Sabtu, 10 Agustus 2019

Mahasiswa Jaman Now: Gaya Hidup Sosialita, Orang Tua Susah Di Kampung

 


Pernah mendengar gaya hidup sosialita? Apa itu gaya hidup sosialita?

Sosialita atau sosialite merupakan akronim yang diserap dari bahasa Inggris. Sosialite berasal dari dua kata yakni sosial dan elite.

Sosial dapat berarti Suka memperhatikan kepentingan umum (suka menolong, menderma, dan sebagainya), sedangkan elite dapat berarti Kelompok kecil orang-orang terpandang atau berderajat tinggi (kaum bangsawan, kaum berduit dan lain sebagainya).

Jika dilihat dari pengertian diatas, maka sosialite atau sosialita merupakan sekelompok orang yang terpandang dan memiliki derajad tinggi namun mereka memiliki jiwa sosial dengan memperhatikan kehidupan orang-orang yang kurang mampu atau miskin.

Namun seiring perubahan jaman, sosialita mengalami pergeseran makna. Sekarang ini arti kata sosialita dikaitkan dengan kehidupan mewah, glamour dan menghabis-habiskan uang.

Gaya hidup tak sesuai kemampuan kemudian mendorong mereka cenderung mengambil jalan pintas dengan menghalalkan segala cara. Mereka ingin merasakan kenyamanan yang semu.

Salah satu yang paling nampak dari gaya hidup sosialita sekarang ini adalah pada kehidupan mahasiswa di Indonesia.

Mahasiswa jauh merantau dari kampung, tinggal di kota, hidupnya berlagak orang kaya di perantauan. Sekali jalan habis ratusan ribu, sekali makan kena ratusan ribu.

Pernahkah saat kamu menghabiskan uang yang begitu banyak untuk sekedar kesenangan, biar dikatakan “gaul”, kamu pernah memikirkan keluargamu yang di kampung ?

Pernahkah kamu pikirkan berapa penghasilan orang tuamu sehari dibandingkan banyaknya pengeluaranmu sekali jalan? Pernahkah kau pikirkan apa yang mereka makan saat kamu makan di restoran mewah?

Apakah kamu malu jadi orang miskin sehingga kamu berpura pura jadi orang yang berada di perantauan ini? Bukankah kamu menyangkal orang tuamu yang hidup tak seenak hidupmu di perantauan?

Ingat tujuanmu diperantauan ini. Mengapa harus mudah terpengaruh ajakan yang membuatmu lupa siapa sebenarnya dirimu. Yang membuatmu menyangkal dirimu sendiri dan berpura pura jadi orang lain. Bukannya kita iri atau tidak bisa seperti kamu. Tetapi kami masih tau batas. 

Hiduplah sederhana tidak akan membuatmu mati.  Kejar dan capailah dulu tujuaan utamamu di perantauan. Kelak kamu sukses dan kaya, kamu bisa ajak orang tuamu merasakan kesenangan itu.

Referensi:
1. Wikipedia
2. Fanpage Facebook: Filsafat dan Refleksi

Jumat, 26 Juli 2019

Pengurus FPP-KT Mengklarifikasi Penyalagunaan Nama Organisi Dalam Aksi Demo Masyarakat Tolikara di Pengadilan Negeri Jayapura


Karubaga Sulhit.Com. Pendiri dan pengurus wadah Forum Peduli Pembangunan Kabupaten Tolikara (FPP-KT) mengklarifikasi penyalagunaan nama wadah yang dilakukan oleh masyaraka,  untuk melakukan aksi demo di Kantor Pengadilan Negeri Jayapura, Selasa 23 Juli 2019.

Senin, 08 Juli 2019

Jejak Kekerasan TNI di Longoboma Tolikara Papua: Memoar Perjuangan Kasim Tuduho (1970–1980)

Ilustrasi Foto Operasi TNI

Sejarah seringkali tertulis dalam darah dan air mata mereka yang berada di garis depan pengabdian. Di balik keindahan bentang alam Karubaga, Kabupaten Jayawijaya (kini bagian dari Kabupaten Tolikara), tersimpan memori kelam tentang penindasan, stigma, dan keteguhan seorang pemimpin masyarakat. Ini adalah kisah Kasim Tudoho, seorang pria kelahiran Fak-Fak yang mendedikasikan hidupnya sebagai Kepala Kampung Longoboma demi melindungi rakyatnya dari badai kekerasan militer di era Orde Baru.

