Minggu, 05 Mei 2013

HUKUM TAURAT

BAB I


PENGERTIAN

Kata “taurat” dalam bahasa Ibrani adalah “תּוֹרָה” (baca:torah) dan dalam bahasa Yunani adalah “νομος” (baca: nomos). Istilah kata “torah” berasal dari kata kerja bahasa Ibrani yaitu kata ירה (baca: yarah) yang mengandung pengertian "hukum, arahan, pengajaran, instruksi, didikan, menunjukkan". Pengertian tersebut dapat diketahui dari penggunaan kata “torah” dalam kitab PL (Perjanjian Lama), di antaranya adalah sebagai berikut:

Kata “torah” digunakan untuk merujuk kepada hukum-hukum (Keluaran 20 – Ulangan 33; Mazmur 78:1, 5, 10);
Kata “torah” digunakan untuk merujuk kepada seluruh kehendak Allah yang tertulis (Ulangan 4:4; 30:10; 31:9);
Kata “torah” digunakan dalam arti kelima kitab Musa (Kejadian – Ulangan; Yos. 1:8);
Kata “torah” digunakan dalam arti “firman” Tuhan (Mazmur 1);
Kata “torah” digunakan dalam arti nasihat-nasihat hikmat dari seorang ibu (Amsal 1:8; 6:20; 31:26) dan nasihat seorang ayah (Amsal 4:1); pidato dari guru hikmat (Amsal 7:2; 13:14); dari nabi-nabi (Yesaya 8:16, 20; 30:9);
Kata “torah” digunakan untuk proklamasi profetis-eskatologis dari para nabi (Yesaya. 2:3; 42:4; Mikha 4:2);
Kata “torah” digunakan sebagai istilah teknis untuk arahan-arahan dari para imam kepada umat yang awam (Yeremia 18:18; Ezra 7:26);
Dalam PB, kata “nomos” (kata bahasa Yunani) digunakan untuk merujuk kepada seluruh PL (Matius 5:17-18; Lukas 16:17; Titus 3:9).

Hal ini menunjukkan bahwa kata “Taurat” pada prinsipnya mengandung pengertian yang amat luas. Namun, dalam buku ini istilah “Taurat” lebih difokuskan kepada pengertian yang mengarah kepada Titah berupa hukum-hukum yang disampaikan Tuhan melalui nabi Musa kepada bangsa Israel, yaitu 10 Hukum Taurat dan 613 penjabarannya yang lebih dikenal dengan istilah “mitzvot”.

Ke-10 Hukum Taurat atau disebut juga Dasa Titah yang dalam Latin disebut sebagai Dekalog (δέκα λόγοι) adalah daftar perintah agama dan moral, yang merupakan perintah Tuhan dan diberikan kepada bangsa Israel melalui perantaraan Musa di gunung Sinai dalam bentuk dua loh batu. Frasa '10 Perintah' tersebut adalah sebagaimana tercantum dalam Keluaran 20:2-17 dan Ulangan 5:6-21.

Ke-10 Hukum Taurat tersebut adalah sebagai berikut:

Jangan ada padamu allah lain di hadapanKu.
Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi. Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku, tetapi Aku menunjukkan kasih setia kepada beribu-ribu orang, yaitu mereka yang mengasihi Aku dan yang berpegang pada perintah-perintah-Ku.
Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan, sebab TUHAN akan memandang bersalah orang yang menyebut namaNya dengan sembarangan.
Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat:  enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu, tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat TUHAN, Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan, engkau atau anakmu laki-laki, atau anakmu perempuan, atau hambamu laki-laki, atau hambamu perempuan, atau hewanmu atau orang asing yang di tempat kediamanmu. Sebab enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya, dan Ia berhenti pada hari ketujuh; itulah sebabnya TUHAN memberkati hari Sabat dan menguduskannya.
Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu.
Jangan membunuh.
Jangan berzinah.
Jangan mencuri.
Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu.
Jangan mengingini rumah sesamamu; jangan mengingini isterinya, atau hambanya laki-laki, atau hambanya perempuan, atau lembunya atau keledainya, atau apapun yang dipunyai sesamamu.

Jika ditinjau dari obyeknya, kesepuluh Perintah Tuhan tersebut di atas dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu:
Hukum-hukum yang mengatur hubungan umat dengan Allah, terdiri dari hukum ke-1 sampai ke-4.
Hukum-hukum yang mengatur hubungan antar sesama manusia, terdiri dari hukum ke-5 sampai ke-10

Selanjutnya, seluruh perintah Allah (mitzvah) yang dicatat dalam kumpulan kitab Taurat berjumlah 613 Mitzvot (bahasa Ibrani: תרי"ג מצוות: taryag mitzvot). Prinsip-prinsip hukum Alkitab ini seringkali disebut sebagai "Perintah Allah" (mitzvah, bentuk jamaknya: mitzvot) dan secara keseluruhan disebut sebagai "Hukum Musa" atau "Hukum Sinai" atau hanya "Hukum" (Torat Mosheh, תורת משה; bahasa Inggris: "Law of Moses", "Mosaic Law," "Sinaitic Law," atau hanya "the Law"). Seluruh 613 mitzvot terdiri dari "perintah positif", untuk dilakukan (mitzvot aseh), dan "perintah negatif", untuk dilarang dilakukan (mitzvot lo taaseh).  Perintah negatif berjumlah 365, sedangkan perintah positif berjumlah 248.

Keseluruhan 613 mitzvot dibagi menjadi tiga kategori umum:
Kategori mitzvot yang disebut "Mishpatim", meliputi perintah-perintah yang dianggap sudah jelas, misalnya "Jangan membunuh" atau "Jangan mencuri".
Kategori mitzvot yang disebut "Edot" ("kesaksian"; "testimonies"), yang merupakan kesaksian dalam cabang-cabang agama Yudaisme, misalnya hari Sabat dikatakan memberi kesaksian pada kisah Allah menciptakan dunia dalam 6 hari dan beristirahat pada hari ketujuh serta menguduskannya.
Kategori mitzvot yang disebut "Chukim". Perintah-perintah ini tidak mempunyai alasan yang jelas dan dianggap sebagai manifestasi murni kehendak Allah.

Adapun 613 Mitzvot tersebut dapat dilihat pada lampiran 1.

Dari uraian di atas, jelaslah bahwa Hukum Taurat adalah suatu kumpulan hukum, arahan, pengajaran, instruksi, didikan dalam kitab Musa yang merujuk kepada hukum-hukum, kehendak Allah yang tertulis dalam kitab PL, dan firman Tuhan yang digunakan sebagai nasihat-nasihat hikmat dari orang tua dan guru, sebagai proklamasi profetis-eskatologis dari para nabi, dan sebagai istilah teknis untuk arahan-arahan dari para imam kepada umat yang awam.


SUMBER HUKUM TAURAT

Hukum Taurat bersumber dari 5 (lima) Kitab Musa yang sering disebut sebagai “Pentateukh”. Istilah ini pertama sekali digunakan oleh orang Yahudi berbahasa Yunani di kota Alexandria, yang bermakna "lima kitab", atau sebagai "Hukum", atau "Hukum Musa". Dalam bahasa Yunani Pentateukh ("lima wadah" atau "lima gulungan") tersebut adalah sebagai berikut:

Genesis dalam bahasa Latin atau beresyit (בראשית) dalam bahasa Ibrani
Exodus dalam bahasa Latin atau syemot (שמות) dalam bahasa Ibrani
Leviticus dalam bahasa Latin atau wayiqra (ויקרא) dalam bahasa Ibrani
Numerii dalam bahasa Latin atau bemidbar (במדבר)  dalam bahasa Ibrani
Deuteronomium dalam bahasa Latin atau debarim (דברים) dalam bahasa Ibrani

Istilah bahasa Ibrani terhadap 5 (lima) kitab tersebut mengikuti frasa pertama ayat pertama setiap kitab, yaitu:

Bereshit (בְּרֵאשִׁית‎) artinya “Pada Permulaan”
Shemot (שִׁמוֹת‎) artinya “Nama"
Vayikra (ויקרא‎) artinya "dan Dia memanggil"
Bəmidbar (במדבר‎) artinya "Dalam gurun [tempat]"
Devarim (דברים‎) artinya "Benda" atau "Kata-kata"

Sedangkan istilah bahasa Inggeris terhadap 5 (lima) kitab tersebut merupakan terbitan perkataan bahasa Yunani dan menggambarkan tema utama setiap kitab:

Genesis: "asal muasal"
Exodus: "berlepas ke sesuatu tempat"
Leviticus: merujuk kepada suku Lewi dan peraturan berkaitan kehadiran serta tugas mereka.
Numbers (Arithmoi): mengandungi rekaman bilangan orang Israel yang sesat di Sinai dan kemudiannya di kawasan dataran Moab.
Deuteronomy: "undang-undang kedua," merujuk kepada pengulangan yang berkaitan dengan ketentuan-ketentuan Musa sebelum kematiannya.

Selanjutnya, istilah dalam bahasa Indonesia terhadap 5 (lima) kitab tersebut merupakan adopsi istilah yang digunakan dalam bahasa Inggeris yang menggambarkan tema utama setiap kitab:

Kitab Kejadian
Kitab Keluaran
Kitab Imamat
Kitab Bilangan
Kitab Ulangan


PERBEDAAN PENDAPAT MENGENAI HUKUM TAURAT

Sebagaimana dikemukakan sebelumnya bahwa kata Ibrani “תורה” (baca: torah) diartikan sebagai "Taurat" yang dalam hal ini "Hukum Taurat". Torah atau Hukum Taurat pada dasarnya mengandung pengertian bukan hanya sebagai suatu ajaran atau hukum, tetapi lebih dari itu yaitu merupakan suatu acuan praktis atau ajaran normatif bagi perilaku manusia khususnya pada waktu itu adalah bangsa Israel.

Hukum Taurat adalah suatu kumpulan hukum, arahan, pengajaran, instruksi, didikan dari Tuhan kepada manusia. Namun, ada sebagian pendapat yang membedakan antara “Hukum Tuhan” dengan “Hukum Musa”. Pendapat ini menjelaskan bahwa “Hukum Tuhan” adalah 10 Hukum dari Tuhan yang diberikan kepada Musa di gunung Sinai, sedangkan hukum-hukum yang yang lain seperti hukum yang mengatur tentang makanan dan minuman, moral, kutuk, berkat, hari, dan sebagainya disebut “Hukum Musa”. Artinya bahwa ada 2 (dua) jenis Hukum Taurat, yaitu “10 Hukum” sebagai Taurat Tuhan (Mazmur 19:8) dan selebihnya merupakan “Taurat Musa”.

Adapun perbedaan antara “Hukum Taurat Tuhan” dengan “Hukum Taurat Musa” menurut pendapat ini  adalah sebagai berikut:

No
Hukum Taurat Tuhan
Hukum Taurat Musa

1
Disebut “Hukum Allah” (Keluaran 31:18; I Yohanes 3:4); “Taurat Tuhan” (Mazmur 19:8); “Perintah Allah” (Matius 15:3; Wahyu 14:12) atau “Pengajaran Tuhan” (Yesaya 5:24)
Disebut “Hukum Musa” atau “Hukum Taurat Musa” (Kisah Para Rasul 13:39; 15:5; I Korintus 9:9; Yosua 8:31; Lukas 2:22)


2
Disebut “Hukum yang memerdekakan orang” (Yakobus 2:12)
Disebut hukum yang berisi peraturan-peraturan (Ibrani 9:10)

3
Diucapkan oleh Allah sendiri (Keluaran20:1-17; Ulangan 5:22)

Diberikan kepada Musa supaya dibacakan kepada bangsa Israel (Imamat 1:1-3; Keluaran 24:3)

4
Disebut “hukum utama” (Yakobus 2:8)
Disebut “ketentuan” (Efesus 2:15; Kolose 2:14)

5
Ditulis oleh Tuhan di atas batu (Keluaran 31:18; 32:16)
Ditulis oleh Musa pada sebuah gulungan kitab (Ulangan 31:24-26; 2 Tawarikh 34:15; 35:12)

6
Dimasukkan / ditempatkan di dalam Tabut atau ada di dalam Tabut Perjanjian (Keluaran 40:20)
Diletakkan di samping Tabut atau ada di luar Tabut Perjanjian (Ulangan 31:26)

7
Dimaksudkan untuk menyatakan dosa atau mendefinisikan dosa (Roma 7:7; 3:20; I Yohanes 3:4,8; Roma 4:15; Roma 5:13)
Dimaksudkan untuk menyatakan obat bagi dosa, ditambahkan sesudah ada dosa (Yohanes 1:29; Ibrani 5:1; 8:4; Galatia 3:19)

8
Menghakimi semua orang (Yakobus 2:10-12; Pengkhotbah 12:13,14)
Mendakwa dan mengancam berat (Kolose 2:14)


9
Tidak berat (I Yohanes 5:3)

Tidak menghukum seorang pun atau tidak menghakimi siapa-siapa (Kolose 2:16)

10
Bersifat Rohani (Roma 7:14)

Bersifat lahiriah / kedagingan (Ibrani 9:13) atau bersifat manusiawi (Ibrani 7:16)

11
Membawa berkat / kebahagiaan (Amsal 29:18) dan Ketenteraman (Mazmur 119:165)
Mengandung kutuk (Galatia 27:26; Ulangan 28:15-68; 29:20-21; Galatia 3:10)

12
Sempurna (Mazmur 19:8), suci, benar, dan baik (Ulangan 5:22; Roma 7:12)
Dapat berubah (Ibrani 7:12)
Hanya sementara karena berlaku hanya sampai kedatangan Yesus Kristus (Kolose 2:14; Matius 27:51; Ibrani 8:13; Efesus 2:15)

13
Kekal atau abadi dibentuk oleh Injil (Matius 5:17-19; Roma 3:31; Lukas 16:17; Mazmur 19:8; 111:7,8)
Sama sekali tidak membawa kesempurnaan (Ibrani 7:18,19) tidak mungkin menyempurnakan (Ibrani 10:1)


Walaupun demikian dalam surat-suratnya, Paulus biasa menyebut sebagai Hukum Taurat saja baik untuk Taurat Tuhan maupun Taurat Musa. Taurat Musa berisi peraturan upacara bangsa Israel. Semua korban-korban dalam upacara bangsa Israel adalah bayangan dari Kristus. Korban-korban upacara itu sudah digenapi oleh Yesus Kristus dan itulah yang dimaksudkan oleh Yesus dalam Matius 5:17-18. Menurut pendapat ini, memperingati kegenapan korban-korban itu dilakukan melalui Perjamuan Kudus. Sedangkan Taurat Tuhan tidak dihapuskan dan masih berlaku sampai sekarang.

Lalu, bagaimana dengan umat Kristen saat ini ? Baik Hukum Taurat yang disebut “Hukum Taurat Tuhan” maupun Hukum Taurat yang disebut “Hukum Taurat Musa”, pada prinsipnya semua Hukum Taurat tersebut berasal dari Tuhan sehingga sangatlah wajar apabila Rasul Paulus hanya menggunakan istilah Hukum Taurat saja. Selain itu, telah diketahui bahwa Musa hanyalah perantara / juru bicara Tuhan kepada bangsa Israel untuk menyampaikan hukum-hukumNya sehingga Musa tidaklah menghasilkan Hukum Taurat sendiri, tetapi Hukum Taurat Tuhanlah yang disampaikannya. Dengan demikian, maka tidak perlu membedakan keduanya dalam arti Hukum Taurat hanyalah satu yaitu Hukum Taurat yang diberikan Tuhan kepada manusia.


PERANAN HUKUM TAURAT

Hukum Taurat pada dasarnya merupakan hukum moral yaitu suatu hukum yang membahas peraturan-peraturan Allah untuk hidup kudus (Keluaran 20:1-17). Selain itu Hukum Taurat juga merupakan hukum perdata karena sebagian isinya adalah membahas kehidupan hukum dan sosial Israel sebagai bangsa (Keluaran 21:1-23:33). Hukum Taurat juga merupakan hukum tata ibadah karena di dalamnya mengandung juga bagaimana bentuk dan upacara penyembahan Israel kepada Tuhan termasuk sistem persembahan korban (Keluaran 24:12-31:18).

Sejalan dengan hal tersebut, Hukum Taurat juga dapat dibedakan dalam 3 (tiga) kelompok, yaitu:

Hukum Moral (Moral Law)
Moral Law atau hukum moral adalah menjadi bagian dari hukum kodrati, hukum yang menjadi bagian dari kodrat manusia, sehingga Rasul Paulus mengatakan “Sebab dengan itu mereka menunjukkan, bahwa isi hukum Taurat ada tertulis di dalam hati mereka dan suara hati mereka turut bersaksi dan pikiran mereka saling menuduh atau saling membela” (Roma 2:15).

Hukum Seremonial (Ceremonial law)
Hukum ini merupakan ekspresi untuk memisahkan sesuatu yang sakral dari yang duniawi yang juga berdasarkan prinsip hukum kodrat, seperti: hukum persembahan, tentang kesakralan, proses penyucian untuk persembahan, tentang makanan, pakaian, sikap, dan lain-lain.

Hukum Yudisial (Judicial Law)
Ini adalah merupakan suatu ketentuan yang menetapkan hukuman (sangsi) sehingga peraturan dapat dijalankan dengan baik. Oleh karena itu, maka peraturan ini sangat rinci, terutama untuk mengatur hubungan dengan sesama, seperti: peraturan untuk penguasa, bagaimana memperlakukan orang asing, dan lain-lain.

Oleh sebab itu, ada beberapa sifat dan fungsi Hukum Taurat yang menjadi kegunaan dari Hukum Taurat itu sendiri, yaitu:

Hukum Taurat diberikan dalam hubungan perjanjian yang dibuat oleh Allah dengan umat-Nya, berisi ketentuan-ketentuan perjanjian yang harus ditaati. Orang Israel secara formal menerima kewajiban-kewajiban perjanjian ini (Keluaran 24:1-8).
Ketaatan Israel kepada Hukum Taurat berlandaskan pada kemurahan Allah yang menyelamatkan dan memerdekakan (Keluaran 19:4). Hukum Taurat diberikan setelah bangsa Israel dimerdekakan dari perbudakan bangsa Mesir (Keluaran 20:2), dan sementara mereka hidup sebagai “perantau” di bumi oleh kasih karunia Allah (Keluaran 19:4).
Hukum Taurat merupakan pernyataan kehendak Allah mengenai perilaku umat-Nya (Keluaran 19:4-6; 20:1-17; 21:1-24:8) dan menentukan persembahan darah untuk mengadakan pendamaian karena dosa mereka (Imamat 1:5; 16:33). Hukum Taurat tidak direncanakan sebagai suatu sarana untuk memperoleh keselamatan karena umat yang diberikan Hukum Taurat sudah berada dalam hubungan yang selamat dengan Allah (Keluaran 20:2). Sebaliknya, melalui Hukum Taurat mereka mengetahui apa yang dikehendaki Allah dalam pola kehidupan mereka. Orang Israel diharapkan untuk mentaati Hukum Taurat oleh kasih karunia Allah supaya memelihara dan merayakan hubungan iman dengan-Nya (Ulangan 28:1-2; 30:15-20).
Kepercayaan kepada Allah dan Firman-Nya (Kejadian 15:6) dan kasih yang mendalam terhadap Dia (Ulangan 6:5) menjadi landasan untuk mentaati Hukum Taurat.
Hukum Taurat menekankan kebenaran abadi bahwa ketaatan kepada Allah dari hati yang penuh kasih  (Kejadian 2:9; Ulangan 6:5) akan menghasilkan kehidupan berlimpah-limpah dan berkat-berkat yang berharga dari Tuhan (Ulangan 4:1,40; 5:33; 8:1; Mazmur 119:45; Roma 8:13; 1 Yohanes 1:7; Kejadian 2:16).
Hukum Taurat mengungkapkan sifat dan sikap Allah, yaitu kasih, kebaikan, keadilan, dan kebencian-Nya akan dosa. Orang Israel yang percaya diharapkan untuk mentaati Hukum Taurat karena mereka telah diciptakan menurut gambar-Nya (Imamat 19:2).
Keselamatan tidak pernah dilandaskan pada kesempurnaan dalam mentaati Hukum Taurat.
Hukum Taurat bertindak sebagai pengawal umat Allah sampai Kristus datang (Galatia 3:22-26). Perjanjian yang lama kini sudah diganti dengan perjanjian yang baru; di dalamnya Allah telah menyingkapkan seluruh rencana keselamatan-Nya melalui Yesus Kristus (Roma 3:24-26; Galatia 3:19).
Hukum Taurat diberikan oleh Allah dan ditambahkan kepada janji "karena pelanggaran-pelanggaran" (Galatia 3:19); yaitu, hukum direncanakan dengan maksud (a) mengatur tingkah laku, (b) menegaskan apa dosa itu, (c) menunjukkan kepada Israel kecenderungan mereka untuk melanggar kehendak Allah dan melakukan kejahatan, dan (d) membangkitkan kesadaran mereka akan perlunya pengampunan, kasih karunia, dan penebusan Allah (Roma 3:20; 5:20; 8:2).

Selain itu, melakukan hukum taurat bertujuan agar manusia dapat berhasil dan beruntung dalam perjalanan hidupnya. Dalam kitab Yosua 1:8, “Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung”.

Ada beberapa prinsip dasar dalam melakukan Hukum Taurat, yaitu:

Melakukan Hukum Taurat tidak boleh sebagian-sebagian. ”Sebab barangsiapa menuruti seluruh hukum itu, tetapi mengabaikan satu bagian dari padanya, ia bersalah terhadap seluruhnya.” (Yakobus 2:10).
Pelanggaran Hukum Taurat adalah dosa.“Setiap orang yang berbuat dosa, melanggar juga hukum Allah, sebab dosa ialah pelanggaran hukum Allah.” (I Yohanes  3:4).
Upah pelanggaran Hukum Taurat adalah maut dan Hidup Kekal merupakan Karunia Allah. “Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” (Roma  6:23)

Hal ini berarti bahwa pelanggaran terhadap Hukum Taurat berakibat sangat fatal. Semua manusia telah berbuat dosa dan oleh sebab itu semua manusia seyogianya telah binasa. Namun oleh kasih karunia yang diberikan oleh Tuhan kepada manusia, maka manusia mendapat keselamatan. Hal ini berarti juga bahwa Hukum Taurat dimaksudkan agar manusia menyadari bahwa mereka tidak mampu melakukan Hukum Taurat hanya dengan usaha manusia itu sendiri. “Tetapi kita tahu, bahwa segala sesuatu yang tercantum dalam Kitab Taurat ditujukan kepada mereka yang hidup di bawah hukum Taurat, supaya tersumbat setiap mulut dan seluruh dunia jatuh ke bawah hukuman Allah.” (Roma 3:19).

Tuhan sangat murka akan dosa. Itulah sebabnya maksud hukum Taurat agar manusia datang kepada Tuhan. Hukum menunjuk kepada Kristus, mengapa ? Karena di depan Hukum Taurat kita langsung merasa, langsung tahu, tidak mampu, sehingga kita memerlukan Kristus. Hukum tak punya kuasa untuk mengampuni pelanggar. Hukum sebagai cermin untuk menunjukan bahwa kita berdosa. Hukum Taurat bertindak bagaikan cermin. Suatu cermin tidaklah memperbanyak noda yang ada pada pakaian, namun menyatakan noda itu dengan lebih jelas sehingga lebih banyak lagi yang dapat dilihat dengan mata. Suatu cermin tidak digunakan untuk membersihkan noda di wajah, namun memberi tahu kalau ada noda untuk dibersihkan.

Dengan demikian, maka Hukum Taurat berfungsi sebagai dasar pemerintahan Tuhan (Mazmur 89 : 15), dasar untuk menghakimi (Yakobus 2 : 12 dan 1 Yohanes 5: 3), sebagai cermin dosa (Roma 3:20, Rom 4:15 dan Rom 7:7), Penuntun (Galatia 3:24), menghasilkan kutuk (Galatia 3:13), dan penuntun sampai Kristus datang (Galatia 3:24). Hukum taurat bukan sebagai jalan untuk mendapatkan keselamatan (Galatia 3:15-18),

Selain itu Hukum Taurat menunjukkan bahwa dosa bukan saja  bagian dari kondisi alamiah manusia, tetapi merupakan sebuah pelanggaran hukum Allah (Roma 3;20; 5:13,20; 7:7,8,13). Itulah sebabnya mengapa Paulus mengatakan, “Di mana tidak ada Hukum Taurat, di situ tidak ada juga pelanggaran.” (Roma 4:15). 






































BAB II

AJARAN TUHAN YESUS TENTANG HUKUM TAURAT

YESUS DAN HUKUM TAURAT

Mengenai Yesus dan Hukum Taurat, dapat kita peroleh dari kitab Matius 5:17-48 dengan ayat paralel terdapat dalam kitab Lukas 6:27-36.

(17) Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. (18) Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi. (19) Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga. (20) Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.
(21) Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. (22) Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.
(23) Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, (24) tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.
(25) Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu itu jangan menyerahkan engkau kepada hakim dan hakim itu menyerahkan engkau kepada pembantunya dan engkau dilemparkan ke dalam penjara. (26) Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas.
(27) Kamu telah mendengar firman: Jangan berzinah. (28) Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya. (29) Maka jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, dari pada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka. (30) Dan jika tanganmu yang kanan menyesatkan engkau, penggallah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa dari pada tubuhmu dengan utuh masuk neraka.
(31) Telah difirmankan juga: Siapa yang menceraikan isterinya harus memberi surat cerai kepadanya. (32) Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang menceraikan isterinya kecuali karena zinah, ia menjadikan isterinya berzinah; dan siapa yang kawin dengan perempuan yang diceraikan, ia berbuat zinah.
(33) Kamu telah mendengar pula yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan bersumpah palsu, melainkan peganglah sumpahmu di depan Tuhan. (34) Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah sekali-kali bersumpah, baik demi langit, karena langit adalah takhta Allah, (35) maupun demi bumi, karena bumi adalah tumpuan kaki-Nya, ataupun demi Yerusalem, karena Yerusalem adalah kota Raja Besar; (36) janganlah juga engkau bersumpah demi kepalamu, karena engkau tidak berkuasa memutihkan atau menghitamkan sehelai rambutpun. (37) Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.
(38) Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi. (39) Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu. (40) Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu. (41) Dan siapapun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil. (42) Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari padamu.
(43) Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. (44) Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. (45) Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. (46) Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? (47) Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allahpun berbuat demikian? (48) Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna."

Dalam nats tersebut di atas, Tuhan Yesus secara tegas mengatakan bahwa kedatanganNya bukanlah untuk meniadakan hukum Taurat dan kitab para nabi tetapi justru untuk menggenapinya. Hal ini perlu dicermati secara mendalam karena sebagian pendapat mengatakan bahwa dengan iman kepada Tuhan Yesus Kristus maka hukum Taurat tidak berlaku lagi. Bahkan akhir-akhir ini sudah ada sebagian gereja yang ‘mengabaikan’ hukum Taurat dengan mengatakan bahwa hukum Taurat hanya berlaku bagi orang Yahudi dan merupakan bagian terpenting dari agama Yahudi. Pendapat demikian sangatlah menyesatkan karena Tuhan Yesus sendiri sebagai Imam Besar dan Juruselamat dunia menegaskan bahwa kedatanganNya bukan untuk meniadakan hukum Taurat. Bahkan secara tegas Tuhan Yesus mengatakan bahwa “Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi”. Ini menunjukkan bahwa hukum Taurat berlaku terus sampai semuanya tergenapi, dan kedatangan Tuhan Yesus ke dunia ini adalah merupakan penggenapan hukum Taurat.

Ada hubungan antara "iota" (ιωτα, baca:iôta) dengan “semuanya terjadi”. Ia berkata "satu iota-pun tidak akan dibatalkan sebelum semuanya terjadi", Maksud dari "semuanya terjadi" ini adalah berkaitan dengan hal-hal yang akan segera digenapi oleh Tuhan Yesus Kristus, yaitu kematianNya dan kebangkitanNya yang dengan sendirinya akan menggenapi Hukum Taurat. Kata "ditiadakan" yang dalam bahasa Yunani “παρελθη” (baca:parelthê) dari kata “παρερχομαι” (baca: parerkhomai) adalah kata yang sama dengan lenyap. Kata "semuanya terjadi" dalam bahasa Yunani "γενηται” (baca: genêtai) berasal dari kata “γινομαι” (baca: ginomai) suatu kata yang sering dipergunakan oleh Matius untuk sesuatu yang terjadi sebagai penggenapan nubuat.

Tidak ada seorangpun yang boleh meniadakan salah satu hukum Taurat sekalipun yang paling kecil. Justru Tuhan Yesus mengatakan bahwa “Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga”. Mengapa demikian ? Karena para ahli-ahli Taurat dan orang Farisi dalam melakukan hukum Taurat sudah melenceng dari tujuan pemberian hukum Taurat itu sendiri. Ketika Tuhan Yesus membandingkan hukum Taurat  pada murid Tuhan sejati dengan para ahli Taurat sesungguhnya Ia hendak menunjukkan bahwa para ahli Taurat melakukannya melakukan hukum Taurat hanya sebatas formalitas. Itu membuat hukum Taurat begitu kelihatan kaku, tidak menyentuh kehidupan manusia. Seharusnya hukum Taurat menghidupkan dan menumbuhkan kesadaran penuh akan keilahian dalam hidup setiap anak Tuhan. Kesempurnaan Yesus justru karena Ia melakukan hukum Taurat dalam kehidupanNya.

Jadi, dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa secara jelas Tuhan Yesus Kristus menyampaikan pernyataan bahwa: (1) Ajaran yang disampaikanNya tidak bertentangan dengan hukum Taurat, (2) AjaranNya tidak akan mengubah sedikitpun dari hukum Taurat (3) Adanya peringatan bagi orang yang mengabaikan hukum Taurat sekecil apapun (4) Yesus mengajarkan kepada para pengikutnya agar melaksanakan hukum Taurat lebih benar dibandingkan ahli-ahli Taurat dan kaum Farisi.

Lalu apa yang dimaksud dengan 'menggenapi' hukum Taurat? Apabila hukum Taurat bersifat perbuatan lahiriah dan dimengerti secara harafiah, maka hukum kasih bersifat rohaniah dan tertulis dalam hati seseorang dan bukan diukur dengan ritual yang kelihatan di luarnya tetapi lebih karena motivasi dalam hati. Yesus pernah mengecam para ahli Taurat ketika ada pertanyaan yang ditujukan kepadaNya: "mengapa murid-murid-Mu melanggar adat istiadat nenek-moyang kita? Mereka tidak membasuh tangan sebelum makan." Tetapi jawab Yesus kepada mereka: "mengapa kamu pun melanggar perintah Allah demi adat istiadat nenek-moyangmu?" (Matius 15:2-3). Menggenapi berarti membuka selubung Taurat yang selama ini membuat para pengikutnya tidak bisa melihat makna sebenarnya dari hukum itu. Jadi menggenapi bukan meniadakan tetapi mengembalikan kepada pengertian hakiki hukum yang sebenarnya. Mengutip surat Yesaya, Yesus bersabda: "Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia. Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia." (Markus 7:6-8).

Kalau diperhatikan ajaran Tuhan Yesus sebagaimana dalam nats tersebut di atas, dapat diketahui bahwa ajaranNya tersebut memiliki pola penyampaian yang sama, yaitu pertama disebutkan apa bunyi hukum Tauratnya, lalu Tuhan Yesus menyampaikan ajarannya yang menyentuh aspek rohani. Ketika Yesus menyebut aturan membunuh, beliau melanjutkannya dengan kata marah, ketika Tuhan Yesus menyampaikan hukum berzinah, dilanjutkan dengan ajaran nafsu yang bersemayam dalam hati, ketika beliau menyatakan hukum mata ganti mata dilanjutkan dengan ajaran tentang kasih, juga suatu yang terkait erat dengan rohani. Itulah yang dimaksud Tuhan Yesus dengan kata “menggenapi hukum Taurat”, selain kedatanganNya sendiri merupakan “kegenapan dari hukum Taurat”. Secara awam, bisa dijelaskan kata “menggenapi” tersebut: apabila ingin menggenapi angka sembilan menjadi sepuluh, maka dalam angka sembilan tersebut ditambahkan satu angka, sehingga genap menjadi sepuluh, dimana dalam angka sepuluh tersebut terdapat unsur angka sembilan. Jadi, apabila Tuhan Yesus menyatakan menggenapi hukum Taurat, artinya semua aturan hukum Taurat tetap dijalankan dan “ditambah” dengan unsur keimanan bahwa pelaksanaan hukum tersebut semata-mata atas dasar kepatuhan kepada Tuhan, sesuatu yang tidak dilakukan oleh ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi pada waktu itu.

Salah satu isi hukum Taurat adalah “jangan membunuh”. Tuhan Yesus mengatakan bahwa “Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala”. Artinya bahwa “membunuh” bukan hanya mengandung pengertian “membunuh secara harafiah”, tetapi tindakan marah, mengatakan kafir dan jahil kepada sesama manusia sama dengan membunuh. Pengertian  seperti inilah yang merupakan esensi dari hukum Taurat.

Dalam nats ini juga Tuhan Yesus menegaskan bahwa sebelum manusia berdamai dengan Allah, harus terlebih dahulu berdamai dengan sesama manusia. Hal ini sejalan dengan doa yang pernah diajarkanNya “dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami” (Matius 6:12; Lukas 11:4a)

Mengenai hukum Taurat yang mengatakan “jangan berzinah”, pengertiannya lebih diperjelas dengan ungkapan Tuhan Yesus, “Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya”.

Tentang perceraian yang dalam hukum Taurat ‘seperti’ diperbolehkan menurut pandangan para ahli Taurat dan orang Farisi asalkan diberikan surat cerai, Tuhan Yesus menegaskan bahwa “setiap orang yang menceraikan isterinya kecuali karena zinah, ia menjadikan isterinya berzinah; dan siapa yang kawin dengan perempuan yang diceraikan, ia berbuat zinah”.

Tentang bersumpah yang dalam hukum Taurat ‘seperti’ diperbolehkan asalkan sumpah itu bukanlah sumpah palsu, Tuhan Yesus menegaskan bahwa “Janganlah sekali-kali bersumpah, baik demi langit, karena langit adalah takhta Allah, maupun demi bumi, karena bumi adalah tumpuan kaki-Nya, ataupun demi Yerusalem, karena Yerusalem adalah kota Raja Besar;  janganlah juga engkau bersumpah demi kepalamu, karena engkau tidak berkuasa memutihkan atau menghitamkan sehelai rambutpun. Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat”.

Tentang pembalasan perbuatan jahat sesama, Tuhan Yesus menegaskan bahwa  “Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu. Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu. Dan siapapun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil. Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari padamu”.

Bahkan lebih dari itu, Tuhan Yesus mengatakan: “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar”.

Itulah beberapa hal ajaran Tuhan Yesus yang berkaitan dengan hukum Taurat. Lalu, dengan dasar apakah orang beriman ‘mengabaikan’ hukum Taurat. Bukankah Tuhan Yesus sendiri menegaskan bahwa kedatanganNya bukanlah untuk meniadakan hukum Taurat tetapi justru menggenapinya ? Dalam ajaranNya justru Tuhan Yesus meluruskan dan bahkan memperdalam makna setiap ‘perintah’ dalam hukum Taurat. Hukum Taurat yang sebelumnya dimaknai secara harafiah, justru dalam ajaranNya Tuhan Yesus memberikan ‘makna sebenarnya’ atau esensi dari hukum Taurat itu sendiri.

Dari uraian di atas, jelaslah bahwa ajaran Tuhan Yesus tidaklah bertentangan dengan hukum Taurat. Bahkan kedatanganNya bukan untuk meniadakan hukum Taurat sebab hukum Taurat itu barulah tidak berlaku apabila (a). Langit dan bumi ini sudah lenyap dan (b). Semuanya sudah terjadi atau digenapi.


PENGAJARAN SESAT

Mengenai Pengajaran Sesat, dapat dilihat dalam kitab Matius 7:15-23 yang paralel dengan Lukas  11:9-13:

(15) Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas. (16) Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri? (17) Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik. (18) Tidak mungkin pohon yang baik itu menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik itu menghasilkan buah yang baik. (19) Dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api. (20) Jadi dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka.
(21) Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. (22) Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? (23) Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!"

Nats ini menegaskan bahwa bukan setiap orang yang berseru kepada Tuhan yang akan masuk ke dalam kerajaan Surga tetapi setiap orang yang melakukan kehendak Allah. Dari “buahnyalah”  seseorang itu diketahui apakah memang orang tersebut dikategorikan orang percaya atau tidak. Dari tindakan dan perbuatan melakukan kehendak Allah seseorang dapat masuk ke dalam kerajaan surga. Apa itu kehendak Allah ? Kehendak Allah dapat diketahui dari segala yang telah difirmankanNya kepada manusia termasuk hukum Taurat.

HAL BERPUASA

Mengenai Puasa, dapat dilihat dalam kitab Matius 9:14-17 yang paralel dengan Markus 2:18-22 dan Lukas 5:33-39 sebagai berikut:

(14) Kemudian datanglah murid-murid Yohanes kepada Yesus dan berkata: "Mengapa kami dan orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?" (15) Jawab Yesus kepada mereka: "Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka? Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa. (16) Tidak seorangpun menambalkan secarik kain yang belum susut pada baju yang tua, karena jika demikian kain penambal itu akan mencabik baju itu, lalu makin besarlah koyaknya. (17) Begitu pula anggur yang baru tidak diisikan ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian kantong itu akan koyak sehingga anggur itu terbuang dan kantong itupun hancur. Tetapi anggur yang baru disimpan orang dalam kantong yang baru pula, dan dengan demikian terpeliharalah kedua-duanya."

Dalam nats tersebut di atas Tuhan Yesus tidak mengatakan bahwa Puasa tidak berlaku lagi. Tetapi selama Dia masih bersama-sama dengan murid-muridNya puasa tidaklah diperlukan. Hanya saja, setelah Dia tidak bersama-sama lagi dengan mereka barulah puasa dijalankan. Hal ini dapat diartikan bahwa pada prinsipnya Puasa ditujukan kepada Allah dan bukan sebagai kegiatan formalitas atau legalitas status keagamaan apalagi agar dilihat oleh orang lain. Tuhan Yesus dalam berbagai kesempatan mengatakan agar apabila melakukan puasa janganlah ada orang yang tahu, karena puasa bukanlah untuk ditunjukkan kepada manusia tetapi puasa berorientasi kepada Allah. Jadi, untuk apa para murid melakukan puasa yang berorientasi kepada Tuhan sementara Tuhan sendiri masih bersama-sama dengan mereka? Bukankah apabila seseorang menambalkan secarik kain yang belum susut pada baju yang tua, maka kain penambal itu akan mencabik baju itu sehingga semakin besar koyaknya atau anggur yang baru apabila diisikan ke dalam kantong kulit yang tua maka kantong itu akan koyak sehingga anggur itu terbuang dan kantong itupun hancur ?

Jadi, bagi orang Kristen puasa tetap berlaku dengan syarat muka tidak muram seperti orang munafik  supaya kelihatan bahwa mereka sedang berpuasa. Apabila hal itu dilakukan maka mereka sudah mendapat upah dengan mendapat pujian dari orang yang melihat atau paling tidak orang lain mengetahui dan mengakui bahwa orang tersebut sedang menjalankan ibadah puasa, itulah upahnya.  Tetapi apabila melakukan puasa tidak diketahui oleh orang lain maka Allah yang berada di tempat tersembunyi akan melihatnya dan upah puasa itu akan diberikanNya.


HARI SABAT

MURID YESUS MEMETIK GANDUM PADA HARI SABAT

Mengenai Hari Sabat dapat dilihat dalam kitab Matius 12:1-8 yang paralel dengan Markus 2:23-28 dan Lukas 6:1-5 sebagai berikut:

(1) Pada waktu itu, pada hari Sabat, Yesus berjalan di ladang gandum. Karena lapar, murid-murid-Nya memetik bulir gandum dan memakannya. (2) Melihat itu, berkatalah orang-orang Farisi kepada-Nya: "Lihatlah, murid-murid-Mu berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat." (3) Tetapi jawab Yesus kepada mereka: "Tidakkah kamu baca apa yang dilakukan Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya lapar, (4) bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah dan bagaimana mereka makan roti sajian yang tidak boleh dimakan, baik olehnya maupun oleh mereka yang mengikutinya, kecuali oleh imam-imam? (5) Atau tidakkah kamu baca dalam kitab Taurat, bahwa pada hari-hari Sabat, imam-imam melanggar hukum Sabat di dalam Bait Allah, namun tidak bersalah? (6) Aku berkata kepadamu: Di sini ada yang melebihi Bait Allah. (7) Jika memang kamu mengerti maksud firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, tentu kamu tidak menghukum orang yang tidak bersalah. (8) Karena Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat."

Nats di atas merupakan jawaban Tuhan Yesus terhadap sikap orang-orang Farisi yang mempertanyakan mengapa murid-murid Tuhan Yesus diperbolehkan memetik bulir gandum pada hari Sabat. Dalam nats tersebut, ada 2 (dua) analog yang disampaikan Tuhan Yesus yaitu apa yang dilakukan Daud dan apa yang dilakukan imam-imam di Bait Allah pada hari Sabat.

Daud pada saat sampai ke Nob kepada Ahimelekh seorang imam, meminta makanan. Tetapi saat itu tidak ada roti biasa, yang ada hanyalah roti kudus yang biasa diangkat orang dari hadapan Tuhan pada setiap hari sabat, supaya pada hari roti itu diambil, ditaruh lagi roti baru. Dalam keadaan ‘insidensial’ seperti itu, Ahimelekh memberikan roti itu kepada Daud beserta pengikutnya. Padahal hanya keturunan Harun atau para imam-imamlah yang boleh makan roti itu.

Demikian juga para iman setiap hari Sabat melakukan kegiatan berupa pengolahan dua ekor domba berumur setahun yang tidak bercela, dan dua persepuluh efa tepung yang terbaik sebagai korban sajian serta dengan korban curahannya.

Jawaban Tuhan Yesus itu menunjukkan bahwa menguduskan hari Sabat bukan berarti tidak boleh melakukan kegiatan apapun sebagaimana yang dipercayai oleh orang-orang Farisi. Murid-murid Tuhan Yesus memetik bulir gandum pada hari Sabat karena mereka lapar. Pengudusan hari Sabat yang dilakukan orang-orang Farisi lebih cenderung bersifat kaku dalam pelaksanaannya, di lain pihak tanpa mereka sadari, para imam tetap bekerja pada hari Sabat dalam hal menyiapkan korban sajian bagi Tuhan.

Hal lain yang lebih penting adalah bahwa analog yang disampaikan oleh Tuhan Yesus dalam nats tersebut di atas berkaitan dengan korban persembahan manusia kepada Tuhan yang merupakan upaya manusia untuk berdamai dengan Tuhan. Di lain pihak, Tuhan Yesus sendiri adalah korban yang telah dipersiapkan Allah untuk menebus dosa manusia dan menjadi “jalan satu-satunya” untuk berdamai dengan Allah. Maka pada ayat berikutnya Tuhan Yesus menegaskan bahwa Ia melebihi Bait Allah dan Dia adalah Tuhan atas hari Sabat.

Jika demikian, maka jelaslah bahwa pola pikir orang-orang Farisi selama ini mengenai persembahan korban setiap hari Sabat sebagai jalan untuk berdamai dengan Allah haruslah berubah. Menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamat dan Penebus merupakan hal yang baru sehingga tidak diperlukan lagi korban persembahan yang dilakukan setiap hari Sabat di Bait Allah. Selain itu, menguduskan hari Sabat bukan berarti tidak diperbolehkan melakukan tindakan apapun. Melakukan tindakan yang ditujukan kepada Tuhan, berbuat baik, melakukan tindakan yang bersifat ‘insidensial’ tidaklah bertentangan dengan hukum Taurat mengenai pengudusan hari Sabat.

YESUS MENYEMBUHKAN ORANG PADA HARI SABAT

Mengenai Hari Sabat juga dapat dilihat dalam kitab Matius 12:9-15a yang paralel dengan Markus 3:1-6 dan Lukas 6:6-11 sebagai berikut:

(9) Setelah pergi dari sana, Yesus masuk ke rumah ibadat mereka. (10) Di situ ada seorang yang mati sebelah tangannya. Mereka bertanya kepada-Nya: "Bolehkah menyembuhkan orang pada hari Sabat?" Maksud mereka ialah supaya dapat mempersalahkan Dia. (11) Tetapi Yesus berkata kepada mereka: "Jika seorang dari antara kamu mempunyai seekor domba dan domba itu terjatuh ke dalam lobang pada hari Sabat, tidakkah ia akan menangkapnya dan mengeluarkannya? (12) Bukankah manusia jauh lebih berharga dari pada domba? Karena itu boleh berbuat baik pada hari Sabat." (13) Lalu kata Yesus kepada orang itu: "Ulurkanlah tanganmu!" Dan ia mengulurkannya, maka pulihlah tangannya itu, dan menjadi sehat seperti tangannya yang lain. (14) Lalu keluarlah orang-orang Farisi itu dan bersekongkol untuk membunuh Dia. (15a). Tetapi Yesus mengetahui maksud mereka lalu menyingkir dari sana.

Nats tersebut di atas semakin mempertegas ajaran Tuhan Yesus mengenai hari Sabat. “Boleh berbuat baik pada hari Sabat”, demikian jawaban Tuhan Yesus ketika dipertanyakan kepadaNya apakah boleh menyembuhkan orang pada hari Sabat.

