menjamin kehidupan, tidak justru menjadi pemisah antara nyawa dan kematian.

 

Penulis. 

Jazwan W. Yanengga

Rabu, 25 Juni 2025

Papua adalah ATM Jakarta

Foto Istimewa Victor Yeimo

Konflik di Papua adalah mesin pencetak uang, dan TNI/Polri dan Badan Intelejen Negara (BIN) adalah operatornya.

Perang adalah proyek. Konflik ini dipelihara, bukan diselesaikan. Papua tidak aman karena Indonesia butuh konflik untuk hidupkan mesin bisnis militernya. Papua akan damai jika militer dan penjajahan ini diakhiri.

Papua hari ini telah menjadi ATM bagi petinggi Tentara Nasional Indonesia (TNI), Badan Intelejen Negata (BIN), dan Polri.

Dari konflik yang tak kunjung selesai itulah mereka mendapatkan dana triliunan rupiah dari APBN setiap tahun. Dalam bahasa ekonomi politik, ini disebut Militarized Rent-Seeking, yaitu ketika militer bertindak sebagai pelaku ekonomi yang mencari untung dari konflik. 

Disitu nereka "jual ancaman," minta dana, dan bangun kerajaan bisnis di atas penderitaan Rakyat Papua.

Strategi yang mereka pakai dikenal juga sebagai Low Intensity Conflict, konflik yang dibiarkan terus hidup dalam skala rendah, tapi menghancurkan masyarakat secara perlahan-lahan. Rakyat dibuat trauma, desa dikosongkan, sekolah ditutup, dan semua itu digunakan sebagai alasan untuk menambah kekuatan militer. 

Perang tidak diarahkan untuk kemenangan atau penyelesaian, tetapi untuk kelangsungan. Ini yang disebut sebagai managed conflict atau konflik yang sengaja dikelola pada level tertentu agar menjadi pembenar operasi militer dan aliran dana. Papua dijadikan arena konflik abadi, bukan karena tidak ada solusi, tetapi karena konflik itu sendiri adalah solusi bagi kepentingan elite militer dan penajabat oligarki Jakarta. 

Dalam strategi perang modern, khususnya fourth generation warfare, militer tak lagi sekadar berfungsi menjaga kedaulatan, tetapi menjadi aktor politik dan ekonomi. Di Papua, TNI, Polri dan BIN menjadi operator utama proyek ekonomi-politik. Dana negara mengalir dalam bentuk belanja pertahanan, operasi non-tempur, dan proyek infrastruktur “keamanan”  yang pada hakikatnya merupakan mekanisme kontrol kolonial. Pos-pos militer bukan dibangun untuk menjaga Rakyat, tapi untuk memastikan eksploitasi ekonomi dan kontrol wilayah tetap berjalan lancar.

Jika kita bandingkan dengan praktik Amerika Serikat, penciptaan konflik di luar negeri (Irak, Libya, Afghanistan) digunakan sebagai dalih menciptakan utang negara, mencetak uang melalui The Fed, lalu membiayai industri militer. Hal serupa dilakukan di Papua dalam skala domestik: narasi ancaman separatis diproduksi, kemudian digunakan untuk menarik dana dari APBN. Perang menjadi ladang ekonomi. Ini adalah bentuk military Keynesianism dalam versi kolonial Indonesia.

Jakarta sepenuhnya sadar bahwa Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) bergerak tanpa dukungan struktur politik nasional yang solid. Tidak ada koordinasi strategis antara kekuatan bersenjata dan kekuatan sipil-politik. Ketiadaan strategi terpadu inilah yang menjadikan gerakan bersenjata mudah dikooptasi secara psikologis dan intelijen. Fragmentasi ini menjadikan Tentara Nasional Papua Barat (TPNPB ) lebih sebagai simbol resistensi daripada kekuatan yang mampu mengancam struktur kekuasaan. Dan ironisnya, kondisi ini justru memperkuat legitimasi militer Indonesia untuk terus bercokol.

Dalam kerangka ini, Papua telah menjadi contoh sempurna dari militarized rent-seeking, di mana konflik bukan efek samping dari ketidakadilan, tetapi alat utama penguasaan ekonomi dan politik. Sama seperti konflik di Kongo yang diciptakan untuk menguasai tambang, atau konflik buatan Prancis di Afrika Barat demi kontrol uranium, Papua adalah arena kolonial di mana darah Rakyat menjadi pelumas roda ekonomi militer Indonesia.