Dedikasi di Tengah Pusaran Konflik
Pada tahun 1980, Kasim Tuduho dipercaya untuk menjabat sebagai Kepala Kampung Longoboma, Distrik Karubaga. Dengan semangat kemandirian, ia membangun kantor desa menggunakan dana pribadi dan sumbangan swadaya masyarakat. Di bawah kepemimpinannya, birokrasi kampung dijalankan secara disiplin; setiap staf memiliki ruang kerja dan diwajibkan mengikuti apel pagi guna memastikan pelayanan publik berjalan optimal.
Kasim tidak hanya membangun infrastruktur, tetapi juga membina ekonomi rakyat melalui tiga pilar pemberdayaan: perkebunan, perikanan, dan peternakan. Selama satu dekade, program-program ini membawa angin segar bagi kemajuan masyarakat lokal. Namun, keberhasilan ini justru memicu kecemburuan. Fitnah mulai beredar, menyebut Kasim sebagai bagian dari "gerombolan" (istilah Orde Baru untuk kelompok separatis), sebuah tuduhan yang nyaris merenggut nyawanya.

Konfrontasi dengan Kekuasaan: Menghadap Bupati Brigadir Jenderal TNI (Purn.) Jos Buce Wenas.
Akibat laporan palsu tersebut, Kasim dipanggil oleh Bupati Jayawijaya saat itu, Brigadir Jenderal TNI (Purn.) Jos Buce Wenas. Ia menempuh perjalanan jauh dengan berjalan kaki dari Karubaga menuju Wamena. Setibanya di sana, Kasim menghadapi ujian mental yang berat. Di ruang kerja bupati, ia diperintahkan berdiri dengan satu kaki selama satu jam sebagai bentuk hukuman sebelum diizinkan duduk.
Dengan tenang dan berani, Kasim menyerahkan laporan kerjanya. "Bapak jangan hanya bertanya kepada saya, tetapi lihatlah hasil kerja saya dalam membina masyarakat," tegasnya. Keberanian dan bukti nyata kinerjanya melunakkan hati Bupati Wenas, yang akhirnya menerima laporan tersebut dan mendorongnya untuk terus mengembangkan program pemberdayaan.

Teror Orde Baru di Longoboma
Era 1970 hingga 1980-an merupakan masa-masa gelap bagi warga Longoboma. Di bawah rezim militeristik, kesalahan kecil bisa berujung pada eksekusi atau mutilasi. Longoboma menjadi target operasi militer Koramil Karubaga selama bertahun-tahun. Catatan kelam menunjukkan bahwa kekerasan tidak hanya menyasar nyawa dan harta benda, tetapi juga menyisakan trauma mendalam bagi perempuan dan anak di bawah umur yang menjadi korban kekerasan seksual aparat.
Puncak ketegangan terjadi ketika Wakil Danramil Karubaga melaporkan ke Kodim 752 Wamena bahwa Longoboma adalah tempat latihan gerombolan. Hal ini memicu mobilisasi Pasukan 733 dari Ambon untuk melakukan operasi besar-besaran. Tanpa akses jalan darat yang memadai saat itu, pasukan berjalan kaki dari Wamena, sementara komandannya, Letnan Jhon, tiba menggunakan helikopter dan menyamar sebagai dokter di Puskesmas Karubaga untuk mengumpulkan informasi intelijen.

Diplomasi di Meja Makan
Menyadari ancaman besar yang mengintai desanya, Kasim Tuduho mengambil langkah diplomatis yang berisiko. Ia mengundang Danramil dan Letnan Jhon untuk makan malam di rumahnya di Ampera. Dalam percakapan yang krusial itu, Letnan Jhon secara terbuka menanyakan tentang keberadaan markas gerombolan.
Kasim menjawab dengan tegas, "Tidak ada, Pak. Saya kepala kampung di sana dan saya tidak tahu-menahu soal gerombolan. Jika Bapak punya bukti, silakan datang sendiri dan berinteraksi langsung dengan rakyat saya."
Berkat koordinasi yang cerdik bersama Kapolsek Karubaga saat itu, Bapak Kamorang Karema, Kasim berhasil meyakinkan pihak militer untuk tidak melakukan operasi kekerasan, melainkan hanya kunjungan langsung untuk memverifikasi keadaan.