PERINTAH ALLAH DAN ADAT ISTIADAT YAHUDI

Mengenai Perintah Allah dan Adat Istiadat Yahudi dapat dilihat dalam kitab Matius 15:1-20 yang paralel dengan Markus 7:1-23 sebagai berikut:

(1) Kemudian datanglah beberapa orang Farisi dan ahli Taurat dari Yerusalem kepada Yesus dan berkata: (2) Mengapa murid-murid-Mu melanggar adat istiadat nenek moyang kita? Mereka tidak membasuh tangan sebelum makan. (3) Tetapi jawab Yesus kepada mereka: "Mengapa kamupun melanggar perintah Allah demi adat istiadat nenek moyangmu? (4) Sebab Allah berfirman: Hormatilah ayahmu dan ibumu; dan lagi: Siapa yang mengutuki ayahnya atau ibunya pasti dihukum mati. (5) Tetapi kamu berkata: Barangsiapa berkata kepada bapanya atau kepada ibunya: Apa yang ada padaku yang dapat digunakan untuk pemeliharaanmu, sudah digunakan untuk persembahan kepada Allah, (6) orang itu tidak wajib lagi menghormati bapanya atau ibunya. Dengan demikian firman Allah kamu nyatakan tidak berlaku demi adat istiadatmu sendiri. (7) Hai orang-orang munafik! Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu:
(8) Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku.
(9) Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia."
(10) Lalu Yesus memanggil orang banyak dan berkata kepada mereka: (11) Dengar dan camkanlah: bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang.
(12) Maka datanglah murid-murid-Nya dan bertanya kepada-Nya: "Engkau tahu bahwa perkataan-Mu itu telah menjadi batu sandungan bagi orang-orang Farisi?" (13) Jawab Yesus: "Setiap tanaman yang tidak ditanam oleh Bapa-Ku yang di sorga akan dicabut dengan akar-akarnya. (14) Biarkanlah mereka itu. Mereka orang buta yang menuntun orang buta. Jika orang buta menuntun orang buta, pasti keduanya jatuh ke dalam lobang."
(15) Lalu Petrus berkata kepada-Nya: "Jelaskanlah perumpamaan itu kepada kami." (16) Jawab Yesus: "Kamupun masih belum dapat memahaminya? (17) Tidak tahukah kamu bahwa segala sesuatu yang masuk ke dalam mulut turun ke dalam perut lalu dibuang di jamban? (18) Tetapi apa yang keluar dari mulut berasal dari hati dan itulah yang menajiskan orang. (19) Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat. (20) Itulah yang menajiskan orang. Tetapi makan dengan tangan yang tidak dibasuh tidak menajiskan orang."

Nats di atas merupakan dialog antara Tuhan Yesus dengan orang Farisi dan ahli Taurat karena murid-murid Tuhan Yesus tidak membasuh tangan sebelum makan. Dalam dialog tersebut secara jelas terungkap bahwa orang Yahudi telah melanggar perintah Tuhan demi adat istiadat nenek moyang mereka. Orang Yahudi lebih mengutamakan adat istiadat yang merupakan ajaran manusia daripada perintah Tuhan.

Pada awalnya hukum Taurat merupakan nafas Perjanjian Lama yang diterima oleh Musa dan diberitakan oleh para nabi yang ditujukan kepada bangsa Israel / Yahudi. Namun, bagi umat Israel / Yahudi, hukum itu berangsur-angsur membeku menjadi ritual kaku yang bukan melayani Tuhan tetapi melayani kepentingan manusia dan menjadi adat istiadat manusia. Tuhan Yesus berfirman: "Mengapa kamupun melanggar perintah Allah demi adat istiadat nenek moyangmu?” Di lain pihak, kedatangan Yesus Kristus ke dunia ini adalah untuk memerdekakan manusia dari kutukan hukum Taurat dan membawa manusia kepada penggenapan hukum Taurat dalam bentuk Injil. Injil Anugerah tidak menggantikan hukum Taurat, tetapi menggenapi hukum Taurat dengan memberi pengertian yang lebih mendalam lagi sehingga terjadi kepenuhan dalam hubungan iman umat dengan Tuhannya.

Selain itu dalam nats di atas Tuhan Yesus menegaskan bahwa “bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang” Apa yang keluar dari mulut berasal dari hati sementara dari hati timbul segala pikiran jahat dan itulah yang menajiskan orang. Dalam hal ini, Tuhan Yesus lebih menekankan pada aspek kesesuaian hati, perkataan dan perbuatan.


ORANG MUDA YANG KAYA

Mengenai Orang Muda yang Kaya dapat dilihat dalam kitab Matius 19:16-26 yang paralel dengan Markus 10:17-27 dan Lukas 18:18-27 sebagai berikut:

(16) Ada seorang datang kepada Yesus, dan berkata: "Guru, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?" (17) Jawab Yesus: "Apakah sebabnya engkau bertanya kepada-Ku tentang apa yang baik? Hanya Satu yang baik. Tetapi jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Allah." (18) Kata orang itu kepada-Nya: "Perintah yang mana?" Kata Yesus: "Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, (19) hormatilah ayahmu dan ibumu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri." (20) Kata orang muda itu kepada-Nya: "Semuanya itu telah kuturuti, apa lagi yang masih kurang?" (21) Kata Yesus kepadanya: "Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku." (22) Ketika orang muda itu mendengar perkataan itu, pergilah ia dengan sedih, sebab banyak hartanya.
(23) Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sukar sekali bagi seorang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Sorga. (24) Sekali lagi Aku berkata kepadamu, lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah." (25) Ketika murid-murid mendengar itu, sangat gemparlah mereka dan berkata: "Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?" (26) Yesus memandang mereka dan berkata: "Bagi manusia hal ini tidak mungkin, tetapi bagi Allah segala sesuatu mungkin."

Nats di atas berkaitan dengan perbuatan apa yang dilakukan untuk memperoleh hidup yang kekal. Tuhan Yesus secara tegas mengatakan bahwa “jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Allah." Walaupun demikian, mentaati segala hukum Taurat seperti yang sudah dilakukan oleh orang tersebut tidaklah cukup. Untuk menjadi lebih sempurna maka harus meninggalkan segala hal yang bersifat duniawi – harta di surga lebih penting daripada harta di dunia – dan mengikut Tuhan Yesus.


HUKUM YANG TERUTAMA

Mengenai Hukum yang Terutama dapat dilihat dalam kitab Matius 22:34-40 yang paralel dengan Markus 12:28-34 dan Lukas 10:25-28 sebagai berikut:

(34) Ketika orang-orang Farisi mendengar, bahwa Yesus telah membuat orang-orang Saduki itu bungkam, berkumpullah mereka (35) dan seorang dari mereka, seorang ahli Taurat, bertanya untuk mencobai Dia: (36) Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat? (37) Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. (38) Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. (39) Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. (40) Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi."

Nats di atas merupakan nats fenomenal mengenai ajaran Tuhan Yesus tentang hukum Taurat. Ajaran Tuhan Yesus mengenai hukum Taurat adalah bahwa Kasih merupakan inti dari seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi. Ada 2 (dua) hukum Kasih yang diajarkan Tuhan Yesus, yaitu:

Mengasihi Tuhan, Allah, dengan segenap hati dan dengan segenap jiwa dan dengan segenap akal budi
Mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri

YESUS MENGECAM AHLI-AHLI TAURAT DAN ORANG-ORANG FARISI

Mengenai Yesus mengecam ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi dapat dilihat dalam kitab Matius 23:1-36 yang paralel dengan Markus 12:38-40 dan Lukas 11:37-54, 20:45-47 sebagai berikut:

(1) Maka berkatalah Yesus kepada orang banyak dan kepada murid-murid-Nya, kata-Nya: (2) Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. (3) Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya. (4) Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya. (5) Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksud supaya dilihat orang; mereka memakai tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang; (6) mereka suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan dan di tempat terdepan di rumah ibadat; (7) mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil Rabi. (8) Tetapi kamu, janganlah kamu disebut Rabi; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara. (9) Dan janganlah kamu menyebut siapapun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di sorga. (10) Janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias. (11) Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. (12) Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.
(13) Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, karena kamu menutup pintu-pintu Kerajaan Sorga di depan orang. Sebab kamu sendiri tidak masuk dan kamu merintangi mereka yang berusaha untuk masuk.
(14) (Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu menelan rumah janda-janda sedang kamu mengelabui mata orang dengan doa yang panjang-panjang. Sebab itu kamu pasti akan menerima hukuman yang lebih berat.)
(15) Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu mengarungi lautan dan menjelajah daratan, untuk mentobatkan satu orang saja menjadi penganut agamamu dan sesudah ia bertobat, kamu menjadikan dia orang neraka, yang dua kali lebih jahat dari pada kamu sendiri.
(16) Celakalah kamu, hai pemimpin-pemimpin buta, yang berkata: Bersumpah demi Bait Suci, sumpah itu tidak sah; tetapi bersumpah demi emas Bait Suci, sumpah itu mengikat. (17) Hai kamu orang-orang bodoh dan orang-orang buta, apakah yang lebih penting, emas atau Bait Suci yang menguduskan emas itu? (18) Bersumpah demi mezbah, sumpah itu tidak sah; tetapi bersumpah demi persembahan yang ada di atasnya, sumpah itu mengikat. (19) Hai kamu orang-orang buta, apakah yang lebih penting, persembahan atau mezbah yang menguduskan persembahan itu? (20) Karena itu barangsiapa bersumpah demi mezbah, ia bersumpah demi mezbah dan juga demi segala sesuatu yang terletak di atasnya. (21) Dan barangsiapa bersumpah demi Bait Suci, ia bersumpah demi Bait Suci dan juga demi Dia, yang diam di situ. (22) Dan barangsiapa bersumpah demi sorga, ia bersumpah demi takhta Allah dan juga demi Dia, yang bersemayam di atasnya.
(23) Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan. (24) Hai kamu pemimpin-pemimpin buta, nyamuk kamu tapiskan dari dalam minumanmu, tetapi unta yang di dalamnya kamu telan.
(25) Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab cawan dan pinggan kamu bersihkan sebelah luarnya, tetapi sebelah dalamnya penuh rampasan dan kerakusan. (26) Hai orang Farisi yang buta, bersihkanlah dahulu sebelah dalam cawan itu, maka sebelah luarnya juga akan bersih.
(27) Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu sama seperti kuburan yang dilabur putih, yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran. (28) Demikian jugalah kamu, di sebelah luar kamu tampaknya benar di mata orang, tetapi di sebelah dalam kamu penuh kemunafikan dan kedurjanaan.
(29) Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu membangun makam nabi-nabi dan memperindah tugu orang-orang saleh (30) dan berkata: Jika kami hidup di zaman nenek moyang kita, tentulah kami tidak ikut dengan mereka dalam pembunuhan nabi-nabi itu. (31) Tetapi dengan demikian kamu bersaksi terhadap diri kamu sendiri, bahwa kamu adalah keturunan pembunuh nabi-nabi itu. (32) Jadi, penuhilah juga takaran nenek moyangmu! (33) Hai kamu ular-ular, hai kamu keturunan ular beludak! Bagaimanakah mungkin kamu dapat meluputkan diri dari hukuman neraka? (34) Sebab itu, lihatlah, Aku mengutus kepadamu nabi-nabi, orang-orang bijaksana dan ahli-ahli Taurat: separuh di antara mereka akan kamu bunuh dan kamu salibkan, yang lain akan kamu sesah di rumah-rumah ibadatmu dan kamu aniaya dari kota ke kota, (35) supaya kamu menanggung akibat penumpahan darah orang yang tidak bersalah mulai dari Habel, orang benar itu, sampai kepada Zakharia anak Berekhya, yang kamu bunuh di antara tempat kudus dan mezbah. (36) Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya semuanya ini akan ditanggung angkatan ini!"

Ada beberapa poin penting yang disampaikan Tuhan Yesus kepada murid-muridnya dalam nats tersebut di atas, antara lain bahwa  para murid Tuhan Yesus harus menuruti dan melakukan segala sesuatu yang diajarkan oleh ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi tetapi tidak menuruti perbuatan-perbuatan mereka. Pernyataan ini disampaikan kepada murid-muridnya karena ahli-ahli Taurat dan orang Farisi mengajarkan hal yang baik tetapi tidak melakukannya. Semua pekerjaan yang ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi lakukan hanya dimaksud supaya dilihat orang.

Dengan kata lain bahwa ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi adalah orang yang menjalankan hukum Taurat bukan demi keimaman, bukan dengan hati yang benar-benar tunduk kepada Tuhan melainkan untuk kepentingan keuntungan pribadi, banyak kalimat perumpamaan Tuhan Yesus yang menggambarkan hal ini. Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya, semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksud supaya dilihat orang, mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil Rabi. Semua pernyataan Tuhan Yesus tersebut menggambarkan sekalipun ritual peribadatan dan aturan hukum Taurat dilaksanakan, tapi ajaran tersebut dilakukan untuk kepentingan mereka sendiri.

Berdasarkan hal tersebut, Tuhan Yesus mengajarkan kepada para pengikutnya agar hidup keagamaanya lebih benar yang berarti bahwa tetap menjalankan hukum Taurat namun dengan dasar keimanan dan kepatuhan kepada Tuhan, bukan demi mendapat penghormatan dari orang lain, demi keuntungan pribadi atau karena kemunafikan.

Selain itu ada beberapa kecaman yang disampaikan Tuhan Yesus kepada ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi karena kemunafikan mereka, yaitu: mengabaikan yang terpenting dari hukum Taurat, yaitu keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Kesalahan orang lain sekecil apapun mereka tahu tetapi kesalahan mereka sebesar apapun tidak mereka ketahui; lebih mementingkan kebersihan secara lahiriah daripada secara batiniah, padahal apabila batiniah sudah bersih maka lahiriah juga akan bersih, secara lahiriah mereka tampak benar di mata orang tetapi dalam hatinya penuh kemunafikan dan kedurjanaan, membangun makam nabi-nabi dan memperindah tugu orang-orang saleh yang telah dibunuh oleh nenek moyang mereka. Mereka tidak akan luput dari hukuman neraka karena nenek moyang mereka telah membunuh nabi-nabi dan orang-orang saleh.

KESIMPULAN MENGENAI AJARAN YESUS TENTANG HUKUM TAURAT

Dari beberapa nats di atas, maka ada beberapa isu penting yang merupakan ajaran Tuhan Yesus sebagai ‘penggenapan’ hukum Taurat sebagaimana dirangkum berikut ini.

Secara tegas Tuhan Yesus mengatakan bahwa kedatanganNya bukanlah untuk meniadakan hukum Taurat dan kitab para nabi tetapi justru untuk menggenapinya. Hukum Taurat tetap berlaku sampai (a). Langit dan bumi lenyap dan (b). semuanya sudah terjadi atau digenapi. Oleh sebab itu setiap orang harus melakukan hukum Taurat yang lebih benar daripada ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi agar masuk ke dalam kerajaan sorga.

Selain itu, dalam ajaran Tuhan Yesus mengenai hukum Taurat, Tuhan Yesus mendefenisikan beberapa hukum Taurat secara benar sehingga pola pikir ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi selama ini diluruskan kembali oleh Tuhan Yesus. Hal-hal tersebut adalah mengenai membunuh, berdamai dengan Allah, berzinah, perceraian suami isteri, sumpah, pembalasan perbuatan jahat sesama, dan mengasihi musuh.

Tuhan Yesus juga dalam ajarannya memperingatkan agar para muridNya tidak terbuai dengan kata-kata manis dari orang lain tetapi dari ‘buah’ atau perbuatanlah seseorang itu dinilai baik atau tidak dan bukan dari perkataannya.

Tuhan Yesus juga dalam ajarannya mengenai hukum Taurat meluruskan pemaknaan puasa, hari Sabat, dan sikap orang Yahudi yang lebih mengutamakan adat istiadat daripada perintah Tuhan.

Akhirnya Tuhan Yesus menyampaikan hukum baru sebagai inti dari segalah hukum Taurat dan kitab para nabi, yaitu HUKUM KASIH, yaitu: mengasihi Tuhan, Allah, dengan segenap hati dan dengan segenap jiwa dan dengan segenap akal budi; dan mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri.

Pada bagian lain, Tuhan Yesus menyuruh para muridnya untuk mentaati ajaran ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi tetapi tidak menuruti perbuatan-perbuatan mereka karena lain perkataan mereka dengan perbuatan mereka, lain lahiriah dengan batiniah. Bahkan hal yang terpenting dari hukum Taurat yaitu keadilan, belas kasihan dan kesetiaan telah diabaikan oleh ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi dan mereka tidak akan luput dari hukuman karena dosa nenek moyang.

Dalam sejarah kehidupanNya, Tuhan Yesus semasa masih bayi dibawa ke bait Allah di Yerusalem, disunat pada hari kedelapan dan menjalani ritual pentahiran dan penyerahan anak sulung (Lukas 2:21-24), dan pada umur 12 tahun la kembali diajak oleh kedua orang tuanya untuk pergi ke Yerusalem merayakan hari raya Paskah sebagai peringatan keluarnya orang Israel dari perbudakan di Mesir (Lukas 2:41-42). Namun, apakah itu berarti bahwa setelah Tuhan Yesus mulai mengajar, ajaranNya adalah ajaran Yahudi yang berpusat pada hukum Taurat? Sekalipun berlatar belakang agama Yahudi, sejak awal Tuhan Yesus sudah melakukan perubahan. Tuhan Yesus sudah menunjukkan suatu ritual baru yaitu la dibaptiskan oleh Yohanes (Lukas 3:21-22), suatu ritual baru yang tidak ada dalam ibadah agama Yahudi selain adat basuhan.

Selanjutnya, di Nazaret Tuhan Yesus yang semula masih datang pada hari Sabat (Lukas 4:16,31), di sinilah Ia menyatakan diri sebagai Mesias yang diurapi, suatu penggenapan nubuatan perjanjian lama melalui pembacaan surat nabi Yesaya (Lukas 4:18-19). Ini menunjukkan bahwa sejak awal pelayanannya di bumi ini Tuhan Yesus sudah membedakan diri dari agama Yahudi. Ia yang bukan ahli kitab dan keturunan imam, tetapi bisa mengajar di sinagoge (tempat ibadah umat Yahudi), dan bahkan Tuhan Yesus tidak lagi memusatkan pengajarannya di sinagoge sebagaimana tradisi agama Yahudi pada waktu itu, tetapi Tuhan Yesus mulai mengajar di banyak tempat, di tepi pantai, di pasar, di rumah jemaat, bahkan termasuk di atas Bukit (Matius 5-7). Injil yang dihadirkan bukan sebagai perintah yang memberatkan seperti yang terjadi dalam agama Yahudi yang secara ketat diawasi oleh para imam agama, tetapi Tuhan Yesus merupakan anugerah kepada umat manusia. Itulah sebabnya maka Tuhan Yesus beserta ajaranNya ditolak mentah-mentah oleh orang Yahudi dan marah kepada-Nya bahkan la akan dilemparkan dari atas tebing (Lukas 4:28-29). Selanjutnya Tuhan Yesus mulai mengadakan banyak mujizat sebagai penggenapan Yesaya 61:1-2 (Lukas 4:18-19) dimana la membebaskan banyak orang dari belenggu penyakit dan kerasukan setan. Yesus telah memberikan gambaran ibadah ritual yang baru, misalnya pandangannya mengenai hari Sabat bahwa Sabat bukan lagi ritual yang memberatkan, tetapi Sabat adalah suatu aksi yang membebaskan umat, karena Dia sendirilah Tuhan atas hari Sabat.

Selanjutnya dengan mengumpulkan 12 (dua belas) murid, Tuhan Yesus telah membuka era pelayanan baru yang selama ini hanya berpusat pada pelayanan para Imam yang secara turun temurun melayani ritual di rumah ibadah, menjadi bersifat melayani keluar melalui para murid yang diutus. Dalam Perjanjian Lama, keimaman dilayani oleh keturunan Lewi karena merekalah yang diberi wewenang secara keturunan sebagai pemelihara ritual agama, namun sekarang pelayanan dilakukan murid-murid yang dipilih bukan atas dasar keturunan keimaman melainkan karena panggilan, iman dan anugerah Allah. Rasul Petrus mengatakan: "Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib." (1 Petrus 2:9). Tuhan Yesus mengajarkan dasar iman yang benar, bukan karena kita menyebut nama 'Tuhan' maka kita selamat dan diperkenan melainkan bila kita melakukan kehendak-Nya (Matius 7:24-27). Kehidupan Iman tidak lagi dibatasi oleh tembok-tembok rumah ibadah dan ritual sesuai tradisi nenek-moyang, melainkan dunia ini menjadi rumah ibadah bagi Tuhan Yesus dan jemaatNya, dan Tuhan Yesus mengutus murid ke dalam dunia (Yoh. 17:18). Umat tidak lagi menyembah di Yerusalem atau di bukit Gerizim, tetapi menyembah Bapa dengan roh dan kebenaran (Yoh. 4:21-24), Manusia menjadi Bait Allah (1 Korintus 6: 19). Doa yang selama ini merupakan pengulangan ayat-ayat doa melalui pimpinan para Imam, berubah menjadi doa langsung kepada Tuhan sebagai ungkapan hati yang bertobat (Matius 6: 515). Doa menjadi percakapan dialogis dengan Tuhan yang hidup. Tuhan Yesus bahkan membandingkan doa dan puasa seorang Farisi dan ahli Taurat yang bersifat ritual dengan doa orang berdosa yang dengan tulus diucapkan (Lukas 18:9-14). Menariknya, dalam kedua doa itu, justru doa orang miskin itulah yang lebih diperkenan Tuhan daripada doa ritual orang Farisi.

Konsep ibadah yang menekankan Iman dan Anugerah jelas dalam pengajaran Tuhan Yesus. Demikian juga berita anugerah yang ditawarkan kepada manusia, bahwa: "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga la telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal." (Yohanes 3:16). Konsep iman sudah berbeda dengan konsep iman sebagaimana dalam hukum Taurat yang bertumpu pada perbuatan.

Oleh karena ajaran Tuhan Yesus yang semakin melepaskan diri dari ritual hukum Taurat itulah, maka Tuhan Yesus dianggap berseberangan dengan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi khususnya dan hukum agama Yahudi umumnya, bahkan dalam hal Sabat berkali-kali Yesus persalahkan. Tuhan Yesus mengecam ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi (Matius 23: 1-36), apalagi ketika la menyatakan diriNya sebagai Allah, dan menyebut bahwa "Aku dan Bapa adalah satu" (Yohanes 10:20) dan mengaku bahwa "Aku Anak Allah" (Yohanes 10:36), dan bahwa "Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa." Ia kemudian diadili dan disalibkan.

















BAB III

SIKAP PARA MURID TUHAN YESUS TENTANG HUKUM TAURAT

Mengenai sikap para murid Tuhan Yesus terhadap Hukum Taurat, ayat yang sering dikutip adalah sebagaimana tertulis dalam Kisah Para Rasul 15:1-34.

SIDANG DI YERUSALEM

Mengenai Sidang di Yerusalem dapat dilihat dalam kitab Kisah Para Rasul 15:1-21 sebagai berikut:

(1) Beberapa orang datang dari Yudea ke Antiokhia dan mengajarkan kepada saudara-saudara di situ: "Jikalau kamu tidak disunat menurut adat istiadat yang diwariskan oleh Musa, kamu tidak dapat diselamatkan." (2) Tetapi Paulus dan Barnabas dengan keras melawan dan membantah pendapat mereka itu. Akhirnya ditetapkan, supaya Paulus dan Barnabas serta beberapa orang lain dari jemaat itu pergi kepada rasul-rasul dan penatua-penatua di Yerusalem untuk membicarakan soal itu.
(3) Mereka diantarkan oleh jemaat sampai ke luar kota, lalu mereka berjalan melalui Fenisia dan Samaria, dan di tempat-tempat itu mereka menceriterakan tentang pertobatan orang-orang yang tidak mengenal Allah. Hal itu sangat menggembirakan hati saudara-saudara di situ. (4) Setibanya di Yerusalem mereka disambut oleh jemaat dan oleh rasul-rasul dan penatua-penatua, lalu mereka menceriterakan segala sesuatu yang Allah lakukan dengan perantaraan mereka. (5) Tetapi beberapa orang dari golongan Farisi, yang telah menjadi percaya, datang dan berkata: "Orang-orang bukan Yahudi harus disunat dan diwajibkan untuk menuruti hukum Musa."
(6) Maka bersidanglah rasul-rasul dan penatua-penatua untuk membicarakan soal itu. (7) Sesudah beberapa waktu lamanya berlangsung pertukaran pikiran mengenai soal itu, berdirilah Petrus dan berkata kepada mereka: "Hai saudara-saudara, kamu tahu, bahwa telah sejak semula Allah memilih aku dari antara kamu, supaya dengan perantaraan mulutku bangsa-bangsa lain mendengar berita Injil dan menjadi percaya. (8) Dan Allah, yang mengenal hati manusia, telah menyatakan kehendak-Nya untuk menerima mereka, sebab Ia mengaruniakan Roh Kudus juga kepada mereka sama seperti kepada kita, (9) dan Ia sama sekali tidak mengadakan perbedaan antara kita dengan mereka, sesudah Ia menyucikan hati mereka oleh iman. (10) Kalau demikian, mengapa kamu mau mencobai Allah dengan meletakkan pada tengkuk murid-murid itu suatu kuk, yang tidak dapat dipikul, baik oleh nenek moyang kita maupun oleh kita sendiri? (11) Sebaliknya, kita percaya, bahwa oleh kasih karunia Tuhan Yesus Kristus kita akan beroleh keselamatan sama seperti mereka juga."
(12) Maka diamlah seluruh umat itu, lalu mereka mendengarkan Paulus dan Barnabas menceriterakan segala tanda dan mujizat yang dilakukan Allah dengan perantaraan mereka di tengah-tengah bangsa-bangsa lain. (13) Setelah Paulus dan Barnabas selesai berbicara, berkatalah Yakobus: "Hai saudara-saudara, dengarkanlah aku: (14) Simon telah menceriterakan, bahwa sejak semula Allah menunjukkan rahmat-Nya kepada bangsa-bangsa lain, yaitu dengan memilih suatu umat dari antara mereka bagi nama-Nya. (15) Hal itu sesuai dengan ucapan-ucapan para nabi seperti yang tertulis:
(16) Kemudian Aku akan kembali dan membangunkan kembali pondok Daud yang telah roboh, dan reruntuhannya akan Kubangun kembali dan akan Kuteguhkan,
(17) supaya semua orang lain mencari Tuhan dan segala bangsa yang tidak mengenal Allah, yang Kusebut milik-Ku demikianlah firman Tuhan yang melakukan semuanya ini,
(18) yang telah diketahui dari sejak semula. (19) Sebab itu aku berpendapat, bahwa kita tidak boleh menimbulkan kesulitan bagi mereka dari bangsa-bangsa lain yang berbalik kepada Allah, (20) tetapi kita harus menulis surat kepada mereka, supaya mereka menjauhkan diri dari makanan yang telah dicemarkan berhala-berhala, dari percabulan, dari daging binatang yang mati dicekik dan dari darah. (21) Sebab sejak zaman dahulu hukum Musa diberitakan di tiap-tiap kota, dan sampai sekarang hukum itu dibacakan tiap-tiap hari Sabat di rumah-rumah ibadat."

Nats tersebut di atas pada hakekatnya berisi tentang apakah orang yang bukan Yahudi tetapi sudah menerima Tuhan Yesus sebagai juruselamatnya wajib disunat sebagaimana tercantum dalam Imamat 12:3 dan wajib menuruti hukum Taurat yang disampaikan Musa kepada bangsa Israel.

Dalam pidatonya, Petrus mengatakan bahwa bangsa-bangsa lain yang bukan bangsa Yahudi telah mendengar injil dan menjadi percaya dan dikaruniakan Roh Kudus sama seperti bangsa Yahudi. Ini merupakan pengalaman Petrus sendiri ketika Kornelius menjadi percaya atas injil yang disampaikan Petrus dan semua orang yang hadir pada waktu itu dikaruniakan Roh Kudus. Artinya Petrus menegaskan bahwa keselamatan itu bukan hanya milik bangsa Yahudi saja tetapi juga telah menjadi milik seluruh bangsa.

Kesepakatan yang diambil pada sidang itu, adalah bangsa di luar Yahudi tidak wajib untuk disunat dan melakukan hukum Taurat yang telah menjadi adat istiadat Yahudi. Kata Petrus, “mengapa kamu mau mencobai Allah dengan meletakkan pada tengkuk murid-murid itu suatu kuk, yang tidak dapat dipikul, baik oleh nenek moyang kita maupun oleh kita sendiri? Di sini Petrus menegaskan bahwa nenek moyang bangsa Yahudi dan orang Yahudi sendiri tidak mampu mentaati hukum Taurat  itu, apalagi bila hal itu diwajibkan bagi bangsa non Yahudi untuk mentaatinya, bangsa non Yahudi tidak akan mampu mentaatinya. Bila hal itu dipaksakan, maka bangsa non Yahudi akan kesulitan berbalik kepada Allah.

Walaupun demikian, melihat tradisi orang-orang yang non Yahudi pada waktu itu, maka hukum Taurat sebagaimana tercantum dalam kitab Keluaran 34:15-17, dan kitab Imamat 17:10-16, 18:6-23 tetap diberlakukan kepada orang percaya yang bukan berasal dari bangsa Yahudi yaitu: supaya menjauhkan diri dari makanan yang telah dicemarkan berhala-berhala, dari percabulan, dari daging binatang yang mati dicekik dan dari darah. Artinya bahwa makanan yang telah dicemarkan berhala-berhala, daging binatang yang mati dicekik dan darah adalah makanan haram bagi orang percaya. Selain itu agar orang percaya menjauhkan diri dari percabulan.

JAWAB KEPADA ANTIOKHIA


Mengenai Jawab kepada Antiokhia dapat dilihat dalam kitab Kisah Para Rasul 15:22-34 sebagai berikut:

(22) Maka rasul-rasul dan penatua-penatua beserta seluruh jemaat itu mengambil keputusan untuk memilih dari antara mereka beberapa orang yang akan diutus ke Antiokhia bersama-sama dengan Paulus dan Barnabas, yaitu Yudas yang disebut Barsabas dan Silas. Keduanya adalah orang terpandang di antara saudara-saudara itu. (23) Kepada mereka diserahkan surat yang bunyinya: "Salam dari rasul-rasul dan penatua-penatua, dari saudara-saudaramu kepada saudara-saudara di Antiokhia, Siria dan Kilikia yang berasal dari bangsa-bangsa lain. (24) Kami telah mendengar, bahwa ada beberapa orang di antara kami, yang tiada mendapat pesan dari kami, telah menggelisahkan dan menggoyangkan hatimu dengan ajaran mereka. (25) Sebab itu dengan bulat hati kami telah memutuskan untuk memilih dan mengutus beberapa orang kepada kamu bersama-sama dengan Barnabas dan Paulus yang kami kasihi, (26) yaitu dua orang yang telah mempertaruhkan nyawanya karena nama Tuhan kita Yesus Kristus. (27) Maka kami telah mengutus Yudas dan Silas, yang dengan lisan akan menyampaikan pesan yang tertulis ini juga kepada kamu. (28) Sebab adalah keputusan Roh Kudus dan keputusan kami, supaya kepada kamu jangan ditanggungkan lebih banyak beban dari pada yang perlu ini: (29) kamu harus menjauhkan diri dari makanan yang dipersembahkan kepada berhala, dari darah, dari daging binatang yang mati dicekik dan dari percabulan. Jikalau kamu memelihara diri dari hal-hal ini, kamu berbuat baik. Sekianlah, selamat."
(30) Setelah berpamitan, Yudas dan Silas berangkat ke Antiokhia. Di situ mereka memanggil seluruh jemaat berkumpul, lalu menyerahkan surat itu kepada mereka. (31) Setelah membaca surat itu, jemaat bersukacita karena isinya yang menghiburkan. (32) Yudas dan Silas, yang adalah juga nabi, lama menasihati saudara-saudara itu dan menguatkan hati mereka. (33) Dan sesudah beberapa waktu keduanya tinggal di situ, saudara-saudara itu melepas mereka dalam damai untuk kembali kepada mereka yang mengutusnya. (34) (Tetapi Silas memutuskan untuk tinggal di situ.)

Nats di atas merupakan tindaklanjut dari nats sebelumnya dimana hasil keputusan sidang di Yerusalem dituangkan dalam bentuk surat dan disampaikan kepada jemaat di Antiokhia.

SURAT YAKOBUS

Pada umumnya, surat Yakobus menekankan pada perbuatan. Misalnya pada pasal 1:19-26, Yakobus menekankan bahwa tidak ada gunanya mendengar Firman tanpa melakukannya. Bahkan pada ayat 26 jelas dikatakan bahwa “Jikalau ada seorang menganggap dirinya beribadah, tetapi tidak mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri, maka sia-sialah ibadahnya”.

Demikian juga pada pasal 2:8, “Akan tetapi, jikalau kamu menjalankan hukum utama yang tertulis dalam Kitab Suci: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”, kamu berbuat baik”.  Bahkan pada pasal 8:10 Yakobus menegaskan, “Sebab barangsiapa menuruti seluruh hukum itu, tetapi mengabaikan satu bagian daripadanya, ia bersalah terhadap seluruhnya”

Walaupun demikian, bagian yang paling sering dibicarakan dalam surat Yakobus mengenai sikap terhadap Hukum Taurat adalah sebagaimana tertulis dalam kitab Yakobus 2:14-26 tentang “Iman tanpa Perbuatan pada hakekatnya adalah Mati”, sebagai berikut:

(14) Apakah gunanya, saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan, bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan? Dapatkah iman itu menyelamatkan dia? (15) Jika seorang saudara atau saudari tidak mempunyai pakaian dan kekurangan makanan sehari-hari, (16) dan seorang dari antara kamu berkata: "Selamat jalan, kenakanlah kain panas dan makanlah sampai kenyang!", tetapi ia tidak memberikan kepadanya apa yang perlu bagi tubuhnya, apakah gunanya itu? (17) Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati.
(18) Tetapi mungkin ada orang berkata: "Padamu ada iman dan padaku ada perbuatan", aku akan menjawab dia: "Tunjukkanlah kepadaku imanmu itu tanpa perbuatan, dan aku akan menunjukkan kepadamu imanku dari perbuatan-perbuatanku." (19) Engkau percaya, bahwa hanya ada satu Allah saja? Itu baik! Tetapi setan-setanpun juga percaya akan hal itu dan mereka gemetar. (20) Hai manusia yang bebal, maukah engkau mengakui sekarang, bahwa iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong? (21) Bukankah Abraham, bapa kita, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, ketika ia mempersembahkan Ishak, anaknya, di atas mezbah? (22) Kamu lihat, bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna. (23) Dengan jalan demikian genaplah nas yang mengatakan: "Lalu percayalah Abraham kepada Allah, maka Allah memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran." Karena itu Abraham disebut: "Sahabat Allah." (24) Jadi kamu lihat, bahwa manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman. (25) Dan bukankah demikian juga Rahab, pelacur itu, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, ketika ia menyembunyikan orang-orang yang disuruh itu di dalam rumahnya, lalu menolong mereka lolos melalui jalan yang lain? (26) Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati.

Dalam nats di atas, Yakobus menegaskan bahwa “jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati”. Tidak mungkin menunjukkan iman tanpa perbuatan, melainkan iman hanya dapat ditunjukkan melalui perbuatan-perbuatan. Iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong.

Nats berikutnya menjelaskan bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna sehingga manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman. Ibarat tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati.


SURAT-SURAT PETRUS

Pengharapan, Iman dan Kasih

Mengenai ajaran Petrus tentang “Pengharapan, Iman, dan Kasih”, dapat dilihat dalam kitab 1 Petrus 1:3-12, sebagai berikut:

(3) Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan, (4) untuk menerima suatu bagian yang tidak dapat binasa, yang tidak dapat cemar dan yang tidak dapat layu, yang tersimpan di sorga bagi kamu. (5) Yaitu kamu, yang dipelihara dalam kekuatan Allah karena imanmu sementara kamu menantikan keselamatan yang telah tersedia untuk dinyatakan pada zaman akhir. (6) Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan. (7) Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu--yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api--sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya. (8) Sekalipun kamu belum pernah melihat Dia, namun kamu mengasihi-Nya. Kamu percaya kepada Dia, sekalipun kamu sekarang tidak melihat-Nya. Kamu bergembira karena sukacita yang mulia dan yang tidak terkatakan, (9) karena kamu telah mencapai tujuan imanmu, yaitu keselamatan jiwamu. (10) Keselamatan itulah yang diselidiki dan diteliti oleh nabi-nabi, yang telah bernubuat tentang kasih karunia yang diuntukkan bagimu. (11) Dan mereka meneliti saat yang mana dan yang bagaimana yang dimaksudkan oleh Roh Kristus, yang ada di dalam mereka, yaitu Roh yang sebelumnya memberi kesaksian tentang segala penderitaan yang akan menimpa Kristus dan tentang segala kemuliaan yang menyusul sesudah itu. (12) Kepada mereka telah dinyatakan, bahwa mereka bukan melayani diri mereka sendiri, tetapi melayani kamu dengan segala sesuatu yang telah diberitakan sekarang kepada kamu dengan perantaraan mereka, yang oleh Roh Kudus, yang diutus dari sorga, menyampaikan berita Injil kepada kamu, yaitu hal-hal yang ingin diketahui oleh malaikat-malaikat.

Dalam nats di atas Petrus menegaskan bahwa berbagai-bagai pencobaan yang dialami adalah untuk membuktikan kemurnian iman dan tujuan iman adalah keselamatan jiwa.


Melepaskan Diri dari Kecemaran Dunia

Mengenai ajaran Petrus tentang “Melepaskan Diri dari Kecemaran Dunia”, dapat dilihat dalam kitab 2 Petrus 2:20-22, sebagai berikut:

(20) Sebab jika mereka, oleh pengenalan mereka akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus, telah melepaskan diri dari kecemaran-kecemaran dunia, tetapi terlibat lagi di dalamnya, maka akhirnya keadaan mereka lebih buruk dari pada yang semula. (21) Karena itu bagi mereka adalah lebih baik, jika mereka tidak pernah mengenal Jalan Kebenaran dari pada mengenalnya, tetapi kemudian berbalik dari perintah kudus yang disampaikan kepada mereka. (22) Bagi mereka cocok apa yang dikatakan peribahasa yang benar ini: "Anjing kembali lagi ke muntahnya, dan babi yang mandi kembali lagi ke kubangannya."

Nats di atas menegaskan bahwa orang yang telah melepaskan diri dari kecemaran-kecemaran dunia tetapi terlibat lagi di dalamnya, maka keadaan orang itu akan lebih buruk daripada semula.

SURAT-SURAT YOHANES

Iman Mengalahkan Dunia

Mengenai ajaran Yohanes tentang “Iman Mengalahkan Dunia”, dapat dilihat dalam kitab 1 Yohanes 5:1-5, sebagai berikut:

(1) Setiap orang yang percaya, bahwa Yesus adalah Kristus, lahir dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi Dia yang melahirkan, mengasihi juga Dia yang lahir dari pada-Nya. (2) Inilah tandanya, bahwa kita mengasihi anak-anak Allah, yaitu apabila kita mengasihi Allah serta melakukan perintah-perintah-Nya. (3) Sebab inilah kasih kepada Allah, yaitu, bahwa kita menuruti perintah-perintah-Nya. Perintah-perintah-Nya itu tidak berat, (4) sebab semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita. (5) Siapakah yang mengalahkan dunia, selain dari pada dia yang percaya, bahwa Yesus adalah Anak Allah?

Tanda orang yang mengasihi anak-anak Allah adalah mengasihi Allah dan melakukan perintah-perintah Allah. Iman merupakan kemenangan yang mengalahkan dunia.

Dengarkan hal ini: “Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih. Dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan di tengah-tengah kita, yaitu bahwa Allah telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia, supaya kita hidup oleh-Nya. Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita. Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau Allah sedemikian mengasihi kita, maka haruslah kita juga saling mengasihi” (1 Yohanes 4:7-11). “Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita” (1 Yohanes 4:19). Bukan kita yang telah mengasihi Allah – tetapi Allah yang telah mengasihi kita! Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita.


Ajaran Kristus

Mengenai ajaran Yohanes tentang “Ajaran Kristus”, dapat dilihat dalam kitab 2 Yohanes 1:4-11, sebagai berikut:

(4) Aku sangat bersukacita, bahwa aku mendapati, bahwa separuh dari anak-anakmu hidup dalam kebenaran sesuai dengan perintah yang telah kita terima dari Bapa. (5) Dan sekarang aku minta kepadamu, Ibu--bukan seolah-olah aku menuliskan perintah baru bagimu, tetapi menurut perintah yang sudah ada pada kita dari mulanya--supaya kita saling mengasihi. (6) Dan inilah kasih itu, yaitu bahwa kita harus hidup menurut perintah-Nya. Dan inilah perintah itu, yaitu bahwa kamu harus hidup di dalam kasih, sebagaimana telah kamu dengar dari mulanya. (7) Sebab banyak penyesat telah muncul dan pergi ke seluruh dunia, yang tidak mengaku, bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia. Itu adalah si penyesat dan antikristus. (8) Waspadalah, supaya kamu jangan kehilangan apa yang telah kami kerjakan itu, tetapi supaya kamu mendapat upahmu sepenuhnya. (9) Setiap orang yang tidak tinggal di dalam ajaran Kristus, tetapi yang melangkah keluar dari situ, tidak memiliki Allah. Barangsiapa tinggal di dalam ajaran itu, ia memiliki Bapa maupun Anak. (10) Jikalau seorang datang kepadamu dan ia tidak membawa ajaran ini, janganlah kamu menerima dia di dalam rumahmu dan janganlah memberi salam kepadanya. (11) Sebab barangsiapa memberi salam kepadanya, ia mendapat bagian dalam perbuatannya yang jahat.

Ajaran Tuhan Yesus adalah saling mengasihi, dan kasih itu adalah hidup menuruti perintahNya serta perintah itu adalah hidup dalam kasih. Perintah ini yang merupakan sebuah “persyaratan” yang tidak mungkin dilakukan jika dengan kekuatan diri sendiri sebuah “mission impossible”. Tetapi anugerah Allah sangat brilian! Dia sendiri yang menggenapi persyaratan itu di dalam diri manusia dengan mencurahkan kasih-Nya ke dalam hati; Dia memberikan sebuah sifat alami baru saat manusia berpindah dari maut kepada hidup. Sifat alami yang baru ini mengasihi saudara-saudara. Karena itulah persyaratan tersebut digenapi di dalam diri manusia.

Dari uraian di atas, maka jelaslah bahwa murid Tuhan Yesus tidak pernah mengabaikan hukum Taurat. Sidang di Yerusalem menghasilkan kesepakatan bahwa bagi orang percaya yang berasal dari bangsa yang bukan Yahudi agar menjauhkan diri dari makanan haram dan percabulan. Makanan haram itu adalah makanan yang telah dicemarkan berhala-berhala, daging binatang yang mati dicekik dan darah.

Demikian juga surat Yakobus menekankan bahwa oleh perbuatanlah maka iman menjadi sempurna sehingga manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman. Ibarat tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati.

Berbagai-bagai pencobaan yang dialami menurut Petrus adalah untuk membuktikan kemurnian iman dan tujuan iman adalah keselamatan jiwa. Selain itu Petrus mengatakan bahwa orang yang telah melepaskan diri dari kecemaran-kecemaran dunia tetapi terlibat lagi di dalamnya, maka keadaan orang itu akan lebih buruk daripada semula.

Yohanes mengatakan bahwa tanda orang yang mengasihi anak-anak Allah adalah mengasihi Allah dan melakukan perintah-perintah Allah. Iman merupakan kemenangan yang mengalahkan dunia. Yohanes juga mengatakan bahwa ajaran Kristus adalah saling mengasihi, dan kasih itu adalah hidup menuruti perintahNya serta perintah itu adalah hidup dalam kasih.

Dengan demikian, maka dapatlah disimpulkan bahwa murid-murid Tuhan Yesus tetap menekankan arti pentingnya melakukan hukum Taurat walaupun bukan merupakan dasar pembenaran tetapi merupakan “buah” atau “wujud” daripada iman itu sendiri.












BAB IV

AJARAN PAULUS TENTANG HUKUM TAURAT

PENDAHULUAN

Tokoh yang paling berperan besar dalam Pekabaran Injil kepada orang-orang non-Yahudi pada masa jemaat mula-mula adalah Rasul Paulus. Dalam perjalanannya, Paulus tentu saja bertemu dengan berbagai konteks budaya, bahasa, dan pola pikir masyarakat non-Yahudi kala itu sehingga kemungkinan besar teologia Paulus mengenai hukum Taurat banyak dipengaruhi oleh konteks budaya, bahasa dan pola pikir masyarakat non-Yahudi. Hal ini menjadi sangat penting ketika kadang-kadang ada kesan ambivalensi (dualisme) perkataan Paulus mengenai hukum Taurat. Di satu sisi, Paulus berkata-kata mengenai Hukum Taurat secara positif, akan tetapi di sisi yang lain Paulus juga berkata-kata tentang Hukum Taurat secara negatif.

Pemikiran Paulus tentang hukum Taurat sering menimbulkan multitafsir, kadang-kadang ada kesan kontradiktif satu sama lainnya. Misalnya dalam suratnya dalam kitab Roma 2:13, ia mengatakan bahwa mereka yang melakukan hukum Taurat akan dibenarkan, mereka yang melakukan hukum Taurat akan beroleh hidup melalui Taurat (Roma 10:15; Galatia 3:12). Di lain pihak ia mengatakan bahwa tak seorangpun dibenarkan karena hukum Taurat (Roma 3:20), semua orang yang hidup dari pekerjaan hukum Taurat berada di bawah kutuk (Galatia 3:10), manusia akan mengalami kematian oleh hukum Taurat yang tertulis itu (2 Korintus 3:6), Taurat itu tidak dapat menghidupkan (Galatia 3:21). Pernyataan yang berkesan kontradiktif yang lain adalah bahwa ketaatannya kepada hukum Taurat ia tidak bercacat (Filipi 3:6), namun ia juga menyatakan bahwa tak seorang pun yang dapat melakukan Taurat itu secara sempurna (Roma. 8:7). Di satu sisi Paulus berkata-kata positif tentang Hukum Taurat, di sisi yang lain ada kesan bahwa  perkataan Paulus negatif tentang Hukum Taurat.

