PENDAHULUAN
Ajaran/Doktrin Alkitab akan menarik dipelajari jika dimulai
dengan satu pertanyaan klasik, “Bagaimana manusia dapat mengenal Allah?” Allah
yang didefinisikan sebagai satu Pribadi yang Mahabesar pastilah tidak dapat
dikenal oleh kemampuan manusia manapun. Bagaimanakah mungkin manusia yang
dipenuhi dengan kelemahan dapat mencapai pengenalan akan Allah yang Mahabesar?
Bukankah Allah penuh dengan kesempurnaan? Maka tidaklah mungkin untuk mengenal
Allah melalui akal budi kepintaran manusia.
Satu-satunya cara yang mungkin untuk manusia dapat mengenal
Allah adalah melalui penyataan Allah kepada manusia. Dan satu-satunya waktu
yang mungkin untuk manusia dapat mengenal Allah adalah ketika Allah berkenan
menyatakan diri-Nya kepada manusia. Ketika seseorang berkenan untuk mengenal
Allah, maka ia akan mencari segala pengetahuan yang ia dapat ketahui tentang
Allah. Tetapi, ia hanya dapat mencari segala pengetahuan tentang Allah tersebut
melalui akal budinya yang terbatas dalam kelemahan manusiawi. Sedangkan ketika
Allah berkenan untuk dikenal oleh seseorang, maka Ia dalam segala
kesempurnaan-Nya akan menganugerahkan pengetahuan tentang diri-Nya kepada
manusia yang terbatas tersebut. Maka manusia yang terbatas pun, akan dimampukan
oleh Allah untuk mengenal diri-Nya.
Dengan demikian, sebanyak apa pun pengetahuan tentang Allah yang
dihasilkan oleh manusia melalui akal budinya yang terbatas akan selalu tidak
berharga. Karena betapa pun manusia giat meraba-raba pengetahuan tentang Allah
melalui keterbatasannya, tidaklah mungkin ia dapat menemukan pengetahuan yang
benar tentang Dia yang tak terbatas, tetapi apabila Allah sendiri yang
memberikan pengetahuan tentang diri-Nya kepada manusia, maka mustahil Ia
memberikan pengetahuan yang salah tentang diri-Nya sendiri!
Jika demikian, apakah Allah telah menyatakan diri-Nya kepada manusia?
Apakah Allah merupakan Pribadi yang ingin dikenal oleh manusia? Jawaban bagi
kedua pertanyaan ini adalah “ya”! Lalu, bagaimanakah cara Allah menyatakan
diri-Nya kepada manusia?
PENYATAAN UMUM
Pertama-tama, Allah menyatakan diri melalui penyataan umum.
Calvin menyebut penyataan umum sebagai Kitab Alam. Alam semesta yang dijadikan
Tuhan menjadi bukti dari ke-Mahakuasaan-Nya. Alam semesta yang luas dalam
segala kerumitan dan keindahannya begitu mempesona bagi insan pribadi manusia,
hal tersebut membuat sebagian manusia mencari sosok pencipta alam semesta yang
mengagumkan tersebut. Tetapi, bagi sebagian manusia lainnya, hal tersebut
justru membuat diri mereka menyembah alam semesta dan menyatakan alam semesta
sebagai Allah mereka. Dalam kasus suku-suku di Indonesia, bahkan pohon-pohon,
batu-batuan, dan macam-macam benda alam yang besar seringkali disembah sebagai
Allah.
Memang benar Allah menciptakan semesta untuk memancarkan
kemuliaan-Nya kepada manusia. Pemazmur mengatakan, “Langit menceritakan kemuliaan
Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya.”[1] Sungguh
merupakan suatu hal yang sangat indah, bila setiap manusia yang memandang
kepada alam semesta ciptaan Allah dapat langsung melihat dan mengakui
kemuliaan-Nya yang terpancar. Tetapi hal tersebut sudah tidak mungkin lagi
terjadi di dunia yang sekarang karena dosa. Sedikitnya ada tiga
kerusakan yang ditimbulkan dosa dalam sistem penyataan umum atau
Kitab Alam ini.
1. Kerusakan Manusia
Titus 1:15 menyatakan kepada kita, “Bagi orang suci semuanya
suci; tetapi bagi orang najis dan bagi orang tidak beriman suatupun tidak ada
yang suci, karena baik akal maupun suara hati mereka najis.”
Ayat ini berbicara mengenai keadaan manusia berdosa yang belum disucikan oleh
darah Kristus. Manusia berdosa pada hakekatnya memiliki akal dan suara hati
yang najis, sehingga tak mampu lagi mengenali hal-hal yang suci. Sedangkan
dalam Roma 3:23, Rasul Paulus menegaskan bahwa setiap orang telah berbuat dosa.
Maka tak ada satu pun manusia yang mampu mengenal hal-hal yang suci apalagi
Allah sebelum mengalami penebusan Kristus.
2. Kerusakan Hubungan Manusia Dengan Allah
Rm. 3:11 mengatakan, “Tidak ada seorangpun yang berakal
budi, tidak ada seorangpun yang mencari Allah.” Melalui ayat
di atas, Alkitab menjelaskan kepada kita, bahwa manusia tidak lagi mampu
berhubungan dengan Allah sebagaimana pertama kali diciptakan setelah
kejatuhannya dalam dosa. Bahkan tak seorang pun mencari Allah. Jangankan
berelasi, memiliki keinginan untuk mencari Allah saja tidak. Itulah natur
manusia berdosa. Hal tersebut membuat manusia tidak mungkin mengenal Allah
melalui alam semesta di sekitarnya.
3. Kerusakan Alam Semesta
Tetapi kita tidak boleh lupa, bawha setelah dosa masuk ke dalam
dunia, dosa tidak hanya merusak manusia, tetapi juga merusak semesta ciptaan
Allah. Alkitab menyatakannya di dalam kitab Kejadian 3:17-18, sebagai berikut:
17 Lalu firman-Nya kepada manusia itu: "Karena engkau
mendengarkan perkataan isterimu dan memakan dari buah pohon, yang telah
Kuperintahkan kepadamu: Jangan makan dari padanya, maka terkutuklah tanah
karena engkau; dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah
seumur hidupmu:
18 semak duri dan rumput duri yang akan dihasilkannya bagimu,
dan tumbuh-tumbuhan di padang akan menjadi makananmu;
19 dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu, sampai engkau
kembali lagi menjadi tanah, karena dari situlah engkau diambil; sebab engkau
debu dan engkau akan kembali menjadi debu."
Perhatikanlah kata terkutuk dalam ayat 17. Alam semesta sudah
tidak lagi berfungsi sebagaimana mestinya, yaitu menceritakan kemuliaan Allah
seperti yang dikatakan Mzm. 19:2. Bahkan alam semesta menjadi terkutuk karena
kerusakan yang ditimbulkan oleh dosa di dalam dunia. Hal ini membuat alam
semesta ciptaan Allah tidak mungkin lagi menyatakan kemuliaan Allah kepada
manusia.
PENYATAAN KHUSUS
Atas kasih-Nya yang besar kepada manusia ciptaan-Nya, Allah menganugerahkan
kepada manusia penyataan-Nya yang kedua, yaitu Kitab Suci Alkitab yang adalah
Firman-Nya. Penyataan Allah yang kedua ini seringkali disebut Penyataan Khusus.