Bagi Tentera Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB), barangkali tahu mereka main proyek, tetapi tetap memilih berperang. Bukan karena Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) bodoh. Tapi karena barangkali mereka sadar: hanya perang yang bisa memaksa dunia melihat wajah asli kolonialisme Indonesia. Kalau Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) berhenti hari ini, itu artinya sedang memberi karpet merah kepada TNI, Polri, dan korporasi tambang untuk ambil semua yang tersisa dari tanah ini. Diam berarti membiarkan pegunungan dikapling, hutan dibabat, emas disedot, dan Rakyat dikurung dalam pos militer dan trauma. Diam itu menyerah tanpa perlawanan.

Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) sedang bilang kami tidak pilih perang karena kami suka kekerasan. Kami pilih perang karena Indonesia tidak memberi ruang bagi kehormatan dan keadilan.

Semua sudah dicoba: bicara, berdialog, angkat bendera damai. Tapi jawabannya selalu sama: peluru, stigma, dan penjajahan ekonomi. Maka perang adalah jawaban terakhir yang paling masuk akal.

Pasukan Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) akan bilang, setiap hari kami melihat bukit yang dibor, sungai yang tercemar, dan Rakyat yang dikorbankan atas nama "pembangunan."

Lalu mereka bilang jangan lawan.? Justru melawan adalah satu-satunya cara menghentikan eksploitasi ini. Karena penjajahan tidak pernah berhenti karena belas kasihan. Penjajahan hanya berhenti karena dilawan.

Tebtera Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) mungkin sudah melihat bahaya ketika Rakyat Papua diam. Karena diam di bawah sistem kolonial bukan berarti aman.  Diam berarti memberi ruang seluas-luasnya bagi militer dan korporasi untuk bergerak tanpa hambatan. Tanpa perlawanan, eksploitasi akan berjalan lebih cepat, lebih dalam, dan lebih kejam,  karena tidak ada tekanan politik dan tidak ada gangguan moral dari bawah.

Perang yang dilakukan Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) bukan perang reaktif, tapi respons strategis terhadap kolonialisme. Ini sejalan dengan teori dekolonisasi Frantz Fanon, yang mengatakan bahwa dalam kondisi kolonial brutal, kekerasan revolusioner adalah cara bangsa tertindas memulihkan martabatnya dan memaksa perubahan struktur kekuasaan. 

Lalu bagaimana dengan penderitaan Rakyat akibat perang.? Ini pertanyaan yang sah. Tapi kita harus jujur: Rakyat Papua juga menderita di masa "damai semu." Rumah dibakar saat tidak ada perang. Orang dituduh Organisasi Papua Merdeka (OPM) dan ditembak saat tidak pegang senjata.

Jadi penderitaan bukan akibat perang semata, tapi akibat keberadaan sistem kolonial itu sendiri. 

Jadi bagi Tentara Pembebasan Nasiobal Papua Barat (TPNPB), barangkali bukan perang yang memperpanjang konflik, justru perang ini adalah bentuk tekanan agar dunia melihat, agar penjajah berhenti, dan agar Papua tidak menjadi koloni permanen. 

Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) bakan terus berjuang. Tapi agar perjuangan ini tidak hanya jadi siklus tanpa ujung, ia harus dipadukan dengan strategi politik, tekanan diplomatik, dan gerakan Rakyat yang sadar.

Sementara bagi Jakarta: selama konflik ini terus dijadikan proyek ekonomi, mereka sedang menunda letusan sejarah yang lebih besar.

Selama struktur kolonial ekonomi-politik Jakarta atas Papua tidak dirombak, maka perang bukan ancaman, ia adalah konsekuensi logis. Maka solusi sejati bukan memadamkan senjata, tapi mencabut akar penjajahan. Negara Indonesia yang menjaga proyek ekonomi lewat militerisasi. Bangsa Papua, khususnya Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB), yang memilih jalan perang karena tidak ada kanal damai yang adil.

Untuk keluar dari siklus konflik berdarah dan proyek militer, solusi damai harus memenuhi dua prinsip utama: keadilan sejarah dan penghormatan atas hak menentukan nasib sendiri (selfdetermination) bagi bangsa Papua.