Hal ini semakin terjadi apabila surat-surat Paulus tersebut diambil secara sepotong-sepotong kemudian menghubungkan satu sama lain. Inilah salah satu dampak negatif dari pengambilan suatu ayat secara sepotong-sepotong kemudian menggabungkannya sehingga memiliki arti gabungan yang kemungkinan sudah lari dari makna yang sebenarnya.

Rasul Petrus sendiri telah memperingatkan mengenai hal ini. “Anggaplah kesabaran Tuhan kita sebagai kesempatan bagimu untuk beroleh selamat, seperti juga Paulus, saudara kita yang kekasih, telah menulis kepadamu menurut hikmat yang dikaruniakan kepadanya. Hal itu dibuatnya dalam semua suratnya, apabila ia berbicara tentang perkara-perkara ini. Dalam surat-suratnya itu ada hal-hal yang sukar difahami, sehingga orang-orang yang tidak memahaminya dan yang tidak teguh imannya, memutarbalikkannya menjadi kebinasaan mereka sendiri, sama seperti yang juga mereka buat dengan tulisan-tulisan yang lain” (2 Petrus 3:15-16).

Oleh sebab itu, sebelum membicarakan Teologia Paulus mengenai hukum Taurat, ada baiknya melihat terlebih dahulu sejarah sehingga mempermudah untuk memahami pola pikir Paulus ketika ia berbicara tentang Hukum Taurat.

Secara umum, perjalanan Paulus dapat dikelompokkan dalam 3 (tiga) bagian, yaitu: Saul sebagai orang Farisi, peristiwa pertobatan Paulus, dan perjalanan Paulus sebagai Rasul.

Peristiwa Saul orang Farisi

Sejak bangsa Israel dibuang ke Babel, banyak sekali orang Israel yang tidak kembali ke tanah air mereka dan tinggal menyebar di luar Israel (Yahudi Diaspora). Keluarga Paulus diketahui merupakan salah satu dari orang Yahudi Diaspora yang bermigrasi ke Asia Kecil dan tinggal di kota Tarsus.

Paulus terlahir dan dididik dalam keluarga Yahudi yang taat dari keturunan suku Benyamin dan termasuk ke dalam golongan Farisi, dengan nama Saul. Tarsus sendiri merupakan sebuah kota yang memiliki sebuah Sekolah Rethorika Yunani yang terkenal, namun Paulus kemungkinan tidak pernah menuntut ilmu di tempat ini sebab ia mendapatkan ilmunya di Yerusalem, kota pusat kehidupan orang Yahudi, di bawah bimbingan Rabi Gamaliel (bnd. Kisah Rasul 22:3). Hal inilah yang membuat Saul sangat akrab dengan budaya Yunani sekaligus juga memahami budayanya sendiri yaitu Yahudi.

Golongan Farisi adalah salah satu “sekte” Yahudi yang sangat menjunjung tinggi Hukum Taurat dan melaksanakannya secara mendetail. Saul dalam sejarah hidupnya di masa itu penuh dengan semangat untuk mengancam bahkan tidak segan untuk membunuh orang Kristen (Kisah Rasul 9:1). Semuanya terjadi karena di masa Saul, orang Yahudi sangat menentang pemahaman Mesias yang menderita, apalagi sampai mati di kayu salib (bnd. Ulangan 21:23).

Pertobatan Paulus

Suatu hal yang tidak dapat disangkal bahwa peristiwa Damaskus merupakan titik balik sejarah hidup Saul orang Farisi sebagai penganiaya orang Kristen. Setelah perjumpaannya yang ajaib dengan Kristus di Damaskus, kini ia menjadi Paulus sang Rasul Kristus.

Peristiwa Damaskus membawa perubahan dalam gaya berpikir Paulus. Pertama, pemikiran Paulus tentang Yesus berubah total. Kedua, pemikirannya tentang Hukum Taurat pun berubah total. Ketiga, pemikirannya tentang keselamatan juga berubah. Keempat, pemikirannya tentang orang-orang percaya pun berubah drastis. Dan pada akhirnya Paulus mempunyai sudut pandang yang baru dalam melihat orang-orang Yunani sehingga ia di sebut sebagai Rasul bagi orang tak bersunat (bnd. Kisah Rasul 26:16-18; 22:21).

Paulus sebagai Rasul
Pada pertama sekali Paulus menjalankan tugasnya sebagai rasul, banyak orang yang takut kepadanya. “Bukankah dia ini yang di Yerusalem mau membinasakan barangsiapa yang memanggil nama Yesus? Bukankah ia datang ke sini untuk menangkap dan membawa mereka ke hadapan imam-imam kepala?” (Kisah Para rasul 9:21), demikianlah ungkapan hati orang di Damsyik yang mendengar kesaksiannya tentang Yesus adalah Mesias. Demikian juga ketika Paulus mencoba menggabungkan diri dengan murid-murid Yesus di Yerusalem, semuanya takut kepadanya karena mereka tidak dapat percaya bahwa Paulus juga seorang murid (Kisah Para Rasul 9:26). Dalam keadaan demikian Barnabaslah yang menerima dia dan menceritakan kepada para murid bagaimana Paulus bertobat.

Karena Paulus bersoal jawab dengan orang Yahudi yang berbahasa Yunani di Yerusalem, maka mereka berusaha untuk membunuh dia. Kenyataan inilah yang membawa Paulus ke Kaisarea yang dibantu oleh anggota jemaat di Yerusalem dan selanjutnya dia menuju Tarsus. Dari Tarsus inilah Barnabas membawa Paulus ke Antiokhia dimana murid-murid untuk pertama kalinya disebut Kristen. Sejak itulah Paulus melanglangbuana memberitakan injil ke Siprus, Pisidia, Ikonium, Listra, Derbe, bahkan sampai ke Roma.

Paulus adalah Rasul yang paling banyak menulis surat yang menjadi kitab Perjanjian Baru. Paulus menulis surat kepada jemaat di Roma, Korintus, Galatia, Efesus, Filipi, Kolose, dan Tesalonika. Selain itu Paulus juga menulis surat kepada Timotius, Titus, Filemon, dan ada sebagian yang mengatakan bahwa surat Ibrani juga merupakan tulisan Paulus. Begitu banyaknya surat-surat Paulus tersebut menyebabkan ajaran Paulus melalui surat-suratnya sangat berpengaruh dalam Teologia Kristen termasuk Teologia Kristen tentang Hukum Taurat.

Ajaran Paulus mengenai hukum Taurat sering dipertentangkan dengan ajaran Tuhan Yesus. Seakan-akan Tuhan Yesus tetap mempertahankan hukum Taurat sementara Paulus mencampakkan hukum Taurat. Pendapat ini terutama mereka yang bukan Kristen, faham Yudaisme, atau pengkaji ilmu perbandingan agama. Oleh sebab itu marilah kita memperhatikan surat-surat Paulus mengenai hukum Taurat itu sendiri.

SURAT KEPADA JEMAAT DI ROMA

Surat Paulus kepada Jemaat di Roma dapatlah dikatakan sebagai bangunan Teologia Paulus mengenai hukum Taurat Surat Paulus kepada jemaat di Roma diawali dengan pernyataan bahwa semua orang telah berdosa dan mendapat hukuman dari Allah. Selanjutnya Paulus berbicara mengenai hukum Taurat dan keselamatan di dalam Kristus dan di bagian akhir kembali Paulus menegaskan bahwa Kasih merupakan kegenapan Hukum Taurat.

Hukuman Allah atas Semua Orang (Roma 2:1-16)

“Sebab semua orang yang berdosa tanpa hukum Taurat akan binasa tanpa hukum Taurat; dan semua orang yang berdosa di bawah hukum Taurat akan dihakimi oleh hukum Taurat. Karena bukanlah orang yang mendengar hukum Taurat yang benar di hadapan Allah, tetapi orang yang melakukan hukum Tauratlah yang akan dibenarkan. Apabila bangsa-bangsa lain yang tidak memiliki hukum Taurat oleh dorongan diri sendiri melakukan apa yang dituntut hukum Taurat, maka, walaupun mereka tidak memiliki hukum Taurat, mereka menjadi hukum Taurat bagi diri mereka sendiri. Sebab dengan itu mereka menunjukkan, bahwa isi hukum Taurat ada tertulis di dalam hati mereka dan suara hati mereka turut bersaksi dan pikiran mereka saling menuduh atau saling membela. Hal itu akan nampak pada hari, bilamana Allah, sesuai dengan Injil yang kuberitakan, akan menghakimi segala sesuatu yang tersembunyi dalam hati manusia, oleh Kristus Yesus”.

Nats di atas menguraikan pendapat Paulus mengenai hukuman Allah bagi semua orang, baik bangsa Yahudi yang diberi hukum Taurat maupun bangsa non Yahudi semuanya akan binasa. Bangsa Yahudi akan binasa karena tidak melakukan hukum Taurat dan bangsa non Yahudi akan binasa karena tidak menuruti ‘hukum taurat’ yang tertulis dalam hati dan suara hatinya. Artinya bahwa pada prinsipnya bangsa non Yahudi, walaupun tidak menerima hukum Taurat tetapi memiliki suara hati untuk melarang sesuatu perbuatan yang ‘salah’ sehingga karena tidak menuruti suara hati itulah makanya bangsa non Yahudi juga akan binasa.


Hukum Taurat dan Sunat tidak Menyelamatkan Orang Yahudi (Roma 2:17-29)

“Tetapi, jika kamu menyebut dirimu orang Yahudi dan bersandar kepada hukum Taurat, bermegah dalam Allah, dan tahu akan kehendak-Nya, dan oleh karena diajar dalam hukum Taurat, dapat tahu mana yang baik dan mana yang tidak, dan yakin, bahwa engkau adalah penuntun orang buta dan terang bagi mereka yang di dalam kegelapan pendidik orang bodoh, dan pengajar orang yang belum dewasa, karena dalam hukum Taurat engkau memiliki kegenapan segala kepandaian dan kebenaran. Jadi, bagaimanakah engkau yang mengajar orang lain, tidakkah engkau mengajar dirimu sendiri? Engkau yang mengajar: "Jangan mencuri," mengapa engkau sendiri mencuri? Engkau yang berkata: "Jangan berzinah," mengapa engkau sendiri berzinah? Engkau yang jijik akan segala berhala, mengapa engkau sendiri merampok rumah berhala? Engkau bermegah atas hukum Taurat, mengapa engkau sendiri menghina Allah dengan melanggar hukum Taurat itu? Seperti ada tertulis: "Sebab oleh karena kamulah nama Allah dihujat di antara bangsa-bangsa lain." Sunat memang ada gunanya, jika engkau mentaati hukum Taurat; tetapi jika engkau melanggar hukum Taurat, maka sunatmu tidak ada lagi gunanya. Jadi jika orang yang tak bersunat memperhatikan tuntutan-tuntutan hukum Taurat, tidakkah ia dianggap sama dengan orang yang telah disunat? Jika demikian, maka orang yang tak bersunat, tetapi yang melakukan hukum Taurat, akan menghakimi kamu yang mempunyai hukum tertulis dan sunat, tetapi yang melanggar hukum Taurat. Sebab yang disebut Yahudi bukanlah orang yang lahiriah Yahudi, dan yang disebut sunat, bukanlah sunat yang dilangsungkan secara lahiriah. Tetapi orang Yahudi sejati ialah dia yang tidak nampak keyahudiannya dan sunat ialah sunat di dalam hati, secara rohani, bukan secara hurufiah. Maka pujian baginya datang bukan dari manusia, melainkan dari Allah”.

Pertanyaan mendasarnya adalah, “mengapa Hukum Taurat dan Sunat tidak menyelamatkan orang Yahudi?” Jawabannya adalah karena orang Yahudi tidak menuruti hukum Taurat dan sunat baru berguna apabila menuruti hukum Taurat. Makna mendasar dari sunat adalah sunat di dalam hati secara rohani. Artinya bahwa membuang hal-hal yang tidak sesuai dengan hukum taurat di dalam hati adalah makna hakiki daripada sunat dan mewujudnyatakan dalam kehidupan sehari-hari adalah perbuatan menuruti hukum Taurat.

Semua Manusia adalah Orang Berdosa (Roma 3:9-20)

“Jadi bagaimana? Adakah kita mempunyai kelebihan dari pada orang lain? Sama sekali tidak. Sebab di atas telah kita tuduh baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, bahwa mereka semua ada di bawah kuasa dosa, seperti ada tertulis: "Tidak ada yang benar, seorangpun tidak. Tidak ada seorangpun yang berakal budi, tidak ada seorangpun yang mencari Allah. Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna, tidak ada yang berbuat baik, seorangpun tidak. Kerongkongan mereka seperti kubur yang ternganga, lidah mereka merayu-rayu, bibir mereka mengandung bisa. Mulut mereka penuh dengan sumpah serapah, kaki mereka cepat untuk menumpahkan darah. Keruntuhan dan kebinasaan mereka tinggalkan di jalan mereka, dan jalan damai tidak mereka kenal; rasa takut kepada Allah tidak ada pada orang itu." Tetapi kita tahu, bahwa segala sesuatu yang tercantum dalam Kitab Taurat ditujukan kepada mereka yang hidup di bawah hukum Taurat, supaya tersumbat setiap mulut dan seluruh dunia jatuh ke bawah hukuman Allah. Sebab tidak seorangpun yang dapat dibenarkan di hadapan Allah oleh karena melakukan hukum Taurat, karena justru oleh hukum Taurat orang mengenal dosa”.

Mengapa semua manusia adalah orang berdosa ? Semua orang tidak ada yang benar. Semua orang telah menyeleweng, tidak ada seorangpun yang berbuat baik sehingga tidak ada seorangpun yang dapat dibenarkan di hadapan Allah karena melakukan hukum Taurat. Fungsi hukum Taurat menjadi hanya seperti cermin yang menunjukkan kesalahan tetapi tidak mampu merubah kesalahan itu menjadi kebaikan.


Manusia Dibenarkan karena Iman (Roma 3:21-31)

Kalau demikian, bagaimanakah manusia dibenarkan ?

“Tetapi sekarang, tanpa hukum Taurat kebenaran Allah telah dinyatakan, seperti yang disaksikan dalam Kitab Taurat dan Kitab-kitab para nabi, yaitu kebenaran Allah karena iman dalam Yesus Kristus bagi semua orang yang percaya. Sebab tidak ada perbedaan. Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus. Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darah-Nya. Hal ini dibuat-Nya untuk menunjukkan keadilan-Nya, karena Ia telah membiarkan dosa-dosa yang telah terjadi dahulu pada masa kesabaran-Nya. Maksud-Nya ialah untuk menunjukkan keadilan-Nya pada masa ini, supaya nyata, bahwa Ia benar dan juga membenarkan orang yang percaya kepada Yesus. Jika demikian, apakah dasarnya untuk bermegah? Tidak ada! Berdasarkan apa? Berdasarkan perbuatan? Tidak, melainkan berdasarkan iman! Karena kami yakin, bahwa manusia dibenarkan karena iman, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat. Atau adakah Allah hanya Allah orang Yahudi saja? Bukankah Ia juga adalah Allah bangsa-bangsa lain? Ya, benar. Ia juga adalah Allah bangsa-bangsa lain! Artinya, kalau ada satu Allah, yang akan membenarkan baik orang-orang bersunat karena iman, maupun orang-orang tak bersunat juga karena iman. Jika demikian, adakah kami membatalkan hukum Taurat karena iman? Sama sekali tidak! Sebaliknya, kami meneguhkannya”.

Dari nats tersebut di atas, secara tegas Paulus mengatakan bahwa tanpa hukum Taurat kebenaran Allah telah dinyatakan yaitu kebenaran Allah karena iman dalam Yesus Kristus bagi semua orang yang percaya. Karena semua manusia telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia Allah manusia telah dibenarkan secara cuma-cuma. Oleh sebab itu tidak ada alasan manusia untuk bermegah. Pembenaran manusia di hadapan Allah bukan karena usaha manusia, bukan pula karena perbuatan, bukan pula karena melakukan hukum Taurat tetapi semata-mata berdasarkan iman.

Dalam hal ini Paulus menegaskan bahwa ia sama sekali tidak membatalkan hukum Taurat tetapi justru ia meneguhkannya.

Abraham Dibenarkan karena Iman (Roma 4:1-25)

“Jadi apakah akan kita katakan tentang Abraham, bapa leluhur jasmani kita? Sebab jikalau Abraham dibenarkan karena perbuatannya, maka ia beroleh dasar untuk bermegah, tetapi tidak di hadapan Allah. Sebab apakah dikatakan nas Kitab Suci? "Lalu percayalah Abraham kepada Tuhan, dan Tuhan memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran." Kalau ada orang yang bekerja, upahnya tidak diperhitungkan sebagai hadiah, tetapi sebagai haknya. Tetapi kalau ada orang yang tidak bekerja, namun percaya kepada Dia yang membenarkan orang durhaka, imannya diperhitungkan menjadi kebenaran. Seperti juga Daud menyebut berbahagia orang yang dibenarkan Allah bukan berdasarkan perbuatannya: Berbahagialah orang yang diampuni pelanggaran-pelanggarannya, dan yang ditutupi dosa-dosanya; berbahagialah manusia yang kesalahannya tidak diperhitungkan Tuhan kepadanya." Adakah ucapan bahagia ini hanya berlaku bagi orang bersunat saja atau juga bagi orang tak bersunat? Sebab telah kami katakan, bahwa kepada Abraham iman diperhitungkan sebagai kebenaran. Dalam keadaan manakah hal itu diperhitungkan? Sebelum atau sesudah ia disunat? Bukan sesudah disunat, tetapi sebelumnya. Dan tanda sunat itu diterimanya sebagai meterai kebenaran berdasarkan iman yang ditunjukkannya, sebelum ia bersunat. Demikianlah ia dapat menjadi bapa semua orang percaya yang tak bersunat, supaya kebenaran diperhitungkan kepada mereka, dan juga menjadi bapa orang-orang bersunat, yaitu mereka yang bukan hanya bersunat, tetapi juga mengikuti jejak iman Abraham, bapa leluhur kita, pada masa ia belum disunat. Sebab bukan karena hukum Taurat telah diberikan janji kepada Abraham dan keturunannya, bahwa ia akan memiliki dunia, tetapi karena kebenaran, berdasarkan iman. Sebab jika mereka yang mengharapkannya dari hukum Taurat, menerima bagian yang dijanjikan Allah, maka sia-sialah iman dan batallah janji itu. Karena hukum Taurat membangkitkan murka, tetapi di mana tidak ada hukum Taurat, di situ tidak ada juga pelanggaran. Karena itulah kebenaran berdasarkan iman supaya merupakan kasih karunia, sehingga janji itu berlaku bagi semua keturunan Abraham, bukan hanya bagi mereka yang hidup dari hukum Taurat, tetapi juga bagi mereka yang hidup dari iman Abraham. Sebab Abraham adalah bapa kita semua, -- seperti ada tertulis: "Engkau telah Kutetapkan menjadi bapa banyak bangsa" --di hadapan Allah yang kepada-Nya ia percaya, yaitu Allah yang menghidupkan orang mati dan yang menjadikan dengan firman-Nya apa yang tidak ada menjadi ada. Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya, bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa, menurut yang telah difirmankan: "Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu." Imannya tidak menjadi lemah, walaupun ia mengetahui, bahwa tubuhnya sudah sangat lemah, karena usianya telah kira-kira seratus tahun, dan bahwa rahim Sara telah tertutup. Tetapi terhadap janji Allah ia tidak bimbang karena ketidakpercayaan, malah ia diperkuat dalam imannya dan ia memuliakan Allah, dengan penuh keyakinan, bahwa Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan Karena itu hal ini diperhitungkan kepadanya sebagai kebenaran. Kata-kata ini, yaitu "hal ini diperhitungkan kepadanya," tidak ditulis untuk Abraham saja, tetapi ditulis juga untuk kita; sebab kepada kitapun Allah memperhitungkannya, karena kita percaya kepada Dia, yang telah membangkitkan Yesus, Tuhan kita, dari antara orang mati, yaitu Yesus, yang telah diserahkan karena pelanggaran kita dan dibangkitkan karena pembenaran kita.”

Demikian juga dalam nats di atas, Paulus menegaskan bahwa Abraham dibenarkan karena iman. "Lalu percayalah Abraham kepada Tuhan, dan Tuhan memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran." Untuk manusia saat ini, percaya kepada Dia, yang telah membangkitkan Yesus, Tuhan kita, dari antara orang mati, yaitu Yesus, yang telah diserahkan karena pelanggaran kita dan dibangkitkan karena pembenaran kita akan diperhitungkan sebagai kebenaran.

Hasil Pembenaran (Roma 5:1-11)

“Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus. Oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia ini. Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah. Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita. Karena waktu kita masih lemah, Kristus telah mati untuk kita orang-orang durhaka pada waktu yang ditentukan oleh Allah. Sebab tidak mudah seorang mau mati untuk orang yang benar--tetapi mungkin untuk orang yang baik ada orang yang berani mati--. Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.  Lebih-lebih, karena kita sekarang telah dibenarkan oleh darah-Nya, kita pasti akan diselamatkan dari murka Allah. Sebab jikalau kita, ketika masih seteru, diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Anak-Nya, lebih-lebih kita, yang sekarang telah diperdamaikan, pasti akan diselamatkan oleh hidup-Nya! Dan bukan hanya itu saja! Kita malah bermegah dalam Allah oleh Yesus Kristus, Tuhan kita, sebab oleh Dia kita telah menerima pendamaian itu”.

Hasil pembenaran adalah hidup yang kekal. Hasil pembenaran adalah hidup damai sejahtera dengan Allah. Hasil pembenaran adalah beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia. Hasil pembenaran adalah menerima kemuliaan Allah. Bahkan hasil pembenaran bermegah dalam kesengsaraan yang menuntut ketekunan sehingga tahan uji serta melahirkan pengharapan.

Arti Hukum Taurat (Roma 7:1-12)

“Apakah kamu tidak tahu, saudara-saudara, --sebab aku berbicara kepada mereka yang mengetahui hukum--bahwa hukum berkuasa atas seseorang selama orang itu hidup? Sebab seorang isteri terikat oleh hukum kepada suaminya selama suaminya itu hidup. Akan tetapi apabila suaminya itu mati, bebaslah ia dari hukum yang mengikatnya kepada suaminya itu. Jadi selama suaminya hidup ia dianggap berzinah, kalau ia menjadi isteri laki-laki lain; tetapi jika suaminya telah mati, ia bebas dari hukum, sehingga ia bukanlah berzinah, kalau ia menjadi isteri laki-laki lain. Sebab itu, saudara-saudaraku, kamu juga telah mati bagi hukum Taurat oleh tubuh Kristus, supaya kamu menjadi milik orang lain, yaitu milik Dia, yang telah dibangkitkan dari antara orang mati, agar kita berbuah bagi Allah. Sebab waktu kita masih hidup di dalam daging, hawa nafsu dosa, yang dirangsang oleh hukum Taurat, bekerja dalam anggota-anggota tubuh kita, agar kita berbuah bagi maut. Tetapi sekarang kita telah dibebaskan dari hukum Taurat, sebab kita telah mati bagi dia, yang mengurung kita, sehingga kita sekarang melayani dalam keadaan baru menurut Roh dan bukan dalam keadaan lama menurut huruf hukum Taurat. Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Apakah hukum Taurat itu dosa? Sekali-kali tidak! Sebaliknya, justru oleh hukum Taurat aku telah mengenal dosa. Karena aku juga tidak tahu apa itu keinginan, kalau hukum Taurat tidak mengatakan: "Jangan mengingini!" Tetapi dalam perintah itu dosa mendapat kesempatan untuk membangkitkan di dalam diriku rupa-rupa keinginan; sebab tanpa hukum Taurat dosa mati. Dahulu aku hidup tanpa hukum Taurat. Akan tetapi sesudah datang perintah itu, dosa mulai hidup, sebaliknya aku mati. Dan perintah yang seharusnya membawa kepada hidup, ternyata bagiku justru membawa kepada kematian. Sebab dalam perintah itu, dosa mendapat kesempatan untuk menipu aku dan oleh perintah itu ia membunuh aku. Jadi hukum Taurat adalah kudus, dan perintah itu juga adalah kudus, benar dan baik”.

Jika demikian, lalu apa arti hukum Taurat? Melalui hukum Taurat manusia mengetahui dan menyadari bahwa ia seorang yang berdosa. Karena dosanya itulah manusia telah mati. Lalu manusia telah mati bagi hukum Taurat oleh tubuh Kristus supaya menjadi milik Kristus yang telah dibangkitkan dari antara orang mati agar manusia itu berbuah di hadapan Allah. Manusia telah mati bagi hukum Taurat yang mengurungnya, sehingga sekarang melayani dalam keadaan baru menurut Roh dan bukan dalam keadaan lama menurut huruf hukum Taurat.

Dalam hal ini Paulus menegaskan bahwa Hukum Taurat adalah kudus dan perintah Tuhan juga adalah kudus, benar dan baik.

Perjuangan Hukum Taurat dan Dosa (Roma 7:13-26)

“Jika demikian, adakah yang baik itu menjadi kematian bagiku? Sekali-kali tidak! Tetapi supaya nyata, bahwa ia adalah dosa, maka dosa mempergunakan yang baik untuk mendatangkan kematian bagiku, supaya oleh perintah itu dosa lebih nyata lagi keadaannya sebagai dosa. Sebab kita tahu, bahwa hukum Taurat adalah rohani, tetapi aku bersifat daging, terjual di bawah kuasa dosa. Sebab apa yang aku perbuat, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat. Jadi jika aku perbuat apa yang tidak aku kehendaki, aku menyetujui, bahwa hukum Taurat itu baik. Kalau demikian bukan aku lagi yang memperbuatnya, tetapi dosa yang ada di dalam aku. Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik. Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat. Jadi jika aku berbuat apa yang tidak aku kehendaki, maka bukan lagi aku yang memperbuatnya, tetapi dosa yang diam di dalam aku. Demikianlah aku dapati hukum ini: jika aku menghendaki berbuat apa yang baik, yang jahat itu ada padaku. Sebab di dalam batinku aku suka akan hukum Allah, tetapi di dalam anggota-anggota tubuhku aku melihat hukum lain yang berjuang melawan hukum akal budiku dan membuat aku menjadi tawanan hukum dosa yang ada di dalam anggota-anggota tubuhku. Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini? Syukur kepada Allah! oleh Yesus Kristus, Tuhan kita. Jadi dengan akal budiku aku melayani hukum Allah, tetapi dengan tubuh insaniku aku melayani hukum dosa”.

Nats di atas menjelaskan bahwa hukum Taurat sebagai sesuatu yang baik berperan dalam menyatakan dosa. Hukum Taurat adalah rohani, tetapi manusia bersifat daging terjual di bawah kuasa dosa. Kehendak yang ada dalam diri manusia pada hakekatnya adalah untuk berbuat baik. Walaupun manusia menghendaki berbuat baik tetapi yang diperbuat adalah yang jahat. Sehingga perbuatan yang jahat bukanlah yang dikehendaki manusia tetapi dosa yang ada di dalam diri manusia itulah yang memperbuatnya. Di dalam hati manusia pada dasarnya suka akan hukum Allah tetapi di dalam anggota-anggota tubuhnya ada hukum lain yang berjuang melawan hukum akal budi dan membuatnya menjadi tawanan dosa. Jadi dengan akal budi manusia melayani hukum Allah, tetapi dengan tubuh manusiawinya manusia melayani hukum dosa.

Keselamatan Bangsa-bangsa Lain dan Kesesatan Orang Israel (Roma 9:30-10:3)

“Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Ini: bahwa bangsa-bangsa lain yang tidak mengejar kebenaran, telah beroleh kebenaran, yaitu kebenaran karena iman. Tetapi: bahwa Israel, sungguhpun mengejar hukum yang akan mendatangkan kebenaran, tidaklah sampai kepada hukum itu.  Mengapa tidak? Karena Israel mengejarnya bukan karena iman, tetapi karena perbuatan. Mereka tersandung pada batu sandungan, seperti ada tertulis: "Sesungguhnya, Aku meletakkan di Sion sebuah batu sentuhan dan sebuah batu sandungan, dan siapa yang percaya kepada-Nya, tidak akan dipermalukan." Saudara-saudara, keinginan hatiku dan doaku kepada Tuhan ialah, supaya mereka diselamatkan. Sebab aku dapat memberi kesaksian tentang mereka, bahwa mereka sungguh-sungguh giat untuk Allah, tetapi tanpa pengertian yang benar. Sebab, oleh karena mereka tidak mengenal kebenaran Allah dan oleh karena mereka berusaha untuk mendirikan kebenaran mereka sendiri, maka mereka tidak takluk kepada kebenaran Allah.”

Nats di atas menjelaskan bahwa keselamatan bangsa-bangsa non Yahudi yang tidak mengejar kebenaran melalui hukum Taurat telah beroleh kebenaran yaitu kebenaran karena iman. Sedangkan bangsa Israel sesat karena walaupun mengejar hukum Taurat yang mendatangkan kebenaran tetapi mereka sendiri tidak sampai kepada hukum Taurat sehingga mereka tidak dapat meraih kebenaran. Tidak sampainya mereka kepada hukum Taurat karena bangsa Israel mengejar hukum Taurat karena perbuatan dan bukan karena iman.

Kebenaran karena Iman (Roma 10:4-15)

“Sebab Kristus adalah kegenapan hukum Taurat, sehingga kebenaran diperoleh tiap-tiap orang yang percaya. Sebab Musa menulis tentang kebenaran karena hukum Taurat: "Orang yang melakukannya, akan hidup karenanya." Tetapi kebenaran karena iman berkata demikian: "Jangan katakan di dalam hatimu: Siapakah akan naik ke sorga?", yaitu: untuk membawa Yesus turun, atau: "Siapakah akan turun ke jurang maut?", yaitu: untuk membawa Kristus naik dari antara orang mati. Tetapi apakah katanya? Ini: "Firman itu dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu." Itulah firman iman, yang kami beritakan. Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan. Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan. Karena Kitab Suci berkata: "Barangsiapa yang percaya kepada Dia, tidak akan dipermalukan." Sebab tidak ada perbedaan antara orang Yahudi dan orang Yunani. Karena, Allah yang satu itu adalah Tuhan dari semua orang, kaya bagi semua orang yang berseru kepada-Nya. Sebab, barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan. Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya? Dan bagaimana mereka dapat memberitakan-Nya, jika mereka tidak diutus? Seperti ada tertulis: "Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik!"

Ada perbedaan antara kebenaran hukum Taurat dengan kebenaran karena iman. Kebenaran hukum Taurat adalah orang yang melakukan hukum Taurat akan hidup karena hukum Taurat, tetapi kebenaran karena iman adalah Firman itu dekat dengan diri manusia yakni di dalam mulut dan di dalam hati.

Kebenaran iman adalah: barangsiapa yang mengaku dengan mulutnya, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatinya, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, akan diselamatkan. Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan.

Barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan. Orang yang berseru kepada nama Tuhan adalah orang yang percaya kepada Dia. Orang yang percaya kepada Dia adalah orang yang mendengar tentang Dia. Orang mendengar tentang Dia karena ada yang memberitakanNya. Orang yang memberitakanNya adalah orang yang diutus.

Kasih adalah Kegenapan Hukum Taurat (Roma 13:8-14)

“Janganlah kamu berhutang apa-apa kepada siapapun juga, tetapi hendaklah kamu saling mengasihi. Sebab barangsiapa mengasihi sesamanya manusia, ia sudah memenuhi hukum Taurat. Karena firman: jangan berzinah, jangan membunuh, jangan mencuri, jangan mengingini dan firman lain manapun juga, sudah tersimpul dalam firman ini, yaitu: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri! Kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia, karena itu kasih adalah kegenapan hukum Taurat. Hal ini harus kamu lakukan, karena kamu mengetahui keadaan waktu sekarang, yaitu bahwa saatnya telah tiba bagi kamu untuk bangun dari tidur. Sebab sekarang keselamatan sudah lebih dekat bagi kita dari pada waktu kita menjadi percaya. Hari sudah jauh malam, telah hampir siang. Sebab itu marilah kita menanggalkan perbuatan-perbuatan kegelapan dan mengenakan perlengkapan senjata terang! Marilah kita hidup dengan sopan, seperti pada siang hari, jangan dalam pesta pora dan kemabukan, jangan dalam percabulan dan hawa nafsu, jangan dalam perselisihan dan iri hati. Tetapi kenakanlah Tuhan Yesus Kristus sebagai perlengkapan senjata terang dan janganlah merawat tubuhmu untuk memuaskan keinginannya.”

Dalam bagian ini, Paulus kembali menegaskan bahwa Kasih merupakan kegenapan hukum Taurat. “Janganlah kamu berhutang apa-apa kepada siapa pun juga, tetapi hendaklah kamu saling mengasihi. Sebab barangsiapa mengasihi sesamanya manusia, ia sudah memenuhi hukum Taurat. Karena firman: jangan berzinah, jangan membunuh, jangan mencuri, jangan mengingini dan firman lain mana pun juga, sudah tersimpul dalam firman ini, yaitu: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri! Kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia, karena itu kasih adalah kegenapan hukum Taurat”. Orang yang mengasihi tidak melakukan perzinahan. Orang yang mengasihi tidak berdusta. Orang yang mengasihi tidak membunuh. Orang yang mengasihi telah memenuhi hukum Taurat.

Berdasarkan surat-surat Paulus kepada jemaat di Roma sebagaimana diuraikan di atas, maka dapatlah dibuat suatu konstruksi Teologia Paulus mengenai hukum Taurat sebagai berikut:

Hukuman Allah bagi semua orang adalah bahwa baik bangsa Yahudi yang diberi hukum Taurat maupun bangsa non Yahudi semuanya akan binasa.
Hukum Taurat dan sunat tidak menyelamatkan orang Yahudi karena orang Yahudi tidak menuruti hukum Taurat dan sunat baru berguna apabila menuruti hukum Taurat.
Semua manusia adalah orang berdosa sehingga tidak ada seorangpun yang dapat dibenarkan di hadapan Allah karena melakukan hukum Taurat.
Tanpa hukum Taurat kebenaran Allah telah dinyatakan yaitu kebenaran Allah karena iman dalam Yesus Kristus bagi semua orang yang percaya. Pembenaran manusia di hadapan Allah bukan karena usaha manusia, bukan pula karena perbuatan, bukan pula karena melakukan hukum Taurat tetapi semata-mata berdasarkan iman.
Paulus sama sekali tidak membatalkan hukum Taurat tetapi justru meneguhkannya.
Abraham dibenarkan karena iman. Manusia dibenarkan apabila percaya kepada Dia, yang telah membangkitkan Yesus, Tuhan kita, dari antara orang mati, yaitu Yesus, yang telah diserahkan karena pelanggaran kita dan dibangkitkan.
Hasil pembenaran adalah hidup yang kekal, hidup damai sejahtera dengan Allah, beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia, menerima kemuliaan Allah, bahkan bermegah dalam kesengsaraan yang bermuara pada lahirnya pengharapan.
Melalui hukum Taurat manusia mengetahui dan menyadari bahwa ia seorang yang berdosa. Manusia telah mati bagi hukum Taurat oleh tubuh Kristus supaya menjadi milik Kristus yang telah dibangkitkan dari antara orang mati agar manusia itu berbuah di hadapan Allah.
Hukum Taurat adalah kudus dan perintah Tuhan juga adalah kudus, benar dan baik.
Hukum Taurat berperan dalam menyatakan dosa. Akal budi manusia melayani hukum Allah, tetapi dengan tubuh manusiawinya manusia melayani hukum dosa.
Keselamatan bangsa-bangsa non Yahudi adalah memperoleh kebenaran karena iman, sedangka bangsa Israel sesat karena walaupun mengejar hukum Taurat yang mendatangkan kebenaran tetapi mereka sendiri tidak sampai kepada hukum Taurat karena bangsa Israel mengejar hukum Taurat karena perbuatan dan bukan karena iman.
Kebenaran iman ialah barangsiapa yang mengaku dengan mulutnya, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatinya, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, akan diselamatkan. Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan.
Kasih merupakan kegenapan hukum Taurat. Kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia sehingga kasih adalah kegenapan hukum Taurat.


SURAT KEPADA JEMAAT DI KORINTUS

Taurat Bukan berasal dari Pikiran Manusia (I Korintus 9:8)

“Apa yang kukatakan ini bukanlah hanya pikiran manusia saja. Bukankah hukum Taurat juga berkata-kata demikian?”

Dalam nats di atas, Paulus secara tegas mengatakan bahwa hukum Taurat bukan berasal dari pikiran manusia.

Hukum Taurat berlaku juga dalam Pertemuan Jemaat (I Korintus 14:34)

“Sama seperti dalam semua Jemaat orang-orang kudus, perempuan-perempuan harus berdiam diri dalam pertemuan-pertemuan Jemaat. Sebab mereka tidak diperbolehkan untuk berbicara. Mereka harus menundukkan diri, seperti yang dikatakan juga oleh hukum Taurat”.

Nats di atas merupakan salah satu indikator bahwa ajaran Paulus tidak bertentangan dengan hukum Taurat.

SURAT KEPADA JEMAAT DI GALATIA

Hal yang Utama (Galatia 2:15-21)

“Menurut kelahiran kami adalah orang Yahudi dan bukan orang berdosa dari bangsa-bangsa lain. Kamu tahu, bahwa tidak seorangpun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya oleh karena iman dalam Kristus Yesus. Sebab itu kamipun telah percaya kepada Kristus Yesus, supaya kami dibenarkan oleh karena iman dalam Kristus dan bukan oleh karena melakukan hukum Taurat. Sebab: "tidak ada seorangpun yang dibenarkan" oleh karena melakukan hukum Taurat. Tetapi jika kami sendiri, sementara kami berusaha untuk dibenarkan dalam Kristus ternyata adalah orang-orang berdosa, apakah hal itu berarti, bahwa Kristus adalah pelayan dosa? Sekali-kali tidak. Karena, jikalau aku membangun kembali apa yang telah kurombak, aku menyatakan diriku sebagai pelanggar hukum Taurat. Sebab aku telah mati oleh hukum Taurat untuk hukum Taurat, supaya aku hidup untuk Allah. Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku. Aku tidak menolak kasih karunia Allah. Sebab sekiranya ada kebenaran oleh hukum Taurat, maka sia-sialah kematian Kristus”.

Nats di atas menegaskan bahwa tidak seorangpun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya oleh karena iman dalam Yesus Kristus. Paulus sendiri menyatakan bahwa ia telah mati oleh hukum Taurat untuk hukum Taurat, supaya ia hidup untuk Allah. Selain itu Paulus menyatakan bahwa ia tidak menolak kasih karunia Allah. Sebab sekiranya ada kebenaran oleh hukum Taurat, maka sia-sialah kematian Kristus.

Dibenarkan oleh karena Iman (Galatia 3:1-14)

“Hai orang-orang Galatia yang bodoh, siapakah yang telah mempesona kamu? Bukankah Yesus Kristus yang disalibkan itu telah dilukiskan dengan terang di depanmu? Hanya ini yang hendak kuketahui dari pada kamu: Adakah kamu telah menerima Roh karena melakukan hukum Taurat atau karena percaya kepada pemberitaan Injil? Adakah kamu sebodoh itu? Kamu telah mulai dengan Roh, maukah kamu sekarang mengakhirinya di dalam daging? Sia-siakah semua yang telah kamu alami sebanyak itu? Masakan sia-sia! Jadi bagaimana sekarang, apakah Ia yang menganugerahkan Roh kepada kamu dengan berlimpah-limpah dan yang melakukan mujizat di antara kamu, berbuat demikian karena kamu melakukan hukum Taurat atau karena kamu percaya kepada pemberitaan Injil? Secara itu jugalah Abraham percaya kepada Allah, maka Allah memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.  Jadi kamu lihat, bahwa mereka yang hidup dari iman, mereka itulah anak-anak Abraham. Dan Kitab Suci, yang sebelumnya mengetahui, bahwa Allah membenarkan orang-orang bukan Yahudi oleh karena iman, telah terlebih dahulu memberitakan Injil kepada Abraham: "Olehmu segala bangsa akan diberkati."  Jadi mereka yang hidup dari iman, merekalah yang diberkati bersama-sama dengan Abraham yang beriman itu. Karena semua orang, yang hidup dari pekerjaan hukum Taurat, berada di bawah kutuk. Sebab ada tertulis: "Terkutuklah orang yang tidak setia melakukan segala sesuatu yang tertulis dalam kitab hukum Taurat." Dan bahwa tidak ada orang yang dibenarkan di hadapan Allah karena melakukan hukum Taurat adalah jelas, karena: "Orang yang benar akan hidup oleh iman." Tetapi dasar hukum Taurat bukanlah iman, melainkan siapa yang melakukannya, akan hidup karenanya. Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: "Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!" Yesus Kristus telah membuat ini, supaya di dalam Dia berkat Abraham sampai kepada bangsa-bangsa lain, sehingga oleh iman kita menerima Roh yang telah dijanjikan itu”.

Nats di atas menegaskan bahwa jemaat Galatia menerima Roh bukan karena hukum Taurat tetapi karena percaya kepada pemberitaan injil. Hal ini sejalan dengan pernyataan Paulus selanjutnya bahwa tidak ada orang yang dibenarkan di hadapan Allah karena melakukan hukum Taurat, karena: "Orang yang benar akan hidup oleh iman."

Paulus juga menegaskan bahwa dasar hukum Taurat bukanlah iman, melainkan siapa yang melakukannya, akan hidup karenanya. Kristus telah menebus orang yang percaya dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena manusia, sebab ada tertulis: "Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!". Menebus orang percaya dari kutuk hukum Taurat tidaklah sama maknanya dengan Menebus orang percaya dari hukum Taurat. Yang dilakukan Tuhan Yesus adalah menebus dari “kutuk” karena tidak seorangpun yang mampu mentaati hukum Taurat secara penuh sehingga semua manusia berada di bawah hukum Taurat.

Hukum Taurat atau Janji (Galatia 3:15-29)

“Saudara-saudara, baiklah kupergunakan suatu contoh dari hidup sehari-hari. Suatu wasiat yang telah disahkan, sekalipun ia dari manusia, tidak dapat dibatalkan atau ditambahi oleh seorangpun.  Adapun kepada Abraham diucapkan segala janji itu dan kepada keturunannya. Tidak dikatakan "kepada keturunan-keturunannya" seolah-olah dimaksud banyak orang, tetapi hanya satu orang: "dan kepada keturunanmu", yaitu Kristus. Maksudku ialah: Janji yang sebelumnya telah disahkan Allah, tidak dapat dibatalkan oleh hukum Taurat, yang baru terbit empat ratus tiga puluh tahun kemudian, sehingga janji itu hilang kekuatannya. Sebab, jikalau apa yang ditentukan Allah berasal dari hukum Taurat, ia tidak berasal dari janji; tetapi justru oleh janjilah Allah telah menganugerahkan kasih karunia-Nya kepada Abraham.  Kalau demikian, apakah maksudnya hukum Taurat? Ia ditambahkan oleh karena pelanggaran-pelanggaran--sampai datang keturunan yang dimaksud oleh janji itu--dan ia disampaikan dengan perantaraan malaikat-malaikat ke dalam tangan seorang pengantara. Seorang pengantara bukan hanya mewakili satu orang saja, sedangkan Allah adalah satu. Kalau demikian, bertentangankah hukum Taurat dengan janji-janji Allah? Sekali-kali tidak. Sebab andaikata hukum Taurat diberikan sebagai sesuatu yang dapat menghidupkan, maka memang kebenaran berasal dari hukum Taurat. Tetapi Kitab Suci telah mengurung segala sesuatu di bawah kekuasaan dosa, supaya oleh karena iman dalam Yesus Kristus janji itu diberikan kepada mereka yang percaya. Sebelum iman itu datang kita berada di bawah pengawalan hukum Taurat, dan dikurung sampai iman itu telah dinyatakan. Jadi hukum Taurat adalah penuntun bagi kita sampai Kristus datang, supaya kita dibenarkan karena iman. Sekarang iman itu telah datang, karena itu kita tidak berada lagi di bawah pengawasan penuntun. Sebab kamu semua adalah anak-anak Allah karena iman di dalam Yesus Kristus. Karena kamu semua, yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus. Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus. Dan jikalau kamu adalah milik Kristus, maka kamu juga adalah keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah”.

Nats di atas secara kronologis Paulus menjelaskan mengenai janji Allah kepada Abraham dengan hukum Taurat. Yang dimaksud janji Allah kepada Abraham “kepada keturunanmu” adalah Yesus Kristus. Janji Allah ini jauh lebih duluan daripada hukum Taurat sehingga hukum Taurat tidak dapat membatalkan janji Allah kepada Abraham.

Lalu, apa peranan hukum Taurat menurut Paulus dalam suratnya ini ? Hukum Taurat merupakan tambahan terhadap “janji Allah dengan Abraham” yaitu Yesus Kristus sendiri. Hukum Taurat diberikan karena pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh orang Yahudi.

Menurut Paulus Kristus sebagai “janji Allah dengan Abraham” tidak bertentangan dengan hukum Taurat. Sebab hukum Taurat diberikan bukan sebagai sesuatu yang dapat menghidupkan, sehingga pembenaran bukan berasal dari hukum Taurat. Hukum Taurat  merupakan pengawal manusia yang telah dikurung di bawah kekuasaan dosa, supaya oleh karena iman dalam Yesus Kristus janji itu diberikan kepada mereka yang percaya.


Penerimaan menjadi Anak (Galatia 4:4-5)

“Tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat. Ia diutus untuk menebus mereka, yang takluk kepada hukum Taurat, supaya kita diterima menjadi anak”.

Paulus mengingatkan bahwa Tuhan Yesus Kristus lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat. Tuhan Yesus Kristus diutus untuk menebus orang percaya sehingga tidak lagi berada di bawah kutukan hukum Taurat tetapi diterima menjadi anak dalam kerajaan Sorga.