Setelah pencemaran dosa atas manusia dan seluruh semesta, Alkitab merupakan
satu-satunya cara yang sempurna bagi manusia untuk mengenal Allah. H. Henry
Meeter, salah seorang ahli teologi Calvinis menulis:
Fakta ini menjelaskan eksistensi kitab yang kedua, Alkitab, atau
penyataan khusus yang kita miliki hari ini. Kitab ini menjadi keharusan oleh
sebab dosa. Ketika manusia terjatuh ke dalam dosa, ia dan alam berubah. Akal
budi manusia menjadi gelap sehingga ia tidak dapat melihat hal-hal sebagaimana
adanya; dan alam menjadi terdistorsi, seperti tersirat dalam pernyataan di
Kitab Kejadian tentang “semak duri dan rumput duri.” Alam di masa kini tetap
merupakan cermin yang memantulkan kebajikan Allah, tetapi oleh karena dosa ia
telah menjadi cermin yang melengkung. Sudah tentu, sebuah cermin yang
melengkung membuat benda-benda terlihat jelek dan berubah bentuk, sangat
berbeda dari bentuk yang sebenarnya.[2]
Sebagaimana seseorang takkan bisa mengetahui wajahnya yang
sebenarnya menggunakan cermin yang melengkung, demikian pula kita tidak dapat
mengetahui kebenaran tentang Allah melalui penyataan umum (alam semesta).
Beberapa teolog berpendapat bahwa penyataan umum melalui alam semesta masih
memungkinkan seseorang mengetahui keberadaan/eksistensi Allah. Secara
sederhana, mereka berpendapat bahwa dengan memandang alam semesta, seseorang
bisa mengetahui keberadaan sosok pribadi Allah. Hal itu dibuktikan dengan
kepercayaan akan eksistensi Allah dari beberapa filsuf yang menyelidiki alam
semesta.
Pendapat itu mungkin saja benar, tetapi tetap saja pengetahuan
tentang keberadaan Allah tidaklah cukup bagi manusia, sebab pengetahuan yang
demikian tidak membuat manusia menjadi berelasi dengan Allah, atau pun mengenal
Allah dengan benar. Dan yang terutama, pengetahuan yang demikian akan Allah
(sebatas mengetahui Allah ada) tidak mampu menghasilkan Iman yang
menyelamatkan.
Tetapi bagaimanakah kita dapat mengetahui bahwa Alkitab adalah
satu-satunya Firman Allah yang merupakan penyataan khusus dari Allah sendiri?
Kita dapat mengetahuinya melalui bukti internal dan juga bukti eksternal.
1. Bukti Internal
Yang saya maksudkan dengan bukti internal adalah pengajaran
Alkitab mengenai dirinya sendiri. Apabila dijadikan bentuk pertanyaan, maka
dapat dinyatakan dengan pertanyaan, “Apakah yang dikatakan Alkitab mengenai
Alkitab?” Memang benar apabila ada yang mengatakan bahwa pembuktian tidak boleh
dilakukan oleh diri sendiri, karena pembuktian yang demikian adalah tidak sah.
Tetapi sebenarnya Alkitab bukanlah dirinya sendiri.
Alkitab yang kita pegang memang merupakan satu buku saja. Tetapi
sebenarnya, Alkitab adalah kumpulan dari 66 kitab, 39 diantaranya dari
perjanjian lama dan 27 dari perjanjian baru dengan banyak penulis dan kurun
waktu penulisan lebih dari 1000 tahun. Dalam kesatuannya tersebut, Alkitab
tidaklah saling menjatuhkan, melainkan saling meneguhkan antar satu kitab dan
lainnya. Cukup banyak dijumpai dalam Alkitab, bahwa kitab tertentu bersaksi
mengenai kitab yang lainnya. Tetapi hanya dua bagian Alkitab saja yang akan
kita bahas, yaitu apa yang Alkitab katakan mengenai Perjanjian Lama dan apa
yang Alkitab katakan mengenai Perjanjian Baru. Bukti Internal pertama adalah
pengajaran Tuhan Yesus sendiri mengenai Kitab Suci Perjanjian Lama.
Matius 5:17-20
17 Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan
hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya,
melainkan untuk menggenapinya.
18 Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama
belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan
ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.
19 Karena itu siapa yang meniadakan salah satu
perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian
kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam
Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala
perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam
Kerajaan Sorga.
Ketiga ayat di atas merupakan pengajaran Tuhan Yesus yang sangat
populer disebut “Khotbah Di Bukit”. Dalam khotbah-Nya yang terkenal tersebut
Tuhan Yesus menyisipkan kesaksian dari diri-Nya sendiri atas kewibawaan Kitab
Suci perjanjian lama. Ayat 17 menyatakan dengan tegas bahwa Tuhan Yesus tidak
datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Kedua kitab tersebut
ketika disebut secara bersamaan menunjuk kepada Kitab Suci perjanjian lama
secara keseluruhan.
Penggunaan partikel Yunani ἤ (“e” artinya “atau”) dan bukan καί (“kai” artinya “dan”) dalam ayat 17 memberikan makna
bahwa sebutan ‘hukum Taurat’ dan ‘kitab para nabi’, bisa dipertukarkan untuk
menyebutkan Alkitab Perjanjian Lama.[3] Makna
dapat dipertukarkan tersebut adalah hukum Taurat dan kitab para nabi memiliki
kedudukan setara dalam pandangan Tuhan Yesus. Hal ini membuktikan bahwa Tuhan
Yesus mempercayai keseluruhan Alkitab Perjanjian Lama sebagai suatu kesatuan
yang sederajat.
Dalam ayat 18, Tuhan Yesus menyatakan bahwa tidak ada satu huruf
pun dalam hukum Taurat yang akan ditiadakan. Iota adalah huruf terkecil dalam
bahasa Yunani. Jadi maksud Tuhan Yesus, huruf terkecil pun tidak akan
ditiadakan, melainkan pasti digenapi! Semuanya baru akan tergenapi setelah
lenyap langit dan bumi. Hal ini hanya mungkin disampaikan Tuhan Yesus jika
Alkitab Perjanjian Lama tidak mengandung kesalahan dan merupakan Firman-Nya
sendiri.
Dalam ayat 19, Tuhan Yesus menyatakan dengan tegas kepada para
pengikut-Nya bahwa sikap dan kepatuhan terhadap peraturan-peraturan dalam hukum
Taurat menempatkan seseorang pada posisi yang tinggi dalam Kerajaan Sorga.
Sedangkan ketidakpatuhan murid-murid-Nya akan membawa mereka kepada posisi yang
rendah. Tetapi perlu diperhatikan, Tuhan Yesus tidak sedang mengajarkan jalan
keselamatan melalui perbuatan baik! Perhatikan pula bahwa Ia sedang mengajar
kepada para pengikut-Nya, bukan kepada orang yang belum percaya.
Ia mengajarkan kepada murid-murid-Nya, bahwa kepatuhan terhadap
peraturan-peraturan hukum Taurat akan memberi berkat atau pahala rohani.
Sedangkan ketidakpatuhan terhadap Perjanjian Lama akan membuat murid-murid-Nya
miskin secara rohani. Hal ini hanya mungkin terjadi apabila hukum Taurat adalah
benar-benar Hukum Allah sendiri yang tak mengandung kesalahan. Karena tidak
mungkin hukum manusia mampu mempengaruhi kedudukan rohani seseorang dalam
Kerajaan Sorga. Bukti kedua adalah pengajaran Rasul Paulus mengenai Kitab Suci
Perjanjian Baru.
2 Timotius 3:16
Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk
mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk
mendidik orang dalam kebenaran.
