| Masa aksi di Kantor Gubernur Papua |
Oleh: Willem Wandik, S. Sos
Papua Sulhit News. Tiga hari yang lalu, saat momentum perayaan 17 agustus, saat penyerangan terhadap Mahasiswa Tanah Papua di Kota Surabaya terjadi, bahwa kami telah mengingatkan, peristiwa itu akan berdampak luas di Tanah Papua, sebab Mahasiwa adalah simbol kehormatan intelektual bagi masyarakat dan komunitas di Tanah Papua.. Nasi sudah menjadi bubur, aksi sentimen antara masyarakat Papua dan Masyarakat di Kota Surabaya, menghasilkan ekses sosial yang tidak pernah di duga.. kerusuhan dalam skala besar di sejumlah kota utama di Tanah Papua yang tersebar di Provinsi Papua dan Papua Barat.
Ini harus menjadi pelajaran penting bagi seluruh elemen nasional, bahwa sejatinya penyerangan terhadap mahasiswa Papua, dan juga simbol simbol identitas Papua, baik dalam bentuk fisik, maupun ucapan verbal, yang mengarah pada aksi "body shaming", telah lama terjadi, dalam periode 5 tahun terakhir, tidak terhitung berapa kali aksi serupa terjadi di sejumlah kota kota studi dimana mahasiswa Papua bersekolah.. Puncaknya, peristiwa yang terjadi di hari kemerdekaan RI di tanggal 17 agustus kemarin, yang kemudian memicu aksi sentimen balasan yang sangat meluas di kota kota utama di Tanah Papua..
Selama ini, masyarakat Papua begitu bersabar, tidak pernah mau terprovokasi bahkan memandang masalah yang dihadapi oleh mahasiswa asal Tanah Papua di tempat studi, merupakan masalah anak anak intelektual, karena memang tugas mahasiswa adalah bersikap kritis, dan menyampaikan pesan penting, terkait masalah yang dihadapi oleh masyarakatnya di daerah asal.. Namun, perstiwa di 3 hari yang lalu, begitu menyinggung perasaan masyarakat asli Papua, karena narasi verbal yang begitu menyakitkan, dan hinaan verbal yang begitu tidak dapat diterima, karena menyangkut masalah sikap rasialis..
Peristiwa rasialis yang dialami oleh komunitas mahasiswa Tanah Papua, adalah masalah yang juga pernah dihadapi oleh warga berkulit hitam Amerika Serikat (Afro-Amerika), Martin Luther King Jr. Dalam pidatonya yang sangat melegenda di Lincoln Memorial dengan kalimat yang diawali, "I have a dream" yang artinya saya memiliki mimpi.. dilanjutkan dengan pidato "aku bermimpi dimana pada suatu hari nanti keempat anakku akan tinggal disebuah negara yang tidak menilai seseorang berdasarkan warna kulitnya tetapi berdasarkan karakter"..
Luka yang diakibatkan oleh luka fisik akan mengalami recovery dalam waktu beberapa jam, hari, minggu, atau tergantung besar kecilnya luka fisik itu.. namun, luka yang disebakan oleh "kekerasan rasialis" akan terus membekas dalam jiwa, mental, pikiran seseorang, hingga beratus ratus tahun lamanya..
Ketika orang orang OAP di bunuh dan mati di moncong senjata aparat, komunitas dan orang orang Papua pada umumnya, tidak begitu perduli dengan peristiwa tersebut, mungkin karena OAP sudah terbiasa mengalami hal seperti itu selama berpuluh puluh tahun.. Bahkan terdapat idiom yang umum di Tanah Papua, ketika manusia berambut keriting dan berkulit hitam mati, maka hukum tidak akan berlaku padanya, tidak akan ada tim pencari fakta yang akan memeriksa mayatnya, dan mengapa dia mati terbunuh..
Namun, ketika nilai kehormatan sebagai salah satu identitas ras di usik, maka hal ini dapat memicu amarah kolektif yang tidak terbendung..
Kami pun berfikir, hal yang serupa pasti dimiliki oleh semua ras dan suku bangsa di republik ini.. oleh karena itu, para penggagas republik, telah menyadari potensi "ancaman" perbedaan ini, dengan merumuskan nilai nilai pemersatu semua perbedaan, yaitu Bhineka Tunggal Ika..
Rasa rasanya, kita baru saja merayakan hari kemerdekaan 45 di usia ke 74 tahun beberapa hari yang lalu, namun, pengendalian diri kita, untuk tidak mempertentangkan identitas ras yang dimiliki oleh bangsa yang majemuk ini, menunjukkan, bahwa selama ini kita hanya merayakan hari kemerdekaan berdasarkan praktek seremonial belaka (hura hura, perayaan menjadi simbol semata), namun tidak pernah dapat memaknai tujuan prinsip kebhinekaan yang dibentuk untuk menyelamatkan persatuan nasional dan untuk mencapai cita cita kemerdekaan yang hakiki..
Sumber: Laman Facebook Wilem Wandik, S.Sos
0 comments:
Posting Komentar