Kemerdekaan Kristen (Galatia 5:1-15)

“Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan.  Sesungguhnya, aku, Paulus, berkata kepadamu: jikalau kamu menyunatkan dirimu, Kristus sama sekali tidak akan berguna bagimu. Sekali lagi aku katakan kepada setiap orang yang menyunatkan dirinya, bahwa ia wajib melakukan seluruh hukum Taurat. Kamu lepas dari Kristus, jikalau kamu mengharapkan kebenaran oleh hukum Taurat; kamu hidup di luar kasih karunia. Sebab oleh Roh, dan karena iman, kita menantikan kebenaran yang kita harapkan. Sebab bagi orang-orang yang ada di dalam Kristus Yesus hal bersunat atau tidak bersunat tidak mempunyai sesuatu arti, hanya iman yang bekerja oleh kasih. Dahulu kamu berlomba dengan baik. Siapakah yang menghalang-halangi kamu, sehingga kamu tidak menuruti kebenaran lagi? Ajakan untuk tidak menurutinya lagi bukan datang dari Dia, yang memanggil kamu. Sedikit ragi sudah mengkhamirkan seluruh adonan. Dalam Tuhan aku yakin tentang kamu, bahwa kamu tidak mempunyai pendirian lain dari pada pendirian ini. Tetapi barangsiapa yang mengacaukan kamu, ia akan menanggung hukumannya, siapapun juga dia. Dan lagi aku ini, saudara-saudara, jikalau aku masih memberitakan sunat, mengapakah aku masih dianiaya juga? Sebab kalau demikian, salib bukan batu sandungan lagi. Baiklah mereka yang menghasut kamu itu mengebirikan saja dirinya! Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih. Sebab seluruh hukum Taurat tercakup dalam satu firman ini, yaitu: "Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!" Tetapi jikalau kamu saling menggigit dan saling menelan, awaslah, supaya jangan kamu saling membinasakan”.

Salah satu poin penting dari pernyataan Paulus pada nats di atas adalah tentang sunat sebagaimana diamanatkan dalam hukum Taurat. Menurut Paulus, barangsiapa yang menyunatkan diri harus melakukan seluruh hukum Taurat. Di lain pihak tidak ada seorangpun yang mampu melakukan seluruh hukum Taurat tanpa bercacat. Artinya bahwa apabila sunat dituruti sebagai salah satu syarat “pembenaran” maka usaha itu adalah sia-sia belaka. Mengapa ? Karena pembenaran hanya dapat diperoleh karena kasih karunia Allah di dalam Tuhan Yesus Kristus, sehingga Paulus mengatakan bahwa “jikalau kamu menyunatkan dirimu, Kristus sama sekali tidak akan berguna bagimu”. Apakah hal ini menunjukkan bahwa orang percaya dilarang untuk disunat ? Sama sekali tidak. Tetapi maksud Paulus di sini adalah bahwa sunat bukanlah salah satu dasar pembenaran, tetapi hanya oleh iman. “Sebab bagi orang-orang yang ada di dalam Kristus Yesus hal bersunat atau tidak bersunat tidak mempunyai sesuatu arti, hanya iman yang bekerja oleh kasih” Bahkan di akhir suratnya Paulus kembali mengingatkan bahwa seluruh hukum Taurat tercakup dalam satu firman yaitu: “Sebab seluruh hukum Taurat tercakup dalam satu firman ini, yaitu: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!”.

Semoga nats ini meluruskan pola pikir yang menuduh bahwa Paulus telah membatalkan hukum Taurat termasuk sunat sehingga ajarannya bertentangan dengan ajaran yang disampaikan Tuhan Yesus Kristus. Dalam konteks ini Paulus menegaskan bahwa pembenaran bukan diperoleh karena melakukan hukum Taurat termasuk sunat, tetapi hanya oleh karena kasih karunia Allah melalui Tuhan Yesus Kristus. Mentaati hukum Taurat termasuk sunat sama sekali tidak dilarang apalagi dibatalkan. Tetapi Paulus mengingatkan agar orang percaya tidak terjerumus ke dalam pola pikir para ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi bahwa keselamatan hanya dapat diperoleh melalui ketaatan terhadap hukum Taurat. Secara bahasa sederhana, dapat dikatakan bahwa hukum Taurat tetap diperlukan sebagai acuan perilaku yang baik tetapi jangan sekali-kali berharap bahwa keselamatan diperoleh dengan melakukan hukum Taurat, sebab tidak ada seorangpun yang dapat dibenarkan karena melakukan hukum Taurat (semua manusia tidak akan mampu melaksanakan hukum Taurat secara penuh). Dalam hal inilah jemaat Galatia diingatkan bahwa pembenaran di hadapan Allah hanyalah dapat diperoleh melalui iman kepada Tuhan Yesus Kristus.

Hidup menurut Daging atau Roh (Galatia 5:16-26)

“Maksudku ialah: hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging. Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging--karena keduanya bertentangan--sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang kamu kehendaki. Akan tetapi jikalau kamu memberi dirimu dipimpin oleh Roh, maka kamu tidak hidup di bawah hukum Taurat. Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya. Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu--seperti yang telah kubuat dahulu--bahwa barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah. Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu. Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya. Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh, dan janganlah kita gila hormat, janganlah kita saling menantang dan saling mendengki”.

Dalam nats di atas, Paulus menegaskan bahwa manusia yang memberi dirinya dipimpin oleh Roh tidak hidup di bawah hukum Taurat. Artinya bahwa mentaati hukum Taurat bukan lagi dianggap sebagai ‘kewajiban yang memaksa’ sehingga menjadi beban. Justru apabila dipimpin oleh Roh maka hukum Kristuslah yang berlaku, yaitu Hukum Kasih. Mewujudnyatakan kasih dalam kehidupan sehari-hari justru mengandung arti mentaati hukum Taurat. Perbuatan kasih tidak bertentangan dengan hukum Taurat, karena esensi hakiki dari hukum Taurat adalah mengasihi Allah dan mengasihi sesama manusia. Perbuatan yang dipimpin oleh Roh akan menghasilkan buah Roh. Buah Roh adalah kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang buah Roh tersebut termasuk hukum Taurat.

Lalu, bagaimana merumuskan hubungan Kasih dengan Hukum Taurat dalam perilaku orang percaya. Manusia harus menyadari bahwa tidak ada seorangpun yang memperoleh pembenaran di hadapan Allah karena melakukan hukum Taurat. Dalam kondisi demikianlah Allah melalui Tuhan Yesus Kristus telah menganugerahkan keselamatan bagi orang yang percaya kepadaNya. Bagi orang yang percaya kepadaNya berlaku hukum kasih. Hukum kasih tidak bertentangan dengan hukum Taurat bahkan merupakan inti daripada hukum Taurat itu sendiri. Jadi, orang percaya (yang telah memperoleh pembenaran) dalam melakukan hukum Taurat yang dalam hal ini adalah hukum kasih bukan lagi untuk memperoleh pembenaran melainkan merupakan “buah” atau perwujudan dari orang yang telah memperoleh pembenaran.

Dengan demikian maka dapat dikatakan bahwa menerapkan hukum Kasih sebagai inti daripada hukum Taurat bukan untuk memperoleh pembenaran tetapi merupakan buah dari pembenaran itu sendiri. Jangan terbalik! Kita mengasihi Allah bukan agar Allah mengasihi kita, tetapi kita mengasihi Allah karena Allah telah terlebih dahulu mengasihi kita. Kita mengasihi sesama manusia bukan agar Allah juga mengasihi kita atau agar sesama mengasihi kita. Tetapi kita mengasihi sesama manusia karena Allah telah terlebih dahulu mengasihi kita. Inilah esensi hukum Kasih bagi orang yang telah dibenarkan melalui darah Tuhan Yesus Kristus.

SURAT KEPADA JEMAAT DI EFESUS

Semuanya adalah Kasih Karunia (Efesus 2:1-10)

“Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu. Kamu hidup di dalamnya, karena kamu mengikuti jalan dunia ini, karena kamu mentaati penguasa kerajaan angkasa, yaitu roh yang sekarang sedang bekerja di antara orang-orang durhaka. Sebenarnya dahulu kami semua juga terhitung di antara mereka, ketika kami hidup di dalam hawa nafsu daging dan menuruti kehendak daging dan pikiran kami yang jahat. Pada dasarnya kami adalah orang-orang yang harus dimurkai, sama seperti mereka yang lain. Tetapi Allah yang kaya dengan rahmat, oleh karena kasih-Nya yang besar, yang dilimpahkan-Nya kepada kita, telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus, sekalipun kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita--oleh kasih karunia kamu diselamatkan-- dan di dalam Kristus Yesus Ia telah membangkitkan kita juga dan memberikan tempat bersama-sama dengan Dia di sorga, supaya pada masa yang akan datang Ia menunjukkan kepada kita kekayaan kasih karunia-Nya yang melimpah-limpah sesuai dengan kebaikan-Nya terhadap kita dalam Kristus Yesus. Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri. Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya”.

Nats di atas secara gamblang Paulus menjelaskan bahwa pada prinsipnya semua manusia telah jatuh ke dalam dosa dan tidak ada seorangpun yang dapat memperoleh keselamatan. Tetapi oleh kasih karunia Allah maka orang percaya telah diselamatkan. Artinya bahwa keselamatan oleh iman diperoleh semata-mata hanya karena kasih karunia Allah dan bukan karena usaha-usaha manusia itu sendiri.

Dipersatukan di dalam Kristus (Efesus 2:11-22)

“Karena itu ingatlah, bahwa dahulu kamu--sebagai orang-orang bukan Yahudi menurut daging, yang disebut orang-orang tak bersunat oleh mereka yang menamakan dirinya "sunat", yaitu sunat lahiriah yang dikerjakan oleh tangan manusia, bahwa waktu itu kamu tanpa Kristus, tidak termasuk kewargaan Israel dan tidak mendapat bagian dalam ketentuan-ketentuan yang dijanjikan, tanpa pengharapan dan tanpa Allah di dalam dunia. Tetapi sekarang di dalam Kristus Yesus kamu, yang dahulu "jauh", sudah menjadi "dekat" oleh darah Kristus. Karena Dialah damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua pihak dan yang telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan, sebab dengan mati-Nya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera, dan untuk memperdamaikan keduanya, di dalam satu tubuh, dengan Allah oleh salib, dengan melenyapkan perseteruan pada salib itu. Ia datang dan memberitakan damai sejahtera kepada kamu yang "jauh" dan damai sejahtera kepada mereka yang "dekat", karena oleh Dia kita kedua pihak dalam satu Roh beroleh jalan masuk kepada Bapa. Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah, yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru. Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapih tersusun, menjadi bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan. Di dalam Dia kamu juga turut dibangunkan menjadi tempat kediaman Allah, di dalam Roh”.

Dalam nats di atas Paulus menegaskan bahwa seluruh orang yang percaya – baik orang Yahudi maupun orang yang bukan Yahudi – telah dipersatukan oleh Tuhan Yesus Kristus. Tidak ada lagi tembok pemisah antara orang Yahudi dan orang yang bukan Yahudi. Melalui kematianNya di kayu salib, hukum Taurat sebagai dasar pembenaran orang Yahudi (menurut pola pikir orang Yahudi) dinyatakan tidak berlaku lagi sebagai dasar pembenaran baik bagi orang Yahudi apalagi terhadap orang bukan Yahudi. Seluruh orang percaya telah menjadi manusia baru di dalam diriNya.

Kata ‘membatalkan hukum Taurat’ pada nats di atas sering ditafsirkan sebagai pernyataan Paulus membatalkan hukum Taurat. Dalam konteks ini Paulus bermaksud bahwa tidak ada lagi perbedaan orang Yahudi dan orang yang bukan Yahudi dalam memperoleh pembenaran di hadapan Allah. Kalau hukum Taurat hanya diberikan kepada orang Yahudi bukan berarti bahwa hanya orang Yahudilah yang punya kesempatan untuk memperoleh pembenaran di hadapan Allah. Parameter perbuatan orang Yahudi yaitu Hukum Taurat telah ditiadakan sebagai dasar pembenaran sehingga orang yang bukan Yahudi memperoleh kesempatan yang sama dengan orang Yahudi untuk memperoleh pembenaran di hadapan Allah. Jadi, Paulus sama sekali tidak membatalkan hukum Taurat.


SURAT KEPADA JEMAAT DI FILIPI

Kebenaran yang Sejati (Filipi 3:1-16)

“Akhirnya, saudara-saudaraku, bersukacitalah dalam Tuhan. Menuliskan hal ini lagi kepadamu tidaklah berat bagiku dan memberi kepastian kepadamu. Hati-hatilah terhadap anjing-anjing, hati-hatilah terhadap pekerja-pekerja yang jahat, hati-hatilah terhadap penyunat-penyunat yang palsu, karena kitalah orang-orang bersunat, yang beribadah oleh Roh Allah, dan bermegah dalam Kristus Yesus dan tidak menaruh percaya pada hal-hal lahiriah. Sekalipun aku juga ada alasan untuk menaruh percaya pada hal-hal lahiriah. Jika ada orang lain menyangka dapat menaruh percaya pada hal-hal lahiriah, aku lebih lagi:  disunat pada hari kedelapan, dari bangsa Israel, dari suku Benyamin, orang Ibrani asli, tentang pendirian terhadap hukum Taurat aku orang Farisi, tentang kegiatan aku penganiaya jemaat, tentang kebenaran dalam mentaati hukum Taurat aku tidak bercacat. Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus, dan berada dalam Dia bukan dengan kebenaranku sendiri karena mentaati hukum Taurat, melainkan dengan kebenaran karena kepercayaan kepada Kristus, yaitu kebenaran yang Allah anugerahkan berdasarkan kepercayaan. Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya, supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati. Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya, karena akupun telah ditangkap oleh Kristus Yesus. Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus. Karena itu marilah kita, yang sempurna, berpikir demikian. Dan jikalau lain pikiranmu tentang salah satu hal, hal itu akan dinyatakan Allah juga kepadamu. Tetapi baiklah tingkat pengertian yang telah kita capai kita lanjutkan menurut jalan yang telah kita tempuh”.

Nats ini juga sering dikutip sebagai dasar tuduhan bahwa Paulus telah meniadakan hukum Taurat. Tetapi kalau kita cermati, Paulus mengungkapkan kekecewaannya terhadap apa yang dilakukannya sebelum “ditangkap” Tuhan Yesus Kristus. Paulus menganggap bahwa dengan mentaati hukum Taurat maka dia dapat memperoleh keselamatan. Ternyata apa yang dilakukannya sebelum mengenal Tuhan Yesus Kristus yaitu berusaha mentaati seluruh hukum Taurat ternyata sia-sia. Paulus berkata, “Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus, dan berada dalam Dia bukan dengan kebenaranku sendiri karena mentaati hukum Taurat, melainkan dengan kebenaran karena kepercayaan kepada Kristus, yaitu kebenaran yang Allah anugerahkan berdasarkan kepercayaan”.

Nats di atas tentu ditujukan kepada orang percaya yang ada Filipi agar tidak lagi terjerumus dalam lobang yang sama yang dialami oleh Paulus. Sekali lagi dalam nats ini Paulus bukan membatalkan atau meniadakan hukum Taurat. Tetapi Paulus menegaskan bahwa bukan dengan melakukan hukum Tauratlah dia memperoleh keselamatan tetapi melalui pengenalan akan Tuhan Yesus Kristuslah dia memperoleh keselamatan.


SURAT KEPADA JEMAAT DI KOLOSE

Kepenuhan Hidup dalam Kristus (Kolose 2:6-15)

“Kamu telah menerima Kristus Yesus, Tuhan kita. Karena itu hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia.  Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur. Hati-hatilah, supaya jangan ada yang menawan kamu dengan filsafatnya yang kosong dan palsu menurut ajaran turun-temurun dan roh-roh dunia, tetapi tidak menurut Kristus. Sebab dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan, dan kamu telah dipenuhi di dalam Dia. Dialah kepala semua pemerintah dan penguasa. Dalam Dia kamu telah disunat, bukan dengan sunat yang dilakukan oleh manusia, tetapi dengan sunat Kristus, yang terdiri dari penanggalan akan tubuh yang berdosa, karena dengan Dia kamu dikuburkan dalam baptisan, dan di dalam Dia kamu turut dibangkitkan juga oleh kepercayaanmu kepada kerja kuasa Allah, yang telah membangkitkan Dia dari orang mati.  Kamu juga, meskipun dahulu mati oleh pelanggaranmu dan oleh karena tidak disunat secara lahiriah, telah dihidupkan Allah bersama-sama dengan Dia, sesudah Ia mengampuni segala pelanggaran kita, dengan menghapuskan surat hutang, yang oleh ketentuan-ketentuan hukum mendakwa dan mengancam kita. Dan itu ditiadakan-Nya dengan memakukannya pada kayu salib: Ia telah melucuti pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa dan menjadikan mereka tontonan umum dalam kemenangan-Nya atas mereka”.

Dalam nats di atas Paulus menegaskan makna sunat yang sebenarnya yaitu sunat Kristus, yang terdiri dari penanggalan akan tubuh yang berdosa.

SURAT KEPADA TIMOTIUS

Mengenai Ajaran Sesat (1 Timoteus 1:3-11)

“Ketika aku hendak meneruskan perjalananku ke wilayah Makedonia, aku telah mendesak engkau supaya engkau tinggal di Efesus dan menasihatkan orang-orang tertentu, agar mereka jangan mengajarkan ajaran lain.  Tujuan nasihat itu ialah kasih yang timbul dari hati yang suci, dari hati nurani yang murni dan dari iman yang tulus ikhlas. Tetapi ada orang yang tidak sampai pada tujuan itu dan yang sesat dalam omongan yang sia-sia. Mereka itu hendak menjadi pengajar hukum Taurat tanpa mengerti perkataan mereka sendiri dan pokok-pokok yang secara mutlak mereka kemukakan. Kita tahu bahwa hukum Taurat itu baik kalau tepat digunakan, yakni dengan keinsafan bahwa hukum Taurat itu bukanlah bagi orang yang benar, melainkan bagi orang durhaka dan orang lalim, bagi orang fasik dan orang berdosa, bagi orang duniawi dan yang tak beragama, bagi pembunuh bapa dan pembunuh ibu, bagi pembunuh pada umumnya, bagi orang cabul dan pemburit, bagi penculik, bagi pendusta, bagi orang makan sumpah dan seterusnya segala sesuatu yang bertentangan dengan ajaran sehat  yang berdasarkan Injil dari Allah yang mulia dan maha bahagia, seperti yang telah dipercayakan kepadaku.”

Dalam nats di atas, Paulus menasehati Timotius agar menasihatkan orang-orang tertentu yang mengajarkan ajaran lain. Apa ajaran sesat itu? Apakah ajaran hukum Taurat merupakan ajaran sesat? Ajaran sesat itu adalah mengajarkan hukum Taurat tanpa memahami perkataan mereka sendiri dan pokok-pokok yang secara mutlak dikemukakan.

Dalam surat-suratnya kepada jemaat lain, Paulus selalu mengemukakan bahwa hukum Taurat bukanlah dasar pembenaran, inti daripada hukum Taurat adalah kasih. Kemungkinan Paulus mengetahui bahwa ajaran hukum Taurat yang diajarkan itu telah melenceng. Beberapa ahli mengemukakan bahwa ajaran yang diajarkan pada waktu itu adalah ajaran Yudaisme yaitu suatu ajaran untuk kembali ke hukum Taurat seperti pola pikir ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi sehingga Paulus secara tegas mengatakan bahwa ajaran itu adalah sesat. Paulus menegaskan bahwa ‘kesesatan’ ajaran tersebut bukan dari esensi hukum Taurat itu sendiri. Tetapi kesesatan tersebut adalah karena pengajar hukum Taurat itu “tidak memahami perkataan mereka sendiri dan pokok-pokok yang secara mutlak dikemukakan”. Mengenai esensi hukum Taurat, Paulus mengatakan bahwa hukum Taurat itu baik kalau tepat digunakan, yaitu keinsafan bahwa hukum Taurat itu bukanlah bagi orang yang benar, melainkan bagi orang yang jahat. Sehingga dengan demikian Paulus mengingatkan Timotius bahwa tujuan keberadaannya di Efesus adalah untuk menasihati para pengajar sesat tersebut.

SURAT KEPADA TITUS

Pesan Pesan Penutup (Titus 3:1-14)

Ingatkanlah mereka supaya mereka tunduk pada pemerintah dan orang-orang yang berkuasa, taat dan siap untuk melakukan setiap pekerjaan yang baik. Janganlah mereka memfitnah, janganlah mereka bertengkar, hendaklah mereka selalu ramah dan bersikap lemah lembut terhadap semua orang. Karena dahulu kita juga hidup dalam kejahilan: tidak taat, sesat, menjadi hamba berbagai-bagai nafsu dan keinginan, hidup dalam kejahatan dan kedengkian, keji, saling membenci. Tetapi ketika nyata kemurahan Allah, Juruselamat kita, dan kasih-Nya kepada manusia, pada waktu itu Dia telah menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmat-Nya oleh permandian kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus, yang sudah dilimpahkan-Nya kepada kita oleh Yesus Kristus, Juruselamat kita, supaya kita, sebagai orang yang dibenarkan oleh kasih karunia-Nya, berhak menerima hidup yang kekal, sesuai dengan pengharapan kita. Perkataan ini benar dan aku mau supaya engkau dengan yakin menguatkannya, agar mereka yang sudah percaya kepada Allah sungguh-sungguh berusaha melakukan pekerjaan yang baik. Itulah yang baik dan berguna bagi manusia. Tetapi hindarilah persoalan yang dicari-cari dan yang bodoh, persoalan silsilah, percekcokan dan pertengkaran mengenai hukum Taurat, karena semua itu tidak berguna dan sia-sia belaka.  Seorang bidat yang sudah satu dua kali kaunasihati, hendaklah engkau jauhi. Engkau tahu bahwa orang yang semacam itu benar-benar sesat dan dengan dosanya menghukum dirinya sendiri. Segera sesudah kukirim Artemas atau Tikhikus kepadamu, berusahalah datang kepadaku di Nikopolis, karena sudah kuputuskan untuk tinggal di tempat itu selama musim dingin ini. Tolonglah sebaik-baiknya Zenas, ahli Taurat itu, dan Apolos, dalam perjalanan mereka, agar mereka jangan kekurangan sesuatu apa. Dan biarlah orang-orang kita juga belajar melakukan pekerjaan yang baik untuk dapat memenuhi keperluan hidup yang pokok, supaya hidup mereka jangan tidak berbuah.

Dalam pesan penutupnya kepada Titus, Paulus menegaskan bahwa Tuhan telah menyelamatkan manusia, bukan karena perbuatan baik yang telah dilakukan, tetapi karena rahmat-Nya oleh permandian kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus, yang sudah dilimpahkan-Nya oleh Yesus Kristus, Juruselamat. Selanjutnya orang yang dibenarkan oleh kasih karunia-Nya, berhak menerima hidup yang kekal.

Selain itu, Paulus mengingatkan agar Titus menghindari persoalan yang dicari-cari dan yang bodoh, persoalan silsilah, percekcokan dan pertengkaran mengenai hukum Taurat, karena semua itu tidak berguna dan sia-sia belaka. 


AJARAN PAULUS TENTANG HUKUM TAURAT

Dari uaraian di atas maka dapatlah disimpulkan bahwa Paulus sama sekali tidak membatalkan hukum Taurat. Apabila ditelaah lebih jauh pola berpikir Paulus mengenai hukum Taurat, maka jelaslah bahwa Paulus mengatakan bahwa semua manusia sebenarnya binasa. Bangsa Yahudi binasa karena tidak melakukan hukum Taurat dan bangsa non Yahudi akan binasa karena tidak menuruti ‘hukum taurat’ yang tertulis dalam hati dan suara hatinya. Jadi, tidak ada seorangpun yang berbuat baik sehingga tidak ada seorangpun yang dapat dibenarkan di hadapan Allah termasuk karena melakukan hukum Taurat.

Keselamatan bangsa-bangsa non Yahudi yang tidak mengejar kebenaran melalui hukum Taurat telah beroleh kebenaran yaitu kebenaran karena iman. Sedangkan bangsa Israel sesat karena walaupun mengejar hukum Taurat yang mendatangkan kebenaran tetapi mereka sendiri tidak sampai kepada hukum Taurat sehingga mereka tidak dapat meraih kebenaran, karena bangsa Israel mengejar hukum Taurat karena perbuatan dan bukan karena iman. Sehingga hukum Taurat tidak dapat menyelamatkan orang Yahudi.

Hal ini bukan berarti hukum Taurat tidak diperlukan. Justru melalui hukum Taurat manusia mengetahui dan menyadari bahwa ia seorang yang berdosa. Di dalam hati manusia pada dasarnya suka akan hukum Allah tetapi di dalam anggota-anggota tubuhnya ada hukum lain yang berjuang melawan hukum akal budi dan membuatnya menjadi tawanan dosa.

Kemudian, tanpa hukum Taurat kebenaran Allah telah dinyatakan yaitu kebenaran Allah karena iman dalam Yesus Kristus bagi semua orang yang percaya.  Pembenaran manusia di hadapan Allah adalah semata-mata berdasarkan iman. Tidak seorangpun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya oleh karena iman dalam Yesus Kristus.

Ada perbedaan antara kebenaran hukum Taurat dengan kebenaran karena iman. Kebenaran hukum Taurat adalah orang yang melakukan hukum Taurat akan hidup karena hukum Taurat, tetapi kebenaran karena iman adalah Firman itu dekat dengan diri manusia yakni di dalam mulut dan di dalam hati. Kebenaran iman adalah: barangsiapa yang mengaku dengan mulutnya, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatinya, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, akan diselamatkan. Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan.

Hasil pembenaran adalah hidup yang kekal, hidup damai sejahtera dengan Allah, beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia, menerima kemuliaan Allah, bahkan bermegah dalam kesengsaraan yang menuntut ketekunan sehingga tahan uji serta melahirkan pengharapan.

Paulus menegaskan bahwa hukum Taurat bukan berasal dari pikiran manusia. Paulus sama sekali tidak membatalkan hukum Taurat tetapi justru ia meneguhkannya. Menurut Paulus hukum Taurat adalah kudus dan perintah Tuhan juga adalah kudus, benar dan baik. Ajaran Paulus tidaklah bertentangan dengan hukum Taurat.

Kasih merupakan kegenapan hukum Taurat. Kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia sehingga kasih adalah kegenapan hukum Taurat. Menerapkan hukum Kasih sebagai inti daripada hukum Taurat bukan untuk memperoleh pembenaran tetapi merupakan buah dari pembenaran itu sendiri. Jangan terbalik! Kita mengasihi Allah bukan agar Allah mengasihi kita, tetapi kita mengasihi Allah karena Allah telah terlebih dahulu mengasihi kita. Kita mengasihi sesama manusia bukan agar Allah juga mengasihi kita atau agar sesama mengasihi kita. Tetapi kita mengasihi sesama manusia karena Allah telah terlebih dahulu mengasihi kita. Inilah esensi hukum Kasih bagi orang yang telah dibenarkan melalui darah Tuhan Yesus Kristus.

Selanjutnya Paulus menegaskan bahwa seluruh orang yang percaya – baik orang Yahudi maupun orang yang bukan Yahudi – telah dipersatukan oleh Tuhan Yesus Kristus. Tidak ada lagi tembok pemisah antara orang Yahudi dan orang yang bukan Yahudi. Melalui kematianNya di kayu salib, hukum Taurat sebagai dasar pembenaran orang Yahudi (menurut pola pikir orang Yahudi) dinyatakan tidak berlaku lagi sebagai dasar pembenaran baik bagi orang Yahudi apalagi terhadap orang bukan Yahudi. Seluruh orang percaya telah menjadi manusia baru di dalam diriNya.

Dalam surat Paulus kepada jemaat di Galatia, ia menegaskan bahwa: janji Allah secara historis mendahului pemberian Taurat. Janji yang sebelumnya telah disahkan Allah tidak dapat dibatalkan oleh hukum Taurat yang baru ada 430 tahun kemudian sehingga janji itu hilang kekuatannya (Galatia 3:17). Ia melihat dengan jelas konsekwensi hal tersebut. Ia yakin sekali janji itu diberikan tidak ada yang dapat mengubahnya. Karena janji itu menuntut tanggapan iman, maka ia berpendapat bahwa Taurat tidak dapat membatalkannya. Taurat tak dapat menuntut suatu pendekatan terhadap kebenaran yang lain daripada pendekatan yang dituntut oleh janji Allah kepada Abraham, yaitu melalui iman. Begitupun ini tidak berarti bahwa janji dan Taurat bertentangan satu sama lain (Galatia 3:21). Paulus melihat di dalam Taurat suatu ungkapan anugerah Allah. Memang Taurat itu sendiri didasarkan kepada janji. Jika Taurat dilaksanakan, keselamatan pasti terjamin: inilah janji Taurat. Tetapi Paulus mengetahui sepenuhnya bahwa tidak seorangpun yang pernah melaksanakan seluruh hukum Taurat, kecuali Yesus Kristus. Kelemahan utama Taurat adalah, ia hanya dapat memperlihatkan bahwa orang sudah melakukan pelanggaran, ia tidak dapat menghidupkan (Galatia 3:21). Oleh sebab itu, Paulus mengatakan bahwa tidak seorangpun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya oleh iman dalam Kristus Yesus, sebab tidak ada seorangpun dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat (Galatia 2:16).

Untuk memperluas wawasan mengenai Teologia Paulus tentang Hukum Taurat, ada beberapa ahli yang mengatakan bahwa Paulus melawan Hukum Taurat di antaranya adalah Alain Badiou. Menurut Badiou peristiwa pembebasan di dalam Yesus Kristus sebagai sesuatu yang menentukan, sehingga untuk memahami perkataan Paulus tentang Hukum Taurat tidaklah boleh lepas dari peristiwa Kristus ini. Badiou sendiri melihat empat konsep yang sangat berhubungan dengan pilihan fundamental manusia sebagai subjek, yaitu: pistis (iman) dan ergon (kerja); kharis (anugerah) dan nomos (Hukum Taurat). Menurut Badiou, Paulus menghubungkan apa yang ia sebut sebagai "Jalan Kedagingan" (sarx) dengan Hukum Taurat dan kerja bagi Hukum Taurat, dan membedakan dengan apa yang dinamakan sebagai "Jalan - Manusia - Roh (Pneuma) yang dihubungkan dengan iman dan anugerah.

Menurut Badiou, Paulus menolak Hukum Taurat sebab hal itulah yang membawa kepada jalan kematian atau kedagingan. Karena secara partikular, menurut Badiou, Paulus melihat bahwa kerja di bawah Hukum Taurat telah menghalangi anugerah yang universal melalui iman. Menurut Badiou, Paulus melihat secara struktur ontologis bahwa tidak ada peristiwa tentang Yang Esa secara partikular. Sebab universalitas merupakan satu-satunya cara yang mungkin untuk memahami Yang Esa itu. Sedangkan alat untuk menyingkapkan Kebenaran itu tidak lain adalah Yang Esa (realitas ilahi yang transenden dan monoteis), universalitas (kemanusiaan) dan yang singular (peristiwa Kristus). Sedangkan yang partikular, yaitu budaya, Hukum Taurat tidak dapat dikaitkan dengan hal itu.

Jadi bagi Paulus, apa yang dapat membawa manusia kepada yang universal itu? Paulus menurut Badiou mengatakan: bukanlah sesuatu yang berkenaan soal Hukum Taurat yang bersifat partikular dan parsial. Paulus menyadari bahwa Hukum Taurat membawa kepada pembentukan karakter manusia secara statis dan dikontrol. Namun, jika Kebenaran telah menyatakan diri dalam peristiwa Kristus, maka seharusnya Kebenaran adalah sesuatu yang nondenumerable, impredicable dan uncontrollable. Hal inilah yang dinamakan Paulus sebagai anugerah yang bersifat translegal, yang dapat menjumpai siapa saja. Menurut Badiou, dalam hal ini Paulus menempatkan anugerah sebagai lawan dari Hukum Taurat.

Pendapat Badiou tentang Paulus yang melawan Hukum Taurat akan terlihat ketika ia mengatakan bahwa tesis fundamental Paulus dalam memahami Hukum Taurat adalah bahwa Hukum Taurat membawa keinginan untuk otonomi subjek, dan dari sini kemudian membawa subjek kepada jalan kematian. Hal ini akan terlihat jelas ketika salah satu theorema Badiou mengatakan begini: “But the path of sin is theat of death. Consequently, it becomes possible to day (and this lies at the heart of Paul's discourse) with the law, the path of the death, which was itself dead, becomes alive once more. The law gives life to death, and the subject as life according to the spirit falls onto the side of death. The law distributes life on the side or the path of death, and death on the side of the path of life”. Dengan demikian, berdasarkan pandangan Badiou pada umumnya pandangan Kristen kepada Hukum Taurat sangatlah negatif.

Sejalan dengan pandangan umum yang berlaku ini, David Stern di dalam bukunya Restroring The Jewishness of The Gospel mengatakan bahwa pemahaman yang umum dipakai oleh orang-orang Kristen mengenai perkataan-perkataan Paulus tentang Hukum Taurat adalah bahwa Taurat tidak lagi mempunyai kekuatan apa-apa. Hal ini sangat disayangkan oleh Stern, karena dengan begitu teologi Kekristenan dan teologi Yahudi tidak akan dapat "berjalan bersama". Memang pada kenyataannya topik tentang Hukum Taurat tidaklah menjadi pusat perhatian teologi Kristen, namun justru menjadi salah satu titik sentral bagi Yudaisme dalam memandang teologi mereka. Bahkan menurut Stern ada suatu prasangka anti-Yahudi di dalam membaca Perjanjian Baru itu yang telah terjadi sejak Gereja mula-mula berdiri. Martin Luther dalam bukunya On The Jews and Their Lies memperlihatkan dirinya memiliki prasangka anti-Yahudi dengan menyalahkan orang Yahudi saat kisah penyaliban Yesus, sehingga menganjurkan kepada orang-orang Kristen untuk membakar Sinagoge Yahudi, menghancurkan tempat kediaman mereka dan memusnahkan kitab Talmud Yahudi, dan lain-lain. Stern dengan tegas mengatakan bahwa dalam hal ini: "I believe that christianity has gone far astray in its dealings with the subject adn that the most urgent task of theology today is get right its view of the Law". Menurut Stern, Perjanjian Baru itu sendiri sebenarnya tidaklah mengandung muatan-muatan anti-Yahudi. Stern mengingatkan bahwa kitab Perjanjian Baru adalah Kitab Yahudi. Mulai dari Yesus dan murid-murid-Nya sampai pada Paulus, mereka adalah sama-sama orang Yahudi dan berbicara dengan bertolak dari latar belakang pemahaman Yahudi.

Lalu di mana letak permasalahannya ketika Stern menyebutkan adanya kecenderungan anti Yahudi di dalam Perjanjian Baru Kristen? Permasalahannya terletak pada penerjemahan Perjanjian Baru itu sendiri yang kemudian memunculkan terjemahan yang terkesan anti Yahudi, sehingga pembaca diajak untuk membangun pemahaman teologi anti Yahudi. Demikian juga adanya dengan perkataan-perkataan Paulus mengenai Hukum Taurat, tidak terlepas dari segi penerjemahan dan penafsiran yang seakan-akan diarahkan menuju pemahaman yang menilai bahwa Hukum Taurat itu tidak lagi mempunyai kekuatan apa-apa dalam kekristenan.

David Stern membawa pemahaman baru ketika orang Kristen memandang Hukum Taurat di dalam Perjanjian Baru. Oleh sebab itu Stern memberikan beberapa contoh perkataan Paulus untuk menunjukkan pandangannya atas perkataan Paulus tentang Hukum Taurat:

Roma 10:4. Dikatakan bahwa "Sebab Kristus adalah kegenapan Hukum Taurat, sehingga kebenaran diperoleh tiap-tiap orang percaya". Persoalannya terletak pada penafsiran kata "menggenapi" (end; mengakhiri) Hukum Taurat. Apakah Mesias membuat Hukum Taurat pada kesudahannya, perhentiannya? Kata menggenapi sebenarnya adalah terjemahan dari kata Yunani "telos" yang artinya: tujuan, perwujudan, penyempurnaan, tetapi bukanlah kesudahan ataupun perhentian. Kedatangan Mesias tidak mengakhiri keberadaan Hukum Taurat itu sendiri, melainkan melalui Mesias itulah Hukum Taurat menjadi sempurna di dalam-Nya.

Teologi Kristen mengenai Hukum Taurat banyak sekali mendasari dirinya pada kesalahpahaman penafsiran dua bentuk ekspresi kalimat bahasa Yunani yang Paulus gunakan. Kalimat upo nomon, yang diterjemahkan menjadi "di bawah Hukum Taurat" (muncul 10 kali dalam Roma, I Korintus dan Galatia) dan kalimat "ergou nomou", yang diterjemahkan sebagai "melakukan Hukum Taurat" (muncul 10 kali di Roma dan Galatia). Memang kesan pertama yang terlihat adalah Paulus menganggap jelek dan negatif Hukum Taurat: "berada di bawah Hukum Taurat itu buruk dan melakukan Hukum Taurat juga buruk." Akan tetapi ternyata kedua terjemahan ini membawa kita pada pemahaman yang salah. Menurut Stern, Paulus tidak menganggap bahwa hidup dalam kerangka mematuhi dan mentaati Hukum Taurat itu adalah sesuatu yang buruk; Sebab di lain pihak kita juga menemukan kata-kata yang lebih positif dari Paulus saat berbicara mengenai Hukum Taurat, seperti di Roma 7:12 "Jadi Hukum Taurat adalah kudus dan perintah itu juga adalah kudus, benar dan baik".

Jadi menurut Stern "dalam tata bahasa Yunani di masa Paulus tidak terdapat kata-kata yang sesuai dengan kata di masa kini yang mengacu pada "legalisme", "legalist" dan "legalistik". Artinya, Paulus kekurangan ungkapan kata yang sesuai untuk mengatakan suatu perbedaan yang penting yang mengakibatkan adanya penghambatan upaya untuk memperjelas posisi kekristenan dalam hal memandang Hukum Taurat. Maka kita harus mempertimbangkan kemungkinan yang lain yang mungkin muncul, meski sekilas pernyataan Paulus itu terkesan meremehkan dan merendahkan Hukum Taurat, tetapi sebenarnya kalimat itu bukan ditulis dengan tujuan melawan Hukum Taurat itu, melainkan melawan kesalahpahaman dan penyalahgunaan dari Hukum Taurat.

Sejalan dengan hal ini, maka menarik sekali untuk menyimak pendapat dari Calvin ketika memandang Hukum Taurat dari segi bahasa asli Ibrani: "Torah" dan dari bahasa Yunani: "Nomos". Menurut Roetzel, Torah dalam pemahaman bangsa Yahudi dimengerti sebagai "peraturan" (to direct) atau "perintah" (to instruct). Sehingga makna Torah dalam pengertian asalinya adalah seperti sebuah perintah yang diberikan guru kepada murid-muridnya. Torah adalah suatu perintah dan peraturan yang diberikan Tuhan kepada Israel, melalui para nabi yang menyampaikan Firman Allah itu, sekaligus perintah dan peraturan yang hadir bersamaan dengan kekayaan perjalanan sejarah iman Israel ketika mengalami Tuhan dalam hidup sehari-hari mereka.

Menarik untuk dilihat transliterasi Yunani-nya, kata Nomos yang digunakan untuk merujuk kepada Torah memiliki perbedaan makna yang menentukan maksud dari perkataan Paulus mengenai Hukum Taurat. Biasanya kata Nomos digunakan untuk menunjuk kepada tata peraturan yang berlaku dalam kehidupan suatu komunitas yang kemudian berpengaruh kepada tingkah laku tiap-tiap individu di dalamnya. Menurut Roetzel, Paulus sadar akan makna asali dari Torah dalam bahasa Ibrani, namun Paulus menggunakan kata Nomos dalam bahasa Yunani untuk menyampaikan maksud corak perbedaan dari Hukum (Law) yang sedang dibicarakan oleh Paulus kepada jemaat.

Secara lebih jelas Roetzel menyebutkan contohnya dalam Roma 8:2 ketika Paulus mengatakan: " ... memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum maut". Menurut Roetzel, kita seharusnya membaca teks ini dengan "memerdekakan kamu dalam Kristus dari prinsip keberdosaan (yang membawa) kepada kematian". Hal ini akan membuat kita melihat jelas bahwa Paulus tidak menyamakan begitu saja Hukum Taurat dengan kematian dan keberdosaan.

Begitu pula ketika kita membaca Roma 7:23, ketika Paulus berbicara tentang "hukum lain yang berjuang melawan hukum akal budiku dan membuat aku menjadi tawanan hukum dosa yang ada di dalam anggota-anggota tubuhku" dan dalam ayat 3:27, ketika Paulus mempertentangkan antara hukum yang berdasarkan perbuatan (law of works) dengan hukum yang berdasarkan iman (law of faith), sebenarnya Paulus sedang menunjuk kepada arti hukum secara prinsipil.

Oleh sebab itulah, menurut Roetzel, kita harus memahami kalimat erga nomou bukan dalam artian "melakukan Hukum Taurat" melainkan "melakukan pemahaman yang legalistik terhadap perintah-perintah Hukum Taurat". Kita pun harus memahami pernyataan "di bawah Hukum Taurat" dengan pengertian "berada di bawah sistem yang menghasilkan penyelewengan Hukum Taurat kepada Legalisme". Jika hal ini mendapatkan perhatian dari teologi Kristen, maka hal ini akan membawa pemahaman yang lebih baik dan positif terhadap Taurat.

Selanjutnya, Galatia 3:10-13 mengatakan bahwa "karena semua orang yang hidup dari pekerjaan Hukum Taurat berada di bawah kutuk". Paulus mengatakan bahwa kutuk itu jatuh pada orang yang mencoba mentaati Taurat secara legalistik. Bagi Paulus, pendekatan yang legalistik itu artinya adalah juga sikap ketidaktaatan, sedangkan bagi Tanakh diperlukan ketaatan yang sejati yang datang dari iman.

Paulus memahami bahwa dari sisi teologis, Hukum Taurat adalah anugerah bagi Israel, namun dari sisi antrophologis, Hukum Taurat tetap merupakan kultur yang partikular. Sehingga Hukum Taurat tidak dapat dijadikan sebagai filter iman dalam menerima Kristus sang Juruselamat itu. Tujuan Paulus berkata tentang Hukum Taurat bagi orang-orangYahudi bukanlah agar orang Kristen Yahudi pada waktu itu mengabaikan Hukum Taurat, melainkan untuk memahaminya dalam terang Kristus yang membebaskan dari pemaknaan legalistik terhadap Hukum Taurat. Sekaligus Paulus mengkritik pemahaman orang Kristen Yahudi yang menggunakan filter iman dalam budaya Yahudi mereka kepada orang Kristen non-Yahudi. Sedangkan bagi orang Kristen non-Yahudi, Paulus berkata tentang Hukum Taurat agar mereka memahami bahwa Keselamatan itu memang berasal dari Yahudi (Yesus), namun pemilihan Israel sebagai umat pilihan Allah bukanlah sesuatu yang bersifat eksklusif. Paulus menginginkan suatu revolusi sosio-kultural-teologis dalam memahami anugerah keselamatan Kritus yang universal itu ketika ia memandang Hukum Taurat sebagai bagian dari budaya Yaudi dan diperhadapkan dengan budaya non-Yahudi (Yunani) di dalamnya. Paulus ingin menerobos batasan pemahaman Kristen Yahudi dan juga orang Kristen non-Yahudi, bahwa dalam memahami anugerah keselamatan Allah dalam Kristus yang universal dam tidak terkurung dalam satu budaya yang partikular dan terbatas.

Jadi perjanjian yang baru itu diberikan sebagai Taurat yang menyatakan secara tidak langsung bahwa Taurat tetap eksis dan dijalankan di masa kini. Memang cukup sulit bagi kita untuk dapat menyetujui secara langsung pendapat para ahli mengenai posisi Hukum Taurat dalam Perjanjian Baru, hanya dengan mengatakan bahwa tidak ada ekspresi kata dalam bahasa Yunani kala itu untuk merujuk kepada suatu tindakan yang legalistik dalam melakukan Hukum Taurat. Setidaknya, mereka telah berhasil menjembatani kebingungan banyak orang dalam memahami perkataan-perkataan Paulus mengenai Hukum Taurat, karena Paulus seakan-akan kadang kala menyebut Taurat adalah kudus, benar dan baik dalam Roma 7:12, di lain pihak, Paulus juga mengatakan bahwa sengat maut adalah dosa dan kuasa dosa ialah Hukum Taurat dalam I Korintus 15:56. Di satu sisi Paulus 'membaik-baikkan' Taurat dan di sisi lain 'meremehkan' Taurat.

Yang jelas adalah perkataan Paulus tentang Hukum Taurat bukanlah tujuan utama misi Paulus kepada orang-orang non-Yahudi, melainkan Paulus hendak memberitakan karya keselamatan yang sudah dilakukan Allah dalam Yesus Kristus yang mencakup seluruh umat manusia (universal). Ketika Paulus hendak menjelaskan pentingnya peristiwa Yesus kepada orang non-Yahudi, di sinilah letak permasalah sikap Paulus tentang Hukum Taurat itu yang seakan-akan ambivalen dan dualisme itu.

Paulus sama sekali tidak bermaksud meremehkan atau merendahkan atau berkata negatif tentang Hukum Taurat. Kritikan Paulus bukanlah Hukum Taurat-nya, melainkan pemahaman legalistik terhadap Hukum Taurat, di mana kemudian menghasilkan pemahaman bahwa untuk dapat menjadi seorang Kristen itu haruslah melewati filter iman budaya Yahudi. Paulus menginginkan adanya suatu revolusi sosio-kultural-teologis dalam memahami karya penyelamatan Allah dalam Kristus yang berlaku bagi seluruh umat manusia (universal), baik bagi orang-orang Yahudi, maupun orang Yunani, bahkan bagi kita sekalian di msa kini yang juga telah menerima Kristus Yesus sebagai Juruselamat yang sejati itu.

