Jumat, 06 Desember 2019

Natal Bersama Pemuda GIDI Klasis Timika, Tahun 2020 Pemuda Siap Untuk Melanjutkan Pelayanan di Ladang Tuhan

Suasana Ibadah Natal Bersama Pemuda GIDI Klasis Timika Tahun 2019


Timika Sulit.Com. Pemuda GIDI Se-Klasis Timika telah melaksanakan Ibadah Penyambutan Natal 25 Desember 2019, Jumat 6 Desember 2019.

Dalam momentum ini pemuda GIDI Klasis Timika telah mengangkat tema: "Sukacita Berjumpa Dengan Yesus“ diambil dari  Injil (Lukas 2:12) dan Sub Tema : "Melalui Momen Natal ini setiap Pemuda/I GIDI Klasis Timika memastikan bahwa telah berjumpa dengan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat" .

Dalam Ibadah tersebut  dihadiri  oleh semua Pemuda-Pemudi, para senior dan  juga tua-tua Gereja. Sebagai mentor yang selalu mensupport Pemuda untuk terus maju dalam pelayanan. 
Dalam kesempatan istimewa ini khotbah di bawakan oleh Pdt. Luther Kogoya, B.Th. Menjadi  pesan dalam  Natal bersama  tahun 2019 ini adalah kita harus kembali ke Tema Aung di keluarkan oleh Badan Pekerja Pusat,  Gereja Injili Di Indonesia (GIDI). Jadi di luar Yesus tidak ada sukacita yang abadi, di luar Yesus tidak ada kedamaian dan tidak ada kebahagiaan yang sejati. Jalan satu-satunya untuk mendapatkan beberapa hal diatas adalah hanya di dalam Yesus.  Didalam Yesus  ada sukacita dan damai sejahtera. Ujar Kogoya dalam khotbahnya.

Dalam kesempatan yang sama Pdt.  Sudirman Harianja, S.Th, Menyampaikan pesan Natal 2019 adalah pesan sukacita yang membawa kita kembali kepada sejarah bersama pendiri Gereja Injili Di Indonesia GIDI. Cita-cita bersama nya dan perjuangan bersama dengan Tuhan, bagi kemanusiaan warga GIDI yang bersukacita.
Dengan penuh sukacita, kita merayakan pesta kelahiran Tuhan kita Yesus Kristus, Raja Damai yang datang untuk merobohkan tembok pemisah yakni perseteruan yang memecah belah umat GIDI. Sambil merayakan natal dengan penuh sukacita dan syukur kepada Tuhan Yesus pemuda ditantang meneruskan Misi Gereja Injili Di Indonesia GIDI dan terlibat langsung dalam pelayanan di tubuh Gereja Injili Di Indonesia. Tutur Pdt. Sudirman dalam sambutan atau kesan pesan Natal bersama Pemuda GIDI Klasis Timika.

Kita merasa kehilangan ketiga pahlawan Iman atau  hamba Tuhan yang gugur di medan perang atau di  ladang Tuhan. Mereka adalah  pendiri dan tua-tua Gereja yakni; Bpk Pdt. Andome Kogoya, Bpk Pdt. Nano Ekwa Kogoya. Beliau adalah salah satu pendiri Gereja Injili Di Indonesia di Wilayah Toli dan Bpk Pdt. Depius Kogoya. Tuhan memanggil mereka dalam waktu yang sama tahun 2019.  Ketiga hamba ini telah menyelesaikan tugas dengan baik, kita (Pemuda) harus mengisi kekosongan tersebut artinya kita harus meneruskan pelayanan yang ditinggalkan oleh bapak-bapak ini.

