Senin, 08 Juli 2019

MASYARAKAT LONGOBOMA DI BAWAH KEKERASAN TNI PADA TAHUN 1970-1980

Ilustrasi Foto Operasi TNI

Oleh : Almh. Kasim Tuduho
Mantan Kepala Desa Longoboma Kecamatan Karubaga 


Karubaga merupakan salah satu  Kecamatan dari Kabupaten Jayawijaya, bagian barat dari Wamena ibu kota Kabupaten Jayawijaya. Pada tahun 1980,  saya dipilih  dan dipercakan untuk menjadi  kepala kampung longoboma  Kecamatan Karubaga. Setelah terpilih sebagai kepala kampung saya membangun kantor desa dengan dana  sendiri dan sumbangan lain dari masyarakat setempat.

Setelah Bagun kantor itu, setiap staf atau semua aparat desa di bagikan kamar  masing-masing sebagai ruangan kerja mereka sehingga setiap jam kerja itu mereka ada di kantor, tidak ada yang berkeliaran di luar.  Maka ada masyarakat yang datang berurusan di kantor Desa layani dengan sesuai keperluan mereka. 

 Setiap pagi kita apel di halaman kantor Desa, sehingga  semua aparat desa aktif dalam kantor. Selain aktivitas di kantor, saya membina masyarakat  dalam kelompok tani, mencakup dalam tiga kelompok yaitu perkebunan, perikanan dan peternakan, sampai  kurang lebih 10 tahun. 
Dalam proses perkembangan progam Desa yang  begitu baik, di  tengah-tengah itu banyak hambatan yang datang dari  orang-orang  yang di sekitar kampung maupun  ada yang aparat saya sendiri, mereka  mengirih  atas semua program itu, lalu mereka  lapor ke koramil  Karubaga bahwa kepala desa Longoboma sebagai Gerembolan maka harus di adili. Atas dasar laporan tersebut saya di panggil oleh Bupati Jayawijaya J.B Wenas.

Dari Karubaga berjalan kaki masuk di Wamena untuk menghadap panggilan bupati, setelah tiba di Wamena, saya tidur satu maka lalu besoknya  langsung pergi menghadap Bupati di kantornya. Setelah saya  masuk di ruang bupati, begitu  masuk beliau suruh saya   berdiri dengan satu kaki hingga satu jam.   Lalu disuruh duduk dengan kursi.  Saya menyerahkan laporan,  dan  beliau terima  dan  saya menjawab bapak jangan tanya saya tapi lihat hasil kerja saya pembinaan kepada masyarakat. Akhirnya dia bisa terima laporan saya dengan baik dan mendorong saya untuk mengembangkan program pemberdayaan masyarakat lokal.  Satu hari kemudian saya langsung pulang ke tempat tugas di Desa Longoboma,  Kecamatan Karubaga.

Pada  orde baru di bawa pimpinan presiden  Soeharto, hukuman paling kejam sehingga masyarakat tidak bisa melakukan kesalahan apapun, jika  kedapatan  maka  dihukum dari kepala Desa dan Kepada suku,  Masyarakat sangat patut pada hukum karena kesalahan sedikit langsung di tembak dan kakinya di potong dengan senjata api.
Sebelum saya jadi kepala kampung banyak masyarakat yang jadi korban nyawa dan kehilangan  harta  kekayaan yang mereka miliki.  Longogoboma merupakan tempat sasaran operasi TNI dari Koramil Karubaga pada Tahun 1970 hingga 1980-an, bertahun-tahun operasi tersebut tak pernah berhenti dari tempat itu. Sayang sekali Dalam operasi TNI,  Sasaran utama mereka saat itu  pada anak-anak perempuan  yang masih dibawah umur untuk di perkosa.
Beberapa bulan kemudian setelah saya pulang dari Wamena,  menghadiri panggilan bupati J.B. Wenas,  Wakil Koramil Karubaga melaporkan  ke Kodim 752 Wamena bahwa  kecamatan Karubaga di Desa   Longoboma sebagai tempat latihan Gerembolan, maka segerah kirim pasukan untuk operasi.
Kejam sekali perlakuan aparat TNI  saat itu, bukannya pergi mengayomi masyarakat namun menyiksa dan membunuh, serta  merampas ternak masyarakat setempat dengan tontonan senjata api, 
Masyarakat ketika mendengar bunyi tembakan semua pada lari karena panik,  ternak mereka di bunuh dengan senjata oleh TNI  lalu potong dan jual  di pasar Karubaga. Saat itu semua masyarakat longoboma menjadi buronan TNI, akhirnya mereka lari sampai di Bolobur, Ginilome, keribaga dan kampung lain sebelah kali Wunin.