Tentu saja di masa kini orang-orang Kristen harus tetap menghargai dan menghormati (hukum) Taurat, sebab Taurat adalah anugerah pernyataan Allah atas apa yang Ia kehendaki untuk manusia lakukan dalam hidup ini. Yan perlu diperhatikan dalam rangka melakukan perintah Hukum Taurat adalah kita harus melihat Hukum Taurat itu dalam kerangka yang sudah diberikan oleh Yesus sendiri, pemahaman yang membebaskan diri dari legalisme. Matius 22:35-40 hendak mengatakan bagaimana sebenarnya cara pemahaman yang benar dalam memandang Hukum Taurat itu begini:
"Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?" Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi."

Walaupun bagi Paulus Taurat tetap merupakan pengungkapan yang benar dan kudus tentang kehendak Allah, namun Taurat itu telah gagal membuat manusia benar dihadapan Allah. Mustahil bagi manusia untuk dibenarkan dengan melakukan hukum Taurat (Galatia 2:16).

Penegasan ini dilakukan Paulus karena dalam pola pikir orang Yahudi pada waktu itu, hukum Taurat merupakan solusi untuk pembenaran. Padahal hukum Taurat sebenarnya sama sekali tidak menolong dan menyelamatkan manusia keluar dari hukuman dosa. Hukum Taurat tidak membuat manusia terhindar dari murka Allah atas dosa manusia. Alasan yang paling kuat untuk ini adalah karena hukum Taurat tidak diberikan kepada manusia supaya menyelamatkan manusia tersebut. Hukum Taurat diberikan pada manusia untuk menyatakan, memperlihatkan dan mengkarakteristikan dosa pada manusia.

Sebagaimana perkataan Paulus dalam Roma 2:17, terlihat bahwa jemaat-jemaat Yahudi di Roma masih bersandar pada hukum Taurat. Jemaat yang merupakan orang Yahudi ini bukan merupakan orang yang tidak beriman kepada Kristus ataupun hanya mengandalkan hukum Taurat. Melalui ucapan syukur Paulus dalam Roma 1:8 nampak bahwa jemaat Roma secara umum yang terdiri dari orang Yahudi dan non-Yahudi tersebut adalah jemaat yang sungguh-sungguh beriman kepada Kristus. Namun dalam iman mereka kepada Kristus tersebut, jemaat Yahudi mengganggap bahwa hukum Taurat juga dibutuhkan untuk mencapai keselamatan tersebut. Hukum Taurat sebagai pemberian Allah yang nyata membuat mereka merasa berbeda dari bangsa-bangsa lain oleh karena bangsa Yahudi “tahu” kehendak Allah dari hukum Taurat yang mereka miliki tersebut. Oleh sebab itu orang Kristen Yahudi merasa bangga dengan pengetahuan yang mereka miliki melalui hukum Taurat yang secara langsung berhubungan juga dengan bangga terhadap hukum Taurat dan usaha mereka menegakkan hukum Taurat tersebut.

Akan tetapi hukum Taurat tidak menyelamatkan. Hal ini yang berulangkali ditegaskan oleh Paulus dalam Roma 3:20. Hukum Taurat bahkan berakibat kepada bertambahnya pelanggaran (Roma 5:20). Hal ini disebabkan oleh karena fungsi hukum Taurat itu memang pada dasarnya bukan untuk menyelamatkan ataupun membenarkan manusia, melainkan untuk mendefinisikan dosa. Orang Yahudi mengklaim hukum Taurat sebagai sarana pendidikan dan keselamatan dalam sejarah umat manusia.

Dalam realitanya, memang sesudah hukum Taurat diberikan, pelanggaran tidak menjadi berkurang, tapi makin bertambah karena hukum Taurat menyediakan kesempatan untuk pelanggaran atas berbagai perintah yang spesifik. Kesalahannya bukan terletak pada hukum Taurat, namun pada kejahatan hati manusia yang membuatnya berespons memberontak terhadap hukum yang diberikan. Ketidakmampuan manusia untuk melakukan hukum Taurat dengan cermat dan kecondongan hatinya untuk melanggar hukum yang diberikan menunjukkan bahwa tidak ada kemungkinan untuk mendapat pemulihan hubungan dari seteru Allah kepada sebuah perdamaian dengan Allah melalui hukum Taurat itu. Hukum Taurat tidak menyelamatkan melainkan hanya membuat manusia sadar akan dosanya.


KONSEP ANUGERAH MENURUT PAULUS

Anugerah merupakan sebuah pokok pembahasan yang penting dalam surat-surat Paulus. Lebih lanjut, di sepanjang surat Roma misalnya, Paulus juga berulang-ulang menyebut dan mengajarkan tentang anugerah Allah, baik dalam hubungan dengan panggilan kerasulannya oleh Kristus (Roma 1:5) maupun dalam hubungan dengan keselamatan. Secara khusus kita akan melihat konsep anugerah Paulus yang terdapat dalam tulisannya kepada jemaat Roma.

Anugerah diungkapkan oleh Paulus dalam tulisan-tulisannya dengan menggunakan kata “carij” (kharis). Menurut arti katanya, kharis berarti “kemurahan,” “kebaikan hati Allah,” “rencana yang penuh kemurahan,” atau “pemberian gratis yang dimanifestasikan oleh Allah terhadap manusia yang dinyatakan dalam injil-Nya.” Dalam penggunaan kata kharis oleh Paulus, anugerah tidak hanya memiliki arti yang terkandung dalam kata Ibrani hen, melainkan gabungan dengan makna yang terkandung juga dalam kata Ibrani lainnya untuk anugerah yaitu hesed.

Anugerah yang dibahas oleh Paulus dalam surat Roma ini tidak berdiri sendiri tanpa hubungan dengan karya-karya Allah yang lainnya. Sebaliknya, anugerah merupakan suatu kesatuan dari rentetan karya Allah dalam diri manusia yang akan dibahas pada bagian berikut ini.

Anugerah Merupakan Inisiatif Allah

Anugerah artinya suatu pemberian gratis dan lebih mengacu kepada tindakan kebaikan hati dari Allah kepada manusia yang tidak disebabkan oleh sesuatu apa pun dalam diri manusia. Anugerah secara faktual merupakan tindakan penyelamatan hasil keputusan Allah sendiri di dalam Yesus Kristus. Paulus, baik melalui salam pembuka surat maupun dalam isi suratnya, memperlihatkan bahwa sumber anugerah itu datang dari Allah Bapa dan Tuhan Yesus Kristus. Keselamatan yang diteruskan dengan panggilan kerasulannya datang dari Allah. Secara ringkas dapat dikatakan bahwa inisiatif pemberian anugerah adalah bukan dari manusia melainkan sepenuhnya dari Allah.

Anugerah Merupakan Lawan dari Dosa

Anugerah dan dosa adalah dua kekuatan yang saling bertentangan. Anugerah tidak mendorong perbuatan dosa dengan lebih besar dan banyak lagi, demikian juga dosa yang bertambah-tambah bukan jalan mendapatkan anugerah yang lebih besar lagi. Jika Paulus dalam Roma 5:2-21 berkata “dosa bertambah banyak” yang dilanjutkan dengan frasa “kasih karunia menjadi berkelimpahan,” maksud Paulus adalah untuk menyatakan suatu kategori keadaan anugerah yang berlimpah-limpah yang melampaui kelimpahan dosa. Kalimat Paulus tidak dimaksudkan untuk membicarakan tentang penambahan dosa secara kualitas maupun kuantitas. Namun Paulus sedang menggambarkan kekuatan anugerah yang melebihi kekuatan dosa di mana anugerah menang mengatasi dosa.

Anugerah Berlanjut kepada Pengudusan

Anugerah tidak berhenti pada pembenaran oleh iman, namun berlanjut kepada pengudusan orang percaya yang menerima anugerah. Pengudusan ini bukan merupakan pengudusan terhadap status dan relasi manusia secara rohani di hadapan Allah, akan tetapi mengacu kepada tindakan luar manusia di hadapan tuntutan kebenaran dan standar kekudusan Allah sendiri. Jika pada tahap penganugerahan pembenaran peran manusia tidak dilibatkan di dalamnya, maka pada tahap ini manusia terlibat untuk bertanggung jawab atas hidupnya sesuai dengan statusnya yang baru dengan kekuatan dari Roh Kudus yang diberikan kepadanya.

Setelah manusia dibenarkan Allah, ia tidak lagi memilih hidup di bawah dosa. Hidupnya telah mati terhadap dosa, saat itu adalah akhir dari kehidupan yang lama yang ada di bawah pemerintahan dosa. Paulus menegaskan bahwa pembenaran itu membawa manusia kepada pembaharuan hidup yang di dalamnya mengandung makna pertumbuhan pada diri manusia baru tersebut. Dalam hidup yang baru, manusia lama telah disalibkan bersama Kristus dan bersamaan dengan itu kuasa dosa hilang. Namun hilangnya kuasa dosa terhadap diri orang yang mengalami anugerah bukan berarti dosa yang dilenyapkan sama sekali. Dosa tetap ada dan mungkin dilakukan oleh manusia, bedanya adalah jika dalam manusia lama natur yang dimiliki oleh orang tersebut adalah natur berdosa dan selalu dikontrol oleh dosa sehingga perbuatan dan pikirannya selalu kepada dosa, maka dalam diri manusia yang baru ia menyerahkan diri pada Allah untuk dikontrol oleh-Nya. Manusia yang baru menyandarkan pengetahuan dan keputusannya kepada Tuhan. Sesuai dengan naturnya yang baru, maka keputusan-keputusan, tindakan, pemikiran, dan kehendak manusia baru disandarkan pada pimpinan Tuhan. Manusia baru berusaha bertanggung jawab atas hidupnya dalam pimpinan Roh Kudus dengan kehendak untuk mengambil keputusan dan pilihan yang benar sesuai dengan statusnya yang baru di hadapan Allah.

Di dalam kehidupan yang sudah diperbaharui seseorang tidak mungkin untuk berada di bawah kuasa dosa dan berada di bawah kuasa kebenaran secara bergantian dan bergiliran terus-menerus. Selain itu juga tidak ada jalan tengah di antara keduanya. Kejatuhan manusia dalam dosa dalam hidup baru bukan sesuatu yang disengaja dan dilakukan berulang-ulang. Dengan menyebutkan bahwa manusia baru sudah dibaptiskan (bersatu) dengan Kristus, dalam konsep yang diajarkan Paulus jelas bahwa orang yang sudah menerima anugerah memiliki kehendak sesuai dengan Kristus. Kondisi ini yang tidak memungkinkan manusia baru dengan sengaja menghendaki untuk melakukan dosa.

Manusia baru bisa sesekali gagal dalam pergumulannya antara menuruti keinginan dosa dan melakukan kehendak Allah sehingga ia gagal pula dalam tanggung jawab pribadinya untuk mengambil keputusan yang benar. Hal ini sangat mungkin terjadi di dalam proses pengudusan, namun orang yang hidup dalam anugerah akan kembali kepada kehendak Allah dalam suatu penyesalan akan dosa-dosanya dan tidak berkehendak untuk melakukan mengulangi apalagi menambah dosanya.

Ketika hidup manusia berakhir di dunia (mengalami kematian fisik) maka proses pengudusan pun berakhir. Pada akhir dari proses pengudusan tersebut manusia baru menerima pemberian hidup yang sudah dimulai sejak ia dibenarkan oleh Allah. Hidup kekal maupun pembenaran oleh iman adalah bentuk pemberian anugerah oleh Allah kepada manusia secara gratis.





BAB V

TEOLOGIA MARTIN LUTHER TENTANG HUKUM TAURAT DAN INJIL
     
MARTIN LUTHER (1483-1546)

Biografi

Martin Luther merupakan salah satu tokoh yang memiliki peran penting dalam bidang historiografi pada abad ke-16 khususnya di Eropa. Martin Luther adalah seorang reformator di Jerman dari gereja Katolik yang pengaruh pemikirannya masih dapat dirasakan hingga saat ini, di antaranya adalah dengan lahirnya geraja Kristen Protestan di berbagai belahan penjuru dunia.

Martin Luther lahir pada tanggal 10 November 1483 di Eisleben, dan dibabtis pada keesekoan harinya bertepatan dengan hari Santo Martin. Ia adalah anak dari seorang penambang yang bernama Hans Luder dan ibunya Margaretha seorang pedagang. Martin Luther juga mempunyai beberapa saudara laki-laki dan perempuan, dan yang paling dekat dengan Martin Luther adalah saudaranya yang bernama Jacob.
Ayahnya berkeinginan menjadikan Martin sebagai seorang pengacara handal. Untuk mewujudkan keinginannya itu, pada awalnya ayahnya mengirimkan Martin Luther untuk belajar di sekolah latin di Mansfeld. Pelajaran yang paling difokuskan dalam sekolah tersebut adalah Trivium, yaitu menyangkut tentang tata bahasa, retorikan serta logika dari ilmu pengetahuan. Pada tahun 1501 atau tepatnya pada usia ke-17 tahun, Martin Luther melanjutkan sekolahnya di Universitas Erfurt untuk belajar hukum. Setahun kemudian ia lulus dengan gelar sarjana filsafat dan melanjutkan sekolahnya untuk mengambil gelar magisternya di sekolah hukum pada tahun 1505.

Namun, semuanya itu berubah ketika pada suatu hari di musim panas pada usia 21 tahun (tahun 1505), terjadilah serangan badai, dimana petir menyambar di dekatnya ketika ia sedang berjalan pulang dari kuliah. Dalam ketakutan, ia berseru, "Tolonglah, Santa Anna! Saya akan menjadi biarawan!". Karena nyawanya selamat, Martin Luther meninggalkan sekolah hukumnya dan masuk ke biara Augustinian di Erfurt. Martin Luther memasuki biara Serikat Eremit Agustinus yang terkenal keras. Bisa dibayangkan betapa kecewanya ayahnya kepada Martin Luther, karena ayahnya menginginkan ia menyelesaikan studi hukumnya.

Di dalam biara, Martin Luther berusaha mematuhi segala peraturan biara melebihi biarawan lainnya. Martin Luther berusaha menjadi yang paling saleh dan yang paling rajin di antara para biarawan. Ia juga seorang yang serius, tekun dan pandai, karena itulah ia ditugasi belajar Teologi.  Selama belajar teologi, Martin Luther mempergumulkan tentang keselamatan. Ia masuk biara dengan tujuan untuk memperoleh kepastian keselamatan atas dirinya. Ia mencari jawaban atas pergumulannya dengan melakukan semua peraturan gereja yang berlaku pada saat itu. Martin Luther selalu berusaha mengabdikan dirinya sepenuhnya untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Ia pun melakukan berbagai perbuatan baik, seperti puasa, berdoa selama berjam-jam, menolong orang, menyiksa dirinya, mengakui semua dosa-dosanya dan mengunjungi makam para santo. Semakin ia berusaha dekat dengan Tuhannya, maka ia merasa semakin mengetahui akan keberadaannya yang penuh dosa sehingga ia semakin putus asa dan takut bertemu dengan TUHAN, Sang hakim yang penuh murka.

Tugas utama Marrtin Luther sebagai biarawan adalah menafsirkan Alkitab. Ia kemudian menterjemahkan Alkitab dalam bahasa Jerman, agar sebanyak mungkin orang Jerman dapat membaca Alkitab, mengingat pada waktu itu warga gereja tidak dapat membaca Alkitab dalam bahasa mereka sendiri sebab hanya tersedia Alkitab dalam bahasa Latin yang disebut Vulgata dan hanya boleh dibaca oleh kaum Klerus atau rohaniawan.  Kemudian, Martin Luther ditahbiskan menjadi imam pada tahun 1507 dan pada tahun 1508 ia mulai mengajar Teologi di Universitas Wittenberg.

Martin Luther mendapatkan gelar sarjananya dalam Studi Alkitab pada 9 Maret 1508, yang disusul meraih gelar sarjananya dalam Sentences karya Petrus Lombardus pada 1509. Pada 9 Oktober 1512, Martin Luther menerima gelar Doktor Teologi. Kemudian pada 21 Oktober 1521 Martin Luther diterima menjadi “anggota senat dosen teologi" dan diangkat menjadi Doktor dalam Kitab Suci .

Pada sekitar tahun 1514 Luther menemukan jawaban yang dicarinya selama ini. Dari Roma 1:16-17, Luther menemukan kebenaran Allah dan bahwa Firman Tuhanlah yang dapat membebaskan dia. Kebenaran yang dimaksudkan adalah rahmat Tuhan yang menerima orang-orang berdosa. Ia menemukan dirinya sebagai orang berdosa yang patut dihukum namun karena rahmat-Nya, Allah menerimanya dan membenarkannya. Kebenaran itu bukan untuk menghakimi melainkan pembenaran oleh iman. Injil tidak menunjukkan penghukuman atau murka Allah tetapi penyelamatan dan pembenaran. Dengan menemukan makna ayat-ayat itu, Luther merasa dilahirkan kembali. Bagi Luther, ayat-ayat itu merupakan kunci untuk memahami Alkitab dengan cara yang baru. Ternyata Allah yang ditemukan dalam Alkitab itu berbeda sekali dari Allah yang dikenalnya dalam ajaran gereja.

Melalui pengalaman dan pemahaman baru itu, Luther  menghayati hubungan antara Allah dan manusia dengan cara yang baru. Pemahaman dan penghayatan Luther yang baru ini tersiar di lingkungan Universitas Wittenberg melalui khotbah dan pengajarannya serta menjadi titik tolak dari pusat gerakan reformasi.

Disiplin yang sangat ketat untuk mendapatkan gelar-gelar akademik dan mempersiapkan kuliah-kuliah, mendorong Martin Luther untuk mempelajari Kitab Suci secara mendalam. Karena terpengaruh oleh seruan Humanisme ad fontes ("kembali ke sumbernya"), Martin Luther menenggelamkan dirinya dalam mempelajari Alkitab dan Gereja perdana. Dengan segera istilah-istilah seperti penyesalan dan pembenaran mendapatkan makna yang baru bagi Martin Luther. Ia menjadi yakin bahwa Gereja telah keliru dalam beberapa kebenaran sentral dari Kekristenan yang diajarkan dalam Kitab Suci, yang terpenting di antaranya adalah doktrin tentang pembenaran oleh iman semata. Martin Luther mulai mengajarkan bahwa keselamatan sepenuhnya adalah pemberian dari anugerah Allah melalui Kristus yang diterima oleh iman.
Belakangan, Martin Luther mendefinisikan dan memperkenalkan kembali prinsip tentang pembedaan yang semestinya antara Hukum Taurat dan Injil yang mendasari teologinya tentang anugerah. Secara keseluruhan, Martin Luther percaya bahwa prinsip penafsiran ini merupakan titik awal yang penting dalam mempelajari Kitab Suci. Martin Luther melihat kegagalan untuk membedakan Hukum Taurat dan Injil yang semestinya sebagai sumber penghalang Injil Yesus Kristus di Gereja pada masanya, yang pada gilirannya menyebabkan munculnya berbagai kesalahan teologis yang dogmatis.

Selanjutnya Luther memimpin gerakan reformasi gereja. Munculnya gerakan reformasi ini dilatarbelakangi adanya perbedaan antara ajaran atau teologi dan praktek gereja dengan ajaran Alkitab. Peristiwa reformasi dipicu oleh adanya penjualan surat penghapusan siksa (aflat) di Jerman oleh Johann Tetzel. Sebenarnya tujuan penjualan surat-surat aflat itu adalah untuk mengumpulkan dana bagi pembangunan gedung gereja (basilika) Santo Petrus di Roma, tetapi tujuan itu dibungkus dengan “bahasa rohani” yang berisi janji palsu sekaligus ancaman, seakan-akan dengan membeli surat itu manusia akan lebih terjamin keselamatannya.

Di lain pihak juga, pernikahan Martin Luther dengan Katharina von Bora menimbulkan gerakan pernikahan imam di kalangan banyak tradisi Kristen. Martin Luther menikah dengan Katharina von Bora, seorang mantan biarawati, pada 13 Juni 1525. Pasangan ini mendapatkan enam orang anak, tiga laki-laki dan tiga perempuan:
Hans, lahir pada 7 Juni 1526, belajar hukum, menjadi pejabat hukum dan meninggal pada 1575.
Elizabeth, lahir pada 10 Desember 1527 dan meninggal pada usia sangat muda pada 3 Agustus 1528.
Magdalena, lahir 5 Mei 1529, meninggal di dalam pelukan ayahnya pada 20 September 1542. Kematiannya merupakan pukulan yang sangat hebat bagi Luther dan Katharina.
Martin, Jr., lahir 9 November 1531, belajar teologi tetapi tidak pernah dipanggil menjadi pendeta hingga ia meninggal pada 1565.
Paul, lahir 28 Januari 1533, menjadi dokter. Ia mempunyai enam orang anak hingga ia meninggal pada 1593. Garis keturunan laki-laki keluarga Luther berlanjut melalui dia kepada John Ernest, yang berakhir pada 1759.
Margaretha, lahir 17 Desember 1534, menikah dengan George von Kunheim, keturunan keluarga bangsawan Persia yang kaya, tetapi meninggal pada 1570 pada usia 36 tahun. Keturunannya berlanjut hingga sekarang.


Pertikaian Indulgesia

Selain tugas-tugasnya sebagai seorang profesor, Martin Luther melayani sebagai pengkhotbah dan penerima pengakuan dosa di Gereja Kastil. Gereja ini berfungsi sebagai biara Augustinian dan universitas. Dalam melakukan tugas-tugas inilah pastor muda itu diperhadapkan dengan berbagai akibat yang timbul ketika orang biasa harus mendapatkan indulgensia. Indulgensia adalah penghapusan dari hukuman sementara yang masih ada bagi dosa-dosa setelah kesalahan seseorang dihapuskan melalui absolusi. Saat itu terjadi penyalahgunaan indulgensia oleh oknum-oknum Gereja, yaitu sebuah indulgensia dapat dibeli seseorang untuk dirinya sendiri ataupun untuk salah seorang sanak keluarga yang sedang berada di api penyucian. Johann Tetzel, seorang imam Dominikan, ditugasi berkeliling di seluruh wilayah keuskupan Uskup Agung Albert dari Mainz untuk mempromosikan dan menjual indulgensia untuk merenovasi Basilika St. Petrus di Roma. Tetzel sangat berhasil dalam hal ini. Ia menganjurkan: "Begitu mata uang bergemerincing di dalam kotak, jiwa yang sedang menanti di api penyucian pun akan terlepas".

Martin Luther menganggap penjualan indulgensia ini sebagai penyelewengan yang dapat menyesatkan umat sehingga mereka hanya mengandalkan indulgensia itu saja dan mengabaikan pengakuan dosa dan pertobatan sejati. Martin Luther menyampaikan tiga khotbah menentang indulgensia ini pada 1516 dan 1517. Selanjutnya, untuk menentang propaganda Tetzel, Luther menyusun 95 dalil, lalu ditempel pada pintu gerbang gereja di Wittenberg pada tanggal 31 Oktober 1517 (tanggal inilah yang kita peringati sebagai hari Reformasi ). Dalil- dalil itu merupakan ungkapan pengalaman dan pergumulan Luther sendiri, jadi tidak bersifat teoritis. Di dalam dalil-dalilnya, Luther menentang perkataan Tetzel. Luther tidak menyetujui adanya surat penghapusan siksa yang menyatakan perdamaian dan pengampunan dosa dapat dibeli dengan uang, tanpa penyesalan dan pertobatan, bahkan tanpa sakramen. Martin Luther sekaligus menegaskan bahwa penyesalan sejati bukanlah perkara yang dapat seseorang bereskan setelah memenuhi syarat-syarat yang ditentukan oleh imam setelah pengakuan dosa, seperti misalnya mengucapkan doa Bapa kami sekian banyak kali. Bagi Martin Luther, penyesalan dan pertobatan itu berlangsung seumur hidup. Martin Luther mengeluarkan bantahan teologis tentang apa yang dapat dihasilkan oleh indulgensia itu. Martin Luther tidak menantang wewenang Paus untuk mengeluarkan indulgensia dalam dalil-dalilnya itu. Ke-95 dalil itu ditulis dalam bahasa Latin namun segera diterjemahkan oleh para mahasiswanya ke dalam bahasa Jerman dan dalam waktu singkat sudah tersebar ke seluruh Eropa. Ini adalah salah satu peristiwa pertama dalam sejarah yang dipengaruhi secara mendalam oleh mesin cetak, yang membuat distribusi dokumen lebih mudah dan meluas. Para pemimpin gereja mendakwa Martin Luther sebagai penyesat. Paus menuntut Martin Luther untuk mencabut ajarannya. Martin Luther diminta bertobat. Martin Luther harus diadili.

Jawaban Paus

Setelah meremehkan Martin Luther sebagai "seorang Jerman mabuk yang menulis dalil-dalil itu" yang "bila ia kembali sadar, ia akan berubah pikiran," Paus Leo X memerintahkan Sylvester Mazzolini, seorang profesor Teologi Dominikan, yang juga dinamai Prierias, sesuai dengan nama tempat kelahirannya Priero, pada 1518, untuk menyelidiki masalahnya. Prierias mengenali perlawanan Martin Luther yang tersirat terhadap kewibawaan paus. Karena itu ia menyatakan Martin Luther sebagai penyesat, dan menulis bantahan ilmiah terhadap dalil-dalilnya. Bantahan ini menegaskan kewibawaan Paus terhadap Gereja dan menolak setiap penyimpangan yang dianggap sebagai ajaran sesat. Martin Luther menjawab dalam cara yang sama, sehingga berkembanglah suatu polemik.

Sementara itu, Martin Luther ikut serta dalam sebuah pertemuan biarawan Augustinian di Heidelberg. Di sana ia menyajikan tesisnya tentang perbudakan manusia di dalam dosa dan tentang anugerah Allah. Dalam pertikaian mengenai indulgensia, muncullah pertanyaan tentang kekuasaan dan wewenang mutlak Paus, karena doktrin tentang "Khazanah Gereja," "Khazanah Jasa," yang mendasari doktrin dan praktik indulgensia, didasarkan pada Bula Unigenitus (1343) dari Paus Clemens VI. Karena perlawanannya terhadap doktrin itu, Martin Luther dicap sesat, dan Paus, yang telah bertekad untuk menekan pandangan-pandangannya, memanggilnya ke Roma.

Namun karena mengalah kepada Frederick sang Pemilih, yang diharapkan oleh Paus akan menjadi Kaisar Romawi Suci berikutnya dan yang tidak rela berpisah dengan teolognya, Paus tidak menekan masalahnya lebih jauh. Kardinal Kayetanus diutus Paus untuk menerima janji ketaatan Martin Luther di Augsburg (Oktober 1518).

Martin Luther, meskipun secara tersirat mengaku taat kepada Gereja, kini dengan berani menyangkal kewibawaan Paus, dan naik banding pertama-tama "dari Paus yang kurang pengetahuan kepada Paus yang mestinya lebih tahu" dan kemudian (28 November) kepada konsili umum. Martin Luther kini menyatakan bahwa lembaga kepausan bukanlah bagian dari hakikat Gereja yang asli dan yang tidak dapat berubah.

Karena ingin tetap memelihara hubungan baik dengan Martin Luther, Paus membuat upaya terakhir untuk menyelesaikan konfliknya dengan Martin Luther secara damai. Sebuah konferensi dengan pejabat tinggi kepausan, Karl von Miltitz di Altenburg pada Januari 1519 membuat Martin Luther sepakat untuk berdiam diri dan lawan-lawannya pun demikian, menulis sebuah surat yang rendah hati kepada Paus, dan menyusun sebuah risalah yang membuktikan rasa hormatnya kepada Gereja Katolik. Surat itu ditulis, namun tidak pernah dikirim, karena tidak mengandung pernyataan bahwa Martin Luther menarik ajaran-ajarannya. Dalam risalah bahasa Jerman yang ditulisnya belakangan, Martin Luther, meskipun mengakui api penyucian, indulgensia, dan pemanggilan kepada orang-orang kudus, menolak seluruh manfaat indulgensia terhadap api penyucian.

Ketika Johann Eck menantang rekan Martin Luther, Carlstadt, untuk berdebat di Leipzig, Martin Luther bergabung di situ (27 Juni–18 Juli 1519). Sementara debat berlangsung Martin Luther menyangkal hak ilahi jabatan dan wewenang kepausan, dan berpendapat bahwa "kuasa atas kunci-kunci itu" telah diserahkan kepada Gereja (yaitu, jemaat yang setia). Ia menyangkal bahwa keanggotaan dalam Gereja Katolik di bawah Paus merupakan prasyarat bagi keselamatan, dan berpegang pada keabsahan Gereja (Ortodoks) Yunani. Setelah perdebatan itu, Johann Eck mengklaim bahwa ia telah memaksa Martin Luther untuk mengakui bahwa doktrinnya sama dengan doktrin Jan Hus yang telah dihukum mati dengan dibakar. Eck menganggap bahwa hal ini membuktikan klaimnya sendiri bahwa Martin Luther adalah "si Hus dari Saxon" dan gembong penyesat.

Luther memberi judul (dalam bahasa Inggris) The Disputation of Doctor Martin Luther on the Power and Efficacy of Indulgences, dan mengkritik dalamnya ajaran Gereja mengenai asas menghapuskan dosa, kuasa Paus dan lain sebagainya.

Kajian mengenai Surat Paulus, terutamanya surat kepada jemaat di Roma memberikan kesan kepada Martin Luther akan asas sola fide (hanya karena iman). Hanya imanlah yang dapat menyelamatkan manusia yang diberikan Tuhan berdasarkan anugerahnya (sola gratia) kepada manusia seperti yang dijelaskan menurut Alkitab (sola scriptura). Martin Luther sangat menentang ajaran gereja pada saat itu yang dianggapnya menawarkan keselamatan dengan murah dengan cara menjual surat-surat penghapusan dosa (indulgensia).

Pada mulanya Martin Luther percaya bahwa dia akan dapat memperbarui Gereja Roma dari dalam dengan dalil-dalilnya tetapi Paus menganggap pendapatnya sesat dan mengucilkannya. Pada bulan Oktober Martin Luther membakar ijazahnya di tempat umum dan menunjukkan kesungguhannya bahwa dia tidak akan taat kepada Gereja kecuali mereka menurut kata-katanya.

Pada tanggal 22 Januari 1521 Kaisar Charles V meresmikan persidangan imperial Diet of Worms. Dalam sidang ini merupakan peluang terakhir Luther untuk mengakui bahwa apa yang diajarkannya adalah salah. Namun Luther tetap bersikukuh untuk mempertahankan ajarannya. Selepas persidangan Diet, Luther dinyatakan sebagai orang buangan oleh Diet, sehingga orang-orang Jerman dilarang untuk memberinya makanan atau tempat tinggal dan membolehkan siapa saja untuk membunuh Martin Luther tanpa diberikan hukuman bagi orang yang membunuhnya. Dengan bantuan rekannya, Martin Luther akhirnya dibawa secara diam-diam oleh penunggang kuda bertopeng, dan iapun dibawa ketempat tinggal yang baru, yaitu kastil Wartburg, berdekatan dengan Erfurt.

Selama berada dalam kastil tersebut, pada tahun 1529, Martin Luther mengajukan kanon Palestina yang menetapkan 39 kitab dalam bahasa Ibrani sebagai kanon Perjanjian Lama. Martin Luther mencari pembenaran dari keputusan konsili Jamnia (yang adalah konsili imam Yahudi, jadi bukan sebuah konsili Gereja Kristen!) bahwa tujuh kitab yang dikeluarkan dari Perjanjian Lama tidak memiliki kitab-kitab aslinya dalam bahasa Ibrani. Luther melakukan hal tersebut sebenarnya karena sejumlah ayat-ayat yang terdapat pada kitab-kitab tersebut justru mengokohkan doktrin-doktrin Gereja Katolik dan bertentangan dengan doktrin-doktrin baru yang dikembangkan oleh Martin Luther sendiri.

Oleh karena alasan yang serupa, Martin Luther juga nyaris membuang beberapa kitab-kitab lainnya: surat Yakobus, surat Ibrani, kitab Ester dan kitab Wahyu. Hanya karena bujukan kuat oleh para pendukung kaum reformasi Protestan yang lebih konservatif maka kitab-kitab tersebut tetap dipertahankan dalam Alkitab kaum Protestan. Namun demikian, tidak kurang Martin Luther menghujat bahwa surat Yakobus tidak pantas dimasukkan dalam Alkitab.

Setelah rangkaian perdebatan dan pengadilan, sejak 1520 Martin Luther lebih banyak memusatkan perhatian pada penulisan buku ataupun diktat, yang memuat serangkaian pandangan dan  gagasan baru. Sasaran utama reformasi atau pembaharuan yang dicanangkan Martin Luther adalah pembaharuan ajaran. Martin Luther memberikan dasar-dasar ajarannya sendiri dengan rekannya Philip Melanchton. Selama tahun 1531 hingga 1546 kesehatan Martin Luther semakin memburuk, hal ini disebabkan kelelahan yang dideritanya akibat perlawanannya terhadap gereja Katolik Roma. Akhirnya pada tanggal 18 Februari 1546 Martin Luther menghembuskan nafasnya yang terakhir.

Pokok-pokok Ajaran Martin Luther

Untuk mendapatkan gelar-gelar akademik dan bahan-bahan yang diajarkan untuk kuliah, mengharuskan Martin Luther mengkaji alkitab lebih mendalam. Karena terpengaruh seruan humanisme ad fontes “kembali kepada sumbernya”, maka Martin  Luther kembali mempelajari lebih mendalam Alkitab dan birokrasi gereja. Sehingga kata kebenaran dan penyesalan tidak lagi asing dalam benaknya, selain itu kedua kata tersebut mendapatkan makna baru bagi Martin Luther, sehingga iapun menjadi yakin bahwa selama ini gereja telah keliru tentang doktrin pembenaran hanya melalui iman semata. Luther akhirnya mulai mengajarkan bahwa keselamatan ialah anugerah dari Tuhan semata, yang diberikan melalui perantara kristus yang akhirnya diterima melalui iman. Dalam artikelnya ia juga menjelaskan bahwa konsep keadilan ialah sebagai berikut:

Jesus Christ, our God and Lord, died for our sins and was raised again for our justification (Romans 3:24-25). He alone is the Lamb of God who takes away the sins of the world (John 1:29), and God has laid on Him the iniquity of us all (Isaiah 53:6). All have sinned and are justified freely, without their own works and merits, by His grace, through the redemption that is in Christ Jesus, in His blood (Romans 3:23-25). This is necessary to believe. This cannot be otherwise acquired or grasped by any work, law or merit. Therefore, it is clear and certain that this faith alone justifies us ... Nothing of this article can be yielded or surrendered, even though heaven and earth and everything else falls (Mark 13:31)

Selain itu Martin Luther juga mendefinisikan dan memperkenalkan kembali prinsip tentang pembedaan yang semestinya antara Hukum Taurat dan Injil yang mendasari teologinya tentang anugerah. Secara keseluruhan, Martin Luther percaya bahwa prinsip penafsiran ini merupakan titik awal yang penting dalam mempelajari Kitab Suci. Ketidakpuasan dan keluhan-keluhan Martin Luther terhadap Gereja Katolik Roma timbul secara bertahap. Di tahun 1510 Martin Luther melakukan lawatan ke Roma yang membuatnya terbengong-bengong kaget bukan kepalang menyaksikan pemborosan dan kemewahan duniawi para pastor gereja Katolik. Titik ketidakpuasan tersebut akhirnya  mencapai puncaknya ketika pada tahun 1516 sampai dengan tahun 1517, ketika Johann Tetzel seorang imam Dominikan, ditugasi berkeliling di seluruh wilayah keuskupan Uskup Agung Albert dari Mainz, untuk mempromosikan dan menjual indulgensia untuk merenovasi Basilika St. Petrus di Roma.

Untuk mendukung salah satu doktrinnya yang terkenal yaitu Sola Fide (bahwa kita dibenarkan hanya oleh iman saja), dalam Alkitab terjemahan bahasa Jerman, Martin Luther menambahkan kata 'saja' pada surat Roma 3:28. Sehingga ayat tersebut berbunyi: "Karena kami yakin, bahwa manusia dibenarkan karena iman saja, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat". Tidak heran kalau Martin Luther menghujat surat Rasul Yakobus dan berusaha untuk membuangnya dari Perjanjian Baru, karena justru dalam surat Yakobus ada banyak ayat yang menjatuhkan doktrin Sola Fide yang diciptakan oleh Martin Luther tersebut. Antara lain, dalam Yakobus 2:14-15 tertulis: "Apakah gunanya, saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan, bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan? Dapatkah iman itu menyelamatkan dia?" dan Yakobus 2:17 "Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati" dan Yakobus 2:24 "Jadi kamu lihat, bahwa manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman."

Beberapa pokok ajaran yang dikembangkan Luther adalah:

Sola Scriptura, Sola Gratia, Sola Fide

Dalam ajaran Luther ada tiga semboyan “sola scriptura” (hanya Alkitab), Firman menjadi dasar kehidupan sehari-hari. ”sola gratia” (hanya anugerah), dan “sola fide” (hanya iman). Pengampunan dosa disediakan oleh Allah karena anugerah-Nya melalui pengorbanan Kristus dan diterima dengan iman, bukan karena usaha manusia.

Sakramen

Luther hanya mengakui dua sakramen yaitu baptisan kudus dan perjamuan kudus. Kedua sakramen itu mempunyai dasar Alkitab yang ditetapkan oleh Kristus sendiri.

Jabatan dan Tata Gereja

Semua orang percaya memiliki jabatan imamat am. Jabatan imam itu diterima berdasarkan kematian dan kebangkitan Kristus. Jabatan imam dalam Perjanjian Lama telah disempurnakan, digenapi sekaligus diakhiri oleh Tuhan Yesus Kristus. Untuk datang kepada Tuhan, seseorang tidak memerlukan lagi perantara (imam), baik untuk memanjatkan doa maupun untuk mempersembahkan korban. Yesus Kristus telah menjadi imam sekaligus korban yang sempurna sekali untuk selama-lamanya. Jadi imam adalah fungsi pelayan yang meneladan Kristus, bukan jabatan.

Tata Ibadah

Ibadah berpusat pada kotbah, bukan pada perjamuan kudus (ekaristi). Dalam setiap Minggu harus ada pemberitaan Firman yang murni (hanya dari Alkitab), sedangkan perjamuan kudus tidak selalu diadakan pada setiap ibadah Minggu melainkan tergantung gereja masing-masing sesuai dengan situasinya.

Beberapa tulisan yang menjelaskan ajaran yang dikembangkan Martin Luther dihimpun dalam Kitab Konkord. Ajaran Luther menjadi acuan pokok dalam perumusan ajaran dan tata gereja Lutheran. Setelah beberapa dasa warsa, gereja-gereja Lutheran, khususnya di Jerman, telah menjadi gereja yang mapan, ajarannya terumus lengkap, organisasinya mantap dan mendapat dukungan penuh dari negara. 

Peristiwa reformasi yang dipimpin oleh Martin Luther  mengingatkan bahwa pembaharuan gereja harus terus menerus dilakukan. Kesadaran inilah yang melahirkan semboyan reformasi: “ecclesia reformata sed semper reformanda” (gereja yang dibaharui harus terus menerus dibaharui ).

     
PERBEDAAN ANTARA HUKUM TAURAT DAN INJIL

Menurut Martin Luther, seorang teolog sejati harus mampu membedakan fungsi Hukum Taurat dengan Injil. Dalam tafsirannya terhadap Surat Galatia (tahun 1531), Luther mengatakan, “Barangsiapa yang dapat dengan jelas membedakan antara Injil dan Hukum Taurat harus bersyukur kepada Tuhan dan dia adalah seorang theolog yang sejati.”

Seperti yang kita ketahui, Luther menempatkan doktrin pembenaran hanya oleh iman sebagai prinsip dasar dari sistem theologinya. Ia memandang bahwa perbedaan fungsi Hukum Taurat dengan Injil adalah keharmonisan yang paling dekat dengan doktrin pembenaran oleh iman. Meskipun Luther telah membahas doktrin pembenaran hanya oleh iman, namun doktrin ini akan berkembang dengan benar dan baik jika didasarkan pada pemahaman perbedaan fungsi antara Hukum Taurat dan Injil. Berdasarkan alasan inilah maka pandangan Luther mengenai Hukum Taurat dan Injil telah menjadi masalah yang utama dalam sistem theologi Luther, meskipun Luther bukan seorang theolog sistematika seperti John Calvin dalam tulisannya.

Mengapa memahami perbedaan fungsi Hukum Taurat dengan Injil begitu penting bagi Martin Luther? Apakah hubungan Hukum Taurat dan Injil? Apakah Hukum Taurat berkontradiksi dengan Injil? Bagaimana Martin Luther menyelesaikan permasalahan antara Hukum Taurat dengan Injil?

Pembahasan tulisan ini hanya berfokus kepada relasi fungsi Hukum Taurat dengan Injil, walaupun diskusi mengenai natur dan fungsi Hukum Taurat sangat dekat sekali hubungannya dengan doktrin pembenaran oleh iman. Manusia berdosa gagal memelihara dan menaati isi Hukum Taurat sehingga mereka berada dalam murka Tuhan.

Beriman kepada Kristus, berdasarkan jasa dan kebenaran Kristus, adalah inti pembenaran hanya oleh iman. Sebab itu kedua doktrin ini sangat erat hubungannya, tetapi di sini tidak didiskusikan doktrin pembenaran hanya oleh iman. Masalah ini adalah topik diskusi yang lain dalam theologinya. Kebenaran mengenai fungsi Hukum Taurat dengan Injil adalah kebenaran yang melampaui ruang dan waktu.

Pemahaman yang benar pada doktrin ini akan membawa seseorang pada suatu kekaguman yang mendalam terhadap kasih karunia Tuhan yang dinyatakan dalam Injil. Kebenaran ini berdampak tidak hanya pada kehidupan orang percaya sekarang, tetapi juga secara eskatologis.

Kata ‘perbedaan’ yang dimaksud di sini bukan dimaksudkan sebagai suatu pemisahan atau pertentangan. Bagi Luther, Hukum Taurat tidak dapat dipertentangkan dengan Injil. Luther dalam tulisannya juga tidak bermaksud menawarkan suatu pilihan atau alternatif antara Hukum Taurat atau Injil. Ia tidak sependapat dengan kaum Antinomianisme. Yang salah mengerti bahwa orang percaya hanya membutuhkan Injil dan tidak membutuhkan hukum Taurat, sebab hukum Taurat dan Injil tidak ada hubungannya. Di samping itu, Luther juga menentang pendapat kaum Legalisme. Yang menekankan sisi hukum sebagai dasar pembenaran di hadapan Tuhan atau menambahkan hukum ke dalam Injil. Luther berpendapat bahwa demi kemurnian Injil, Hukum Taurat harus dipertahankan.

Baik Hukum Taurat maupun Injil keduanya tidak boleh ditiadakan. Di antara keduanya tidak ada yang lebih utama dari yang lain, sebab kedua hal itu saling melengkapi dan harus dibicarakan sebagai satu kesatuan pada waktu yang bersamaan. Menurut Luther, tidak seperti Agustinus, memahami perbedaan antara Hukum Taurat dengan Injil tidak hanya sekadar bahwa Hukum Taurat mendahului Injil, melainkan lebih dalam suatu pola dialektik.

Pola ini secara dinamis bergerak dari pemahaman yang baru melalui perbedaan Hukum Taurat dan Injil kepada suatu hal yang darinya dapat ditarik pemahaman lain yang baru lagi. Pemahaman ini dinamis bukan statis, yang berarti bahwa perbedaan antara Hukum Taurat dan Injil dapat dipisahkan satu dengan yang lain kemudian dapat dipersatukan kembali.

Perbedaan antara Hukum Taurat dan Injil bukan hanya membedakannya dari segi Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru atau satu bagian hanya ditujukan kepada Hukum Taurat (Perjanjian Lama) dan bagian lain hanya ditujukan kepada Injil (Perjanjian Baru). Sering kali Injil juga memiliki bagian hukum di dalamnya dan sebaliknya bagian teks Alkitab yang disebut sebagai hukum juga memiliki Injil di dalamnya, seperti sepuluh perintah Allah juga terdapat Injil.

Sepuluh perintah Allah dimulai dengan kalimat, “Akulah Tuhan Allahmu yang membawa kamu keluar dari tanah perbudakan” (Keluaran 20:1-3). Ini adalah berita anugerah keselamatan dari Tuhan yang mendasari seluruh perintah dan memberi semangat kepada orang Israel untuk hidup selaras dengan Hukum Tuhan.

Di samping itu Luther juga membedakan antara Hukum Taurat dan Injil melalui konteks proklamasi. Tetapi jangan disalah mengerti bahwa tujuan dari proklamasi adalah untuk membedakan antara Hukum Taurat dan Injil, ini bukanlah sesuatu yang utama, walaupun ada kemungkinan hal ini terjadi. Apakah dasar pemahaman Luther dalam meninjau perbedaan antara Hukum Taurat dan Injil dari sudut proklamasi?

Injil adalah berita baik yang menawarkan kasih karunia Tuhan melalui pengampunan dosa di dalam Yesus Kristus. Tetapi realitasnya adalah manusia hidup di bawah Hukum Taurat dan diperbudak olehnya. Karena itu, tanpa pengertian yang mendalam tentang kondisi manusia yang hidup di bawah Hukum Taurat, maka sulit sekali bagi manusia untuk mengerti intisari karya keselamatan Kristus.
Selain anugerah Tuhan yang dinyatakan dalam kematian dan kebangkitan Kristus, terdapat juga kenyataan bahwa di luar Hukum Taurat, manusia akan sulit mengerti kebesaran dari karya Kristus bagi orang berdosa.