Membela Rakyat di Garis Depan
Kebenaran akhirnya terungkap saat kunjungan lapangan berlangsung. Ketika beberapa aparat mencoba memprovokasi dengan menembak ternak warga (babi) dengan alasan "mencungkil tanah", Kasim menunjukkan dengan mata kepala sendiri bahwa ketakutan warga berasal dari perilaku aparat, bukan dari keberadaan gerombolan. Malu atas tindakannya yang terbukti salah sasaran, Wakil Danramil akhirnya ditarik dan diadili di Wamena.
Di masa-masa sulit, Kasim Tuduho bersama Pdt. Linge Nugur Wenda menyisir hutan-hutan dan gua-gua untuk menjemput masyarakat yang mengungsi karena ketakutan. Ia memberikan jaminan keamanan dengan taruhan nyawanya sendiri. "TNI dan Polri harus membunuh saya terlebih dahulu sebelum mereka bisa menyentuh kalian," ucapnya kepada warga yang ketakutan.

Penutup: Warisan Keberanian
Perjuangan Kasim Tuduho tidak terbatas di Longoboma, tetapi juga mencakup wilayah Konda, Anawi, Guburini, dan sekitarnya. Didukung oleh sosok-sosok seperti Kamorang Karema, Labetubun, dan Luaran Muri, Kasim membuktikan bahwa kepemimpinan sejati adalah tentang melindungi yang tertindas.
Catatan ini ditulis agar sejarah tidak melupakan pengorbanan rakyat kecil dan keberanian seorang pemimpin yang teguh berdiri di atas kebenaran, bahkan di bawah bayang-bayang senjata.

Kisah ini disusun berdasarkan penuturan langsung mantan Kepala Kampung Longoboma Bapak Kasim Tuduho, yang menyaksikan dan merasakan langsung penindasan di tanah Papua.


Oleh : Jazwan W. Yanengga
Penulis


Minggu, 07 Juli 2019

Pembaptisan Dua Pemuda GIDI di Klasis Timika


Kedua Gembala Sedang Membaptis Pemuda yang Sudah
 Menerima Yesus

Timika Sulhit News.
 Gereja Injili di Indonesia ( GIDI) Wilayah Pantai Selatan Klasis Timika, telah melakukan pembaptisan pada Dua pemuda yang bertobat dan telah menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat secara pribadi  Minggu 07 Juli 2019, di  Selamat Datang SP Tiga Jile-Jale Timika Papua. 
Dalam kesempatan ini pelayanan Firman Tuhan  di bawakan oleh Ketua Klasis GIDI Timika Pdt.Sudirman Harianja, S.Th.

Minggu, 30 Juni 2019

YESUS DATANG UNTUK ORANG BERDOSA



Oleh : Jazwan W. Yanengga

Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat.  ( Lukas 5:32) 

Memang wajar kalau para ahli Taurat dan orang Farisi tidak bisa menerima fakta Yesus bertandang ke rumah Lewi si pemungut cukai dan makan bersamanya. Dalam tradisi orang Yahudi, makan adalah bentuk persekutuan. Bagaimana mungkin, orang benar, bahkan seorang rabi, bersekutu dengan orang-orang berdosa? Apa yang ditolak karena dianggap najis, justru itulah yang Yesus lakukan. Yesus dan para murid menghadiri perjamuan makan yang diadakan Lewi untuk diri-Nya. Bahkan Ia duduk semeja dengan mereka yang disebut orang berdosa oleh para ahli Taurat dan orang-orang Farisi.

Bagi Yesus, yang penting dari undangan perjamuan makan adalah respons Lewi yang menerima kehadiran-Nya dalam hidupnya, dan kehadiran orang-orang ‘berdosa’ lainnya untuk mengenal dan menerima Dia seperti yang telah terjadi pada Lewi. Bagi Yesus, hidup-Nya jauh lebih berguna untuk mereka yang menyadari diri sebagai orang berdosa, daripada untuk mereka yang merasa diri orang benar dan tidak memerlukan Juruselamat. 

Sebagaimana Yesus datang untuk menyelamatkan orang berdosa, demikianlah seharusnya hidup kita, anak-anak Tuhan yang sudah terima Yesus sebagai juruselamat  adalah untuk menjadi berkat untuk sesama kita, terutama mereka yang masih  berada dalam dosa.


Sabtu, 22 Juni 2019

KERELAAN HIDUP ATAU MATI


(Dok Sulhit. News)



( Filipi 1:21)

Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.

Kematian itu adalah suatu penderitaan yang mengerikan bagi manusia yang tidak memiliki keyakinan, bahkan sesuatu yang sangat ditakuti. Kematian dianggap sebagai akhir dari segalanya, akhir dari kehidupan ini.