Pihak Koramil Karubaga melaporkan bahwa di Desa longoboma ada kegiatan untuk Papua merdeka, Atas laporan tersebut, Kodim 752 Jayawijaya mengangkut pasukan 733 dari Ambon untuk operasi besar-besaran di daerah Longoboma.
Pada waktu itu jalan darat dari Wamena ke Karubaga belum ada sehingga pasukan dari Ambon itu berjalan kaki dari Wamena masuk di Karubaga sedangkan komandan pasukan 733 di antar dengan helikopter milik TNI dari Wamena ke Karubaga.
 Sampai di Karubaga komandan pasukan dari Ambon ini menyamar jadi dokter untuk mencari-cari informasi dari masyarakat setempat. Sambil menunggu pasukan yang berjalan kaki dari Wamena, Ia  pura-pura melaksanakan tugas  sebagai dokter  bersama petugas kesehatan di puskesmas Karubaga. Beberapa hari kemudian pasukannya telah tiba di Karubaga, lengkap dengan semua  peralatan perang.
Pada suatu malam saya mengundang pak Dandramil untuk makan malam bersama dengan keluarga saya di rumah tepatnya di Ampera sebelah  kantor Polsek Karubaga. Malam itu  Pak Dandramil mengajak  Komandan 733 Letnan  Jhon Karena untuk ikut bersama-sama makan malam. Pada malam itu ia  mengaku dirinya sebagai komandan pasukan 733 dari Ambon datang untuk operasi di Desa Longoboma.
Saya biasa di panggil paman, maka sambil makan pak komandan 733 dari Ambon ini mulai tanya saya. 
Paman katanya di Longoboma itu, saya dengar markas gerembolan jadi apakah benar ?
Saya jawab,   tidak Pak..!!!, Saya kepala kampung disana tapi tidak tahu sama sekali dengan Gerembolan itu. Saya balik tanya dia lagi,  bapak dapat informasi ini dari siapa.? kalau memang benar, bapak punya bukti silahkan bapa lihat sendiri di sana, interaksi langsung  dengan masyarakat saya,  semua narasi yang bapak dapat mengenai Gerembolan ini,  apakah benar atau tidak. ?
Komandan pasukan 733 menjawab, bahwa saya di kasih tahu dari Pak Wakil Dandramil. Setelah makan Pak Dandramil Karubaga, bersama Komandan 733 serta pasukannya  pamit pulang. 
Malam itu saya mengalami kesulitan  untuk mengatasi masalah ini, karena semua pasukan sudah drop di Karubaga.  Saya kembali panggil pak Dandramil Karubaga Pak Kombaran Karena dan Kapolsek Karubaga,  untuk cari solusi dengan cara  bagaimana bisa mengatasi dan alihkan tujuan mereka ke tempat lain, agar mereka tidak melakukan operasi militer di  desa Longoboma.
Malam itu kita sepakat untuk antar mereka di longoboma tapi dengan catatan tidak melakukan operasi militer, hanya melihat langsung masyarakat setempat, supaya mereka yakin bahwa tidak ada yang namanya Gerembolan di daerah tersebut. 
Paginya kita mulai bagi jalan dan pergi ke Longoboma, saya dengan  5 orang pasukan 733  dari Ambon lewat Konda sedangkan pak komandan pasukan 733 dengan Dandramil, wakil serta anggota Koramil Karubaga mereka semua lewat Erembur. 