Kata “tulisan” dalam bahasa Yunani γραφή (dibaca: “grafe”) merujuk kepada
Kitab Suci Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.[4] Sedangkan
kata “yang” seharusnya diterjemahkan “adalah”.[5] Maka
bentuk yang tepat dari ayat ini adalah, “Seluruh Alkitab adalah diilhamkan dan
bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki
kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.” Alkitab bahasa Inggris
seperti KJV, NKJV, NIV sudah menggunakan bentuk yang tepat. Bahkan Alkitab NIV
(New International Version) lebih menggunakan kata “God-breathed”
(dinafaskan Allah) daripada kata “diilhamkan”.
Hal tersebut disebabkan oleh kata asli Yunani dari diilhamkan
tersebut secara harafiah berarti dinafaskan Allah. Maka tidaklah berlebihan
apabila menyatakan Allah hidup dalam tulisan-tulisan Alkitab! Masih banyak
ajaran Alkitab yang menyatakan kewibawaan Alkitab, tetapi tidak mungkin
membahas semuanya, dan saya rasa kedua teks Alkitab di atas telah cukup
mewakili baik kewibawaan PL maupun PB.
2. Bukti Eksternal
Selain dari pengakuan Alkitab mengenai Alkitab sendiri, kita
juga dapat mengetahui Alkitab adalah Firman Allah melalui bukti-bukti diluar
Alkitab. Dua apologet Kristen, Josh McDowell dan Don Stewart ketika ditanya
mengenai, “Apakah yang membuat Alkitab begitu istimewa?”, menyatakan:
Salah satu alasan mengapa Alkitab berbeda dari buku-buku lainnya
adalah kesatuannya. Meskipun Kitab ini ditulis oleh banyak orang, namun sifat
kesatuannya telah menampakkan tangan Yang Mahakuasa. Alkitab ditulis dalam
periode kira-kira 1500 tahun oleh lebih dari 40 orang penulis yang berbeda.
Penulis-penulis ini berasal dari latar belakang yang bermacam-macam, misalnya:
Yosua (seorang panglima angkatan bersenjata), Daniel (seorang perdana menteri),
Petrus (seorang nelayan), dan Nehemia (seorang juru minuman). Penulis-penulis
berbagai kitab itu telah menulis di tempat-tempat yang berbeda, misalnya: di
padang gurun (Musa), di penjara (Paulus), di tempat pembuangan di Patmos
(Yohanes). Tulisan-tulisan alkitabiah itu disusun di tiga benua yang berbeda
(Afrika, Asia, Eropa), dan dalam tiga bahasa yang berbeda (Ibrani, Arami, dan
Yunani). Isi Alkitab menguraikan banyak persoalan yang kontroversial. Namun demikian,
Alkitab tetaplah merupakan satu kesatuan. Dari awal sampai akhir terbentanglah
hanya satu cerita, yaitu mengenai rencana keselamatan Allah bagi manusia.[6]
Boleh dikatakan kutipan tersebut menyatakan adanya kesatuan
Alkitab. Kesatuan tersebut adalah mustahil untuk tercapai tanpa tuntunan Allah
kepada setiap penulis Alkitab. Coba saja saudara bayangkan, mungkinkah seorang
nelayan seperti Petrus dapat menulis suatu karya sastra yang setara dengan
kualitas karya sastra seorang perdana menteri negara terbesar di dunia yaitu
Daniel? Memahami pikirannya saja sudah tidak mungkin! Apalagi membuat suatu
karya sastra yang nilainya setara. Bahkan dapat dikatakan apa yang dikemukakan
Petrus baik dalam Injil Markus (memang Markus yang menulis tetapi hampir
seluruh data dan gagasannya berasal dari Petrus) maupun dalam surat-suratnya
yaitu 1 dan 2 Petrus telah melanjutkan apa yang ditulis Daniel sang perdana
menteri besar tersebut dalam kitabnya.
Kemudian bila kita memperhatikan jangka waktu penulisan
kitab-kitab tersebut yang begitu jauh maka sangat mustahil kesatuan tersebut
tercapai tanpa tuntunan Allah. Misalnya, ayah saya mengenal Roma Irama jauh
lebih baik dari saya dan anak saya nanti. Tetapi anak saya dan cucu saya,
mungkin tidak akan lagi mengenal Roma Irama. Hal tersebut terjadi oleh alasan
yang sangat sederhana, orang-orang biasa menyebutnya “beda zaman” atau “udah ga
zaman”. Tetapi dalam Alkitab, perbedaan ratusan tahun bahkan lebih dari 1000
tahun tersebut tidak membuat pandangan Alkitab mengenai suatu hal menjadi
saling bertentangan.
Saya akan jelaskan dengan beberapa contoh. Dalam Alkitab, baik
PL maupun PB, seluruh umat Tuhan selalu membicarakan Mesias. Dalam PL, Mesias
yang akan datang, sedangkan dalam PB selalu dibicarakan mengenai Mesias yang
telah datang. Istilah “Sang Mesias” tak pernah menjadi sesuatu yang kadaluarsa
atau “basi” dalam Alkitab. Padahal terdapat selang waktu lebih dari 1000 tahun
antara penulisan kitab pertama dan penulisan kitab terakhir Alkitab.
Dalam Alkitab, terdapat hanya satu jalan keselamatan yaitu
melalui iman kepada sang Mesias, hanya satu Mesias, yaitu Yesus yang
menyelamatkan dunia. Satu Allah yaitu Allah Tritunggal yang kekal. Satu
pandangan mengenai manusia yaitu diciptakan baik dan sempurna di mata Allah
tetapi kemudian menjadi rusak karena kejatuhan dalam dosa. Satu hubungan
seksual yang benar yaitu antara wanita dan pria yang telah menikah, dan masih
banyak lagi. Saya bahkan berani mengatakan bahwa Alkitab adalah benar-benar
satu dalam pandangannya mengenai segala hal dalam hidup ini. Jika saudara tidak
percaya, silahkan baca Alkitab saudara dan buktikanlah sendiri!
Melalui pengalaman setiap kita disekolah, kita menemukan bahwa
setiap manusia memiliki pandangan yang sangat berbeda-beda satu dengan yang
lainnya. Saudara pasti pernah mengalami perbedaan pendapat dengan teman sekelas
saudara. Pandangan yang berbeda tentang hidup, tentang politik, tentang uang,
tentang yang baik dan jahat, salah dan benar, dan macam-macam perbedaan
pandangan lainnya. Hal itulah yang memicu adanya diskusi dan perdebatan dalam
kelas sewaktu kita mengalami masa belajar.
Tetapi coba saudara pikirkan, satu kelas, usia yang tidak beda
jauh, tinggal satu kota, dan memiliki latar belakang pendidikan yang sama tetap
membuat saudara dan teman sekelas saudara berbeda pendapat! Apalagi jika
pendapat saudara dibandingkan dengan pendapat orang yang hidup 1000 tahun lalu!
Pasti jauh berbeda. Tetapi perbedaan yang demikian tidak terdapat dalam Alkitab
yang ditulis dalam rentang waktu sekitar 1500 tahun.