Merayakan Natal dalam terang kehadiran Ilahi yang menawarkan persahabatan berlandaskan cinta kasih merupakan panggilan bagi kita untuk keluar dari sekat-sekat suku, budaya, agama, dan lain-lain. Bagi umat GIDI panggilan tersebut merupakan suatu panggilan untuk menjadi murid sejati, yang mempraktikkan cinta kasih dalam kehidupan sehari-hari bersama keluarga, Gereja, dan masyarakat. Pesan Natal 2019 adalah pesan persahabatan yang membawa kita kembali kepada sejarah bersama Gereja Injili Di Indonesia, cita-cita bersamanya, dan perjuangan bersama bagi kemanusiaan, bagi manusia yang bermartabat.

Semoga Natal ini sungguh-sungguh menjadi saat bagi kita untuk berdukacita dan bergembira. Yesus Sang Imanuel dan hikmat Allah bagi kita dan memimpin kita untuk hidup dalam hikmat Allah selamat Natal. 

PEMUDA GIDI KLASIS TIMIKA
 β„³β„―π“ƒβ„Šπ“Šπ’Έπ’Άπ“…π“€π’Άπ“ƒ 
SELAMAT NATAL 2019  &  TAHUN BARU 2020

Rabu, 04 Desember 2019

Jadikan Setiap Langkah Anda Berarti


Jadikan Setiap Langkah Berarti


1 Korintus 9: 25-26
 “Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi. Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul.”

Selasa, 10 September 2019

Sabtu, 24 Agustus 2019

Dari yang Terkecil Muncul Pemimpin Besar

Dari yang terkecil menjadi terbesar


Oleh: Pdt. Alokasih Gulo

Mikha 5:2-5 
(5-1) Tetapi engkau, hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, dari padamu akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala. 
(5-2) Sebab itu ia akan membiarkan mereka sampai waktu perempuan yang akan melahirkan telah melahirkan; lalu selebihnya dari saudara-saudaranya akan kembali kepada orang Israel. 
(5-3) Maka ia akan bertindak dan akan menggembalakan mereka dalam kekuatan TUHAN, dalam kemegahan nama TUHAN Allahnya; mereka akan tinggal tetap, sebab sekarang ia menjadi besar sampai ke ujung bumi, 
(5-4) dan dia menjadi damai sejahtera. Apabila Asyur masuk ke negeri kita dan apabila ia menginjak tanah kita, maka kita akan membangkitkan melawan dia tujuh gembala, bahkan delapan pemimpin manusia. 

Senin, 19 Agustus 2019

Dampak Pengusiran Mahasiwa Papua dan Aksi Rasialis di Surabaya, Tanah Papua Rusuh Hari ini

Masa aksi di Kantor Gubernur Papua

Oleh: Willem Wandik, S. Sos

Papua Sulhit News. Tiga hari yang lalu, saat momentum perayaan 17 agustus, saat penyerangan terhadap Mahasiswa Tanah Papua di Kota Surabaya terjadi, bahwa kami telah mengingatkan, peristiwa itu akan berdampak luas di Tanah Papua, sebab Mahasiwa adalah simbol kehormatan intelektual bagi masyarakat dan komunitas di Tanah Papua.. Nasi sudah menjadi bubur, aksi sentimen antara masyarakat Papua dan Masyarakat di Kota Surabaya, menghasilkan ekses sosial yang tidak pernah di duga.. kerusuhan dalam skala besar di sejumlah kota utama di Tanah Papua yang tersebar di Provinsi Papua dan Papua Barat.

Sabtu, 17 Agustus 2019

17 Agustus 2019 Bendera Bintang Kejora Berkibar di Asmat Papua

Bendera Bintang Kejora sedang Berkibar di atas Menara

Asmat Sulhit News. Detik-detik memperingati Hari Ulang Tahun Republik Indonesia yang  Ke-74, bendera bintang kejora atau bendera Bangsa Papua Barat  telah berkibar di Kota Agats Ibu kota Kabupaten Asmat,  pada  menara navigasi, Jln. Josudarso, belakang pangkalan ojek Ayam kecil,  Sabtu 17 Agustus 2019.

