Refleksi Realitas Papua Saat Natal
Oleh Pdt. Lenis Kogoya
Inti dari Natal adalah damai dan sukacita. Damai dan sukacita dialami oleh manusia ketika mengalami kasih Allah yang dinyatakan di dalam dan melalui Kristus Yesus yang adalah Tuhan dan Juruselamat kita itu. Damai dan sukacita dialami oleh setiap manusia yang telah kehilangan kemuliaan Allah itu ketika merespon kehadiran Yesus melalui iman. Setiap orang yang telah percaya dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru selamat hidupnya secara sungguh-sungguh, maka pasti mengalami damai dan Sucita secara permanen dan tampil keluar dari dalam hidupnya.
Meski demikian, damai dan sukacita itu dapat direnggut dan terhimpit oleh rupa-rupa serangan oleh dunia. Ada sejumlah masalah dan kejahatan yang menyebabkan seseorang akan mengalami sukacita dan ketakutan, kepanikan dan kegelisahan. Dan hal-hal itu merupakan strategi perlawanan yang diakibatkan oleh sijahat kepada orang percaya agar tidak hidup berkenan kepada Allah. Dan karena itu, sijahat itu memakai segala strategi dan menggunakan apa saja termasuk manusia sebagai sarananya untuk melawan anak-anak Tuhan selagi masih berada di planet ini.
Bulan Desember merupakan bulan yang libur besar bagi seluruh umat manusia di dunia. Hari libur bukan saja orang Kristen tetapi semua manusia yang mengikuti tahun Masehi ini. Dengan demikian, secara tak langsung semua manusia menghormati hari kelahiran Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat bagi dunia. Ketika percaya putra Natal, maka mereka disebut orang Kristen atau pengikut Kristus, tapi Kristus lahir bukan untuk orang Kristen melainkan untuk semua manusia di dunia. Karena itu, sudah sepantasnya seluruh manusia di dunia meliburkan dari semua pekerjaan sebab begitulah kalender dunia yang disebut tahun Masehi.
Meski demikian, yang menjadi pertanyaan semua manusia yang sadar adalah "mengapa damai dan sukacita itu direnggut oleh konflik dan kejahatan?" Hal itu dari sejumlah aksi dan teror oleh oknum-oknum yang berkedok agama dan negara seperti yang dialami oleh seluruh orang Kristen di Indonesia dan secara khusus di Tanah Papua. Ada banyak kekerasan dan teror akibat penerapan pasukan dan bunyi-bunyi tembakan bahkan berjatuhan.
Keadaan ini ini menyebabkan bukan melindungi dan menciptakan kedamaian dan sukacita di masyarakat, justru menimbulkan ketakutan dan kepanikan atau kecemasan. Dan akhirnya harus mengungsi kehutan dan melarikan untuk menyelamatkan nyawanya tanpa membawa persiapan makan dan peralatan lain. Mereka harus merasakan kedinginan dan hujan, serta lapar. Hal menyebabkan mereka harus sakit dan mati di hutan tanpa diketahui orang lain.
Keadaan ini salah siapa? Pemerintah ada untuk siapa? Bagaimana penanganan pemerintah kepada masyarakat? Bagaimana penghargaan negara kepada kebebasan orang beribadah? Apakah ini cara lain dari negara untuk membatalkan orang Kristen beribadah atau menikmati suasana damai dan sukacita Natal?
Pertanyaan-pertanyaan ini dapat saya ajukan dengan mengingat, bahwa Natal tahun 2018 pun terjadi hal yang sama dengan natal tahun 2019 ini. Sebab warga Papua berkaitan keadaan Nduga juga tidak bisa menikmati Natal malah negara seperti memberi hadiah kepada masyarakat Papua dengan serangan-serangan di wilayah Nduga menyebabkan Papua berduka saat natal. Hal itu sama dengan tahun 2019 ini, yakni orang Papua terima hadiah Natal dengan melakukan pendropan pasukan dan serangan baik di Intan Jaya dan di Yahukimo.
Hak dasar setiap manusia adalah "hidup damai, menikmati sukacita dan keadilan." Hak asasi manusia yang mendasar ini telah direnggut oleh segala pergerakan TNI-POLRI dan TPNPB OPM ini. Manusia Papua telah kehilangan hak dasar itu. Jika kalian umat beragama dan umat manusia yang memiliki peri kemanusiaan, maka seharusnya berhenti dan menarik diri masing-masing. Dengan begitu, umat boleh Tuhan di tanah Papua harus menikmati dan menemukan arti natal dalam kehidupan mereka.
Orang Papua sudah muak dan sudah tidak percaya lagi kepada siapapun. Sebab di mata dan hati kami, tidak ada yang bergerak atas nama kebenaran. Kebenaran yang diserukan itu hanya di bibir dan slogan saja, sebab kenyataannya tidak demikian. Kebenaran itu tidak bisa dibelah dengan kekerasan, senjata atau dengan pendropan pasukan. Kebenaran yang sejati itu dia bisu dan buta. Dia akan tampil sendiri dengan caranya sendiri. Kebenaran yang sejati itu itu tidak bisa direkayasa atau diskenariokan dengan dengan segala cara, tidak.
Jadi usul dan saran saya mewakili masyarakat Papua yang telah dan sedang kehilangan kedamaian dan sukacita ini, bahwa "Kembalikan Hak Dasar Manusia Papua." Karena itu diminta kepada:
1. Pasukan TNI-POLRI agar Segera Hentikan Tindakkan Penembakan membabi-buta atas nama apapun;
2. Panglima dan Kapolri melalui Pangdam dan Kapolda Papua agar Segera Ditarikan para pasukan TNI-POLRI dari Papua sebab kehadiran saudara-saudara menimbulkan masalah;
3. TPNPB agar segera hentikan segala teror dan segala bentuk intimidasi kepada masyarakat Papua;
4. PGGP, PGGS, PGGJ, API bersama para pimpinan denominasi gereja agar segera serukan dan mendesak pemerintah menciptakan kedamaian di tanah Papua;
5. Seluruh rakyat dan umat di tanah Papua agar tetap fokus merayakan natal, hari kelahiran Yesus Kristus dalam suasana damai, sukacita dan penuh khidmat sehingga temukan makna natal yang sesungguhnya;
Demikian ungkapan keprihatinan sekaligus saran dan usul saya kepada para pihak. Besar harapan dan doa saya untuk segera tercipta suasana damai dan sukacita yang sedang direnggut oleh keadaan di atas. Semoga kita semua diberikan hikmat dan kebijaksanaan untuk mengatasi problem ini dengan jiwa seorang pahlawan bagi orang lemah dan jiwa seorang hamba yang melayani sebagaimana dilakukan oleh Sang Yesus Kristus, Tuhan kita bagi kita semua. Dengan demikian, kita ciptakan dan hidup bagi semua orang sebagai sahabat kita. Ammmin!
________________
Shalom!
Anak Asli Papua

0 comments:
Posting Komentar