Bukti eksternal kedua adalah penggenapan nubuat-nubuat dalam
Alkitab. Banyak sekali penggenapan nubuat dalam Alkitab yang kelihatannya tidak
masuk akal, tetapi dibuktikan dengan jelas sekali di dalam sejarah umat
manusia. Memang tidak semua nubuat dalam Alkitab telah digenapi, tetapi tidak
semua juga nubuat dalam Alkitab belum digenapi. Tetapi ada nubuat
dalam Alkitab yang telah digenapi. Penggenapan terbesar nubuat tersebut
memuncak dalam kelahiran Sang Mesias melalui seorang perawan. Nubuat tersebut
terdapat dalam Yes 7:14. Tetapi ayat tersebut dalam Alkitab Indonesia saya rasa
diterjemahkan dengan kurang tepat sehingga menghilangkan inti berita nubuatnya,
sedangkan Alkitab bahasa Inggris pada umumnya jauh lebih tepat dalam
penerjemahannya. Mari kita bandingkan:
Alkitab Indonesia Terjemahan Baru, Lembaga Alkitab Indonesia:
Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu
pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan
seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel. (Isa 7:14)
King James Version ,New King James Version, dan New American
Standard Bible:
Therefore the Lord himself shall give you a sign; Behold, a
virgin shall conceive, and bear a son, and shall call his name Immanuel.
(Isa 7:14)
New International Version:
Therefore the Lord himself will give you a sign: The virgin will
be with child and will give birth to a son, and will call him Immanuel. (Isa 7:14)
Dari hasil perbandingan diatas, kita dapat melihat dengan jelas,
bahwa apa yang diterjemahkan oleh Alkitab Indonesia Terjemahan Baru (Versi
Alkitab Bahasa Indonesia yang paling umum digunakan di Indonesia) sebagai
perempuan muda, dalam Alkitab bahasa Inggris yang umum dipakai diterjemahkan
sebagai a virgin(seorang perawan). Istilah perempuan muda tersebut
dalam bahasa Ibrani menggunakan kata עַלְמָה (`almah) yang artinya seorang perawan
muda, wanita muda dalam usia siap menikah, dan bisa juga seorang perempuan yang
baru menikah.[7] Tetapi
kata tersebut cenderung diterjemahkan sebagai seorang perawan. Pada akhirnya
dalam kitab Injil kita mengerti, bahwa apa yang dirujuk oleh nubuat tersebut
sesungguhnya adalah seorang perawan yang akan segera menikah, yaitu Maria Ibu
Tuhan Yesus. Cuplikan uraian John Calvin terhadap istilah “perempuan muda”
tersebut sangatlah membantu kita untuk memahaminya.
Komentar Calvin atas istilah “perempuan muda”:
“For what wonderful thing did the Prophet say, if he spoke of a
young woman who conceived through intercourse with a man? It would certainly
have been absurd to hold out this as a sign or a miracle.”[8] (Apa
hebatnya perkataan sang nabi, jika ia mengatakan seorang wanita muda yang
menjadi hamil melalui hubungan seksual dengan seorang pria? Hal itu pasti akan
menjadi menggelikan untuk menerima hal ini sebagai suatu tanda atau suatu
mukjizat.)
Sebagian komentar Calvin yang saya kutip diatas mengenai istilah
“perempuan muda” dalam Yes 7:14 tersebut, sangatlah tajam dalam menjelaskan
kemustahilan istilah tersebut merujuk kepada seorang perempuan muda yang sudah
tidak perawan. Selain itu, jika kita mengikuti terjemahan dari Alkitab bahasa
Indonesia versi ITB di atas maka arti dari nubuat tersebut menjadi kabur. Besar
kemungkinannya, bahwa penerjemah Alkitab bahasa Indonesia tersebut sudah
terpengaruh oleh teologi liberal sehingga menerjemahkannya menjadi perempuan
muda. Padahal terjemahan tersebut tampaknya tak lazim digunakan dalam Alkitab
bahasa Inggris. Maka jelas sekali istilah “perempuan muda” tersebut
sesungguhnya lebih tepat diartikan sebagai seorang perawan.
Setiap orang Kristen pasti mengetahui, bahwa Yesus lahir dari
seorang perawan Maria. Tetapi seringkali yang melemahkan kesaksian kewibawaan
Alkitab kita adalah ketidaktahuan orang-orang Kristen pada umumnya bahwa
kelahiran Yesus yang supra-natural tersebut telah dinubuatkan ratusan tahun
sebelum Yesus dilahirkan. Bahkan nubuatan pertama kelahiran sang Mesias kedunia
sebenarnya telah dinubuatkan lebih dari 1000 tahun sebelum kelahiran Yesus!
Nubuat tersebut dalam dunia teologi biasa disebut proto-evangelium (Injil yang
pertama). Dimanakah nubuat tersebut berada? Dalam Kejadian 3:15, ketika
dikatakan bahwa keturunan Hawa akan meremukkan kepala si ular. Lalu nubuatan
Kej 3:15 itu terus mengalami perkembangan sehingga memuncak dalam Yes 7:14.
Masih banyak sekali penggenapan nubuat lainnya yang telah
disampaikan oleh sejarah untuk menjadi kesaksian kewibawaan Alkitab bagi kita
yang hidup di waktu kemudian, tetapi agaknya tak akan mungkin membahas semua
hal tersebut dalam bagian ini. Untuk hal-hal tersebut, saudara bisa membaca
buku-buku mengenai penggenapan nubuat dalam Alkitab. Mungkin salah satu buku
yang paling lengkap membahas hal itu adalah buku Every Prophecy Of The
Bible hasil karya alm. Prof. John F. Walvoord, mantan rektor Dallas
Theological Seminary. Buku itu membahas seluruh nubuat dari Kejadian sampai
Wahyu baik yang telah digenapi maupun yang belum digenapi. Buku tersebut juga
telah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia dan diterbitkan oleh Yayasan Kalam
Hidup.
Bukti eksternal ketiga adalah kesesuaian fakta-fakta sejarah
dalam Alkitab dengan hasil penemuan arkeologi. Kamus Besar Bahasa Indonesia
(KBBI) mendefinisikan Arkeologi sebagai, “Ilmu tentang kehidupan dan kebudayaan
zaman kuno berdasarkan benda peninggalannya, spt patung dan perkakas rumah
tangga; ilmu purbakala.”[9] Josh
Mc Dowell dan Don Stewart menyatakan mengenai arkeologi dan sejarah dalam
Alkitab:
“Selama 100 tahun yang baru lalu ini arkeologi telah membuktikan
sebagian catatan sejarah yang terdapat dalam Alkitab. Misalnya: dua kota yang
disebutkan dalam Alkitab, yaitu Sodom dan Gomora, selama bertahun-tahun telah
dianggap berhubungan dengan mitologi. Akan tetapi, penggalian-penggalian yang
belum lama berselang dilakukan di Tell Mardikh, yang sekarang dikenal sebagai
tempat kota Ebla, telah menemukan kira-kira 15.000 lempengan tanah liat.
Beberapa daripadanya telah diterjemahkan, dan ada yang menyebutkan Sodom dan Gomora.
Pembuktian arkeologis lainnya meliputi bukti bahwa pernah ada seorang penguasa
bernama Belsyazar; suku bangsa Het bukan saja pernah ada, melainkan juga
memiliki daerah kekuasaan yang luas; juga pernah memerintah seorang raja
bernama Sargon, dan hal-hal yang menyinggung sejarah dalam Kisah Para Rasul
dapat dibuktikan ketepatannya. Sedemikian jauh, penemuan-penemuan arkeologi
telah membuktikan, dan sama sekali tidak membantah hal-hal yang bersifat
historis dalam catatan Kitab Suci.”[10]
Bukti eksternal keempat adalah keuniversalan Alkitab. Arkeolog
terkemuka W. F. Albright mengatakan, “Isi Alkitab jauh melampaui semua
kepustakaan agama yang ditulis sebelumnya, dan lebih mengesankan dari semua
kepustakaan yang ditulis sesudahnya dalam hal kesederhanaan beritanya yang
nampak langsung serta keuniversalan himbauannya kepada orang-orang di segala
tempat dan di sepanjang waktu.”[11]
Tak ada satu karya sastra pun di dunia ini yang dapat berbicara
kepada seluruh umat manusia di segala zaman selain daripada Alkitab, hal itu
hanya mungkin terjadi karena satu hal. Karya sastra mana pun selain Alkitab
dibuat oleh manusia yang tidak kekal, sedangkan Alkitab adalah satu-satunya
karya Allah yang kekal bagi orang-orang pilihan-Nya di segala zaman dan tempat.