Senin, 12 Agustus 2019

Hukum di Pengadilan Allah


Oleh : Jazwan W. Yanengga

"Janganlah ayah dihukum mati karena anaknya, janganlah juga anak dihukum mati karena ayahnya; setiap orang harus dihukum mati karena dosanya sendiri." ( Ulangan 24:16)

Dosa turunan dari Adam dan Hawa telah di hapus oleh Tuhan Yesus ketika mati diatas  kayu salib, dikubur dan bangkit pada hari yang ketiga, melalui kebangkitan Yesus  telah mengalahkan semua kuasa maut. Namun bagaimana dengan Dosa kita pada  zaman Anugrah ini? 

Dosa turunan telah di hapus maka pada zaman anugrah ini setiap orang akan mempertangungjawabkan perbuatannya masing-masing di meja hijau  pengadilan Allah, tanpa belibatkan siapapun artinya, Dosa ayah tidak melibatkan istri, anak, saudara/I lainnya dan sebaliknya.

Ingat..!!!
Sekali lagi, hukuman Allah akan dijatuhkan sesuai dengan perbuatan Dosa kita masing-masing. 
Hukum di Dunia, meskipun salah bisa dibenarkan dengan membayar senilai uang tetapi di sorga tidak ada namanya jual-beli hukum, sudah divonis salah maka tetap akan salah benar maka tetap akan benar.

Happy Sunday

Sabtu, 10 Agustus 2019

Mahasiswa Jaman Now: Gaya Hidup Sosialita, Orang Tua Susah Di Kampung

 


Pernah mendengar gaya hidup sosialita? Apa itu gaya hidup sosialita?

Sosialita atau sosialite merupakan akronim yang diserap dari bahasa Inggris. Sosialite berasal dari dua kata yakni sosial dan elite.

Sosial dapat berarti Suka memperhatikan kepentingan umum (suka menolong, menderma, dan sebagainya), sedangkan elite dapat berarti Kelompok kecil orang-orang terpandang atau berderajat tinggi (kaum bangsawan, kaum berduit dan lain sebagainya).

Jika dilihat dari pengertian diatas, maka sosialite atau sosialita merupakan sekelompok orang yang terpandang dan memiliki derajad tinggi namun mereka memiliki jiwa sosial dengan memperhatikan kehidupan orang-orang yang kurang mampu atau miskin.

Namun seiring perubahan jaman, sosialita mengalami pergeseran makna. Sekarang ini arti kata sosialita dikaitkan dengan kehidupan mewah, glamour dan menghabis-habiskan uang.

Gaya hidup tak sesuai kemampuan kemudian mendorong mereka cenderung mengambil jalan pintas dengan menghalalkan segala cara. Mereka ingin merasakan kenyamanan yang semu.

Salah satu yang paling nampak dari gaya hidup sosialita sekarang ini adalah pada kehidupan mahasiswa di Indonesia.

Mahasiswa jauh merantau dari kampung, tinggal di kota, hidupnya berlagak orang kaya di perantauan. Sekali jalan habis ratusan ribu, sekali makan kena ratusan ribu.

Pernahkah saat kamu menghabiskan uang yang begitu banyak untuk sekedar kesenangan, biar dikatakan “gaul”, kamu pernah memikirkan keluargamu yang di kampung ?

Pernahkah kamu pikirkan berapa penghasilan orang tuamu sehari dibandingkan banyaknya pengeluaranmu sekali jalan? Pernahkah kau pikirkan apa yang mereka makan saat kamu makan di restoran mewah?

Apakah kamu malu jadi orang miskin sehingga kamu berpura pura jadi orang yang berada di perantauan ini? Bukankah kamu menyangkal orang tuamu yang hidup tak seenak hidupmu di perantauan?

Ingat tujuanmu diperantauan ini. Mengapa harus mudah terpengaruh ajakan yang membuatmu lupa siapa sebenarnya dirimu. Yang membuatmu menyangkal dirimu sendiri dan berpura pura jadi orang lain. Bukannya kita iri atau tidak bisa seperti kamu. Tetapi kami masih tau batas. 