Penulis : Victor Yeimo 

Juru Bicara KNPB Internasional




Kamis, 17 Oktober 2024

Marthen Kogoya PJ Bupati Kinerja Terbaik Se-Papua Pengunungan Kembali Pimpin Tolikara Periode Ke Tiga

Foto Usai Evaluasi Kinerja PJ. Bupati Tolikara Marhen Kogoya, S.h., M.Ap

Pemerintah Republika Indonesia melalui kementerian dalam Negeri kembali melakukan evaluasi  kinerja  Pejabat Bupati Kabupaten Tolikara Bapak Marthen Kogoya, S. H., M. Ap yang kesekian kalinya. Hasil evaluasi pemerintah pusat  menilai  bahwa kinerja Pejabat Bupati Kabupaten Tolikara  sangat baik maka kementerian dalam negeri kembali  memutuskan Marthen Kogoya, S. H., M. Ap untuk melanjutkan  sebagai Pejabat Bupati Kabupaten Tolikara Periode  yang Ketiga. 

Hal tersebut mebuktikkan bahwa Pejabat Bupati Kabupaten Tolikara dalam hal ini Bapak Marthen Kogoya, S.H., M. Ap, telah sukses menjalankan amanah pemerintah Republik Indonesia dan  membangun Kabupaten Tolikara sesuai dengan harapan Pemerintah Pusat dan Masyarakat Tolikara. 

Keputusan tersebut tidak bisa diganggu gugat oleh siapapun karena melihat dari kenerja selama beliau pimpin  banyak perubahan yang terjadi  pada wajah Kota Karubaga sebagai Ibu kota Kabupaten Tolikara dan sekitarnya. 

Jika kita mereview  kembali kepemimpinan Bupati sebelumnya dan bandingkan dengan kepemimpinan Pejabat Bupati sekarang pasti hal-hal tertentu yang kita bisa dapat melihat, merasakan dan membandingkan yaitu ada perubahan-perubahan yang terjadi secara signifikan  dalam roda pemerintahan, pelayanan  publik kepada masyarakat dan pembangunan fisik serta non-fisik. 

Dalam perbandingan pemimpin tujuannya bukan untuk menjatuhkan pemimpin sebelumnya namun hal tersebut menjadi indikator kemajuan daerah agar kita dapat ketahui bersama. Karena ada pepatah yang mengatakan bahwa setiap masa ada pemimpinnya dan setiap pemimpin ada masanya sehingga dalam kesempatan yang beliau pimpin mengambil keputusan tepat dan sasaran pada pembangunan daerah. 

Hari ini sejarah mencatat bahwa dalam dua tahun kepemimpinan beliau telah  sukses melakukan  terobosan yang cukup dalam pembangunan Kab. Tolikara pada sektor Pendidikan, Kesehatan, Pembangunan Infrastruktur Jalan, Jembatan serta pelayanan publik kepada masyarakat Kabupaten Tolikara. 

Meskipun  penilaian dari orang lain banyak hal yang beliu belum lakukan dalam dua tahun kepemimpinan namun kita akui karena manusia  sebagai instan yang lemah pasti punya kekurangan namun perubahan suatu daerah tidak semudah membalik telapak tangan harus membutuhkan waktu dan proses yang cukup panjang  untuk perubahan suatu daerah. Tolikara sebagai salah satu kabupaten yang rawan konflik di Papua pengunungan tentu ada pertimbangan-pertimbangan sebelum membangun  pembangunan fisik, faktor lain adalah struktur tanah yang tidak kuat untuk menahan pembangunan maka perlu dipikirkan dua kali lipat,  namun hal itu bukan suatu masalah menjadi alasan untuk pemimpin dalam mengambil keputusan pada pembangunan Kabupaten Tolikara,  hal tersebut suatu tantangan yang harus dihadapi dan diterima dari kenyataan hidup. 

Kita sebagai kader Gereja Injili Di Indonesia (GIDI) selalu katakan bahwa Tolikara adalah Kota Injil dan Kita sebagai anak Injil namun untuk membuktikan perkataan kita ini melalui tindakan nyata sangat sulit, hanya orang-orang tertentu yang bisa  mebuktikkan dengan kerja nyata yaitu bagi kader GIDI yang takut Tuhan dan punya hati untuk pembangunan serta punya jiwa untuk rakyat Tolikara, salah satunya adalah Pejabat Bupati Kabupaten Tolikara Bapak Marthen Kogoya, S. H., M. Ap. saat ini pimpin. 