FUNGSI ALKITAB
Dalam bagian pendahuluan kita telah mengetahui bahwa Penyataan
Umum tidak mampu memimpin manusia kepada iman kepada Allah yang benar. Lalu,
jika pengetahuan yang digali dari alam semesta yaitu Penyataan Umum tidak dapat
menghasilkan iman, apakah Alkitab sebagai Penyataan Khusus memberikan
pengetahuan yang menghasilkan Iman untuk keselamatan? Tentu saja, Alkitab
mengatakan dalam surat Roma 10:17, “Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan
pendengaran oleh firman Kristus.”
Sebelum membahas ayat 17, mari melihat ayat 14 dari Roma pasal
10. Alkitab mengatakan, “Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika
mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia,
jika mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang
Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya?” Perhatikanlah kalimat yang kedua,
“Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang
Dia?” Perkataan ini jelas sekali menekankan pemberitaan Injil Kristus, karena
tanpa pengetahuan akan Injil Kristus tidak mungkin seseorang beroleh iman yang
memimpin kepada keselamatan.
Lalu, mari perhatikan ayat 17. Dikatakan iman timbul dari
pendengaran oleh firman Kristus. Melalui penafsiran yang sederhana saja dan
tidak terlalu terperinci, kita sudah dapat mengerti, bahwa yang dimaksudkan
oleh ayat ini adalah tanpa mengetahui firman Tuhan maka tidaklah mungkin
seseorang beroleh iman kepada Allah. Tetapi bagaimana dengan membaca Alkitab?
Apakah memberikan iman juga? Karena ayat ini berkata dengan pendengaran dan
bukan dengan pembacaan? Tentu saja. Ayat ini ditulis dengan kata pendengaran
karena pada saat itu Alkitab perjanjian baru belum ada dalam bentuk tertulis,
maka segala Firman Allah dalam perjanjian baru hanya diberitakan mula-mula oleh
para rasul, lalu kemudian oleh setiap jemaat yang sudah mengerti Injil Kristus.
Tetapi ayat itu tidak menyatakan bahwa iman tidak bertumbuh melalui pembacaan
Firman.
Paulus menasihatkan kepada Timotius, “Ingatlah juga bahwa dari
kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan
menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus.”[12] Istilah
kitab dalam ayat 15 tersebut menggunakan kata Yunani γράμμα (gramma) yang artinya suatu tulisan, dan dapat
berarti juga tulisan suci perjanjian lama.[13] Tetapi
melihat Paulus menambahkan kata “suci” pada istilah kitab tersebut, maka dapat
dipastikan bahwa yang dimaksud adalah Kitab Suci Perjanjian Lama yang sudah
dalam bentuk tertulis di zaman Timotius hidup.
Lalu dikatakan bahwa Kitab Suci yang tertulis tersebut dapat
memberikan hikmat kepada Timotius dan menuntun kepada keselamatan oleh iman
dalam Kristus Yesus. Terjemahan tersebut saya rasa kurang tepat, dan yang lebih
sesuai adalah terjemahan Alkitab New King James Version yang mengatakan, “which
are able to make you wise for salvation through faith which is in Christ
Jesus.”[14] Artinya
dalam bahasa Indonesia secara sederhana adalah “yang dapat membuat kamu
bijaksana/mengerti akan keselamatan melalui iman dalam Kristus Yesus.” Hal ini
jelas, bahwa tidak hanya pendengaran akan Kristus yang mampu memimpin seseorang
kepada iman yang benar, tetapi juga pembacaan Alkitab.
Jadi fungsi utama Alkitab adalah untuk memimpin manusia kepada
iman dan pengenalan yang benar akan Allah. Pertama-tama memberikan iman kepada
pembaca yang belum percaya, lalu kemudian menumbuhkan iman yang telah diberikan
kepada pembaca yang telah percaya melalui pengenalan yang semakin mendalam akan
Allah yang benar. Maka tak seorang pun dapat dikatakan memiliki iman yang kuat
tanpa mengenal Allah dengan benar dan mendalam. Di sisi lain, kita telah
mengetahui bahwa pengenalan akan Allah hanya bisa tercapai melalui pembelajaran
Alkitab.
Dari kedua sisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa orang yang
memiliki iman yang kuat pastilah mempelajari Alkitab secara sungguh-sungguh dan
mendalam. Apabila ada seseorang yang rajin berdoa, bernyanyi, berpuasa, dsbnya,
tetapi tidak pernah mempelajari Alkitab secara sungguh-sungguh, lalu kemudian
mengaku memiliki iman yang kuat, maka iman tersebut adalah iman yang palsu!
Suatu omong kosong besar, apabila dikatakan seseorang bisa memiliki iman yang
kuat tanpa belajar Alkitab! Superman pun kalau memang dia pernah hidup tidak
bisa begitu!
Dalam bagian ini saya tidak menyatakan bahwa setiap orang yang
membaca Alkitab dapat memperoleh iman. Saya hanya menyatakan bahwa pada
hakekatnya, Alkitab itu sendiri sebagai penyataan khusus diberikan Allah kepada
manusia untuk memimpin kepada iman dan pengenalan akan diri-Nya. Tetapi pada
akhirnya kita akan mengerti bahwa hanya orang-orang pilihan Allah yang diberi
pencerahan/iluminasi oleh Allah Roh Kudus yang mampu memperoleh iman melalui
pembacaan Alkitab.
KANON ALKITAB
Apakah sesungguhnya arti kata kanon? Seorang ahli teologi
reformed, Jakob Van Bruggen menyatakan arti kata kanon sebagai tongkat besi
yang lurus, lalu berkembang artinya menjadi tongkat pengukur.[15] Secara
sederhana kata kanon dapat diartikan sebagai ukuran dan suatu standar. Apabila
kata kanon dikenakan kepada Kitab Suci itu dapat berarti kitab yang menjadi
tolak ukur. Secara sederhana, apabila suatu tulisan kuno dikatakan Kitab
kanonik, itu berarti kitab yang diilhamkan Allah, kitab yang menjadi standar
kebenaran Kristen. Sedangkan Kitab non-kanonik, itu berarti kitab yang tidak
diilhamkan Allah. Kitab tersebut mungkin sama nilainya dengan suatu karya
sastra kuno yang bernilai tinggi, tetapi tidak menjadi tolak ukur kebenaran
Kristen.
Salah satu pertanyaan yang paling sering dilontarkan mengenai
Alkitab adalah mengenai kanonisasi Alkitab. “Bukankah kanon Alkitab itu
ditentukan oleh Gereja? Bagaimana jika Gereja salah dalam menentukan mana yang termasuk
kitab kanonik, dan mana yang termasuk kitab non-kanonik?” Pertanyaan ini
merupakan pertanyaan yang umum yang sebenarnya menyatakan betapa besarnya
kesalahpahaman orang Kristen pada umumnya mengenai proses kanonisasi Alkitab.
