Selasa, 05 Desember 2017

Debora Sebagai Pemimpin Bangsa


Bertahun-tahun  lalu pernah ada Pemimpin Perempuan  diantara orang Ibrani namanya “Debora”. Debora diakui sebagai pemimpin bangsa , diantara orang Ibrani waktu itu. Debora ditugaskan oleh TUHAN untuk membawa keluar bangsa Israel dari perbudakan. Debora berbicara kepada seorang laki-laki yang bernama “Barak” bahwa: ia harus mengumpulkan pasukan relawan yang berjuang untuk kemerdekaan sebanyak sepuluh ribu orang dan juga memberikan strategi peperangan untuk Barak. Barak memiliki pemikiran yang berbeda degan laki-laki waktu itu, yang ingin menjadi pahlawan bangsa, namun kita dapat melihat Barak memiliki pemikiran yang sangat berbeda. Barak sadar bahwa ia sedang diberi kehormatan besar oleh Debora. Barak memang tidak memiliki kewajiban untuk menghormati Debora, ia bisa saja menyimpan penghormatan bagi dirinya sendri, namun ia memilih untuk membagikan kehormatan itu degan Debora, disini kita dapat melihat bahwa degan membagikanya kehormatan kepada Debora, ia meneruskan kehormatan kepada semua wanita.

Saat ini penuh dengan para Debora yang luar biasa, yang telah menghormati para pria selama bertahun-tahun. Ini waktunya untuk para Barak bangkit, para pria yang rendah hati dan percaya diri yang tidak mau menyimpan kehormatan pemimpin bagi dirinya sendri, dan mau memperdayakan para wanita untuk melangka kedalam panggilan dan tujuan hidup. Saat ini banyak yang telah menanyakan kepada TUHAN, dimana para Debora-Papua? Saya berpikir bahwa doa yang lebih baik adalah, “TUHAN bangkitkanlah parah pria sebagai Barak-Barak.
Dunia politik bagi perempuan dalam stereotype budaya patriarki menjadi dua kutup yang sulit dipertautkan. Namun kita dapat menyaksikan sejara perpolitikan di Indonesia mencatat nama-nama wanita Indonesia yang ikut andil dalam panggung politik Indonesia. Sebenarnya Indonesia juga telah lama mengesahkan UU No 68 tahun 1958, tentang retivikasi PBB tahun 1953 mengenai hak politik perempuan yang mengatur tentang kesamaan kedudukan (non – diskriminasi), jaminan persamaan hak dipilih dan memilih, jaminan partisipasi dalam perumusan kebijakan, kesempatan menempati posisi jabatan birokrasi, dan jaminan partisipasi didalam organisasi sosial politiik.
Peningkatan keterwakilan perempuan dimulai sejak berlakunya perubahan UUD 1945, pasal 28 ayat (2) yang menyatakan, “setiap orang berhak mendapatkan kemudahan dan perlakuan khusus untuk memperoleh kesempatan dan manfaat yang sama guna mencapai persamaan dan keadilan.” Keterwakilan perempuan dalam lembaga legislatif sudah mulai mendapatkan perhatian. UU NO 10 2008 dan UU No 2 tahun 2008, telah memberikan mandat kepada partai politik untuk memenuhi kuota 30% bagi perempuan dalam politik, terutama didalam lembaga perwakilan rakyat. Dengan melihat perkembangan yang ada tugas utama kita adalah bagaimana kita bersama memikirkan bagaimana meningkatkan kapabilitas dan kapasitas perempuan untuk mampu bekerja secara optima, sistimatis, dan kritis, dalam mencermati berbagai persoalan yang membutuhkan tenaga otak dan tenaga-tenaga ahli dari seorang perempuan. Dengan melihat perkembangan ini perempuan Papua di diharapkan untuk mampu hadir didalam kanca politik untuk membela hak-hak perempuan.
Kita bisa melihat didalam kehidupa YESUS  kaum perempuan sangat dihargai, peran perempuan saat itu dapat disebutkan pada saat Yesus bangkit. Perempuan yang melihat saat kubur-NYA sudah kosong, perempua mempunyai pengaruh yang membawa dampak positif. Alkitab memberikan prinsip penting mengenai peran perempuan yaitu sebagai penolong, pelengkap, penghibur, penguat, pendamping, pendukung atau pembimbing rohani, maka ketika seorang perempuan menjalankan peran positif didalam masyarakat maka dampak yang diberikan saya piker akan sangat sunggu luar biasa.
Peran perempuan Kristen juga diharapkan tidak hanya mampu bersikap kritis, karena betapapun tajamnya, tidak mungkin dapat mengantikan pentingnya terjun kedunia nyata, serta komit terhadap hal-hal kongrit yakni terjun didalam perjuangan yang mengupayakan keadaan yang lebih adil. Karena bersikap kritis tanpa berbuat apa-apa, hanya akan menghasilkan sebua prinsip teoritis yang mungkin membawa kedalam sebua revolusi dalam berpikir, namun tidak akan menghasilkan sebuah gerakan perubahan dan berpartisipasi penuh didalam masyarakat dimana mereka tinggal.

Saya juga berharap Gereja- gereja di tanah Papua juga dapat mengakomodir suara kenabian bagi perempuan Papua. Hemat saya Kuncinya hanya satu komitmen untuk bekerja sesuai kehendak Allah didalam kehidupan ini. Sebab membangun, memelihara dan mengembangkan masyarakat bahkan ikut menjamin perdamaian dunia tidak mungkin terjadi tanpa politik.
Disini Peran gereja terhadap munculnya berbagai peraturan yang menjadikan tubuh perempuan sebagai alat politik yang dibalut atas nama agama, moralitas dan juga stikma bahwa perempuan itu hanya urus dapur, perempuan itu lemah dll kondisi seperti ini sangatlah memprihatinkan. Apalagi terhadap perempuan Kristen, sebagai kelompok minoritas dan marginal. Apakah gereja lali melihat fenomena ini atau takut menyuarakan? Jawabanya tidak perlu dengan berbagai argumentasi ilmiah, namun marilah kita amati bersama dampak yang ditimbulkan, lalu duduk bersama kita membicarakan solusinya bersama.
Etinus Weya

0 comments:

Posting Komentar