Kamis, 21 Maret 2019

UMAT GIDI WASPADA DENGAN ALIRAN LAIN



Isu hangat tentang umat GIDI yang diam-diam ikut aliran lain semakin meraya lelah di kalangan umat GIDI dan menjadi bahan perdebatan antara umat GIDI dan umat yang mengikuti aliran lain  di Tanah Papua. Maka parah pemimpin gereja dari tingkat pusat hingga daerah jangan berdiam diri di tempat tetapi harus tegas kepada setiap  jemaat  dan mencari informasi terkait pada  jemaat yang ada, apakah umat GIDI ada yang ikut aliran tersebut ataukah belum?. Tentu tidak bisa memastikan karena banyak aliran yang muncul
belakangan ini di tanah Papua, tahun kehadiran aliranpun kami belum tahu sehingga pemimpin  gereja cek masing-masing jemaat agar umat GIDI lagi jangan ikut terhanyut dalam aliran dimaksud.
Dalam ibadah raya  Minggu, 17 Maret 2018, Jemaat GIDI Sion Wamena, telah mengakat   isu ini dalam ibadah.  Ibadah tersebut khotbah di bawahkan  oleh Gembala Jemaat Sion, diambil dari Injil (Matius 5:13-16 ) 13. "Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.
14. Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi.
15. Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu.
16. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga."
Penjelasan  khotbah oleh gembala bahwa, Umat GIDI harus menjadi berkat bagi orang lain. Menjadi garam dan terang untuk mereka yang sudah tawar dengan hal duniawi dan menjadi terang bagi mereka yang ada dalam dunia kegelapan hingga saat ini.
Garam yang  sudah tawar tidak bisa diasinkan lagi dengan apapun sehingga kita sebagai umat GIDI tidak boleh lagi ditawarkan dengan persekutuan-persekutuan ibadah dalam aliran lain yang bisa membinasakan kita. Allah sudah memeteraikan kita sebagai umat GIDI maka orang lainpun akan tahu bahwa kita adalah anak-anak Allah, dan kita adalah hamba-hamba-Nya. Ujar Gembala.
Kami tegaskan lagi kepada seluruh jemaat, agar supaya Tidak ada satu jemaatpun yang keluar  dari Gereja GIDI, untuk mengikuti ibadah-ibadah  persekutuan  yang membawa ke ajaran lain. Gereja GIDI sudah teruji, sesuai dengan Alkitabiah maka orang tua kita pegang dengan teguh hingga sekarang.
Selepas ibadah tersebut pengumuman lain di tambahkan oleh ketua majelis jemaat GIDI Sion Wamena, menghimbau kepada seluruh jemaat agar supaya  waspada dengan ajaran lain yang masuk di Wamena ini, karena banyak ajaran  yang meraya lelah di kalangan umat Tuhan di Papua ini.  Dalam waktu dekat pengurus Klasis Lembah Balim akan menerbitkan surat pemberitahuan dan ketegasan untuk seluruh umat GIDI, supaya tidak terprovokasi dengan ajaran-ajaran lain yang sedang berkembang di Papua ini.
Tangapan lain oleh salah satu majelis, Mengajak seluruh jemaat untuk mengangkat Alkitab, lalu ia berkata kepada jemaat,  bahwa Alkitab tetap Alkitab. yang di turunkan  oleh Tuhan kepada kita terdapat 66 kitab, tidak boleh ada yang menambah dan mengurangi lagi.  Pemimpin gereja dan jemaat tidak boleh mencari sesuatu yang instan, karena saat  kami kecil, orang tua  tidak pernah pakai buku lain untuk mengajar sekolah Minggu, pemuda dan jemaat. Kami dari dulu mengunakan Alkitab sampai saat ini masih pakai Alkitab. Kebenaran itu tetap kebenaran. Jangan ada orang di antara kita yang menambahkan dan mengurangi isi Alkitab ini dalam kelompok persekutuan untuk menjatuhkan nama dan martabat gereja GIDI.
Tambah seorang saksi mata, Injil pertama kali masuk   di Wilayah Bogo, dalam tanggapan pengumuman dari ketua majelis Jamaat GIDI Sion Wamena. Anak-anakku yang saya kasihi, kalian  berpendidikan setinggi bagaimanapun harus tunduk untuk menghargai jasa pengorbanan orang tua kita dengan keadaan yang sederhana, dalam memakai koteka dan cawat, menerima dan menghormati Injil dengan baik lalu  merintis di seluruh wilayah Papua.  Dari lahir hingga kini GIDI tetap GIDI tidak boleh ada jemaat yang pindah ke persekutuan-persekutuan kecil yang tidak punya gereja dan belum tahu latar  belakang yang sebenarnya, dan membawa masuk aliran lain dalam Gereja GIDI ini. Tutur orang tua yang berambut putih ini dengan nada lembut.
"Tulisan ini menjadi bahan Doa dan Bahan diskusi di kalangan umat GIDI"

0 comments:

Posting Komentar