Sebab itu proklamasi tentang Hukum Taurat yang memaparkan kondisi keberdosaan, ketidakberdayaan, dan keterkutukan manusia tidak dapat menyelamatkan manusia berdosa tanpa sekaligus mengaitkannya atau bersamaan dengan proklamasi Injil dan anugerah Tuhan di dalam Yesus Kristus.  Hukum Taurat telah menempatkan manusia di bawah kutuk dan penghakiman Tuhan, namun pengenalan pada kondisi tersebut akan memberikan pengharapan untuk datang kepada Injil. Perbedaan antara Hukum Taurat dan Injil dapat diidentikkan dengan perbedaan yang harus ditarik dari apa yang membuat manusia menjadi benar dan sungguh diselamatkan. Jika diperhatikan sungguh-sungguh, memang pada kenyataannya ada perbuatan manusia secara umum yang bisa disebut kebenaran, tapi semua perbuatan itu bukanlah kebenaran yang mendatangkan damai sejahtera dalam hati nurani dan kepastian keselamatan.

Kebenaran yang diajarkan oleh Alkitab, baik ditinjau secara mendasar atau hanya penampakan, sangat berbeda dengan kebenaran secara umum. Kebenaran dalam ajaran Alkitab adalah kebenaran pasif, melalui pembenaran hanya oleh iman, bukan kebenaran yang aktif, melalui segala usaha manusia untuk menjadi benar. Kebenaran yang pasif artinya kebenaran yang dikaruniakan oleh Tuhan atau kebenaran yang berada di luar diri manusia sendiri, yaitu kebenaran Kristus yang dikaruniakan kepada manusia berdosa hanya melalui iman kepada Dia. Kebenaran ini didasarkan pada apa yang Allah kerjakan melalui Yesus Kristus bukan apa yang manusia usahakan. Dari sudut pandang ini, manusia harus mengabaikan sisi kebenaran aktif dan memusatkan diri kepada Injil.

     
HUKUM ALAMIAH DAN HUKUM TAURAT

Hukum alamiah yang dimaksudkan di sini bukanlah hukum alam yang mengatur keteraturan universal, melainkan Hukum Allah yang secara alamiah berada dalam diri manusia sejak penciptaan. Manusia mengenal Hukum Allah sejak penciptaan atau sebelum Hukum Taurat dikaruniakan oleh Tuhan kepada Musa, sebab Allah telah menempatkan Hukum-Nya di dalam hati manusia, dan hukum ini disebut hukum alamiah. Luther mengajarkan doktrin ini menurut Roma 2:14-16, di mana Paulus mengatakan bahwa orang bukan Yahudi yang tidak mempunyai Hukum Allah secara tertulis dapat mengenal Hukum itu di dalam hatinya. Sebab itu semua manusia tidak dapat menolak keberadaan Hukum Allah.

Hukum alamiah dasar kewajibannya ditinjau dari dua hal, yang pertama kewajiban kepada Tuhan. Karena hukum alamiah ini, maka semua manusia baik sadar atau tidak sadar memiliki rasa keagungan kepada Pribadi yang dianggap lebih tinggi daripadanya sehingga rasa hormat itu menuntunnya untuk beribadah kepada illah atau Allah. Kedua kewajiban kepada sesama.

Dari sudut keberadaan Hukum Allah secara alamiah ini, maka ada dua kewajiban manusia sebagai ciptaan-Nya untuk mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama seperti diri sendiri. Sebab itu, di sini terdapat keserasian esensi antara hukum alamiah dengan Hukum Taurat Musa yang diberikan Allah di Gunung Sinai (bdk. Keluaran 6:1-5).

Kalau memang Tuhan telah menaruh Hukum-Nya ke dalam hati manusia sejak penciptaan, mengapa Ia perlu mewahyukan Hukum Taurat? Apakah fungsi dari Hukum Taurat yang tertulis itu? Apakah relasi Hukum Taurat yang tertulis dengan yang tidak tertulis?

Hukum Allah diberikan melalui tiga tahap, yaitu tahap pertama, Hukum Allah secara alamiah. Hukum ini dimiliki oleh semua manusia baik Yahudi maupun bukan Yahudi. Tahap kedua, Tuhan memberikan Hukum Taurat kepada Musa atau kepada bangsa Yahudi sebagai suatu tindakan wahyu khusus. Dan tahap terakhir, Kristus sendiri mewahyukan Hukum-Nya.

Hukum Taurat yang diberikan kepada Musa mengungkapkan kehendak Tuhan. Karena itu, pada dasarnya Hukum Taurat dikaruniakan bukan untuk menghancurkan manusia, tetapi agar melaluinya manusia dimungkinkan untuk mengenal diri sendiri dan mengenal kehendak Tuhan, sebab pencemaran dosa mengakibatkan kekaburan Hukum Allah yang tidak tertulis secara objektif tetapi ada di dalam hati manusia. Luther percaya bahwa Hukum Tuhan itu bersifat kudus, baik dan rohani.

Paul Althaus mengatakan bahwa seluruh isi Hukum Taurat adalah kehendak Tuhan yang kekal dan keselamatan manusia terletak pada pengenapan Hukum itu.

Berdasarkan Roma 7:10, Luther berkomentar bahwa Hukum Allah diberikan untuk ‘kebaikan’ dan ‘kehidupan’. Setiap Hukum Allah terdiri dari dua hal yang berguna, yaitu janji dan penuntun perilaku. Tuntutan Hukum Taurat adalah kesucian hidup, sebab itu Hukum mengajarkan apa yang harus diperbuat oleh manusia dan bukan melakukan Hukum itu supaya selamat. Hukum Allah mengungkapkan apa yang harus diberikan dan dilakukan untuk memuliakan Dia.

Melalui tuntutan Hukum Taurat ini, sebenarnya tidak ada seorang pun yang telah memenuhi dan menaati Hukum itu dengan sempurna menurut pandangan Tuhan. Rasul Paulus mengatakan tentang kondisi manusia sebagai berikut, “Tidak ada yang benar, seorangpun tidak. Tidak ada yang berakal budi, tidak ada seorangpun yang mencari Tuhan. Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna, tidak ada orang telah berbuat baik, seorangpun tidak” (Roma 3:11-12).

Menurut Luther, Hukum Taurat itu dikaruniakan kepada umat Allah yang telah berada dalam perjanjian anugerah dengan Tuhan. Esensi dan fungsi Hukum Taurat harus ditinjau atau dimengerti dalam konteks perjanjian anugerah antara Allah dengan umat-Nya, bukan antara Allah dengan manusia yang berada di luar perjanjian Tuhan. Sebab itu tujuan utama dari Hukum itu adalah untuk menjaga kesucian umat Tuhan yang telah diteguhkan kehendaknya dengan anugerah Tuhan untuk menaati Hukum tersebut. Peraturan Hukum Taurat adalah suatu tuntutan kesucian bagi umat Tuhan, sedangkan bagi mereka yang hidup di luar perjanjian Tuhan, Hukum-Nya mendatangkan penghakiman.

     
DWIFUNGSI HUKUM TAURAT

Sebelum menjelaskan lebih jauh tentang fungsi Hukum Taurat, kita perlu mempresentasikan pemahaman Luther tentang kondisi manusia setelah kejatuhan. Sebab bagi Luther tanpa pemahaman yang benar tentang kondisi kejatuhan manusia, kita mungkin bisa mengarah kepada pemahaman yang keliru tentang fungsi utama Hukum Taurat dan sifat dasar Injil.

Luther berkeyakinan penuh bahwa pencemaran dosa mencakup berbagai aspek, seperti rasio, kehendak, emosi, dan perbuatan. Semua manusia telah berdosa di hadapan Tuhan. Fakta kejatuhan Adam dan akibat kejatuhan itu bagi keturunannya telah menimbulkan kerusakan total yaitu pencemaran baik internal maupun eksternal. Persoalannya adalah bagaimana manusia bisa mengenal diri sendiri sesuai dengan kondisinya, atau sebagai ciptaan Tuhan yang telah terasing dengan Tuhan dan sesamanya.

Perbedaan antara Hukum Taurat dan Injil terletak pada Hukum itu sendiri, bukan terletak pada Injil, sebab Injil hanya mempunyai fungsi tunggal, sedangkan Hukum Taurat itu mempunyai lebih dari satu fungsi. Injil diwahyukan oleh Tuhan untuk menggenapi Hukum Taurat, bukan Hukum itu ditambahkan kepada Injil. Karena itu, tanpa Hukum Taurat, maka Injil akan mengalami kehilangan makna. Meskipun demikian, baik Injil maupun Hukum Taurat adalah firman Tuhan.

Luther berargumentasi bahwa Hukum Taurat mempunyai dwifungsi, yaitu politis/sipil dan theologis/rohani. Fungsi hukum politis atau sipil adalah untuk mencegah penyebaran dosa dan kejahatan yang dikontrol oleh Iblis di dalam masyarakat. Fungsi Hukum Taurat mengatur kesejahteraan sosial, pendidikan, dan bahkan keteraturan pemberitaan Injil. Hukum ini terwujud dalam bentuk institusi Tuhan seperti pejabat pemerintah, guru, orangtua dan juga hukum sipil. Manusia pada dasarnya bisa mengenapi fungsi Hukum Taurat ini, dan sebab itu Hukum Tuhan dalam pengertian politis bisa menghasilkan kebenaran sipil.

Tetapi penggenapan kebenaran ini tidak dapat membuat seseorang diperhitungkan sebagai orang yang benar di hadapan Allah, karena manusia dalam segala kapasitasnya tidak mampu mengenal Tuhan yang benar.

Fungsi kedua Hukum Taurat adalah rohani. Fungsi ini sangat berbeda secara mendasar dengan fungsi Hukum Taurat dari segi politis. Fungsi Taurat secara rohani adalah fungsi yang sejati, paling tinggi, dan mendasar dalam relasi dengan pemahaman Injil. Hukum Taurat menuntut kemurnian hati, ketaatan yang sempurna, ketakutan dan kasih kepada Tuhan. Penggenapan Hukum Taurat ini bersifat internal. Hal ini harus digenapi sebelum kejatuhan, namun manusia telah gagal, sebab itu Hukum Taurat tidak mampu menolong manusia untuk menjadi benar melalui ketaatan. Hukum Taurat merefleksikan kenyataan keberdosaan. Sebab itu tujuan Hukum Taurat adalah untuk memampukan manusia memandang dirinya sendiri, kondisi kejatuhannya, dan ketidakmampuan naturnya. Luther dalam khotbahnya secara jelas mengatakan bahwa keberadaan Hukum Taurat secara terus menerus mengungkapkan diri kita sebagai manusia berdosa yang telah melanggar Hukum-Nya dan harus menghadapi kematian dan neraka.

Tatkala manusia menyadari ketidakmampuannya dalam menggenapi atau menjaga Hukum Allah, maka mereka senantiasa dituntut oleh Hukum itu untuk menebus kesalahan, di samping itu mereka berhadapan dengan suatu kenyataan, yaitu kemarahan dan penghukuman Tuhan. Sebab itu manusia menjadi tidak berdaya dengan dosanya.

Luther menggunakan tiga alegori untuk menjelaskan tiga sikap manusia terhadap Hukum Allah yang melampaui kapasitasnya untuk taat, dan tiga sikap tersebut tertuang dalam gambaran dari tindakan Musa:

Musa menghancurkan 10 perintah Tuhan tatkala bangsa Israel menyembah lembu emas (Keluaran 32:19).
Hal ini menggambarkan sikap manusia yang tidak mau menerima Hukum Tuhan sama sekali dan berusaha menghancurkannya.
Musa membawa 10 perintah Tuhan yang baru dan diterima oleh orang Yahudi, namun kulit muka Musa bersinar, sehingga Harun dan seluruh bangsa Israel tidak berani mendekat dan memandang wajah Musa.
Hal ini menggambarkan sikap kedua dari manusia yang menerima Hukum Tuhan namun hanya mengamati segi luar Hukum-Nya. Hal ini disebabkan kemunafikan telah menutupi kemuliaan Hukum Allah.
Yosua menjadi penerus Musa untuk menjadi peminpin bangsa Israel. Ia meminpin bangsa Israel melewati sungai Yordan menuju tanah Perjanjian yaitu tanah Kanaan. Karena itu Yosua adalah tipe Kristus yang akan datang untuk memimpin bangsa Israel melalui iman menggenapi seluruh Taurat Tuhan.

Karena tuntutan Hukum Taurat maka seluruh umat manusia berada dalam kutukan dan penghakiman Tuhan. Sebab itu Luther mengatakan bahwa segala sesuatu tanpa iman adalah berada di bawah kutukan. Hukum Allah tidak mampu menyelamatkan manusia dari kutukan karena Hukum Allah tidak memberikan kuasa kepada manusia.

Hukum Taurat hanya akan efektif bila digenapi oleh manusia sebelum kejatuhan, bukan setelah kejatuhan. Setelah kejatuhan, Hukum Taurat tidak digenapi oleh manusia dan melaluinya mereka dibenarkan oleh Allah. Kebenaran ini adalah fungsi Hukum Taurat, melalui Hukum Taurat, dosa dan penghakiman Tuhan semakin jelas dinyatakan.

Mengapa Tuhan mewahyukan Hukum Taurat? Mengapa Allah membebankan Hukum Taurat ke atas bahu manusia jikalau Hukum Allah tidak mengaruniakan hidup? Sebagaimana telah dibahas di atas bahwa pembenaran di hadapan Tuhan atas orang berdosa tidak dapat dicapai melalui ketaatan kepada Hukum Taurat, lalu apakah kegunaan Hukum Taurat?  Luther menekankan bahwa esensi Hukum Taurat itu benar, baik, dan rohani. Dilihat dari sudut sifat dasar Hukum Taurat, maka persoalan utama bukanlah terletak pada Hukum Allah itu sendiri, melainkan pada ketidakmampuan manusia dalam memenuhi tuntutan Hukum Allah. Sebab itu jika ditinjau dari sudut negatif, maka fungsi Hukum Taurat adalah memaparkan kondisi keberdosaan dan murka Allah. Tetapi ditinjau dari sudut positif, Hukum Taurat mengarahkan atau meminpin kepada pengharapan keselamatan melalui pembenaran hanya oleh iman dalam Kristus. Hukum Taurat diberikan supaya manusia memiliki kesungguhan hati menantikan benih janji Tuhan.

Kristus adalah Allah dan manusia sejati. Sebagai manusia yang sempurna, Ia telah menggenapi seluruh Hukum Taurat melalui ketaatan-Nya yang sempurna di atas kayu salib.  Berita sentral dari Injil adalah pribadi dan karya Kristus. Di dalam Kristus, Allah mengampuni dosa dan mengaruniakan hidup yang kekal baik saat ini maupun di masa yang akan datang. Sebab itu Kristus telah menyelamatkan manusia dari kutukan Hukum Taurat. Ia sendiri telah menjadi kutuk bagi mereka yang hidup di bawah Taurat, dosa, dan kejahatan.

Pada kenyataannya dalam Alkitab, Hukum Taurat mendahului Injil. Sebab itu Hukum Taurat memimpin manusia untuk percaya kepada Injil. Di satu pihak Hukum Taurat telah membawa seluruh umat berada dalam kutukan dan penghakiman Tuhan, namun di lain pihak. Taurat Tuhan itu juga telah memimpin manusia untuk menerima anugerah Tuhan melalui iman saja. Sebab itu barangsiapa yang percaya pada Kristus, mereka tidak berada di bawah Hukum Taurat lagi, tetapi berada di dalam anugerah Tuhan.

Anugerah Tuhan telah membuat manusia hidup harmonis dengan Hukum-Nya, karena Kristus telah menggenapi seluruh Hukum Taurat, sehingga Hukum Taurat tidak bertentangan lagi dengan manusia, karena dalam Kristus Hukum Allah berada di sisi manusia.

Di dalam dwifungsi Hukum Taurat sering terjadi 3 salah pengertian, yaitu pertama, memahami dwifungsi Hukum Taurat dalam dua kelompok manusia yang berbeda, yaitu fungsi Hukum Allah atas kelompok kafir dan atas kelompok umat yang telah diselamatkan.

Perlu diketahui bahwa manusia yang berada dalam Kristus adalah sekaligus orang berdosa dan orang benar pada saat yang bersamaan. Sebab itu dwifungsi Hukum Taurat tidak boleh dimengerti sebagai suatu aplikasi kepada dua kelompok manusia yang berbeda, tetapi seharusnya kepada manusia secara umum karena sama fungsinya.

Kedua, memisahkan Hukum Taurat menjadi dua bagian, yaitu hukum sipil dan rohani. Bagian yang rohani dianggap lebih tinggi daripada hukum sipil.

Ketiga, dwifungsi Hukum Taurat itu berjalan paralel satu dengan yang lain dan tidak saling berhubungan.

     
KESATUAN HUKUM TAURAT DAN INJIL

Luther telah membuat suatu perbedaan yang tajam namun tetap menekankan kesatuan dwifungsi Hukum Taurat, yaitu fungsi Hukum Taurat dari segi sipil yang menuntut kebenaran dalam masyarakat dan memberi kesadaran pada dosa dan tujuan Injil, serta fungsi Hukum Taurat dari segi rohani yang menggenapi tuntutan Hukum Taurat. Tapi Luther tetap melihat ada suatu perbedaan yang jelas antara kedudukan Hukum Taurat dengan Injil seperti yang ia katakan, “Hukum Taurat harus lebih rendah kedudukannya”

Dibandingkan dengan Injil. Argumentasi Luther adalah karena Hukum Taurat diwahyukan melalui malaikat dan nabi, namun Injil diwahyukan melalui Tuhan sendiri.  Injil mengajarkan mengenai sumber kuasa manusia untuk menaati Hukum Taurat, tetapi Hukum Taurat mengajarkan apa yang harus dilakukan untuk diperkenan Tuhan.  Injil menjanjikan keselamatan dalam Yesus Kristus, tetapi Hukum Taurat menuntut ketaatan sempurna untuk memperoleh keselamatan.  Injil berisi Kristus yang telah mati bagi dosa, Hukum Taurat berisi kehendak Tuhan yang sempurna dan penghukuman bagi mereka yang melawan Hukum itu. Hukum menuntut kesucian hati namun Injil memproklamasikan penerimaan Allah atas manusia berdosa berdasarkan jasa Kristus.

Hukum Taurat tidak pernah memberikan Roh Kudus, tapi Injil menjanjikan Roh Kudus bagi mereka yang percaya. Sebab itu Hukum Taurat tidak memberikan kuasa untuk taat seperti yang dinyatakan dalam Injil.  Hukum Taurat memperhitungkan kebenaran bagi mereka yang taat, tetapi Injil bergantung pada jasa Kristus sebagai Sumber kebenaran dan Orang benar di hadapan Allah.  Melalui Hukum Taurat, manusia mengenal dosanya sendiri dengan sempurna sedangkan melalui Injil manusia mengenal pengampunan dosa melalui kuasa darah Kristus. Sebab itu tanpa Kristus dan Roh Kudus, manusia tidak mungkin menaati Hukum Taurat.

Kebenaran Allah yang diungkapkan dalam Injil tidak sama seperti kebenaran yang diungkapkan dalam Hukum Taurat.  Hukum Taurat tidak hanya ditinjau dari sudut perbedaannya dengan Injil namun juga hubungannya dengan Injil sebagai satu kesatuan. Tidak dapat dielakkan bahwa Hukum Taurat mempunyai perbedaan yang sangat tajam dengan Injil, namun keduanya tidak dapat dipisahkan.

Perbedaan dan kesatuan ini merupakan suatu rahasia seperti apa yang dikatakan Luther, “Di dalam dunia ini tidak ada seorang pun yang mengetahui perbedaan Hukum Taurat dan Injil.” Namun kita akan mengerti perbedaan itu tatkala firman Tuhan diproklamasikan melalui khotbah, karena melalui khotbah terjadi pemberitaan Hukum Tuhan dan sekaligus Injil Kristus, dan di dalam khotbah, Roh Kudus akan bekerja membedakan dan menyatukan keduanya.

Perbedaan antara Hukum dan Injil itu harus tetap dipegang, tetapi sulit sekali memisahkan atau mengantitesis keduanya karena ada keharmonisan di antara keduanya. Pertanyaannya adalah, “Apakah kesatuan antara Hukum Taurat dan Injil itu?” Sekarang akan didiskusikan kesatuan antara Hukum Taurat dan Injil dalam dua area, yaitu relasi Hukum Taurat dan janji Allah, dan Hukum Taurat dan Injil sebagai firman Allah.

Luther mengatakan bahwa seluruh Alkitab dibagi menjadi dua bagian, yaitu perintah dan janji Tuhan. Perintah Tuhan menyatakan apa yang harus dilakukan namun tidak memberikan kuasa untuk melakukannya. Perintah itu hanya menunjukkan ketidakmampuan dan keberdosaan manusia. Tetapi di bagian kedua, Hukum Allah menekankan janji Allah. Janji Allah memberikan apa yang dituntut dalam perintah-Nya dan menggenapi apa yang ditulis di dalamnya.

Dari pemahaman ini dapat disimpulkan bahwa hanya Allah yang dapat melakukan baik tuntutan perintah-Nya maupun penggenapan perintah-Nya. Hukum tidak melawan janji Allah, sebab janji itu tidak bergantung pada Hukum Taurat. Perintah Tuhan dan janji mengarah kepada penggenapan dalam diri Sang Mediator, yaitu Kristus.

Sebab itu Luther mengatakan bahwa seluruh bapabapa dan para nabi dalam Perjanjian Lama memiliki isi dan objek iman yang sama, yaitu Kristus, dan demikian juga dengan Injil seperti yang dinyatakan oleh Paulus. Janji Allah kepada Abraham adalah janji berkat surgawi.

Seluruh bangsa Israel akan diberkati melalui Abraham jika mereka mempunyai iman dan memegang janji Allah. Janji ini mendahului Hukum Taurat yang muncul setelah 400 tahun lamanya. Allah tidak memberikan Hukum yang berkontradiksi dengan janji terdahulu melalui kesetiaan yang telah mengikat diri-Nya dengan Abraham.

Jika janji adalah untuk umat Allah yang hidup oleh iman kepada Allah, maka Hukum Taurat adalah untuk mengontrol tingkah laku umat percaya untuk berkomitmen hidup bersama Tuhan saja. Baik Hukum Taurat maupun Injil adalah firman Tuhan. Firman Tuhan datang kepada manusia dalam dua bentuk, yaitu Hukum dan Injil, dan kedua bentuk itu tidak terpisahkan.  Keduanya harus dikhotbahkan secara bersamaan dan tidak dapat dicampuradukkan. Seorang theolog yang mampu membedakan keduanya dengan benar adalah theolog yang sejati. Hukum Taurat adalah milik Injil, sehingga Hukum Taurat melayani tujuan Injil, yaitu menjanjikan dan membawa keselamatan Allah kepada manusia berdosa melalui pembenaran oleh iman saja di dalam Kristus.

Hukum itu sendiri mengekspresikan kehendak Tuhan. Sifat Hukum itu baik, benar dan rohani, namun Hukum itu tidak mampu membenarkan orang berdosa. Berdasarkan pemahaman ini, secara esensi Hukum Taurat sama dengan Injil. Inti Hukum Taurat mengajarkan untuk mengasihi Tuhan dan sesama, Injil pun menekankan hal yang sama, yaitu mengasihi Tuhan dan musuh seperti diri sendiri. Dengan kata lain, baik Hukum Taurat maupun Injil adalah satu kesatuan sebagai firman Tuhan yang mengekpresikan kasih yang sempurna dari Tuhan.

Injil adalah penggenapan Hukum Taurat. Proklamasi Injil juga adalah proklamasi Hukum Tuhan. Berdasarkan sudut proklamasi Injil dan Hukum sebagai satu kesatuan, Luther memberikan argumentasi dari dua segi:

Proklamasi Kristus adalah teladan bagi orang percaya, dan hal ini telah mewarnai karakteristik khusus proklamasi Hukum yang menyatakan kehendak Tuhan yang harus digenapi. Segala sesuatu yang menunjukkan dosa-dosa kita adalah Hukum.
Kalimat tersebut yang menjadikan nyata bahwa Kristus adalah Juruselamat sekaligus membawa pemahaman dosa. Sebab itu proklamasi Injil juga menjadi proklamasi Hukum.

Injil menyaksikan anugerah Allah dan jasa-jasa Kristus. Hal ini secara mendasar telah mengarahkan manusia untuk mengenal dosa-dosanya yang telah melawan kasih karunia Tuhan. Dalam pengertian ini, Injil adalah Hukum Tuhan. Sebab itu, Hukum Tuhan termasuk Injil, dan Injil menghasilkan Hukum Tuhan. Ketegangan Hukum dan Injil adalah pada pandangan terhadap orang berdosa. Sebab itu pengajaran Hukum Taurat dan Injil harus berjalan secara bersamaan.

Luther selalu menekankan jalan tengah antara kedua ekstrim legalisme dan antinomianisme, sebab pemberita Injil harus menekankan baik Hukum Tuhan dan Injil sebagai satu kesatuan seperti pertobatan dan kepercayaan kepada Tuhan yang hidup. Luther dalam Table Talk menekankan keseimbangan Injil dan Hukum, tetapi ia juga mengatakan bagaimana patokan keseimbangan tersebut bukanlah suatu hal yang pasti. Kristus sendiri mengkhotbahkan Hukum Tuhan dan Injil menurut konteksnya, sebab itulah kita harus menggunakan Hukum Tuhan dan Injil karena kita mempunyai keduanya. Tidak benar jika segala sesuatu ditarik hanya ke dalam Injil atau ke dalam Hukum saja.

Tentu kita tidak boleh berpikir bahwa Luther mempercayai ketidakbergunaan Hukum Tuhan bagi mereka yang telah dibenarkan dalam Kristus. Apakah alasan Luther yang mendukung bahwa Hukum Taurat masih berfungsi dalam kehidupan orang Kristen? Luther memberikan dua alasan, pertama, Luther percaya bahwa Hukum Taurat selalu terus-menerus mengingatkan manusia pada ketidakmampuannya untuk menyenangkan hati Allah melalui ketaatannya kecuali bagi mereka yang beriman kepada Kristus. Kedua, dari segi edukasi

Hukum Taurat diberikan bukan untuk tujuan pembenaran. Allah membenarkan barangsiapa yang percaya dalam Injil Yesus Kristus. Iman berperan sebagai saluran untuk menerima anugerah Tuhan. Beriman kepada Yesus Kristus berarti menerima janji Tuhan. Melalui iman, manusia percaya bahwa semua tuntutan Hukum Taurat telah digenapi oleh Yesus Kristus, karena itu mereka yang beriman telah bebas dari Hukum Tuhan. Suatu hubungan yang baru antara manusia berdosa sekaligus orang benar dengan Tuhan, mereka telah dibebaskan dari perbudakan Hukum Taurat yang memimpin kepada penghukuman Allah. Kristus sebagai Allah dan Manusia yang sejati telah menggantikan posisi penghukuman Allah atas dosa manusia, dan ini berefek pada pendamaian dengan Allah dan Allah mengaruniakan kebenaran-Nya.

Pembenaran hanya melalui iman telah mendatangkan kehadiran Roh Kudus dalam kehidupan orang percaya. Secara eksternal melalui pemberitaan firman dan kesaksian Roh Kudus, Allah menaruh iman ke dalam hati umat-Nya untuk percaya kepada janji Allah. Luther mengatakan, “Kristus masuk ke dalam hati melalui Injil dari telinga manusia dan Ia berdiam di sana ; kehadiran-Nya bukan dengan tangan kosong, melainkan Ia membawa diri-Nya, Roh Kudus dan segala kepenuhan-Nya.”Hidup yang baru ini disertai dengan Kuasa Allah dalam hati orang percaya menjadikannya suatu potensi untuk menaati Hukum-Nya. Roh Kudus adalah terang Allah yang mengiluminasi hati yang gelap dan meneguhkan hati orang percaya untuk menjaga Hukum Tuhan.

Ini sesuai dengan apa yang dikatakan Luther bahwa orang percaya memiliki Roh Kudus, sehingga beban berat dari Hukum Taurat dan kuk Kristus menjadi ringan.38 Melalui kuasa Roh Kudus, orang percaya mempunyai kemungkinan untuk menggenapi Hukum Taurat.

   
PENUTUP

Sifat dasar Hukum Taurat adalah rohani, baik, dan benar. Sedangkan kondisi manusia setelah kejatuhan adalah rusak, lemah dan diperbudak oleh dosa dan Iblis. Ketidak-mampuan manusia untuk menaati Hukum Taurat bukan terletak kepada Hukum itu sendiri, tetapi terletak kepada kondisi setelah kejatuhan. Intensi Allah yang sebenarnya ketika memberikan Hukum Taurat adalah untuk mengatur kehidupan moral dan rohani supaya diperkenan oleh Tuhan, hal ini dimungkinkan jika manusia belum jatuh ke dalam dosa. Memang Hukum Taurat yang tertulis diberikan setelah kejatuhan, tetapi Hukum yang tidak tertulis telah berada di dalam diri manusia sejak penciptaan.

Hukum Taurat memiliki dua fungsi, ditinjau dari segi sipil dan rohani. Fungsi Hukum Taurat dari segi sipil adalah pemeliharaan tata tertib hidup, pengaturan keadilan sosial dan keteraturan masyarakat. Fungsi Hukum dari segi sipil ini memungkinkan adanya lembaga pemerintahan seperti pejabat dan pendidik masyarakat untuk menaati panggilan dari perintah Hukum Taurat dalam hati nurani. Fungsi Hukum Taurat dari segi rohani adalah untuk mengungkapkan kondisi keberdosaan dan kemurkaan Allah. Di lain pihak, Hukum Taurat juga memimpin manusia berdosa kepada Injil Yesus Kristus, karena hanya di dalam Dia terdapat pembenaran karena iman.

Memang keberadaan Hukum Taurat dan Injil berbeda satu dengan yang lain jika ditinjau dari fungsi Hukum Taurat dan sifat dasar Injil, tetapi kedua hal ini adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Di antara keduanya terdapat perbedaan dan persamaan. Kesatuan Hukum Taurat dengan Injil dapat dilihat dari dua segi yaitu relasi Hukum Taurat dengan janji Injil dan sifat dasar Hukum Taurat dan Injil sebagai firman Allah.

Selain itu, Taurat masih berfungsi dalam kehidupan orang beriman untuk membawanya pada ketaatan kepada Kristus. Dan ini adalah trifungsi Hukum Taurat yang telah dijelaskan di atas. Ini terjadi dengan kehadiran Roh Kudus dalam hati orang percaya dan kekuatan baru dalam kuasa kebangkitan Kristus yang telah memungkinkan orang percaya untuk menaati Hukum Taurat. Ketaatan itu menghasilkan pengudusan dalam diri orang yang telah dilahirkembalikan. Jadi, Luther menarik suatu kesinambungan antara pembenaran hanya oleh iman dengan doktrin pengudusan yaitu diperhitungkan menjadi orang benar berdasarkan jasa Kristus melalui iman, disertai dengan karunia pembenaran Allah (making righteous) untuk mampu memenuhi tuntutan Hukum Taurat.

BAB VI

MAKNA MENGGENAPI DAN MEMBATALKAN HUKUM TAURAT

PENGERTIAN

Akhir-akhir ini sebagian orang memberikan tuduhan seakan-akan ada pertentangan antara ajaran Tuhan Yesus Kristus dengan ajaran rasul Paulus. Ajaran Tuhan Yesus Kristus dipertentangkan dengan ajaran dari Rasul Paulus. Pendapat ini mengatakan bahwa Yesus sama sekali tidak menghilangkan hukum Taurat berdasarkan pada Matius 5:17-20 sedangkan rasul Paulus telah membatalkan hukum Taurat berdasarkan pada Efesus 2:15. Untuk itu marilah kita mencoba mengkaji pendapat ini.

Dalam surat Paulus kepada jemaat di Filipi (Filipi 2:5-11) dikatakan sebagai berikut: “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diriNya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama,  supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: ''Yesus Kristus adalah Tuhan,'' bagi kemuliaan Allah, Bapa!

Dalam Matius 5:17 terdapat dua kata yang saling bertolak belakang, tentu saja bertolak belakang karena kedua kata tersebut digunakan sebagai pembanding. Kedua kata tersebut adalah ‘meniadakan’ dan ‘menggenapi’ yang sedang membicarakan sebuah objek yaitu ‘Hukum Taurat dan Kitab Para Nabi’. Secara umum Hukum Taurat meliputi lima kitab Musa dan kitab para Nabi adalah kitab-kitab Nabi-Nabi besar dan Nabi-Nabi kecil yang dikenal oleh Kristen sebagai “Perjanjian Lama”

Kata ‘meniadakan’ ini diterjemahkan dari kata ‘κατα λῦσαι –katalysai’ dan kata ‘menggenapi’ diterjemahkan dari kata ‘πληρῶσαι – plērōsai. Secara literal kata ‘καταλῦσαι –katalysai’ berarti “I loosen thoroughly (sama sekali melepaskan” atau” tidak digunakan lagi)” namun dapat juga diartikan sebagai (1) I break up (memutuskan); (2) overthrow (meruntuhkan/merobohkan); (3) destroy (menghancurkan/membinasakan), Sedangkan Kata ‘πληρῶσαι – plērōsai’ memiliki arti (1) I fill (mengisi); (2) fulfill (memenuhi); (3) complete (menyelesaikan).

Sebelum mengerti makna kata “Fulfill” atau “Menggenapi” dalam Matius 5:17, ada baiknya dimengerti terlebih dahulu definisi-definisi mengenai kata-kata tersebut dalam Kamus. Dalam Kamus Webster Online memberikan definisi sebagai berikut: untuk kata ‘Destroy’, yaitu, “To put an end to the existence, prosperity, or beauty of; to kill (untuk menghilangkan suatu keberadaan, kesejahteraan, atau kecantikan dari [sesuatu]; untuk membunuh)”.
Untuk kata ‘Fulfill’, yaitu, “To accomplish or carry into effect, as an intention, promise, or prophecy, a desire, prayer, or requirement, etc.; to complete by performance; to answer the requisitions of; to bring to pass, as a purpose or design; to effectuate. (untuk menyelesaikan atau melaksanakan, sebagai sebuah perhatian, janji,, nubuat, keinginan, doa, atau kebutuhan, dan lain-lain; untuk menyelesaikan berdasarkan perbuatan; untuk menjawab permintaan resmi dari; untuk mendatangkan, sebagai tujuan atau maksud, untuk mengadakan)”.
Untuk kata ‘Complete’, yaitu, “To bring to a state in which there is no deficiency; to perfect; to consummate; to accomplish; to fulfill; to finish; as, to complete a task, or a poem; to complete a course of education (untuk mewujudkan keadaan dimana tidak ada kekurangan, untuk sempurna, untuk mencapai, untuk memenuhi/menggenapi, untuk menyelesaikan, seperti, untuk menyelesaikan tugas, atau puisi, untuk menyelesaikan program pendidikan)”

Dalam kitab Matius 5:17, dikatakan bahwa “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya”. Ayat tersebut sering sekali disalahartikan seakan-akan hukum Taurat sudah ditiadakan. Di lain pihak ada juga pendapat yang mengatakan bahwa hukum Taurat berlaku selamanya termasuk perintah-perintah di dalamnya, pemahaman ini tidaklah salah sepenuhnya. Pemahaman yang salah adalah menganggap bahwa Yesus Kristus telah membatalkan Hukum Taurat dan kitab para Nabi, Yesus Kristus tidak menghilangkan Hukum Taurat dan kitab para Nabi tapi Yesus menggenapi/menyelesaikan/menyempurnakan. Yesus Kristus sebagai Tuhan tidak akan membatalkan hukum-hukum yang telah dikatakanNya karena Ia sendiri yang menyatakan demikian.

Tuhan Yesus Kristus tidak pernah membatalkan Hukum Taurat dan kitab para Nabi. Yesus mempelajari Perjanjian Lama (Lukas 2:46), Yesus menggunakan Perjanjian Lama untuk melawan pencobaan / godaan setan (Matius 4:4,7,10), dan Ia mengutip Perjanjian Lama pada waktu mengajar, Yesus menyuruh orang mentaati Perjanjian Lama (Matius 8:4), Yesus sendiri mentaati Perjanjian Lama, misalnya: ikut merayakan hari raya Perjanjian Lama, dan lain sebagainya. Jadi jelas bahwa Yesus Kristus sama sekali tidak membatalkan Hukum taurat dan Kitab para Nabi. Dengan berdasarkan beberapa definisi di atas, kata yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi kata “menggenapi” lebih memiliki arti bahwa Yesus Kristus telah menyelesaikan perintah-perintah Hukum Taurat dan Kitab para Nabi. Ia tunduk di bawah hukum Taurat (Galatia 4:4) yang artinya bahwa, Ia, dalam segala hal mengenai tuntutan Hukum Taurat telah ditaatiNya dengan sempurna (Roma 8:3-4), hal ini tidak dapat dilakukan oleh bangsa Israel sebelum Ia datang.

“Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi”. (Matius 5:18)

Artinya bahwa frasa “sebelum semuanya terjadi” untuk mempertegas frasa “untuk menggenapinya”, meskipun langit dan bumi lenyap jika Hukum Taurat belum digenapi, maka satu iota atau satu titik tidak akan ditiadakan dari Hukum Taurat.

Dengan demikian, makna menggenapi Hukum Taurat adalah menggenapi semua nubuat mengenai diri Tuhan Yesus Kristus, menggenapi hukum Taurat yang melambangkan pekerjaan penebusan yang dilakukan oleh Kristus, menggenapi hukum Taurat yaitu melakukannya dengan sempurna, dan menggenapi ketidakmampuan hukum Taurat sebagai dasar pembenaran manusia di hadapan Allah.


PENGGENAPAN HUKUM TAURAT

Menggenapi semua nubuat mengenai diriNya

Lukas 24:44, “Ia berkata kepada mereka: "Inilah perkataan-Ku, yang telah Kukatakan kepadamu ketika Aku masih bersama-sama dengan kamu, yakni bahwa harus digenapi semua yang ada tertulis tentang Aku dalam kitab Taurat Musa dan kitab nabi-nabi dan kitab Mazmur."
Matius 1: 22-23, “Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi: "Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel" --yang berarti: Allah menyertai kita.
Merupakan penggenapan Kitab Yesaya 7 : 14
Matius 2:14-15, “Maka Yusufpun bangunlah, diambilnya Anak itu serta ibu-Nya malam itu juga, lalu menyingkir ke Mesir, dan tinggal di sana hingga Herodes mati. Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi: "Dari Mesir Kupanggil Anak-Ku."
Merupakan Penggenapa kitab Hosea 11:1
Matius 2:17:18, “Dengan demikian genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yeremia: "Terdengarlah suara di Rama, tangis dan ratap yang amat sedih; Rahel menangisi anak-anaknya dan ia tidak mau dihibur, sebab mereka tidak ada lagi."
Merupakan penggenapan kitab Yeremia 31: 15
Matius 4: 13-16, “Ia meninggalkan Nazaret dan diam di Kapernaum, di tepi danau, di daerah Zebulon dan Naftali, supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya: "Tanah Zebulon dan tanah Naftali, jalan ke laut, daerah seberang sungai Yordan, Galilea, wilayah bangsa-bangsa lain, -- bangsa yang diam dalam kegelapan, telah melihat Terang yang besar dan bagi mereka yang diam di negeri yang dinaungi maut, telah terbit Terang."
Merupakan penggenapan kitab Yesaya 8: 23 - 9:1
Matius 8:17, “Hal itu terjadi supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya: "Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita."
Merupakan penggenapan kitab Yesaya 53:4
Matius 12: 16-21, “Ia dengan keras melarang mereka memberitahukan siapa Dia, supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya: "Lihatlah, itu Hamba-Ku yang Kupilih, yang Kukasihi, yang kepada-Nya jiwa-Ku berkenan; Aku akan menaruh roh-Ku ke atas-Nya, dan Ia akan memaklumkan hukum kepada bangsa-bangsa. Ia tidak akan berbantah dan tidak akan berteriak dan orang tidak akan mendengar suara-Nya di jalan-jalan. Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskan-Nya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan-Nya, sampai Ia menjadikan hukum itu menang. Dan pada-Nyalah bangsa-bangsa akan berharap."
Merupakan penggenapan kitab Yesaya 42 : 1-4
Matius 21: 4-5, “Hal itu terjadi supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi: "Katakanlah kepada puteri Sion: Lihat, Rajamu datang kepadamu, Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai, seekor keledai beban yang muda."
Merupakan penggenapan kitab Zakharia 9:9
Kisah Para Rasul 13:35, “telah digenapi Allah kepada kita, keturunan mereka, dengan membangkitkan Yesus, seperti yang ada tertulis dalam mazmur kedua: Anak-Ku Engkau! Aku telah memperanakkan Engkau pada hari ini. Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati dan Ia tidak akan diserahkan kembali kepada kebinasaan. Hal itu dinyatakan oleh Tuhan dalam firman ini: Aku akan menggenapi kepadamu janji-janji yang kudus yang dapat dipercayai, yang telah Kuberikan kepada Daud. 
Yohanes 13:18. “Bukan tentang kamu semua Aku berkata. Aku tahu, siapa yang telah Kupilih. Tetapi haruslah genap nas ini: Orang yang makan roti-Ku, telah mengangkat tumitnya terhadap Aku.
Merupakan penggenapan kitab Mazmur 41: 10
Yohanes 18:32, “Demikian hendaknya supaya genaplah firman Yesus, yang dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana caranya Ia akan mati.
Yohanes 19:24, “Karena itu mereka berkata seorang kepada yang lain: "Janganlah kita membaginya menjadi beberapa potong, tetapi baiklah kita membuang undi untuk menentukan siapa yang mendapatnya." Demikianlah hendaknya supaya genaplah yang ada tertulis dalam Kitab Suci: "Mereka membagi-bagi pakaian-Ku di antara mereka dan mereka membuang undi atas jubah-Ku." Hal itu telah dilakukan prajurit-prajurit itu.
Merupakan penggenapan kitab Mazmur 22:19
Yohanes 19:28, “Sesudah itu, karena Yesus tahu, bahwa segala sesuatu telah selesai, berkatalah Ia --supaya genaplah yang ada tertulis dalam Kitab Suci-- :"Aku haus!"
Merupakan penggenapan kitab Mazmur 22: 16, 69: 22
Yohanes: 19:36, “Sebab hal itu terjadi, supaya genaplah yang tertulis dalam Kitab Suci: "Tidak ada tulang-Nya yang akan dipatahkan."
Merupakan penggenapan kitab Keluaran 12:46, Bilangan 9:12 dan Mazmur 34:21
Yohanes 19:37, “Dan ada pula nas yang mengatakan: "Mereka akan memandang kepada Dia yang telah mereka tikam."
Merupakan penggenapan kitab Zakharia 12: 10

Menggenapi hukum Taurat yang melambangkan pekerjaan penebusan

Efesus 5:2, “dan hiduplah di dalam kasih, sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diri-Nya untuk kita sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah”.
Efesus 1:7, “Sebab di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan kasih karunia-Nya,"
Ibrani 9:22, "Dan hampir segala sesuatu disucikan menurut hukum Taurat dengan darah, dan tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan."
1 Yohanes 1:7, "Tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan 'darah' Yesus, Anak-Nya itu, 'menyucikan' kita dari pada segala 'dosa'."
Kolose 2:13-14, ”Kamu juga, meskipun dahulu mati oleh pelanggaranmu telah dihidupkan Allah bersama-sama dengan Dia, sesudah Ia mengampuni segala pelanggaran kita, dengan menghapuskan surat hutang, yang oleh ketentuan-ketentuan hukum mendakwa dan mengancam kita. Dan itu ditiadakan-Nya dengan memakukannya pada kayu salib”.

Menggenapi hukum Taurat yaitu melakukannya dengan sempurna

Roma 8:1-4, “Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus. Roh, yang memberi hidup telah memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum maut. Sebab apa yang tidak mungkin dilakukan hukum Taurat karena tak berdaya oleh daging, telah dilakukan oleh Allah. Dengan jalan mengutus Anak-Nya sendiri dalam daging, yang serupa dengan daging yang dikuasai dosa karena dosa, Ia telah menjatuhkan hukuman atas dosa di dalam daging, supaya tuntutan hukum Taurat digenapi di dalam kita, yang tidak hidup menurut daging, tetapi menurut Roh.
Roma 8:12-13, “Jadi, saudara-saudara, kita adalah orang berhutang, tetapi bukan kepada daging, supaya hidup menurut daging. Sebab, jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup”.
Matius 3:15, “Lalu Yesus menjawab, kata-Nya kepadanya: "Biarlah hal itu terjadi, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah." Dan Yohanespun menuruti-Nya.
Roma 13:10, “Kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia, karena itu kasih adalah kegenapan hukum Taurat.
Yohanes 1:17 sebab hukum Taurat diberikan oleh Musa, tetapi kasih karunia dan kebenaran datang oleh Yesus Kristus.