Pertama-tama kita harus mengerti apa yang menjadi perdebatan
mengenai tulisan yang diilhamkan Tuhan dalam Gereja Katolik Roma dan Gereja
Protestan. Gereja Katolik Roma dalam Katekismus Baltimore (P. 1327) menyatakan
bahwa, “kita bisa mengetahui tulisan kuno mana yang diilhamkan dan yang mana
yang tidak hanya melalui Tradisi (yang dipelihara di dalam Gereja Katolik
Roma).”[16] Jadi
secara sederhana menyatakan bahwa kitab mana yang diilhamkan dan yang tidak,
sepenuhnya bergantung kepada keputusan Gereja. Tetapi tidaklah demikian dalam
Gereja Protestan. Gereja Protestan selalu menekankan prinsip sola
scriptura(hanya Alkitab saja). Bahkan Gereja Protestan sejati selalu
menekankan, bahwa seluruh Gereja dalam segala tatanan organisasi maupun hukum
pemerintahan Gerejawi harus sesuai dengan prinsip-prinsip Alkitab. Jadi dalam
Gereja Katolik Roma, Gereja yang mengatur Alkitab, sedangkan dalam Gereja
Protestan, Alkitab yang mengatur Gereja.
Yang kedua, berkenaan dengan kanon. Perlu sekali ditegaskan,
bahwa tidak ada satu pun konsili atau sidang sinode Gereja yang menetapkan
kanonisasi Alkitab. Tidak ada satu pun konsili yang diselenggarakan untuk
memilih lalu menentukan kitab mana yang termasuk diilhamkan Allah (kanonik) dan
yang tidak diilhamkan Allah (non-kanonik). Lalu bagaimana dengan konsili
Kartago? Jakob Van Bruggen menyatakan mengenai konsili Kartago
sebagai berikut:
Bunyinya sebagai berikut, “Diputuskan bahwa selain Kitab-kitab
Suci kanonik, tak dibenarkan pembacaan sesuatu pun di bawah nama Kitab-Kitab
Suci ilahi. Kitab-kitab Suci kanonik itu sebagai berikut....” Dari judul itu
nyata bahwa “Kitab-kitab suci kanonik” sudah merupakan sesuatu yang terkenal.
Yang dipersoalkan bukan pembatasan tulisan-tulisan itu, melainkan perjanjian
bahwa sejak itu buku-buku rohani lainnya tidak akan lagi dibacakan dalam
“Pembacaan Kitab Suci” di gereja. Dari Surat Paskah Athanasius, kita misalnya
tahu bahwa Ajaran keduabelas Rasul dan Hermas kadang-kadang dibacakan di
gereja-gereja. Juga Hieronymus dalam naskahnya “De Viris Illustribus”
memperlihatkan bahwa ada gereja-gereja Yunani yang memberi tempat kepada buku
Hermas dalam pembacaan Kitab Suci di gereja. Tetapi sinode Carthago memandang
perlu membatasi liturgi pembacaan Alkitab sampai kitab-kitab kanonik. Untuk
pengecekan, daftar itu dilampirkan, hingga tak mungkin terjadi pelanggaran.
Semua buku yang tidak termasuk tulisan-tulisan kanonik yang disebut, sejak itu
tidak dibenarkan lagi untuk dibacakan dalam kebaktian.[17]
Dari kutipan diatas, sangat jelas sekali bahwa apa yang
dirumuskan oleh konsili Kartago bukanlah pembatasan kitab-kitab kanonik,
melainkan pembatasan penggunaan kitab-kitab non-kanonik. Kitab-kitab
non-kanonik tersebut sudah biasa dibacakan dalam pertemuan-pertemuan jemaat
waktu itu, kitab-kitab non-kanonik tersebut sepertinya meliputi ajaran-ajaran
para Rasul yang diteruskan oleh tradisi Gereja pada saat itu dan juga mungkin
ajaran-ajaran para pengajar terkemuka dalam zaman itu. Jadi, pada saat itu
sudah dapat dipastikan bahwa Kitab-kitab suci kanonik telah tersebar luas dan
diterima oleh Gereja pada waktu itu.
Kapankah Perjanjian Baru selesai ditulis? Ahli-ahli Perjanjian
Baru pada umumnya menerima bahwa surat Wahyu (Kitab kanonik terakhir) ditulis
oleh Rasul Yohanes pada tahun 90-95 TM dan surat tersebut pada mulanya
ditujukan Yohanes kepada Gereja-Gereja yang mengalami penganiayaan dari pemerintah
Romawi.[18] Dalam
pasal-pasal terakhir surat Wahyu Yohanes tersebut dinyatakan kepada Gereja
Tuhan yang sejati, bahwa pada akhirnya seluruh dunia akan ditaklukkan oleh
Kristus. Pada saat itu Gereja bersama dengan Kristus akan beroleh kemenangan
kekal. Jelas sekali surat ini ditulis Yohanes dalam ilham Roh Kudus sebagai
penghiburan rohani kepada jemaat yang teraniaya.
Mungkinkah surat dari Rasul Yohanes yang begitu penting ini
tidak disebarluaskan kepada jemaat? Mustahil! Pastilah surat Wahyu yang sangat
penting dan memberi penghiburan pada hati jemaat yang mulai goyah oleh
penganiayaan pada waktu itu, segera disebarluaskan secepat mungkin. Dengan
tersebarnya kitab Wahyu tersebut, maka Alkitab Perjanjian Baru telah selesai
disebarkan.
Kemudian, perlu diketahui bahwa setelah terbentuknya Perjanjian
Baru, Kitab-Kitab Perjanjian Baru tersebut kerap kali mengalami serangan dari
berbagai ajaran sesat. Misalnya melalui ajaran Marcion yang mulai terkenal pada
tahun 150 TM. Ajaran Marcion ini menyatakan bahwa Allah dalam perjanjian lama
adalah suka menghukum dan Allah dalam perjanjian baru adalah Allah yang baik
dan penuh kasih. Maka Marcion memiliki kanon sendiri yang menolak Perjanjian
Lama dan terdiri hanya dari Injil Lukas beserta beberapa surat Paulus.[19] Dalam
kanon Marcion yang ia buat sendiri itu pun, ia menghilangkan bagian-bagian yang
bertentangan dengan ajarannya sendiri.
Maka oleh karena kesesatan ajaran Marcion yang tersebar luas
pada saat itu, Gereja zaman itu harus melindungi Kitab-kitab Suci yang telah
diterima secara kanonik. Jakob Van Bruggen menambahkan, “Apa yang sejak dulu
ada dalam penerimaan dan penerapan gerejawi, di masa kemudian memerlukan
perlindungan tetapi bukan penyelesaian.”[20] Akhirnya
dapat disimpulkan, bahwa puncak dari perlindungan yang dilakukan Gereja
terhadap Kitab kanonik memuncak dalam konsili Kartago.
Yang ketiga, kanon yang telah terbentuk, yaitu 39 Kitab Suci
Perjanjian Lama, dan 27 Kitab Suci Perjanjian Baru, sesungguhnya hampir dapat
dikatakan tidak pernah diragukan. Mulai dari selesainya penulisan PB yaitu awal
abad 2 sampai kepada zaman reformasi, Gereja Katolik maupun Gereja Protestan
tidak pernah meragukan kanon Alkitab yang telah dibentuk. Persoalan yang timbul
dari Gereja Katolik adalah apakah orang harus puas hanya dengan Kitab Suci.[21]
Gereja Katolik tidak pernah mempermasalahkan kanon Alkitab yang
sudah ada, permasalahannya adalah Gereja Katolik menambah kanon yang sudah ada
dengan Deuterokanonika. Wikipedia mencatat,
“Istilah Deuterokanonika pertama kali digunakan pada tahun 1566 oleh
orang-orang Kristen yang sebelumnya beragama Yahudi dan teolog Katolik Sixtus dari Siena untuk menyebut naskah-naskah Kitab Suci Perjanjian Lama yang kanonisitasnya ditetapkan bagi umat Katolik
oleh Konsili Trente.”[22] Maka
perlu diingat, bahwa sebelum konsili Trente menetapkan Deuterokanonika, maka
jumlah kitab kanonik Katolik adalah sama dengan Protestan!