Jalan lewat Konda  cukup jauh  sehingga mereka yang lewat Erembur ini yang tiba duluan. Kami masih di Ebebugwi, mendengar  bunyi tembakan di Longoboma. Kita pun kaget dan cepat-cepat  ke Longoboma, kemudian kita  ketemu  dengan rombongan pak Dandramil komandan 733 serta anggota Koramil Karubaga.
Kita tanya pak wakil Dandramil, kenapa tembak babi, lalu mereka jawab karena cungkil tanah. Saya katakan kepada komandan pasukan 733 dari Ambon itu bahwa daerah ini tidak ada yang namanya  gerembolan tapi tempat operasi militer TNI dari Koramil Karubaga. Buktinya  bapak lihat hari ini dengan mata kepala  sendiri. Kita  Datang  untuk melihat masyarakat dan memastikan apakah benar atau tidak Gerembolan  tapi  tembakan langsung taruh di babi, terbukti bahwa tempat ini benar-benar operasi militer dari Koramil Karubaga. Ketika saya katakan seperti itu wakil Dandramil sudah menuju pulang karena merasa  malu, apa yang dia lakukan terhadap rakyat saat itu.
Setelah itu kita semua pulang dari Longoboma ke Karubaga. Saya kembali lewat Konda, di tengah jalan saya bertemu dengan Pdt. Linge Nugur di Ebebugwi, saat itu  saya sampaikan kepada Pdt. Linge bahwa saya minta bantuan Dukungan Doa dan ide dari semua pihak yakni dari tokoh Gereja, tokoh  Masyarakat,  Tokoh Pemuda  dan Tokoh perempuan. Untuk sepakat bahwa tidak ada namanya Gerembolan di wilayah operasi TNI tersebut. Beberapa Jam kemudian Helikopter   Milik TNI tiba di karubaga menyemput wakil Dandramil untuk di adili di Wamena atas tuduhan masyarakat Longoboma sebagai Gerembolan.
Ketika masyarakat mengungsi ke hutan saya dengan Pdt. Lengge Nugur Wenda mencari mereka, di hutan dan dalam Goa-Goa batu sampai bawa masuk di rumah. Kalau mereka rasa ketakutan, saya katakan kepada mereka bahwa, TNI dan Polri harus bunuh saya terlebih dahulu lalu bunuh kalian (Masyarakat) karena itu masyarakat saya. Kekuatan saya  dalam membela masyarakat karubaga  pada saat itu adalah   Kapolsek Karubaga pak Kamorang Karema dari depapre , Labetubun dan Luaran Muri mereka tiga ini yang selalu membantu saya dalam menangani masalah. 
Waktu itu menjadi kekuatan saya  dalam membela  masyarakat karubaga adalah   Kapolsek Karubaga pak Kamorang Karema dari depapre , Labetubun dan Luaran Muri, mereka tiga ini yang selalu membantu saya dalam menangani masalah seperti ini, membantu masyarakat setempat. Bukannya masyarakat longoboma saja tapi beberapa daerah seperti di Konda, Anawi, Guburini, Kolenger dan sekitarnya.
Demikian Tutur orang tua yang selalu membela hak-hak rakyat kecil, kelahiran Fak-Fak ini.

Hari ini saya menulis sesuai dengan apa yang di ceritakan seorang mantan kepala Kampung di  Longoboma.n Perlakuan buruk yang dilakukan oleh aparat TNI beliau melihat dan merasakan bersama Rakyat tertindas di daerah itu.

Salam hormat dari kota lumpur.

Admin.

0 comments:

Posting Komentar