Menggenapi Kelemahan Hukum Taurat sebagai Alat Pembenaran

Roma 10:4, “Sebab Kristus adalah kegenapan hukum Taurat, sehingga kebenaran diperoleh tiap-tiap orang yang percaya”. Interpretasi ayat ini harus lah selaras dengan bagian lebih awal dari tulisan Paulus dalam surat yang sama kepada jemaat Roma (Roma 3 : 31), yaitu : "Adakah kami membatalkan hukum Taurat karena iman? Sekali-kali tidak! Sebaliknya, kami meneguhkannya."
Roma 10:4 “Sebab Kristus adalah kegenapan hukum Taurat, sehingga kebenaran diperoleh tiap-tiap orang yang percaya”.
Galatia 2:16 “Kamu tahu, bahwa tidak seorangpun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya oleh karena iman dalam Kristus Yesus. Sebab itu kamipun telah percaya kepada Kristus Yesus, supaya kami dibenarkan oleh karena iman dalam Kristus dan bukan oleh karena melakukan hukum Taurat.
Galatia 2:21 “Aku tidak menolak kasih karunia Allah. Sebab sekiranya ada kebenaran oleh hukum Taurat, maka sia-sialah kematian Kristus”.
Galatia 3:11, “Dan bahwa tidak ada orang yang dibenarkan di hadapan Allah karena melakukan hukum Taurat adalah jelas, karena: “Orang yang benar akan hidup oleh iman.”
Roma 10:4 “Sebab Kristus adalah kegenapan hukum Taurat, sehingga kebenaran diperoleh tiap-tiap orang yang percaya”




































BAB VII

KASIH ADALAH INTI HUKUM TAURAT

HUKUM YANG TERUTAMA

Perhatikan nats Alkitab berikut ini:
Ketika orang-orang Farisi mendengar, bahwa Yesus telah membuat orang-orang Saduki itu bungkam, berkumpullah mereka, dan seorang dari mereka, seorang ahli Taurat, bertanya untuk mencobai Dia: Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat? Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi." (Matius 22:34-40).
Lalu seorang ahli Taurat, yang mendengar Yesus dan orang-orang Saduki bersoal jawab dan tahu, bahwa Yesus memberi jawab yang tepat kepada orang-orang itu, datang kepada-Nya dan bertanya: "Hukum manakah yang paling utama?" Jawab Yesus: "Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini." Lalu kata ahli Taurat itu kepada Yesus: "Tepat sekali, Guru, benar kata-Mu itu, bahwa Dia esa, dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia. Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri adalah jauh lebih utama dari pada semua korban bakaran dan korban sembelihan." Yesus melihat, bagaimana bijaksananya jawab orang itu, dan Ia berkata kepadanya: "Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!" Dan seorangpun tidak berani lagi menanyakan sesuatu kepada Yesus. (Markus 12:28-34).
Pada suatu kali berdirilah seorang ahli Taurat untuk mencobai Yesus, katanya: "Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?" Jawab Yesus kepadanya: "Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?" Jawab orang itu: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri." Kata Yesus kepadanya: "Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup." (Lukas 10:25-28)

Dari nats tersebut di atas, secara tegas Tuhan Yesus mengatakan bahwa Hukum Yang Terutama adalah: Mengasihi Tuhan (dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap kekuatan, dan segenap akal budi) dan Mengasihi Sesama Manusia (seperti mengasihi diri sendiri); Itulah Hukum Terutama dalam Hukum Taurat dan Kitab para nabi.

Selanjutnya, Paulus dalam suratnya tentang KASIH kepada jemaat di Korintus mengatakan:

Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing. Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna. Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku. Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap. Sebab pengetahuan kita tidak lengkap dan nubuat kita tidak sempurna. Tetapi jika yang sempurna tiba, maka yang tidak sempurna itu akan lenyap. Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu. Karena sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka. Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal. Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.” (I Korintus 13:1-3).

Dari nats tersebut di atas, jelaslah bahwa:

Tanpa mempunyai kasih:
Sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing, sekalipun seseorang dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan malaikat.
Semua karunia untuk bernubuat, pengetahuan segala rahasia, memiliki seluruh pengetahuan; dan memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, sama sekali tidak berguna.
Tindakan seseorang membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padanya, bahkan menyerahkan tubuhnya untuk dibakar, sama sekali tidak ada faedahnya bagi dia.
Artinya bahwa segala sesuatu yang dilakukan manusia tidak akan berarti apabila tidak memiliki kasih.
Unsur kasih adalah sabar, murah hati, tidak cemburu,  tidak memegahkan diri, tidak sombong, tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri, tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain, tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran, menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, dan sabar menanggung segala sesuatu.
Kalau manusia memiliki seluruh unsur kasih tersebut, maka sama halnya dengan tidak melanggar hukum taurat. Seseorang yang mewujudnyatakan unsur-unsur kasih tersebut dalam kehidupannya sehari-hari pasti tidak ada hukum taurat yang dilanggar. “Kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia, karena itu kasih adalah kegenapan hukum Taurat.” (Roma 13: 10). Oleh karena itu inti hukum taurat itu sendiri adalah kasih, baik kasih kepada Tuhan maupun kasih kepada sesama manusia.
Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap. Kasih bersifat kekal. Kasih berlaku sepanjang zaman. Kasih bukan hanya bersifat temporer dan tidak akan pernah tergilas zaman. Inilah hukum kekekalan kasih.
Kasih merupakan yang terbesar yang tinggal dalam diri manusia. Ketika nubuat telah berakhir, bahasa roh berhenti dan pengetahuan lenyap, sehingga yang tinggal dalam diri manusia hanya 3 (tiga), yaitu iman, pengharapan, dan kasih, maka yang paling besar di antaranya adalah kasih.

Bila sedemikian besarnya makna dan kekekalan  kasih sehingga menjadi inti dari Hukum Taurat, siapakah yang percaya bahwa makna dan kekekalan kasih ini bukan berasal dari Tuhan? Malaikat, nabi, dan manusia manakah yang tidak menyetujui ayat tersebut? Atau adakah manusia yang mampu menemukan ayat tandingan yang lebih luhur dan mulia daripada ayat tersebut? Sungguh mustahil ada “ayat manusia” yang mampu disandingkan dengan kemuliaanNya!

Lalu, apakah Hukum Taurat masih berlaku ? Jawabannya Ya ! "Terkutuklah orang yang tidak setia melakukan segala sesuatu yang tertulis dalam kitab hukum Taurat” (Galatia 3:10). Namun, kedatangan Kristus membebaskan kita dari kutuk itu: “Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: "Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!” (Galatia 3:13). Di sinilah hukum barter terjadi. Kita yang seharusnya dihukum karena dosa kita dan kutuk karena tidak sanggup melakukan hukum Taurat tanpa cacat cela, Kristus menggantikan tempat kita agar kita beroleh keselamatan.

Mengapa demikian? “Sebab tidak seorang pun yang dapat dibenarkan di hadapan Allah oleh karena melakukan hukum Taurat, karena justru oleh hukum Taurat orang mengenal dosa” (Roma 3:20). Jadi tujuan Hukum Taurat ialah agar manusia mengenal dosa dan menyadari ketidakmampuan mewujudnyatakannya dalam kehidupan sehari-hari, sehingga manusia tidak lagi mengandalkan kekuatan sendiri tetapi mengandalkan Kristus. Rasul Paulus kepada jemaat ke Galatia berkata: “Kamu tahu, bahwa tidak seorang pun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya oleh karena iman dalam Kristus Yesus. Sebab itu kamipun telah percaya kepada Kristus Yesus, supaya kami dibenarkan oleh karena iman dalam Kristus dan bukan oleh karena melakukan hukum Taurat. Sebab: "tidak ada seorang pun yang dibenarkan" oleh karena melakukan hukum Taurat” (Galatia 2:16).

Justru karena itulah kita membutuhkan Kristus. Tanpa kematian Yesus di atas kayu salib, kita tidak mempunyai harapan. “Aku tidak menolak kasih karunia Allah. Sebab sekiranya ada kebenaran oleh hukum Taurat, maka sia-sialah kematian Kristus” (Galatia 2:21). “Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu” (1 Korintus 15:14). “Dan jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu” (1 Korintus 15:17).

Hal ini mengandung pengertian bahwa Hukum Taurat tetap perlu agar manusia bisa mengenal dosa dan menyadari ketidakmampuannya. Hukum kasih karunia memberikan harapan keselamatan dalam Kristus. Itulah sebabnya Yesus katakan: “Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi” (Matius 5:18).

KETIDAKBERDAYAAN HUKUM TAURAT

TUHAN berfirman kepada Musa: “Naiklah menghadap Aku, ke atas gunung, dan tinggalah di sana, maka Aku akan memberikan kepadamu loh batu, yakni hukum dan perintah, yang telah Kutuliskan untuk diajarkan kepada mereka.” (Keluaran 24: 12)

Hukum Taurat ditulis oleh Allah sendiri di atas loh batu dan kemudian disampaikan kepada bangsa Israel oleh nabi Musa. Hukum Taurat berisikan ketetapan dan perintah Allah untuk dilakukan oleh bangsa Israel. Namun, sesunggunya hukum Taurat hanyalah gambaran dari akan datangnya hukum yang lebih mulia dan agung, yaitu hukum yang akan membebaskan manusia dari hukum dosa dan maut. Hukum yang tertulis itu akan digenapi dan tahap selanjutnya adalah diberlakukannya hukum yang tidak tertulis yaitu Roh Allah yang membebaskan! Sebab Tuhan adalah Roh; dan dimana ada Roh Allah, disitu ada kemerdekaan (2 Kor. 3: 17)

Hukum Taurat sebagai hukum yang tertulis telah gagal memberikan keselamatan kepada manusia dan telah gagal memerdekakan manusia dari hukum dosa dan maut. Hal ini terjadi bukan disebabkan oleh tidak baik dan tidak kudusnya Hukum Taurat, tetapi penyebabnya adalah tabiat keberdosaan manusia. Hukum Taurat tidak berdaya untuk menyelamatkan manusia!

“Sesungguhnya, akan datang waktunya, demikianlah firman TUHAN, Aku akan mengadakan perjanjian baru dengan kaum Israel dan kaum Yehuda, bukan seperti perjanjian yang telah Kuadakan dengan nenek moyang mereka pada waktu Aku memegang tangan mereka keluar dari tanah Mesir; perjanjian-Ku itu telah mereka ingkari, meskipun Aku menjadi tuan yang berkuasa atas mereka, demikianlah firman TUHAN” (Yeremia 31: 31-32)

Oleh karena Hukum Taurat sebagai hukum tertulis tersebut tidak dapat menyelamatkan manusia, maka Allah telah merancangkan suatu perjanjian yang baru kepada kaum Israel dan kaum Yehuda.

Selanjutnya dalam kitab Yeremia 31:33-34 kita dapat dipahami bagaimana cara kerja perjanjian yang baru itu. “Tetapi beginilah perjanjian yang Kuadakan dengan kaum Israel sesudah waktu itu, demikianlah firman TUHAN: Aku akan menaruh Taurat-Ku dalam batin mereka dan menuliskannya dalam hati mereka; maka Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku. Dan tidak usah lagi orang mengajar sesamanya atau mengajar saudaranya dengan mengatakan: Kenallah TUHAN! Sebab mereka semua, besar kecil, akan mengenal Aku, demikianlah firman TUHAN, sebab Aku akan mengampuni kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa mereka.” (Yeremia 31: 33-34).

Selain itu, perjanjian baru yang dirancang Allah tidaklah berarti bahwa perjanjian sebelumnya yaitu Hukum Taurat tidak berlaku lagi, justru perjanjian baru menggenapi perjanjian lama. Hal ini senada dengan pernyataan Tuhan Yesus Kristus yang menegaskan bahw: “Jangan kamu menyangka bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.” (Matius 5: 17).

Walaupun demikian, para ahli taurat dan orang Farisi pada masa itu mengganggap Tuhan Yesus telah melanggar beberapa perintah hukum Taurat.  Mereka menuduh bahwa menyembuhkan penyakit dan orang cacat fisik (Yohanes 5: 1-18; 9) dan melakuan pekerjaan kecil seperti memetik bulir gandum (Matius 12:1-8) pada hari Sabat adalah melanggar perintah tertulis hukum Taurat! Mereka menuduh Yesus dan para murid-Nya melanggar hukum tertulis itu dengan melakukan pekerjaan tersebut.

Menurut ahli taurat dan orang Farisi Hukum Taurat sebagai perjanjian lama akan memberikan keselamatan kepada manusia. Dengan memperaktekan Hukum Taurat manusia akan memperoleh keselamatan dari Allah, sehingga Hukum Taurat dijadikan alat untuk menghakimi manusia menurut apa yang dilihatnya, padahal yang terpenting dalam Hukum Taurat adalah keadilan, belas kasihan dan kesetiaan (Matius 23: 23). Manusia yang masih terikat dengan perjanjian lama tidak akan dapat melihat hukum-hukum yang tidak tertulis yang lebih agung dari pada hukum-hukum tertulis yang terkesan legalistis dan agamawi.

Perjanjian Allah dengan manusia pertama-tama diberikan kepada bangsa Israel sebagai pembaharuan dari perjanjian lama dan selanjutnya akan dinikmati oleh semua bangsa termasuk bangsa yang bukan Yahudi. Yesus sendiri menjelaskan bahwa “keselamatan datang dari bangsa Yahudi” (Yohanes 4:22). Perjanjian barulah yang dapat membawa manusia ke dalam keselamatan dan kesempurnaan. Perjanjian baru hanya diberikan Allah kepada manusia yang percaya kepada Yesus Kristus. Sebab Yesus Kristus telah mengggenapi seluruh hukum-hukum tertulis Musa selama hidup-Nya di dunia.

Perjanjian baru hanya dapat ditulis dalam batin dan hati manusia melalui Roh Allah yang Mahakudus yang hanya dapat bekerja di dalam hati manusia yang telah menerima Yesus Kristus sebagai Juruselamat pribadinya. Roh Kudus Allah itu juga disebut sebagai Roh Kebenaran (Yohanes 14: 16-17), dan mengenai Roh itu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu” (Yohanes 14:17)

Jadi dapat disimpulkan bahwa tubuh jasmaniah Yesus Kristus merupakan lambang bentuk fisik dari perjanjian lama dan sifat ke-ilahian Yesus Kristus merupakan bentuk tak tertulis dari Hukum Taurat. Dalam keadaan-Nya sebagai manusia, Allah di dalam diri Yesus Kristus telah melimpahkan semua tuntutan Hukum Taurat atas pelanggaran manusia di dalam tubuh jasmaniah-Nya. Oleh sebab itu Yesus dapat memiliki akses ke dalam maut. Semua pelanggar hukum Taurat seyogianya harus mati tetapi karena Yesus Kristus telah menang atas maut melalui kebangkitan-Nya, Allah melalui Dia berkenan mengampuni dosa-dosa manusia yang percaya dan setia dalam ajaran kasih-Nya melalui Roh Kudus. Setia dalam ajaran Yesus Kristus berarti bahwa orang itu memberikan hati dan batinnya untuk diukir oleh hukum kasih melalui Roh Kudus yang telah ia terima melalui iman kepada Yesus Kristus. Proses penyempurnaan dari dalam itu akan terus bekerja seumur hidup orang itu. Sekalipun orang itu jatuh dalam pelanggaran namun Roh Kudus akan memberikan jalan keluar atas setiap pelanggaran dan kesalahanya itu. Roh itu akan memimpin manusia ke dalam keselamatan dan kesempurnaan. Jaminan surga telah diberikan Allah secara gratis melalui iman di dalam Yesus Kristus! Hukum-hukum tertulis Taurat telah disampaikan oleh Musa namun hukum-hukum tak tertulis yaitu KASIH disampaikan oleh Roh Allah dari dalam hati dan batin orang yang percaya kepada Yesus.

Sebelum bertobat, Paulus dulunya adalah seorang Farisi yang sangat bersemangat untuk membunuh dan menganiaya orang-orang yang mengikuti Jalan Tuhan. Namun setelah ia dibebaskan dari hukum-hukum tertulis itu melalui kasih karunia Allah dan menjadi murid Yesus Kristus, ia berkata: “Demikianlah besarnya keyakinan kami kepada Allah oleh Kristus. Dengan diri kami sendiri kami tidak sanggup untuk memeperhitungkan sesuatu seolah-olah pekerjaan kami sendiri; tidak, kesanggupan kami adalah pekerjaan Allah. Ialah membuat kami juga sanggup menjadi pelayan-pelayan dari suatu perjanjian baru, yang tidak terdiri dari hukum yang tertulis, tetapi dari Roh, sebab hukum yang tertulis mematikan, tetapi Roh menghidupkan.” (2 Korintus 3:4-6)













BAB VIII

IMAN DAN PERBUATAN

PENDAHULUAN

Seorang teman bertanya kepada saya mengenai adanya kesan “kontradiktif” antara iman dan perbuatan. Beliau bertanya, manakah yang lebih utama ‘iman’ atau ‘perbuatan. Dasar beliau adalah sebagaimana tercantum dalam kitab Paulus kepada jemaat di Roma 3:28 “Karena kami yakin, bahwa manusia dibenarkan karena iman, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat” yang dihubungkan dengan kitab Yakobus 2:17 “Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati”.

Sekilas memang kedua ayat tersebut bertolak belakang. Di satu pihak, Paulus kepada jemaat di Roma menegaskan bahwa dasar pembenaran manusia adalah ‘iman’ dan bukan ‘perbuatan. Di lain pihak, kitab Yakobus menegaskan bahwa iman tanpa perbuatan adalah iman yang mati. Apa memang kedua ayat Alkitab tersebut bertentangan satu sama lain ?

Tetapi kalau kita memperhatikan secara mendalam masing-masing perikop di atas, justru kedua perikop tersebut saling melengkapi. Mengapa demikian ?

Satu hal yang pasti adalah bahwa manusia dibenarkan karena iman, bukan karena perbuatan. Walaupun demikian, bagaimana seseorang mengatakan memiliki iman tanpa mewujudnyatakan dalam bentuk perbuatan ? Dalam perikop kitab Yakobus tersebut dijelaskan bahwa seseorang tidak akan mungkin menunjukkan imannya tanpa perbuatan, melainkan iman hanya dapat ditunjukkan melalui perbuatan. Tidak ada gunanya jika seseorang mengatakan bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan.
Iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna, artinya bahwa manusia dibenarkan karena iman melalui perbuatan-perbuatannya.
Pada hakekatnya, semua manusia telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus, sehingga kebenaran Allah adalah kebenaran iman dalam Yesus Kristus.
Tidak ada dasar bagi seseorang untuk bermegah dalam hal keselamatanya. Seseorang diselamatkan bukan karena usahanya sendiri melalui perbuatannya melainkan semata-mata hanya karena kasih karunia Allah melalui iman dalam Yesus Kristus.
Pembenaran karena iman sama sekali tidak membatalkan hukum Taurat tetapi justru meneguhkannya.

Dengan demikian maka kedua ayat tersebut di atas tidaklah saling kontradiktif tetapi justru saling melengkapi, dimana pembenaran manusia semata-mata hanyalah karena anugerah Allah (sola gratia) kepada manusia melalui iman kepada Yesus Kristus dan bukan karena melakukan perbuatan-perbuatan yang baik sebagaimana diamanatkan dalam Hukum Taurat.


MANUSIA DIBENARKAN KARENA IMAN

Pengorbanan Yesus Kristus di atas kayu salib merupakan karya Allah sebagai tanda kasihNya kepada umat manusia karena melalui kematianNya tersebut manusia yang percaya kepadaNya dapat memperoleh keselamatan. Yohanes 3:16, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal”. Keselamatan adalah semata-mata hanya karena Kristus saja, bukan karena Hukum Taurat. Hal ini berarti bahwa keselamatan manusia tidak didasarkan dari amal-ibadah, melainkan sepenuhnya keselamatan itu anugerah Allah melalui Yesus Kristus. 2 Timotius 1:9, “Dialah yang menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita, melainkan berdasarkan maksud dan kasih karunia-Nya sendiri, yang telah dikaruniakan kepada kita dalam Kristus Yesus sebelum permulaan zaman”.

Beberapa ayat paralel dengan 2 Timotius 1:9 tersebut adalah sebagai berikut:

Orang yang percaya kepadaNya sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup. “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa mendengar perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup” (Yohanes 5:24).
Orang yang menerimaNya menjadi anak-anak Allah. “Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya” (Yohanes 1 : 12).
Orang yang dibenarkan karena iman hidup dalam damai sejahtera dengan Allah. “Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus” (Roma 5:1).
Semua orang yang percaya kepadaNya telah dibenarkan dengan cuma-cuma. “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah,  dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus. Dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.” (Roma 3:23-24).
Manusia beroleh jalan masuk kepada kasih karunia Allah oleh Yesus Kristus. “Oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia ini. Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah” (Roma 5:2).
Manusia diselamatkan bukan karena usahanya supaya tidak ada orang yang memegahkan diri. “itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri" (Efesus 2:9).
Manusia yang benar akan hidup oleh iman. “Tidak ada orang yang dibenarkan di hadapan Allah karena melakukan hukum Taurat adalah jelas, karena: "Orang yang benar akan hidup oleh iman” (Galatia 3:11).
Manusia dibenarkan karena kebenaran yang Allah anugerahkan berdasarkan kepercayaan. “dan berada dalam Dia bukan dengan kebenaranku sendiri karena mentaati hukum Taurat, melainkan dengan kebenaran karena kepercayaan kepada Kristus, yaitu kebenaran yang Allah anugerahkan berdasarkan kepercayaan” (Filipi 3:9).

Oleh karena semua manusia telah berdosa, maka keselamatan manusia hanya dimungkinkan terjadi oleh sebuah pembenaran, yaitu pemberian kebenaran yang dilakukan oleh Allah sendiri kepada manusia. Melalui pembenaran, maka Allah mengubah seluruh hubungan manusia denganNya. Manusia tidak lagi menjadi seteru Allah. Dalam hal ini pembenaran adalah terhadap relasi manusia dengan Allah, dan bukan pembenaran terhadap perbuatan-perbuatan dosa manusia.

Pembenaran ini merupakan anugerah karena tidak diperoleh dengan usaha manusia tapi oleh anugerah atau pemberian cuma-cuma dari Allah bagi mereka yang beriman. Bagi orang Yahudi yang terbiasa dengan konsep keselamatan oleh karena melakukan hukum Taurat, hal ini mungkin agak sukar diterima. Agar mereka dapat memahami hal ini maka Paulus terlebih dahulu membuka mata orang Yahudi bahwa Abraham, bapa bangsa-bangsa itu pun mendapatkan kebenaran bukan karena melakukan hukum Taurat melainkan karena iman (Roma 4:13).

Paulus menggunakan paralelisme Adam dan Kristus untuk menggambarkan bagaimana manusia dibenarkan oleh iman (Roma 5:12,15). Adam dan Kristus memiliki kemiripan dalam satu hal, dimana satu orang berdampak kepada banyak orang. Sebagai kebenaran yang masuk ke dalam dunia oleh satu orang sebagaimana dosa yang masuk ke dalam dunia oleh satu orang. Surat Paulus kepada jemaat di Roma tersebut merupakan pengembangan pemikiran bahwa kebenaran Kristus diimputasikan kepada manusia di dalam pembenaran. Kebenaran Kristus itu adalah bahwa Ia telah dengan sempurna mentaati hukum Taurat yang tidak bisa ditaati manusia, dan bahwa Ia telah menanggung murka yang selayaknya ditimpakan kepada manusia atas dosa-dosa manusia itu sendiri.

Kebenaran tersebut hanya bisa diterima dengan iman. Kebenaran diberikan kepada mereka yang percaya pada janji penebusan Allah di dalam Kristus yang sudah dilakukannya di kayu salib. Sebagaimana Abraham percaya oleh janji Allah dan imannya itu diperhitungkan sebagai kebenaran, demikian juga bagi kita yang percaya pada janji Allah oleh Yesus Kristus, iman kita akan diperhitungkan sebagai kebenaran. Kebenaran yang diterima tanpa usaha manusia ini merupakan anugerah atau kasih karunia.

Mari kita kembali ke zaman Abraham untuk melihat bagaimanakah Abraham memperoleh “pembenaran” di hadapan Allah.  Di dalam keadaan lanjut usia dan dengan menghadapi kenyataan bahwa Sara isterinya telah mati haid, Allah berjanji kepada Abraham untuk memberikannya ahli waris dan bukan hanya satu, tetapi seperti bintang-bintang di langit  banyaknya ! “Lalu percayalah Abram kepada TUHAN, maka TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.” (Kejadian 15:6)

Rasul Paulus menguraikan hal ini dengan jelas di dalam ayat-ayat berikut: “Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya, bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa, menurut yang telah difirmankan: “Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu.” Imannya tidak menjadi lemah, walaupun ia mengetahui, bahwa tubuhnya sudah sangat lemah, karena usianya telah kira-kira seratus tahun, dan bahwa rahim Sara telah tertutup. Tetapi terhadap janji Allah ia tidak bimbang karena ketidakpercayaan, malah ia diperkuat dalam imannya dan ia memuliakan Allah, dengan penuh keyakinan, bahwa Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan.  Karena itu hal ini diperhitungkan kepadanya sebagai kebenaran.” (Roma 4:18-22; bnd Galatia 3:6; Yakobus 2:22-23).

Perhatikan bahwa yang dimaksud dengan “percaya” atau “iman” di sini bukanlah percaya dan iman yang sering diklaim banyak orang beragama, tetapi seperti yang didefinisikan di dalam Ibrani 11:1, sebagai berikut: “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.” 

Ada dua keyataan lain yang membenarkan pernyataan kebenaran tentang pembenaran Abraham oleh iman dan bukan oleh melakukan Hukum Taurat.
Ketika Abraham dibenarkan Allah oleh karena iman (Kejadian 15:6), Hukum Taurat belum ditulis.  Hukum Taurat baru ditulis pada zaman Musa.
Ketika Abraham dibenarkan Allah oleh karena iman (Kejadian 15:6), Abraham belum disunat.  Sunat Abraham baru dilakukan di dalam Kejadian 17:24-27.

Lalu bagaimana dengan kita?  Apakah kita wajib melakukan Hukum Taurat?  Sejalan  dengan Matius 5:18, semua umat Allah Israel wajib melakukan Hukum Taurat.  Sebenarnya, akan celakalah kita karena ada tertulis: “Karena semua orang, yang hidup dari pekerjaan hukum Taurat, berada di bawah kutuk. Sebab ada tertulis: “Terkutuklah orang yang tidak setia melakukan segala sesuatu yang tertulis dalam kitab hukum Taurat.”  (Galatia 3:10)

Sebab sejujurnya, kita tidak mampu mencapai separuhpun dari apa yang dilakukan orang muda kaya yang bodoh dan oleh rasul Paulus.  Tetapi segala puji dan hormat serta kemuliaan bagi Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang telah menyelamatkan kita dari kutuk Hukum Taurat melalui Yesus Kristus. “Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: “Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!” Yesus Kristus telah membuat ini, supaya di dalam Dia berkat Abraham sampai kepada bangsa-bangsa lain, sehingga oleh iman kita menerima Roh yang telah dijanjikan itu.” (Galatia 3:13-14)

Lalu, mengapa Iman diperhitungkan sebagai kebenaran ?

Roma 4:4, 5 Kalau ada orang yang bekerja, upahnya tidak diperhitungkan sebagai hadiah, tetapi sebagai haknya. Tetapi kalau ada orang yang tidak bekerja, namun percaya kepada Dia yang membenarkan orang durhaka, imannya diperhitungkan menjadi kebenaran.
Roma 6:18 Kamu telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba kebenaran.
Roma 3:28 Karena kami yakin, bahwa manusia dibenarkan karena iman, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat.
Markus 16 :16  Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum.

Kalau demikian, apakah itu berarti perbuatan baik tidak ada gunanya? Tetap berguna. Tetapi posisinya harus benar, yaitu perbuatan baik yang keluar dari keselamatan tersebut. Perhatikan kitab Efesus 2:1-10, “Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu. Kamu hidup di dalamnya, karena kamu mengikuti jalan dunia ini, karena kamu mentaati penguasa kerajaan angkasa, yaitu roh yang sekarang sedang bekerja di antara orang-orang durhaka. Sebenarnya dahulu kami semua juga terhitung di antara mereka, ketika kami hidup di dalam hawa nafsu daging dan menuruti kehendak daging dan pikiran kami yang jahat. Pada dasarnya kami adalah orang-orang yang harus dimurkai, sama seperti mereka yang lain. Tetapi Allah yang kaya dengan rahmat, oleh karena kasih-Nya yang besar, yang dilimpahkan-Nya kepada kita, telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus, sekalipun kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita -- oleh kasih karunia kamu diselamatkan dan di dalam Kristus Yesus Ia telah membangkitkan kita juga dan memberikan tempat bersama-sama dengan Dia di sorga, supaya pada masa yang akan datang Ia menunjukkan kepada kita kekayaan kasih karunia-Nya yang melimpah-limpah sesuai dengan kebaikan-Nya terhadap kita dalam Kristus Yesus. Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri. Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.

Paulus menegaskan kebinasaan semua manusia karena dosa (ayat 1-3) selanjutnya dia mengumandangkan 'kasih' pada ayat 4-7. Setelah itu, Paulus melanjutkannya "Bukan karena kebaikanku... semua hanya anugerahNya" (ayat 8-9). Akhirnya Paulus menegaskan supaya orang yg telah mengalami kasih dan anugerah itu giat berbuat baik (ayat 10).

Perbuatan baik tetap dituntut kepada semua umat Allah, terlebih ketika kita telah menerima 'benih ilahi' dan dimateraikan sebagai anak-anak-Allah. Maka, 'nature' Allah yang baik itu ada dalam diri kita. Maka, kalau kita melakukan perbuatan-perbuatan baik, itu bukan untuk "membeli" keselamatan, melainkan justru sebagai buah keselamatan! Yaitu ujud bersyukur dan terima kasih kita kepada Sang Juruselamat, yang terlah mengkaruniai kita dengan keselamatan.


HUBUNGAN ANTARA IMAN DAN PERBUATAN BAIK

Alkitab mengajarkan bahwa iman yang tidak disertai oleh perbuatan baik adalah iman yang mati (Yakobus 2:17). Dengan demikian, jika dirumuskan secara positif adalah: iman yang disertai perbuatan baik adalah iman yang hidup. Iman yang hidup inilah, yang kita peroleh karena kasih karunia Allah, yang dapat menyelamatkan kita (Efesus 2:8-10; Titus 3:5-8; Yakobus 2:14-26). Dengan demikian, jika kita ingin diselamatkan kita harus mempunyai iman yang hidup, yaitu iman yang dinyatakan dengan perbuatan baik / kasih.

Hubungan antara iman dan perbuatan baik dapat diketahui dari penjelasan perikop surat Rasul Yakobus 2:14-26. “Apakah gunanya, saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan, bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan? Dapatkah iman itu menyelamatkan dia? (Yakobus 2:14). Ajaran ini sangat sesuai dengan ajaran Kristus, “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.” (Matius 7:21).

Iman tanpa perbuatan tidak dapat menyelamatkan, artinya bahwa manusia yang sudah menerimaNya atau dengan kata lain manusia yang telah menikmati keadaan yang istimewa itu bukan karena jasa-jasa mereka sendiri, melainkan berkat rahmat Kristus yang istimewa. Dan bila mereka tidak menanggapi rahmat itu dengan pikiran, perkataan dan perbuatan, mereka bukan saja tidak diselamatkan, malahan akan diadili lebih keras.” (Lukas 12:48, Lih. Matius 5:19-20; 7:2-22; 25:4-46; Yak 2:14).

Jika seorang tidak mempunyai pakaian dan kekurangan makanan sehari-hari, dan seorang dari antara kamu berkata: “Selamat jalan, kenakanlah kain panas dan makanlah sampai kenyang!”, tetapi ia tidak memberikan kepadanya apa yang perlu bagi tubuhnya, apakah gunanya itu? (Yakobus 2:15-16). Ini adalah contoh yang jelas yang serupa dengan ajaran dalam surat Rasul Yohanes, “Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya?” (1 Yohanes 3:17). Dan kesimpulannya, “Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran.” (1 Yohanes 3:18).

Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati. (Yakobus 2:17). Sebagaimana melibatkan ketaatan yang teguh terhadap kebenaran yang diwahyukan Allah, iman harus mempengaruhi kehidupan sehari-hari umat Kristen, dan menjadi patokan yang menjadi tolok ukur bagi perbuatannya. Ketika perbuatan-perbuatan seseorang tidak sesuai dengan imannya, maka imannya itu mati.

Alkitab juga mengajarkan bahwa iman seseorang yang di dalam keadaan dosa berat sebagai “iman yang mati”, sebab ia tidak berada di dalam rahmat Tuhan, ia tidak mempunyai kasih sebab kasih adalah jiwa dari segala kebajikan lainnya. “Iman tanpa harapan dan kasih tidaklah menyatukan manusia dengan Kristus ataupun menjadikannya anggota yang hidup bagi tubuh-Nya. Karena itu, dikatakan dengan benar sekali bahwa, ‘iman tanpa perbuatan adalah mati’ (Yakobus 2:17) dan tidak berguna”

Tetapi mungkin ada orang berkata: “Padamu ada iman dan padaku ada perbuatan”, aku akan menjawab dia: “Tunjukkanlah kepadaku imanmu itu tanpa perbuatan, dan aku akan menunjukkan kepadamu imanku dari perbuatan-perbuatanku.” (Yakobus 2:18). Rasul Yakobus menjelaskan dengan terang sekali bahwa iman tanpa perbuatan sangatlah tidak masuk akal sama sekali. “Kebenaran iman melibatkan tidak saja kepercayaan di dalam hati, tetapi juga pengungkapan ke luar, yang diekspresikan tidak saja dengan pernyataan iman seseorang, tetapi juga dengan perbuatan-perbuatan yang melaluinya orang itu menunjukkan imannya.”

Engkau percaya, bahwa hanya ada satu Allah saja? Itu baik! Tetapi setan-setanpun juga percaya akan hal itu dan mereka gemetar. (Yakobus 2:19). Selanjutnya Rasul Yakobus bahkan membandingkan iman tanpa perbuatan dengan semacam iman yang dimiliki oleh setan-setan, sebab mereka percaya: karena terpaksa percaya dengan bukti tanda-tanda yang mendukung ajaran Kristus. Namun demikian iman semacam ini bukan iman yang menyelamatkan; sebaliknya menyebabkan mereka ciut/takut karena mengingatkan mereka akan keadilan ilahi dan penghukuman kekal.

Ada perbedaan antara percaya Tuhan, percaya akan Tuhan, dan percaya kepada Tuhan. “Percaya Tuhan adalah percaya bahwa yang dikatakan-Nya adalah benar. Percaya akan Tuhan, artinya percaya bahwa Ia adalah Tuhan. Percaya kepada Tuhan adalah mengasihi Dia. Banyak orang, bahkan orang jahat percaya bahwa Tuhan mengatakan kebenaran, dan mereka percaya akan yang dikatakan itu sebagai kebenaran meskipun mereka tidak menginginkannya atau terlalu malas untuk mengikutinya. Percaya bahwa Ia adalah Tuhan juga adalah sesuatu yang dapat dilakukan oleh setan-setan. Tetapi percaya kepada-Nya dan mengikuti Dia hanya benar terjadi pada mereka yang mengasihi Tuhan, yaitu umat Kristen, yang tidak hanya namanya saja tanpa perbuatan dan hidup yang membuktikan hal itu. Sebab tanpa kasih, iman itu sia-sia. Dengan kasih, iman menjadi iman Kristen; tanpa kasih, iman menjadi iman setan-setan.

Kamu lihat, bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna. Dengan jalan demikian genaplah nas yang mengatakan: “Lalu percayalah Abraham kepada Allah, maka Allah memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.” Karena itu Abraham disebut: “Sahabat Allah. ”Jadi kamu lihat, bahwa manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman” (Yakobus 2:22-24). Magisterium Gereja mengutip ayat-ayat ini ketika mengajarkan tentang justifikasi / pembenaran, penghapusan dosa, yang diterima sebagai pemberian yang cuma-cuma di dalam sakramen Pembaptisan, bertumbuh di dalam kekuatan asalkan orang yang dibaptis itu menanggapi rahmat Tuhan dengan melaksanakan perintah-perintah Tuhan dan Gereja; orang yang benar dan jujur / adil, “bertumbuh di dalam keadilan yang mereka terima melalui rahmat Kristus, iman mereka disempurnakan oleh perbuatan (lih. Yakobus 2:22), dan mereka lebih dibenarkan lagi, sebab ada tertulis: “barangsiapa yang benar, biarlah ia terus berbuat kebenaran” (Wahyu 22:11) dan lagi, “Jadi kamu lihat bahwa manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman” (Yakobus 2:24)”

Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati.” (Yakobus 2:26). Dengan berbicara tentang roh, Rasul Yakobus mengacu kepada “nafas kehidupan”, “pernafasan”…. kita mengetahui bahwa tubuh menjadi hidup oleh karena nafas, tanpa nafas maka tubuh menjadi jasad. Demikian pula, iman yang hidup menyatakan dirinya sendiri dengan perbuatan-perbuatan, terutama di dalam perbuatan kasih.

“Seperti ketika tubuh bergerak kita mengetahui bahwa ia hidup, maka perbuatan-perbuatan baik menunjukkan bahwa iman itu hidup. Jiwa memberikan hidup kepada tubuh, menyebabkannya bergerak dan merasakan; kasih memberikan hidup kepada iman, dan menyebabkannya berbuat sesuatu, sebagaimana dikatakan oleh Rasul Paulus, “iman yang bekerja oleh kasih” (Galatia 5:6). Seperti halnya tubuh mati ketika jiwanya meninggalkannya, maka iman mati jika perbuatan kasih menjadi dingin / berkurang. Karena itu, ketika kamu melihat seseorang yang aktif melakukan perbuatan-perbuatan baik dan gembira dan bersemangat di dalam tingkah lakunya, kamu dapat yakin bahwa iman itu hidup di dalam dirinya: hidupnya jelas membuktikan hal itu.”
















































BAB IX

KASIH KARUNIA MELEBIHI HUKUM TAURAT

PENDAHULUAN

Ketika Yesus belum datang ke dunia, masyarakat Israel dalam Perjanjian Lama hidup menurut sebuah kaidah atau aturan yang tertulis di dalam hukum Taurat. Di dalam hukum Taurat tidak ada kasih karunia, sebab pahala itu hanya akan diberikan kepada mereka yang mampu melaksanakan hukum Taurat. Pertanyaannya adalah siapakah manusia di bumi ini yang mampu melaksanakan hukum Taurat dengan sempurna? Tidak satupun! Jika demikian maka manusia terancam mendapatkan hukuman. Sebab barangsiapa tidak mampu melaksanakan hukum Taurat maka ia mendapat hukuman. Oleh karena itu, tidak ada harapan bagi manusia untuk mendapatkan keselamatan apabila hanya bergantung kepada hukum Taurat.

Inilah yang menjadi nasihat Paulus dalam suratnya yang mengatakan: “Kamu lepas dari Kristus, jikalau kamu mengharapkan kebenaran oleh hukum taurat: kamu hidup di luar kasih karunia” (Galatia 5 : 4)

Ketika pemahaman jemaat masih kurang mengenai keselamatan yang di dalam Kristus, maka Paulus memberikan nasihat, bahwa di dalam Kristus ada kasih karunia. Sehingga bagi manusia yang tidak mampu melaksanakan hukum Taurat telah disediakan kasih karunia. Dengan demikian keselamatan bukan merupakan usaha manusia dalam melaksanakan hukum, melainkan hanya kasih dan kemurahan Allah saja. Karena itu, jangan sampai kita lepas dari Kristus! Menjauhkan diri dari Kristus identik dengan menjauhkan diri dari keselamatan.

Dalam kitab Galatia 2:21 “Aku tidak menolak kasih karunia Allah. Sebab sekiranya ada kebenaran oleh hukum Taurat, maka sia-sialah kematian Kristus’. Jadi sudah sangat jelas bahwa kalau ada kebenaran sedikitpun oleh hukum Taurat, maka sia-sialah kematian Kristus. Tidak ada orang yang dibenarkan dengan hasil usahanya. “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah,” (Roma 3:23) jika manusia bisa selamat karena usahanya, Yesus tidak perlu berkorban untuk keselamatan manusia.

Jika Hukum Taurat  tidak menyelamatkan maka ada di manakah posisi Hukum Taurat ?
Hukum Taurat ada di dalam kasih
 “Kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia, karena itu kasih adalah kegenapan hukum Taurat” (Roma 13:10).
"Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku” (Yohanes 14:15)
Hukum Taurat adalah buah dari iman
“Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati” (Yakobus 2:26).
“Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa” (Yohanes 15:5). 
“Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah” (Yohanes 15:2).
“Barangsiapa berkata: Aku mengenal Dia, tetapi ia tidak menuruti perintah-Nya, ia adalah seorang pendusta dan di dalamnya tidak ada kebenaran” (I Yohanes 2:4).

Orang percaya tidak lagi berada di bawah Hukum Taurat namun di bawah Kasih Karunia. Sebelum iman itu datang kita berada di bawah pengawalan hukum Taurat, dan dikurung sampai iman itu telah dinyatakan. Jadi hukum Taurat adalah penuntun bagi kita sampai Kristus datang, supaya kita dibenarkan karena iman. Sekarang iman itu telah datang, karena itu kita tidak berada lagi di bawah pengawasan penuntun. Galatia 3:23-25)

Berada di bawah Kasih Karunia bukan berarti berada di atas Hukum Taurat dan menginjak-injak Hukum Taurat. “Karena saya berada di bawah kristus maka saya berbuah, karena saya berada di dalam Kristus”. Menuruti Hukum Taurat tempatnya bukan di samping Kristus. keselamatan bukan Kristus plus Hukum Taurat, namun sebagai efek. akibat saya di dalam Kristus dan Kristus di dalam saya, maka saya berbuah. 

“Dan keselamatan tidak ada di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.” (Kisah Para Rasul 4:12)

Apakah setelah dibenarkan, maka manusia tidak akan berbuat berdosa lagi? Kenyataan menunjukkan bahwa manusia dapat jatuh ke dalam dosa meskipun telah mengalami pembenaran. Roma 7:19-21, “Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat. Jadi jika aku berbuat apa yang tidak aku kehendaki, maka bukan lagi aku yang memperbuatnya, tetapi dosa yang diam di dalam aku. Demikianlah aku dapati hukum ini: jika aku menghendaki berbuat apa yang baik, yang jahat itu ada padaku”.

Jika setelah pembenaran dosa masih tetap ada, jadi apa yang dimaksudkan dengan telah dimerdekakan / menjadi hamba kebenaran? Roma 6:14 Sebab kamu tidak akan dikuasai lagi oleh dosa, karena kamu tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia. Roma 6:6 Karena kita tahu, bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa. Dalam kehidupan orang Kristen, dosa tidak lagi berkuasa tetapi ia tetap ada. Saat dibenarkan dosa tidak berkuasa lagi atas kita. Maksudnya, meskipun dosa masih tetap ada di dalam diri kita tapi sekarang ia tidak memerintah lagi, ia kini dapat dikalahkan.

Apakah Manusia sanggup menuruti hukum Allah dengan sempurna ?  Adalah mungkin bagi Adam sebelum berdosa untuk membentuk karakter yang  benar oleh penurutan  kepada hukum Allah. Tetapi ia gagal melakukan hal ini, dan karena dosanya keadaan kitapun lemah sehingga kita tidak dapat membuat diri kita benar.  Oleh karena kita penuh dosa dan najis kita tidak dapat menurut hukum yang suci itu dengan sempurna. Roma 7:14. Sebab kita tahu, bahwa hukum Taurat adalah rohani, tetapi aku bersifat daging, terjual di bawah kuasa dosa. 1 Korintus 15:40, 44 Ada tubuh sorgawi dan ada tubuh duniawi, tetapi kemuliaan tubuh sorgawi lain dari pada kemuliaan tubuh duniawi. Yang ditaburkan adalah tubuh alamiah, yang dibangkitkan adalah tubuh rohaniah. Jika ada tubuh alamiah, maka ada pula tubuh rohaniah.

Jika kita benar-benar mengerti dan menghargai pengorbanan Kristus untuk manusia maka melakukan hukum taurat bukan lagi menjadi beban, namun itu akan keluar sebagai buah dari iman kita, kita akan berusaha untuk hidup oleh roh, dibaharui setiap hari,  bergantung sepenuhnya kepada Tuhan dan memiliki prinsip seperti Sadrakh, Mesakh dan Abednego (Daniel 3:17,18) yang tetap setia.

Jika demikian, maka jelaslah bahwa Kasih Karunia Allah jauh melebihi Hukum Taurat. Perbedaan keduanya adalah sebagai berikut:

Dalam 1 Yohanes 1:17 disebutkan: "Sebab hukum Taurat diberikan oleh Musa, Tetapi kasih karunia (anugerah) dan kebenaran datang oleh Yesus Kristus.  Yang diberikan (melalui) Musa adalah Hukum Taurat, sedangkan yang datang melalui Yesus Kristus adalah Kasih karunia (anugerah) dan kebenaran.
Hukum Taurat tergolong suatu hukum yang harus dipatuhi dan bila ada yang melanggarnya akan diberikan suatu sanksi atau hukuman. Hukum Taurat itu adalah suatu peraturan atau hukum (dalam perjanjian lama) yang harus di penuhi oleh manusia agar dapat memenuhi tuntutan Allah. Jadi hukum taurat itu menuntut manusia untuk dapat memenuhi peraturan atau hukum itu. Agar manusia dapat memenuhi tuntutan hukum Taurat itu, maka tentu saja manusia harus bekerja / atau melakukan sesuatu untuk memenuhi tuntutan hukum itu.
Hal ini berbeda dengan kasih karunia (anugerah) yang datang melalui Yesus Kristus. “....Karena begitu besar kasih Allah...sehingga Ia telah mengaruniakan anak Nya yang tunggal....” (Yohanes 3:16). Kasih karunia (anugerah) itu sebenarnya adalah diri Yesus Kristus sendiri.

Hukum taurat itu menuntut manusia untuk bekerja/ berusaha melakukan sesuatu untuk Allah agar dapat memenuhi tuntutan Allah. Tetapi kasih karunia ini merupakan suatu anugerah / pemberian Allah agar manusia dapat memenuhi tuntutan Allah. Kalau hukum Taurat itu berdasarkan usaha manusia, kalau kasih karunia itu berdasarkan Kasih karunia (pemberian Allah), jadi Allah yang mengerjakan untuk manusia.

Masalah Keselamatan, Allah yang mengerjakan, dia datang sebagai manusia Yesus Kristus, menderita sengsara mati dan disalibkan di kayu salib, dan kemudian bangkit naik kesurga. Jadi manusia tidak perlu berjerih lelah, harus banyak amal. Harus memperbaiki diri dulu, harus memperingati hari sabat, harus ini dan harus itu, jangan ini dan jangan itu. Yang perlu dilakukan itu adalah Percaya. Dan keselamatan itu diberikan secara cuma-cuma. "Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman, itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah" (Efesus 2:8).

Sejak kedatangan Yesus Kristus sampai saat ini merupakan jaman kasih karunia, dan bukan lagi jaman Hukum Taurat. Yang perlu dilakukan adalah percaya kepada Yesus Kristus.  Allah telah memberikan anugerah (kasih karunia) Nya melalui Yesus Kristus. Dia telah datang ke dunia ini dalam Yesus Kristus, hidup di dunia, mati tersalib, bangkit dan naik ke surga, dan kemudian menjadi roh yang menghidupkan. Allah telah melahirkan kembali kita, memberikan hidup kekal bagi setiap orang yang percaya.