Saya sebagai pemuda  yang peduli dengan pembangunan Kabupaten Tolikara berikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Pejabat Bupati Kabupaten Tolikara Bapak Marthen Kogoya, S. H., M. Ap. Karena telah terbukti  mewujudkan pembangunan Kabupaten Tolikara dalam 2 (Dua) Tahun kepemimpinan. 

Pada akhirnya secara pribadi menyampaikan Selamat dan Sukses atas Perpanjangan Surat Keputusan  Kementerian Dalam Negeri sebagai Pejabat Bupati Kabupaten Tolikara Periode Ke-III. 

Kiranya Tuhan Yesus yang punya segala berkat akan memberikan hikmat, akal budi serta kesehatan yang baik untuk melayani masyarakat Kabupaten Tolikara demi kemuliaan nama Tuhan Yesus. 


Minggu, 04 Februari 2024

Menjaga Hati


Bacaan: AMSAL 4:23

Bacaan Setahun: Imamat 11-13


Nas: Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari sanalah terpancar kehidupan. (Amsal 4:23)


Menjaga Hati

Sejak menempati rumah baru, kami mendapati baju seragam putih anak-anak kami kusam, tidak putih bersinar, bak mandi lebih cepat kuning dan lantai kamar mandi lekas berlumut. Belakangan baru diketahui hal tersebut disebabkan oleh kualitas air tanah yang tidak baik, berwarna, dan berbau karat. Akhirnya, kami memasang alat pengolah air. Meskipun hasilnya tidak maksimal, sedikit banyak telah mengurangi dampak air tanah yang kualitasnya buruk. Kualitas air yang buruk berdampak buruk pula bagi beberapa hal di rumah.

Hati ibarat sumber air yang harus dijaga dengan baik seperti kata firman Tuhan. Tuhan memerintahkan kita menjaga hati di atas segalanya. Hati adalah pusat kehidupan yang menentukan jalan hidup kita. Hati penuh dosa menggerakkan tubuh kepada tindakan dosa. Hati yang bersih membawa kepada kehidupan yang berharga. Kita dapat menjaga hati kita dengan cara: memenuhi pikiran kita dengan firman Tuhan, taat kepada Allah dan melawan iblis (Yak 4:7). Begitu seriusnya dampak dari hati, demikian pula kita harus menjaganya dengan serius.

Penuhilah hati kita dengan kebenaran firman Tuhan setiap hari. Penuhilah hati dengan pengaruh dari komunitas yang benar. Hati yang penuh firman Tuhan akan membawa kehidupan kita penuh dengan syukur, mengampuni, mengasihi, melayani Tuhan dan sesama dengan ketulusan. Komunitas yang benar menolong kita belajar memiliki hati yang terarah kepada kebenaran firman Tuhan.

 

Sumber : --AWS/www.renunganharian.net

 

BEGITU SERIUSNYA DAMPAK SEBUAH HATI,

SERIUS PULA KITA HARUS MENJAGANYA."

Kamis, 01 Februari 2024

Pelayanan Menyeluruh



Ilustrasi Memberi Makan



Bacaan: LUKAS 9:10-17

Bacaan Setahun: Keluaran 28-29


Nas: Tetapi, Ia berkata kepada mereka, "Kamu harus memberi mereka makan!" (Lukas 9:13)

 

Pelayanan Menyeluruh

Terkadang ada orang yang memahami bahwa pelayanan adalah hanya sesuatu yang berhubungan dengan kegiatan-kegiatan rohani di gereja maupun persekutuan. Pelayanan hanya terbatas, seperti, menjadi pembawa renungan, pemimpin pemahaman Alkitab, pemimpin pujian, pemusik ibadah, dan pendoa syafaat. Hanya itukah sebuah pelayanan?

Ketika orang banyak terus mengikuti Yesus, Dia tetap melayani mereka dengan menyampaikan berita tentang Kerajaan Allah dan menyembuhkan orang-orang yang sakit. Menjelang malam murid-murid-Nya meminta Yesus menyuruh orang banyak pergi agar dapat mencari tempat menginap dan makan. Tetapi alangkah terkejutnya para murid ketika Yesus mengatakan bahwa mereka harus memberi makan orang banyak itu. Para murid mungkin berpikir bahwa memberi makan bukanlah menjadi tanggung jawab mereka sebagai pelayan. Yesus mengajarkan kepada murid-murid-Nya suatu tanggung jawab pelayanan yang lebih luas dan menyeluruh. Sebab, ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu menjenguk Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku (Mat. 25:35-36).

