![]() |
| Ilustrasi Virus Covid19 |
Covid19 adalah virus biologis yang diciptakan oleh manusia di Cina pada akhir tahun 2019, virus ini berkembang sangat pesat di seluruh Dunia. Penyebarannya sangat drastis sehingga rumit untuk mencegah dan memutuskan mata rantai penularan virus ini.
Covid19 membuat orang di Dunia tertekan dan tidak bisa melakukan aktivitas, pekerjaan, belajar, jualan serta lainnya semua dilakukan dari rumah. Pemerintah berupaya untuk memutuskan mata rantai penularan virus Corona ini tetap sebagian orang tidak percaya lalu menghiraukan protokol kesehatan yang di keluarkan oleh Kementerian Kesehatandan sehingga terus melakukan aktivitas tanpa patuhi prokes, dalam kondisi seperti itu penyebaran virus makin meningkat terutama di tempat-tempat umum pasar, mall, caffe, bandara, pelabuhan serta lainnya.
𝑴𝒆𝒏𝒊𝒏𝒈𝒈𝒂𝒍 𝑫𝒖𝒏𝒊𝒂 𝒌𝒂𝒓𝒆𝒏𝒂 𝒑𝒆𝒏𝒚𝒂𝒌𝒊𝒕 𝑪𝒐𝒓𝒐𝒏𝒂 𝒂𝒕𝒂𝒖 𝒑𝒆𝒏𝒚𝒂𝒌𝒊𝒕 𝒍𝒂𝒊𝒏 𝒊𝒕𝒖 𝒕𝒂𝒌𝒅𝒊𝒓 𝑻𝒖𝒉𝒂𝒏, 𝒕𝒆𝒕𝒂𝒑𝒊 𝒎𝒆𝒏𝒊𝒏𝒈𝒈𝒂𝒍 𝑫𝒖𝒏𝒊𝒂 𝒌𝒂𝒓𝒆𝒏𝒂 𝑬𝒇𝒆𝒌 𝒔𝒖𝒏𝒕𝒊𝒌𝒂𝒏 𝑽𝒂𝒌𝒔𝒊𝒏 𝒊𝒕𝒖 𝒑𝒆𝒎𝒃𝒖𝒏𝒖𝒉𝒂𝒏 𝒔𝒆𝒄𝒂𝒓𝒂 𝒑𝒂𝒌𝒔𝒂 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒅𝒊𝒍𝒂𝒌𝒖𝒌𝒂𝒏 𝒐𝒍𝒆𝒉 𝑵𝒆𝒈𝒂𝒓𝒂 𝒕𝒆𝒓𝒉𝒂𝒅𝒂𝒑 𝒓𝒂𝒌𝒚𝒂𝒕𝒏𝒚𝒂 𝒔𝒆𝒏𝒅𝒊𝒓𝒊.
Virus Corona ini memang benar adanya sudah mendunia tapi masyarakat Papua sebagian besar sama sekali tidak percaya bahwa Covid19 ada dan sedang menyebar di sekitar kita. Aturan ketat bagaimana pun tetap saja keras kepala dan tidak mau tahu dengan virus maupun protokol kesehatan yang dikeluarkan oleh Menkes dan pemerintah daerah setiap kabupaten.
Masyarakat tentu sudah tahu bahwa pemerintah itu pimpinan dan wakil Allah yang harus mereka tunduk kepadanya.
Masyarakat yang baik tentu dengar, taat dan ikuti perintah pimpinan tertinggi dalam hal ini pemerintah pusat hingga daerah karena pemerintah itu wakil Allah tetapi masyarakat justru melawan dengan pemerintah sebagai wakil Allah, berarti kita harus berpikir bahwa ada sesuatu yang belum beres di pemerintah pusat hingga daerah dan rumah sakit.
Orang di Indonesia dan dunia lain jenazah sulit untuk dimakamkan, karena meninggal sampai puluhan hingga ratusan orang sehari, namun orang Papua pikir itu hanya tipu doang, pemerintah Team Covid19 dan tenaga medis dibuat-buat supaya dapat dana dari Bank Dunia dan Organisasi WHO.
Orang Papua tidak percaya karena mereka hanya dengar cerita lalu bicara tidak, pasti punya pengalaman dalam penanganan pasien Covid19 dalam keluarga mereka masing-masing.
Kita juga punya pengalaman dalam keluarga pada tahun 2020, Ada keluarga kita yang sakit sedang berobat di rumah sakit umum maaf saya tidak bisa sebut nama tempat dan rumah sakit tapi saya hanya tulis pandangan umum saja.
Saat itu ada keluarga kita yang sakit dengan penyakit lain, kita sebagai keluarga sudah tahu diagnosanya penyakit yang ia derita itu, berobat di salah satu rumah sakit umum daerah tetapi kondisinya semakin parah sehingga keluarga diminta untuk bawa pulang ke kampung halaman, saat itu mobil juga sangat sulit jadi kita bayar harga lebih dari biasanya, semua surat lengkap. Sesampai di pintu masuk salah satu kabupaten petugas Tim Covid19 dan tenaga medis ditolak kembali ke kota asal, meskipun pasiennya dalam kondisi kritis. Negosiasi berulang kali tapi mereka tetap bersikap keras. Pada akhirnya kita mengalah dan bawa kembali pasien, setelah kita urus surat-surat yang diminta kembali lagi kita bawa pulang dan mereka ijinkan kita untuk masuk di kota itu.
Padahal pertama kita sudah urus surat itu sesuai dengan yang diminta atau sudah ditetapkan kementerian kesehatan dan pemerintah daerah untuk surat-surat ijin keluar perjalanan.