Hiduplah sederhana tidak akan membuatmu mati.  Kejar dan capailah dulu tujuaan utamamu di perantauan. Kelak kamu sukses dan kaya, kamu bisa ajak orang tuamu merasakan kesenangan itu.

Referensi:
1. Wikipedia
2. Fanpage Facebook: Filsafat dan Refleksi

Jumat, 26 Juli 2019

Pengurus FPP-KT Mengklarifikasi Penyalagunaan Nama Organisi Dalam Aksi Demo Masyarakat Tolikara di Pengadilan Negeri Jayapura


Karubaga Sulhit.Com. Pendiri dan pengurus wadah Forum Peduli Pembangunan Kabupaten Tolikara (FPP-KT) mengklarifikasi penyalagunaan nama wadah yang dilakukan oleh masyaraka,  untuk melakukan aksi demo di Kantor Pengadilan Negeri Jayapura, Selasa 23 Juli 2019.

Senin, 08 Juli 2019

Jejak Kekerasan TNI di Longoboma Tolikara Papua: Memoar Perjuangan Kasim Tuduho (1970–1980)

Ilustrasi Foto Operasi TNI

Sejarah seringkali tertulis dalam darah dan air mata mereka yang berada di garis depan pengabdian. Di balik keindahan bentang alam Karubaga, Kabupaten Jayawijaya (kini bagian dari Kabupaten Tolikara), tersimpan memori kelam tentang penindasan, stigma, dan keteguhan seorang pemimpin masyarakat. Ini adalah kisah Kasim Tudoho, seorang pria kelahiran Fak-Fak yang mendedikasikan hidupnya sebagai Kepala Kampung Longoboma demi melindungi rakyatnya dari badai kekerasan militer di era Orde Baru.

Dedikasi di Tengah Pusaran Konflik
Pada tahun 1980, Kasim Tuduho dipercaya untuk menjabat sebagai Kepala Kampung Longoboma, Distrik Karubaga. Dengan semangat kemandirian, ia membangun kantor desa menggunakan dana pribadi dan sumbangan swadaya masyarakat. Di bawah kepemimpinannya, birokrasi kampung dijalankan secara disiplin; setiap staf memiliki ruang kerja dan diwajibkan mengikuti apel pagi guna memastikan pelayanan publik berjalan optimal.
Kasim tidak hanya membangun infrastruktur, tetapi juga membina ekonomi rakyat melalui tiga pilar pemberdayaan: perkebunan, perikanan, dan peternakan. Selama satu dekade, program-program ini membawa angin segar bagi kemajuan masyarakat lokal. Namun, keberhasilan ini justru memicu kecemburuan. Fitnah mulai beredar, menyebut Kasim sebagai bagian dari "gerombolan" (istilah Orde Baru untuk kelompok separatis), sebuah tuduhan yang nyaris merenggut nyawanya.

Konfrontasi dengan Kekuasaan: Menghadap Bupati Brigadir Jenderal TNI (Purn.) Jos Buce Wenas.
Akibat laporan palsu tersebut, Kasim dipanggil oleh Bupati Jayawijaya saat itu, Brigadir Jenderal TNI (Purn.) Jos Buce Wenas. Ia menempuh perjalanan jauh dengan berjalan kaki dari Karubaga menuju Wamena. Setibanya di sana, Kasim menghadapi ujian mental yang berat. Di ruang kerja bupati, ia diperintahkan berdiri dengan satu kaki selama satu jam sebagai bentuk hukuman sebelum diizinkan duduk.
Dengan tenang dan berani, Kasim menyerahkan laporan kerjanya. "Bapak jangan hanya bertanya kepada saya, tetapi lihatlah hasil kerja saya dalam membina masyarakat," tegasnya. Keberanian dan bukti nyata kinerjanya melunakkan hati Bupati Wenas, yang akhirnya menerima laporan tersebut dan mendorongnya untuk terus mengembangkan program pemberdayaan.

