Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: "Sudah selesai." Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya. (Yohanes 19:30)
Sebagai seorang ibu tak sanggup untuk Manahan tangisan dan merelahkan anaknya untuk disalibkan.
Kadang kalah kita sulit untuk merelakan anak kita untuk sekolah kebenaran atau Teologi, banyak pertimbangan dalam hidup kita sebagai ayah dan ibu. Hanya sekolah saja tetapi kita pikirkan apalagi kita menyerahkan untuk dibunuh. Saya yakin seratus persen tidak ada yang berani di dunia ini.
Pada perjanjian lama hanya Abraham sendiri yang berani menyerahkan anaknya yang sulung yaitu Isak dipersembahkan sebagai kurban bakaran di gunung sinai untuk Tuhan Allah. (Kej 22:1-19)
Pada zaman ini saudara dan saya, berani untuk menyerahkan anak seperti Abraham lakukan.? Tentu tidak.
Hal yang serupa juga dilakukan oleh Allah untuk menyerahkan Yesus kepada musuh untuk dibunuh dan disalibkan demi menebus dosa saudara dan saya.
Andaikan anda dan saya ketika melihat saudara atau keluarga diantara kita disalibkan seperti penyaliban Yesus ini, bagaimana respon saudara.?
Sebagai manusia tentu tidak terima baik atas tindakan seperti ini.
Murid-murid-Nya dan saudaranya telah melihat penyaliban Yesus namun mereka tidak bisa berbuat apa-apa, sebab itu waktunya untuk Yesus harus disalibkan membayar hutang yang telah kita lakukan yaitu Dosa saudara dan saya.
Jikalau Yesus tidak mati dan disalibkan maka hari ini saudara dan saya tidak bisa menikmati berkat Tuhan, rohani maupun jasmani.
Hanya karena kemurahan Tuhan saudara dan saya dapat diselamatkan terlebih lagi hari ini kita bisa terima nafas hidup secara cuma-cuma tanpa dibayar sepersenpun seperti Yesus lakukan.

0 comments:
Posting Komentar