Ketika melihat di sekitar kita, ada banyak sekali pelayanan yang bisa kita lakukan bagi Tuhan dengan mengasihi dan menolong sesama. Ada orang-orang yang mungkin lapar, haus, telanjang, sakit, dipenjara, dan tidak punya tempat tinggal, mari kita mengambil bagian, melayani dengan menolong dan meringankan beban mereka. 


Sumber : ANT/www.renunganharian.net


Selasa, 30 Januari 2024

Kelangkaan Kasih di Dunia


Kelangkaan Kasih

Kelangkaan Kasih


Bacaan: KISAH PARA RASUL 9:36-43

Bacaan Setahun: Keluaran 36-38


Nas: Berkemaslah Petrus dan berangkat bersama mereka. Setibanya di sana, ia dibawa ke ruang atas. Semua janda datang berdiri dekatnya dan sambil menangis mereka menunjukkan kepadanya baju-baju dan pakaian yang dibuat Dorkas waktu ia masih bersama mereka. (Kisah Para Rasul 9:39).


Apakah yang langka di dunia ini? Mungkin terpikir oleh kita hewan-hewan yang hampir punah, seperti orangutan, vaquita (sejenis lumba-lumba) dan saola (sejenis sapi). Atau tumbuhan seperti raflesia, acung jangkung, dan rotan inun. Atau sumber daya alam seperti batu bara dan minyak bumi. Benar, memang semuanya itu langka. Namun, ada satu lagi yang kerap tidak kita sadari. Apakah itu? Kasih!

Sewajarnya jika manusia yang hidup di dunia ini mati. Namun, saat kematian terjadi pada Dorkas, orang-orang di Yope bertindak tidak wajar. Dua orang diutus kepada Petrus dengan permintaan, "Segeralah datang ke tempat kami" (ay. 38). Kebetulan Petrus berada di Lida, tidak jauh dari Yope. Begitu Petrus tiba di situ, datang semua janda berdiri dekatnya dan menangis (ay. 39). Terlihat hati tidak rela ditinggal mati oleh perempuan itu. Seakan mereka semua berkata kepada Petrus, "Tolong lakukan sesuatu untuk kami!" Dapat dimengerti mereka bertindak demikian karena selama hidupnya Dorkas telah melakukan hal yang langka. Ia menabur kasih dengan banyak sekali berbuat kebaikan dan memberi sedekah (ay. 36). Bagi para janda yang mayoritas ialah kaum papa, Dorkas membuatkan baju dan pakaian.

Banyak orang mengaku sebagai anak Tuhan, tetapi kehilangan kasih. Sungguh menyedihkan mengetahui kasih ternyata langka mengingat anak Tuhan dikenal sebagai pembawa kasih. Rindukah kita membalik kenyataan ini? Rindukah kita mengubah "langka" menjadi "limpah"? Sekiranya ya, maka mulai hari ini mari menabur kasih dalam kehidupan sehari-hari. Perbuatlah kebaikan dan tunjukkan kemurahan hati. Hiburkan mereka yang susah, topanglah mereka yang lemah, bantulah mereka yang menderita.


Ayat Alkitab: KISAH PARA RASUL 9:36-43

9:36 Di Yope ada seorang murid perempuan bernama Tabita--dalam bahasa Yunani Dorkas. Perempuan itu banyak sekali berbuat baik dan memberi sedekah.

9:37 Tetapi pada waktu itu ia sakit lalu meninggal. Dan setelah dimandikan, mayatnya dibaringkan di ruang atas.

9:38 Lida dekat dengan Yope. Ketika murid-murid mendengar, bahwa Petrus ada di Lida, mereka menyuruh dua orang kepadanya dengan permintaan: "Segeralah datang ke tempat kami."

9:39 Maka berkemaslah Petrus dan berangkat bersama-sama dengan mereka. Setelah sampai di sana, ia dibawa ke ruang atas dan semua janda datang berdiri dekatnya dan sambil menangis mereka menunjukkan kepadanya semua baju dan pakaian, yang dibuat Dorkas waktu ia masih hidup.