Di luar Gereja pun, kanon hampir dapat dikatakan tidak pernah
dikritik atau pun diragukan. Kritik kanon baru dimulai sekitar pertengahan abad
ke-18, pada waktu itu pandangan sekitar kanon mulai berubah.[23] Kritik
tersebut tidak didasarkan oleh keberatan teologis, tetapi kritik tersebut
didasarkan oleh kemajuan ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan pada masa itu
dipandang sebagai sesuatu yang bebas, dan seharusnya mampu untuk menguji kanon
Alkitab. Maka jelas sekali terlihat, bahwa keraguan atas kanon Alkitab baru
muncul seiring dengan perkembangan iptek. Hal tersebut pada dasarnya bukanlah
suatu keberatan terhadap perkara teologis, melainkan cenderung disebabkan oleh
pertentangan perkembangan iptek terbaru dengan ajaran Alkitab.
Yang keempat, lalu bagaimana awal mula Gereja menerima bagian
Kitab-Kitab kanonik? Bagaimana Gereja pada zaman itu mengetahui perbedaan
tulisan yang diilhamkan Allah dan yang tidak diilhamkan Allah? Belum ada
jawaban yang pasti mengenai hal ini. Saya sendiri belum pernah menemukan suatu
teori yang memuaskan mengenai hal ini. Secara teologis, kita mengerti bahwa
setiap orang yang diberi iluminasi/pencerahan oleh Roh Kudus akan mengerti dan
mengenal suara Tuhan Yesus, Sang Gembala Yang Agung secara rohani. Kita juga
mengerti secara teologis dan telah teruji oleh sejarah, bahwa Allah sendiri
dari zaman ke zaman selalu menjaga kemurnian Firman-Nya dari tangan-tangan yang
najis. Hal tersebut terbukti melalui bagaimana Tuhan menjaga kemurnian Kitab
Suci sekalipun umat Tuhan baik Israel dalam masa PL dan Gereja dalam masa PB
seringkali ingin dibinasakan oleh kerajaan-kerajaan dunia yang besar.
Di atas semuanya, saya percaya bahwa Allah sendiri menuntun
jemaat-Nya dalam mengenali suara-Nya yang benar dalam Kitab-Kitab Suci yang
diilhamkan Allah. Pembentukan Alkitab dari awal sampai kepada kesempurnaannya
yaitu 39 Kitab Perjanjian Lama, dan 27 Kitab Perjanjian Baru memang misterius.
Tetapi hasil akhirnya, yaitu Alkitab itu sendiri, adalah sangat membuktikan
ke-Ilahian dirinya sendiri.
NASKAH-NASKAH ALKITAB
Dalam bagian ini, ada dua hal penting yang harus kita ketahui,
yang pertama adalah naskah asli Alkitab telah hilang hingga saat ini. Hal
tersebut menyebabkan naskah Alkitab yang kita miliki saat ini hanyalah naskah
salinan. Oleh sebab itu, maka doktrin Inerrancy yaitu ajaran
bahwa Alkitab tidak memiliki kesalahan, hanya dapat diberlakukan kepada naskah
asli Alkitab yang telah hilang. Sedangkan untuk naskah salinan Alkitab yang
kita miliki saat ini, terdapat kesalahan, tetapi sangat sedikit, para ahli
mengatakan mungkin dibawah 1%. Kesalahan tersebut dapat kita jumpai misalnya
dalam 2 Taw. 22:2 dengan 2 Raj. 28:6.
Hal terpenting kedua adalah naskah salinan tersebut, meski
mengandung sedikit kesalahan, tetap dapat dipercayai. Dalam bagian fungsi
Alkitab kita melihat, bahwa Alkitab diberikan kepada manusia untuk menuntun
setiap orang pilihan-Nya kepada iman yang membawa keselamatan. Tentu saja
kesalahan naskah Alkitab saat ini yang dibawah 1% tersebut tidak mempengaruhi
fungsi Alkitab untuk menuntun orang pilihan kepada iman yang benar. Jika
demikian, seperti apakah naskah salinan Alkitab yang kita miliki saat ini?
1. Naskah-Naskah Perjanjian Lama
Naskah Perjanjian Lama yang kita miliki saat ini adalah naskah
Laut Mati yang ditemukan mulai dari tahun 1947. Sebelum ditemukan naskah-naskah
Laut Mati tersebut, salinan lengkap Perjanjian Lama dalam bahasa Ibrani yang
paling tua ialah Codex Babylonicus Petropalitanus yang berasal dari tahun 1008
M, lebih dari 1.400 tahun setelah Perjanjian Lama dilengkapkan. Sedangkan
naskah Laut Mati tersebut sekitar 1000 tahun lebih tua dari Codex Babylonicus
Petropalitanus. Apa yang dapat kita temukan dari penemuan terbesar Alkitab
tersebut adalah ketelitian orang-orang Yahudi dalam menyalin naskah-naskah
Perjanjian Lama. Setelah naskah-naskah Laut Mati dibandingkan dengan naskah
yang 1000 tahun lebih baru, hanya terdapat sangat sedikit perbedaan.[24]
Hal tersebut memberikan suatu keyakinan yang kuat kepada kita
akan naskah-naskah Perjanjian Lama, bahwa Allah turut serta dalam proses
penyalinan tersebut sehingga Firman-Nya dapat terjaga. Memang Allah mengizinkan
kesalahan-kesalahan yang kecil terjadi dalam proses penyalinan, tetapi hal
tersebut tidak membuat peran Penyataan Khusus Allah melalui Alkitab Perjanjian
Lama menjadi rusak.
2. Naskah-Naskah Perjanjian Baru
Sedikitnya ada tiga jenis naskah Perjanjan Baru yang kita
miliki. Naskah-naskah salinan berbahasa Yunani, naskah-naskah terjemahan, dan
kutipan-kutipan teks Perjanjian baru oleh Bapak-Bapak Gereja. Saat ini terdapat
5.550 salinan naskah berbahasa Yunani, 18.000 salinan naskah terjemahan, dan
86.000 kutipan oleh Bapak-Bapak Gereja yang berbeda-beda. Dua naskah salinan
utama yaitu Codex Vaticanus (325 M) dan Codex Sinaiticus (350M) adalah suatu
salinan yang lengkap, dan bertanggalkan tidak lebih dari 250 tahun sejak waktu
penyusunannya. Jarak waktu tersebut adalah jauh lebih singkat dibandingkan
kebanyakan karya-karya kuno lainnya.[25]
KEWIBAWAAN ALKITAB
Ajaran reformasi selalu menekankan bahwa Alkitab dalam bahasa
aslinya adalah Firman Allah yang diilhamkan. Hal itu membuat Alkitab menjadi
bukan sekedar buku biasa, melainkan Firman Allah yang berwibawa Ilahi. Karena
Alkitab yang pertama ditulis adalah wahyu Allah yang khusus kepada manusia,
maka Alkitab tidak mungkin salah. Ajaran mengenai ketaksalahan Alkitab tersebut
disebut dengan istilah inerrancy (ketakbersalahan Alkitab).