Kamis, 20 Juni 2019

Rabu, 19 Juni 2019

Selasa, 18 Juni 2019

KEMALASAN MENDATANGKAN KEMISKINAN"

Oleh : Jazwan W Yanengga

Amsal 10:4 
Tangan yang lamban membuat miskin, tetapi tangan orang rajin menjadikan kaya. 

Siapakah mereka itu, yang sekalipun kaya pasti saja akan jatuh menjadi miskin, yaitu mereka yang lamban tangannya, yang tak acuh dan ceroboh dalam bekerja, dan tidak mau tahu mana yang harus didahulukan, dan tidak pernah bersemangat menggunakan tangan mereka untuk bekerja atau mengerjakannya dengan tekun. Mereka adalah orang-orang yang bekerja dengan tangan yang penuh tipu daya.

Orang-orang yang berpikir untuk memperkaya diri mereka dengan jalan muslihat dan tipu daya, pada akhirnya akan menjadikan diri mereka miskin, bukan saja karena kutuk Allah menimpa apa yang mereka miliki, melainkan juga karena lenyapnya nama baik mereka di hadapan manusia. Tidak akan ada orang yang mau berurusan dengan orang-orang yang bekerja menggunakan tipu daya dan yang tampak bersikap jujur dari luar saja.

2. Siapakah mereka itu, yang walaupun kini miskin akan menjadi kaya, yaitu mereka yang rajin dan jujur, yang cermat dalam mengerjakan urusan mereka, serta mengerjakan apa pun yang dijumpai oleh tangan mereka dengan segenap kekuatan mereka, dengan cara yang jujur dan terhormat. Apa yang telah mereka miliki punya harapan akan menjadi semakin banyak. Tangan orang cerdik (demikian menurut beberapa orang), yaitu tangan orang-orang yang tajam, tetapi tidak curang, tangan yang giat (demikian menurut yang lain), tangan yang bekerja, pasti menghasilkan uang. Ini juga berlaku dalam perkara rohani, seperti halnya dalam perkara duniawi. Kemalasan dan kemunafikan mengakibatkan kemiskinan rohani, tetapi mereka yang rohnya menyala-nyala dan melayani Tuhan , sangat mungkin akan menjadi kaya dalam iman serta kaya dalam kebajikan .


Jumat, 14 Juni 2019

Memenuhi Panggilan Tuhan

Pdt. Yusuf Yikwa/ Akrab di panggil bapak Mantri (Jazwanphoto)

Pelayanan terbesar yang dapat kita berikan kepada Tuhan adalah memenuhi panggilan untuk menjadi saksi Kristus.
Kisah Para Rasul 1:8 merupakan Moto Gereja Injili di Indonesia (GIDI) menjadi landasan dan pegangan utama  bagi umat GIDI terutama parah hamba Tuhan dalam menjalankan pelayanan untuk memenangkan jiwa-jiwa yang tersesat berada dalam kuasa kegelapan saat ini. Serta  Demi mewujudkan Visi dan Misi Kristus untuk memberitakan Injil di seluruh dunia.

Sebagai pengikut Kristus, kita dipanggil untuk menjadi saksi atas apa yang telah Yesus lakukan di dalam kita dan bagi kita. Untuk menuntun orang kepada Kristus, kita tidak perlu dapat menjelaskan setiap persoalan teologis atau menjawab setiap pertanyaan. Yang harus kita lakukan adalah menjelaskan apa yang telah kita saksikan di dalam hidup kita sendiri melalui salib dan kebangkitan Juruselamat kita. Luar biasanya lagi, kita tidak perlu bergantung kepada diri kita sendiri untuk melakukannya. Yesus berkata, “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi” (Kis. 1:8).

Ketika kita bergantung kepada kuasa Roh Kudus, kita dapat membawa orang-orang yang terluka di tengah dunia ini kepada Kristus yang sanggup menebus mereka. Dengan pertolongan-Nya, kita bisa bersaksi tentang kuasa kehadiran-Nya dalam diri kita yang sanggup mengubahkan hidup!

 Pdt. Yusuf Yikwa, adalah salah satu  penginjil yang di utus dari Klasis Konda- Wilayah Toli ke Kamur   Wilayah Pantai Selatan,  Distrik Pantai Kasuari  Kab. Asmat Pada Tahun 1973, di tengah-tengah Suku Sawi. Selama pelayanan disana  tiga misi yang ia jalani adalah sebagai Penginjil, Mantri dan tukang Bangunan.  