9:40 Tetapi Petrus menyuruh mereka semua keluar, lalu ia berlutut dan berdoa. Kemudian ia berpaling ke mayat itu dan berkata: "Tabita, bangkitlah!" Lalu Tabita membuka matanya dan ketika melihat Petrus, ia bangun lalu duduk.

9:41 Petrus memegang tangannya dan membantu dia berdiri. Kemudian ia memanggil orang-orang kudus beserta janda-janda, lalu menunjukkan kepada mereka, bahwa perempuan itu hidup.

9:42 Peristiwa itu tersiar di seluruh Yope dan banyak orang menjadi percaya kepada Tuhan.

9:43 Kemudian dari pada itu Petrus tinggal beberapa hari di Yope, di rumah seorang yang bernama Simon, seorang penyamak kulit."

 

Sumber : www.renunganharian.net


Senin, 29 Januari 2024

Ketaatan dan Menjatuhkan Hukuman


Ilustrasi Menjatuhkan Hukuman



Bacaan: IBRANI 8

Bacaan Setahun: Keluaran 33-35

Nas: Ketika Ia berkata-kata tentang perjanjian yang baru, Ia menyatakan yang pertama sebagai perjanjian yang telah menjadi tua. Apa yang telah menjadi tua dan usang, akan segera lenyap. (Ibrani 8:13)


Sudah Usang


Dulu kita menggunakan telepon rumah, telepon umum, atau pergi ke wartel untuk menelepon. Kini, kebanyakan orang menggenggam telepon di tangannya masing-masing. Kita hidup dengan teknologi yang lebih baru. Perangkat kuno tadi sudah ketinggalan zaman, sudah usang.

Perjanjian Baru jauh lebih agung daripada Perjanjian Lama, yang menuntut ketaatan sempurna dari orang-orang yang tidak sempurna. Dalam Perjanjian Baru, Yesus sebagai Imam Besar mempersembahkan persembahan yang sempurna. Melalui ketaatan-Nya, orang-orang yang percaya kepada-Nya mendapatkan pembenaran.

Allah juga menuliskan hukum-Nya dalam akal budi dan hati orang percaya (ay. 10). Menurut Yeremia 31:34, hukum ini membuat orang mengenal Allah tanpa perlu diajari oleh orang lain. Nubuatan ini mengacu pada "hukum Roh yang memberi hidup" (Rm. 8:2). Roh Kuduslah yang mengajarkan segala sesuatu kepada kita (Yoh. 14:26). Kita tidak lagi diatur oleh hukum yang tertulis pada loh batu, tetapi dipimpin oleh Roh Kudus yang tinggal di dalam hati kita.

Martin Luther menggambarkan perbedaan antara Perjanjian Lama dan Baru sebagai berikut, "Hukum Taurat berkata, 'Lakukan hal ini, ' dan hal tersebut tidak pernah terlaksana. Anugerah berkata, 'Percayalah akan hal ini, ' dan segala sesuatunya sudah diselesaikan." Apakah kita menjalani hidup ini dengan cara lama-mengandalkan ketaatan pribadi pada aturan-aturan agamawi-ataukah dengan cara baru-mengandalkan anugerah dan pimpinan Roh Kudus? 


Sumber : ARS/www.renunganharian.net


* * *

HUKUM TAURAT MENUNTUT KETAATAN DAN MENJATUHKAN HUKUMAN,

ROH KUDUS MEMBERIKAN HIDUP DAN MENYEDIAKAN KEMERDEKAAN"

Kamis, 28 Desember 2023

Riwayat Hidup Almh. Lukas Enembe, S. IP, MH, Gebernur Papua Dua Periode 2013-2023


Foto Almh. Lukas Enembe, S. IP. , MH Mantan Gubernur Papua 2013-203


BIODATA LUKAS ENEMBE 

Nama Lukas Enembe,S.IP.,MH 

Tempat/tanggal lahir: Mamit (Tolikara),27 Juli 1967

Agama : Kristen Protestan 


RIWAYAT PENDIDIKAN:

-SD YPPGI Mamit (1980)

-SMPN 1 Sentani,Jayapura (1986)

-Strata Ilmu sosial dan politik FISIP 

-Universitas Sam Ratulangi Manado (1995)

-The Christian Leadership & Second Linguistic In Cornerstone Collenge Australia (2001)


PENGALAMAN ORGANISASI:

-Aktif organisasi kepemudaan di Sulawesi Utara (1988-1995)

-Ketua Mahasiswa Jaya wijaya Sulawesi Utara (1989-1992)

-Pengurus SEMA FISIP UNSRAT Manado (1992-1994)

-Ketua IMRJA Sulawesi Utara (1992-1994)

-Pergerakan kegiatan kelurahan Tani Pengunungan Tengah (1995-1996).

