Kamis, 07 Mei 2020

MENJADI SAHABAT ALLAH

Menjadi Sahabat Allah


"Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu." (Yoh. 15:14).

Saudaraku,
Dunia punya cara tersendiri untuk sahabat, yakni didasari dengan motivasi kepada orang-orang tertentu, berdasarkan kekuasaan, harta atau kekayaan dan sebagainya. Dan persahabatan itu sifatnya semu dan pasti kan berakhir. Tetapi syarat menjadi sahabat dengan Allah pasti bersifat permanen dan ada sukacita dan kepuasan.


Ingat!
Ada banyak sapaan di arahkan oleh Allah:
- Anak Allah
- Umat Allah
- Hamba Allah
- Milik/kepunyaan Allah

Hal itu berbeda dengan sapaan "sahabat Allah."  Sahabat itu lebih dari teman, anak, umat, hamba, milik Allah. Semua sapaan itu menunjukkan relasi khusus yang menunjukkan posisi dan status itu. Tetapi sahabat adalah seseorang yang menjadi sejiwa dan sehati dan sepikiran dengan sahabatnya. Saling mengerti/memahami relasi, tujuan, kemauan, pekerjaan dan menjadi satu.

Berkaitan dengan teks di atas, "ketika peduli kepada sesama kita," yang membutuhkan pertolongan. Pertolongan dalam hal rohani, hal kesehatan, hal ekonomi, hal pendidikan yang berbeda dengan kita. Jadi konteksnya misi yang merupakan tugas yang diembankan Bapa-Nya ke dunia, yang dikerjakan selama di dunia, dan mau embankan kepada anak-anak-Nya, umat-Nya, hamba-Nya atau kepunyaan-Nya. 

Ketika kita peduli dan mengasihi sesama kita dengan apa adanya dan dengan dorongan dari hati kita, maka di situlah kita sedang menjadi sahabat Allah. Artinya, dasar kepedulian kita, motivasi dan tujuan kita harus sejalan dengan firman Allah dan sejalan dengan apa yang dikerjakan oleh Yesus. 

Bagaimana kita menjadi sahabat dengan Allah dalam konteks kita hari ini? Mari kita minta Tuhan untuk memberikan hati, hikmat dan cara-Nya untuk kita menjadi sahabat-Nya. 

Pdt. Lenis Kogoya

0 comments:

Posting Komentar