Menjadi pertanyaan dalam benak kita saat itu adalah jika pasien tersebut menderita penyakit Corona pasti keluarga yang tinggal sama-sama semua terinfeksi virus Corona dan meninggal satu-persatu sampai habis.
Namun sampai hari ini kenapa tidak meninggal sudah masuk satu tahun.?
Dalam kejadian-kejadian seperti ini membuktikan kebohongan pemerintah itu terungkap dengan sendirinya sehingga sampai saat dibilang virus Corona masyarakat Papua tidak akan percaya karena tidak ada transparansi dalam penanganan pasien Covid19 dan pasien umum.
Mereka yang sudah kehilangan keluarga karena Covid19 pasti sakit hati ketika melihat orang lain jalan bebas tanpa mengikuti krotokol kesehatan, selain itu dua kemungkinan yang ada dalam benak mereka yaitu antara percaya dan tidak keluarga yang meninggal itu karena Covid19.
Kita jelaskan secara teoritis apa yang kita dengar dan baca di berita melalui media massa dan media sosial serta melalui televisi tetapi sebagian besar tetap mempertahankan argumentasi bahwa Covid19 itu tidak ada di Papua sini, orang Papua beranggapan bahwa Covid19 ini penyakit khusus untuk orang kulit putih, orang kulit hitam tidak bisa terinfeksi Covid19.
Padahal wabah ini tidak pandang bulu antara putih dan hitam, kaya atau miskin, muda atau tua, pejabat negara atau masyarakat, pelayan Tuhan atau umat semua sapu rata,
Ketika kita bicara tentang Covid 19 pasti orang lain akan katakan kepada kita bahwa kamu punya iman atau tidak,?
Setiap orang mempertanyakan iman orang lain tapi kita tidak introspeksi diri, sejauh mana pertumbuhan iman kita setiap hari. Imam dan percaya kepada Tuhan, Ya memang benar kita sebagai orang percaya punya iman tetapi hikmat yang Tuhan berikan juga kita gunakan untuk memutuskan mata rantai penularan virus ini dan juga kita saling menjaga antara satu sama lain.
Kita yang selalu menggunakan masker dicap sebagai orang yang tidak beriman, boleh saja orang lain angap kita seperti itu tetapi yang layak untuk mengukur besar dan kecilnya iman kita adalah Tuhan sendiri kita sesama manusia jadi tidak bisa menghakimi antara satu sama lain.
Boleh-boleh saja orang lain Capkan seperti itu tetapi pertanyaannya adalah apakah kita sendiri sudah terima Yesus atau belum..?
Banyak orang percaya tetapi iblis juga percaya Yesus, yang masuk surga dan menjadi ahli waris Allah adalah hanya anak-anak Allah yang sudah terima Yesus sebagai Tuhan dan juruselamat secara pribadi. ( Yoh 1:12)
Sebab kematian itu hal biasa siapapun dia harus meninggal dunia lalu menghadap sang pencipta, sehingga kita tidak takut, untuk meninggal Dunia, yang kita harus takuti adalah belum terima Yesus lalu meninggal.
Kita bicara bukan hanya untuk diri kita saja tetapi untuk orang lain. Jika ada orang yang meninggal tanpa menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan juruselamat secara pribadi, maka siapa yang tanggung jawab.
Jangan lagi kita tafsirkan vaksin itu disebut sebagai antkris atau angka Enam Ratus Rnam Puluh Enam (666). Kita bisa bedakan antara chip dan injeksi sebagai cairan, tanda antikris akan menandakan secara otomatis kepada manusia bukan disuntik.
Kata antikristus yang berarti kuasa yang melawan Allah dan Kristus, orang-orang yang menyelma seperti Kristus, tanda 666 secara otomatis akan menandakan kepada mereka. Maka jangan bikin panik masyarakat dengan berita-berita yang tidak benar.
Mau vaksin dan tidak itu Hak pada setiap individu, tidak ada unsur pemaksaan dari siapa.
Ada beberapa alasan orang Papua tidak percaya pada virus Covid19 adalah :
1.Sejak Papua aneksasi ke Indonesia orang Papua tidak percaya sama sekali kepada pemerintah Indonesia.
Terlebih khusus lagi pemerintah daerah Papua dan pihak keamanan baik TNI maupun Polri. Karena tidak pernah memberitakan informasi yang sebenarnya terjadi di lapangan, selalu memutar balikan fakta.
2. Orang Papua menduga bahwa pihak rumah sakit memanipulasi data pasien biasa menjadi pasien Covid19. Orang sakit lain lalu meninggal juga dicapkan sebagai pasien Covid19.
3. Pemerintah juga banyak membodohi masyarakat, yaitu Bantuan Tunai Langsung (BLT), dana ini tidak turun pada sasaran ke masyarakat tetapi dana tersebut digunakan oleh para pejabat lalu buat laporan manipulasi diatas kertas putih. Sehingga sampai kapanpun masyarakat Papua tidak akan pernah percaya sama pemerintah pusat hingga daerah.
4. Orang Papua sangat panik karena sudah nonton sendiri video-video orang meninggal karena divaksin yang tersebar.
5. Di kantor, Pasar, Mall dan toko tetap dibuka tetapi mengapa Masjid dan Gereja ditutup secara paksa oleh pemerintah.
Ketika belum ada keterbukaan dari pemerintah terhadap masyarakat Papua maka tidak ada satupun yang percaya kepada pemerintah Republik Indonesia ini, karena dari pandangan masyarakat Papua pemerintah Indonesia adalah negara produk hoax nomor satu di dunia.

0 comments:
Posting Komentar