DARI HUKUM TAURAT KEPADA KASIH KARUNIA

Manusia  “berada di bawah kasih karunia” mengandung pengertian bahwa manusia “tidak berada di bawah hukum taurat" dan "telah mati untuk hukum Taurat”. Hal ini bukan berarti bahwa manusia tidak bersalah jika melanggar hukum Taurat (lih. Roma 6:14-15), tetapi manusia bebas dari hukuman dan kutukan hukum taurat. "Karena semua orang, yang hidup dari pekerjaan hukum Taurat, berada di bawah kutuk. Sebab ada tertulis, 'terkutuklah orang yang tidak setia melakukan segala sesuatu yang tertulis di dalam kitab hukum Taurat" (Galatia 3:10). Tidak peduli betapa baiknya terlihat kehidupan seseorang, orang yang belum memiliki iman kepada Tuhan Yesus Kristus akan tetap hidup di bawah kutukan Allah. Pada saatnya ia akan mendengar kata-kata yang menyakitkan, "Enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah tersedia untuk iblis dan malaikat-malaikatnya” (Matius 25:41). Di lain pihak, orang yang telah memiliki iman kepada Yesus Kristus telah ditebus dari kutuk hukum Taurat: "Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat, dengan jalan menjadi kutuk, sebab ada tertulis, “terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib..." (Galatia 3:13). "Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang berada di dalam Kristus Yesus" (Roma 8:1). Selanjutnya, dalam Ibrani 8:12 “Sebab Aku menaruh belas kasihan terhadap kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa-dosa mereka”. Bebas dari hukum, oh betapa bahagianya, Darah Yesus telah tercurah, dan ada pengampunan Dikutuk oleh hukum dan memar karena jatuh, kasih karunia telah menebus kita, sekali untuk selamanya Sekali untuk selamanya, oh orang berdosa menerimanya, Sekali untuk selamanya, oh saudara percayalah; Melekat pada salib, beban akan terlepas, Kristus telah tebus kita, sekali untuk selamanya!

Orang beriman tidak hanya bebas dari kutuk hukum Taurat, tetapi juga bebas dari beban yang menghancurkan karena harus menjaga hukum sebagai alat untuk mendapatkan kebenaran dan hidup. Hukum menahan janji akan hidup dan berkat bagi mereka yang berdiri di atas kebenaran dan melakukannya. (Galatia 3:12, Lukas 10:25-28; Filipi 3:9; Roma 10:5). “Tetapi dasar hukum Taurat bukanlah iman, melainkan siapa yang melakukannya, akan hidup karenanya” (Lukas 10:25-28; Filipi 3:9; Roma 10:5). "Lakukan ini dan kamu akan hidup", itulah prinsip Taurat. Di bawah hukum Taurat, manusia bersusah-payah mencoba untuk mendapatkan kemurahan Allah. Bagi orang beriman, segalanya berbeda, orang beriman telah memiliki hidup yang kekal, semua karena karya Kristus atas dirinya! Allah senang kepadanya dan bersuka atasnya, seperti mempelai bersuka atas pengantin perempuan itu: "Dan seperti girang hatinya seorang mempelai melihat pengantin perempuan, demikanlah Allahmu akan bergirang atasmu" (Yesaya 62:5) "Pada hari itu akan dikatakan kepada Yerusalem: "Janganlah takut, hai Sion; janganlah tanganmu menjadi lemah-lesu. Tuhan Allahmu ada di antaramu, sebagai pahlawan yang memberi kemenangan. Ia bergirang karena engkau dengan sukacita, Ia membaharui engkau dalam kasih-Nya, Ia bersorak-sorak karena engkau dengan sorak-sorai!" (Zefania 3:16-17). Alllah bukan hanya mengasihi orang yang beriman, tetapi Allah mengasihi mereka melebihi kemampuan mereka, kasih-Nya "melampaui segala pengetahuan. ”dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan, aku berdoa supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah” (Efesus 3:9)


Orang percaya bebas dari hukum Taurat yang merupakan syarat untuk memperoleh hidup. Kristus tidak hanya menebusnya dari kutuk hukum taurat; Dia juga mendapatkan baginya semua berkat kehidupan dan kebenaran. "Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat... supaya di dalam Dia berkat Abraham sampai kepada bangsa-bangsa lain, sehingga oleh iman kita menerima Roh yang telah dijanjikan itu" (Galatia 3:13-14). Hal ini berarti orang percaya tidak lagi hidup di bawah kutuk, melainkan hidup di bawah berkat Allah yang melimpah. Keadaan yang penuh berkat ini mengalir dari pembenarannya. "Apa yang tidak pernah terlihat oleh mata dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul didalam hati manusia, semua yang disediakan Allah bagi yang mengasihi Dia!" (1 Korintus 2:9) "Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan Aku akan diam dalam rumah Tuhan sepanjang masa!" (Mazmur 23:6).

Hukum Taurat mendorong dan mengendalikan manusia yang belum bertobat dengan rasa takut dan dengan ancaman, dan dia benci hal itu: “Sebab keinginan daging adalah perseturuan terhadap Allah, sebab ia sendiri tidak takluk kepada hukum Allah, hal ini memang tidak mungkin baginya” (Roma 8:7). Orang beriman telah dimerdekakan dari ikatan tersebut. Orang beriman didorong oleh kasih dan bukan oleh hukum Taurat (2 Korintus 5:14). Hal itu mengalir keluar dari dirinya yang paling dalam, sesuai dengan hukum dan secara otomatis menggenapinya, karena "kasih adalah kegenapan hukum taurat" (Roma 13:10). Orang kristen yang menjadi dirinya sendiri tidak perlu takut akan terjadinya pertentangan dengan hukum Allah! "tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemah lembutan, penguasaan diri; tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu" (Galatia 5:22-23) "akan tetapi jikalau kamu memberi dirimu dipimpin oleh Roh, maka kamu tidak hidup di bawah hukum Taurat” (Galatia 5:18). Dalam kenyataan ini, Paulus berkata bahwa "Hukum Taurat itu bukanlah bagi orang yang benar, melainkan bagi orang durhaka dan orang lalim, bagi orang fasik dan orang berdosa, bagi orang duniawi dan tak beragama, bagi pembunuh bapa dan pembunuh ibu, bagi pembunuh pada umumnya. Bagi orang cabul dan pemburit, bagi penculik, bagi pendusta, bagi orang makan sumpah dan seterusnya segala sesuatu yang bertentangan dengan ajaran sehat " (1 Timotius 1:8-10).

Orang benar tidak memerlukan larangan dari luar yang seperti itu, karena dia dikendalikan oleh sifatnya yang kudus. Bahkan perintah dan desakan menjadi penting, hanya karena orang percaya belum sepenuhnya "menjadi diri mereka sendiri" karena kita masih ada dalam "tubuh jasmani" ini dan menjadi sasaran dari "tipu daya dosa" (Ibrani 3:13) dan "tipu muslihat iblis" (Efesus 6:11). Kita masih memerlukan petunjuk untuk membantu kita memilih mana yang baik dan mana yang salah. Namun, saat kita bertumbuh dalam kasih karunia, pikiran kita secara cepat “diperbaharui”, dan  “karena mempunyai panca indera yang terlatih untuk membedakan yang baik daripada yang jahat”. (Ibrani 5:14) Dengan cara ini, kita dapat lebih lagi “sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. (Roma 12:2). Orang kristen tidak lagi berada "di bawah" hukum Taurat; dia berada "di bawah hukum Kristus" (1 Korintus 9:21).

Semua orang beriman telah mati bagi hukum Taurat. Mereka "tidak lagi berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah Kasih karunia." Orang beriman tidak lagi berada di dalam alam "tuntutan", tetapi di dalam alam dari "pemberian". Orang beriman berada "di bawah" Kasih karunia, bukan Taurat, sebagai kekuatan yang menguasai, dan mereka hidup di alam dimana kasih karunia "berkuasa" (Roma 5:21) sehingga dengan demikian tidak ada lagi ketergantungan kepada manusia; semuanya bergantung pada Allah. Setiap keinginan untuk kebaikan dan setiap tindakan ketaatan yang ada pada diri setiap orang beriman dikerjakan dengan baik oleh Allah! "Karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya” (Filipi 2:13).


KASIH KARUNIA ALLAH MELEBIHI HUKUM TAURAT

Roma 5:12-14 “Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa. Sebab sebelum hukum Taurat ada, telah ada dosa di dunia. Tetapi dosa itu tidak diperhitungkan kalau tidak ada hukum Taurat. Sungguhpun demikian maut telah berkuasa dari zaman Adam sampai kepada zaman Musa juga atas mereka, yang tidak berbuat dosa dengan cara yang sama seperti yang telah dibuat oleh Adam, yang adalah gambaran Dia yang akan datang”.

Paulus menjelaskan rahasia tentang maut, menunjukkan bahwa dosa manusia adalah penyebab dari kebinasaan. Nenek moyang manusia yang pertama telah memberontak terhadap Allah, sehingga mereka dan keturunannya berada di bawah hukuman maut. Maut telah berkuasa atas semua makhluk. Namun, Allah memberikan waktu kepada manusia untuk bertobat agar manusia menerima sang Juruselamat, dan diperkenalkan kepada kehidupan yang baru melalui iman kepada Yesus Kristus.

“Tetapi karunia Allah tidaklah sama dengan pelanggaran Adam. Sebab, jika karena pelanggaran satu orang semua orang telah jatuh di dalam kuasa maut, jauh lebih besar lagi kasih karunia Allah dan karunia-Nya, yang dilimpahkan-Nya atas semua orang karena satu orang, yaitu Yesus Kristus. Dan kasih karunia tidak berimbangan dengan dosa satu orang. Sebab penghakiman atas satu pelanggaran itu telah mengakibatkan penghukuman, tetapi penganugerahan karunia atas banyak pelanggaran itu mengakibatkan pembenaran. Sebab, jika oleh dosa satu orang, maut telah berkuasa oleh satu orang itu, maka lebih benar lagi mereka, yang telah menerima kelimpahan kasih karunia dan anugerah kebenaran, akan hidup dan berkuasa oleh karena satu orang itu, yaitu Yesus Kristus”. (Roma 5:15-17).

Paulus menjelaskan rahasia mengenai dosa dan maut karena Adam yang pertama, dan mengenai kebenaran serta kehidupan karena Adam yang kedua, dimana ia menyebut bapa kita yang pertama, “Suatu pola tentang Kristus, yang akan datang.” Paulus tidak mengatakan bahwa sebagaimana dosa dan maut berkembang melalui Adam, demikian juga anugerah Allah dan karunia kehidupan kekal berkembang melalui manusia Yesus; karena Kristus lebih besar dibandingkan Adam, dan berbeda dengan Adam. Tuhan memberikan kelimpahan di dalam anugerah dan karunia surgawi. Anugerah itu tidak membawa maut dan kelumpuhan seperti maut, tetapi menghasilkan kehidupan kebangkitan, berbuah, bertumbuh, dan kuat.

Penghukuman Allah atas dosa dimulai sejak manusia yang pertama, dan secara otomatis diteruskan kepada semua manusia. Hal itu berbeda dengan pembenaran, yang tidak diawali dari seorang berdosa, tetapi dengan semua orang berdosa, karena Yesus sudah membenarkan mereka semua sekaligus. Barangsiapa yang percaya kepada-Nya akan dibenarkan.

Ketika maut, karena dosa nenek moyang tersebut, menjadi raja yang mematikan bagi semua manusia, Yesus membuka, dengan anugerah-Nya yang besar yang darinya kehidupan kekal mengalir kepada semua orang percaya. Namun, kehidupan Allah tidaklah memerintah dengan paksaan atas hati orang-orang percaya, sebagaimana yang dilakukan oleh maut, namun mereka yang disucikan akan memerintah selama-lamanya bersama dengan Kristus, Juruselamat dan Tuhan mereka. Bahkan, kebesaran Kristus tidak bisa dibandingkan dengan Adam dalam hal apapun, karena anugerah dan kehidupan dari Allah sangatlah berbeda dengan maut dan kutuk.

“Sebab itu, sama seperti oleh satu pelanggaran semua orang beroleh penghukuman, demikian pula oleh satu perbuatan kebenaran semua orang beroleh pembenaran untuk hidup. Jadi sama seperti oleh ketidaktaatan satu orang semua orang telah menjadi orang berdosa, demikian pula oleh ketaatan satu orang semua orang menjadi orang benar. Tetapi hukum Taurat ditambahkan, supaya pelanggaran menjadi semakin banyak; dan di mana dosa bertambah banyak, di sana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah, supaya, sama seperti dosa berkuasa dalam alam maut, demikian kasih karunia akan berkuasa oleh kebenaran untuk hidup yang kekal, oleh Yesus Kristus, Tuhan kita” (Roma 5:18-21).

Paulus kembali membandingkan Adam dengan Kristus. Di dalam bagian, ini, ia tidak membandingkan kedua pribadi itu terlebih dahulu, tetapi pekerjaan dan akibat dari hal itu. Melalui satu pelanggaran maka hukuman berkuasa atas semua manusia, tetapi melalui satu perbuatan kebenaran maka pembenaran dan penyucian di dalam kehidupan kekal diberikan kepada semua manusia. Betapa besarnya tawaran surgawi itu!

Akhirnya, di dalam perbandingan yang dilakukannya antara Adam dengan dosanya, dan Kristus dengan kebenaran-Nya, Paulus masuk ke dalam masalah hukum Taurat. Hukum Taurat tidak dianggap sebagai sesuatu yang akan menolong bagi keselamatan dunia karena hukum Taurat datang ke dalam sejarah keselamatan untuk menunjukkan pelanggaran secara sangat nyata, dan mendorong manusia untuk menggenapi ketaatannya. Hukum Taurat meningkatkan kekerasan hati manusia dan berlipat gandanya jumlah dosanya. Namun, Kristus membawa kita mendekat kepada sumber dari segala anugerah, dan Ia menawarkan kepada kita kepenuhan kuasa dan kebenaran yang terus menerus sehingga sungai anugerah bisa mengalir ke segala padang gurun yang ada di dunia. Paulus bersukacita dan berseru dengan penuh kegembiraan, “Jika dosa, melalui maut, berkuasa atas semua manusia di masa lalu, maka sekarang kekuasaannya sudah berakhir, karena sekarang anugerah sudah dimahkotai sebagai penguasa untuk masa kita, yang didirikan di atas kebenaran Allah yang diteguhkan oleh salib Yesus.”
















































BAB X

KRISTEN DAN HUKUM TAURAT

Seringkali orang Kristen terkesan kurang “terikat” dengan hukum Taurat. Pada umumnya alasan mereka mengacu pada kitab Galatia. 5:4, “Kamu lepas dari Kristus, jikalau kamu mengharapkan kebenaran oleh hukum Taurat, kamu hidup di luar kasih karunia". Selain itu mereka mengacu pada kitab Roma 7:6 "Tetapi sekarang kita telah dibebaskan dari hukum Taurat". Demikian juga kitab-kitab lainnya seperti  Galatia 2:16, Roma 2:6, Galatia 3:10, 2 Korintus 3:6, dan Ibrani 8:13.  Padahal Tuhan Yesus sendiri memerintahkan orang kristen untuk mengikuti hukum Taurat (Matius 5:17-18; Matius 23:1-3; Yohanes 5:46-47; Lukas 16:17).

Peranan, fungsi dan makna hukum Taurat dalam perjalanan kehidupan ke-Kristen-an saat ini sudah mulai ‘kabur’. Hukum Taurat tidak lagi dipahami dan dimengerti sebagai hukum yang bersumber dari Allah sendiri yang harus dipatuhi dan dilakukan. Orang Kristen saat ini sudah lebih mematuhi produk hukum yang dibuat oleh manusia dari pada mematuhi hukum yang dibuat oleh Allah sendiri. Manusia lebih takut melanggar hukum manusia dari pada melanggar hukum Tuhan.

Bagi orang Kristen saat ini, hukum Taurat bukanlah sesuatu yang harus diwajibkan untuk dikerjakan. Mereka melihat hukum ini bukan hukum yang harus dipatuhi untuk zaman ini. Hukum Taurat hanya merupakan pengetahuan sejarah Alkitab saja. Pengajaran hukum Taurat ini pun kurang begitu ditekankan oleh pihak gereja lagi. Gereja mungkin menganggap bahwa pengajaran utama ialah pengajaran tentang kasih Tuhan Yesus Kristus. Dampak langsung bagi warga jemaat bila tidak melakukan hukum Taurat dirasakan tidak ada sehingga hukum Taurat itu sendiri tidak dihargai sebagai sesuatu hukum yang mutlak harus dipatuhi.

Kasih tanpa hukum, kacau-balau, tetapi hukum tanpa kasih, kaku. Pepatah ini sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Jika Gereja terlalu menekankan kasih atau anugerah, dan melalaikan hukum Taurat, maka bisa saja Gereja itu akan mengalami kekacau-balauan. Sebaliknya, jika Gereja hanya menekankan hukum Taurat, dan melalaikan kasih dan anugerah Allah, maka akan terjadi kekakuan. Kita harus memelihara Hukum Taurat supaya orang menahan diri berbuat dosa. Namun perlu ditekankan seperti yang dikatakan Martin Luther, bahwa fungsi dan kuasa terpenting dari hukum Taurat itu adalah untuk menampakkan dengan jelas dan terang dosa asali itu.

Bagi bangsa Israel di zaman perbudakan di Mesir dan bagi orang percaya saat ini, keselamatan berasal hanya karena oleh anugerah Tuhan. Sebagaimana Paulus menekankan, “Sebab tidak seorang pun yang dapat dibenarkan di hadapan Allah oleh karena melakukan hukum Taurat, karena justru oleh hukum Taurat orang mengenal dosa” (Roma 3:20). Peran hukum pada zaman ini sama seperti pada zaman lalu: hukum merupakan petunjuk bagi kehidupan kita yang berasal dari Tuhan yang murah hati agar kita boleh menyenangkan Dia dan menjadi kebaikan untuk kita.

Sebagaimana orang Kristen, kita mengetahui dengan jelas akan ketidakmampuan kita melakukan hukum Taurat. Kita tahu bahwa kita adalah pelanggar-pelanggar hukum Taurat. Paulus menekankan keberdosaan manusia yang bersifat universal dengan mengutip Perjanjian Lama: “Tidak ada yang benar, seorang pun tidak. Tidak ada seorang pun yang berakal budi, tidak ada seorang pun yang mencari Allah. Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna, tidak ada yang berbuat baik, seorang pun tidak.” (Roma 3:10-12; Mazmur 14:1-3; Mazmur 53:1-3).

Kesalahan manusia bukan dari banyaknya dosa. Yakobus memperingati kita berusaha menyelamatkan diri melalui kebaikan kita bahwa “barangsiapa menuruti seluruh hukum itu, tetapi mengabaikan satu bagian dari padanya, ia bersalah terhadap seluruhnya. Sebab Ia yang mengatakan: “Jangan berzinah”, Ia mengatakan juga: “Jangan membunuh”. Jadi jika kamu tidak berzinah tetapi membunuh, maka kamu menjadi pelanggar hukum juga” (Yakobus 2:10-11).

Tetapi keadaan buruk manusia ternyata lebih menyedihkan. Melalui penerangan dari Khotbah di Bukit (Matius 5-7), di mana Yesus menekankan Hukum Taurat, sukar dipercaya bahwa ada banyak orang yang tidak pernah berzinah. Di dalam ajaranNya, semua hukum mempunyai sebuah pengertian internal yang radikal. Bayangkan umpamanya tentang perintahNya mengenai hukum ketujuh:

“Kamu telah mendengar firman: Jangan berzinah. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya. Maka jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, dari pada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka. Dan jika tanganmu yang kanan menyesatkan engkau, penggallah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa dari pada tubuhmu dengan utuh masuk neraka”. (Matius 5:27-30)

Ada dua paham berbeda yang ada pada zaman ini untuk mewakili pendapat tentang apakah orang Kristen wajib mentaati hukum Taurat atau tidak. Pada dasarnya ajaran Dispensasi dan ajaran Theonomi merupakan pandangan hermeneutika, tetapi keduanya berfokus pada hukum Taurat dalam hal-hal tertentu. Ada yang melihat penganut ajaran Dispensasi bertendensi membedakan Perjanjian Lama sebagai waktu di mana Allah bekerja melalui hukum Taurat sedangkan Perjanjian Baru sebagai sebuah masa anugerah. Pemisahan yang paling jelas dan nyata dari Firman Kebenaran ialah antara Hukum Taurat dan Anugerah. Sesungguhnya, prinsip-prinsip yang kontras ini merupakan karakteristik dua dispensasi yang paling penting yaitu antara orang Yahudi dan orang Kristen. Alkitab tidak pernah, dalam tiap dispensasi, mencampurkan dua prinsip ini. Pandangan ini oleh banyak penganut dispensasi zaman sekarang tidak dipegang secara eksplisit, sehingga berakibat pada minimalisasi hukum Taurat yaitu sebuah sikap yang kurang menghargai hukum Perjanjian Lama.

Di pihak lain, ajaran Theonomi (dalam bahasa Yunani untuk “hukum Allah”) berpendapat bahwa hukum-hukum Perjanjian Lama dan hukumnya terus berlaku sampai sekarang. Singkatnyanya, pendekatan ajaran Theonomi terhadap hukum ialah memegang ajaran Tuhan Yesus dengan serius baik secara dogmatik dan harafiah. “Iota dan titik” dari hukum Taurat tetap masih berlaku. Kesinambungan ketat tetap ada antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Penganut ajaran Theonomi percaya bahwa tanggung jawab pemerintah ialah menjalankan hukum-hukum Perjanjian Lama yang seharusnya menjadi acuan bagi masyarakat banyak.

Ajaran Theonomi dan Dispensasi mewakili dua pendekatan ekstrim tentang hukum Taurat. Meskipun ajaran theologia mereka amat ortodoks, tetapi mereka secara radikal berbeda pendapat tentang hubungan antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Ajaran Theonomi menekankan kesinambungan antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, sedangkan ajaran Dispensasi menekankan ketidaksinambungan keduanya.

Ada beberapa kelemahan dalam ajaran Theonomi. Pertama, Hukum Perjanjian Lama ditujukan kepada umat Allah ketika mereka merupakan sebuah bangsa. Umat Allah merupakan sebuah kelompok politik berbeda, yaitu bangsa Israel; dan sebuah fungsi utama yang disebut hukum-hukum yang berkenaan dengan kasus dan khususnya hukuman-hukumannya ialah untuk menjaga bangsa pilihan ini bebas dari dosa. Saat ini Allah tidak bekerja lagi hanya melalui sebuah bangsa pilihan, tetapi melalui sebuah umat pilihan yang meliputi bangsa-bangsa di dunia. Kedua, Allah memberi bangsa Israel hukum Taurat sebelum Tuhan Yesus Kristus diwahyukan ke dalam dunia. Singkatnya, kita tidak dapat menerima kesinambungan di antara kedua Perjanjian dalam hal pelaksanaan hukum dan hukuman-hukumannya. Pasal-pasal penting dari Perjanjian Baru memberikan konfirmasi bahwa sesuatu yang baru sedang bekerja.

Sebagai contoh, mari kita memperhatikan salah satu hukum Taurat, yaitu mengenai perzinahan. Perzinahan merupakan hukum ke-7 dari Dasa Titah (Keluaran 20:14; Ulangan 5:18). Hukum kasus memberitahukan kita hukumannya: “Apabila seseorang kedapatan tidur dengan seorang perempuan yang bersuami, maka haruslah keduanya dibunuh mati: laki-laki yang telah tidur dengan perempuan itu dan perempuan itu juga. Demikianlah harus kau hapuskan yang jahat itu dari antara orang Israel” (Ulangan 22:22). Berdasarkan hukum Perjanjian Lama ini, ajaran Theonomi berargumentasi bahwa pada masa ini, perzinahan harus dihukum mati. Tetapi kalau kita membaca Perjanjian Baru dengan teliti, justru mengajarkan hal yang lain. Kita ingat kembali Yohanes 7:53-8:11 mengenai wanita yang ditangkap sedang berzinah. Wanita itu adalah seorang pezinah. Dia hampir dirajam, tetapi Yesus menengahi dan menahan perajam dengan tantangan “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu” (Yohanes 8:7). Ketika Yesus memandang wanita ini, Dia berkata kepadanya bahwa Dia tidak menghukumnya. Yesus menyuruh dia pergi dengan peringatan agar “jangan berbuat dosa lagi” (Yohanes 8:11).

Oleh sebab itu maka bukan semata-mata karena kita adalah umat “Perjanjian Baru”, maka kita serta-merta mempunyai alasan untuk mencampakkan semua yang berbau Perjanjian Lama. Salah besar! Sebutan “Perjanjian Baru” justru hendak mengingatkan bahwa ia tidak muncul tiba-tiba. Ia punya akar sejarah. Ia punya ibu yang mengandung dan melahirkannya. Tak akan ada yang “baru”, bila tak ada yang “lama”.  Selain itu Dasa Titah bukanlah semata-mata etikanya orang Yahudi saja. Dasa Titah mengandung nilai-nilai yang universal. Selain itu Gereja harus memberikan penjelasan-penjelasan teologis tentang makna dan fungsi hukum Taurat bagi kehidupan setiap orang percaya. Perhatikan nats berikut:

Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi. Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga. Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.

Banyak orang yang sampai hari ini masih bertanya-tanya, meskipun dalam bentuk dan cara yang berbeda, tentang hubungan antara Tuhan Yesus dan Musa, antara Kitab Perjanjian Lama dan Kitab Perjanjian Baru. Karena Tuhan Yesus tanpa ragu menanggapinya langsung dengan memberi jawaban yang tegas, maka kita pun janganlah segan berbuat demikian. Yesus datang ke dunia bukan untuk meniadakan hukum Taurat dan kitab para nabi, dengan jalan mengesampingkan atau membatalkannya, maupun untuk mengabsahkannya secara mati dan harafiah, melainkan untuk menggenapinya.

Arti harfiah kata kerja Yunani Plerosai yang diterjemahkan di sini dengan ‘menggenapi’ ialah ‘memenuhi’. Ini menyingkapkan, seperti dikatakan Chrysostomus, bahwa ‘segala sesuatu yang diucapkan Yesus bukanlah untuk mencabut ajaran Kitab Perjanjian Lama, melainkan untuk mengangkat intinya ke permukaan, menampilkan isinya secara ‘utuh’. Untuk daat menyimak makna yang menakjubkan dari pernyataan Yesus ini, perlu kita sadari bahwa ‘hukum Taurat dan kitab para nabi’, yakni Kitab Perjanjian Lama, berisi berbagai jenis ajaran. Kaitan ajaran Yesus dengan berbagai jenis ajaran Perjanjian Lama memang berbeda-beda, namun kata ‘menggenapi’ mencakup dan merupakan kesimpulan atas keseluruhnya.

Pertama, Perjanjian Lama terdiri dari ajaran, doktrin. ‘Torah’, yang biasanya diterjemahkan ‘hukum’, sebenarnya berarti ajaran yang diwahyukan, dan Perjanjian Lama memang mengajarkan tentang Allah, manusia, keselamatan, dan lain-lain. Semua doktrin besar terdapat di situ. Namun itu barulah sebagian dari penyataan Allah. Yesus ‘menggenapi’’ semua itu dalam arti bahwa Ia melengkapinya dengan diriNya, ajaranNya dan karyaNya (bnd Ibrani 1:1-2). Perjanjian Lama adalah ibarat Injil yang masih kuncup. Perjanjian Baru adalah ibarat Injil yang sudah mekar menjadi bunga. Perjanjian Lama adalah ibarat Injil yang masih tersembunyi dalam pucuk, Perjanjian Baru adalah ibarat Injil yang sudah keluar sebagai bulir.

Kedua, isi Perjanjian Lama adalah nubuat-nubuat yang bersifat ramalam, yang masih belum merupakan kenyataan. Pandangannya terarah ke zaman Mesias yang akan datang, baik dalam ramalan berbentuk kata-kata maupun dalam ramalan berbentuk bayangan-bayangan pendahuluan, yang menggambarkan bagaimana Mesias yang bakal datang itu dalam bentuk lambang-lambang. Namun itu barulah antisipasi Tuhan Yesus ‘menggenapi’ semua itu dalam arti bahwa segala yang diramalkan itu menjadi nyata, menjelma, menjadi perwujudan dalam diriNya. pernyataanNya yang pertama pada awal penampilanNya di depan umum ialah ‘Waktunya telah genap …’ (Markus 1:14).

Berulang-ulang Ia klaim, bahwa kitab para nabi memberi kesaksian tentang Dia. Dan Matius, melebihi penginjil lain, menitikberatkan kenyataan ini dengan formula yang berulangkali diucapkannya. ‘Hal ini terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi…’ (Matius 122; bnd Matius 2:23; 3:4; 4:14, dan seterusnya bnd Matius 11:13). Klimaksnya ialah kematianNya di kayu salib, dalam mana keseluruhan system ritual Perjanjian Lama, keimanan maupun pemberian korban, memperoleh kegenapannya yang sempurna. Lalu mulai saat itu sistem ritual Perjanjian Lama itu pun berhenti berlaku. Namun, seperti yang dengan tepat dikatakan Calvin, ‘Yang kadaluwarsa hanyalah penerapannya, sebab maknanya telah mendapat penegasan yang demikian kuat’ (bnd Lukas 22:16). Keimanan dan pemberian korban itu hanya merupakan ‘bayangan’ dari apa yang harus datang; wujudnya’ ialah Kristus (Kolose 2:17).

Ketiga, Perjanjian Lama memuat aturan-aturan etis, atau hukum moral Allah. Namun hukum moral ini sering disalahmengerti dan bahkan lebih sering lagi tidak ditaati. Tuhan Yesus ‘menggenapinya’ pertama-tama dengan jalan mentaatinya, sebab Ia ‘lahir dan takluk kepada hukum Taurat’ (Galatia 4:4) dan dengan tekad ‘menggenapkan’ seluruh kehendak Allah’ (Matius 3:15). ‘Tak ada sesuatu pun yang hendak ditambahkanNya pada hukum Allah’, demikianlah tulis Bonhoeffer, ‘kecuali bahwa Ia mematuhinya’. Tapi Ia berbuat lebih dari mematuhinya; Ia menguaraikan kepada para murid hal-hal apa yang terkait dalam ketaatan kepada hukum Allah. Ia menolak tafsiran dangkal yang diberikan para ahli Taurat tentang hukum Allah itu; Ia sendiri menyajikan tafsiran yang sesungguhnya. TujuanNya bukanlah untuk mengubah hukum Taurat, apalagi meniadakannya, melainkan ‘untuk menyingkapkan seluruh kedalaman makna yang terkandung di dalamnya’. Demikianlah Ia ‘menggenapi hukum Taurat dengan mengatakan betapa radikalnya sifat tuntutan-tuntutan yang datang dari kebenaran Allah’. Inilah yang dititikberatkan Yesus ajaranNya.

Dalam setiap generasi dalam era kristiani selalu ada orang-orang yang tidak dapat menyesuaikan diri kepada sikap Tuhan Yesus terhadap hukum Taurat. Marcion, pemurtad yang terkenal dari abad kedua, yang menulis ulang Perjanjian Baru dengan meniadakan rujukan-rujukan kepada Perjanjian Lama, tentulah menghilangkan bagian ini. beberapa pengikutnya bahkan bertindah lebih jauh lagi. Mereka bahkan nekat memutarbalikkan artinya dengan menggantikan kata kerjanya, sehingga kalimatnya menjadi, ‘Aku datang bukan untuk menggenapi hukum Taurat atau kitab para nabi, melainkan untuk meniadakannya;!.

Agaknya mitra mereka dewasa ini ialah penganut apa yang lazim disebut ‘new morality’. Menurut mereka kategori hukum itu sendiri telah ditiadakan bagi orang Kristen (kendati Kristus berkata bahwa kedatanganNya bukan untuk meniadakannya). Mereka juga mengatakan tidak ada lagi hukum yang mengikat orang Kristen kecuali hukum kasih, dan bahwa mutlak hanya perintah untuk saling mengasihi itulah hukum satu-satunya yang masih ada. Sikap Tuhan Yesus terhadap Perjanjian Lama sama sekali bukan mendobrak dan membatalkan, melainkan mengukuhkan. Ia menyimpulkan posisiNya dengan satu kata, bukan ‘meniadakan’ melainkan menggenapi.

Rasul Paulus mengajarkan kebenaran yang sama. Pernyataannya bahwa ;Kristus adalah kegenapan hukum Taurat’, bukan berarti bahwa kita sekarang bebas untuk tidak mematuhinya – justru sebaliknya (Roma 8:4) – tapi bahwa kita dibenarkan oleh Allah bukannya karena ketaatan kita kepada hukum Taurat, melainkan berkat iman kita kepada Kristus, dan bahwa kesaksian tentang kabar baik ini sudah tersirat dalam hukum Taurat itu sendiri (Roma 3:21).

Setelah dipastikanNya bahwa tujuan kedatanganNya adalah untuk menggenapi hukum Taurat, maka ini dilanjutkanNya dengan menguraikan sebab musabab dan konsekuensi kenyataan ini. Sebab musababnya ialah karena hukum Taurat akan tetap berlaku sampai semuanya tergenapi, dan konsekuensinya ialah bahwa karena itu maka warga Kerajaan Allah harus tetap tunduk kepada hukum Taurat.

Inilah yang dikatakan Yesus tentang hukum Taurat, yang untuk menggenapinya Ia datang ke dunia ini: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat sebelum semuanya terjadi. Artinya bahwa sekelumit pun dari pernyataan tersebut tak akan ditiadakan, bahkan satu huruf atau bagian huruf yang terkecil sekalipun tak akan dihilangkan, sebelum semuanya digenapi. Dan penggenapan ini tak akan lengkap sebelum langit dan bumi sendiri lenyap. Sebab suatu hari langit dan bumi akan lenyap dalam suatu kelahiran kembali alam semesta yang maha hebat (Matius 24:35; bnd 19:28). Waktu, sebagaimana yang kita kenal, akan berhenti dan firman tertulis Hukum Allah tidak akan diperlukan lagi, sebab segala sesuatu yang terkandung dalamnya sudah akan digenapi. Tidak ada gambaran yang lebih tegas lagi, untuk menggarisbawahi betapa kokohnya kepercayaan Tuhan Yesus terhadap hukum-hukum Taurat dalam Perjanjian Lama.











BAB XI

SIKAP TERHADAP HUKUM TAURAT

PENDAHULUAN

Bagaimana sikap umat Kristen terhadap Hukum Taurat? Apakah bebas dari ikatan hukum Taurat ? Kalau bebas, lalu dengan hukum apa seharusnya yang diresponi oleh orang Kristen?  Yesus berkata bahwa Dia datang bukan untuk meniadakan hukum Taurat, atau kitab para nabi. Ia tidak menolak apa yang berlaku di Perjanjian Lama, tetapi justru malah menggenapinya. Mengapa ? Karena seluruh hukum Taurat menyatakan kehendak Allah untuk manusia, bahkan mencerminkan karakter Allah untuk diwujudkan dalam kehidupan manusia.

Ketika Yesus membandingkan hukum Taurat  pada murid Tuhan sejati dengan para ahli Taurat sesungguhnya Ia hendak menunjukkan bahwa para ahli Taurat melakukannya melakukan hukum Taurat hanya sebatas formalitas. Itu membuat hukum Taurat begitu kelihatan kaku, tidak menyentuh kehidupan manusia.Seharusnya hukum Taurat menghidupkan dan menumbuhkan kesadaran penuh akan keilahian dalam hidup setiap anak Tuhan. Kesempurnaan Yesus justru karena Ia melakukan hukum Taurat dalam kehidupanNya.

Tujuan melakukan hukum Taurat adalah menyatakan dan mewujudkan kualitas karakter Allah di dalam Yesus Kristus melalui kehidupan seorang Kristen setiap hari. Suatu kelak, Yesus Kristus sendiri yang akan menjadi hakim atas segala hal yang baik dan jahat yang diperbuat manusia. Dia adalah Allah yang tidak memandang muka. Keadilannya akan segera digenapi pada saat kedatangan yang kedua kali.


MENGIKUTI HUKUM TAURAT ATAU HUKUM KRISTUS ATAU KEDUA-DUANYA

Tentang Yesus Kristus dituliskan, “Tetapi sekarang Ia telah mendapat suatu pelayanan yang jauh lebih agung, karena Ia menjadi Pengantara dari perjanjian yang lebih mulia, yang didasarkan atas janji yang lebih tinggi. Sebab, sekiranya perjanjian yang pertama itu tidak bercacat, tidak akan dicari lagi tempat untuk yang kedua” (Ibrani 8:6, 7). Dalam ayat-ayat ini, “perjanjian pertama” adalah hukum Perjanjian Lama dan “yang kedua” ditujukan kepada perjanjian yang diberikan Allah kepada kita melalui anakNya.

Alkitab, Firman Allah adalah kebenaran yang bisa membebaskan kita dari dosa dan penghukuman (Yohanes 8:32; 17:17). Ia adalah satu-satunya berita yang bisa menyelamatkan jiwa kita (Yakobus 1:21). Apakah Perjanjian Lama itu bagian dari Firman Allah dan apakah ia benar? Tidak diragukan! Bagaimana dengan Perjanjian Baru? Ia juga Firman Allah. Bila memang demikian, lalu melalui hukum atau perjanjian yang mana kita harus lakukan untuk hidup? Apakah kita diwajibkan untuk mengikuti hukum Perjanjian Lama atau ajaran Kristus, atau kedua-duanya?

Hukum yang diberikan Allah kepada bangsa Israel di bukit Sinai, sering disebutkan sebagai “hukum Musa” (Kisah Rasul 13:39). Hal ini bukan berarti bahwa Musa adalah sumber dari hukum itu, dia adalah seorang mediator yang melaluinya Allah memberikan hukum. Hukum Musa itu sering juga disebut hukum Allah (Nehemia 8:8, 18) dan hukum Tuhan (Lukas 2:23, 24). Hukum itu digambarkan kudus, adil dan baik (Roma 7:12). Tanpa diragukan, bahwa 10 hukum adalah bagian yang sangat penting dari instruksi yang Allah berikan kepada bangsa Israel. Penting untuk dicatat, bahwa hukum Musa tidak hanya terdiri dari 10 hukum. Faktanya ada lebih dari 600 perintah dalam hukum Perjanjian Lama

Pada abad 15 Sebelum Masehi, Allah mengutus Musa untuk melepaskan bangsa Israel dari perhambaan di Mesir. Pada bulan ketiga setelah mereka menyeberangi Laut Merah dan lepas dari Mesir, mereka tiba di gunung Sinai (Keluaran 19:1). Allah memberi mereka sebuah hukum yang baru, yaitu hukum Musa.

Dalam Keluaran 20:2, 3 tertulis, ”Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan. Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku.” Inilah permulaan dari pernyataan hukum yang diberikan Allah di gunung Sinai. Ingat, perkataan ini diberikan kepada mereka yang telah lepas dari perbudakan di Mesir. Siapakah mereka itu? Orang Israel. Lebih jauh dalam Ulangan 5:1-3, kita membaca, “Musa memanggil seluruh orang Israel berkumpul dan berkata kepada mereka: "Dengarlah, hai orang Israel, ketetapan dan peraturan, yang pada hari ini kuperdengarkan kepadamu, supaya kamu mempelajarinya dan melakukannya dengan setia. TUHAN, Allah kita, telah mengikat perjanjian dengan kita di Horeb. Bukan dengan nenek moyang kita TUHAN mengikat perjanjian itu, tetapi dengan kita, kita yang ada di sini pada hari ini, kita semuanya yang masih hidup.” Perjanjian yang mana yang dibicarakan Musa disini? Yaitu perjanjian yang dibuat Allah di Sinai. Dengan siapa perjanjian itu dibuat? Dengan mereka dimana Musa berbicara. Perhatikan, dikatakan bahwa pada hari itu Musa hanya berbicara kepada bangsa Israel, mengingatkan mereka akan perjanjian yang telah dibuat Allah dengan mereka. Hanya ada satu bangsa yang hadir di gunung Sinai yang menerima hukum Musa dan bangsa tersebut adalah bangsa Israel. Hukum Musa tidak dialamatkan kepada bangsa Spanyol, China, Amerika atau orang Kristen di negara manapun. Hukum itu hanya diberikan kepada bangsa Yahudi.

Segala sesuatu yang Allah perbuat pasti mempunyai tujuan. Tuhan pasti mempunyai tujuan dalam memberikan hukum Musa kepada bangsa Israel. Salah satunya adalah untuk menolong mereka mengerti tentang dosa, “Sebab tidak seorang pun yang dapat dibenarkan di hadapan Allah oleh karena melakukan hukum Taurat, karena justru oleh hukum Taurat orang mengenal dosa” (Roma 3:20). Tujuan yang lainnya adalah menolong bangsa Israel untuk datang kepada Kristus (Galatia 3:24).

Sebagai orang Yahudi, Yesus hidup di bawah hukum lama dan wajib mentaatinya (Galatia 4:4). Yesus tidak pernah melanggar hukum Musa, tetapi melakukannya dengan sempurna. Dia tidak berdosa (1 Petrus 2:22). Dia digambarkan sebagai tujuan akhir hukum Taurat (Roma 10:4). Kemudian, Dia menggenapi hukum Taurat (Matius 5:17).

Saat ini Allah berbicara kepada kita melalui AnakNya (Ibrani 1:1, 2). Kita hidup melalui apa yang Yesus katakan (Matius 17:5). Setelah kebangkitanNya Dia berkata, "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman" (Matius 28:18, 20).

Hari ini Tuhan memanggil manusia melalui Injil, bukan melalui hukum Musa (2 Tesalonika 2:14; Roma 1:16; 2 Yohanes 9). Hukum Perjanjian Lama datang dari Allah dan yang bermanfaat bagi orang Kristen bila mempelajarinya. Tetapi harus diingat bahwa hukum itu tidak lagi mengikat. Saat ini Tuhan ingin agar semua manusia dimana saja mengikuti pengajaran Kristus, yang juga disebut Injil Perjanjian Baru.

"Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi" (Matius 22:37-40). Jika kita melakukan kedua hal ini, kita menggenapi apa yang Kristus ingin kita lakukan. “Sebab inilah kasih kepada Allah, yaitu, bahwa kita menuruti perintah-perintah-Nya. Perintah-perintah-Nya itu tidak berat” (1 Yohanes 5:3).


HIDUP DALAM ATURAN ALLAH

“Sebab sebelum hukum Taurat ada, telah ada dosa di dunia. Tetapi dosa itu tidak diperhitungkan kalau tidak ada hukum Taurat” (Roma 5 :13). Paulus membandingkan Adam dan Kristus sebagai wakil dari dua kelompok manusia. Adam adalah manusia pertama. Ia jatuh ke dalam dosa karena melanggar firman Allah. Pelanggaran Adam ternyata bukan hanya berpengaruh pada dirinya sendiri. Persekutuan dengan Adam mengakibatkan seluruh manusia jadi terkena dampaknya (ayat 12, band. 1 Korintus 15:22). Semua manusia jadi terlahir sebagai orang berdosa karena ketidaktaatan Adam. Lebih dari itu, sebagai hukuman dosa, semua manusia harus binasa (ayat 17). Dosa Adam bukan sekadar sebuah contoh buruk yang jelas tidak boleh ditiru, tetapi dosa Adam merusak kemanusiaan secara keseluruhan.

Hukum Taurat membawa kita kepada pengertian akan banyaknya pelanggaran yang telah kita lakukan. Hukum Taurat menjadi cermin dan panduan bagi kita, juga sebagai introspeksi prilaku kita. Sebelum Kristus datang ke dunia ini, manusia dihakimi melalui Hukum Taurat. Akan tetapi kasih dan kemurahan Allah tidak membiarkan manusia tetap dalam dosa dan maut. Tuhan Allah mengutus Adam terakhir yaitu Yesus Kristus (1 Korintus 15:45) yang berlawanan dengan Adam justru merendahkan diri dan taat sempurna kepada Allah. PengorbananNya di kayu salib menjadi kekuatan yang menganugerahkan hidup bagi semua yang percaya kepada-Nya. Kristus lebih mengutamakan kehendak Allah diberlakukan dalam hidup-Nya. Bahkan meski itu harus mengorbankan nyawa-Nya. Namun dampaknya ternyata jauh lebih luar biasa (ayat 16). Ketaatan Kristus membuat Allah tidak memperhitungkan dosa-dosa manusia yang mau percaya kepada Dia. Karya-Nya membuat orang-orang yang percaya kepada Dia menerima pembenaran (ayat 18-19).

Namun daripada itu, bukan berarti Hukum Taurat tidak lagi dibutuhkan. Justru Kristus datang ke dunia ini untuk menggenapi hukum Taurat. Karena pada dasarnya manusia ciptaan Allah tidak mampu membebaskan dirinya dari tuntutan Hukum Taurat. Oleh karena itu Allah mengutus AnakNya untuk menggenapinya (memenuhi tuntutan itu). Kesempurnaan penggenapan itu telah nyata melalui pengorban Kristus di kayu salib. Sehingga manusia tidak lagi tunduk kepada Hukum itu, melainkan tunduk kepada Kristus Sang Penebus. Yesus sendiri yang akan menghakimi kita dengan caraNya sendiri. Oleh karena itu, kita dapat memutuskan untuk terikat dalam persekutuan dengan Kristus dan menikmati kelahiran baru di dalam Dia. Persekutuan yang baru ini memungkinkan kita memiliki keselamatan dan hidup kekal karena kasih karunia Kristus yang tercurah atas kita (ayat 21). Kelahiran baru menandai pemutusan hubungan kita dengan dosa dan kuasanya, serta mengawali hidup baru di dalam Kristus untuk menikmati kekekalan sebagai anak Allah. Dalam kehidupan baru itu, kita harus memelihara hukum Tuhan sebagai respon kita akan anugerah keselamatan itu.








    

0 comments:

Posting Komentar