-Ketua Dewan pembina DPW PDS (2003-2006)


-Ketua DPW Partai Demokrat Provinsi Papua (2006-2011)

-Ketua Asosiasi Bupati Pengunungan Tengah Papua (2010-2012)

-Ketua DPD Partai Demokrat Provinsi Papua (2011-2016)


PERJALANAN KARIER:

-CPNS Kantor Sospol Kabupaten Merauke (1996-1997)

-PNS Kantor Sospol Kabupaten Merauke (1997- sekarang izin belajar di Australia (1998-2001)

-Wakil Bupati Kabupaten Puncak Jaya (2005-2011)

-Calon Gubernur Provinsi Papua (2005-2011)

-Bupati Kabupaten Puncak Jaya (2007-2012)

-Gubernur Provinsi Papua (2013-2018-2023)


KASUS :

-Ditetapkan Tersangka oleh KPK 5 september 2022 kasus suap dan gratifikasi 

-Divonis pengadilan Tipikor Jakarta Pusat dengan pidana 8 Tahun pada 19 oktober 2023.

-Mengajukan Banding ke pengadilan Tinggi (PT) Jakarta,Hukuman diperberat menjadi 10 Tahun.


MENGHEMBUSKAN NAFAS PADA HARI/TANGGAL 


Selasa,26 Desember 2023 di rumah sakit RSPAD Gatot Soebroto,Jakarta



(Sumber dari Cenderawasih Pos).





Sabtu, 18 November 2023

Jumat, 17 November 2023

JURU BICARA IDF: KAMI AKAN BEROPERASI DI MANAPUN HAMAS BERADA - TERMASUK GAZA SELATAN

 

Daniel Hagari || Juru Bicara IDF


 Juru Bicara IDF Daniel Hagari mengatakan bahan bakar yang masuk ke Gaza hanya untuk kebutuhan kemanusiaan dan IDF akan memantau untuk memastikan hal tersebut terjadi. 17 November 2023, 20.36 (GMT+2)

Juru Bicara IDF, Daniel Hagari mengatakan pada Jumat malam bahwa pasukan IDF menempatkan infrastruktur bawah tanah tambahan di Rumah Sakit Shifa di Gaza, dan terus bekerja untuk "mengumpulkan semua informasi tentang para sandera".

Hagari mengatakan kepada wartawan bahwa "setiap kali kami memiliki informasi baru tentang para sandera, kami akan memberikan informasi terbaru kepada keluarga dan kemudian masyarakat melalui media, kami tidak akan menyembunyikan informasi dari Anda."

 “Kami bertekad dan terus bergerak maju, membunuh teroris dan menghancurkan infrastruktur bawah tanah serta membongkar sisa-sisa infrastruktur militer Hamas,” ujarnya.

 Hagari ditanya tentang prospek pasukan memasuki bagian selatan Jalur Gaza, dan menjawab, "Kami bertekad untuk terus bergerak maju. Hal ini akan terjadi di mana pun Hamas berada, dan mereka juga berada di Jalur Gaza bagian selatan. Itu akan terjadi.  pada waktu, tempat, dan kondisi terbaik untuk IDF."

Mengenai keputusan pemerintah untuk mengizinkan bahan bakar masuk ke Jalur Gaza, Hagari mengatakan bahwa bahan bakar tersebut dimaksudkan "hanya untuk kebutuhan kemanusiaan".  Dia menambahkan bahwa "kami akan memantau masalah ini."

Mengenai situasi di perbatasan utara, Juru Bicara IDF mengatakan, "Kami menyerang sasaran Hizbullah di wilayah Lebanon, termasuk infrastruktur teroris, gudang senjata, dan gedung militer, sebagai tanggapan atas penembakan yang menyebabkan kebakaran di dua rumah di Manara dan cedera.  dari empat orang."

 (Meja Israel National News Amerika Utara terus memberi Anda informasi terkini hingga dimulainya Sabat di New York. Namun, waktu yang diposting secara otomatis di semua artikel Israel National News adalah waktu Israel.)


Sumber: 7Arutz Sheva (7INN: Israel National News)