Teror Orde Baru di Longoboma
Era 1970 hingga 1980-an merupakan masa-masa gelap bagi warga Longoboma. Di bawah rezim militeristik, kesalahan kecil bisa berujung pada eksekusi atau mutilasi. Longoboma menjadi target operasi militer Koramil Karubaga selama bertahun-tahun. Catatan kelam menunjukkan bahwa kekerasan tidak hanya menyasar nyawa dan harta benda, tetapi juga menyisakan trauma mendalam bagi perempuan dan anak di bawah umur yang menjadi korban kekerasan seksual aparat.
Puncak ketegangan terjadi ketika Wakil Danramil Karubaga melaporkan ke Kodim 752 Wamena bahwa Longoboma adalah tempat latihan gerombolan. Hal ini memicu mobilisasi Pasukan 733 dari Ambon untuk melakukan operasi besar-besaran. Tanpa akses jalan darat yang memadai saat itu, pasukan berjalan kaki dari Wamena, sementara komandannya, Letnan Jhon, tiba menggunakan helikopter dan menyamar sebagai dokter di Puskesmas Karubaga untuk mengumpulkan informasi intelijen.

Diplomasi di Meja Makan
Menyadari ancaman besar yang mengintai desanya, Kasim Tuduho mengambil langkah diplomatis yang berisiko. Ia mengundang Danramil dan Letnan Jhon untuk makan malam di rumahnya di Ampera. Dalam percakapan yang krusial itu, Letnan Jhon secara terbuka menanyakan tentang keberadaan markas gerombolan.
Kasim menjawab dengan tegas, "Tidak ada, Pak. Saya kepala kampung di sana dan saya tidak tahu-menahu soal gerombolan. Jika Bapak punya bukti, silakan datang sendiri dan berinteraksi langsung dengan rakyat saya."
Berkat koordinasi yang cerdik bersama Kapolsek Karubaga saat itu, Bapak Kamorang Karema, Kasim berhasil meyakinkan pihak militer untuk tidak melakukan operasi kekerasan, melainkan hanya kunjungan langsung untuk memverifikasi keadaan.

Membela Rakyat di Garis Depan
Kebenaran akhirnya terungkap saat kunjungan lapangan berlangsung. Ketika beberapa aparat mencoba memprovokasi dengan menembak ternak warga (babi) dengan alasan "mencungkil tanah", Kasim menunjukkan dengan mata kepala sendiri bahwa ketakutan warga berasal dari perilaku aparat, bukan dari keberadaan gerombolan. Malu atas tindakannya yang terbukti salah sasaran, Wakil Danramil akhirnya ditarik dan diadili di Wamena.
Di masa-masa sulit, Kasim Tuduho bersama Pdt. Linge Nugur Wenda menyisir hutan-hutan dan gua-gua untuk menjemput masyarakat yang mengungsi karena ketakutan. Ia memberikan jaminan keamanan dengan taruhan nyawanya sendiri. "TNI dan Polri harus membunuh saya terlebih dahulu sebelum mereka bisa menyentuh kalian," ucapnya kepada warga yang ketakutan.

Penutup: Warisan Keberanian
Perjuangan Kasim Tuduho tidak terbatas di Longoboma, tetapi juga mencakup wilayah Konda, Anawi, Guburini, dan sekitarnya. Didukung oleh sosok-sosok seperti Kamorang Karema, Labetubun, dan Luaran Muri, Kasim membuktikan bahwa kepemimpinan sejati adalah tentang melindungi yang tertindas.
Catatan ini ditulis agar sejarah tidak melupakan pengorbanan rakyat kecil dan keberanian seorang pemimpin yang teguh berdiri di atas kebenaran, bahkan di bawah bayang-bayang senjata.

Kisah ini disusun berdasarkan penuturan langsung mantan Kepala Kampung Longoboma Bapak Kasim Tuduho, yang menyaksikan dan merasakan langsung penindasan di tanah Papua.


Oleh : Jazwan W. Yanengga
Penulis