Dan apabila kita percaya bahwa Alkitab dalam bahasa aslinya
adalah Firman Allah, maka kita akan mempercayai dan menekankan kewibawaannya
dalam segala pengajaran gereja maupun praktek kehidupan rohani sehari-hari.
Pengakuan Iman Westminster menyatakan:
Tapi jika Alkitab adalah Firman Allah, maka jelas Alkitab harus
memiliki otoritas ilahi dalam dirinya sendiri. Dan memang jika Alkitab memiliki
otoritas Ilahi di dalam dirinya, maka Alkitab tidak bisa dan tidak perlu
tergantung kepada hal lain apa pun (selain Allah sendiri). Otoritas hanya bisa
tergantung kepada hal yang lebih tinggi daripada dirinya sendiri. Otoritas
manusia hanya bisa tergantung kepada otoritas manusia, dengan syarat otoritas
yang menjadi tempat bergantung lebih tinggi. Oleh karena itu, otoritas seorang
duta besar kepada negara lain bergantung kepada otoritas menteri dalam negeri,
dan menteri dalam negeri berada di bawah otoritas presiden, (Luk. 7:7-8). Tapi
Allah adalah otoritas tertinggi. Ucapan seorang duta besar mungkin saja
didukung oleh ucapan menteri dalam negeri. Tapi siapa yang bisa mendukung
Firman Allah selain Allah sendiri?[26]
Kutipan di atas menyatakan pengakuan terhadap kewibawaan Alkitab
sebagai Firman Allah sendiri. Otoritas Allah yang memberikan Firman-Nya secara
tertulis ada dalam Alkitab. Apabila saudara menolak apa yang disampaikan
Alkitab, artinya saudara menolak apa yang disampaikan oleh Allah! Itulah inti
dari kewibawaan Alkitab sebagai Firman Allah. Maka, segala sesuatu yang
diajarkan gereja Tuhan yang sejati haruslah sesuai dan didasarkan oleh Alkitab
semata, dan perbuatan hidup sehari-hari dari setiap pengikut Kristus haruslah
berpadanan dengan Alkitab.
Tetapi pandangan reformasi yang begitu tinggi dan mulia tersebut
mulai mengalami kemunduran yang drastis di zaman post-modern ini. Pada zaman
sekarang, nampaknya teologi liberal merupakan suatu trend yang
melampaui teologi yang menekankan kewibawaan Alkitab sebagai Firman Allah. Apa
itu teologi liberal? Paul Enns menyatakan mengenai teologi liberal sebagai
berikut:
Liberalisme menyatakan bahwa teologi-teologi yang ada, adalah
hasil dari rasionalisme dan eksperimentalisme dari para filsuf dan ilmuwan.
Liberalisme menempatkan penalaran manusia dan penemuan-penemuan ilmiah pada
tempat utama; segala sesuatu yang tidak sepakat dengan penalaran dan ilmu
pengetahuan harus ditolak. Sebagai akibatnya, liberalisme telah menolak doktrin
historik dari iman Kristen, karena berhubungan dengan mukjizat dan
supranatural: Inkarnasi Kristus, kebangkitan tubuh Kristus, dan semacamnya.[27]
Kita harus memperhatikan apa yang dikatakan Paul Enns mengenai
landasan berpikir teologi liberal. Ia mengatakan, “Liberalisme menempatkan
penalaran manusia dan penemuan-penemuan ilmiah pada tempat utama; segala
sesuatu yang tidak sepakat dengan penalaran dan ilmu pengetahuan harus
ditolak.” Dapat disimpulkan bahwa mereka menempatkan nalar mereka di atas
kewibawaan Alkitab. Jadi ketika Alkitab bertentangan dengan nalar pemikiran
mereka, maka mereka akan mengatakan bahwa Alkitab pasti salah! Mengenai
pandangan kaum liberal atas kewibawaan Alkitab, Paul Enns menjelaskan, “Kaum
liberal memandang Alkitab sebagai buku biasa, bukan diinspirasikan secara
khusus.”[28]
Mengerikan sekali apabila melihat situasinya saat ini. Teologi
liberal yang jelas-jelas menolak kewibawaan Alkitab sebagai Firman
Allah menjadi trend di zaman ini! Abad dua puluh satu
sesungguhnya merupakan era dimana teologi liberal telah menggerogoti gereja.
Bahkan, gereja-gereja beraliran protestan di Indonesia telah sangat banyak
terpengaruh oleh aliran teologi liberal. Hal itu dimulai dari pengaruh
sekolah-sekolah teologi yang menjadi mitra utama gereja-gereja aliran protestan
yang besar di Indonesia. Sekolah-sekolah teologi tersebut sebelumnya merupakan
sekolah-sekolah teologi yang sangat menekankan kewibawaan Alkitab, tetapi
sekarang terkenal karena liberalisme dalam berteologi. Dr. Arnold Tindas
menyatakan:
Di Indonesia sudah beredar buku-buku, yang dalam pembahasannya
sangat merendahkan nilai Alkitab sebagai firman Allah. Buku-buku tersebut di
antaranya adalah Alkitab di Dunia Modern, terjemahan dari
buku The Bible in the Modern World, karangan James Barr dan Di
Sini Kutemukan, karangan Wismoadi Wahono. Barr, dalam tulisannya,
menyangkal relevansi Alkitab dnegan dunia modern, dan menganggap Alkitab sudah
kedaluarsa. Buku ini mendapat kritikan keras ketika mula-mula dipakai dalam
seminar teologi Perjanjian Lama di STT Duta Wacana Yogyakarta. Tapi akhirnya
mendapat sambutan yang hangat dari para mahasiswa.[29]
Mari bayangkan sejenak situasinya. Para profesor teologi,
dosen-dosen teologi, pendeta-pendeta, mahasiswa teologi, dan pengajar-pengajar
Alkitab di Gereja tidak lagi percaya bahwa Alkitab adalah Firman Allah yang
berwibawa. Sungguh mengerikan bukan? Masa depan Gereja di tangan mereka sungguh
suram! Gereja di tangan pengajar-pengajar yang menyesatkan tersebut akan
menjadi Gereja yang melakukan apa yang benar di mata jemaatnya masing-masing,
bukan melakukan apa yang benar di mata Alkitab. Dan yang lebih hebat lagi.
Mengingat banyaknya pengajar teologia dan pendeta yang menganut teologi
liberal, maka Gereja yang ga karu-karuan tersebut sesungguhnya
sudah ada di depan mata kita!
Saya harap ketika kita melihat kerusakan Gereja yang sedemikian
besar, hal tersebut membuat kita menjadi terpacu, terdorong dengan kuat untuk
sungguh-sungguh mempelajari Alkitab kita dengan cinta akan Tuhan yang mendalam.
Memang telah saya sampaikan sebelumnya, bahwa Alkitab yang ada ditangan kita
saat ini bukanlah Alkitab yang sempurna. Tetapi, Alkitab ditangan kita saat ini
adalah tetap Alkitab yang layak dipercaya, karena hampir seluruh bagiannya
dapat dipastikan adalah Firman Allah yang hidup! Karena itu marilah setiap kita
mempelajari Alkitab, dan mewujudkan apa yang dikatakannya dalam kehidupan kita
dengan segenap hati, tenaga, dan pikiran kita, karena hanya itulah satu-satunya
Firman Allah yang diberikan secara tertulis kepada manusia, dan dapat
dimengerti oleh setiap manusia pilihan-Nya.
sangat baik.
BalasHapus