Menurut cerita beliau, tantangan awal yang beliau dan istrinya alami adalah belajar bahasa, budaya dan  mengemudi  perahu kayu. Meskipun demikian beliau dengan istrinya Neniamban  Wenda,  tetap berusaha untuk belajar. Karena di lihat dari medannya begitu luas dan rawa, kunjungi umat, mencari makan di hutan semuanya dengan perahu karena  satu-satunya akses jalan dari kampung ke kampung lain melalui air, tidak ada jalan darat.  Banyak tantangan yang Ia hadapi dalam pelayanan namun beliau dengan istrinya  tetap optimis, sebab mereka tahu bahwa Tuhan ada bersama mereka. Atas Rahmat dan campur tangan Tuhan, mereka belajar semua yang mereka anggap tidak bisa itu, baik bahasa, budaya dan belajar mengemudi perahu kayu. 

"Dalam Penginjilan jangan pernah secara langsung memaksakan orang lokal untuk berubah kehidupannya untuk mengikuti kehidupan kita, tetapi kita sendiri  yang harus berusaha untuk menyesuaikan diri dengan kehidupan mereka. Maka mudah dalam penyesuaian dengan lingkungan yang ada dalam hal belajar bahasa dan budaya setempat, demi kemajuan Injil keselamatan, sebab mereka akan paham ketika kita menyampaikan Firman dengan bahasa mereka sendiri dan mengambil ilustrasi dengan kehidupan mereka dalam sehari-hari "  ( Pdt. Yusuf Yikwa)

Beliau dikaruniai dua putra dan satu putri, ketiganya sudah memiliki keluarga sendiri-sendiri.
Satu putra dengan keluarganya tinggal  bersama orang tua di kamura saat itu, putra yang kedua tugas di Merauke sebagai Guru, dan putri sudah  memiliki keluarga juga.  Kemudian dua anak sawi yang menjadi anak  angkat dalam keluarganya.

Sekian tahun beliau melayani  di suku sawi, Setelah orang sawi bisa berdiri sendiri di atas negerinya misionaris dari luar Negara dan dari Papua meninggalkan mereka lalu keluar.

Beliau ini di angkat sebagai PNS di lingkungan pemerintah kabupaten Merauke, dan di tugaskan  Distrik Bupul Kab. Merauke sebagai mantri,  Setelah pensiun dari pemerintah beliau kembali ke kota Merauke pada tahun 2011.

Selama di Merauke, beliau melayani di Jemaat GIDI Efesus Jati-Jati Merauke, sebagai majelis, dan penasehat pemuda, mantri serta tukang bangunan.

Di luar dari pelayanan di Gereja beliau  juga sebagai penasehat Himpunan Mahasiswa Tolikara (HMT) di Merauke saat itu.  Banyak nasehat dan pengalaman yang ia bagikan kepada Mahasiswa Tolikara di Merauke,  bukan hanya dengan teori saja namun  beliau juga ajarkan langsung kepada Mahasiswa, cara Bagun Rumah. 

Atas berkat dorongan dari orang tua  sehingga roda organisasi berjalan dengan baik dan lancar semua kepengurusan dalam organisasi tersebut. Baik dalam hal komunikasi antara, mahasiswa, pelajar, masyarakat dan Pemda Tolikara maupun Pemda Merauke. dan kegiatan fisik, memperingati hari-hari raya besar umat Kristen serta kegiatan non fisik. 

Pada usia tua beliau bukan istirahat dari perjalanan dalam pelayanan cukup panjang itu namun kembali mencari jiwa ke ladang Tuhan.
Pada Tahun 2012, beliau mengambil keputusan untuk kembali melayani di rimba Korowai, tepatnya pos Danogawe dimana tempat tugas bapak Yowenus Wonda. Saat ini beliau dengan keluarganya masih melayani di Danowage bersama bapak Yowenus Wenda.
Ketika beliau ada di rimba korowai, putranya yang pertama telah di panggil Tuhan di kediamannya Kompleks pertanian Jati-Jati Merauke.
Almarhum telah meninggalkan istrinya dan ketiga putranya di Merauke.

Bapak/Ibu, saudara/i, terus mendukung beliau dalam Doa agar Tuhan berikan usianya yang panjang dan sehat dalam pelayanan di Rimba Korowai.

Penulisan cerita ini kurang lengkap  dan jauh dari kesempurnaan perjalanan seorang  bapak  yang akrab di panggil bapak Mantri ini.